Senin, 25 Juni 2012

BELAJAR DARI SEJARAH


RIWAYAT NABI YUSUF AS

Al-Qur’an adalah hudan linnas - petunjuk bagi manusia (QS Al-Baqarah 2: 185). Di dalam menyampaikan petunjuk tersebut, Kitab Allah yang terakhir ini menggunakan berbagai pendekatan, antara lain menceriterakan peristiwa-peristiwa sejarah, terutama yang berkenaan dengan perjuangan para Rasul Allah. Pemaparan sejarah itu pasti bukan dongeng pengantar tidur, tetapi mempunyai tujuan yang mulia bagi yang membacanya, manusia.
Surah Hud (11) ayat 120 menyatakan: “Dan semua kisah dari Rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” Ayat ini menerangkan tiga tujuan pemaparan sejarah di dalam Al-Qur’an. Pertama: memantapkan iman manusia terhadap Al-Qur’an. Yang menyampaikan Kitab ini adalah Muhammad Saw yang ummiy - tuna aksara, dan masyarakat tahu benar bahwa beliau tidak pernah berguru kepada siapapun. Maka sejarah yang dinyatakan secara runtut dan cermat menunjukkan Al-Qur’an sebagai himpunan wahyu Allah kepada Rasul-Nya. Kedua: meluruskan fakta sejarah, yang banyak yang melenceng karena kelalaian maupun kesengajaan orang. Ketiga: menjadi pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang mau mengimaninya.
Al-Qur’an memang bukan buku sejarah, dalam arti menceriterakan perjalanan hidup seseorang atau sebuah peristiwa secara berurutan. Tetapi sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an sendiri, penuturan sejarah di dalam Kitab ini benar-benar memberikan pengajaran yang amat berharga bagi generasi kemudian. Di dalam sejarah kita mendapati pola pikir dan pola tindak, yang baik dan yang buruk, untuk menjadi referensi yang amat bermanfaat bagi orang-orang yang menjlani kehidupan dunia yang penuh ujian dan cobaan. Sebagai contoh, kita akan menyimak riwayat Nabi Yusuf As, yang diceriterakan di dalam Al-Qur’an dengan berurutan dan lengkap di dalam satu surah, yaitu surah 12, Yusuf, mulai dari ayat 3 sampai dengan 101. Ada beberapa episode di dalam kisah Rasul Allah tersebut.
Masa Kecil Yusuf As
Yusuf adalah putera Nabi Ya'kub As, sedangkan Ya'kub itu putera Nabi Ishaq As, dan Ishaq putera Nabi Ibrahim As yang lahir dari rahim Sarah. Putera Nabi Ya'kub 12 orang, yang lahir dari empat isteri. Salah seorang dari mereka, yang menurut riwayat bernama Rahil, mempunyai dua orang putera yakni Yusuf dan Bunyamin. Sepuluh orang yang lain adalah saudara tiri Yusuf. Sebagai seorang ayah yang berusaha adil kepada semua puteranya, Ya'kub memberi santunan dan pendidikan yang sama kepada 12 puteranya itu.
Tetapi Yusuf adalah yang paling rajin menuntut ilmu, dan sigap melaksanakan tugas-tugas dari ayahandanya. Bunyamin begitu pula tetapi tidak banyak diceriterakan karena masih kecil. Sedangkan putera-putera Nabi Ya'kub yang lain lebih senang bermain dan bermalas-malasan. Maka dengan sendirinya Ya'kub lebih sering bersama Yusuf, terutama di dalam kegiatan belajar-mengajar. Mestinya keadaan demikian mendorong para putera lainnya untuk muhasabah - introspeksi, dan memperbaiki sikap serta kelakuannya. Tetapi sayang, mereka justru memanjakan nafsu, dengan memendam rasa iri yang kemudian berkembang menjadi dengki. Dalam pembicaraan di antara mereka seseorang berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita berada dalam kekeliruan yang nyata". (QS Yusuf  12: 8).
Kedengkian yang sama-sama dipendam oleh sepuluh putera Ya'kub As menghasilkan kesepakatan untuk menyingkirkan Yusuf dari lingkungan keluarga. Mereka berharap bahwa dengan tidak adanya Yusuf kasih sayang Ya'kub akan tercurah kepada mereka saja (QS Yusuf 12: 9). Tentang caranya, mereka berbeda pendapat, tetapi akhirnya semua setuju untuk meninggalkan dia di sebuah oasis di tengah padang pasir.
Di situ Yusuf tidak akan mati tetapi dipungut oleh salah satu di antara kafilah yang pasti akan menemukannya. Harapan mereka benar terwujud. Yusuf yang masih belia itu dibawa oleh serombongan pedagang yang singgah di oasis tersebut untuk minum dan mengambil air sebagai bekal di perjalanan. Di ibu kota Mesir masa itu, Yusuf dijual sebagai budak, meskipun dihargai murah sekali.
Orang membeli budak karena akan dipekerjakan di kebun-kebun atau tempat lain yang memerlukan tenaga kuat; karena itu yang diinginkan adalah yang bertubuh dan berotot besar, sedangkan Yusuf jauh dari memenuhi kriteria itu. Yang membelinya adalah seorang yang digelari al-'Aziz; dia menduduki jabatan cukup tinggi di Mesir. Dengan pengalamannya dia melihat anak belia itu berwajah polos tetapi menyimpan potensi kecendekiaan. Maka Yusufpun dibawanya pulang, lalu kepada isterinya dia berkata: "Beri dia tempat dan santunan yang baik. Boleh jadi kelak dia bermanfaat bagi kita, atau kita pungut dia sebagai anak". (QS Yusuf 12: 21).
