Kamis, 25 Juli 2013

MENYIMAK AYAT-AYAT SHIYAM

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah 2: 183).

Pada tanggal 10 bulan Sya'ban, demikian catatan para ahli sejarah, diturunkan 5 (lima) ayat Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Rangkaian ayat tersebut kemudian dikenal sebagai ayat-ayat shiyam, ayat-ayat yang membicarakan puasa, dan diletakkan oleh Nabi terakhir tersebut dengan petunjuk Allah dalam QS Al-Baqarah 2, pada urutan ke 183 s/d 187.

Ayat 183 yang kita kutip sebagai pembuka tulisan ini dengan jelas mengemukakan kewajiban puasa bagi orang-orang yang beriman. Setiap orang yang telah menyatakan diri percaya dengan sepenuh hati kepada Allah Swt beserta dengan rangkaian iman yang mengikutinya, harus mengabdi kepada Allah dengan menunaikan ibadah mahdhah (ritual) dan ibadah mu'amalah (aktivitas sosial yang dilakukan ‘karena Allah’ dan sesuai aturan agama Allah). Termasuk kegiatan ritual yang wajib dilakukan adalah puasa. Ayat 184 menerangkan bahwa kewajiban puasa itu dilaksanakan pada hari-hari tertentu, sedangkan ayat 185 menyatakan bahwa hari-hari yang dimaksud adalah bulan Ramadhan.

Ramadhan, bulan ke 9 menurut kalender Qamariyah - kalender bulan - merupakan bulan yang diistimewakan Allah. Nabi Muhammad Saw menggelarinya sebagai syahrun mubarakun - bulan yang diberkati, dan sayyidur syuhur - pemimpin segala bulan. Berdasar keterangan Rasul pula para ulama menyebutnya sebagai Syahrullah - bulan Allah, yaitu bulan ketika Allah menganugerahkan ganjaran besar kepada orang yang berbuat baik di dalamnya. Disebut pula sebagai syahrur rahmah - bulan rahmah yaitu saat ketika Allah mengucurkan kasih sayang yang sangat besar, syahrus shiyam - bulan ketika kaum mukminin menunaikan puasa wajib, syahrul ala-i, bulan penuh kenikmatan bagi orang yang banyak beribadah, syahrul Qur’an - bulan diturunkan Al-Quran, syahrul muwasah - bulan memberi pertolongan kepada yang memerlukannya, syahrun najah - bulan pelepasan dari siksa neraka, dan masih banyak lagi.

Mengenai syahrul Qur’an, secara khusus QS Al-Baqarah 2: 185 menerangkan:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ  
bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. Yang dimaksud adalah bulan ketika ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan untuk pertama kalinya kepada Muhammad Saw. Pada suatu malam di bulan Ramadhan ketika beliau berusia 40 tahun, diwahyukan lima ayat, yaitu QS Al-'Alaq 96: 1-5. Penganugerahan rangkaian ayat tersebut sekaligus menandai pelantikan beliau sebagai Nabi dan Rasul Allah. Selanjutnya dinyatakan pada ayat QS Al-Baqarah 2: 185,
هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
bahwa Al-Quran merupakanpetunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, serta pembeda atau pemisah (antara yang benar dengan yang salah, yang baik dengan yang buruk, yang bermanfaat dengan yang mendatangkan mudharat). Al-Qur’an memberi petunjuk pula kepada manusia, cara menemukan yang benar dan yang salah, serta usaha untuk senantiasa berada di dalam kebenaran serta menghindar dari kesalahan dan keburukan.

