Rabu, 30 Maret 2011

BELAJAR DARI BENCANA ALAM DI JEPANG

Muqaddimah

Dalam kehidupan di dunia, manusia tidak akan terlepas dari musibah. Ada musibah yang bersifat individual, misalnya sakit yang diderita seseorang, meninggal dunia, kerugian dalam usaha, kehilangan barang dan lainnya, dan ada pula musibah bersifat sosial, misalnya bencana alam, wabah penyakit, kekeringan, banjir bandang dan lainnya.

Tentang musibah Rasulullah SAW menjelaskan: “Apa yang menimpa manusia berupa hal-hal yang tidak dikehendaki, itu namanya musibah. (HR At-Tabrani). Selama hayat masih di kandung badan, seketika itu juga musibah bisa mengintai siapa saja, baik orang-orang Muslim maupun non-Muslim, dan di mana saja mereka berada.

Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menyinggung tentang musibah, antara lain dalam QS Al-Baqarah 155-156: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun"

Musibah adalah Sunatullah, yang tidak bisa ditolak atau dicegah. Menghadapi bencana, selain istirja – berserah diri kepada Allah SWT dengan mengucapkan "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun", manusia juga wajib menghindari dan mengantisipasi berbagai bentuk musibah termasuk bencana alam yang sudah atau akan terjadi pada diri kita.

Menghindari dan mengantisipasi bukan saja pada tingkat pencegahan, tetapi juga dalam penanggulangannya, karena membiarkan diri dalam kerusakan dan kebinasaan sangatlah bertentangan dengan Al-Qur’an – petuntuk Allah untuk semua manusia. Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al Baqarah 2: 195).

Gempa Jepang Terdahsyat ke-5 Sesudah Gempa Aceh 2004

Pada tanggal 11 Maret 2011 yang lalu bangsa Jepang mengalami bencana alam yang maha dahsyat, yaitu gempa bumi di bagian Utara pulau Honshu. Pusat gempa berada di lepas pantai 373 km dari ibukota Tokyo ke arah Timur Laut, di kedalaman 24,4 km yang berkekuatan 8,9 SR (gambar atas). Gempa ini merupakan yang terdahsyat ke-5 sesudah gampa di Aceh dan Sumatera Utara tahun 2004 sejak taun 1900. Gempa di Jepang ini masih disertai beberapa kali gempa lainnya dengan pusat gempa juga di sebelah Timur Laut Tokyo.

Gempa di Jepang tersebut diikuti tsunami yang menyapu daratan pantainya terutama di 3 prefektur; Miyagi, Iwate, Fukushima (gambar bawah), dan 2 prefektur lainnya Ibaraki dan Chiba (di sebelah Utara dan Selatan ketiga prefektur tersebut). Korban yang timbul akibat gempa bumi dan tsunami tersebut yang diketahui sampai dengan naskah ini disusun, mencapai 11.000 orang tewas, 17.400 orang hilang, dengan kerugian ditaksir mencapai 310 milyar dollar AS. Di samping itu gempa bumi tersebut juga telah merusak 4 reaktor nuklir PLTN di kota Fukushima, prefektur Fukushima. Dua orang petugas PLTN mengalami luka bakar di kaki.

Para ahli nuklir mancanegara khawatir akan dampak buruk radiasi nuklir bagi kesehatan. Peristiwa ini mengingatkan bangsa Jepang pasca peristiwa di Nagasaki dan Hiroshima, akibat bom atom yang dijatuhkan Amerika (Serikat) dalam Perang Dunia II yang menewaskan sekitar 80,000 orang, sehingga tentara Jepang menyerah kepada tentara Amerika. Bencana nuklir Jepang kali ini memang tidak seburuk peristiwa pada Perang Dunia II kedua, namun yang terburuk pasca Perang Dunia II. Meskipun tidak dapat dikatakan Jepang telah menyerah menghadapi bencana alam dan radiasi nuklir, nampaknya ekonominya akan mandek untuk sementara waktu. Namun Jepang yang pernah bangkit seperti sesudah pasca Perang Dunia II, tentu akan berusaha bangkit kembali. Kita lihat saja nanti.

Industri Jepang yang sangat kuat telah mendorong negara itu menciptakan kemakmuran bagi bangsanya. Semua itu berhasil dicapai dalam waktu hanya beberapa dekade sesudah Jepang dihancurkan oleh Amerika. Sejak itu ekonomi Jepang terus berkembang, yang menyebabkan perdagangan Amerika terhadap Jepang terus mengalami defisit, sehingga produk-produk Amerika tidak lagi kompetitif dibandingkan dengan produk-produk Jepang. Hal ini telah memacu Jepang menjadi raksasa ekonomi dunia selama bertahun-tahun, kedua setelah Amerika, meskipun kini telah tergesar oleh Cina.

Jepang negara berpenduduk 128 juta jiwa, kurang memiliki sumber daya alam (SDA). Hampir semua kehidupan sangat tergantung dari impor bahan baku dari negara lain. Impor barang-barang itulah yang diolah menjadi produk yang dijual ke luar negeri. Semuanya menggunakan teknologi tinggi, dan ini dimiliki oleh Jepang. Inilah yang dialami Jepang sejak usai perang dunia kedua.

Gempa bumi yang terjadi di Jepang dan ledakan reaktor nuklir PLTN tersebut nampaknya akan terus menjadi trauma secara psikologis bagi Jepang. Bangsa Jepang tentu akan mengkaji kembali seluruh kebijakan dan pilihan yang telah dilakukannya, terutama penggunaan tenaga nuklir. Memang, tenaga nuklir sangat efisien untuk mendapatkan listrik yang menggerakkan industri Jepang.

Gempa bumi dan tsunami yang telah merusakkan reaktor nuklir Jepang akan menjadi dilema bagi masa depan Jepang. Jika Jepang mengkaji ulang sumber energi yang akan menggantikan energi nuklir, maka semuanya memerlukan waktu. Setidaknya ini akan berpengaruh pada industri Jepang setidaknya dalam satu dekade. Inilah persoalan yang serius bagi masa depan Jepang.

Pengaruh Gempa Jepang Terhadap Ekonomi Indonesia

Selama ini Jepang dikenal sebagai negara yang paling agresif mengekspor produk-produk industri ke berbagai negara. Sekarang Jepang dihadapkan dengan bencana, bukan hanya bencana alam, tetapi bencana dari hasil teknologi nuklir mereka sendiri. Itulah Sunatullah yang bisa terjadi di mana saja termasuk Jepang dan Indonesia.

