Minggu, 25 Juli 2010

83. DAKWAH, KEWAJIBAN SETIAP MUKMIN

Allah SWT mengawali QS Al ‘Ashr (103) dengan sumpah: “Demi waktu!” Yaitu waktu yang terus berjalan tanpa istirahat walau sekejap, waktu yang dikaruniakan Allah kepada manusia untuk mengerjakan kebaikan sebagai penjemput ridha beserta surga Allah yang luar biasa nikmatnya. Maka sungguh rugi orang yang tidak memanfaatkan waktu dengan pantas, dan beruntunglah mereka yang mengisi masa hidupnya dengan iman, merealisasikan imannya itu dengan amal saleh, dan saling menasihati tentang kebenaran dan dengan kesabaran.

Aktivitas terakhir itu sejalan dengan kedudukan manusia sebagai ummat yang satu [QS Al Baqarah (2): 113]. Sebagai sesama keturunan Adam [QS An Nisaa’ (4): 1], orang perlu dan harus saling membantu dengan penuh kasih sayang. Yang mesti diberikan kepada sesama manusia tidak hanya bantuan fisik seperti harta dan tenaga, tetapi juga informasi, petunjuk, jalan ke luar, agar orang-orang lain dapat memperoleh kebenaran. Orang yang beriman dan menikmati imannya itu tidak sepantasnya merasa puas dengan kondisinya sendiri, tetapi harus membawa serta lingkungan sosialnya merasakan kenikmatan serupa.

Kegiatan memanggil, mengajak dan menyeru orang untuk beriman dan melaksanakan konsekuensi imannya disebut Dakwah (da’wah). Aktivitas tersebut pertama-tama dilakukan oleh Rasul Allah, lalu diikuti para sahabat, dan selanjutnya seluruh ummat beliau. Al Qur’an menurunkan perintah Allah: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” QS Ali ‘Imran (3): 104].

Ayat Allah yang kita tuliskan terjemahannya di atas, adalah sebuah perintah yang tegas, bukan sekedar sebuah anjuran. Maka para ulama menyatakan bahwa hukum dakwah adalah fardlu atau wajib. Hanya saja di antara mereka ada yang menetapkannya sebagai fardlu ‘ain – kewajiban setiap individu, dan ada pula yang menganggapnya fardlu kifayah – kewajiban komunal, sehingga bila sudah ada yang melakukannya dan sudah mencukupi kebutuhan, yang tidak melakukannya tidak berdosa. Mengajak orang kepada kebaikan dan kebenaran tidak hanya dilakukan dengan perkataan, tetapi juga dengan tulisan dan perbuatan.

Dakwah dengan perkataan dilakukan dalam komunikasi antar persona yaitu pembicaraan antara dua orang, atau komunikasi kelompok yakni komunikasi di dalam kumpulan orang yang terbatas, dan komunikasi massa – komunikasi dalam kelompok besar atau melalui media massa. Dakwah tulisan juga sama bentuknya, dilakukan secara individual maupun melalui media termasuk internet. Sedangkan dakwah dengan perbuatan – dikenal sebagai da’wah bil hal – adalah memperlihatkan sikap dan perilaku yang baik untuk menjadi contoh dan teladan bagi orang-orang yang menyaksikannya.

Karena itu Da’wah Islamiyah harus ditingkatkan di segala bidang. Dakwah bukan hanya khutbah dan ceramah. Setiap Mukmin dengan posisi dan kemampuannya masing-masing, wajib berdakwah, dengan kesungguhan dan kecermatan. (Sakib Machmud).Dari uraian tadi, kita lebih cenderung kepada pendapat bahwa nilai hukum dakwah adalah fardlu ‘ain. Ceramah atau tabligh, juga membuat tulisan, memang hanya dapat dilakukan oleh orang yang mempunyai kemampuan, tetapi dakwah secara umum harus dilakukan oleh setiap orang yang beriman. Jadi Mukmin adalah da’i yang berkewajiban menyampaikan ajaran agama kepada orang lain.