Tentang ibadah puasa, QS Al-Baqarah 2: 183 menerangkan bahwa yang diwajibkan berpuasa bukan hanya umat Muhammad Saw. Berbagai generasi yang hidup sebelumnya, sejak dari umat Nabi Adam As sampai dengan umat Nabi Isa As juga menerima perintah yang sama. Apakah masa dan cara puasanya sama, tidak ada keterangan yang qath'i - yang pasti. Kita tidak memerlukan informasi tentang hal itu, tetapi harus paham bahwa hakikat puasa bagi semua ummat itu sama: menahan diri dari memanjakan keinginan nafsu yang berlebihan. Nafsu bukan hal yang buruk; justru sebaliknya: nafsu adalah potensi yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Dengan adanya nafsu orang dapat mengembangkan budaya - tatacara dan sarana hidupnya. Tetapi nafsu rentan untuk didorong dan dikuasai syeitan; kondisi demikian itulah yang menyebabkan berbagai kesalahan dan kerusakan. Yusuf As menyatakan pengakuannya:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي
“Dan aku tidak dapat membebaskan diriku sepenuhnya (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (QS Yusuf 12: 53).  
Nafsu yang bagaimana yang dirahmati Allah? Nafsu yang dikendalikan oleh akal sedangkan akal itu mengacu kepada petunjuk Allah. Karena itu Al-Qur’an menyatakan:
  وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
 “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Perkataan "makan dan minum" merupakan representasi dari segala perbuatan manusia.

Kemampuan menahan diri dari memanjakan nafsu diperoleh dengan kesadaran yang tinggi disertai latihan yang intensif. Maka puasa merupakan latihan yang efektif untuk mengendalikan nafsu tersebut. Karena itu meskipun secara hukum puasa adalah tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan suami isteri pada siang hari sejak terbit fajar sampai matahari terbenam, tetapi orang yang puasa wajib menjaga sikap dan perbuatannya untuk menjauhi segala yang buruk. Bagaimana mungkin orang meninggalkan sesuatu yang halal ketika tidak sedang puasa, namun tetap melakukan sesuatu yang haram atau makruh (tercela) tatkala tengah puasa? Rasulullah Saw bersabda: "Tidak disebut puasa hanya karena meninggalkan makan dan minum. Yang dikatakan puasa adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna dan kotor". (HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban). Pada waktu yang lain beliau menyatakan: "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, dan bahkan tetap berdusta ketika meninggalkan makan dan minum, Allah tidak peduli kepadanya. (HR Bukhari dan Abu Dawud). Maka kalau seseorang berpuasa Ramadhan namun tetap berkata dusta, menggunjing, memendam iri dan dengki, tidak memelihara silaturahim, dia tidak memperoleh hikmah Ramadhan dan tidak mendapat pahala apa-apa. Rasulullah SAW bersabda: "Betapa banyak orang yang puasa tetapi tidak memperolah apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga". (HR Al-Hakim).

Allah Swt menerangkan hasil akhir yang akan diperoleh orang-orang yang benar puasanya, yaitu benar dalam niatnya dan benar dalam pelaksanaannya. Ujung QS Al-Baqarah 2: 183 menyatakan: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ - agar kamu bertakwa. Kita perhatikan penuturan ayat ini: Orang yang beriman diperintahkan untuk berpuasa supaya bertakwa. Ini berarti bahwa takwa merupakan kondisi puncak seseorang di hadapan Allah Swt. Kepada orang-orang tersebut Allah mengemukakan janji-janji yang sungguh amat sangat menggembirakan. Di antara janji-janji tersebut ialah: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu" (QS Al-Hujuraat 49: 13). "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar (dari segala permalahannya)". [QS At-Thalaaq 65: 2). "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya". [QS At-Thalaaq 65:4). "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan" (QS An-Nabaa’ 78: 31). Dalam hal ketakwaan itu telah menjadi sikap mayoritas orang yang hidup di suatu negeri, Allah menyatakan: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”.(QS 7 Al-A’raf: 96). "…. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi disediakan bagi orang-orang yang bertakwa". (QS Ali 'Imraan 3:133).

Baik kita perhatikan pula QS Al-Baqarah 2: 186 yang cukup menarik. Ayat itu diawali dengan kalimat:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Rasul) tentang Daku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat (dengan mereka).” Ayat ini masuk ke dalam untaian ayat shiyam di dalam surah tersebut tetapi tidak menyebut atau membicarakan puasa. Hal ini tentu bukan sebuah kesalahan letak dan jelas bukan karena Allah lupa. Ulama tafsir memahami, kalimat tersebut ditujukan terutama kepada orang-orang yang puasa. Mereka tengah mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, maka Allah yang Mahapengasih berkenan mendekat kepadanya. Hal ini sesuai dengan pernyataan-Nya dalam hadits qudsi: "Bila seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, pasti Aku datang kepadanya dengan berlari". (HR Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan lainnya).