Bagaimana nasib Indonesia yang bergantung ekonominya kepada Jepang? Sekarang Jepang ambruk akibat gempa bumi, tsunami, dan meledaknya reaktor nuklir, sehingga kemungkinan pola hubungan ekonomi Indonesia-Jepang akan mengalami perubahan. Sekedar referensi berikut ini adalah data ringkas ekonomi Indonesia - Jepang.

Jepang merupakan negara kreditur terbesar bagi Indonesia. Dari total pinjaman sebanyak 68,04 miliar dollar per 31 Desember 2010, sekitar 44,8 persen di antaranya atau senilai 30,49 miliar dollar AS berasal dari Jepang. Kredit dari Jepang banyak digunakan untuk pembangunan proyek-proyek infrastruktur. Jika kredit terhambat, maka otomatis pembangunan infrastruktur di Indonesia ikut terkendala. Sejauh ini belum ada kejelasan Jepang terkait kelanjutan kredit tersebut. Kita tentu berharap tidak ada penghentian atau penundaan, meski mereka sedang butuh banyak dana untuk pemulihan dalam negeri. Bukan hanya itu, Jepang juga merupakan investor terbesar nomor dua dalam hal penanaman modal langsung dengan total investasi Jepang ke Indonesia mencapai 11,5 %. Kementerian Perindustrian tentu khawatir jika investasi tersebut akan terhambat.

Sebagai negara tujuan ekspor utama, Jepang menjadi mitra dagang penting bagi Indonesia. Pada 2010, nilai ekspor nonmigas ke Jepang mencapai 16,49 miliar dollar dan menduduki peringkat pertama negara tujuan ekspor. Barang-barang yang diekspor ke Jepang berupa minyak, gas alam, batubara, hasil tambang lainnya, tekstil, dan produk tekstil, serta perlengkapan listrik – termasuk dari negara di mana Jepang melakukan relokasi industri. Sepanjang tahun 2010, ekspor non migas Indonesia ke Jepang senilai 16,49 miliar dollar.

Dan pada bulan Januari 2011 ekspor non migas Indonesia ke Jepang tercatat sebesar 1,21 miliar dollar atau merupakan negara pertama tujuan ekspor. Dengan terjadinya bencana di Jepang tersebut, tentu Indonesia akan terkena dampaknya yang negatif, sehingga diperkirakan kondisi tersebut akan mengalami kontraksi. Karena itu pemerintah Indonesia harus mencari pasar ekspor ke negara-negara lain juga.

Tahun 2010 impor dari Jepang tercatat 16,91 miliar dollar atau sekitar 15,62 persen dari total nilai impor. Jepang menempati posisi kedua dalam hal impor, sementara posisi pertama ditempati oleh Cina. Posisi strategis Jepang juga terjadi pada sektor pariwisata. Jumlah kunjungan wisatawan dari Jepang per tahun berkisar 475.000 - 525.000 orang.

Selama lebih dari 50 tahun Jepang juga telah memberikan berbagai bentuk bantuan ke Indonesia. Bantuan tersebut banyak terfokus pada bidang industri, peningkatan teknologi pertanian, pendidikan sumber daya manusia (SDM) serta bantuan ekonomi pada saat krisis ekonomi melanda Asia tahun 1997. Ketika gempa bumi mengguncang Aceh dan Yogyakarta, Jepang juga turut membantu.

Fakta-fakta tersebut menggambarkan betapa pentingnya posisi Jepang bagi perekonomian Indonesia. Hal itu sedikit banyaknya akan berpengaruh pada perekonomian kita. Salah satunya adalah proyek pembangunan PLTN di Jepara, Jawa Tengah dan investasi proyek-proyek yang dibiayai Japan Bank for International Cooperation (JBIC) mencapai US$ 15 miliar. Proyek yang tetap berjalan di Indonesia saat ini adalah program prioritas wilayah metropolitan atau Metropolitan Priority Area (MPA) senilai US$ 20 miliar. Proyek ini menurut rencana berjalan mulai Maret 2011 ini. Dikhawatirkan pula nasib puluhan ribu pekerja Indonesia yang bekerja di pabrik-pabrik milik perusahaan Jepang di Indonesia, jika benar-benar ekonomi Jepang mandek?

Khatimah

Demikian untuk kesekian kalinya Al-Mustaqiim membahas tentang bencana alam, dan ketika itu pula kita diingatkan bahwa sehebat apapun ikhtiar dan karya manusia, tidak akan bisa mengungguli kekuasaan Allah SWT. Kehidupan manusia dengan berbagai macam masalahnya, akan memiliki dampak positif dan negatifnya. Sebagian ada yang menyikapi dengan keluar dari jalan Allah, dan ada pula yang menyikapi dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ini berarti Allah memberikan kesempatakan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya dan selalu dapat memperbaiki diri yang diawali dengan muhasabah – introspeksi diri.

Kita harus bisa mengakui bahwa apapun halnya, musibah adalah akibat kesalahan dan keteledoran manusia juga. Bangsa yang demikian adalah bangsa yang menghargai sesamanya yang telah ‘terkorbankan’ akibat bencana. Jika tidak, bukan mustahil akan datang bencana lebih dahsyat dan besar.

Allah SWT berfirman: ”Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS Al-’Araaf 7: 96). Dalam ayat ini Allah SWT berjanji akan menjadikan masyarakat suatu negeri menjadi makmur dan sejahtera. apabila masyarakatnya beriman dan bertakwa. Namun jika manusia yang ada di dunia ini tidak beriman dan bertakwa, maka Allah akan memadzab sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat.

Maka yang perlu dikoreksi dari diri kita adalah apakah kita sudah beriman dan bertakwa. Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar dan perlu kita ketahui, atau jangan-jangan kita memang tidak tahu apa sebenarnya beriman dan bertakwa itu, yang keduanya ini Allah jadikan sebagai kunci kesuksesan manusia membangun masyarakat baldatun thayyibatun warabbun ghafur baik dunia maupun akhirat.

