
Mempelajari Agama Islam Secara Populer, Membentuk Pribadi Muslim Berakhlak Mulia, Membangun Masyarakat Islam Madani, Membahas Berbagai Fenomena Kehidupan Sosial, Mencari Solusi Permasalahan yang Dihadapi Ummat Islam, Mengangkat Martabat Ummat Islam
Rabu, 31 Agustus 2011
SILATURAHMI IDULFITRI 1432 H

Kamis, 25 Agustus 2011
KEJUJURAN - PUASA - DISIPLIN
DENGAN KEJUJURAN KITA BERPUASA
Seperti kita pahami, bepuasa adalah menahan diri dari makan, minum, bersetubuh serta ucapan dan perbuatan yang tidak terpuji, mulai terbit fajar sampai maghrib, dengan tujuan supaya menjadi takwa (QS Al-Baqarah 2: 183). Puasa di samping merupakan sarana pendidikan Ilahi untuk menanamkan tanggungjawab pribadi, juga merupakan sarana pendidikan untuk menanamkan solidaritas atau tanggungjawab sosial.
Sehingga berpuasa harus kita manfaatkan untuk melakukan muhasabah dalam ibadah mahdah dan mu’amalah. Jika kita bicara tentang puasa, pada umumnya yang dimaksud adalah puasa wajib di bulan Ramadhan, sedangkan puasa di bulan lain merupakan puasa sunnah. Dari muhasabah itu dan perbaikan yang kita peroleh paling tidak harus kita pertahankan setelah bulan Ramadhan berlalu sampai Ramadhan berikutnya. Jika tidak, kita hanya melakukan badah ritual puasa tanpa makna perbaikan.
Puasa adalah ibadah yang sifatnya sangat pribadi, sehingga kita harus menjalani puasa dengan penuh kejujuran. Contoh ketidak-jujuran dalam diri seseorang, adalah; orang yang memulai harinya dengan makan sahur, kemudian di luar rumah dia secara bersembunyi makan atau minum, dan melakukan apa saja yang dilarang dilakukan selama bulan puasa. Jika kita jujur, maka hal itu tidak akan terjadi, karena kejujuran juga merupakan salah satu tujuan sekaligus kunci keberhasilan puasa kita. Demikianlah berpuasa itu merupakan sarana menguji kejujuran seseorang.
Jika kita bisa menjaga kejujuran dalam hal makan, minum dan apa-apa saja yang dilarang yang sifatnya pribadi, mengapa kita tidak bisa menjaga kejujuran dalam kehidupan bermasyarakat? Pertanyaan itu wajar kalau kita melihat praktik berbangsa dan bernegara, yang tidak menunjukkan indikator kejujuran yang nyata. Dalam kasus korupsi misalnya, kendala melakukan pemberantasan korupsi adalah karena ketidak-jujuran mereka yang terlibat dalam kasus itu, yaitu para tersangka koruptor dan penegak hukum yang menangani masalah ini.
Dalam ibadah puasa ada tiga aspek yang fundamental, yang perlu kita pahami yaitu; 1) pendekatan diri kepada Tuhan, 2) penyucian diri, 3) membangun keshalehan sosial.
Dengan beribadah puasa, seseorang yang beriman berusaha mengaktifkan kekuatan ruhaninya kemudian berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin. Dengan kedekatan dan intensitas berkomunikasi dengan Tuhan, sebuah proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai ilahi dalam diri seseorang diharapkan akan terjadi bahwa apa yang selalu dipikirkan, dibayangkan, dan dirasakan oleh seseorang, akan mempengaruhi dan menggerakkan perilaku orang itu.
Jika hati dan pikiran selalu terikat dan tertuju kepada Allah Yang Maha Pengasih, maka kasih Allah akan merasuk ke dalam diri kita sehingga kita menjadi instrumen Allah sebagai penyebar kasih dan kebajikan. Namun, untuk meraih prestasi ini, kita harus membuka diri, membersihkan, dan membuang jauh-jauh berbagai pikiran, perasaan, serta perilaku kotor karena akan menghalangi cahaya dan energi ilahi untuk turun ke dalam diri kita.
Bagi sebagian orang, bulan berpuasa merupakan bulan untuk meningkatkan dan merevitalisasi diri sehingga hidup ini senantiasa dipandu kekuatan spiritual. Melalui puasa kita kembalikan dan perkokoh nurani untuk menjadi pemimpin kehidupan. Kita mesti bersikap positif karena yakin, bulan Ramadhan pasti mendatangkan berkat dan rahmat bagi kita semua.
Namun bagaimana kenyataannya? Kita perlu bertanya apakah ada yang salah dalam cara kita berpuasa? Di mana salahnya dan bagaimana memperbaikinya? Salah satu caranya ialah belajar bersungguh-sungguh menerapkan perilaku jujur di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kejujuran adalah dasar kehidupan di dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kejujuran adalah persyaratan utama pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang, dan tolong-menolong. Kejujuran adalah inti dari akhlak yang merupakan salah satu tujuan dari diutusnya Rasulullah Saw oleh Allah Swt. Kejujuran tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh. Seorang ulama menegaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat membantu kita dalam mencoba meraih kejujuran.
