Kamis, 25 April 2013

MENGHADAPI BERBAGAI UJIAN HIDUP


Allah Swt berfirman:

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ ﴿٤٥﴾ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿٤٦﴾
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah 2: 45-46).
Ada pepatah Arab yang menyatakan: Al-hayatu silsilatun minal imtihan -  Hidup ini merupakan untaian dari ujian demi ujian. Ada ujian yang ringan tetapi ada pula ujian yang berat. Ada ujian yang berupa kesulitan dan keadaan yang tidak diharap, tetapi ada pula ujian yang justru berupa kesuksesan dan kesenangan. Allah menyaksikan dan menilai kemudian memberi balasan terhadap sikap dan perbuatan setiap mereka ketika menghadapi berbagai ujian hidup itu. Pada saat-saat itu syeitan datang membujuk, merayu dan menipu orang-orang yang dijumpainya, untuk membawanya ke jalan yang bengkok, yaitu yang berujung pada neraka Jahanam.
Orang yang dalam hatinya ada iman kepada Allah, berjuang menghadapi godaan syeitan, bekerja keras untuk tetap berada di jalan yang benar. Tetapi perjuangan itu sungguh tidak mudah. Syeitan datang dengan wajah ramah, dan mengaku sebagai sahabat yang akan selalu memberi nasehat yang baik dan berguna. (QS Al-A'raaf 7: 21). Syeitan menjadikan orang memandang baik perbuatan mereka yang buruk. Lalu ketika usaha itu berhasil, dia menjadi pemimpin bagi orang-orang yang berhasil ditipunya. (QS An-Nahl 16: 63). Orang-orang yang jiwanya telah dikuasai syeitan, mereka menjadi golongan syaitan (QS Al-Mujaadilah 58: 19], yang mengajak orang-orang lain berlaku seperti dirinya.  
Kepada orang-orang yang sedang melakukan perjuangan berat itu Al-Qur’an berseru sebagaimana yang direkam pada ayat yang menjadi pokok bahasan kita hari ini yaitu: "Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.. Awal ayat 45 surah Al-Baqarah mengundang orang-orang yang sedang menghadapi persoalan, supaya memohon pertolongan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Sudah tentu orang yang beriman memohon bantuan hanya kepada Allah, sesuai dengan ikrarnya: "Hanya kepada Engkau kami mengabdi dan hanya kepada Engkau saja kami mohon pertolongan." (QS Al-Faatihah 1: 5). Dalam hal apa orang memohon pertolongan? Tentunya karena sedang bergulat dengan bujuk rayu syeitan, maka orang memohon agar dikuatkan hatinya dan dikukuhkan imannya sehingga mampu menangkal segala tipu daya syaitan tersebut. Ayat yang sedang kita bicarakan ini menerangkan bahwa kukuhnya jiwa dalam menghadapi godaan syeitan diperoleh dengan sabar dan shalat.
Yang dimaksud dengan sabar menurut Al-Ghazali (1058-1111 M), adalah kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuh atas dorongan agama. Kita telah membicarakan dalam tulisan sebelum ini, bahwa nafsu merupakan salah satu kondisi batin manusia, yang menjadikannya menikmati apa yang dia lakukan beserta hasilnya. Tetapi nafsu harus dikendalikan, karena dia cenderung berlebih-lebihan. Kalau tidak dibatasi secara proporsional, nafsu cenderung merusak; hal yang demikian itu tidak disukai Allah. (QS Yusuf 11: 53 dan QS Al-A'raaf 7: 31). Sabar berkaitan sangat erat dengan iman dalam arti: semakin kuat iman seseorang dia menjadi semakin sabar.
Sehubungan dengan kemampuan mengendalikan nafsu ini, ulama membagi manusia ke dalam tiga golongan. Kelompok pertama: orang yang mampu mengalahkan nafsunya karena memiliki tingkat kesabaran yang tinggi. Kelompok kedua: orang yang tunduk menyerah kepada nafsu dan mengikuti segala keinginannya. Kelompok ketiga: orang yang selalu berada dalam kondisi melawan nafsu; kadang-kadang dia berhasil kadang-kadang gagal. Kebanyakan orang berada dalam golongan ini.
Mengenai shalat, semua kita tahu bahwa itu merupakan salah satu tata cara ibadah mahdhah - pengabdian diri secara ritual kepada Allah Swt. Ada shalat yang wajib dan ada yang sunnat. Shalat merupakan ibadah yang utama. Rasulullah Saw menyatakan bahwa amal yang paling dahulu dinilai Allah pada hari Kiamat adalah shalat. Barang siapa yang baik shalatnya, akan nampak baik semua amalnya tetapi barangsiapa yang buruk shalatnya, kelihatan buruk pula semua amalnya. Sebagaimana semua perintah Allah yang lain, kewajiban shalat bukan beban tetapi merupakan karunia Allah kepada manusia, yaitu tata upacara menghadap dan mendekatkan diri yang paling intensif dengan Allah Swt. Gerakan maupun ucapan shalat merupakan pernyataan tunduk dan patuh yang sedalam-dalamnya kepada Pencipta, Pemelihara dan Pembina semesta alam termasuk manusia, termasuk yang menunaikan shalat itu. Dengan shalat yang diresapi sepenuhnya orang menghayati eksistensi Allah, keagungan Allah, kebaikan Allah yang tak berbatas. Rasa kedekatan mushalli (orang yang shalat) dengan Allah, mewujudkan suasana tenteram dan nyaman serta mengusir rasa resah dan gelisah yang acap kali bertengger di hati (QS Al-Ma'arij 70: 19-22) Situasi tenteram serta nyaman itu menguatkan kemampuan dia untuk mengendalikan nafsunya.