Namun dalam mengelola kehidupan dunia, hendaknya kita juga harus berpegang pada peringatan Allah: ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Ruum 30: 41). Hal itu merupakan peringatan agar dalam mengelola kehidupan duniawi manusia dapat membatasi diri dari tindakan yang berlebihan agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Hermanto Hs
No. 108

Jumat, 25 Maret 2011

MENGENAL AHMADIYAH

Gonjang-ganjing tentang Ahmadiyah sampai saat ini belum ada kesepakatan tentang nasib organisasi itu, baik di kalangan pemerintah maupun organisasi-organisasi Islam, meskipun Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 1980 telah memperkuat fatwanya dengan menyatakan Ahmadiyah bukan Islam, melainkan ajaran sesat dan menyesatkan. Di kalangan para cendekia Muslim ada yang menyatakan bahwa pelarangan Ahmadiyah oleh beberapa pemerintah daerah terhadap Ahmadiyah bertentangan dengan konstitusi. Dalam tulisan 103, Al-Mustaqiim berpendapat sebaiknya pemerintah bersama DPR secara tegas menetapkan Ahmadiyah sebagai organisasi non Islam atau organisasi terlarang alias dibubarkan. Berikut ini tulisan Dr. A. Luthfi Fathullah tentang Ahmadiyah sebagai referensi pembaca.

Salim A. Dimyati

AHMADIYAH

Ahmadiyah didirikan pada tahun 1889 di Qadian, suatu desa kecil di daerah Punjab, India, oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908). Ahmadiyah mengklaim sebagai suatu organisasi Agama Islam Internasional yang memiliki cabang di 174 Negara dan mempunyai anggota lebih dari 150 juta orang.

Memilih Sebagai Sekte Islam

Mirza Ghulam Ahmad mengklaim bahwa dirinya mendapat wahyu dari Allah dan diangkat menjadi rasul, oleh karenanya ia harus memberikan identitas kepada 'agamanya'. Persoalan muncul, bila agamanya itu berdiri sendiri, diperkirakan tidak akan kuat, karena sulit mendapatkan pendukung. Kemudian Mirza mengambil keputusan, bahwa agamanya harus dikaitkan dengan Islam yang merupakan agama yang cukup berpengaruh saat itu di samping agama Hindu.

Pemerintah kolonial Inggris yang selalu direpotkan oleh kaum Muslimin di dalam penjajahannya di India, melihat peluang yang menguntungkan bila mendukung aliran ini. Bahkan kemungkinan besar Inggris adalah pencetus kebohongan yang harus disampaikan oleh Mirza Ghulam Ahmad demi keuntungan kolonialismenya. Inggris harus memanfaatkan aliran ini untuk kepentingan penjajahannya. Dengan mendukung Ahmadiyah yang merupakan sekte Islam, diharapkan perlawanan gigih dari ummat Islam di India bisa dikendorkan atau bahkan dihilangkan. Dengan demikian Inggris akan mendukung penuh pergerakan aliran ini. Situasi di desa kecil itu juga memberikan iklim yang subur untuk berkembangnya aliran ini; ternyata tidak sulit mencari pengikut.

Pemelintiran Tafsir Ayat-Ayat Al-Qur'an

Pilihan untuk menggunakan bendera Islam menimbulkan masalah tersendiri, khususnya tentang kenabian Mirza dan kitab suci Tazqiroh. Ummat Islam sudah sangat solid dengan aqidah bahwa Muhammad SAW bin Abdullah adalah nabi dan rasul terakhir. Bagaimanapun juga agenda dari pemerintah kolonial Inggris harus terwujud, oleh karenanya segala kesulitan tersebut harus dipecahkan, berapapun ongkosnya. Untuk keperluan itu, harus dicari celah di dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits sebagai pegangan ummat Islam. Karena tidak ditemukan, dan memang tidak akan pernah ditemukan adanya celah di dalam Al-Qur'an maupun Al-Hadits, maka satu satunya jalan adalah memelintir tafsir ayat Al-Qur'an dan Al-Hadits yang terbuka, kemudian menafsir dan mentakwilnya dengan arti sesuai kepentingan mereka. Sebagaimana kita ketahui, ayat Al-Qur'an tidak mungkin dipalsukan, tetapi tafsir bisa banyak dibuat.

Ayat pertama yang digunakan sebagai celah terbesar adalah kata ‘Ahmad’ dalam QS Ash-Shaff 61: 6. Kata Ahmad dalam ayat itu ditafsirkan sebagai Mirza Ghulam Ahmad, bukan Muhammad.

Ayat kedua adalah kata khatamun nabiyyin dalam QS Al Ahzab 33: 40, diterjemahkan sebagai bapak rohani seluruh nabi, nabi meterai; jadi bukan nabi penutup. Lebih rinci, kata khatamul nabiyyin mempunyai kemungkinan 4 macam arti:

1. Rasulullah adalah meterai para nabi, tiada nabi dianggap benar bila tidak bermeteraikan Muhammad SAW.

2. Rasulullah SAW adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari semua nabi, dan merupakan sumber hiasan bagi mereka.

3. Rasulullah SAW adalah nabi terakhir pembawa syariat. Tiada nabi yang datang sesudah Rasulullah SAW yang dapat membatalkan millahnya.

4. Rasulullah SAW adalah Nabi terakhir hanya dalam arti kata semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sempurna dan lengkap dalam diri beliau, tiada nabi yang datang setelahnya akan mempunyai sifat kenabian yang sama.

Kemudian dikuatkan lagi dengan QS Ali ‘Imraan 3: 31, diplesetkan lagi tafsirnya, "Katakanlah jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Mirza Ghulam Ahmad)....."

Kemudian QS Al-A'raaf 7: 37. Kata rusuluna ditafsirkan sebagai nabi-nabi setelah Rasulullah SAW, jadi kenabian masih akan berlanjut setelah beliau. Padahal jelas yang dimaksud ayat itu adalah para malaikat pencabut nyawa.

Banyak sekali sekte atau mazhab dalam Islam yang mengaku punya nabi setelah Muhammad SAW, namun sejarah membuktikan bahwa semuanya akan hilang dengan sendirinya ditelan waktu.

Namun Ahmadiyah bertahan sangat lama, sampai sekarang, dan bahkan dengan organisasi yang sangat kuat. Faktor utama dapat bertahannya dan menyebarnya Ahmadiyah adalah karena adanya dukungan pihak tertentu yang mempunyai kepentingan tertentu baik dukungan fasilitas, perlindungan dan dana, terutama Inggris.

Inti Ajaran Ahmadiyah

1. Kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Sebagaimana dijelaskan di atas, QS Ash-Shaff 61: 6, “Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Tafsirnya dipelintir, bahwa nabi terakhir adalah Mirza Ghulam Ahmad. Dan ini jelas dalam kitab-kitab Ahmadiyah. Namun Mirza menegaskan bahwa ia adalah nabi tanpa syariat baru. Ia hanya akan memulihkan agama Islam yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Catatan: bagian mana dari aqidah, syariah Islamiyah yang akan dipulihkan?