Pertama, akal yang wajib memandang bahwa berdusta itu buruk, apalagi jika kedustaan itu sama sekali tidak mendatangkan manfaat dan tidak mencegah bahaya. Kedua, agama dan syari’ah yang mengajarkan untuk mengikuti kebenaran dan kejujuran, serta memperingatkan bahaya kedustaan. Ketiga, kedewasaan diri kita yang menjadi salah satu faktor pencegah kedustaan dan kekuatan pendorong menuju kebenaran. Keempat, memperoleh kepercayaan dan penghargaan masyarakat.
Oleh karena itu, marilah kita menjaga hati kita dengan menjauhi sifat munafik dan dusta yang dapat menjauhkan kita dari sifat jujur, untuk kemudian setahap demi setahap kita tumbuhkan sifat jujur, agar kita dapat bersama-sama dengan para nabi, syuhada dan shalihin di akhirat kelak. Marilah kita tinggalkan segala bentuk kebohongan dan menggantikannya dengan kejujuran, karena itu adalah jalan yang lurus untuk menuju surga.
Allah Swt berfirman: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (jujur) imannya; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah 2: 177).
Ayat tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa kejujuran merupakan hakikat kebaikan dengan dimensi luas bagi orang-orang yang jujur (benar) imannya dan yang takwa. Karena itulah, Allah Swt menasihati kita untuk senantiasa bersama-sama orang yang jujur sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS At-Taubah 9: 119).
Setelah kita mengetahui hakikat kejujuran, maka setidaknya muncul dalam hati kita keinginan untuk melengkapi diri dengan sifat jujur ini. Karena sifat ini benar-benar merupakan intisari dari kebaikan. Dan sifat ini pulalah yang dimiliki oleh sahabat yang paling dicintai Rasulullah Saw yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq.
DENGAN BERPUASA KITA LEBIH BERDISIPLIN
Demikian telah kita membahas pentingnya kejujuran dalam ibadah puasa. Tanpa kejujuran, puasa kita tidak akan memperoleh hasil maksimal. Kita semua tahu bahwa kewajiban berpuasa bagi kita dimaksudkan supaya kita menjadi orang-orang yang bertakwa QS Al-Baqarah 2: 183).
Orang yang takwa, adalah orang yang selalu ta’at kepada Allah Swt dan berusaha tidak akan berbuat yang dilarang agama. Dalam khazanah mu’amalah, hal ini merupakan kedisiplinan yang tinggi seseorang dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Dia akan selalu berusaha untuk mematuhi apa yang diatur sesuai apa yang disepakati bersama dalam masyarakat.
Orang yang takwa selalu ingat kepada Allah, sehingga dalam khazanah mu’amalah, dia akan selalu ingat kepada aturan hidup bermasyarakat, selalu ingat kepada norma-normat dan nilai-nilai kehidupan.
Allah Swt menjanjikan kepada orang-orang yang takwa bahwa mereka akan selalu mendapatkan jalan keluar ketika menghadapi masalah (QS Ath-Thalaq 65: 2-3). Maka dalam khazanah mu’amalah dapat diartikan sebagai jalan menuju keberhasilan suatu ikhtiar.
Dari bahasan kita di atas, maka di samping puasa itu akan menjadikan seseorang menjadi takwa, puasa juga akan menjadikan seseorang hidup menjadi lebih berdisiplin dalam khazanah mu’amalah.
Beberapa dekade yang lalu, banyak pengusaha Indonesia yang mengeluh dalam menciptakan lingkungan kerja yang selalu bersih, teratur rapi, dan setiap orang mempunyai konsistensi dan disiplin diri, sehingga mampu mendukung terciptanya tingkat efisiensi dan produktivitas yang tinggi. Betapa mereka banyak membuang waktu hanya untuk mencari data dan atau sarana yang lupa penempatannya. Bukan hanya itu, seringkali mereka kurang nyaman dengan kondisi berkas kerja yang berantakan, dan tidak jarang memicu kondisi emosional mereka.
Ternyata kondisi tersebut kemudian dapat diatasi dengan menerapkan Konsep 5S, yaitu metode sederhana untuk melakukan penataan dan pembersihan tempat kerja yang yang merupakan adaptasi dari program 5S yang diterapkan sejak lama oleh banyak negara di seluruh penjuru dunia, yang dikenal sebagai Sorting, Straightening, Sweeping, Standardization, Self Dicipline, yang disingkat 5S. Dan kemudian konsep ini juga diformulasikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Konsep 5R yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin. Secara ringkas konsep tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Ringkas, adalah memisahkan segala sesuatu yang diperlukan dan menyingkirkan yang tidak diperlukan dari tempat kerja. Mengetahui benda mana yang tidak digunakan, mana yang akan disimpan, dan bagaimana cara menyimpan supaya dapat mudah diakses, terbukti sangat berguna bagi sebuah perusahaan.