Masa Muda yang Penuh Ujian
Semenjak berada di rumah al-'Aziz, Yusuf As. tumbuh di lingkungan yang sangat baik. Dia diajari ayah angkatnya ilmu, yang diserap dengan cepat. Dia bahkan sering diajak berbicara dan berdiskusi tentang berbagai masalah, termasuk hal-hal yang berkenaan dengan pemerintahan. Karena itu Yusuf mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas. Beberapa tahun berlalu, maka anak itu berkembang menjadi pemuda yang menyenangkan hati al-‘Aziz. Dia sudah mulai mampu memberikan saran-saran yang baik tentang apa yang harus dilakukan pembesar itu di dalam memecahkan permasalahan pemerintahan. Maka benarlah harapan yang dikatakan al-‘Aziz dahulu yang disampaikan kepada isterinya, bahwa anak itu akan memberi manfaat. Yusuf juga bergaul baik dengan semua orang di rumah besar itu, bahkan dengan tetangga-tetangga di sekitarnya. Dari setiap pembicaraan yang dilakukannya dia memungut pengetahuan demi pengetahuan. Dia sangat cerdas untuk memperoleh pengetahuan itu bukan hanya dari orang-orang yang berpangkat dan berilmu, tetapi juga dari orang kebanyakan, bahkan dari sahaya dan pelayan. Yusuf tahu, setiap orang memiliki kelebihan, maka dia menyerap kebijaksanaan yang ada di mana-mana.
Tetapi kemudian datang ujian tahap kedua yang amat berat kepadanya. Dahulu pada masa kecil, ujian Yusuf adalah menghadapi kebencian sepuluh kakaknya. Ujian yang sekarang berupa rayuan seorang wanita cantik, yang tidak lain adalah isteri al-‘Aziz, orang yang menyantuninya. Dia adalah seorang perempuan yang sangat cantik, bernama Zulaikha. Dia sebenarnya mempunyai akhlak yang baik: maka kawannya banyak dan akrab kepadanya. Dahulu ketika Yusuf baru masuk ke rumahnya, dan al-‘Aziz berpesan untuk memberi layanan yang baik, pesan itu dilaksanakannya dengan tulus. Dia memberi makan seperti yang dia makan bersama suaminya, dia menyiapkan kamar tidur yang layak, pakaian yang baik dan sebagainya. Begitulah dia mengikuti perkembangan anak itu sejak dari belia sehingga tumbuh menjadi dewasa.
Pada saat Yusuf beranjak dewasa itulah Zulaikha sadar bahwa anak itu tegap, tampan dan menyenangkan. Maka tumbuhlah di hatinya rasa tertarik kepada pesona Yusuf, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Pada waktu itu setan masuk menyelinap ke relung-relung hati, membisikkan pikiran-pikiran buruk dan mendorong Zulaikha untuk melakukan perbuatan terlarang dengan Yusuf.
Pada suatu hari Zulaikha berada dalam suatu ruangan dengan Yusuf, sedangkan suaminya sedang pergi. Setan tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu untuk menjerumuskan mereka berdua. Maka Zulaikha menutup pintu ruangan, kemudian melancarkan berbagai rayuan kepada Yusuf. Saat itu Yusuf terperangah karena tidak menduga bakal mengalami peristiwa demikian. Dia sedang tumbuh menjadi dewasa, maka sebagaimana laki-laki lainnya, sedang berada pada masa pubertasnya.  Adalah wajar bila laki-laki seperti Yusuf tertarik kepada wanita; apa lagi terhadap Zulaikha, yang meskipun jauh lebih tua dari dia, masih sangat menarik.
Tetapi bagaimanapun besarnya pesona Zulaikha, Yusuf masih mampu menahan diri. Dia sadar bahwa menyambut ajakan perempuan itu adalah dosa yang besar. Maka diapun dengan sopan menolak ajakan perempuan itu. Ada dua hal yang terucap oleh lisan Yusuf sebagai alasan penolakannya. Yang pertama dan terpenting adalah takut kepada Allah. Dia berkata: "Aku berlindung kepada Allah”. Alasan kedua: dia tidak patut mengkhianati al-‘Aziz suami Zulaikha. Dia berkata: "Sesungguhnya tuanku telah memperlakukan aku dengan sangat baik". (QS Yusuf 12:23). Bagaimana mungkin Yusuf berkhianat kepada orang yang sangat baik terhadap dirinya?
Tetapi Zulaikha yang terbuai bujukan setan tidak mampu lagi membedakan baik dengan buruk. Dia mengejar Yusuf sedangkan Yusuf lari menghindar. Baju Yusuf terkoyak di bagian belakang, tepat pada saat al-Aziz sampai di rumah. Yusuf yang masih polos menjadi bingung tidak tahu hendak berkata apa, sedangkan Zulaikha yang berpengalaman segera mengadu kepada suaminya, bahwa Yusuf hendak menodai dirinya. Tetapi fakta bahwa baju Yusuf koyak di belakang membuktikan, bukan Yusuf yang bersalah tetapi Zulaikha. Peristiwa itu diselesaikan secara ‘kekeluargaan’.