Dakwah merupakan perintah Allah kepada orang-orang yang beriman. Maka sebagaimana perintah-perintah yang lain, ada sejumlah norma yang harus dipatuhi oleh setiap da’i. Ketentuan tersebut antara lain dikemukakan dalam firman Allah SWT: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. [QS An Nahl (16): 125]

Norma pertama yang diterangkan pada ayat tersebut adalah berdakwah dengan hikmah – kebijaksanaan; karena seruan yang disampaikan secara tidak arif, justru dapat menimbulkan antipati pada orang yang diajak. Da’i mesti menyadari bahwa orang yang dihadapinya itu memiliki harga diri, sehingga tidak suka diajari di depan orang banyak, apa lagi disalahkan di depan khalayak. Orang juga mempunyai sense of belonging terhadap kepercayaan atau ide-ide yang selama ini dianutnya; maka dia secara spontan akan menolak sesuatu yang baru. Da’i harus memahami kenyataan tersebut sehingga dia melakukan dakwah dengan cara yang simpatik. Selain itu pendekatannya harus sesuai untuk orang yang dihadapi. Karena itu da’i harus mempelajari dengan baik orang-orang yang menjadi sasaran dakwahnya, dalam hal intelektualitasnya, budayanya, tradisi lingkungannya, dan sebagainya. Rasulullah SAW menyatakan: “Bicaralah kepada manusia menurut kadar akalnya”.

Norma yang kedua bagi da’i ialah menyampaikan kebenaran dengan pengajaran yang baik. Kebenaran agama memang harus diajarkan kepada manusia, bukan dipaksakan, karena perbuatan yang dilakukan karena terpaksa itu tidak berguna, tidak rewarding bagi pelakunya. Allah menerangkan kepada Rasul-Nya: “Tidak boleh ada paksaan untuk beragama, karena sungguh telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dari jalan yang sesat”. [QS Al Baqarah (2): 256]. Dalam ayat lain Allah menegaskan kepada Rasul-Nya Muhammad SAW: “Katakanlah: Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka barangsiapa mau silakan beriman dan barangsiapa mau silakan menjadi kafir” [QS Al Kahfi (18): 29].

Ayat-ayat ini menjadi pedoman bagi para da’i agar tidak mendesakkan keinginannya kepada orang lain, karena manusia itu berproses, dan dalam proses itu ada hidayah Allah yang sangat berperan. Memang keinginan untuk berhasil meyakinkan orang dalam waktu singkat itu manusiawi. Rasulullah SAW sendiri juga seperti itu. Maka Allah SWT mengingatkan beliau: “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [QS Al Qashash (28): 56].

Norma yang ketiga untuk da’i adalah pada saat berdikussi dengan orang yang tidak atau belum sependapat, dia harus menyampaikan argumen yang lebih baik, sehingga dapat meyakinkan orang yang diajak bicara dan yang menyaksikan pembicaraan itu. Al Qur’an banyak sekali memberi contoh pengajaran yang disertai argumen yang sangat kuat. Ketika menerangkan keagungan Allah SWT, Kitab ini menggambarkan bumi yang menjadi subur sehingga tumbuh padanya aneka tanaman, dan manusia menikmati hasilnya. Makhluk dan kejadian di alam raya ini berpasangan: malam berpasangan dengan siang, kondisi gelap berpasangan dengan terang. Semua itu bermanfaat bagi manusia [QS Yaasiin (36): 33-37]. Ini hanya satu contoh saja dari sangat banyak keterangan yang dapat kita baca di dalam Al Qur’an.

Namun faktor terpenting untuk meyakinkan orang akan kebenaran Islam, adalah sikap dan perilaku terpuji pada orang-orang yang menyampaikannya. Dakwah dengan lisan dan tulisan harus disertai oleh da’wah bil hal – dakwah dengan melakukan kebaikan. Rasulullah SAW menampilkan dirinya sebagai uswatun hasanah – suri teladan kebaikan [QS Al Ahzaab (33): 21], maka ummat Rasul harus mengikuti beliau. Para sahabat Rasul telah benar-benar menampilkan akhlaqul karimah – akhlak yang mulia. Pemimpin memerhatikan rakyat dan rakyat patuh kepada pemimpin. Yang tua memberi kesempatan bagi yang muda untuk mengembangkan diri dan yang muda menghormati yang tua. Yang kaya bersemangat membantu yang miskin tetapi yang miskin menempatkan diri sebagai muta’affif – orang yang menjaga kehormatan diri dan pantang meminta-minta.

Tetapi sayang, keadaan yang sangat baik itu berubah seiring perjalanan waktu. Bahkan da’i pun tidak berperilaku sebagaimana yang mereka serukan. Al Qur’an mengantispasi hal itu dengan menyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Sungguh besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. [QS Ash Shaff (61): 2-3]. Lebih dari satu abad yang lalu para ulama telah menyatakan: “Cahaya Islam terhalang oleh pekerti kaum Muslimin”. Bagaimana orang tertarik kepada Islam, bila penyampainya tidak mampu memperlihatkan Islam in action, dan hanya dapat mengemukakan teori-teori yang tidak wujud dalam kenyataan?