Rapi, adalah menyimpan barang sesuai dengan tempatnya. Kerapian adalah hal mengenai seberapa cepat kita meletakkan barang dan mendapatkannya kembali pada saat diperlukan dengan mudah. Perusahaan tidak boleh asal-asalan dalam memutuskan di mana benda-benda harus diletakkan untuk mempercepat waktu untuk memperoleh barang tersebut.
Resik, adalah membersihkan tempat / lingkungan kerja, mesin / peralatan dan barang-barang agar tidak terdapat debu dan kotoran. Kebersihan harus dilaksanakan dan dibiasakan oleh setiap orang dari pimpinan perusahaan hingga pesuruh.
Rawat, adalah mempertahankan hasil yang telah dicapai pada 3R sebelumnya dengan membakukan semuanya iru (standardisasi).
Rajin, adalah terciptanya kebiasaan pribadi karyawan untuk menjaga dan meningkatkan apa yang sudah dicapai. Rajin di tempat kerja berarti pengembangan kebiasaan positif di tempat kerja. Apa yang sudah baik harus selalu dalam keadaan prima setiap saat. Prinsip Rajin di tempat kerja adalah; “Lakukan apa yang harus dilakukan dan jangan melakukan apa yang tidak boleh dilakukan.”
Tentu saja penerapan dari masing-masing prinsip dari konsep 5R ini perlu diikuti langkah-langkah berikutnya. Misalnya, prinsip Ringkas, harus disertai dengan langkah-langkah selanjutnya seperti; 1) Melakukan cek barang yang berada di ara masing-masing. 2) Menetapkan kategori barang-barang yang digunakan dan yang tidak digunakan. 3) Memberi label warna merah untuk barang yang tidak digunakan. 4) Menyiapkan tempat untuk menyimpan, membuang, atau memusnahkan barang-barang yang tidak digunakan. 5) Memindahkan barang-barang yang berlabel merah ke tempat yang telah ditentukan, dan sebagainya. Hal yang sama juga diperlukan langkah lanjut terhadap 4 prinsip lainnya, Konsep 5 S ini merupakan inovasi besar yang menghasilkan disiplin dan efisiensi tinggi dalam kegiatan usaha terutama di bidang manufaktur.
Konsep tersebut kelihatannya sederhana, tetapi hal yang sedehana itu tidak akan dapat dilaksanakan dengan baik tanpa disiplin tinggi. Perlu kita ketahui bahwa keberhasilan melaksanakan suatu ikhtiar, sangat tergantung pada bagaimana mematuhi disiplin dalam melaksanakannya, karena disiplin adalah awal dari keberhasilan suatu ikhtiar. Seperti halnya melakukan ibadah shalat, tanpa niat yang benar, maka ibadah shalat kita itu tidak akan berlangsung dengan tertib dan kyusyuk.
Sayangnya ummat Islam lebih sering ketinggalan dalam melakukan inovasi (ijtihad) dalam khazanah mu’amalah dibanding dengan ummat lain yang non Musim. Sesungguhnya Konsep 5S yang telah diterapkan di banyak negara itu adalah inovasi yang dikembangkan sejak lama di Jepang yang dalam bahasa asalnya dinamakan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke - disingkat 5S. Inilah salah satu tantangan yang harus kita hadapi dalam khazanah mu’amalah.
Demikian kita telah membahas salah satu hikmah puasa di antara sekian banyak hikmah lainnya selama bulan Ramadhan ini, yaitu menjadikan hidup lebih berdisiplin baik dalam hubungan ‘ubudiah maupun mu’amalah. Marilah kita terus ber-ijtihad membuat konsep terkait kedisiplinan. Jika di bulan Ramadhan ini, kita belum bisa melakukan perbaikan dalam hal antri pembagian zakat dan sembako tanpa menimbulkan kericuhan, maka ibadah puasa kita selama sebulan ini belum dapat menghasilkan hasil yang maksimal kecuali lapar dan dahaga.
Hermanto Hs
No. 122
Senin, 15 Agustus 2011
MANFAAT MENAHAN LAPAR
Di antara sumber utama akhlak yang tercela adalah rakus terhadap makanan, sebab perut yang dipenuhi makanan merupakan sumber syahwat, dan dari sanalah nafsu seks berasal, yang kemudian setelah nafsu syahwat terhadap makanan dan nafsu seks mendominasi, maka dari sana muncul sikap rakus terhadap harta benda, karena kedua nafsu syahwat itu tidak bisa tercapai kecuali dengan harta benda.
Dari nafsu syahwat terhadap harta benda muncul nafsu syahwat terhadap kedudukan, karena harta benda akan sulit diperoleh tanpa kedudukan. ketika harta dan kedudukan telah diupayakan dan diperoleh, maka timbul semua implikasi negatifnya, seperti kesombongan, pamer, dengki, dendam, permusuhan dan sebagainya. Dengan demikian perut merupakan sumber dari semua itu.
Lima belas abad, sebelum para ahli kedokteran modern meneliti secara ilmiah bahwa lapar bisa menyembuhkan berbagai penyakit, Rasulullah Saw telah mengajarkan kepada kita agar sering-sering menahan lapar, karena disamping menyehatkan secara jasmani, menahan lapar sekaligus dapat mengetuk pintu surga.