Setiap kali ada seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah mendekat kepadanya dengan lebih cepat dan lebih baik. Bersamaan dengan pendekatan Allah itu maka mendekat pula kasih-Nya, ampunan-Nya, petunjuk-Nya, pertolongan-Nya, perlidungan-Nya. Siapa yang tidak tenteram hatinya dengan kenyataan demikian? Apa lagi kemudian dijelaskan:
 أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” Dengan pernyataan ini Allah Swt mempersilakan orang yang sedang berpuasa, untuk memohon kepada-Nya, dan Dia berjanji akan mengabulkannya. Berkenaan dengan ini Rasulullah Saw menyatakan bahwa di antara orang-orang yang berdo'a, salah satu yang tidak akan ditolak Allah adalah yang sedang puasa.  Tetapi orang yang berdo'a juga mesti konsisten dalam iman dan ketaatannya. Maka Allah mengingatkan hal ini:
  فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
 “Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
  
Uraian tadi memberi pengertian kepada umat, bahwa puasa menghasilkan banyak sekali kebaikan bagi pelakunya. Apakah ibadah itu berat dan sulit? Asalkan orang berniat dan berusaha dengan sungguh-sungguh, pasti terasa ringan. Ayat 185 surah QS Al-Baqarah 2: 185 menunjukkan adanya keringanan bagi mereka yang sakit atau sedang melakukan perjalanan yang memberatkan. Mereka boleh berbuka tetapi mengganti puasanya pada waktu yang lain.

Selanjutnya ayat tersebut menegaskan:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Bukankah keterangan dan penjelasan Al-Quran ini memadai bagi orang-orang yang beriman di dalam menjalani dan menikmati puasanya?”

Pada saat tulisan ini ditampilkan,  kita ummat Muslimin Indonesia sudah menunaikan setengah dari kewajiban puasa di bulan Ramadhan tahun sekarang, tahun 1434 H. Maka tiba saatnya bagi kita untuk muhasabah - introspeksi, memeriksa pelaksanaan ibadah yang memberikan banyak hikmah ini. Apakah kita sudah menunaikan kewajiban ini dengan niat yang benar-benar tulus lillahi ta'ala, dengan semangat yang semakin kokoh, dengan cara yang semakin sesuai dengan syari'at? Ataukah masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Masih ada waktu untuk menyempurnakan puasa kita. Siapa tahu, puasa sekarang merupakan puasa terakhir dalam kehidupan kita di dunia ini. Tidak ada yang tahu selain Allah Swt, apakah kita masih memiliki kesempatan untuk menikmati Ramadhan tahun yang akan datang. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah yang di dalam bulan Ramadhan ini diangkat-Nya ke jenjang tertinggi sebagai muttaqin - orang yang bertakwa. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Sakib Machmud
No. 192  

Senin, 15 Juli 2013

MENGAPA AKU RINDU RAMADHAN


Bulan Ramadhan mengingatkan penulis pada masa kecil di kampung halaman yaitu di kampung Keprabon, Solo. Pada waktu itu setiap menjelang Isya’ selama bulan Ramadhan suasana di mushalla ‘Sunniyah’ di Keprabon Wetan sangat ramai termasuk anak-anak yang akan mengikuti shalat tarawih. Para jemaah shalat tarawih terdiri dari para pria di ruang mushalla, sedang jamaah wanita di ruangan kelas yang bersebelahan dengan mushalla yang selama bulan puasa disulap menjadi tempat berjamaah shalat tarawih.

Selama bulan puasa itu pula kegiatan mengagungkan ramadhan dilakukan, mulai dari mengaji untuk anak-anak di mana pada tanggal - tanggal akhir bulan ramadhan sebagai apresiasi kepada mereka yang mengaji sampai tamat Al-Qur’an, maka diadakan acara ‘Khataman’. Sementara itu acara peringatan Nuzulul Qur’an juga diselenggarakan dengan mengadakan ceramah dan dilengkapi suguhan makanan yang dikumpulkan dari warga secara sukarela.