Sebagaimana yang dikemukakan dalam QS Ali ‘Imran (3): 104, yang telah kita bicarakan terdahulu, tugas seorang da’i adalah amar ma’ruf nahyi munkar – menyuruh orang kepada kebaikan dan mencegah mereka dari melakukan perbuatan buruk. Ajakan tersebut hanya akan memperoleh respons yang positif bila dinyatakan dengan santun. Da’i memang harus menyampaikan pesannya dengan tegas, tidak ragu dan tidak abu-abu. Tetapi tegas tidak berarti keras, apa lagi kasar. Iblis saja mengajak orang kepada kesesatan dengan simpatik, maka da’i yang menyeru kepada kebenaran seharusnya bersikap yang jauh lebih baik lagi. Mukmin yang mengajak kebaikan perlu muhasabah – introspeksi secara terus menerus, agar tidak melenceng dari tujuannya. Agar keinginannya untuk berhasil tidak dikotori oleh harapan menjadi pengajak yang sukses dan dikagumi masyarakat. Agar dia mampu bekerja sama dengan semua kelompok yang sepaham, tidak bersaing berebut pengaruh dengan orang-orang yang sehaluan. Agar kesabaran dalam menyampaikan kebenaran tidak dihancurkan oleh kejengkelannya kepada orang-orang yang tidak bersedia mengikuti dia.

Dakwah pada masa sekarang tidak dapat diabaikan tetapi justru harus ditingkatkan, baik intensitas maupun kualitasnya. Banyak sekali tantangan yang dihadapi ummat, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Di antara tantangan itu ialah pengaruh berbagai pemikiran, persepsi, budaya, yang menjadikan agama secara substansial menjauh dari kehidupan.

Banyak Muslimin yang dikotomik – memisahkan secara tajam antara ibadah dengan mu’amalah. Aktivitas ritual diakui sebagai ketentuan agama yang harus ditunaikan dengan patuh, tetapi perilaku sosial dalam hal cara berpakaian, norma pergaulan, sistem ekonomi, tata cara berpolitik, mengacu sepenuhnya kepada pikiran manusia sendiri.

Dalam kenyataannya, mereka mengikuti orang-orang lain yang menjadi idolanya karena dianggap mampu mencapai kemajuan besar. Muslim mengikuti orang-orang yang dikaguminya itu sehingga seperti yang dikonstatasi Rasul: “.. ketika orang yang kamu idolakan itu masuk liang landak, kamu tetap mengikutinya juga”.

Tantangan lain adalah kelemahan ummat dalam pengetahuan dan kemampuan ekonomi. Rasulullah SAW telah memberi contoh yang nyata dalam meletakkan landasan atau pondasi bagi pembangunan kedua bidang tersebut. Di atas pondasi yang kukuh itu ummat Islam selama lebih dari enam abad menjadi imam bagi peradaban dunia. Tetapi akibat kemalasan dan surutnya iman, kekuatan yang bermanfaat itu meredup digantikan oleh kekuatan lain yang bermudharat.

Karena itu Da’wah Islamiyah harus ditingkatkan di segala bidang. Dakwah bukan hanya khutbah dan ceramah. Setiap Mukmin dengan posisi dan kemampuannya masing-masing, wajib berdakwah, dengan kesungguhan dan kecermatan.

(Sakib Machmud).



Kamis, 15 Juli 2010

82. MENJEMPUT HIDAYAH ALLAH



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ

الضَّالِّينَ ﴿٧﴾

Tujuh ayat yang dirangkum dalam QS Al Faatihah, surah yang membuka Al Qur’an sekaligus menjadi Induk Kitab, dapat kita bagi dalam tiga kelompok.

(1) Empat ayat pertama mengemukakan keagungan Allah SWT, Pembina semesta alam, yang mengasihi seluruh makhluk-Nya dan yang menguasai Hari Kiamat.

(2) Ayat kelima menyatakan ikrar manusia yang telah menghayati keagungan Allah tersebut; dia menyatakan: “Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

(3) Dua ayat berikutnya mengajukan permohonan yang paling penting yaitu permohonan hidayah – petunjuk kepada jalan lurus, yaitu jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang yang diberi nikmat-Nya, bukan jalan yang dimurkai dan yang sesat.

Karena do’a permohonan hidayah itu dinyatakan pada surah pertama dan diucapkan sekurang-kurangnya 17 kali sehari dalam shalat, maka jelas bahwa hidayah ini sangat diperlukan oleh manusia. Di dalam Mu’jam Al Quran, perkataan hidayah dalam segala bentukan katanya kita jumpai dalam lebih dari 300 ayat.