“Diriwayatkan pada suatu ketika dalam dialog dengan istri beliau, Aisyah Ra, Rasulullah SAW berkata: "Wahai istriku, seringlah kamu mengetuk pintu surga." Aisyah tidak segera menjawab. Ia masih bingung. Apa yang dimaksud dengan ucapan suaminya," Mengetuk pintu surga?" tanya Aisyah seakan ingin mempertegas ucapan Rasul. "Ya, benar. Kamu harus sering mengetuk pintu surga." jawab Rasulullah. "Dengan cara apa kami mengetuk pintu surga, sedangkan kami masih di dunia?" tanya Aisyah. "Sangatlah mudah caranya. Ketuklah pintu surga dengan rasa lapar. Karena dengan begitu, syeitan tidak akan mengganggumu." "Syeitan tidak mengganggu kami?" "Benar. Seandainya syeitan tidak berkeliaran di hati anak Adam niscaya mereka bisa melihat kerajaan langit (temasuk surga). "Jawab Rasul. Sebelum Aisyah bertanya lagi, Rasulullah Saw menimpahi, "Sesungguhnya setan masuk ke tubuh anak Adam melalui jalan darah. Maka persempitlah aliran darah itu dengan rasa lapar."
Dari sisi kesehatan terbukti bahwa menahan lapar apabila dilakukan secara benar (berpuasa), ternyata dapat mengendalikan berbagai jenis penyakit seperti diabetes, darah tinggi, kolesterol tinggi, maag hingga kegemukan. Dengan menahan lapar (berpuasa) maka organ vital ini dapat istirahat selama 14 jam. Saat kita menahan lapar karena puasa akan dapat mengaktifkan sistem pengendalian kadar gula darah. Apabila kadar gula darah turun, maka cadangan gula dalam bentuk glikogen yang ada di hati mulai kita gunakan.
10 Manfaat Menahan Lapar Menurut Imam Al-Ghazali
Sekitar 900 tahun yang lalu, Ulama besar, Guru Sufi, Hujjattul Islam, Imam Al-Ghazali (1058-1111 M), berkata bahwa ada 10 manfaat menahan perut lapar, yaitu:
Pertama. Menahan lapar dapat membersihkan hati dan menajamkan mata batin. Kata Al-Syibli: “Setiap hari aku melaparkan perutku, pintu hikmah dan 'ibrah - pelajaran -terbuka bagiku.” Kata Yazid Al-Bisthami: “Lapar itu hikmah. Bila perut lapar, dari hati akan tercurah hujan hikmah. Bila lapar memancarkan kearifan, sebaliknya kenyang akan melahirkan kedunguan.” Nabi Saw bersabda: "Cahaya kearifan adalah lapar, menjauh dari Allah adalah kenyang, mendekati Allah ialah mencintai fakir dan miskin dan akrab dengan mereka. Jangan kenyangkan perutmu, nanti padam cahaya hikmah dalam hatimu."
Kedua. Menahan lapar dapat melembutkan hati dan membersihkannya sehingga mampu merasakan kelezatan berdzikir. Kadang-kadang kita berzikir dengan kehadiran hati, tetapi kita tidak menikmatinya dan hati kita tidak tersentuh sama sekali. Pada waktu yang lain, hati kita sangat lembut dan kita merasakan kelezatan berdzikir dan kenikmatan bermunajat. Menurut para sufi, sebab utama dari hilangnya kelezatan dzikir adalah perut yang kenyang. Kata Abu Sulaiman: “Apabila orang lapar dan haus, hatinya akan terang dan lembut. Bila orang kenyang, maka hatinya akan buta dan kasar.”
Ketiga. Menahan lapar dapat meluluhkan dan merendahkan hati, menghilangkan kesombongan dan keliaran jiwa. Ketika kita lapar, kita merasakan kelemahan tubuh kita dihadapan kekuasaan Allah. Betapa ringkihnya kita, kalau Tuhan memisahkan kita dari makanan dan minuman hanya untuk beberapa waktu saja. Kesabaran akan timbul dengan seringnya kita menahan lapar. Ketika Nabi Saw ditawari semua kenikmatan dunia, beliau menolaknya dan berkata, "Tidak, aku ingin lapar sehari dan kenyang sehari; pada waktu lapar aku bisa bersabar dan merendahkan diriku, pada waktu kenyang aku bisa bersyukur."
Keempat. Menahan lapar dapat mengingatkan kita pada ujian dan adzab Allah. Ketika orang kenyang, ia tidak ingat pedihnya kelaparan dan kehausan. Seorang yang arif akan mengenang derita ‘lapar dan haus’ pada hari akhirat atau pada waktu sakaratul maut, ketika ia merasakan lapar dan haus di dunia ini. Orang yang selalu kenyang dan sehat tidak akan merasakan pedihnya hari Kiamat; karena itu, berkurang dan bisa hilang keyakinannya pada hari akhirat. Begitu pula, orang yang tidak pernah lapar akan lupa pada sebagian masyarakat yang diuji Tuhan dengan kelaparan. Ia akan kehilangan imannya; karena ia tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya. Ketika Nabi Yusuf As menjadi Menteri Logistik, dia membiasakan puasa setiap hari. Orang bertanya kepadanya: "Mengapa Anda lapar padahal perbendaharaan bumi ditangan anda?".Yusuf As menjawab, "Aku takut kenyang dan melupakan orang yang lapar."