Ayat 45 surah Al-Baqarah menggalakkan orang-orang yang memohon pertolongan Allah agar menyertai do'a tersebut dengan usaha keras untuk memadukan sabar dan shalat. Apabila orang berhasil dalam usahanya mengharmonikan sabar dan shalat, Allah pasti berkenan mengaruniakan pertolongan kepadanya sehingga dia istiqamah – teguh hati dalam berbuat benar di sepanjang hidupnya. Tetapi, ayat tersebut dengan jelas menyatakan bahwa hal itu berat. Tidak mudah orang melaksanakan semua itu karena - lagi-lagi - dia akan terus menerus berhadapan dengan nafsunya sendiri yang rentan terhadap bujukan syaitan. Kecuali orang-orang yang khusyu'.
Para ulama menerangkan bahwa khusyu' adalah kondisi mental yang mampu memusatkan pikiran dan perhatian kepada Allah Swt tatkala menunaikan shalat. Pada waktu shalat itu dia tidak ingat apapun dan tidak memikirkan apapun kecuali Allah. Ada ceritera beredar di kalangan kaum muslimin bahwa kaki Muslim bin Yasar pada suatu ketika tertimpa runtuhan bangunan, sehingga kaki itu harus diamputasi. Karena pada masa itu belum ada obat bius, maka pemotongan kakinya dilaksanakan ketika dia sedang shalat, sehingga tidak merasakan sakitnya. Ada cerita pula mengenai Ali bin Abi Thalib yang salah satu bagian tubuhnya terkena anak panah. Benda tajam tersebut tentu saja harus dicabut, maka pencabutan juga dilakukan pada saat beliau sedang shalat.
Kedua cerita itu cukup terkenal, tetapi penulis meragukan kebenarannya. Mestinya orang yang paling khusyu' ketika shalat adalah Nabi Muhammad Saw. Tetapi hadits menuturkan bahwa tatkala sedang shalat beliau masih dapat melihat cucunya yang hendak jatuh. Maka beliau sejenak meninggalkan shalatnya untuk mengamankan dahulu anak kecil tersebut, kemudian meneruskan shalat tanpa mengulang dari awal. Beliau juga mengajarkan, tatkala seseorang sedang mengerjakan shalat di rumahnya, lalu ada tamu yang datang, dia memberi tanda dengan agak mengeraskan ucapan shalatnya sehingga tamu tersebut mengerti; maka tamu itupun menunggu atau pergi.
Khusyu' memang merupakan keharusan dalam mengerjakan shalat; orang mesti memusatkan pikiran dan perhatiannya kepada Allah, tetapi masih tetap memahami lingkungannya. Ensiklopedi Islam (PT Ichtiar Baru van Hoeve 1994) menerangkan, usaha seseorang untuk menumbuhkan khusyu' itu ditempuh dengan melakukan beberapa hal yaitu: (1) menyadari bahwa ketika shalat dia sedang berhadapan langsung dengan Allah yang Mahakuasa dan Mahatahu apa yang tersimpan dalam hatinya. (2) memerhatikan arti dari segala yang dibacanya. (3) menghayati arti tersebut di dalam hati. (4) tidak tergesa-gesa di dalam mengerjakan shalat (5) menjauhkan diri dari segala sesuatu yang membimbangkan hati.
Ayat 46 surah Al-Baqarah menjelaskan bahwa pemusatan batin sepenuhnya kepada Allah itu dimungkinkan bila orang yakin akan menghadap Allah pada hari Kiamat. Dengan sepenuh hati dia mengimani keterangan Al-Qur’an bahwa setiap orang akan kembali kepada-Nya. Mati bukan akhir dari riwayat hidup seseorang tetapi hanya akhir dari babak pertama kehidupannya. Pada saat yang ditetapkan Allah setiap orang yang pernah berada di alam dunia kemudian mati, akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggung-jawabkan sikap dan perbuatannya selama di dunia ini.
Setelah proses pemeriksaan agung yang dilakukan oleh Allah pribadi selesai, orang akan mendapat vonis yang menentukan nasibnya dalam masa yang amat sangat panjang. Salah satu dari dua tempat akan dihuninya yaitu surga dan neraka. Al-Qur’an berulang kali menerangkan keadaan surga yang serba indah, menyediakan segala kebutuhan dan keinginan, tenang serta menenteramkan. Hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari mengemukakan firman Allah: "Telah Aku sediakan bagi hamba-Ku yang saleh, surga yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati seorangpun." Sebaliknya neraka adalah tempat yang amat menyengsarakan. Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan Tirmidzi mengemukakan keterangan Rasulullah Saw, bahwa seringan-ringan siksaan penghuni neraka adalah: dipakaikan kepadanya alas kaki dan pengikatnya dari api neraka. Karena panas yang ke luar dari alas kaki tersebut mendidihkan otaknya seperti mendidihnya air di dalam kuali."
