Selasa, 25 Juni 2013

WASPADA TERHADAP MUNAFIK


Allah Swt berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ ﴿٨﴾
يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ ﴿٩﴾
“Di antara manusia ada yang berkata: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS Al-Baqarah 2: 8-9).
Ayat-ayat awal surah Al-Baqarah mengemukan tiga golongan manusia ditinjau dari sikapnya terhadap keterangan dan petunjuk Allah Swt. Golongan pertama adalah orang yang bertakwa, yaitu yang beriman teguh kepada Allah dengan memenuhi segala konsekuensinya. Golongan kedua ialah orang kafir, yang sama sekali tidak percaya kepada Allah sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pengatur segala sesuatu. Ketika Rasulullah Saw menyampaikan keterangan dan petunjuk dari Allah mengenai kebenaran yang sejati, mereka tidak mau percaya sedikitpun. Bahkan ketika utusan Allah tersebut telah menyampaikan argumen dan dalil-dalil yang meopang apa yang beliau sampaikan, mereka tetap menolaknya. Golongan ketiga adalah orang-orang yang digambarkan pada ayat-ayat yang kita pampangkan di atas. Mereka disebut sebagai munafiqun - orang-orang yang culas, yang pura-pura beriman padahal kafir, pura-pura mengikuti Rasul padahal benci kepada beliau. Mereka bahkan berusaha secara sembunyi-sembunyi untuk menghancurkan kredibilitas beliau di mata pendukung dan masyarakat pada umumnya.
Munafiqun berkembang di Madinah sesudah Rasulullah Saw hijrah ke negeri tersebut. Kita mudah memahami hal itu. Ketika beliau masih bermukim di Makkah, negeri ini berada di dalam cengkeraman kekuasaan orang-orang musyrik. Mayoritas penduduk, apalagi para pemimpinnya adalah penyembah berhala, yang tentu saja tidak menyukai ajaran Rasul yang bersendikan tauhidullah. Maka orang-orang kafir tidak perlu pura-pura beriman. Mereka leluasa menyatakan penolakannya kepada agama yang bertentangan dengan keyakinan banyak orang. Mereka bahkan bebas mengejek dan mencemooh agama itu beserta orang yang menyampaikannya, Muhammad Saw. Kondisi berbeda terdapat di Yatsrib - kota yang kemudian berganti namanya menjadi Madinatur Rasul (kotanya Rasul) atau Madinah al-Munawwarah (kota yang menerangi dunia dengan cahaya Islam).
Sebelum Muhammad Saw hijrahpun, telah banyak orang Madinah yang masuk Islam, termasuk para pemimpin dari dua suku paling besar, yaitu Aus dan Khazraj. Ketika datang mengunjungi Ka'bah sebagai kebiasaan ritual bangsa Arab, mereka bertemu langsung dengan Muhammad dan menerima keterangan tentang dasar-dasar iman dan ibadah. Mereka sangat tertarik sehingga di tahun berikutnya secara khusus tetapi diam-diam mereka menyatakan ikrarnya untuk beriman dan melaksanakan ketetapan-ketetapan Allah Swt. Bahkan mereka bersedia menerima saudara-saudara seiman dari Makkah sekiranya mereka meninggalkan kota Makkah yang menghalangi kemerdekaan beribadah itu, untuk menjalani kehidupan baru yang bebas di Yatsrib. Maka kaum Mukminin yang tertindas di Makkah secara berangsur-angsur pindah ke Yatsrib. Akhirnya atas perintah Allah, Nabi Muhammad Saw pribadi hijrah ke negeri tersebut, kemudian dua suku terbesar yaitu Aus dan Khazraj menobatkan beliau sebagai pemimpin tertinggi Madinah.
Perubahan tersebut sudah tentu tidak diinginkan oleh sebagian orang Madinah yang masih menyembah berhala. Mereka ingin sekali agar masyarakat kembali menganut keyakinan terdahulu, dan menjalani kehidupan yang dalam anggapan mereka ‘penuh warna; bebas menenggak minuman keras, berjudi dan berzina. Ajaran Muhammad yang pendatang itu - dalam pandangan mereka - telah menyingkirkan kesenangan-kesenangan yang telah mereka rasakan sejak dahulu. Orang-orang yang sebelum itu menjadi tokoh yang disegani, yang selalu menjadi tempat bertanya, dan yang menjadi pemutus semua masalah masyarakat, kehilangan pengaruh dan kekuasaannya. Arah kepatuhan berpindah, dari mereka kepada Muhammad.