Dari musholla ini pula di luar bulan puasa pun terlihat suasana syiar Islam di kampung dengan adanya kegiatan-kegiatan dakwah yang selalu dilakukan termasuk peringatan hari besar Islam, mulai dari belajar mengaji Al-Qur’an bagi anak-anak sampai pemotongan hewan qurban pada hari raya Idul Adha.

Sedangkan kegiatan sehari-hari penulis bersama teman-teman sering mengikuti shalat berjamaah magrib yang selalu dipimpin oleh Imam mushalla. Ada keasyikan tersendiri sebelum shalat jamaah magrib, karena selalu berebut mendahului sebagai pemukul kentongan setinggi 2 meter lebih yang termasuk kentongan antik dan tidak terdapat di mushalla lain. Sesekali penulis ikut mengalunkan adzan maghrib.

Kegiatan-kegiatan yang penulis lakukan pada mulanya berjalan begitu saja secara beramai-ramai dengan banyak teman bermain, seperti halnya adat yang sudah berjalan dan dilakukan para orangtua kami. Yang penulis ingat hal tersebut juga atas dorongan bahkan perintah dari ayah yang sangat saya cintai yaitu almarhum Abdul Madjid Harsolumakso. Beliau pula yang selalu membangunkan saya setiap pagi agar tidak terlambat melaksanakan shalat subuh. Kegiatan lain selanjutnya adalah mengikuti pengajian rutin ‘Kuliah Subuh’ yang dilaksanakan setiap minggu pagi di Balai Muhammadiyah di Keprabon Kulon, tidak jauh dari rumah orangtua.

Selama bertahun-tahun suasana yang rutin ini berlangsung dan penulis mengikutinya sebagai bagian dari irama perjalanan kehidupan dan silaturahim antar warga di kampung Keprabon, sampai pada suatu saat penulis harus meninggalkan kota Solo untuk meneruskan kuliah di Yogya. Sebelum meninggalkan kampung ini saya sempat mengalami situasi dramatis yang menimpa sebagian besar kota Solo tidak terkecuali terhadap kampung Keprabon, yaitu peristiwa banjir Solo tahun 1965, di mana pada waktu itu hampir seluruh kampung Keprabon tergenangi air  setinggi rata-rata 2 sampai 3 meter. Penanganan bantuan dan kerjasama antar warga dalam menanggulangi banjir terlihat sebagai buah rasa kekeluargaan yang telah dibina selama ini. Suasana di atas sangat membekas dalam hati sebagai bagian dari kisah yang tidak dapat penulis lupakan seumur hidup. 

Setelah sekian lama meninggalkan kampung halaman dan ditinggalkan orang tua, penuis benar-benar merasakan betapa kasih sayang ayahanda yang selalu mengingatkan waktu shalat dan selalu mengingatkan agar banyak belajar agama di setiap kesempatan baik melalui ceramah, buku-buku maupun media lainnya.

Dari kisah dan pengalaman masa kecil yang penulis alami, yang sangat mengesankan adalah suasana setiap bulan Ramadhan. Pada masa itu sekolahan libur selama satu bulan penuh, sehingga kegiatan mengisi dan mengagungkan bulan Ramadhan benar-benar fokus dan mempunyai pengaruh emosional yang besar.

Sesuai berjalannya waktu, kegiatan Ramadhan yang semula bagi penulis hanya merupakan aktifitas rutin, menjadi semakin banyak  dilengkapi pengetahuan dan pemahaman lebih mendalam yang diperoleh dengan mempelajarinya baik tentang riwayat perintah puasa Ramadhan, maksud dan tujuan puasa, takwa, maupun keistimewaan puasa di bulan Ramadhan, disamping fungsi puasa itu sendiri sebagai bagian dari kewajiban bagi setiap muslim.

Puasa Ramadhan

Kewajiban melaksanakan puasa di bulan Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun kedua Hijrah. Uraian Al-Qur’an tentang puasa Ramadhan ditemukan di dalam QS Al-Baqarah 2: 183, 184, 185, dan 187, Ini berarti puasa Ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi Saw tiba di Madinah.