Keyakinan akan realitas di alam akhirat tersebut menimbulkan dua sikap bersamaan dalam hati manusia yaitu khauf dan raja' - ketakutan dan harapan. Dia takut kepada adzab Allah dan sangat mengharapkan anugerah Allah. Keduanya menyebabkan orang khusyu' memusatkan perhatian dan ingatan kepada Allah ketika shalat maupun sesudah shalat. Hati yang khusyu' menjadikan dia merasa ringan dalam mengerjakan shalat, bahkan menikmatinya dengan kenikmatan yang luar biasa. Rasa nikmat di dalam kehidupan dunia menjauhkan dia dari keinginan berbuat buruk dan mendorong dia melakukan banyak kebaikan. Pada akhirnya, harapannya akan ridha Allah dan surga, serta dijauhkan dari neraka, terwujud dengan nyata. Semoga kita termasuk ke dalam kelompok hamba-hamba Allah yang demikian. Amin ya Rabbal 'alamin.
Sakib Machmud
No. 183 

Senin, 15 April 2013

WASPADA SYIRIK TERHADAP GURU SPIRITUAL


Menyikapi fenomena masysrakat yang sedang marak saat ini dalam kaitannya dengan keimanan kepada Tuhan sangat beragam mulai dari kegiatan dalam lingkup pribadi atau keluarga sampai dengan pergaulan yang lebih luas dalam masyarakat, profesi, bisnis dan perdagangan. Salah satu fenomena yang menjadi tren saat ini dan sedang ramai dibicaarakan di media antara lain apa yang disebut ‘guru spiritual’, yaitu sebutan bagi tokoh yang oleh seseorang dianggap menjadi panutan, tempat bertanya atau curhat, dan sekaligus merupakan figur yang dipercaya memberi kekuatan maupun bimbingan dalam menghadapi masalah-masalah dunia yang sangat komplek.
Para artis terkenal, selebrita, bahkan pemimpin dunia banyak yang menyandarkan dirinya pada peran guru spiritual sebagai tempat bertumpu, bahkan meyakini sebagai sumber kekuatan atas kesuksesannya. Tercatat dalam rekaman berita, penyanyi Madonna mempunyai guru spiritual seorang rabbi yang mengilhami karya dan penampilannya yang sukses, dan tidak segan-segan  mengucurkan sebagian (besar) penghasilannya yang jutaan dollar kepada gurunya. Demikian juga bintang film Holywood Richard Gere, memilih Dalai Lama XIV seorang pemimpin Budha dari Tibet sebagai guru spiritualnya, sedangkan Tom Cruise dengan gurunya seorang pendiri faham Scientologi yaitu suatu faham kepercayaan baru di Amerika Serikat, bahkan pemain sepak bola terkenal Roberto Baggio yang memilih guru spiritualnya bhiksu Budha aliran Soka Gakkai dari Jepang. Akhir-akhir ini kita kenal Nicolas Maduro sang wakil presiden Venezuela yang sat ini menjabat sebagai presiden setelah wafatnya presiden Hugo Chavez, memiliki guru spiritual seorang pendeta Hindu dari India Sai Baba.
Di Indonesia kita kenal Eyang Subur, sosok kontroversial yang sedang menjadi topik pembicaraan terkait kedekatannya di kalangan artis-artis dan selebrita. Sebagian dari mereka menjadikannya sebagai guru spiritual, namun sebagian dari mereka akhir-akhir ini mulai meragukan ajarannya dan menganggap sebagai aliran sesat. Masih banyak lagi di tanah air kita ini mereka yang dianggap guru spiritual dengan maksud kurang lebih sama dengan contoh-contoh di atas.
Dakwah dan  Guru Spiritual
Adanya seorang ‘guru spiritual’ di kalanan para tokoh-tokoh terkenal dari berbagai profesi dan lapangan pekerjaan, menunjukkan bahwa setiap orang sebagai manusia di manapun, pada tingkat sosial apapun dengan beragam kondisi kesejahteraannya, memerlukan pegangan  hidup untuk ketenangan jiwanya. Dengan kata lain, manusia sebagai makhluk Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, secara sadar atau tidak mereka membutuhkan bimbingan dan petunjuk dari Allah Swt. 