Para mubaligh Ahmadiyah sering mengelak dan berkilah dari konsep kenabian Mirza untuk menghindari pengucilan aliran ini. Unsur kenabian Mirza sering dikaburkan dengan konsep Al-Mahdi, Al-Masih Al-Mau'ud. Sering strategi penyebaran mereka adalah dengan konsep Al-Mahdi, baru kemudian konsep kenabian dan kerasulan Mirza muncul.

2. Kitab Tazkiroh. Tazkiroh adalah kitab suci aliran ini, namun jarang diangkat atau digunakan untuk pengikutnya yang masih awam. Untuk membuktikan kenabiannya, Mirza mengaku menerima wahyu dari Allah dan dikumpulkannya di dalam Kitab Tazkiroh. Turunnya wahyu dikatakannya diawali dengan mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Namun bagi orang Islam yang bisa membaca Al-Qur'an apalagi memahami isinya, akan segera tahu bahwa Tazkiroh adalah bajakan dari Al-Qur'an. Sebagian besar isinya adalah ayat-ayat Al-Qur'an yang digabung atau disambung satu dengan lainnya sesuai kebutuhan. Catatan: Wahyu pertama Tazkiroh adalah ayat pertama QS Ath-Thariq 86: 1, “Demi langit dan yang datang di malam hari”, bukan QS Al-‘Alaq 96: 1, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.”

Isi Tazqiroh dimulai dengan janji keselamatan, hanya yang ikut aliran ini yang selamat. Ditutup dengan doa kematian. Kalau dicermati, isi Tazqiroh dikonstruksikan hanya untuk membela kenabian Mirza. Sebagai Kitab Suci, isi dan fungsinya bahkan tidak ada. Pengenalan Tuhan malahan terlupakan, yang ada hanya sifat Tuhan yang pemaksa. Semakin ke belakang, keindahan Tazkiroh sudah tidak ada lagi. Ayat-ayatnya saling tidak konsisten.

Pengambilan ayat-ayat Al-Qur'an tidak tepat lagi, di sana sini dirubah dan bahkan mulai diselipkan dengan bahasa Urdu. Secara garis besar, kitab ini hanya mengarah kepada kenabian Mirza. Tidak ada konsep ketuhanan, tidak ada syariat dan hukum. Syariat yang dipakai adalah syariat Islam asli. Kebohongan demi kebohongan terlihat di dalam Tazqiroh. Allah tidak menurunkan wahyu kepada seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya. (QS Ibrahim 14: 4), “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” Lalu kenapa kepada Mirza yang orang India diturunkan melalui bahasa Arab?

Dalam Al-Qur'an Allah menantang manusia dan jin untuk membuat surah semisal Al-Qur'an. Lalu kenapa Tazqiroh banyak menjiplak Al-Qur'an dan bahkan dengan susunan yang tidak karuan? Apakah Allah sudah menjadi bodoh? Sudah tidak mampu mencipta ayat ayat baru? Tentu tidak, tapi Tazqiroh lah yang palsu (bukan dari wahyu Allah). Dalam Tazqiroh tidak ada syariat. Syariat tetap dari Nabi Muhammad SWA Apakah Allah sudah tidak mampu menurunkan Syariah baru? Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas, jelaslah bahwa Tazqiroh hanya kebohongan, bukan wahyu Allah SWT.

3. Bai'at, Setiap orang yang ingin masuk menjadi pengikut Ahmadiyah harus dibai'at, dan menjadi terikat. Hakekatnya konsep bai'at merupakan ciri dari kelompok eksklusif yang ingin mencengkeram jema'ahnya dan tidak ingin mereka keluar. Bagi yang ingin keluar biasanya diancam dengan mubahalah (mirip sumpah pocong). Orang yang keluar dari Ahmadiyah dinyatakan sesat dan akan celaka. Mati dalam keadaan hina!

Syarat-syarat orang yang akan dibai'at tidak menyimpang dari aqidah-syariah Islam seperti: tidak syirik, tidak berbuat kemunkaran, sholat 5 waktu, tidak menyusahkan orang lain, setia kepada Allah, berhenti dari adat buruk, tidak takabur, menghargai agama lain, belas kasih kepada makhluk Allah, mengikat tali persaudaraan dengan hamba Allah yang lain. Surat Bai'at juga menyatakan Syahadat dan Istighfar yang sama, namun di alinea terakhi dinyatakan hal terpenting sebagai berikut: ".....Saya akan tetap meyakini Nabi Suci Muhammad SAW sebagai Khataman Nabiyyin (yang Paling Sempurna dari sekalian Nabi) dan akan beriman kepada segala dakwah Hadhrat Masih Al Mau'ud AS."

Dari sini selanjutnya jema'ah digiring ke jurang kesesatan dan kemurtadan, sebab mereka harus mengakui apa yang dida'wahkan oleh Hadhrat Masih Mau'ud alias Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Masih Mau'ud dan juga Nabi dan Rasul. Harus diakui bahwa Ahmadiyah adalah organisasi yang sangat rapi. Secara organisatoris, jauh lebih baik dari ormas Islam lainnya di tanah air, bahkan di dunia Islam. Semua gerakan dan langkah mereka tersusun, terarah dan terpantau dengan baik. Pembinaan dalam jama'ah sangat baik. Bagi orang yang dasar tauhidnya lemah, akan mudah terpengaruh dan masuk ke dalam jama'ah Ahmadiyah.

Setiap anggota jema'at baru akan dipantau secara intensif, perilaku ibadahnya dan kondisi sosialnya, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh NU maupun Muhammadiyah. Setiap da'i Ahmadiyah ditargetkan untuk mendapatkan anggota baru dan sebagai imbalannya, mereka akan digaji dari Pusat.

4. Bahtera Nuh / Kisti Nuh. Selain Bai'at, ada doktrin yang merupakan ciri dan pengikat ajaran Ahmadiyah, yang dikenal sebagai Doktrin Bahtera Nuh: Siapa yang ikut ke dalam 'rumah' Ahmadiyah, akan selamat; dan siapa yang tidak, akan celaka. Seperti kisah Nabi Nuh menyelamatkan ummatnya dari banjir besar dengan membuat bahtera. Di sini jelas sekali bahwa Ahmadiyah mengklaim bahwa yang benar dan selamat adalah yang masuk ke rumahnya; yaitu orang-orang yang mengamalkan ajaran Mirza Ghulam Ahmad dengan sempurna.