Tetapi berbeda dengan tokoh-tokoh Kafirin Makkah, para pembesar Madinah itu tidak berani menentang Muhammad Saw secara terbuka. Maka merekapun pura-pura beriman, berlagak seperti orang-orang yang rajin menunaikan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, tidak mabuk-mabukan, tidak berjudi, dan sebagainya. QS Al-Baqarah 2: 14 menggambarkan keadaan orang-orang Munafik itu: “Dan bila berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syeitan-syeitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok belaka."
Eksistensi kaum culas ini sangat membahayakan kaum Muslimin. Orang-orang kafir sama pendiriannya dengan mereka, yaitu memusuhi Islam dan para penganutnya. Tetapi kaum ini menyatakan pendiriannya secara terang-terangan, sehingga jelas sosok dan keberadaannya. Sedangkan orang-orang Munafik berada di tengah-tengah kaum beriman. Secara sembunyi-sembunyi mereka senantiasa berusaha untuk mengembangkan situasi yang kondusif baginya untuk beraksi menentang Islam. Mereka tidak segan-segan menohok kawan seiring dan menggunting dalam lipatan. Sejarah mencatat, kaum ini pernah mendirikan sebuah masjid di luar masjid Nabi, dengan alasan membantu orang-orang yang tinggal jauh dari pusat kota untuk berjama'ah shalat lima waktu. Padahal mereka membangun masjid tersebut sebagai base camp dalam melawan Rasulullah, sekaligus membelokkan hati orang-orang yang beriman, yang shalat dan shaum, agar pendiriannya berlawanan dengan Rasul beserta para sahabat beliau.
Siasat mereka memang lahir dari pikiran yang cerdik. Tetapi Allah Swt Yang Maha bijaksana tentu tahu apa yang ada dalam hati mereka. Maka pada suatu ketika Dia memerintahkan Rasul-Nya untuk menghancurkan masjid tersebut, yang disebut oleh para ulama sebagai sebagai masjid dzirar - masjid penyesat. Mengenai hal ini Al-Quran berkomentar keras: "Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam?" (QS  At-Taubah 9: 109).
Pada waktu yang lain, tokoh Munafiqun Madinah yang bernama Abdullah bin Ubay melancarkan taktik berbeda. Dia ikut dalam pertempuran yang berlangsung di luar Madinah. Dalam perjalanan pulang dia menghadapkan dua kelompok Muslimin Madinah yaitu Muhajirin - kaum pendatang dari Makkah, dengan Anshar - penduduk asli Madinah. Menggunakan sentimen kesukuan, dia mengobarkan perselisihan di antara keduanya, dan dengan kelicikannya usaha itu hampir berhasil. Tetapi pada saat yang tepat Rasulullah Saw datang dan menyelesaikan perselisihan tersebut dengan cepat. Maka ketahuanlah pada saat itu siapa yang mendalangi keonaran. Mungkin karena mengira pasti berhasil, Abdullah bin Ubay yang biasanya menyembunyikan identitasnya dan mengipas-ngipas membesarkan api pertengkaran dari kejauhan, sekarang tampil secara pribadi di muka umum. Karena itu dengan mudah diketahui siapa yang berulah. Abdullah bin Ubay diputuskan untuk diusir dari Madinah. Dia berkelana ke mana-mana karena tentu sulit bagi dia pada masa tersebut untuk mencari tempat tinggal yang baru. Kawasan kaum Muslimin sudah sangat luas, dan semua orang dengan cepat menjadi tahu apa yang telah dilakukan Abdullah bin Ubay.
Munafiqun dan sifat culasnya jelas tidak hanya ada pada masa Rasulullah Saw. Kaum ini berada di semua kawasan dan setiap zaman, terutama ketika orang-orang beriman menjadi kelompok mayoritas. Karena itu Allah Swt menurunkan keterangan serta petunjuk, untuk setiap orang yang beriman agar menjaga diri dari sifat buruk tersebut, dan untuk segenap masyarakat agar dapat menjaga anggotanya sehingga tidak bersikap dan berbuat sesuatu yang hanya akan menimbulkan penyesalan mendalam di kemudian hari.