Apakah hidayah itu? Dari berbagai keterangan yang terdapat dalam Al Qur’an, Ensiklopedi Islam mengartikan hidayah sebagai petunjuk Allah SWT terhadap makhluk-Nya tentang sesuatu yang mengandung kebenaran atau sesuatu yang berharga dan membawa keselamatan. Ahli Tafsir terkemuka, Ibnu Katsir (1300-1373 M) mengemukakan pengertian hidayah dengan mengacu keterangan Allah dalam QS Al Balad (90): 10: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. Menurut beliau, dua jalan yang dimaksud oleh ayat ini adalah hidayah yang menjelaskan sesuatu yang baik dan membawa kepada keselamatan serta kebenaran, serta hidayah yang menjelaskan sesuatu yang buruk dan membawa kepada kesesatan. Dengan memahami yang benar dan baik serta yang salah dan buruk, orang dapat memilih jalan yang bermanfaat dan menghindari jalan-jalan yang akan mencelakakan dirinya.

Banyak lagi ulama yang mengulas pengertian hidayah ini. Kita dapat menyebut di antaranya Raghib al Isfahani (wafat 1108 H), dan Ibnu Qayyim al Jauziah (1292-1350 M). Dalam tulisan ini kita mengutip pendapat ahli tafsir kontemporer Mesir Muhammad Mustafa Al Maraghi (1881-1945 M). Pikiran yang serupa juga dikemukakan oleh ulama Mesir lainnya Muhammad Abduh (1849-1905 M). Menurur para beliau hidayah terdiri atas dua kelompok, yaitu hidayatul ‘ammah – hidayah umum dan hidayatul khassah – hidayah khusus. Hidayah umum diberikan Allah kepada semua orang untuk menjadi petunjuk dalam menjalani hidupnya. Sedangkan hidayah khusus hanya diterimakan kepada orang-orang tertentu; dengan hidayah khusus itu dia sampai kepada kebenaran sejati yang mengantarkannya kepada keselamatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Ada empat macam hidayah umum. Pertama: hidayah ilham, yaitu gharizah atau naluri (instinct) yang dibawa setiap orang sejak lahir, seperti keinginan makan dan minum ketika tubuh memerlukan asupan zat-zat yang diperlukannya, naluri memiliki, dan sebagainya. Dengan hidayah ilham ini bayi tanpa belajar dapat menemukan susu ibunya. Sejalan dengan pertumbuhan raga dan jiwanya orang me-recall nalurinya dan mengembangkan cara-cara memperoleh apa yang menjadi kebutuhan hidupnya itu.

Hidayah umum yang kedua adalah hidayatul hawas yaitu petunjuk berupa indera: penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecap, dan peraba. Dengan hidayah ini orang mampu mengenali lingkungan fisiknya. Orang tahu bentuk, ukuran, warna, nada dan timbre suara, halus atau kasarnya permukaan benda, harum atau busuk, manis, pahit atau asin, dan sebagainya.

Hidayah umum yang ketiga adalah hidayatul ‘aql – hidayah akal. Perlu kita ketahui bahwa ‘aql dalam bahasa Arab mencakup rasio dan rasa. Untuk memahami lingkungannya, orang tidak dapat mengandalkan indera semata-mata karena dalam keadaan tertentu indera sering salah tafsir. Ketika melihat dari jauh mata memahami langit, laut dan gunung berwarna biru padahal tidak demikian. Dua rel kereta api yang sejajar nampak bertemu di satu titik. Akal mengoreksi kesalahan indera tersebut. Lebih jauh lagi, akal mengembangkan penangkapan indera mengenai warna daun yang hijau. Penyelidian akal memberi pengetahuan tentang zat-zat apa yang terdapat di dalam daun sehingga berwarna hijau, dan apa manfaatnya baik bagi pohon itu sendiri maupun bagi makhluk di sekitarnya. Pengetahuan akal itu dikembangkan lagi dengan menghubungkan suatu fakta dengan fakta lain sehingga orang memperoleh fakta baru. Kenyataan baru itu dihubungkan lagi dengan kenyataan lain, maka orang memiliki pengetahuan yang sangat banyak. Orang menyusun berbagai pengetahuan tersebut dalam sebuah sistem sehingga terbentuklah ilmu. Orangpun memanfaatkan ilmu untuk mengembangkan cara dan sarana meningkatkan kenyamanan hidup; sehingga terwujudlah teknologi.

