Minggu, 30 November 2008

10. MEMBANGUN MASYARAKAT ISLAMI


Kita ummat Islam yang merupakan mayoritas bangsa, tentu mempunyai keinginan membentuk masyarakat / negara yang makmur, sejahtera, diberkahi dan diridlai Alllah SWT (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur). Namun usaha kita untuk mencapai cita-cita itu belum terlihat eksistensinya dalam keseharian kita. Salah satu penyebabnya adalah penerapan akidah dan keimanan yang mudah goyah, sehingga orang sering menjadi panik yang mendorong untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.
Di sisi lain, kita sudah sering mendengar khotbah, mengikuti majelis taklim, manajemen qalbu, dan lainnya. Seperti kita lihat, televisi pun sibuk menayangkan acara-acara agamis, mulai dari kuliah subuh, sampai kesibukan pengajian selama bulan Ramadhan, dan lainnya, seolah-olah ummat Islam Indonesia makin Islami. Namun, kita harus mengakui bahwa sesungguhnya kita saat ini sedang dalam krisis keagamaan, di mana pada umumnya kita memahami ajaran Islam tidak kurang hanya sebagai identitas daripada sebagai kebenaran yang harus diikuti. Itulah tantangan bagi ummat Islam untuk memperbaiki diri di tengah-tengah martabat bangsa yang sedang terpuruk dilanda berbagai krisis.
Jika kita perhatikan kondisi ummat Islam saat ini, sebagian di antaranya tidak memiliki modal sosial yang memadai untuk menyelesaikan silang pendapat secara arif, elegan dan beradab menghadapi tuduhan yang memojokkan ummat dan agama Islam. Sebaliknya, dalam mengecam ajaran lain yang dianggap sesat, sebagian di antara mereka menggunakan cara-cara kekerasan yang tidak diajarkan oleh Islam.
Menonjolnya peran ‘ulama galak’ juga telah mendorong menyelesaikan perkara melalui mobilisasi massa, amuk massa, dan yang ekstrim melakukan kekerasan / perusakan bahkan melakukan tindakan teror. Persoalan ini memang rumit bila dilihat lebih mendalam lagi, ketika kekerasan dikaitkan dengan kelompok Muslim radikal. Unjuk rasa yang terjadi hampir setiap hari di negeri kita, terlepas ada atau tidaknya dengan kepentingan kelompok Islam radikal, unjuk rasa itu dilakukan dengan kekerasan haruslah ditindak tegas, agar citra rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim tidak tercemar.
Ummat Islam harus bisa menunjukkan dan membuktikan bahwa hidup yang benar, adalah hidup menurut Islam, dan itu harus tercermin dari setiap pribadi Muslim. Jika tidak, maka dikhawatirkan apa yang mereka pelajari tentang Islam justru menciutkan Islam sebagai agama ritual belaka.
Di sini diperlukan peran para ulama yang bertanggungjawab untuk memberikan bimbingannya kepada ummat. Rasulullah SAW bersabda: “Dunia ini ibarat kebun yang dihiasi dengan empat ornamen: ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kepemurahan orang-orang kaya, dan do’anya orang-orang fakir.”(HR Abu Daud). Dari empat unsur yang disebut di atas, sangat jelas bahwa ulama menduduki peran penting dan utama dalam membangun masyarakat agar ummat Islam menjadi Islami.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama”. (QS Fathir 35: 28). Takut para ulama kepada Allah adalah takwa dan tanggungjawab mereka untuk menjadi contoh kebaikan bagi ummat untuk mewujudkan kehidupan di dunia yang Islami sebagai bekal hidup di akhirat.
Namun, sangat disayangkan bahwa di kalangan ulama, terutama ulama / da’i kondang di tingkat nasional, sebagian di antaranya telah menjadi pajangan mewah dan hidup hedonistis bagaikan selebritas, yang menjadikan profesi itu cenderung lebih diutamakan untuk mencari nafkah, daripada mengimplementasikan imannya kepada Allah SWT untuk menjadi teladan yang baik bagi ummat. Karena sebagian para ulama kurang bersunguh-sungguh dalam menunaikan amanah yang menjadi tanggungjawabnya, maka ilmu dan teladan yang didapat oleh ummat juga tidak maksimal. Kita harus jujur mengakui bahwa suasana Islami di kalangan kaum Muslimin hanya terasa di saat melakukan ibadah ritual – baik individu maupun berjamaah, sedangkan implementasi iman dalam keseharian tidak nampak dominan. Inilah wajah ummat Islam Indonesia yang sesungguhnya.