Al-'Aziz memaafkan isterinya, dan semua orang yang mengetahui hal itu harus merahasiakannya kepada siapapun. Namun menjaga rahasia sungguh tidak mudah. Salah seorang di antara para bujang membicarakan hal ini, yang kemudian tersebar luas. Maka para wanita teman-teman Zulaikha mencemooh dia, dan mengatakannya sebagai perempuan elit yang memalukan karena tidak menghargai kedudukannya. Zulaikha amat sakit hati, sehingga membuat rencana membalas memperlakukan teman-temannya itu.
Dalam sebuah pesta di rumah al-Aziz, Zulaikha menampilkan Yusuf pada saat yang tepat dan dengan cara yang diatur matang. Maka perempuan-perempuan itu terpesona sampai lupa sedang mengiris buah-buahan. Banyak yang tak sadar mengiris jarinya sendiri. Kini Zulaikha dapat menunjukkan bahwa perempuan manapun akan menjadi tak tahu diri ketika menghadapi pesona Yusuf yang luar biasa. Peristiwa itu juga digunakan Zulaikha sebagai penyandera, agar kawan-kawannya itu bersedia membantunya dengan merekayasa delik hukum palsu yang akan menjebloskan Yusuf ke dalam penjara.
Demikianlah Yusuf masuk penjara melalui pengadilan penuh rekayasa. Tetapi dia rela mengalami penderitaan itu. Kepada Allah Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan wanita itu". (QS Yusuf 12: 33). Nyatanya keberadaan di penjara memberi banyak manfaat bagi Yusuf. Beliau banyak tafakur dan dzikir, mendekatkan diri kepada Allah Swt. Beliau juga berdakwah mengajarkan tauhidullah, keyakinan akan keMahaesaan Allah. Sangat boleh jadi bahwa di dalam penjara itu beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah. Sebagai pengantar dakwah, Yusuf menerangkan makna mimpi, salah satu keahlian beliau yang sudah diberitakan jauh sebelumnya oleh ayah beliau Nabi Ya'kub As (QS Yusuf 12: 6). Ilmu tentang arti mimpi merupakan ilmu ladunni, yaitu ilmu yang tidak diperoleh dengan belajar tetapi diilhamkan langsung oleh Allah kepadanya. Di antara murid-murid Yusuf ada dua orang pegawai istana Raja, yang sama-sama bermimpi ganjil. Kepada keduanya Yusuf menerangkan, seorang akan divonis bebas dan dikembalikan ke profesi semula, tetapi seorang lagi akan dihukum mati. Ramalan itu sangat tepat sehingga orang-orang menjadi sangat kagum kepada beliau.
 Kesabaran yang Mengantarkan Kebahagiaan
Bersamaan waktunya dengan itu, Raja Mesir bermimpi yang sangat ganjil: tujuh ekor sapi gemuk dimakan tujuh ekor sapi kurus, dan tujuh bulir gandum segar berisi berdampingan dengan tujuh bulir yang kering hampa. Tidak ada siapapun yang dapat menerangkan arti mimpi tersebut. Maka pegawai istana yang mantan narapidana menceriterakan keahlian Yusuf yang luar biasa. Raja tertarik akan informasi tersebut, maka beliau mengutus dia untuk menanyakan makna mimpinya kepada orang yang dikagumi seluruh penghuni penjara tersebut. Ketika pegawai istana tersebut datang, Yusuf menerangkan, selama tujuh tahun ke depan Mesir akan mengalami musim yang baik, hasil panen berlimpah dan rakyat sejahtera.
Tetapi sesudah itu akan datang masa paceklik selama tujuh tahun pula. Hujan hampir tidak pernah turun, panen gagal dan penduduk sulit mendapatkan makanan. Kesengsaraan dapat dicegah bila orang-orang Mesir sangat berhemat selama musim baik. Mereka harus menyimpan hasil pertanian sebanyak-banyaknya untuk menghadapi masa susah. Demikian saran Yusuf. Rupanya sang Raja sangat puas dengan keterangan itu. Maka beliau memberikan grasi kepada Yusuf dan memerintahkan para pejabat untuk menjemputnya menghadap Raja. Yusuf menyambut undangan tersebut dengan penuh hormat, tetapi mengajukan permohonan agar sebelumnya Raja berkenan memeriksa kembali perkara yang menjadikan beliau dipenjara.
Yusuf ingin ke luar dari penjara bukan sebagai orang yang dikasihani Raja tetapi sebagai orang yang tidak bersalah. Raja Mesir memenuhi permohonan itu. Beliau memeriksa kembali perkaranya secara pribadi. Maka ditemukan dengan sangat jelas bahwa Yusuf bersih dari segala tuduhan, sehingga beliaupun keluar dari penjara sebagai orang yang tidak tercela. Dalam kondisi itu Yusuf beraudiensi dengan sang Raja. Maka setelah berdialog yang cermat, Raja mengangkat Yusuf sebagai pemegang perbendaharaan Negara.
Dari kisah Nabi Yusuf As, kita mendapat banyak pelajaran. Bahwa dunia dipenuhi orang-orang yang tidak mampu mengendalikan nafsu sehingga berbuat hal-hal yang merusak fitrahnya yang suci, dan merugikan orang-orang lain. Bahwa kesabaran dan ketegaran dalam menghadapi ujian-ujian hidup akan mengantarkan orang kepada ridha Allah dan kebahagiaan. Bahwa Allah Swt berkuasa atas segala sesuatu; maka orang yang beriman harus berserah diri kepada-Nya, dengan keyakinan bahwa Allah pasti memberi pahala dunia dan akhirat yang terbaik, bagi hamba-hamba yang shaleh. 