Dari sini muncul pengakuan dan penyesatan berikutnya, antara lain:

1. Yang benar hanya ajaran Ahmadiyah.

2. Selain Jema'ah Ahmadiyah, semuanya adalah sesat dan tidak akan selamat dan masuk surga.

3. Oleh karenanya, mereka mendirikan masjid sendiri, imam sendiri dan komunitas sendiri. Selain jama'ah Ahmadiyah, najis hukumnya masuk masjid mereka.

Fatwa Haram MUI

MUI memperkuat fatwanya tahun 1980 dengan menyatakan: Ahmadiyah bukan Islam. Ahmadiyah adalah ajaran sesat dan menyesatkan. MUI tidak sendirian, sebelum itu Majelis-majelis di berikut ini sudah mengeluarkan deklarasi yang sama, yaitu: 1. Majelis Ulama Malaysia, 2, Majelis Ulama Brunei, dan 3. Kongres di Mekah tahun 1974 yang diikuti 140 Negara. Pemerintah Arab Saudi sejak saat itu sampai sekarang melarang Jema'ah Ahmadiyah untuk ikut beribadah haji.

Namun bagi Jema'ah Ahmadiyah yang sudah mencapai tingkatan Ustadz hal itu tidak penting, karena mereka lebih menyukai ziarah ke Qadian dan Rawbah (daripada ke Mekah / Madinah), karena di sanalah Nabi mereka dilahirkan dan dimakamkan, di sanalah letak Bahtera Nuh yang akan menyelamatkan mereka dan di bawah kubur Mirza terletak surga yang diidam-idamkan.

Bagi saya, yakin seyakin-yakinnya Ahmadiyah adalah sesat dan menyesatkan. Bahkan waktu kecilpun saya sudah diajari orang tua bahwa Ahmadiyah itu sesat. Kepada yang berpendapat Ahmadiyah tidak sesat dan masih bergaul akrab dengan mereka, saya hanya bisa mendoakan semoga Allah SWT melindungi Anda semua dan tidak terbawa sesat. Aamiin ya Robbal 'Alamien.

Sebuah hadits menjelaskan kurang lebih sbb: “Bila engkau mendapati kemungkaran, cegahlah dengan perbuatan. Bila engkau tidak mampu, cegahlah dengan perkataan. Dan bila engkau masih tidak mampu pula, jauhilah kemungkaran itu.”

Penulis: Dr. A. Luthfi Fathullah

Pengirim: Marwan AffandI

No. 107

Selasa, 15 Maret 2011

KEWAJIBAN ANAK KEPADA ORANG TUA

Allah Swt menjadikan manusia sebagai makhluk sosial, yang berhimpun dalam suku dan bangsa, saling mengenal untuk bekerjasama memperoleh kebutuhan hidupnya – lahir maupun batin – yang amat banyak dan beragam (QS Al-Hujuraat 49: 13). Suku bangsa itu terdiri dari kumpulan-kumpulan orang; unit terkecil yang mandiri adalah keluarga. Maka baik dan buruknya suku dan bangsa bergantung kepada kualitas keluarga yang membentuknya. Karena itu Allah ‘azza wa jalla menurunkan nilai-nilai (values) dan norma-norma yang menjadi acuan utama di dalam keluarga. Ketetapan tersebut berkenaan dengan interaksi suami dan isteri yang telah dibicarakan dalam tulisan 96 / Membina Keluarga Sakinah / 25-12-10, tulisan 101 / Kewajiban Orang Tua Kepada Anak / 15-02-11, dan Kewajiban Anak Kepada Orang Tua yang kita bahas dalam nomor ini.

Hampir tanpa pengecualian, tiap-tiap orang tua sangat menyayangi anaknya. Semua ibu suka rela dan gembira mengandung anaknya selama sembilan bulan lebih, melahirkan bayinya dengan bertaruh nyawa, menyusui bayi itu dengan senang hati, membersihkan air kencing dan kotorannya kapan saja bayi itu mengeluarkannya. Kemudian ketika bayi tumbuh menjadi anak-anak, lalu menjadi remaja, kemudian menjadi dewasa, ibu selalu siap mendengarkan curahan hati sang anak, dan mengorbankan apapun untuk anaknya itu, Ayah juga demikian, dengan segenap perhatian mengusahakan segala sarana hidup yang diperlukan anak, sejak dari makanan dan minuman, sarana menjaga kesehatan, sampai ke perlindungan dan pendidikan. Karena itu berulang kali Allah Swt memerintahkan dan mengingatkan setiap orang agar bersyukur dan berlaku baik kepada kedua orang tuanya. Ayat-ayat yang berisi perintah berbuat baik kepada ibu bapak itu bahkan diletakkan di dalam Al-Qur’an, satu nafas dengan perintah untuk menyembah Allah. (QS An-Nisaa’ 4: 36 dan QS Al-Israa’ 17: 23).

Berbuat baik kepada orang tua adalah menyatakan terima kasih yang ikhlas dan bersungguh-sungguh kepada kedua mereka. Allah mengingatkan semua orang: “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah dan bertambah lemah, lalu (setelah dia lahir, menyusuinya), dan baru menyapihnya setelah dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu”. (QS Luqman 31: 14). Pernyataan syukur kepada orang tua tentu bukan hanya dengan perkataan, tetapi dengan menghormati mereka, berendah hati di hadapan mereka, mematuhi perintah mereka sepanjang tidak bertentangan dengan ketetapan Allah.

Aktivitas berbuat baik kepada ayah ibu, bahkan didahulukan dari hijrah dan jihad, kecuali dalam keadaan mendesak. Riwayat menceriterakan seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw dan berkata: ”Wahai Rasulullah, sebenarnya saya datang untuk berikrar kepadamu akan berhijrah, namun saya meninggalkan kedua orangtua sedang menangis.” Maka Rasulullah Saw bersabda: ”Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa seperti kamu telah membuat keduanya menangis.” (HR Abu Dawud).