Adalah kenyataan bahwa umur, kekayaan sumber daya alam (SDA) suatu negara dan agama yang dianut suatu bangsa, tidak menjadikan bangsa dan negara itu makmur atau miskin. Mesir yang penduduknya mayoritas Muslim dan India yang mayoritas pemeluk agama Hindu dan sudah berumur lebih dari 2000 tahun, tetapi negaranya tetap miskin.
Indonesia negara Muslim terbesar di dunia memiliki teritori luas dan SDA yang melimpah, tetapi miskin. Singapura, teritorinya sempit, hanya sedikit tanahnya yang baik untuk mengembangkan pertanian dan peternakan. Negeri yang penduduknya mutli rasial dengan agama yang berbeda-beda ini mengandalkan pada sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, sehingga dalam waktu singkat bisa menjadi negara maju di bidang industri dan perdagangan.
Jepang yang mayoritas rakyatnya pemeluk agama Budha dan Shinto memiliki teritori yang terbatas kurang memiliki SDA, 80% tanahnya berpegunungan, sehingga tidak cukup untuk mengembangkan pertanian dan peternakan. Negeri itu bagaikan pabrik terapung yang luas, mampu mengimpor bahan mentah dari seluruh dunia, kemudian memproses dan mengekspor hasilnya ke seluruh dunia, baik dari pabrik di dalam negeri dan luar negeri termasuk Indonesia – di mana Jepang melakukan relokasi industri, sehingga ekonomi Jepang menjadi kuat di dunia.
Maka wajarlah jika para pemimpin dari negara-negara maju dan kaya yang berkomunikasi dengan para mitranya di negara-negara miskin sependapat bahwa ras, agama, umur negara dan SDA bukanlah merupakan faktor penting yang menjadikan kaya miskinnya suatu bangsa dan negara. Mereka berkesimpulan tidak ada perbedaan intelegensia yang signifikan antara kedua kubu negara-negara kaya dan miskin. Imigran dan treni yang dikatakan malas di negeri asalnya, ternyata bisa menjadi kekuatan yang produktif di negara-negara maju.
Sebagai contoh adalah para treni perusahaan patungan Indonesia yang mengikuti pemagangan di suatu pabrik milik perusahaan mitranya di Jepang. Ketika itu pada tahun 2000 – 2002 penulis bertugas sebagai supervisor pemagangan tersebut. Setelah bekerja selama dua bulan bersama pekerja-pekerja Jepang, para treni Indonesia sudah bisa membiasakan diri bekerja bersama-sama rejab-rekannya bangsa Jepang, dan dalam waktu satu tahun, para treni bisa menjadi pekerja yang berdisiplin, tekun, ulet dan berprestasi.
Ketika pabrik perusahaan itu menerima 150 orang karyawan baru, di antara 25 instruktur pabrik yang ditugaskan mendidik karyawan baru tersebut, 5 orang di antaranya adalah treni Indonesia – dari 30 orang treni yang mengikuti pemagangan. Bagi pengusaha Jepang, kesempatan ini dimanfaatkan untuk memicu karyawan baru agar kelak mereka bisa bekerja dengan baik tidak kalah dari daripada seniornya yang orang asing (Indonesia).
Hal ini merupakan implementasi dari etika kerja yang dinamakan ’bersaing dan bekerjasama secara bersamaan’ dalam satu pekerjaan yang dilakukan secara kolektif. Etika kerja seperti ini sudah diajarkan dan diterapkan dalam berbagai bidang kegiatan di Jepang sejak usia Sekolah Dasar (SD). Berikut ini sekedar cerita apa yang penulis saksikan tentang salah satu pendidikan di Jepang.