Hidayah umum yang keempat adalah hidayah Ad Din atau agama. Hidayah ini diwahyukan Allah kepada para Rasul-Nya untuk disampaikan kembali kepada ummatnya masing-masing. Ad Din diturunkan kepada manusia untuk menjadi pedoman hidup di dalam mengusahakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebagian dari wahyu-wahyu Allah yang diturunkan kepada beberapa Nabi dan Rasul tertentu, bersifat sistemik dan merupakan Kitab. Allah menginformasikan empat Kitab-Nya yaitu Taurat, Zabur, Injil, dan Al Qur'an. Sebagaimana indera, akal juga berpotensi membuat kekeliruan, terutama ketika ditaklukkan dan dikendalikan oleh nafsu. Raja Mesir yang cerdas, Fir’aun, ketika melihat Musa AS dan rombongan Bani Israil menyeberangi lautan, pasti tahu bahwa jembatan yang dilalui rombongan tersebut bukan sesuatu yang dibangun dengan tangan manusia sehingga tidak dapat digunakan oleh sembarang orang. Tetapi dalam kemarahan yang berkobar, dia mengabaikan rasionya dan terus mengejar Musa beserta para pengikutnya. Maka masuklah mereka ke palung lautan dan mati sengsara di dalamnya.

Ad Din bukan hanya meluruskan dan menyempurnakan kesalahan indera dan akal, tetapi juga mengemukakan fakta-fakta yang tidak dapat diperoleh dengan cara apapun kecuali melalui wahyu, informasi langsung dari Allah SWT. Ad Din memaparkan siapa dan bagaimana Tuhan yang mencipta seluruh alam, bagaimana manusia menyebut Dia, bagaimana posisi manusia terhadap Tuhan, apa kewajibannya terhadap Tuhan, dan sebagainya. Ad Din menyatakan bahwa manusia tidak hanya hidup sekali, tetapi dua kali yaitu di alam dunia dan alam akhirat. Setiap orang harus bertanggung jawab atas sikap dan perbuatannya selama berada di dunia, dan akan memperoleh balasan yang adil dari Allah, Penguasa seluruh makhluk-Nya. Ad Din menurunkan sejumlah aturan yang harus ditaati manusia, baik aturan mengenai hubungan dia dengan Allah (hablun minallah) maupun aturan tentang hubungan antar makhluk, khususnya antara manusia dengan manusia (hablun minannas). Dasar ajaran Ad Din adalah kepatuhan yang mutlak kepada Allah SWT; maka hidayah keempat ini disebut Islam – penyerahan diri kepada Allah dengan sukarela dan gembira.

Mengenai interaksi antara akal dan agama, terdapat peberdaan pendapat di antara para ulama. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa akal tidak dapat mengetahui mana yang benar dan harus atau seyoganya dikerjakan, dan mana yang buruk dan harus atau seyogyanya ditinggalkan. Benar dan salah serta baik dan buruk, menurut ulama kelompok ini, ditentukan oleh wahyu sedangkan wahyu itu dihimpun di dalam agama. Tetapi sebagian ulama lain menyatakan bahwa akal yang murni yaitu yang belum dikendalikan nafsu dapat mengetahuinya. Kita tidak bisa membantah kenyataan bahwa sebagian dari kebenaran yang dikemukakan dalam agama itu dapat diperoleh akal tanpa petunjuk wahyu.

Masyarakat yang hidup di kawasan terpencil dan belum didatangi dakwah agama tahu bahwa jujur itu baik dan dusta itu buruk, menghormati orang tua itu benar dan melecehkannya itu salah. Bahkan fitrah manusia – kecenderungan manusia kepada kebenaran, menjadikan orang mengenal eksistensi Tuhan. Charles Gustav Jung menyebut kecenderungan itu sebagai naturaliter religiosa. Tetapi dengan mengandalkan fitrahnya belaka orang tidak tahu bagaimana Tuhan itu, apa yang Dia kehendaki untuk dilakukan manusia, dan sebagainya. Keterangan mengenai hal itu beserta penjabarannya berada di kawasan Ad Din atau agama.

Demikianlah kita telah menguraikan empat bentuk hidayah yang termasuk dalam kelompok Hidayatul ‘ammah – hidayah umum. Adapun hidayatul khassah atau hidayah khusus, adalah petunjuk Allah yang dikaruniakan kepada orang-orang tertentu. Ini disebut taufiq atau ma’unah (pertolongan). Hidayah ini menjadikan seseorang memiliki kesediaan untuk melaksanakan Ad Din dengan sepenuh hati dan semangat tinggi. Ada orang yang tahu betul mengenai ketetapan agama tetapi tidak melaksanakannya, baik karena tidak percaya bahwa ketetapan itu berasal dari Allah maupun karena kemalasan. Ada pula yang tahu sedikit tentang agama tetapi menunaikan apa yang diketahuinya itu dengan tertib. Ketetapan mengenai siapa yang diberi ma’umah itu merupakan hak prerogatif Allah SWT, yang ditegaskan dalam firman-Nya: “Katakanlah (wahai Rasul): “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. [QS Al Baqarah (2): 142]. Dan: “Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. [QS Al Baqarah (2): 272].