Anak wajib menghindarkan diri dari sikap, ucapan, dan perbuatan yang dapat menyinggung perasaan mereka. Bisa jadi seorang anak kemudian menjadi ilmuwan terkemuka, atau pejabat tinggi negara, atau hartawan yang kaya raya, atau selebriti yang benar-benar masyhur, sedangkan ayah dan ibunya hanyalah orang jelata dari lapisan jauh di bawah anaknya. Perkataan maupun tindak tanduknya mungkin tidak mencerminkan intelektualitas atau budaya ‘kelas atas’. Bisa saja sang anak malu menampilkan ibu dan ayahnya kepada masyarakat.

Sikap demikian ini salah besar, apa lagi kalau diikuti dengan ucapan atau perbuatan yang merendahkan mereka berdua. Allah berfirman: “Hendaknya kamu berendah hati kepada orang tuamu dengan penuh kasih sayang”. (QS Al-Israa' 17: 4). Bisa jadi ayah atau ibu, ketika sudah tua dan uzur, bersikap manja, cerewet, minta diperhatikan secara berlebihan, dan sebagainya. Maka anak menjadi jengkel dan mengucapkan perkataan yang tidak sopan kepada orang tuanya. Perbuatan seperti itu juga sangat keliru. Allah menandaskan: “Jika salah seorang di antara kedua orang tuamu, atau keduanya, sampai berumur lanjut di dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali berkata ‘Ah’ kepadanya, dan jangan kamu membentak mereka, tetapi ucapkan kepada mereka kata-kata yang mulia”. (QS Al-Israa’ 17: 23).

Bahkan bisa jadi orang tua itu kafir, menolak ajakan Rasul, muballigh atau da’i untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lebih dari itu, dia bahkan menyuruh anaknya yang sudah beriman agar kembali kepada kepercayaan menyembah berhala yang dianutnya dahulu. Dalam keadaan seperti itu anak tetap harus bersikap sopan kepada ayah ibunya, walaupun tentu saja tidak boleh mengikuti ajakan mereka untuk murtad dari Islam dan memasuki ajaran kemusyrikan. Allah Swt berfirman: “Dan jika orang tuamu memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang hal itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan sebaik-baiknya”. (QS Luqman 31: 15). Kalau terhadap orang tua yang menyuruh menjadi kafir saja, anak harus menghormati dan berbuat baik, apa lagi kepada orang tua yang miskin, atau yang pendidikannya rendah, dan yang hidup di strata sosial bawah.

Ada sebuah riwayat, yang meskipun sebagian ahli hadits menyangsikan kesahihan periwayatnya, tetapi sangat masyhur dan isinya tidak bertentangan dengan Al-Quran dan hadits-hadits yang kuat. Salah seorang sahabat Rasul bernama Alqomah adalah ahli ibadah yang sangat tekun, dan komunikasinya dengan masyarakat juga amat baik. Pada suatu ketika beliau sakit berat dan diperkirakan telah menjelang sakarotul maut. Beberapa sahabat menunggui beliau dan mengucapkan kalimah tauhid untuk beliau ikuti.

Tetapi ternyata Alqomah tidak dapat mengucapkan kalimat tersebut. Bilal bin Rabah cepat-cepat menghadap Rasulullah Saw, mengabarkan kondisi yang ganjil tersebut. Rasul bertanya: “Apakah dia masih mempunyai orangtua?”. Bilal menjawab: “Hanya ibunya yang sudah sangat tua”. Maka Rasul memerintahkan Bilal agar menjemput ibunya menemui beliau. “Kalau ibu Alqomah masih dapat ke sini, persilakan datang. Bila tidak, aku yang akan mendatangi dia.” Bilal bergegas mendatangi perempuan tua itu, dan menyampaikan pesan Rasul.

Maka ibu Alqomah menjawab: “Aku yang lebih berhak menemui Rasul Allah”. Ketika ibu Alqomah datang, Rasulullah segera bertanya: “Apakah Anda tidak ridha kepada puteramu?” Ibu tua itu menjawab: “Aku marah kepadanya karena lebh suka mengikuti isterinya yang tidak peduli kepadaku”. Maka Rasulullah bersabda: “Kalau Anda tidak bersedia memaafkan Alqomah, aku akan menyuruh Bilal mengumpulkan kayu dan membakar dia. Bagi Alqomah lebih baik dibakar dari pada sangat menderita karena tidak diridhai ibunya”. Mendengar ucapan Rasul itu nurani seorang ibu yang sangat mencintai anak mencuat ke permukaan. Maka dia berkata: “Wahai Rasul Allah, engkau dan semua yang hadir di sini menjadi saksa, bahwa aku telah ridha kepada anakku Alqomah.”

Maka tidak lama kemudian Alqomah, orang yang saleh itu dapat mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian wafat dengan tenang. Setelah pemakaman Alqomah selesai, Rasulullah Saw bersabda: “Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshor, barangsiapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, maka dia akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Allah azza wa jalla tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertaubat, dan berbuat baik kepada ibunya, serta meminta keridhoannya, karena ridho Allah tergantung pada ridhonya dan kemarahan Allah tergantung pada kemarahananya.”

Kisah Alqomah tadi memperlihatkan dengan jelas betapa pentingnya orang senantiasa berbuat baik kepada orangtuanya. Muncul pertanyaan: Kalau pada suatu ketika ada ibu dan ayah sama-sama memerlukan kebaikan dari anak, siapa yang didahulukan? Riwayat menceriterakan, seorang sahabat bertanya:kepada Rasul: “Wahai Rasulullah, kepada siapakah saya pertama-tama harus berbuat kebaikan?”. Beliau menjawab: “Kepada ibumu”. Orang itu bertanya lagi: “Sesudah itu kepada siapa?” Rasulullah menjawab: “Kepada ibumu”. Orang itupun masih bertanya: “Kemudian kepada siapa?” Ternyata jawaban Rasul tetap sama: “Kepada ibumu”. Pada pertanyaan keempat baru beliau menjawab: “Kepada bapakmu.” (HR Bukhari-Muslim). Hadits ini menunjukkan kedudukan seorang ibu yang amat tinggi dalam pandangan anak, sampai tiga kali dari ayah. Pada waktu lain Rasul bersabda: “Orang yang mempunyai hak paling besar kepada seseorang adalah ibunya”. (HR Al-Hakim). Meskipun demikian, anak tetapi harus berlaku baik kepada ayahnya, seperti halnya dia berbuat baik untuk ibunya.