Kelima, Menahan lapar dapat mematikan keinginan untuk berbuat maksiat dan menguasai nafsu amarah (diri yang memerintahkan keburukan). Dalam keadaan kenyang, kita punya kekuatan untuk melakukan kemaksiatan. Makan dan minum adalah bensin yang menggerakkan mobil hawa nafsu kita. Kata Imam Al-Ghazali, kenyang dapat mengerakkan dua syahwat (keinginan) yang berbahaya: syahwat farji dan syahwat bicara. Kata Dzun Nun: Setiap kali aku kenyang aku bermaksiat atau berniat untuk melakukan maksiat. Kata 'Aisyah Ra: Bid'ah yang pertama terjadi setelah wafat Nabi Saw ialah makan kenyang.
Keenam, Menahan lapar dapat mengurangi tidur dan membiasakan bangun. Orang yang banyak makan, pasti banyak juga tidurnya. Perut yang penuh sangat sukar dibawa bangun malam. Dahulu, kalau para guru sufi menyajikan makanan untuk para muridnya, mereka berkata, "Janganlah makan banyak, nanti tidur kamu banyak dan kamu juga rugi banyak." Jangan berikan ilmu kepada perut-perut yang kenyang, karena mereka akan mengubahnya menjadi mimpi. Jangan berikan sajadah kepada mereka, karena mereka akan mengubahnya menjadi kasur. Jangan berikan pekerjaan penting kepada mereka, karena mereka akan melalaikannya.
Ketujuh, Menahan lapar dapat memudahkan menjalankan ibadah. Untuk makan dan mempersiapkan makan kita memerlukan waktu. Waktu adalah anugerah Tuhan yang sangat berharga. Jika perhatian kita terpusat pada makanan, kita akan menghabiskan waktu untuk mencari tempat makan, menunggu makanan terhidang, dan menikmati makanannya. Sekarang malah trend berwisata kuliner, di mana orang sampai menghabiskan waktunya selama berjam-jam hanya untuk perjalanan menuju restoran untuk makan makanan kesukaannya. Tidak jarang sampai ke luar
Tapi sebaliknya, perhatikan ketika kita berpuasa. Pada waktu pagi, kita bisa ke kantor dengan segera tanpa harus makan pagi lebih dahulu. Pada waktu istirahat tengah hari, kita bisa melanjutkan kerja, mengikuti pengajian perkantoran atau membaca Al-Qur'an, karena kita tidak keluar untuk makan siang.
Abu Sulaiman Al-Darani berkata: “Dalam keadaan kenyang, masuk ke dalam diri kita 6 macam penyakit, yaitu: 1) hilangnya kelezatan munajat, 2) berkurangnya kemampuan menyimpan hikmah, 3) memudarnya empati pada penderitaan rakyat, 4) beratnya tubuh untuk melakukan ibadah, 5) bertambahnya gelora syahwat, dan 6) ketika kaum Mukmin bolak-balik ke masjid, mereka yang kenyang bolak-balik ke kamar kecil.
Kedelapan. Menahan Lapar Dapat menyehatkan tubuh dan menolak penyakit. Pernyataan Imam Al-Ghazali ini, yang didasarkan pada sabda Nabi Saw, dibuktikan dalam kedokteran modern. Dari segi kedokteran, manfaat pertama puasa adalah membersihkan tubuh dari racun. Puasa adalah teknik detoksifikasi yang paling murah dan paling efektif. Detoksifikasi ialah proses mengeluarkan atau menetralkan racun dalam tubuh (toksin) melalui usus, hati, ginjal, paru-paru, dan kulit. Bukan hanya racun yang terbentuk karena kelebihan makanan, tetapi juga racun yang diserap dari lingkungan. Seorang dokter yang menganjurkan puasa mengetes urin, feses, dan keringatnya pada waktu puasa. Ia menemukan ‘jejak-jejak’ DDT yang diserap dari lingkungan. Manfaat kedua puasa ialah menjalankan proses penyembuhan alami. Ketika puasa energi untuk mencerna makanan dialihkan ke metabolisme dan sistem imun. Pada saat yang sama, dalam tubuh kita terjadi sintesis protein yang sangat efisien dan memungkinkan tumbuhnya sel-sel dan organ-organ yang lebih sehat.
Karena produksi protein yang lebih efisien, tingkat metabolisme yang lebih lambat, dan sistem imun yang lebih baik, orang yang berpuasa memperoleh manfaat yang ketiga: awet muda dan panjang usia. HGH atau the Human Growth Hormone (hormon untuk pertumbuhan manusia) dikeluarkan lebih sering dalam keadaan berpuasa. Dalam sebuah eksperimen, cacing tanah diisolasi dan ditempatkan dalam siklus puasa dan tidak puasa - semacam satu hari puasa satu hari berbuka. Cacing itu terbukti bertahan hidup sampai 19 generasi manusia dengan karakteristik tubuh yang tetap muda. "The life-span extension of these worms was the equivalent of keeping a man alive for 600 to 700 years." kata sang peneliti. Kita kembali kepada Imam Al-Ghazali.