Sakib Machmud
No.152

Jumat, 15 Juni 2012

BICARA YANG BAIK ATAU DIAM


Allah Swt berfirman:
الرَّحْمَنُ .عَلَّمَ الْقُرْآنَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ. عَلَّمَهُ الْبَيَانَ.
“Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. 
(QS Ar-Rahmaan 55: 1-4).
Sebagaimana firman Allah di atas, kemampuan berbicara adalah fitrah manusia. Berbicara adalah salah satu sarana komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi sebagian orang, berbicara merupakan sesuatu yang mengasyikkan, bahkan menjadi sebuah hobi tersendiri. Namun, tidak setiap orang  tahu etika dalam menyampaikan pesannya melalui pembicaraan. Ada kalanya orang suka banyak bicara dalam mengemukakan suatu persoalan, dan ada pula orang yang sedikit bicara. Namun orang yang sedikit bicara belum tentu tidak tahu hal yang dibicarakan itu. Bisa jadi orang yang sedikit bicara lebih memahami persoalan yang dibicarakan tersebut.
Suatu ketika Imam Al-Ghazali memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya: "Apakah yang paling tajam di dunia ini? Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar, kata Imam Al-Ghazali, tapi yang paling tajam adalah ‘lidah manusia’. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.  Secara umum Imam Al-Ghazali menasihatkan agar berbicara hanya hal-hal yang bermanfaat dan tidak mengandung bahaya, sedangkan pembicaraan yang banyak mengandung bahaya dan tidak memiliki manfaat, haruslah kita hindari.
Jika kita perhatikan kondisi bangsa Indonesia akhir-akhir ini, maka kita lihat betapa banyak orang yang mengobral pembicaraan, baik yang dilakukan para pakar dan politisi, pejabat negara, maupun masyarakat umum. Para pakar dan politisi pandai berkomentar mengenai suatu persoalan yang dihadapi masyarakat, namun hanya sedikit yang dapat  memberikan solusi atas persoalan tersebut. Mereka sering bertukar pendapat dan berdebat beradu argumentasi di televisi dan berbagai forum, namun hanya sedikit di antara mereka yang dapat membuktikan pendapatnya dengan perbuatan. Begitu pula para pejabat negara, mereka mengemukakan berbagai macam janji kepada masyarakat, namun janji-janji itu hanya sedikit yang direalisasikan.
Demikian pula masyarakat umum, banyak di antara mereka mereka sudah pandai berdebat dengan sesama temannya. Di rumah makan, café, warung, pangkalan ojek, dan di mana saja tempat mereka nongkrong, sering kita jumpai mereka sedang berbincang tentang berbagai macam tema, mulai dari masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, bagaikan para pakar dan politisi.
Terhadap orang-orang yang banyak berbicara Rasulullah Saw bersabda: “Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang-orang yang berpura-pura fasih, dan orang-orang yang mutafaihiqun. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu mutafaihiqun?” Rasulullah menjawab: “Orang-orang yang sombong.” (HR At-Tirmidzi). Begitulah kalau orang-orang yang sombong suka berbicara.
Berani Berbicara Berani Berbuat
Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk tidak menjadi orang yang banyak bicara, tetapi sedikit berbuat (beramal),  karena sikap banyak bicara sedikit berbuat itu, sangat dibenci oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaaf 61: 2-3).
Ayat ini diturunkan Allah Swt ketika ada sekelompok orang meminta kepada Rasulullah Saw agar diberitahukan tentang amal perbuatan yang paling dicintai Allah Swt. Kemudian Allah menurunkan ayat berisi tentang perintah untuk berjihad. Namun kenyataannya orang yang menawarkan diri untuk melakukan perbuatan yang paling afdhal, justru tidak mau berangkat berjihad untuk membela agama Allah. Mereka enggan  berjihad dan banyak beralasan untuk lari dari jihad.  Padahal mereka sendiri yang meminta untuk ditunjukkan amal yang paling baik, namun tidak mau mengerjakannya. Sehingga hal itu sangat dibenci oleh Allah Swt.