Bagaimana halnya kalau kedua orangtua sudah wafat? Apakah masih ada kebaikan yang dapat dilakukan oleh anaknya? Rasulullah Saw menyebut empat hal yang masih dapat dilakukan sang anak untuk kedua orangtuanya. Pertama: mendo’akan mereka, agar Allah berkenan menerima ibadahnya dan mengampuni dosa-dosanya. Kedua: menunaikan janji-janjinya yang belum sempat dilaksanakan semasa beliau berdua hidup. Ketiga: menghormati teman-temannya. Keempat: meneruskan silaturahim dengan orang-orang yang dia diperkenalkan oleh orangtuanya (HR Abu Dawud). Mengenai hal ini ada dua catatan yang perlu kita kemukakan.

Pertama: Mendo’akan orangtua sudah tentu harus dilakukan sejak mereka masih hidup. Al-Qur’an menyontohkan do’a yang sangat baik: “Ucapkan (kepada Allah): ‘Tuhanku, sayangilah kedua orangtuaku, sebagaimana mereka senantiasa menyayangi aku sejak aku masih kecil.” (QS Al-Israa’ 17: 24). Kedua: Termasuk ke dalam janji ibu dan ayah adalah beribadah kepada Allah. Maka kalau ibu dan ayah adalah orang yang beriman, yang sampai wafat belum sempat menunaikan ibadah haji, hendaknya salah seorang dari anak melaksanakannya.

Ibnu ‘Abbas menceriterakan seorang perempuan dari bani Juhainah datang kepada Rasulullah Saw. bertanya "Rasulullah!, Ibuku pernah bernadzar ingin melaksanakan ibadah haji, tetapi hingga beliau meninggal belum melaksanakan ibadah haji tersebut, apakah aku bisa menghajikannya? Rasulullah menjawab "Hajikanlah untuknya, kalau ibumu punya hutang kamu juga wajib membayarnya bukan? Bayarlah hutang Allah, karena hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi." (HR Bukhari & Nasa'i).

Hadits-hadits yang kuat menyatakan bahwa kewajiban menggantikan ibadah haji ini adalah untuk anak kepada orangtuanya. Badal atau menggantikan haji ini dilakukan sendiri oleh anak, bukan mengupah orang lain. Anak yang menjadi badal haji harus yang sudah menunaikan ibadah tersebut bagi dirinya sendiri. Wallahu a’lam.

Sakib Machmud

No. 106

Sabtu, 05 Maret 2011

105. DOA DAN TAWAKKAL

Adalah sebuah kisah seorang pegawai negeri sipil Jumali (bukan nama sebenarnya), bekerja pada departemen (skr kementerian) perhubungan, pangkat golongan III, latar belakang pendidikan STM dan telah bekerja selama kurang lebih 20 tahun. Jumali adalah pegawai yang rajin, tekun dalam tugasnya menyiapkan bahan dan data teknis dalam urusan gudang peralatan dan sukucadang untuk mendukung kebutuhan operasi pelayanan transportasi.

Pergantian beberapa kali pimpinan (eselon 3), dari yang sabar, pengertian sampai yang judes maupun pemarah, diikutinya dengan baik dan tetap disiplin pada tugasnya. Pada suatu periode Jumali berada di bawah pimpinan yang menurutnya mudah marah, bahkan dia selalu menjadi tumpahan segala kemarahan pimpinannya itu. Namun itu semua diterima dengan baik sebagai bagian dari tugasnya yang baginya urusan peralatan dan sukucadang jangan sampai terhambat dan operasi berjalan lancar.

Pada suatu ketika di sela-sela melapor kegiatan tugasnya kepada atasan langsung (eselon 4), Jumali mengemukakan keinginannya bahwa sebelum pensiun ia ingin dapat naik haji ke tanah suci. Atasannya itu tersentak mendengar ucapan Jumali, ia tidak menyangka bahwa seorang Jumali mempunyai keinginan dan niat yang sangat tinggi karena ingin melaksanakan ibadah haji yang tentunya biaya cukup tinggi jika Jumali mengandalkan penghasilan dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri dengan jabatannya itu.

Sementara itu kementerian sedang melakukan peningkatan fasilitas pendukung keselamatan transportasi dengan melakukan pemasangan peralatan baru melalui bantuan luar negeri. Untuk itu kementerian merencanakan pengiriman trainee untuk mempelajari pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas tersebut sebagai bagian dari factory training selama satu bulan. Oleh atasannya Jumali diajukan ikut dalam rombongan peserta training karena memang sudah memenuhi syarat, baik lingkup tugas maupun lama pengabdiannya, dan syukur diterima.

Dan singkat kata, Jumali telah mengikuti training sesuai program. Dari uang saku harian selama di luar negeri oleh Jumali ditabung dengan berhemat pengeluaran selama hidup di luar negeri. Alhasil setelah pulang ke tanah air uang tabungannya (masih dalam valuta asing) terkumpul setara lebih kurang 20 juta rupiah, cukup untuk pembayaran ongkos naik haji pada waktu itu. Dengan tambahan dari tabungannya sendiri, Jumali akhirnya berhasil menunaikan ibadah haji bersama isterinya. Allahu akbar, Allah maha besar, kalau Allah berkehendak maka semua yang dianggap mustahil bisa terjadi

Sebagian dari masyarakat memandang hidup ini penuh misteri atau kejadian-kejadian yang tidak dapat diprediksi, karena segala kepastian yang terjadi dalam hidup bukanlah berada di tangan manusia. Sepintar apapun manusia merencanakan sesuatu dalam hidupnya, kepastian akan terwujud atau tidaknya rencana itu bukan berada di tangan manusia. Hasil yang diperoleh bisa jadi lain atau jauh berbeda dengan yang pernah direncanakan. Sikap yang positif akan membawa seseorang optimis dan percaya diri bahwa Tuhan meridhoi dan memberi kekuatan dalam mencapai tujuan dan cita-citanya. Sikap yang memandang dari sisi negatifnya dapat menimbulkan dampak, timbulnya sikap apatis, patah semangat, atau nrimo (pasrah) dengan berlindung alasan, itu semua sudah kehendak Tuhan.

Namun sebagian masyarakat, terutama yang menganut pandangan yang ‘rasional’ dengan mendasarkan pada faham sebab dan akibat, memandang bahwa semua usaha akan dapat dicapai apabila direncanakan dengan perhitungan yang cermat dan matang, berdasarkan pertimbangan ilmiah dan menggunakan teknologi. Terbukti dengan dicapainya peradaban modern sampai saat ini di mana semua dicapai melalui proses yang terus menerus dan berkelanjutan dengan mengandalkan ‘ratio’ serta bersandar pada ilmu dan teknologi. Sikap yang ekstrim apabila suatu rencana tidak terlaksana sesuai yang diharapkan, dapat membuahkan stress, melampiaskan kekecewaan dengan melakukan tindakan yang tidak terpuji atau destruktif.