Kesembilan. Menahan lapar dapat mengurangi mu'nah atau dengan istilah mutakhir, dapat menyembuhkan penyakit konsumerisme. Orang yang terbiasa makan sedikit akan puas dengan kehidupan yang sederhana. Dari kebersahajaan dalam makanan, ia akan melanjutkannya ke dalam kebersahajaan dalam pakaian, rumah, kendaraan, dan hajat-hajat hidup lainnya. Sudah terbukti secara ilmiah, tetapi tetap sajatidak dipercayai orang, bahwa orang yang hidup sederhana hidup jauh lebih bahagia dari orang yang hidup mewah. Imam Al-Ghazali menulis hampir 900 tahun yang lalu seperti para ahli psikologi positif pada abad ini:
Secara singkat, penyebab kehancuran manusia ialah kerakusannya akan kesenangan dunia. Kerakusan dunia disebabkan oleh syahwat farji dan syahwat perut. Dengan mengurangi makan kita menutup pintu neraka dan membuka pintu surga, sebagaimana disabdakan Nabi Saw: "Biasakan mengetuk pintu surga dengan lapar." Jika orang sudah merasa cukup dengan makan sekadarnya, ia juga akan merasa cukup dengan keinginan-keinginan yang sekadarnya juga. Ia akan merdeka dan mandiri. Ia akan hidup tenteram. Ia akan mempunyai waktu lebih banyak untuk beribadah dan berdagang untuk hari akhirat. Ia akan termasuk, "orang yang berdagang dan jual beli tidak melalaikannya dari berdzikir kepada Allah" (QS. Al-Nur: 37).
Kesepuluh. Menahan lapar dapat memberikan kelebihan harta untuk membantu kaum lemah - fakir miskin dan anak-anak yatim. Nabi Saw bersabda: "Cahaya kearifan adalah lapar, menjauh dari Allah adalah kenyang, mendekati Allah ialah mencintai fakir dan miskin dan akrab dengan mereka. Jangan kenyangkan perutmu, nanti padam cahaya hikmah dalam hatimu."
Dalam dunia modern, manusia bekerja keras mengumpulkan uang, dan jika uang sudah terkumpul, ia lampiaskan dengan makan makanan yang enak-enak dan mahal-mahal. Betapa bisnis makanan menjadi bisnis yang tidak pernah berhenti selama 24 jam. Bisnis makanan adalah bisnis yang paling menguntungkan. Orang kaya bisa menghabiskan lebih dari Rp. 5 juta hanya untuk sekali makan malam bersama keluarganya di Restoran Jepang. Brosur-brosur dari Bank penerbit Kartu Kredit menawarkan diskon untuk makan makanan tertentu di restoran tertentu, yang meski diskon tetap saja mahal. Rata-rata biaya makan siang bagi pegawai menengah di Jakarta adalah Rp 50 ribu - Rp.100 ribu. Kalau dikalikan sebulan antara Rp. 1 juta - 2 juta. Coba tanyakan kepada mereka apa sedekahnya sebesar itu?
Terkadang bukan hanya faktor uang,tapi juga waktunya ia buang-buang untuk memburu makanan hingga ke luar negeri. Seorang buruh dengan upah minimum, menghabiskan hampir 50% penghasilannya untuk makan. Seandainya saja itu semua bisa dihemat, dan dananya disedekahkan untuk para fakir miskin, jutaan orang akan terangkat harkat kehidupannya.
Untuk itu, sambil mengutip tafsir tentang amanah yang dibebankan pada manusia, Imam Al-Ghazali menyebutkan kekayaan sebagai salah satu diantara amanah Tuhan yang harus kita pertanggungjawabkan. Manusia telah menggunakan amanah itu untuk memperkaya diri, memuaskan hawa nafsu, dan melupakan hari akhirat. "Mereka meluaskan rumah mereka dan menyempitkan kuburan mereka, menggemukkan keluarganya dan menguruskan agamanya, serta melelahkan dirinya pagi dan sore untuk mengemis kekayaan dari pintu para penguasa,". Wallahualam bissawab.
Imam Puji Hartono
No. 121
Jumat, 05 Agustus 2011
TANGAN TUHAN
Dalam suatu perjalanan menunaikan ibadah haji dalam tahun 1997, penulis bersama dengan isteri dan seorang sahabat yang juga bersama isteri, berniat melanjutkan perjalanan ziarah ke Masjidil Aqsa. Suatu kesempatan emas yang membuat kami sangat bersyukur karena berkesempatan mengunjungi tempat suci ketiga yang penting disebutkan dalam Al Quran setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, berkat bantuan seorang sahabat yang membantu menguruskan perjalanan ini.