Orang Islam diserukan agar setiap kata yang diucapkan sesuai dengan perbuatannya. Tidak patut seorang Muslim jika hanya bisa menyuruh, tetapi tidak bisa memberikan contohnya. Jika kita bercermin pada pribadi Rasulullah Saw, maka kita akan menemukan  pada diri beliau sebuah teladan yang amat sempurna. Setiap kali beliau memerintahkan suatu amal atau ibadah, beliaulah yang memulai pekerjaan tersebut, sehingga tidak ada suatu amal apapun yang dilakukan para sahabat kecuali hal itu telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Pernah pada suatu ketika, setelah melakukan ibadah lempar jumrah di Mina Rasulullah Saw memerintahkan kepada para sahabat, untuk mencukur rambut dan diteruskan memotong kambing, Namun para sahabat tidak kunjung melakukan perintah tersebut, sehingga Rasulullah Saw agak kurang senang, karena perintahnya tidak segera dilaksanakan oleh para sahabatnya. Kemudian salah seorang isteri Rasul mengusulkan agar beliau memberikan contoh terlebih dahulu. Beliau menuruti usulan tersebut, kemudian beliau mencukur rambut dan memotong kambing. Segera setelah itu para sahabat menirukan yang telah dicontohkan oleh Rasul.
Dari kejadian tersebut, maka kita harus membuktikan segala ucapan kita dengan perbuatan yang nyata, jangan sampai kita hanya bisa bicara tetapi tidak bisa berbuat. Biasanya orang yang pandai bicara dan senang ngrumpi tidak bisa berbuat banyak. Seorang Muslim harus selaras antara ucapan dan perbuatan.
Sedikit Bicara
Setiap kita, hendaknya mengetahui situasi dan kondisi, kapan saat harus bicara dan kapan harus diam. Sebelum berbicara, seseorang sebaiknya memahami atau paling tidak mengetahui persoalan yang akan dibicarakan itu suatu kebaikan atau keburukan. Jika sesuatu itu baik dan dirasa perlu untuk dikomunikasikan, maka sampaikanlah dengan penuh kebaikan. Tetapi sebaliknya, jika sesuatu ingin disampaikan itu suatu keburukan dan bisa menimbulkan fitnah, maka sebaiknya tidak perlu disampaikan, atau jika harus disampaikan, sebaiknya tidak lebih dari apa adanya, tidak perlu diperjelas lebih rinci.
Berbicara yang baik atau diam adalah suatu kebaikan, yang untuk saat ini sedikit sekali orang yang melakukannya. Tentang hal itu Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Al-Bukhari).
Lidah secara fisik hanya pendek dan lunak dibatasi oleh barisan gigi yang kokoh dan kuat. Namun demikian, masih saja lidah itu sewaktu-waktu menjadi bahaya laten. Ternyata dia bisa menjadi lebih panjang dari jalanan yang ada. Setiap kata dan ucapan yang keluar dari mulut, diterbangkan ke mana-mana. Bahkan, terkadang masih bisa terus diabadikan, hingga pemilik lidah itu tiada. Ketajamannya juga bisa melebihi mata pisau. Hanya karena ucapan, maka korban bisa berjatuhan, meninggalkan luka berkepanjangan. Bahkan melahirkan pendendam dan menjadikan orang sakit hati. Lidah juga bisa lebih berbisa daripada ular yang lebih berbisa sekalipun.
Betapa banyak orang tidak menyadari alangkah banyak dosa yang telah dikumpulkan melalui lisannya. Lebih dari itu, tidak jarang kehancuran seseorang terjadi karena kurang hati-hatinya dalam menyusun kata-kata di atas lidah, karena terlalu banyak bicara akan mengakibatkan  kemampuan otak menurun, membuatnya lemah, sehingga kata-kata yang keluar tanpa kontrol dari pembicaranya. Padahal, ucapan apapun yang kita ucapkan, baik yang diucapkan itu baik ataupun buruk, semuanya terekam oleh Malaikat pencatat, sebagaimana peringatan Allah Swt: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjanmu), yang mulia di sisi Allah dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Infithar 82: 10-12). 
Di antara tanda-tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan ucapan atau perbuatan yang tidak bermanfaat, sebagaimana sabda Rasulsullah Saw: “Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” (HR At-Tirmidzi). 
Imam Ibnu Rajab (736-795 H) - cucu Imam Mazhab Hambali mengatakan: “Hadits ini merupakan landasan yang sangat agung di antara landasan-landasan adab. Sesungguhnya siapa yang baik keIslamannya pasti dia meninggalkan ucapan dan perbuatannya yang tidak penting baginya; ucapan dan perbuatanmya terbatas dalam hal yang penting baginya.”
Ukuran penting di sini bukan menurut rasa atau rasio / akal kita yang tidak lepas dari pengaruh hawa nafsu, melainkan berdasarkan tuntunan syariat Islam, termasuk meninggalkan ucapan dan perbuatan yang haram, atau hal lain yang masih samar, atau sesuatu yang makruh - perbuatan yang sebaiknya tidak dilakukan, bahkan dalam perkara yang mubah - apabila dikerjakan ataupun ditinggalkan tidak berpahala dan tidak berdosa.
Imam Ibnu Rajab menambahkan: “Kebanyakan pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan apa-apa yang tidak penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna sebagaimana peringatan Allah Swt: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaaf 50: 18).  