Kita dapat mengambil contoh yang menunjukkan dengan nyata tentang hak mutlak Allah di dalam memberikan hidayah ini. Abu Thalib, paman Muhammad SAW yang sangat menyintai beliau dan yang memberikan perlindungan penuh kepada beliau ketika dimusuhi kaum musyrikin Qureisy, sampai saat ajalnya tidak bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat. Tetapi Umar ibnu Khattab, orang yang amat membenci Rasulullah, masuk Islam justru pada waktu bertekad hendak membunuh utusan Allah tersebut. Banyak orientalis yang bergeminng dari sikapnya menjadikan Islam sebagai bahan kajian ilmu belaka, tetapi Leopold Weiss (1900-1992 M) yang lahir dari keluarga pemuka Yahudi, terpukau hatinya ketika memelajari Islam. Dengan rasa bahagia beliau memeluk agama ini dan mengganti namanya menjadi Muhammad Asad. Dalam salah satu bukunya: Road to Mecca, beliau menulis: “Dalam pandangan saya Islam terlihat seperti sebuah hasil arsitektur yang sempurna. Semua elemen di dalamnya harmonis dalam saling melengkapi dan mendukung; tidak ada yang berlebihan dan tidak ada yang kurang. Hasilnya adalah sebuah struktur dengan keseimbangan yang sempurna dan komposisi yang kuat”.

Meskipun pemberian hidayah taufiq itu sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah, tetapi kita manusia harus berikhtiar keras menjemputnya. Untuk itu kita mesti menyucikan jiwanya dari pikiran-pikiran kotor, membersihkan perbuatannya dari apa yang tidak disukai Allah, dan selalu meningkatkan nilai ibadah dan amal salehnya. Selain itu kita harus berdo’a kepada Allah SWT. Ucapan Ihdinash shirathal mustaqiim yang kita jadikan pembuka uraian ini bukan permohonan untuk memperoleh hidayah naluri, indera, akal, dan Ad Din, karena keempatnya sudah diberikan Allah. Do’a tersebut memohon perkenan Allah SWT untuk menganugerahkan hidayah taufiq atau ma’unah. Upaya dan do’a itu akan membawa kita memasuki golongan orang-orang yang pantas menerima petunjuk suci dan pertolongan Allah SWT, sebagaimana pesan-Nya: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik – bergelimang dosa. [QS Al Hasyr (59): 19]. (Sakib Machmud)

Senin, 05 Juli 2010

81. HIDUP BAGAIKAN PERMAINAN SEPAKBOLA

Sejak awal bulan yang lalu, di Afrika Selatan sedang berlangsung pertandingan sepak bola memperebutkan Piala Dunia 2010, yang diikuti 32 tim terbaik di dunia, dan saat ini telah sampai pada babak semi final. Sepak bola adalah sebuah permainan spektakuler, dan paling banyak menarik perhatian masyarakat, dan disaksikan di seluruh dunia, baik langsung maupun melalui televisi, tidak terkecuali di Indonesia.

Dalam permainan sepakbola, selain dibutuhkan keakhlian dan keterampilan dari setiap pemain, juga perlu kerjasama tim yang baik dan rapi, dan adu strategi yang tepat untuk memperoleh sukses dalam setiap permainan menghadapi lawan main yang berbeda-beda. Dalam tulisan ini kita tidak membahas tim mana yang akan menjadi pemenang, tetapi bagaimana menjadikan permainan itu cantik dan menarik.

Dalam Al Qur’an ada beberapa ayat yang menyebutkan tentang ‘permainan’ (la’ibun). Salah satu di antaranya menyebutkan sbb: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [QS Al Hadiid (57): 20].

Mengapa Allah SWT membuat perumpamaan kehidupan ini bagaikan permainan? Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: ‘Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?’ Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” [QS Al Baqarah (2): 26].

Selanjutnya petunjuk seperti apa yang kita peroleh dari suatu permainan? Kiranya ada baiknya kita menjadikan momentum kejuaraan sepak bola dunia itu untuk memahami apakah hakikat hidup manusia dilihat dari sisi permainan sepakbola. Dalam permainan sepakbola ini, diperlukan lima unsur yang diperlukan agar permainan bisa berlangsung.