Tentang hal yang terakhir ini Rasulullah Saw bersabda: "Tolonglah saudaramu (seiman), yang aniaya maupun yang dianiaya." Sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah kami tahu bagaimana menolong yang dianiaya. Tetapi bagaimana kami menolong orang yang aniaya?". Beliau menjawab: "Dengan menahan tangannya (dari melakukan perbuatan aniaya itu)."
Al-Qur’an banyak memberi gambaran tentang kaum Munafiqun; ayat-ayat mengenai mereka terdapat di 27 tempat. Bahkan surah yang ditempatkan dalam urutan ke 63 dinamai Al-Munafiqun. Ayat 1 s/d 8 menerangkan sifat-sifat orang yang culas, dan ayat 9 s/d 11 menyampaikan peringatan bagi kaum Mukminin agar waspada terhadap ulah mereka. Surah 63 ini menerangkan antara lain bahwa Munafiqun itu tidak lebih dari pendusta belaka. Dalam mengemukakan kedustaan itu mereka tidak segan-segan mengucapkan sumpah, dengan menyebut Nama Allah pula, sebagai perisai untuk meyakinkan kaum Mukminin bahwa apa yang mereka katakan itu tidak lain kecuali kebenaran. Allah Swt memperingatkan para pengikut Rasulullah Saw agar jangan tertarik hati ketika melihat tindak tanduk mereka yang penuh gaya, atraktif, dan mengesankan. Mereka hanyalah orang kafir yang mengajak siapapun untuk menjadi kafir seperti dirinya. (QS An-Nisaa’ 4: 89). Mereka termasuk orang-orang fasik, orang-orang yang bergelimang dosa. (QS At-Taubah 9: 67). Maka barangsiapa mengikuti kaum Munafik, akan dimasukkan Allah ke dalam golongan mereka. (Al-Hadits).
Untuk memperjelas sosok kaum Munafiqun tersebut Rasulullah Saw memberikan keterangan: "Tanda-tanda orang Munafik itu tiga. Bila berbicara dusta, bila berjanji mungkir, dan bila dipercaya khianat". (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasai, At-Tirmidzi). Apapun yang mereka lakukan, bila kaum Mukminin waspada, perbuatan mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. Ayat 9 QS Al-Baqarah 2 yang kita jadikan pangkal bagi pembicaraan kita menyatakan: "Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar."
Sakib Machmud
No. 189

Sabtu, 15 Juni 2013

KETIKA SHALAT DITETAPKAN MENJADI SENDI AGAMA


Matahari sudah meninggi di langit tepat di atas kepala, menentang seluruh permukaan bumi. Para petani yang sedang mencangkul di sawah masih bersimbah peluh, semangat masih terpancar di wajah mereka untuk menyelesaikan pekerjaan menanam padi. Sesaat terdengar suara adzan dari masjid mengingatkan waktu shalat dhuhur telah tiba. Petani meletakkan cangkul dan peralatannya, mengayunkan langkah menuju masjid untuk menghadap Allah Swt.
Seorang pengantar pos di desa mengendarai sepeda motornya melintasi jalan setapak di antara sawah dan dusun. Tas terpal berisi surat-surat yang harus diantarkan kepada si alamat masih banyak belum tersampaikan. Terdengar olehnya suara adzan dari masjid dan surau di desa itu mengingatkannya bahwa waktu dhuhur telah tiba. Segera  diarahkan sepeda motornya menuju surau terdekat untuk melaksanakan kewajiban menghadap Allah Swt 
Sementara itu, dalam kesibukan di sebuah grosir pasar tradisional para pedagang sayur dan kebutuhan sehari-hari rumah tangga masih sibuk mengatur barang dagangan dan melayani pembeli. Suara adzan menghimbau dari masjid pasar yang berada  di loteng atas bangunan pasar tersebut. Pedagang-pedagang berhenti sejenak dan menaruh barang-barang dagangannya dan melangkahkan kaki menuju masjid untuk menunaikan shalat. Beberapa pedagang bergantian meninggalkan lapak karena memang perlu dijaga bergantian.
Pegawai-pegawai suatu kantor mendengar suara adzan dari radio monitor dan ponselnya, segera menyempatkan sejenak menghadap Allah Swt menunaikan shalat dhuhur secara bergantian di musholla yang dibangun di area kawasan kantor tersebut.