Pembicaraan Yang Tidak Bermanfaat

Karena itu hendaknya kita berbicara hanya tentang hal-hal yang penting dan memberikan manfaat. Menanggapi hiruk pikuk tentang kontroversi konser Lady Gaga, jauh hari sebelum ditolaknya rencana konser tersebut oleh pihak yang berwenang, Al-Mustaqiim dengan tegas menolak rencana konser itu diadakan di Indonesia, karena pentas lagu dan musik hingar bingar seperti itu sangat jelas menyimpang dari ajaran Islam, agama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia, karena Lady Gaga adalah sosok yang mengagungkan kebebasan tanpa batas, yang hanya akan mengumbar hedonisme, dan mematikan rasa kesetia-kawanan sosial. Sebagai Mukmin, kita harus senantiasa memegang teguh pendirian (tulisan No. 149 / Menjadi Muslim Yang Berpendirian / 25-05-12), tidak terpengaruh oleh pembicaraan yang tidak bermanfaat.  

Memperdengarkan atau mendengarkan lagu dan musik sebagai hiburan yang mengasyikkan itu tidak dilarang dalam Islam, namun tidak semua yang mengasyikkan itu halal, seperti halnya makan makanan yang enak itu dibolehkan, namun tidak semua yang enak itu halal. Seni dalam Islam, apapun jenisnya harus bisa meningkatkan kualitas interaksi seseorang dengan Allah Swt. Interaksi itu adalah iman dan takwa.

Menanggapi acara ‘Serasehan Anak Negeri’ - konon diikuti 100 tokoh bangsa - yang sering ditayangkan di televisi, apa manfaat sersehan itu yang hanya menyindir kepemimpinan nasional karena dianggap tidak mampu mengatasi masalah bangsa? Dikemukakan tentang Indonesia negara yang kekayaan alamnya melimpah ruah, namun kenyataannya hingga saat ini masih saja ada persoalan di bidang pangan dan energi. Di bidang energi, tarik ulur mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sedangkan di bidang pangan ada persoalan ketergantungan pada pangan impor yang semakin hari semakin membesar. Belum lagi masalah investasi asing, dan sebagainya. 
Kebanyakan orang berdebat bukan untuk mencari solusi masalah yang dibicarakan, melainkan cenderung fusuq - untuk menjatuhkan dan menyakiti orang lain, dan banyak orang yang jidal - merasa pendapatnya paling benar, sehingga perdebatan itu - seperti yang dilakukan di acara televisi misalnya - tidak memberikan manfaat apapun, selain keuntungan bisnis bagi penyelenggara acara debat di televisi itu, sebaliknya perdebatan hanya menimbulkan mudharat, yakni kekacauan pikiran masyarakat dalam mencari kebenaran.
Sesungguhnya kebenaran itu hanya pada Allah Swt, dan orang-orang yang iman dan takwanya benar, bukan pada mereka yang dikuasai kekuatan ghadab - kekuatan untuk mengalahkan orang lain, karena kekuatan itu mengandung kesombongan, kedengkian, rasa benci, rasa iri dan rasa dendam, dan kekuatan wahmiyah - kekuatan yang datang dari syeitan, yakni kekuatan yang membenarkan ucapan buruk.
Demikian telah kita pelajari tentang pentingnya berbicara hanya hal-hal yang penting dan memberikan manfaat. Karena itu hendaknya kita segera melakukan muhasabah - introspeksi - dalam berbicara, supaya dosa tidak terkumpul melalui ucapan kita.
Hermanto Harsolumakso
No. 151