Barangkali semuanya benar bila dipandang sisi masing-masing karena memiliki tempat berpijak yang berlainan. Kisah di atas hanya merupakan ilustrasi atas kekuasaan Allah, bahwa segala sesuatu dapat terjadi atas ijin Allah. Barangkali Jumali telah berniat akan menunaikan ibadah haji jauh sebelum itu, dan sambil berdoa mulai menabung dengan sabar sebagai upaya kesungguhan atas niatnya, meskipun kalau dihitung secara ‘nalar’, mungkin sampai pensiun jumlah tabungan yang diperlukan untuk ongkos naik haji belum terwujud.

Islam, dengan berdasarkan tuntunan Allah SWT melalui Al- Qur’an, maupun sunnah Rasul, mempunyai cara sendiri menyikapi hal tersebut di atas dengan mendasari beberapa kunci.

Kunci pertama adalah Iman, dengan meyakini bahwa Allah yang menciptakan alam seisinya, dan hanya Allah satu-satunya yang berkuasa dan mengatur semua di alam ini. Allah SWT berfirman: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan (semua mahluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)” (QS Al-A’laa 87: 1-3).

Bahkan segala sesuatu ada takdir atau ketetapan Tuhan atasnya, “Dia (Allah) yang menciptakan atasnya qadar (ketetapan) dengan sesempurnanya (QS Al-Furqaan 25: 2). Dari ayat yang lain, “Dan tidak ada sesuatu pun kecuali pada sisi Kami lah khazanah (sumber)nya, dan Kami tidak menurunkannya kecuali dengan ukuran tertentu. (QS Al-Hijr 15: 21).

Kunci kedua adalah Amal atau berusaha, karena berusaha adalah merupakan kewajiban manusia. Manusia diberi akal, kemampuan untuk mencari ilmu dan mengembangkannya. Dengan akal dan kemampuan itu manusia dapat merencanakan dan melakukan segala upaya untuk mencukupi kebutuhan hidup, meningkatkan kesejahteraan dan kemulyaan. Manusia diperintahkan Allah untuk mencari rezeki bukan hanya yang untuk mencukupi kebutuhannya, tetapi Al-Qur’an memerintahkan untuk mencari fadhl Allah (kelebihan yang bersumber dari Allah). Salah satu ayat yang menunjuk hal ini adalah: “Apabila kamu telah selesai sholat (Jumat) maka bertebaranlah di bumi, dan carilah fadhl (kelebihan / rezeki) dari Allah.” (QS Al-Jumu’ah 62: 10).

Kunci ketiga adalah Doa, sebagaimana anjuran keutamaan doa dalam firman Allah SWT: “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kukabulkan kamu, sesungguhnya orang-orang yang sombong (tidak mau) beribadah kepadaKu itu nanti mereka akan masuk jahanam dengan hina-dina”. (QS Al-Mukmin 40: 60).

Ayat yang lainnya: “Apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat, Aku akan mengabulkan doanya orang yang berdoa kepada Ku.” (QS Al-Baqarah 2: 186).

Syarat-syarat terkabulnya doa adalah: 1. Makanan yang masuk kedalam tubuh harus halal, 2 Berdoa dengan sabar dan tidak minta untuk disegerakan, 3 Berdoa dengan hati yang merendah, 4. Selalu optimis dan penuh keyakinan, 5 Mempergunakan salah satu asma Allah: “Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya.” (QS Al-Araaf 7: 180), 6. Dengan penuh takut kepada Allah dan bersungguh-sungguh ingin dikabulkan. “Dan berdoalah kepada Allah dengan takut dan penuh harapan, sesungguhnya rahmat Allah itu dekat sekali kepada orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS Al-A’raaf 7: 56).

Kunci keempat adalah Tawakkal, yang merupakan kunci yang terpenting yang harus dimiliki setiap Mukmin, yang mengandung arti menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. Orang yang bertawakkal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT dan berserah diri di bawah perlindunganNya pada waktu menghadapi kesukaran. Ibnul Qayyim pernah berkata bahwa tawakkal adalah faktor paling utama yang bisa mempertahankan seseorang ketika tidak memiliki kekuatan dari serangan mahluk lainnya yang menindas serta memusuhinya.

Tawakkal menumbuhkan semangat berusaha, sebagaimana contoh diriwayatkan dari Umar RA, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, maka Allah SWT akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada seekor burung, di mana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan perut lapar, dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR Ibnu Majah).

Bila dipetik pelajaran dari hal-hal tersebut di atas: bahwa hasil atau rezeki tidaklah selalu berbanding lurus dengan usaha yang sudah dilakukan. Semua hasil, apapun bentuknya, sukses atau gagal, merupakan karunia dari Allah. Selain itu Allah memerintahkan kepada semua mahluknya untuk berusaha. Berusaha bukan saja karena hasil yang ingin didapatkan, tapi karena berusaha (bekerja) adalah merupakan tugas manusia.

Bagaimana meraih Tawakkal? Pertama. Harus yakin terhadap kekuasaan Allah SWT, kita harus meyakini segala urusan mahluk Allah SWT dan segala yang berhubungan dengan kehidupannya, sudah diatur dan ditentukan Allah. Kedua, menjauhkan diri dari sikap sombong, bahwa keberhasilan jangan sampai mengarah pada sikap seakan-akan keberhasilan itu berkat kecerdasan, kemampuan, dan kerja keras kita sendiri, bukan karena izin Allah. Ketiga, menghindari kecenderungan atau tergantung kepada sesama makhluk. Karena itu bergantunglah kepada yang memiliki kemampuan tanpa batas, yaitu sang Khalik, Allah SWT. Keempat, jangan mencintai dunia dengan berlebihan dan terperdaya olehnya. Dunia hanya dijadikan tempat menabur benih kebajikan sebanyak-banyaknya.

Tawakkal akan membawa kita selalu bersikap optimis dalam menghadapi hidup, karena segala urusan kehidupan sudah berada dalam genggaman. Tawakkal juga mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan dan keberhasilan hidup bukanlah segala-galanya, karena di balik kesuksesan dan keberhasilan, Allah lah yang mengizinkan semuanya itu terwujud.

(Muhammad Kamal Hs)