Subhanallah, demikian suasana berlangsung terus menerus dan berkelanjutan di atas bumi ini, yang tidak henti-hentinya suara adzan menyerukan ummat beriman di muka bumi untuk menunaikan shalat, menghadap dan mengagungkan Allah Swt.
Shalat Sebagai Sendi Agama
Shalat diwajibkan Allah kepada setiap orang beriman, karena Allah memerintahkannya melalui berbagai ayat dalam Al-Qur’an. Allah Swt berfirman: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS An-Nisaa’ 4: 103).
Di antara hikmah disyariatkannya shalat adalah bagaimana membersihkan dan menyucikan jiwa, sebagai media bagi hamba untuk bermunajat (menyampaikan bisikan hatinya) kepada Allah Swt di dunia, dan untuk membuat dirinya dapat berdampingan dengan Allah di akhirat. Sebagaimana shalat juga merupakan media untuk mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Ankabuut 29: 45).
Keutamaan shalat juga ditunjukkan Rasulullah sebagaimana dalam hadits Nabi Saw sebagai berikut: “Pokok segala urusan adalah Islam. Tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR Muslim)
Tingginya nilai shalat lima waktu juga tercermin dari keutamaannya, sebagaimana dalam sebuah dialog Rasulullah Saw dengan para sahabatnya, beliau bertanya: “Bagaimana menurut kalian jika ada sebuah sungai di depan pintu seorang di antara kalian,  yang di sana ia dapat mandi lima kali dalam sehari, apa yang akan kalian katakan? Apakah masih tersisa kotoran di badannya?” Mereka menjawab: “Tidak ada kotoran yang tersisa”  Nabi bersabda: “Demikianlah permasalahan shalat lma waktu, dengannya Allah akan menghapus segala dosa sebagaimana air menghilangkan segala kotoran.” (HR Imam Ahmad dan Muslim). 
Begitu pentingnya shalat bagi setiap orang beriman, sehingga perintah melaksanakan shalat diberikan Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad Saw di tempat yang lebih atas dari langit ke tujuh. Perintah shalat itu telah diberikan Allah dalam suatu peristiwa besar sepanjang sejarah ummat manusia, yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Tentunya hal ini menunjukkan urgensi dan tingginya nilai shalat, karenanya tidak seorangpun yang boleh menyia-nyiakan shalatnya.
Isra’ dan Mi’raj
Beberapa waktu yang lalu kita baru saja memperingati peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Isra’ berarti berangkat pada tengah malam, dan Mi’raj artinya tempat berpijak Nabi Muhammad Saw naik ke atas, untuk bertemu Yang Maha Suci Allah Swt. Beliau naik ke atas melalui tujuh lapisan langit, karena beliau dipanggil untuk menghadap Allah Swt.
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Israa’ 17: 1)  
Malam itu tanggal 27 Rajab, Allah Swt memerintahkan malaikat Jibril yang mengurus langit, agar bulan bersinar lebih terang dari biasanya, dengan cara matahari memberikan sinar yang lebih dan menyinari bulannya. Agar malam menjadi terang benderang yang menandakan bahwa malam itu adalah malam yang penting dan diistimewakan oleh Allah Swt. Malaikat Jibril telah diperintahkan oleh Allah untuk menjemput Nabi Muhammad Saw melalui tujuh lapisan langit untuk dihadapkan ke hadapan Allah Swt.
Malam itu Nabi Muhammad Saw sedang tidur nyenyak, ketika bertemu dengan malaikat Jibril dengan membawa seekor Buraq, binatang yang konon menyerupai kuda tapi kepala dan mukanya menyerupai manusia, bisu dan tidak bisa berbicara. Beliau diajak terbang dengan mengendarai buraq. Dengan berkendaraan buraq itu beliau terbang sangat cepat, dan hanya dalam waktu sekejap Masjidil Haram di kota Mekah sudah tidak tampak lagi, dan tidak lama kemudian tiba di Masjidil Aqsha di Jerusalem.
Setelah Nabi Muhammad Saw turun dari Buraq, tidak lama kemudian datang seorang laki-laki dengan membawa dua macam minuman dalam dua buah tempat, yang satu berisi air susu dan yang lainnya berisi anggur, dan beliau diminta memilih diantara dua. Nabi Muhammad Saw pun mengambil tempat yang berisi air susu dan kemudian meminumnya. Malaikat Jibril yang selama ini mendampingi beliau, membenarkan apa yang dilakukan Nabi memilih air susu. “Kalau engkau ya Nabi salah pilih, yaitu memilih anggur, tentu ummatmu juga akan salah pilih”. kata Jibril menjelaskan.