Selasa, 05 Juni 2012

TRAGEDI SUKHOI


KEBERSAMAAN DALAM PENANGANAN MUSIBAH

Awan kelabu belum hilang menyelimuti dunia penerbangan di tanah air kita dengan terjadinya musibah jatuhnya pesawat SUKHOI SSJ 100, pada hari Rabu tanggal 9 Mei 2012, jam 15.00 WIB di sekitar Cijeruk, kawasan Bogor, setelah menabrak dinding tebing di kaki gunung Salak. Pesawat tersebut sedang dalam suatu penerbangan joy flight dalam rangka promosi memasarkan pesawat komersial tersebut ke beberapa negara Asia termasuk Indonesia. Pesawat Sukhoi SSJ 100 adalah sebuah pesawat angkut komersial paling modern buatan Rusia dengan peralatan super canggih, yang memadukan teknologi Rusia yang piawai dalam pembuatan pesawat tempur Sukhoi, dengan teknologi Barat yaitu pabrik pesawat Boeing dari Amerika Serikat, dan dari Eropa antara lain peralatan Avionic dari Thales Perancis, sistem kendali oleh Liebherr, roda pendarat oleh Messier Dowty, roda dan rem oleh Goodrich, dan sistem listrik oleh Hamilton Sundstrand, semuanya adalah pemasok yang ternama dalam dunia penerbangan.
Dengan dukungan sistem dan peralatan teknologi yang cukup terkenal di tingkat dunia, maka para perancang Sukhoi SSJ 100 mengklaim pesawat ini sebagai pesawat komersial paling mutakhir yang paling canggih, dan sangat bisa diandalkan, baik dari segi kenyamanan maupun dari keselamatan penerbangan. Namun peristiwa yang terjadi di kaki gunung Salak itu menimbulkan tanda tanya besar tidak hanya oleh para perancang pesawat itu, namun juga kita semua khususnya yang memahami hal ihwal pesawat terbang. Yang jelas hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa musibah bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.
Terlepas dari apa penyebab kecelakaan tersebut mengakibatkan pesawat hancur dan menewaskan sebanyak 45 penumpang di antaranya 8 orang warga negara Rusia, dan sebagian besar korban lainnya adalah warga negara Indonesia yang diundang mengikuti joy flight mewakili pimpinan organisasi maupun perusahaan di lingkungan penerbangan, temasuk wartawan dari media, yang tentunya berpotensi dalam mengembangkan dunia penerbangan di Indonesia.
Sebaik-baik sikap dalam menghadapi musibah itu tidak lain adalah istighfar dan berserah diri dengan mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun - Sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nya lah kita kembali.”, sambil mengintrospeksi diri adakah peringatan Allah yang diberikan kepada kita, karena Allah Maha Kuasa dan Maha Mengerahui. Bukankah Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an: “Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Maha Mulia lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk 67: 1 - 2).
Di balik musibah ini kita coba menggali hikmah dan petunjuk yang dapat dipetik dari kejadian di atas, karena pada hakikatnya  semua ketentuan yang ditetapkan Allah kepada kita, termasuk musibah, tidak ada yang buruk. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan petunjuk yang dapat dapat diperoleh dari ketentuan yang ditetapkan Allah Swt.
Sekilas peristiwa di atas mengingatkan kita pada peristiwa musibah serupa yang terjadi persis satu abad yang lalu menimpa kapal pesiar mewah ‘Titanic’, sebuah kapal pesiar terbesar dan termodern pada waktu itu, yang diklaim oleh perancangya sangat aman dan tak mungkin mengalami kecelakaan di laut. Namun musibah fatal telah terjadi hanya beberapa jam setelah kapal lepas jangkar dari pelabuhan keberangkatan, setelah lambung kapal sobek karena menabrak gunung es.
Allah berkuasa atas segala yang di langit dan di bumi, seperti difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an: “Allah manciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan.” (QS Al-Shaffaat 37: 96).
Dari ayat ini seakan mengingatkan bahwa Tuhan menciptakan apa yang kita lakukan, demikian juga Allah menegaskan bahwa: “Apa yang kamu kehendaki, (tidak dapat terlaksana) kecuali dengan kehendak Allah jua.” (QS Al-‘Insaan 76: 30).
Apakah kedua peristiwa di atas juga diciptakan oleh Allah, sekalian memberi peringatan bahwa manusia hanya memiliki sebagian kecil ilmu Allah. Manusia punya kehendak, tapi ingatlah bahwa Allah juga punya kehendak, dan kita tahu yang terjadi adalah kehendak-Nya. Adapun bila keinginan kita terwujud menjadi kenyataan, itu hanyalah karena pada saat itu kehendak kita telah sejalan dengan kehendak Allah, atau berarti kehendak kita diridhai Allah. Karenanya manusia diperintahkan selain untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya, berusaha keras dan berupaya menciptakan hal-hal yang baru dan lebih baik, namun juga agar selalu ingat kebesaran Allah dan memohon ridha-Nya. Mungkin itulah salah satu sebab mengapa Al-Qur’an mengajarkan kepada kita, “Segala puji bagi Allah semata.”
Peringatan Allah, untuk tidak menyombongkan diri atau merasa paling baik lagi sempurna. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman 31: 18).