Di dalam setiap diri manusia adalah suara nurani, dan apabila setiap orang menyadari betapa lemah dirinya di hadapan Allah, dan betapa kuasa dan perkasa Dia Yang Maha Agung itu, suara yang mereka dengarkan ltu adalah suara fithrah manusia. Setiap orang memiliki fithrah itu, dan terbawa serta olehnya sejak kelahiran. Walau seringkali karena kesibukan dan dosa-dosanya ia terabaikan, suaranya menjadi lemah hingga tidak terdengar lagi. Tetapi bila diusahakan untuk didengarkan, kemudian benar-benar tertanam dalam jiwa, akan hilanglah segala ketergantungan kepada unsur-unsur lain kecuali kepada Allah. Tiada tempat begantung, tiada tempat menitipkan harapan, dan tiada tempat mengabdi kecuali kepada-Nya. Laa haula wa laaquwwata illaa billaahil ‘Alyyil Azhiim - Tiada daya untuk memperoleh manfaat, tiada pula kuasa untuk menolak mudharat kecuali bersumber dari Allah  Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan dengan demikian tidak ada lagi rasa takut yang menghantui atau mencengkeram, tiada pula rasa  sedih yang mencekam.
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata (berprinsip) bahwa Tuhan Pemelihara kami adalah Allah, serta istiqamah dengan prinsip itu, akan turun kepada mereka malaikat (untuk menenangkan mereka sambil berkata): “Jangan takut, jangan bersedih, berbahagialah kalian dengan surga yang dijanjikan.” (QS Fushshilat 41: 30).
“Orang-orang yang beriman dan jiwa mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Memang hanya dengan mengingat Allah lah jiwa menjadi tenteram.” (QS Al-Ra’d 113: 28).
Inilah sebenarnya yang ‘dicari’ oleh para tokoh dan selebriti, bahkan setiap insan hamba Allah, sebagai pegangan hidup dan untuk menangkan jiwa. Maka dengan dakwah manusia diingatkan untuk selalu mendengar suara nurani ini.
Syirik dan  Aliran Sesat
Firman Allah dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik itu.....” (QS An-Nisaa’ 4: 48).
Inti dari ajaran Islam adalah Tauhid, tidak ada Tuhan selain Allah. Sebagian besar surat-surat Al-Qur’an isinya melarang manusia menduakan-Nya. Dari kisah-kisah para Nabi yang terdahulu, seperti Nabi Musa, Ibrahim, Isa dan lainnya, menekankan agar manusia jangan melakukan perbuatan syirik. Allah sangat murka kepada hamba-Nya yang memprersekutukan Dia, sebagaimana firman Allah tersebut di atas. Karenanya itu tidak ada ampunan bagi orang yang mempersekutukan Dia.
Ayat-ayat Al-Qur’an yang  menerangkan besarnya murka Allah pada orang yang melakukan syirik:
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam’ padahal Al-Masih (sendiri) berkata: ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’. Sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka  tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS Al-Maidah 5: 72). 
Ayat di atas menerangkan bahwa orang yang berpendirian (haqqul yakin) bahwa Allah itu Al-Masih putera Maryam, atau keyakinan yang menyimpang dari makna ‘la ilaaha ilallah’ dan kemudian mati dalam keadaan keyakinan seperti itu, maka Allah mengharamkan surga bagi mereka.
Ayat yang lain dalam Al-Qur’an: “Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada  Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. Dan Ismail, Ilyasa’ Yunus dan Luth, masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas ummat (di masanya). Dan Kami lebihkan (pula) derajat  sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi Nabi-nabi dan rasul-rasul), dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmat dan kenabian.” (QS Al-An’aam 6: 84-88)    
Yang Termasuk Dalam Katagori Syirik
Termasuk dalam katagori syirik adalah setiap perbuatan yang dapat merusak keimanan. Hal ini seperti misalnya, percaya kepada keris pusaka, jimat, isim dan benda lain serupa itu, yang kemudian benda-benda itu dijadikan andalan sebagai pelindung keselamatan, pemberi rezeki dan sebagainya.  Meskipun harus diakui bahwa ‘benda-benda’ itu mempunyai kekuatan gaib (kadang-kadang dapat dibuktikan khasiatnya), namun janganlah kita sampai tergoda untuk menjadikannya sebagai pelindung atau andalan hidup.
“Perumpaman orang-orang yang mengambil pelindung-peindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang mebuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah itu ialah rumah lba-laba kalau mereka mengetahui”. (QS Al-Ankabuut 29: 41).
Meskipun sudah sangat jelas dikatakan dalam ayat tersebut, namun masih banyak orang-orang yang meminta perlindungan kepada jin, makam keramat atau sejenisnya. Meskipun diantara mereka ada yang kelihatannya sukses, namun tetap diingatkan agar janganlah mengikutinya, karena dosa syirik itu tidak terampuni.
Jenis-Jenis Syirik
Syirik secara umum dapat dikatakan sebagai kecondongan untuk bersandar pada sesuatu ataupun seseorang selain Allah. Hal ini hanya terjadi pada orang-orang yang tidak mampu mengendalikan nafsu jahatnya, karena memang sesungguhnya nafsu jahat itu lebih suka menyembah produk imajinasinya sendiri. Ada 4 (empat) jenis syirik:
1.  Syirk ul-Ilm
Inilah syirik yang umumnya terjadi di kalangan ilmuwan. Mereka mengagungkan ilmu sebagai maha segalanya, dan mereka tidak mempercayai pengetahuan yang diwahyukan Allah. Sebagai contoh, mereka mengatakan bahwa manusia berasal dari kera, mereka iuga percaya bahwa ilmu pengetahuan kelak akan dapat menemukan formula agar manusia tidak perlu mengalami mati dan lain sebagainya.