Pertama. Unsur utama dalam sebuah permainan adalah Pemain. Tidak ada permainan tanpa pemain. Sesuai aturan jenis permainan, sepak bola, terdiri dari 11 pemain, bulu tangkis 2 atau 4 pemain, bola voli 6 pemain, demikian seterusnya. Untuk meraih sukses dibutuhkan pemain-pemain terbaik, yang menguasai ilmu permainan, memiliki keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan. Untuk mendapatkan pemain terbaik, tidak jarang sebuah klub sepak bola rela membayar pemain milyaran rupiah.

Demikian pula kehidupan dunia, manusia adalah pemainnya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” [QS Muhammad (47): 36]. Manusia yang beriman dan bertakwa adalah pemain terbaik yang diperlukan dalam suatu permainan hidup di dunia.

Di samping itu kita dituntut untuk memiliki ilmu dan keakhlian agar meraih hidup sukses di bidang masing-masing. Allah SWT berfirman: “Katakan )Muhammad:( ‘Masing-masing dari kita bekerja menurut jalan (bidangnya) yang dipilih, Tuhanmu Maha Tahu siapa di antara kita yang menempuh jalan paling benar [QS Al Israa’ (17): 84]. Ada yang menjadi imam atau pemimpin, dan ada pula makmum atau rakyat. Baik imam atau pemimpin, maupun makmum atau rakyat, haruslah manusia yang berakhlak baik supaya kehidupan berlangsung tertib dan damai untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan.

Kedua. Lapangan permainan. Setiap permainan membutuhkan tempat atau lapangan. Ada lapangan yang luas seperti sepakbola, ada lapangan yang sedang seperti untuk permainan bola voli atau bola basket, bahkan ada yang kecil bisa dibawa-bawa seperti papan catur. Semakin bagus dan luas lapangannya, permainan semakin menarik bagi penonton yang lebih banyak. Jadi unsur lapangan sangat penting. Sebelum permainan dimulai hendaknya kondisi lapangan dicek lebih dulu, apakah sudah cukup memadahi untuk menyelenggarakan suatu permainan.

Demikian pula dengan permainan hidup di dunia ini. Setiap manusia dalam kehidupan baik pribadi maupun bermasyarakat, harus mencari lahan hidup yang baik dan nyaman. Misalnya pekerjaan yang menyenangkan dan gaji yang cukup, rumah yang nyaman, keluarga yang sakinah, tempat ibadah yang bagus dan bersih, tempat rekreasi yang sehat dan menyenangkan, dan sebagainya. Lahan hidup yang ideal adalah yang luas (silaturahim), bersih (halal), dan bermanfaat bagi ummat (berkah). Dengan demikian memberi peluang untuk bisa berbuat kebaikan dan kebajikan (fastabiqul khairat) [QS Al Maaidah (5): 48] dan berbagi kenikmatan kepada orang lain. Berbuat baik kepada orang lain sebagaimana Allah berbuat baik kepada kita (ahsin kamaa ahsanallah). [QS Al Qashash (28): 77]

Ketiga. Dalam suatu permainan seperti sepakbola, diperlukan seorang Wasit dan dibantu para penjaga garis untuk memimpin; mengatur dan mengendalikan permainan. Wasit memiliki kewenangan penuh di lapangan. Wasit yang meniup peluit dimulai dan diakhirinya permainan, wasit yang mengijinkan masuk dan keluarnya pemain. Permainan akan berlangsung dengan menyenangkan bila dipimpin seorang wasit yang akhli, memiliki integritas dan moral tinggi serta adil. Namun wasit juga tidak luput dari konflik kepentingan, sehingga bisa menimbulkan kericuhan seperti yang sering kita saksikan dalam pertandingan sepakbola.

Demikian pula dalam kehidupan ini, ada Wasit yang mengatur hidup kita. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan…… [Al Maaidah (5): 57]. Karena itu harus kita pilih pemimpin atau imam yang berwibawa, bijak dan adil supaya tidak dilecehkan oleh rakyat atau ummat. Namun harus kita sadari bahwa sehebat apapun seorang pemimpin atau imam, jika yang mengatur hidup ini adalah manusia, akan selalu muncul konflik kepentingan. Tetapi yang mengatur hidup kita ini adalah Zat Yang Maha Sempurna dan tidak memiliki kepentingan, yakni Allah SWT. Dia lah Maha Wasit, dengan para Nabi dan Rasul-Nya, yang mengendalikan dan mengatur jalannya permainan hidup manusia di muka bumi ini. Sehingga siapapun, yang taat melaksanakan perintah-Nya, yang memperhatikan teguran dan ancaman hukuman-Nya jika melanggar ketentuan-Nya, maka ia akan berhasil meraih sukses dalam hidupnya, yaitu sukses di dunia untuk bekal hidup di akhirat.