Pada suatu hari Minggu, para orang-tua murid termasuk penulis diundang oleh dewan guru untuk menyaksikan demonstrasi anak-anaknya mempraktikkan etika kerja tersebut. Pada sesi pagi diperlihatkan murid-murid sedang berlomba cerdas tangkas menjawah berbagai pertanyaan tentang bebeberapa mata pelajaran. Pada sesi siang hari setelah istirahat, para orang tua mendatangi ruang kelas di mana anaknya berbaur dengan murid-murid lain dari kelas satu sampai dengan kelas enam. Di situ para orang-tua bisa menyaksikan aktivitas anak-anaknya mengerjakan suatu kerajinan tangan yang harus dikordinasikan oleh murid-murid senior dengan mengerahkan ketrampilan murid-murid yuniornya.
Jika kita pelajari dengan seksama, sesungguhnya etika kerja tersebut sejalan dengan ajaran Islam. Apapun pekerjaan itu, baik dalam rangka mencari nafkah maupun melakukan pekerjaan atau amalan lainnya haruslah dilakukan dengan semangat seperti perintah Allah; fastabiqul khairat” – berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan (QS Al-Maaidah 5: 48). Begitu pula dalam bekerja bersama-sama, pekerjaan itu harus dilakukan dengan semangat; ”wata’awanu alal birri” – tolong menolong dalam kebaikan (QS Al-Maaidah 5: 2).
Islam adalah agama universal yang di dalamnya terdapat segala petunjuk yang diperlukan manusia, sehingga ummat Islam seharusnya bisa melakukan pekerjaan apapun dengan cara dan hasil yang lebih baik daripada ummat lainnya, karena Islam memberikan kesempatan yang luas untuk melakukan ijtihad - inovasi.
Semangat ’bersaing dan bekerja sama secara bersamaan’ itu diperoleh manusia dari dua sumber, yaitu dari ayat qauliyah yakni Al-Qur’an seperti tersebut di atas, dan dari ayat kauniyah, yakni fitrah atau kecenderungan manusia sendiri, yang juga berasal dari Allah, karena ketika mencipta manusia, Allah telah melengkapinya dengan kecenderungan kepada yang benar dan yang baik. Orang-orang Jepang mendapatkannya dari sumber kedua.
Islam adalah agama mengajarkan keseimbangan antara keshalehan religositas dan keshalehan sosial. Seseorang yang iman dan takwa kepada Allah SWT (1), akan menjunjung tinggi moral dan etika (2), berlaku jujur dalam meraih sukses di dunia dan akhirat (3), bertanggungjawab atas apa yang dikerjakannya baik kepada Allah maupun kepada sesama (4), mematuhi kesepakatan bersama (5), memiliki kepedulian sosial terhadap sesamanya (6), bekerja bersungguh-sungguh dan profesional dalam melakukan pekerjaan apapun (7), meninggalkan generasi penerus yang cerdas (8), hidup sederhana dan berhemat (9), dan menegakkan disiplin (10).
Dengan demikian, kita bisa menjadikan kesepuluh hal tersebut yang bersumber dari iman dan takwa tersebut, sebagai prinsip-prinsip yang relevan untuk diterapkan dalam membangun masyarakat Islami, yaitu masyarakat / negara yang makmur, sejahtera, diberkahi dan diridlai Allah SWT (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).
Sepuluh Prinsip (SP) Membangun Masyarakat Islami (MMI) tersebut, masing-masing akan kami bahas kembali pada giliran berikutnya, yaitu:
  1. Iman dan Takwa.
  2. Moral dan Etika.
  3. Kejujuran
  4. Tanggungjawab.
  5. Kepatuhan Kepada Kesepakatan
  6. Kepedulian Sosial.
  7. Kesungguhan dan Profesionalisme.
  8. Pembinaan Generasi Penerus.
  9. Kesederhanaan
10. Disiplin.
Sebagai kesimpulan, keberhasilan membangun masyarakat Islami sangat tergantung pada sejauh mana kita masing-masing melakukan perbaikan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan melakukan amalan seperti yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan dicontohkan Rasulullah SAW. Inilah SDM Islami yang kita perlukan untuk membangun masyarakat Islami.
(Hermanto Hs)

2 komentar:

  1. Assalamu’alaikum Pak Hermanto. Sejak terima undangan mampir di warung Al Mustaqiim, saya selalu menikmati hidangan lezat masakan Anda. Materinya faktual penyajiannya populer. Selamat ber ijtihad. Semoga sukses. Wassalam, Zain Bahri, Cilegon.

    BalasHapus
  2. Alaikumsalam Pak Zain. Terimakasih komentar Anda. Lain kali kita sama-sama makan beneran di warung Pak Sadi, Soto Ambengan. OK? Wassalam. Hermanto

    BalasHapus