Allah Swt berfirman: ▪ “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana diwajibkan terhadap ummat-ummat sebelum kamu agar kamu bertawa. (QS Al-Baqarah 2: 183). ▪ “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkannya Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu,  baramg siapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan Ramadhan, maka hendaklah ia berpuasa, Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditnggalkannya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu nmencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur” (QS Al-Baqarah 2: 185).

Tujuan Berpuasa

Secara jelas Al-Qur’an menyatakan bahwa tujuan puasa yang hendaknya diperjuangkan adalah untuk mencapai ketakwaan (la’allakum tattaquun). Dalam rangka memahami tujuan tersebut perlu digaris bawahi penjelasan dari Nabi Saw, misalnya: “Banyak di antara orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga.” Ini berarti bahwa menahan lapar dan dahaga bukan tujuan  utama dari puasa.

Puasa merupakan suatu ibadah yang unik. Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang dapat dikemukakan, misalnya bahwa puasa merupakan rahasia antara Allah dan pelakunya sendiri. Dari sini dapat disimpulkan bawa orang yang melakukan ibadah puasa, melaksanakannya demi karena Allah.

Hadis qudsi menyatakan antara lain, “Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran.” Seperti halnya firman Allah  melalui ayat Al-Qur’an: ”Sesunggiuhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya  tanpa batas.” (QS Az-Zumar 39: 10). Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa.

Puasa dan Takwa

Takwa mempunyai arti ‘menghindar’, ‘menjauhi’ atau ‘menjaga diri’, sehingga ittaqullah berarti menghindar, menjauhi, atau menjaga diri dari siksa Allah Swt, atau yang lebih mendalam lagi berarti menjaga diri dari siksa karena adanya Allah.

Menghindari siksa atau hukuman Allah, dilakukan dengan jalan menghindarkan diri dari semua yang dilarang, serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa yaitu Allah Swt.

Dengan demikian yang bertakwa adalah orang yang merasakan kehadiran Allah Swt setiap saat, sebagaimana kutipan dari hadis: “Bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya maka palng tidak, menyadari bahwa Allah melihatnya.”

Karena itu banyak cara dilakukan untuk mencapai hal tersebut, antara lain dengan jalan berpuasa, sebagaimana perintah Allah dalam ayat 183 di atas.

Keistimewaan Puasa Ramadhan

Dari kesekian banyak hikmah puasa dalam bulan Ramadhan adalah berdoa dibulan Ramadhan mendapat tempat yang tempat yang dekat dengan Allah, seperti dijelaskan dalam QS Al-Baqarah 2: 186. Ayat tersebut tidak berbicara tentang puasa, tetapi tentang doa. Penetapan urutan tentang doa, atau penyisipannya dalam uraian Al-Qur’an tentang puasa tentu mempunyai rahasia tersendiri. Hal ini mengisyaratkan bahwa berdoa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, dan karena itu ayat tersebut menegaskan: “Sesungguhnya Aku dekat, Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS Al-Baqarah 2: 186).

Hikmah lainnya yang penting dalam bulan Ramadhan adalah, di bulan ini terdapat malam Qadar (Lailatul Qadar), yang menurut Al-Qur’an lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Jibril)  silih berganti turun dengan seizin Allah dan kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.

Firman Allah: “Sesungguhnya  Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.” (QS Al-Qadar 97: 1-5).

Yang pasti dan harus diimani  oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Qur’an di atas bahwa, ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar, dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan. “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam, dan sesungguhny Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan besar di sisi Kami (QS Ad-Dukhaan 44: 3-5).

Dengan datangnya bulan Ramadhan 1434 H, kita bersyukur mendapat kesempatan menyambutnya dan mengharapkan hikmah yang sebesar-besarnya selama bulan ini, dan dengan sisa umur yang diberikan kepada kita agar dapat kesempatan memperoleh pahala yang berlipat ganda melalui amal baik yang sesuai perintah Allah, serta doa yang kita panjatkan kehadirat-Nya akan dikabulkan dan mendapat ridha dari Allah Swt.

Dari hal-hal yang disampaikan di atas membuat banyak alasan mengapa kita selalu rindu datangnya Ramadhan. Marhaban ya Ramadhan.


Mohammad Kamal
No. 191