Kemudian Nabi berangkat dari Baitul Maqdis melewati sebuah tempat di mana terdapat batu karang Sakhra, yaitu suatu tempat berdoa yang dimuliakan oleh orang-orang beriman. Tempat ini sekarang berdiri sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Umar.
Selanjutnya, oleh malaikat Jibril Nabi Muhammad Saw didampingi menaiki tangga Mi’raj untuk menghadap Allah Swt. Tujuh langit, sudah dilewati, maka sampailah Nabi pada suatu tempat. Di sana Nabi Muhammad Saw bertemu dengan para Nabi terdahulu; yaitu Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, dan Nabi Isa As di Surga, yang digambarkan sebagai tempat  dengan kebun yang indah, pohon-pohon yang teduh, dan menyebarkan wewangian. Beliau juga melihat api yang sangat besar, inilah yang disebut neraka tempat bagi orang-orang yang berdosa dan membelakangi Allah Swt.
Setelah melewati langit ketujuh, kemudian terdengan suara ucapan kalam Lauh al Mahfudz, yang di dalamnya dituliskan skenario seluruh perjalanan manusia dari awal sampai akhir hidupnya. Lauh al Mahfudz adalah suatu tempat di Bait al-Ma`mur, berada langsung di bawah Arasy, di langit ketujuh, di mana Allah memerintahkan untuk menuliskan ‘semua yang bakal ada dan terjadi’, yaitu tentang segala sesuatu dan seluruh apa yang diciptakan-Nya sampai pada hari pembalasan. Jadi semua yang akan ada tertulis  di Lauh al-Mahfudz, apapun sesuatu yang  terjadi, atau  akan ada, kecil atau besar, dituliskan di sana, dikualifikasi dan dicacah dengan pasti  dengan disertai  rincian kapan dan di mana akan ada dan kapan akan dihancurkan. Tidak akan ada perubahan terhadap apa yang telah tertulis, kecuali jika Allah menghendaki, yang memiliki kekuatan untuk menghapus.
Pada waktu itu para malaikat beramai-ramai mengeluarkan pujian-pujian dan shalawat bagi Nabi Muhammad yang baru datang. Nabi yang dikasihi Allah Swt, mendapat rahmat dari Allah Swt untuk dapat bertemu dengan Allah Swt. Akhirnya Nabi sampai dan melihat Sidrat’ul Muntaha, suatu pohon yang besar, tempat yang tertinggi dicapai oleh Rasul. Kemudian malaikat Jibril berkata  kepada Rasulullah Swt: “Sekarang kita berpisah. Di sini batas saya mengantarmu, Ya Nabi. Ini batas apa yang harus diketahui, apa yang harus dijalani, sedangkan engkau adalah raja dari segala Rasul yang dikasihi Allah Swt, silahkan meneruskan perjalanan sampai selesaikan apa yang engkau harus capai.”
Nabi Muhammad Saw berjalan sendirian menempuh berbagai alam gaib menuju tempat Allah Swt. Tempat yang tidak akan dapat dipikirkan dan tidak akan terkejar oleh akal, dan mata lahiriyah pun tidak akan sampai mencapainya.
Allah memerintahkan agar Nabi Muhammad Saw mendekati Kursi Jibril, suatu tempat yang sangat tinggi sebagaimana dalam ayat: “Sedang dia (Jibril) berada di kaki langit yang tinggi. Lalu (Jibril) mendekat (kepadaRasul), lalu semakin tambah dekat. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).” (QS An-Najm  53: 7-9)
Kemudian Allah Swt Yang Maha Agung membuka Basirah Muhammad, yaitu batinnya yang melihat. Maha Agung, Maha Suci mengasihi Nabi Muhammad Saw, memberikan nasihat-nasihat untuk tidak pernah melupakan kepada Allah.
Perintah dari Allah Swt yang harus  dilaksanakan berupa shalat sebanyak lima puluh kali sehari semalam sebagai wujud rasa syukur dan sujud kepada Allah Swt.