Kami bersama sahabat juga menuju ruang tunggu untuk laki-laki dengan menunjukkan boarding pass yang kami bawa, namun petugas menolak kerena sesuai nomor penerbangan yang tertera pada boarding pass, penerbangan yang akan kami tumpangi belum saatnya masuk ke ruang tunggu. Kami menjelaskan kepada petugas disana bahwa dua orang wanita isteri kami dan sahabat telah diproses masuk ke ruang tunggu di sebelah sana. Namun petugas tidak ambil pusing, selain karena melayani penumpang yang sangat banyak, juga kerena masalah bahasa. Kami melihat dalam daftar penerbangan saat itu banyak penerbangan Air Jordan ke beberapa tujuan baik ke Asia, Timur tengah, atau negara lain, sementara suasana gedung terminal sangat ramai para calon penumpang dari berbagai macam kebangsaan.
Dengan selalu istighfar kami berjalan berputar-putar di sekitar area itu sambil memasang mata terus, dengan harapan ada petunjuk yang dapat membantu memberikan solusi. Waktu terus berjalan dan kami semakin was-was, maka sambil terus menajamkan pandangan kesegala arah, sementara dalam hati tidak lepas istighfar dan berdoa memohon petunjukNya agar memberi jalan keluar dan melancarkan urusan dan perjalanan kami, serta diberikan kepada kami kesabaran.
Tiba-tiba terlihat serombongan crew pesawat Air Jordan terdiri dari pilot dan para awak kabin melintasi pintu dimana kami berdiri, maka tanpa mensia-siakan kesempatan kami tahan sebentar dan kami sampaikan masalah kami dengan menggunakan bahasa inggris. Dengan tidak terduga pilot cepat memahami dan langsung menjawab: “baik, tunggu disini saya bantu” Singkat kata, semuanya dapat diselesaikan setelah kedua ibu tadi dijemput kembali keruang tunggu setelah duduk di kursi pesawat dengan nomor penerbangan yang lain, di mana beberapa saat kemudian pesawat tersebut berangkat menuju Thailand. Dan ternyata kami masih harus menunggu agak lama keberangkatan pesawat kami. Ahamdulillah, dengan perasaan lega kami bersyukur Allah telah memberikan pertolongan melancarkan perjalanan kami, karena kami yakin bahwa niat kami baik sejak berangkat.
Janji Allah akan mengingat hamba-Nya, terutama pada saat mengalami kesempitan, apabila ia selalu mengingat akan Allah: “Ingatlah kepada Ku, maka Aku akan mengingat kamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan jangan kufur kepada-Ku” (QS Al-Baqarah: 152).
Firman Allah dalam Hadits Qudsi: “Aku adalah menurut sangkaan hamba-Ku terhadap Aku; dan Aku akan selalu bersama dia ketika ia mengingat Aku, maka apabila ia mengingat Aku dalam dirinya, Aku akan mngingat dia dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat Aku di(tengah-tengah) orang banyak, Aku akan mengingatnya di (tengah-tengah) kelompok yang lebih baik daripada kelompok manusia tadi, dan jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta, dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan datang kepadanya dengan lari-lari.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menjaga Diri Saat Berada Dalam Perjalanan Atau Bepergian
Kalau seseorang hendak keluar rumah, karena mau bepergian, maka bacalah doa berikut ini: “Bismillaahi tawakkaltu ‘alallah, laa haula walaa quwwata illaa billaah (Dengan nama Allah aku berserah diri, tiada daya kekuatan melainkan dengan ‘pertolongan’ Allah)”.
Rasulullah Saw menerangkan, siapa saja yang membaca doa tersebut, maka dia akan dicukupi, dilindungi dan dipimpin serta diselamatkan dari gangguan syeitan. (HR Abu Daud, At-Tirmidzi dan An-Nasai, Tirmidzi berkata, hadits ini hasan shahih).
Kalau hendak bepergian, supaya keluarga dan harta yang ditinggal dirumah itu tetap dilindungi Allah, maka sebaiknya membaca do’a Safar di bawah ini: “Ya Allah , Ya Tuhanku, Engkau adalah teman dalam beperian dan menjadi penjaga keluarga; karena itu Ya Allah, Ya Tuhanku, Kawanilah aku ini dengan nasehat-Mu, dan kembaikanlah aku dengan penuh perlindungan; Ya Allah, Ya Tuhanku, Jinakkanlah bumi ini bagiku dan mudahkanlah perjalananku; ya Allah, ya Tuhanku, Aku minta perlindungan kepada-Mu dari gangguan bepergian dan kesukaran untuk kembali” Do’a ini dibaca sesudah naik di atas kendaraan." (HR Tirmidzi, Nasai, Abu Ya’la)
Dalam suatu perjalanan yang menggunakan kendaraan, baik di darat, laut maupun pesawat udara, maka pada saat itu seseorang telah menggantungkan keselamatan dirinya pada sistem dan peralatan. Dalam hal keselamatan penerbangan, maka sejak pesawat lepas landas, selama penerbangan, sampai dengan pesawat mendarat di bandara tujuan, keselamatan penerbangan ditunjang oleh Sistem Pengendali Lalu lintas penerbangan (Air Traffic Control Services), baik di bandara, di zona pengendalian disekitar bandara, maupun di area pengendalian yang lebih luas ( Area Control Service), yang pada dasarnya melaksanakan pengendalian untuk mencegah tabrakan antar pesawat dan memelihara keteraturan arus lalu lintas udara. Keselamatan didalam pesawat mengandalkan mesin dan seluruh sistem dari pesawat tersebut.