Begitu diketahui hilangnya kontak antara pilot  pesawat Rusia tersebut dengan Air Traffic Control (ATC), pesawat diduga kuat telah mengalami kecelakaan dan jatuh di kawasan gunung Salak. Pihak-pihak yang berwenang segera mengambil langkah menurunkan jajarannya mulai dari pencarian lokasi musibah dan para korban, sampai dengan evakuasinya, dilanjutkan dengan proses identifikasi para korban serta penyelesaian masalah selanjutnya.
Dalam pencarian lokasi dikoordinasikan oleh Badan Search and Rescue Nasional (BASARNAS) yang dengan segera diikuti satuan-satuan lain, sebagai potensi yang memperkuat upaya pencarian yaitu dari TNI antara lain Paskhas Angkatan Udara, Marinir, Brimob dan Kostrad, juga dari Palang Merah Indonesia (PMI) dan Tagana. Sedang dari masyarkat antara lain Wanadri, Mapala Universitas Indonesia, Univeritas Pajajaran, Pramuka dan masih banyak lagi kelompok masyarakat pecinta alam dan relawan yang sangat peduli ingin membantu segera menolong sesama yang mengalami musibah. Jumlah pasukan dan masyarakat yang berperan dalam kegiatan evakuasi korban pesawat Sukhoi mencapai lebih dari 1500 orang, belum lagi tim dari Rusia yang dengan cepat mengirimkan 80 orang personil untuk membantu proses pencarian dan pertolongan, ditambah tim Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), sampai tim Disaster Victim Identification (DVI). Setelah 10 hari pencarian korban dalam medan yang sangat berat pada kondisi jurang yang nyaris tegak lurus 80 sampai 90 derajat, telah berhasil ditemukan 45 korban yang dievakuasi tidak semua dalam keadaan utuh dengan menggunakan 35 kantung jenazah, pencarian dinyatakan dihentikan oleh Kepala BASARNAS, karena sudah tidak ada tanda-tanda ditemukan lagi adanya korban. Namun beberapa hari kemudian ditemukan lagi 2 kantung jenazah.
Kerjasama yang sangat baik dalam proses pencarian lokasi sampai evakuasi korban terlaksana sesuai tugas dan kompetensi masing-masing satuan, tanpa terlihat upaya penonjolan diri kelompoknya yang merasa paling berjasa. Semua satuan yang tangguh dan terlatih baik dari Basarnas, Paskhas, Marinir, Brimob, maupun kelompok Mapala dan relawan lainnya telah mencurahkan kemampuan maksimalnya dengan tetap berada  di bawah komando BASARNAS.
Penanganan selanjutnya adalah identifikasi korban oleh tim DVI Polri, dan penyelidikan kecelakaan pesawat oleh KNKT, termasuk tim yang sama dari pihak Rusia yang dalam hal ini tetap membantu dan bekerja di bawah koordinasi tim dari Indonesia.
Barangkali tidak berkelebihan kalau bisa disimpulkan bahwa penanganan kecelakaan Sukhoi ini merupakan proses penanganan musibah di medan sulit di darat yang paling besar melibatkan jumlah personil dengan koordinasi yang paling baik selama ini. Kiranya dengan jujur orang percaya bahwa hal itu dilakukan karena adanya empati yang sangat dalam terhadap para korban tanpa memandang kelompok, golongan maupun kebangsaan, yang hanya mengedepankan rasa kebersamaan mengemban misi kemanusiaan.
Misi kemanusiaan telah  menyatukan langkah mencapai satu tujuan yaitu menolong sesama, didasari sistem kerja yang terorganisir rapi, disiplin, tanpa tumpang tindih tanggung jawab. Setiap satuan melaksanakan fungsinya dengan kompetensi yang melekat pada masing-msing personilnya.
Alangkah baiknya apabila semangat ini menjadi inspirasi seluruh warga pencinta negeri ini, menjalankan misi kemanusiaan dalam masyarakat, untuk mencapai satu tujuan yaitu menciptakan kesejahteraan rakyat. Sebuah contoh koordinasi yang sangat baik untuk diterapkan dalam seluruh aspek kegiatan dalam kehidupan masyarakat.
Dengan korban tewas sebanyak 45 orang yang merupakan seluruh penumpang pesawat, kita patut menyatakan turut berduka cita kepada keluarga para korban, serta mendoakan agar para korban diampuni dosa-dosanya dan diterima Allah untuk ditempatkan pada tempat yang sebaik-baiknya di sisi-Nya. Dari beberapa ulama yang menanggapi musibah ini kita mengetahui bahwa para korban yang meninggal dalam kecelakaan pesawat ini dikategorikan mati syahid dan dijamin masuk surga, mengingat kecelakaan terjadi di saat mereka menjalankan tugas dan pekerjaannya.
“Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur  di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS Ali-‘Imraan 3: 169).
Dari ayat yang lain: “Janganah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang meninggal di jalan Allah bahwa mereka itu telah mati, sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”(QS Al-Baqarah 2: 154).
Kematian adalah hal yang tidak dapat dihindari sebagai mahluk yang berasal dari Allah, dan kepadaNya kita akan kembali, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Mulk  67: 1-2 yang tersebut di bagian depan tulisan ini. Kematian, dalam pandangan Islam bukanlah sesuatu yang buruk, karena di samping mendorong manusia untuk meningkatkan pengabdiannya dalam kehidupan di dunia ini, kematian juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan yang abadi, serta mendapatkan keadilan sejati.
Mohammad Kamal
No. 150