2.  Syirikut-Tasarruf
Syirik jenis ini pada prinsipnya, disadari atau tidak oleh pelakunya, menentang bahwa Allah Maha Kuasa dan segala kendali atas penghidupan manusia  berada di tangan-Nya. Mereka percaya adanya perantara bagi Allah, dan percaya pula bahwa sang perantara itu mempunyai ‘kekuasaan dan kekuatan’. Contohnya dalam hal ini adalah; kepercayaan bahwa Nabi Isa As. itu anak Tuhan, percaya pada dukun, tukang-tukang sihir atau ahli nujum, ‘orang pintar’, percaya pada ‘jimat’, patung, dan lain yang sejenis. 
3.  Syirkul-Ibadah
Yaitu syirik yang menuhankan pikiran, ide-ide atau fantasi. Mereka hanya percaya pada fakta-fakta konkret yang berasal dari pengalaman lahiriah.  Seorang yang tidak bertuhan (atheist), termasuk dalam jenis ini dan biasanya memuja pengingkaran  terhadap Tuhan.
4.  Syirk ul ‘Adah
Ini adalah kepercayaan terhadap takhayul. Sebagai contoh, percaya bahwa 13 adalah angka sial, sehingga tidak mau dan menghindari menggunakan angka tersebut; menghubungkan kucing hitam dengan kejahatan; jangan bepergian pada hari Saptu; jangan melakukan upacara perkawinan pada hari-hari tertentu; menempelkan gambar atau simbul pada kendaraan supaya selamat; dan sebgainya.
Syirik, Dosa Yang Tidak Terampuni
Dosa akibat perbuatan syirik tidak akan pernah diampuni oleh Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Oleh karena Itu, satu-satunya jalan bagi orang-orang yang pernah melakukan perbuatan syirik, upaya untuk membersihkan diri adalah disamping bertobat kepada Allah, juga harus ‘dengan sekuat tenaga’ memperbanyak perbuatan amal shaleh. Karena dengan begitu Insya Allah, dosa besar akibat syirik yang pernah dilakukannya dapat diimbangi dengan pahala yang dianugerahkan-Nya.
Firman Allah: “Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barang siapa membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dirugikan”. (QS Al-An’aam 6: 160).
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al-Anfaal 8: 29).
Janganlah kita sekali-kall menggunakan ‘isim’, ‘susuk’ ataupun ‘jimat’ dalam bentuk apapun, dan untuk tujuan apapun. Cukuplah Allah sebagai Pelindung, karena Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong (QS Al-Anfaal 8: 40). Perlu pula diingat firman Allah berikut ini:
“Katakanlah: “Apakah patut kamu mencari pelindung kepada selain Allah, pencipta langit dan bumi?” (QS Al-An’am 6: 14).
Jangan pula kita meminta pertolongan atau berkolusi dengan bangsa jin. Memang jin dapat diajak bekerjasama atau ditundukkan, namun perlu diingat, tokoh panutan kita Rasulullah Saw tidak pernah mau bekerjasama dengan makhuk ini. Al-Qur’an pun menegaskan bahwa hal tersebut lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya.
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin,maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS Al-Jin 72: 6).
Menjaga Diri Dari Perbuatan Syirik
Seorang yang beriman wajib menjaga dirinya dari perbuatan syirik yang melemahkan imannya.
Bila seseorang mengalami musibah, banyak di antara mereka meminta pertolongan kepada ‘dukun’ (istilah yang penulis gunakan untuk mereka yang dianggap sebagai ‘orang pintar’). Meskipun banyak dukun yang berstatus juga sebagai ‘kiai’, ‘ajeungan’  atau ‘ulama’, namun dalam melakukan prakteknya di antara mereka ada yang melakukan perbuatan menjurus kepada syirik. Dari tinjauan dan pengalaman, dukun itu terdiri dari dua kategori.
Kategori pertama, dukun yang menggunakan perantara seperti, keris atau pun makhluk halus dari bangsa jin. Ciri dukun semacam ini adalah antara lain; suasananya seram, penampilannya gagah, ucapannya sombong, suka pamer atau memberitahukan kebiasaan dan kesuksesannya. Nasihat yang diberikan sedikit sekali yang berasal dari Al-Qur’an atau Hadits.
Kategori kedua, dukun yang tidak menggunakan perantara seperti disebutkan di atas, tapi langsung berkomunikasi dengan Allah. Ciri dukun semacam ini adalah; suasananya sejuk, sehingga kita merasa betah bersamanya, ucapannya tidak sombog, dan selalu memberikan nasihat yang diambil dari ayat-ayat  Al-Qur’an dan Hadis.
Baik dukun yang tergolong katagori pertama maupun kedua, selalu mengatakan bahwa mereka tidak mampu melakukan apa-apa, semua semata-mata tergantung kehendak Allah.