Keempat. Aturan permainan. Setiap permainan memiliki aturan permainan sendiri. Aturan dibuat oleh para akhli dan pecinta permainan. Permainan akan menjadi kacau jika aturannya tidak dipatuhi. Sehingga yang kuatlah yang menang, tidak peduli permainan itu akan berlangsung cantik dan menarik. Dalam permainan sepakbola misalnya, jika melakukan pelanggaran akan mendapat teguran kartu kuning sampai kartu merah dari wasit. Jika pemain terlalu cepat menembus garis pertahanan lawan berarti off side. Jika melakukan pelanggaran di daerah gawang sendiri, akan dikenakan tendangan penalti. Aturan ini maksudnya adalah supaya permainan dapat diarahkan dan dikendalikan menjadi cantik dan menarik.

Demikian kehidupan kita di dunia ini, ada aturan main yang dibuat Sang Wasit Yang Maha Adil. Siapa saja yang mengikuti aturan main, ia akan selamat dan sukses hidup di dunia hingga akhirat. Sebuah aturan yang sangat lengkap terpadu dan menyeluruh, seperti yang dipesankan Rasulullah SAW: “Aku tinggalkan dua hal untuk kamu sekalian; maka kamu tidak akan tersesat apabila berpegang kepada keduanya. Dua hal itu adalah Al Qur’an dan Sunnahku”. Bila dalam kedua aturan tersebut belum ditemukan hal-hal yang rinci, tersedia aturan teknis dalam kitab-kitab Fiqh, hasil karya para ulama Mujtahid.

Namun kebanyakan manusia mengabaikannya. Akibatnya, kehidupan mereka di dunia ini dalam kehancuran; saling menindas dan membunuh, melakukan kerusakan lingkungan di darat, laut dan udara, dan melakukan kemungkaran sosial yang meraja lela seperti yang terjadi di kalangan ummat Islam Indonesia yang suka membunuh saudaranya sendiri, membuang bayi di selokan atau meninggalkan sebagaian potongan tubuh manusia di bawah kursi bus, dan sebagain lagi di tempat lain. Semua kemungkaran harus kita tinggalkan supaya hidup menjadi tenteram, damai dan menyenangkan. Kejahatan dan kekejian semacam itu sangat merendahkan martabat agama dan ummat Islam. Semuanya berttitik tolak pada moral buruk yang harus segera diperbaiki.

Kelima. Waktu merupakan unsur penting dalam suatu permainan. Waktu tak pernah berhenti, tetapi setiap permainan akan selesai jika waktu yang ditentukan habis. Ada permainan yang berakhir tidak karena batasan waktu, tetapi karena skor atau jumlah angka yang dicapai. Tetapi skor dan jumlah angka sejatinya karena pertimbangan waktu juga. Pemain yang bisa mengelola waktu dengan baik, akan berhasil menguasai permainan. Kapan waktu untuk menyerang, kapan bertahan, mempercepat atau memperlambat, bahkan untuk istirahat menyimpan tenaga.

Begitu juga dalam permainan hidup, sebagai manusia yang beriman, kita harus menyadari bahwa kehidupan dunia ini ada batasan waktunya. Allah SWT berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ.

“Tiap-tiap ummat mempunyai batas waktu (ajal); maka apabila datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. [QS Al A’raaf (7): 34]. Karena itu selama permainan berlangsung, kita harus manfaatkan waktu yang ditetapkan dengan baik untuk melakukan kebaikan dan kemashlahatan baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat, agar ketika permainan berakhir, kita sedang melakukan kebaikan, di tengah orang-orang baik, dan di tempat-tempat baik. Dengan demikian kita bisa memulai kehidupan baru (alam barzakh) yang lebih baik. Allah SWT berfirman: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? [QS Al An’aam (6): 32]

Demikianlah lima unsur yang terkait dengan suatu permainan. Sebagai kesimpulan dari bahasan ini, dalam menjalani hidup di dunia kita manusia haruslah belajar tiada henti untuk menuntut ilmu dan keahlian agar kita tidak tersisih dari seleksi dan kompetisi permainan kehidupan. Untuk menjadi pemain unggulan tidaklah mudah, karena akan berhadapan dengan pemain lain. Meskipun kita tidak membahas tim mana yang akan menjadi juara, setiap tim dan pemain tentu ingin meraih kemenangan. Untuk itu kita tidak boleh menghalalkan segala cara, tidak boleh melanggar syariat, tidak berkhianat atau menipu orang lain, melainkan dengan fair and sportive untuk menjadi pemenang sejati. Sukses hidup di dunia Insya Allah akan mendapatkan manfaat dalam hidup di akhirat. Amien. [Hermanto]