Ilmu pengetahuan dan teknologi mengantarkan manusia dapat melakukan perjalanan semakin cepat dan nyaman. Namun di balik peralatan dan sistem keselamatan yang canggih itu, ada celah-celah yang memungkinkan terjadinya kondisi di luar kendali, antara lain oleh faktor manusia (human factor) akibat kelalaian, kelelahan, atau oleh faktor alam, seperti cuaca, bencana alam dsb. Dalam hal ini kadang-kadang kita dihadapkan pada kondisi yang di mana upaya manusia menghadapi masalah sudah maksimal atau ‘menthok’, maka satu-satunya yang diharapkan adalah adanya keajaiban atau ‘tangan Tuhan’ (istilah populer penulis pinjam untuk maksud ini).
Kisah dramatis pernah dialami dari maskapai penerbangan British Airways dalam suatu penerbangan dari Singapura menuju Australia pada sekitar awal tahun delapan puluhan. Beberapa menit setelah lepas landas dari Bandar udara Singapura, pesawat mulai memasuki wilayah udara Jakarta sebagaimana diumumkan oleh pilot kepada para penumpang melalui mikropon, sambil mengucapkan ‘selamat menikmati penerbangan menuju tujuan Australia’. Mendadak pilot dikejutkan oleh matinya salah satu mesin pesawat Jumbo Boeing 747 yang terkenal canggih itu. Hal tersebut segera disusul dengan matinya mesin kedua, selanjutnya mesin ketiga, dan akhirnya keempat-empatnya mesin mati, maka pesawat dengan ratusan penumpang itu melayang dari ketinggian 30 ribu kaki di atas permukaan laut dan menunggu saat menyentuh bumi atau laut.
Kejadian dramatis beberapa menit diatas pesawat dialami pilot dan seluruh awak pesawat mengendalikan kondisi tanpa mesin dan upaya terbaik mengatasinya mengusahakan meminimalkan korban, sementara penyebab matinya mesin belum diketahui. Suasana panik dialami para penumpang meskipun awak kabin meminta tetap tenang, karena pilot akan mengusahakan langkah terbaik untuk mengatasinya. Sebagian penumpang histeris membayangkan apa yang akan terjadi, sebagian yang lain pasrah dan berdoa mohon keselamatan dari Tuhan. Petugas menara pengawas Jakarta mengikuti dengan seksama sambil mempersiapkan langkah-langkah untuk menindaklanjuti kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi sesuai prosedur penerbangan. Bagi pilot dan awak kabin serta penumpang di pesawat, keadaan tersebut seolah-olah berada pada menit-menit yang semakin dekat menjelang pesawat menyentuh bumi dan hancur berkeping-keping. Namun pilot tetap berusaha menghidupkan mesin berulang kali setelah selalu gagal, dan mengulang-ulang kembali dari proses awal.
Kejadian aneh terjadi pada menit-menit yang kritis pesawat tanpa tenaga itu, mendadak salah satu mesin berhasil dihidupkan, kemudian disusul mesin kedua, selanjutnya mesin ketiga mengikutinya sebelum keempat-empatnya mesin berhasil hidup kembali. Singkat kata pesawat berhasil mendarat darurat dengan selamat di bandar udara Halim Perdanakusumah Jakarta. Selanjutnya diketahui penyebab musibah di atas adalah akibat semburan abu vulkanik dari Gunung Galunggung yang meletus tepat pada malam penerbangan pesawat British Airways itu melewati wilayah udara Jakarta.
Sekali lagi, pada saat-saat manusia sudah tidak ada kekuatan lagi menghadapi musibah dengan upaya yang sudah maksimal namun tidak berhenti berupaya, maka hanya kehendak Allah yang menyelamatkan hamba-Nya.
Untuk itu tidaklah berkelebihan kita selalu ingat dan berdoa kepada Allah pada saat akan bepergian menggunakan kendaraan termasuk dengan pesawat udara: “Bismillaahi majriihaa wa mursaahaa inna rabbii laghafuurur rahiim / Dengan nama Allah (semoga) menyertai perjalanan dan mendaratnya (pesawat ini). Sungguh, Tuhanku, benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Hud 11: 41).
Selanjutnya kalau sudah pulang dari bepergian, sebelum masuk rumah, sempatkan dulu membaca do’a berikut ini: “Allaahumma innii as-aluka khairal mauliji wa khairal makhraji bismillaahi walajna wabismillaahi kharajnaa wa ‘alallaahu rabbinaa tawakkalna”. (Ya Allah, Ya Tuhanku, Aku memohon kepada-Mu kebaikan rumah ini dan kebaikan tempat keluar. Dengan nama Allah kami keluar, dan dengan nama Allah Tuhan kami, kami pasrah).
Semoga anda selamat dalam perjalanan dan sukses menyelesaikan maksud dan tujuan dalam bepergian, dan kembali dengan selamat ke rumah serta mendapat ridho dari Allah Swt. Amien.
No. 121