Selesai mengadap Allah, Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Nabi Musa As, dan beliau bertanya: “Muhammad Nabi yang Utama, apa yang Allah perintakan perkara bakti kepada Allah Swt?”. Nabi Muhammad Saw menjawab: “Perintah untuk shalat 50 kali sehari semalam bagi semua orang mukmin.” “Hai, Nabi yang paling diutamakan.” Kata Nabi Musa As, “Sebaiknya kamu, Muhammad kembali menghadap kepada Allah Swt. Kamu harus memberitahukan bahwa shalat 50 kali sehari semalam sangat memberatkan dan tidak ada tenaga lagi, apalagi bagi mereka yang baru masuk Islam, sehingga dapat menimbulkan keenganan.”
Rasulullah tidak merasa bosan untuk bolak-balik menyampaikan permohonan keringanan. Akhirnya Allah Swt mengabulkan permohnan beliau, yaitu shalat yang paling ringan yaitu 5  waktu. Jadi perintah shalat yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam, untuk menyatakan rasa syukur dan tunduk kepada Allah Swt namun dengan pahala yang tidak berkurang. Allah Swt berfirman: ▪ “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS An-Nisaa’ 4: 28). ▪ “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”  (QS Thaahaa  20: 132).
Hikmah Peristiwa Isra’ Dan Mi’raj
Bagi kita ummat di zaman ini, kiranya dapat memetik banyak hikmah dari peristiwa besar Isra’ dan Mi’raj ini, di antaranya;
  1. Tingginya nilai shalat lima waktu. Hikmah dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang terpenting adalah diwajibkannya shalat lima waktu, melalui perintah Allah yang disampaikan secara langsung di tempat yang lebih tinggi dari langit ke tujuh.
  2. Melalui peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah meneguhkan hati Rasul-Nya, apalagi dalam peristiwa itu banyak ditunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Hikmah bagi kita terutama bagi orang-orang yang berdakwah di jalan Allah, dapat meneguhkan iman dan menambah percaya dan kita meyakini bahwa pertolongan Allah itu benar ada, karena Allah adalah Maha Kuasa atas segala apapun. Dia menolong Rasul-Nya dan akan menolong orang-orang yang berjuang untuk agamanya.
  3. Isra’ dan Mi’raj menjadi ujian keimanan bagi setiap mukmin.  Peristiwa ini sungguh tidak dapat dicerna akal manusia, bagaimana mungkin seseorang dapat berpergian secepat kilat menuju tempat yang amat jauh, bahkan sampai di atas langit ke tujuh, ditempuh hanya dalam satu malam? Hanya orang yang beriman dapat menerimanya karena percaya atas kebesaran dan kekuasan Allah Swt. Hal tersebut dicontohkan oleh sahabat Nabi yaitu Abu Bakar Shiddiq yang langsung membenarkan Rasulullah, ketika banyak orang yang meragukan ikhwal perjalanan Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Saw.
Demikianlah, sekelumit riwayat mengingatkan kita akan peritiwa besar Isra’ dan Mi’raj, khususnya bagi ummat Islam, sekaligus memberikan hikmah dan menambah keimanan kita. Amien.
Mohammad Kamal
No. 188

Rabu, 05 Juni 2013

DZIKRULLAH, AKTIVITAS YANG MENENTERAMKAN HATI


Allah Swt berfirman:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴿٢٨﴾
“(Orang yang Allah memberinya petunjuk yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra'd 13: 28).
Ayat yang ditulis di atas pada hakikatnya merupakan seruan kepada manusia agar dzikrullah - mengingat Allah, karena hal itu sangat baik bagi dirinya. Dzikrullah bukan hanya ingat bahwa Allah itu ada, tetapi bahwa Dia dan hanya Dia saja yang mencipta segala sesuatu, yang mengatur semua ciptaan-Nya itu dengan sempurna, yang melindungi, memelihara, mewujudkan interaksi tiap-tiap makhluk di alam raya ini sehingga membentuk harmoni. Ingatan yang demikian itu baik bagi pengingatnya yaitu orang yang beriman, karena dengan itu tenteramlah hatinya. Orang yang hatinya tenteram akan mampu berpikir jernih, sehingga dia membentuk dinamika yang baik di alam dunia, dan berbahagia kelak di alam akhirat. "Eknsiklopedi Islam" merumuskan dzikrullah itu sebagai: ucapan lisan, gerakan raga, maupun getaran jiwa sesuai dengan cara-cara yang diajarkan agama, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Seorang ulama dan tokoh Tasauf Mesir Ibnu Ata (1250-1309 M) menulis di dalam bukunya ‘Al-Hikam’, Dzikrullah terdiri atas tiga kelompok, yaitu dzikir jali - dzikir yang nyata, dzikir khafi - dzikir samara-samar, dan dzikir haqiqi - dzikir yang sebenar-benarnya. Ketiga kelompok tersebut berurutan menurut tingkat kemampuan manusia. Tingkat dasar adalah dzikir jali, pertengahannya dzikir khafi dan yang paling tinggi dzikir haqiqi.