Orang yang meminta pertolongan kepada dukun katagori pertama, biasanya tidak perlu melakukan usaha-usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, dia cukup melaksanakan syarat-syarat yang ditentukan oleh dukun itu, di mana syarat-syarat tersebut sama sekali tidak akan meningkatkan ketakwaan orang itu kepada Allah. Sedangkan orang yang meminta bantuan pada dukun katagori kedua, harus aktif melakukan usaha sendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedang peran sang dukun hanya sebagai pembimbing saja. Jadi sukses atau tidaknya maksud orang itu tergantung pada upayanya sendiri dalam mematuhi perintah Allah Swt.
Bila ingin meminta bantuan seorang dukun, maka sabaiknya carilah seorang dukun yang semata-mata hanya menggunakan kekuatan doa langsung kepada Allah, dan bersedia membimbing agar dapat berhubungan sendiri dengan Allah, jadi fungsi dukun di sini adalah memberikan bantuan nasehat mendekatkan kepada Allah, intinya adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.
Kesimpulan
Sebagai penutup disampaikan hal-hal sebagai berikut: Fenomena ‘guru spiritual’ menunjukkan bahwa setiap manusia, memerlukan pegangan  hidup untuk ketenangan jiwanya. Inti dari ajaran Islam adalah Tauhid, tidak ada Tuhan selain Allah. Allah sangat murka kepada hamba-Nya yang memprersekutukan Dia, Karenanya itu tidak ada ampunan bagi orang yang mempersekutukan Dia. Seorang yang beriman wajib menjaga dirinya dari perbuatan syirik yang melemahkan imannya. Bila ingin mencari guru sebagai panutan dan pembimbing rohani, upayakan untuk tidak menjurus ke arah mengkultuskan seseorang dan menghindarkan dari perbuatan syirik.
Mohammad Kamal
No. 182

Jumat, 05 April 2013

KEKAYAAN, POPULARITAS DAN LOYALITAS


Pada suatu hari, sahabat Rasulullah Saw dan pembela Islam yang konsekuen Abu Dzar Al-Ghifari, meminta kepada beliau agar diangkat menjadi pejabat. Tetapi Rasulullah menolaknya. Sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu, Nabi Saw berkata kepadanya: ''Tidak, Abu Dzar, engkau orang lemah. Ketahuilah, jabatan itu amanah. Ia kelak di hari kiamat merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkannya dengan benar dan melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan benar pula.'' (HR Al-Bukhari).
Imam Nawawi menyebut hadits di atas merupakan pedoman dasar dalam berpolitik untuk mencapai kekuasaan. Politik dapat menjadi sumber petaka bagi orang yang tidak mampu dan tidak bertanggungjawab. Sebaliknya, politik dapat pula menjadi ladang pengabdian dan amal shaleh yang subur bagi orang yang mampu dan bertanggungjawab.
Kekuasaan bukan sesuatu yang buruk. Ia ibarat pisau bermata dua; bisa baik dan buruk. Ia menjadi baik dengan tiga syarat, seperti disebut dalam hadits di atas, yaitu berada di tangan orang yang tepat, diperoleh dengan cara yang benar, dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kejahteraan rakyat. Sayangnya, dalam percaturan politik, orang sering hanya memikirkan bagaimana merebut kekuasaan, bukan bagaimana mengunakan kekuasaan dan mempertanggungjawabkannya kepada rakyat, dan Allah Swt.
Diakui bahwa kekuasaan memang menggiurkan. Menurut Imam Al-Ghazali kekuasaan adalah sesuatu yang sangat digandrungi oleh manusia. Setiap orang boleh mendapatkan kekuasaan, karena bukan sesuatu yang dilarang oleh agama, asalkan dengan cara yang baik dan digunakan untuk kebaikan pula. Nafsu kekuasaan itu lebih besar daripada nafsu harta, hal itu disebabkan karena tiga faktor.
Pertama. Kekuasaan bisa mendatangkan apa saja yang diinginkan termasuk harta kekayaan. Karena itu ada orang yang kekayaannya trilyunan rupiah juga masih ingin menjadi presiden. Dengan kekuasaan, ia membayangkan dapat mencapai semua impian dan yang diinginkannya, baik berupa pengabdian bagi rakyat maupun untuk kepentingan sendiri. Diakui bahwa untuk mencapai kekuasaan, diperlukan harta kekayaan, tetapi tidak setiap orang yang menggunakan banyak harta kekayaan, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan.
Kedua. Kekuasaan bisa menimbulkan popularitas. Begitu seseorang berhasil menjadi penguasa, maka seketika itu akan menjadi masyhur. Diakui bahwa untuk mencapai kekuasaan diperlukan popularitas, tetapi tidak setiap orang yang populer  bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan.
Ketiga. Kekuasaan bisa mendatangkan loyalitas. Pada sebagian orang, pengaruh kekuasaan bisa menimbulkan loyalitas yang sangat tinggi, bahkan loyalitas sampai mati. Ada kader partai politik (parpol) yang bersedia mewakafkan nyawanya demi loyalitas kepada pemimpinnya meskipun pemimpin itu kemudian dinyatakan sebagai tersangka korupsi oleh komisi pemilihan umum (KPK). Loyalitas seperti ini menunjukkan bahwa pengaruh kekuasaan lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan pengaruh harta kekayaan dan popularitas.
Demikian telah kita pahami pengaruh kekuasaan yang bisa menghasilkan apa saja yang diinginkan termasuk harta kekayaan, menimbulkan popularitas dan menumbuhkan loyalitas. Dan telah kita pahami pula bahwa untuk mencapai kekuasaan, diperlukan kekayaan dan popularitas, meskipun tidak setiap orang yang memanfaatkan harta kekayaan dan popularitas, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan.
Selanjutnya kita akan membahas seberapa jauh ­popularitas itu penting bagi seseorang untuk mendapatkan harta kekayaan. Di samping itu kita juga akan membahas seberapa jauh peran loyalitas itu penting bagi seseorang untuk mendapatkan kekuasaan.
Popularitas Untuk Mendapatkan Harta Kekayaan
Menjelang pemilihan umum (pemilu) legislatif tahun 2014, beberapa selebrita mendaftarkan diri ke parpol untuk menjadi peserta pemilu legislatif, dengan memanfaatkan popularitas mereka untuk meraih kekuasaan sebagai legislator di DPR atau DPRD, meskipun kemampuan mereka di bidang legislasi, penganggaran dan pengawasan belum jelas. Mereka lebih mengedepankan popularitas daripada kualitas.
Pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) yang baru lalu, sedang dan akan berlangsung di beberapa daerah, diwarnai dengan partisipasi beberapa peserta dari kalangan legislator. Mereka berpikir bahwa popularitas mereka sebagai legislator di tingkat nasional akan memudahkan untuk memperoleh kekuasaan di daerah. Meskipun undang-undang tidak melarangnya, seharusnya mereka menyelesaikan masa pengabdiannya selama lima tahun sebagai wakil rakyat. Tidak etis jika seorang legislator melepas tanggungjawab itu untuk kemudian mengambil tanggungjawab lain dengan mencari kekuasaan di daerah. Di samping itu ada pula selebrita yang langsung terjun ke arena pemilukada. Bahkan ada penyanyi dangdut yang akan ikut serta dalam pemilihan presiden tahun 2014 mendatang. Fantastik.
Di sisi lain, kita bisa menyaksikan bahwa berita-berita di media yang memuat kebenaran dan kebaikan tidak lebih laku daripada berita-berita lainnya yang lebih bisa mendatangkan popularitas tinggi. Sudah terbukti bahwa pemberitaan dengan tema-tema asmara, perceraian, perselingkuhan, cinta segitiga, dan kesenangan semu pengguna narkoba di kalangan selebrita, sangat populer dan banyak diminati oleh kebanyakan orang. Itulah sebabya infotainment dapat tumbuh subur di negeri ini, mengalahkan berita-berita lain yang lebih bekualitas dan bermanfaat untuk disajikan kepada masyarakat. Meskipun tayangan dan tulisan di media bernuansa ghibah itu telah difatwa haram oleh para ulama, fatwa itu tidak mengurangi jumlah pemirsa dan pembaca infotainment.
Kalangan media menyadari, semakin krusial suatu obyek berita diangkat, semakin banyak diminati pembaca atau pemirsa. Semakin menyebalkan media mencitrakan orang-orang yang baik, semakin banyak orang yang benci kepada mereka tanpa perlu tahu di mana letak kesalahan dan kebenaran yang sebenarnya terjadi. Tidak peduli baik atau buruk, yang penting popularitas naik.
Untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing dalam pemberitaan, dibutuhkan pemasukan dana. Iklan adalah sumber pemasukan terbesar dalam bisnis mereka. Itu wajar. Namun sumber dana yang seharusnya hanya merupakan sarana untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing, jika kemudian berubah menjadi sarana utama mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari pemasangan iklan, itu adalah penyimpangan fungsi media yang seharusnya memberikan pelayanan informasi kebenaran terbaru yang disuguhkan kepada masyarakat.
Masih tentang popularitas, setidaknya ada 20 stasiun televisi di Indonesia setiap hari menyiarkan dakwah agama Islam. Namun, seberapa jauh Islam membentuk keshalehan sosial berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Hadits, stasiun televisi nampaknya tidak peduli, karena penayangan dakwah dilakukan demi popularitas dan bahkan ada pula yang memanfaatkan da’i / daiah sebagai bintang iklan.
Begitu pula acara pertandingan sepakbola Eropa dan Amerika Latin yang sangat digemari sebagian besar masyarakat dunia termasuk Indonesia, diberitakan secara luas oleh media dalam waktu panjang di media elektronik. Hasil-hasil pertandingan, cedera pemain, transfer pemain antar klub dan sebagainya diberitakan di newsticker setiap waktu bahkan ada yang sampai 24 jam. Mereka berpikir bahwa obyek berita yang ditampilkan haruslah obyek yang bisa meningkatkan popularitas untuk mendapatkan uang.