Menurut ibnu Ata dzikir jali adalah mengingat Allah secara nyata dan dapat disaksikan oleh semua orang, yaitu dengan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah - kalimat-kalimat yang baik. Yang dimaksud adalah Tahlil - membaca kalimat La ilaha illallah - tidak ada Tuhan selain Allah, Tasbih -  membaca kalimat Subhannallah - Mahasuci Allah dari kesalahan, kekurangan dan kelemahan, Takbir - membaca kalimat Allahu Akbar - Allah yang Mahabesar, Tahmid - mengucapkan kalimat Alhamdulillah - segala puji bagi Allah, dan sebagainya.
Dzikir khafi adalah ingatan hati yang khusyu' kepada Allah Swt, baik disertai dengan mengucapkan kalimat tertentu maupun tidak. Orang yang mencapai tingkatan ini merasakan kedekatan diri dengan Allah karena selalu berhubungan dengan Allah Swt. Dia menghayati eksistensi Allah di manapun dia berada, dan dalam kondisi apapun juga: ketika sehat maupun sakit, sedang sibuk maupun santai, dalam keadaan sendiri maupun bersama orang-orang lain. Dalam dunia tasauf ada ungkapan, seorang sufi ketika melihat sesuatu yang dilihatnya adalah Allah. Tatkala memandang matahari misalnya, yang dia rasakan adalah keagungan Allah yang mencipta matahari itu dan yang mengatur sehingga benda angkasa tersebut memancarkan energi sebesar 389 juta miliar miliar watt setiap detik. Tatkala mendengarkan kemercik air, yang dia tangkap di hatinya adalah kebesaran Allah yang mengatur air untuk berkumpul lalu bergerak dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.
Dzikir haqiqi adalah ingatan seseorang yang senantiasa tertuju kepada Allah Swt. Orang yang telah mencapai tingkat tertinggi ini jasmani dan rohaninya senantiasa dan serentak berdzikir kepada Allah, kapanpun dan di manapun. Lisannya bergerak untuk mengucapkan puja-puji kepada Allah, hatinya bersikap tunduk dan patuh seutuhnya kepada Allah, dan jasmaninya mengerjakan segala perintah Allah serta menegakkan ketetapan-ketetapan Allah di dalam dirinya sendiri, keluarganya dan masyarakat lingkungannya, sejauh dapat dia capai. Menurut Ibnu Ata, tingkatan dzikir haqiqi ini akan diperoleh seseorang dengan melewati tingkatan-tingkatan sebelumnya yaitu dzikir jali dan dzikir khafi. Maka orang yang mendapatkannya, sebagaimana yang dikemukakan pada QS Ar-Ra'd: 28, akan memperoleh ketenteraman yang sejati, dan ketenteraman itu merupakan gerbang masuk bagi kebahagiaan.
Dzikir dengan ucapan, meskipun oleh para sufi dianggap sebagai dzikir tingkat pertama, dikemukakan sebagai seruan di dalam Al-Qur’an dan diajarkan serta dicontohkan pelaksanaannya oleh Nabi Muhammad Saw. QS Al-Ahzaab 33: 41-42 menyatakan: "Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang". Perintah serupa dinyatakan pula pada surah Ali 'Imran 3: 41. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dikemukakan sabda Rasulullah: "Sebaik-baik ucapan saya dan juga para Nabi sebelum saya adalah kalimat La ilaha illallah". Pada kesempatan lain beliau menyatakan: "Barangsiapa mengucapkan kalimat: La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, dan bagi-Nya segala pujian, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) seratus kali setiap harinya, pahalanya sama dengan memerdekakan sepuluh orang budak, dituliskan baginya seratus kebajikan, dihapuskan dari catatan amalnya seratus keburukan, dan dia pada hari itu terpelihara dari godaan syaitan." seratus kali setiap harinya, pahalanya sama dengan memerdekakan sepuluh orang budak, dituliskan baginya seratus kebajikan, dihapuskan dari catatan amalnya seratus keburukan, dan dia pada hari itu terpelihara dari godaan syaitan". (HR Muslim). Dari hadits lain dari periwayat yang sama dinukilkan sabda Rasulullah: "Ucapan yang paling disukai Allah ada empat, yaitu Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar."  