Berbeda dengan di Jepang, meskipun sepakbola menduduki peringkat kedua di antara penggemar olahraga - sesudah baseball, hasil-hasil pertandingan baik baseball maupun sepakbola hanya ditampilkan di newsticker pada acara berita olahraga. Media Jepang menyadari kewajibannya untuk menyajikan berita kepada masyarakat secara adil dan berimbang. Orang Jepang berpikir bahwa kualitas penyajian berita yang berkualitas dengan sendirinya akan mendukung kenaikan popularitas.
Peran Loyalitas Dalam Mendukung Calon Pemimpin
Seperti kita ketahui, parpol didirikan adalah untuk melakukan propaganda dan ‘penyerangan’ dalam suatu ‘peperangan politik’ guna mencapai kemenangan yang diinginkannya. Popularitas seorang calon presiden, gubernur, bupati atau walikota (selanjutnya disebut calon) dipandang penting. Calon yang tingkat popularitasnya tinggi diprediksikan akan mencapai kemenangan di dalam perang politik. Popularitas memang memiliki nilai keuntungan yang tinggi, karena orang tidak akan memberikan hak pilihnya untuk memilih orang kurang atau sama sekali tidak ia kenal.
Keuntungan dari popularitas seorang calon, memberikan kemudahan bagi parpol untuk memperoleh simpati publik. Apabila calon adalah seorang yang sudah dikenal mempunyai kualitas diri yang baik maka parpol tidak akan kesulitan mendapatkan partisipasi masyarakat secara luas. Popularitas seorang calon ibarat gerbang pertama dalam mencapai sebuah kesuksesan. Semakin populer calon tersebut maka semakin banyak kesempatan untuk menang dan menjadi pemimpin, Tingkat popularitas inilah yang umumnya dimanfaatkan oleh parpol untuk menentukan figur yang akan diusung dalam pemilu.
Tetapi sebenarnya popularitas hanyalah masalah pencitraan bagaimana seorang tokoh di mata publik. Perlu diingat bahwa popularitas seorang calon dapat mudah dijatuhkan dengan hal yang sifatnya sepele, misalnya loyalitas kader dan anggota parpol atau kelompok masyarakat yang  mengusungnya.
Membandingkan antara popularitas dengan loyalitas memang bukan proporsi yang tepat. Tetapi mengingat loyalitas didasari oleh tanggungjawab dan kecintaan seseorang dalam parpol maupun masyarakat secara luas, maka membandingkan kedua aspek tersebut menjadi relevan dalam peperangan politik. Aspek loyalitas kader dan anggota parpol akan memberikan pengaruh besar terhadap popularitas parpol tersebut, apakah akan mengalami peningkatan atau penurunan.
Apabila setiap kader parpol mempunyai loyalitas tinggi maka perpecahan tidak akan terjadi. Melalui loyalitas inilah kinerja dan strategi parpol dalam menyukseskan calon pemimpin yang diusung dapat dijalankan dengan baik atau tidak. Secara keorganisasian, loyalitas kader dan anggota terhadap parpol lebih mempunyai kekuatan daripada sekedar popularitas calon yang diusung.
Peperangan politik dapat dilihat sebagai sebuah kompetisi untuk mencari siapa yang terbaik di antara berbagai parpol yang diusung untuk menjadi calon. Di dalam kompetisi politik ini, ada aspek yang dinamakan ‘ketahanan dan stabilitas’ parpol dalam menghadapi perang politik, yaitu loyalitas kader dan anggota parpol.
Apabila kader dan anggota parpol mempunyai loyalitas yang tinggi tidak akan ada teknik pecah-belah yang berhasil dilakukan oleh lawan politik (parpol lain). Berbagai perpecahan di dalam parpol disebabkan karena kepentingan yang sifatnya mengarah pada pengkhianatan terhadap asas pendirian parpol. Kesatuan dan persatuan setiap komponen yang menentukan keutuhan parpol, pada akhirnya akan membawa kekuatan maksimal dalam ‘peperangan politik’. Kita pernah menyaksikan dalam pemilihan presiden ada dua calon wakil presiden dari satu parpol sama yang mendampingi calon presiden yang berbeda parpol. Kekuatan penuh dalam bentuk loyalitas yang dimiliki oleh parpol dalam kancah perpolitikan akan memberikan proporsional yang cukup besar dalam menentukan nilai kemenangan dibanding aspek popularitas seorang calon. Namun, bagaimanapun juga dalam demokrasi, ada perpecahan, pengkhianatan, penggembosan dan loyalitas yang merupakan bagian dari demokrasi yang tidak terpisahkan.
Demikian bahasan kaitan antara popularitas dan loyalitas yang merupakan kajian lanjut dari yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali; pengaruh kekuasaan bisa mendatangkan harta kekayaan, popularitas dan loyalitas. Hakikat politik adalah mencari kekuasaan, sesuatu yang paling diminati oleh kebanyakan orang. Tetapi seseorang perlu berhati-hati dengan kekuasaan yang dimilikinya, karena ia harus bertanggungjawab kepada masyarakat dan terutama kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Hermanto Harsolumakso
No. 181