Tatacara dzikrullah yang paling efektif adalah shalat, terutama shalat fardhu yang lima waktu. QS Thaahaa 20: 14 menyatakan: "Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." QS Al-'Ankabuut 29: 45 menegaskan: "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (dengan shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Demikian pentingnya shalat wajib lima waktu ini sehingga untuk menerima perintah tersebut Rasulullah Saw diperjalankan dari Makkah al-Mukaromah ke Baitul Maqdis kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Hadits riwayat Ahmad, An-Nasai dan At-Tirmidzi menceriterakan, mula-mula Allah mensyariatkan ummat Muhammad Saw menunaikan waktu lima puluh kali sehari, kemudian dikurangi dan dikurangi sehingga menjadi lima. Maka Allah berfirman kepada Rasul-Nya tersebut: "Hai Muhammad, putusan-Ku tidak dapat diubah lagi. Dengan shalat lima waktu ini engkau tetap memperoleh pahala lima puluh kali". Keterangan ini merupakan isyarat bahwa dengan banyaknya karunia yang dianugerahkan Allah kepada manusia, sepantasnya orang mendirikan shalat lima puluh kali sehari. Tetapi karena rahmah Allah yang agung, kewajiban bagi umat Muhammad hanya lima kali saja, dan bagi yang melaksanakannya Allah tetap memberi karunia yang sangat besar, sepadan dengan shalat lima puluh kali.”
Kita telah mengemukakan keterangan Al-Qur’an bahwa shalat merupakan tatacara mengingat Allah yang pokok. Konsekuensinya, bila orang mengaku beriman tetapi tidak menunaikan shalat, imannya itu tanpa bukti. Sehubungan dengan ini Rasulullah Saw bersabda: "Amal yang pertama-tama dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, baik pulalah seluruh amalnya yang lain, sebaliknya bila shalatnya buruk, maka buruk pulalah semua amal lainnya". (HR Ath-Thabrani). Beliau menerangkan pula: "Sungguh ikatan seseorang dengan Islam itu akan lepas satu demi satu. Maka setiap kali sebuah ikatan itu lepas dia bergantung kepada ikatan yang lain. Ikatan yang pertama lepas adalah menegakkan hukum, dan yang terakhir ialah shalat" (HR Ibnu Hibban). Kita memahami dari pernyataan Rasul tersebut bahwa kalau seseorang tidak lagi menunaikan shalat maka dia melepaskan diri dari ikatan Islam.
Allah Swt menurunkan kewajiban shalat itu bukan untuk membebani manusia, tetapi justru sebuah rahmah bagi mereka. Dengan menunaikan shalat orang mengingat Allah dengan ingatan yang sangat kuat, berkomunikasi kepada Allah dengan komunikasi yang sangat indah; maka hasilnya sebagaimana telah diterangkan oleh Allah sendiri: ketenteraman jiwa yang membahagiakannya di dunia, karena menyingkirkannya dari rasa resah dan gelisah (QS Al-Ma'arij 70: 19-22). Shalat juga melindungi manusia dari dorongan nafsu melebihi batas yang menyebabkan kejahatan dan kemungkaran (QS Al-'Ankabuut 29: 45). Maka dia akan menjadi pewaris Firdaus dan berada di surga itu untuk selama-lamanya. (QS Al-Mukminun 23: 1-2 dan 9-11).
Tetapi shalat yang menjamin kenikmatan dunia dan akhirat itu adalah shalat yang khusyu' karena dilakukan dengan sepenuh hati. Orang-orang yang shalat tanpa perhatian dan tanpa memahami maknanya, tidak akan memperoleh apa-apa dari shalatnya itu. Bahkan lebih jauh lagi, Allah Swt menandaskan: "Celakalah orang yang shalat. Yaitu yang lalai mengenai shalatnya". (QS Al-Ma'un 107: 4-5). Karena itu kita harus berusaha dan terus berusaha untuk meningkatkan kualitas shalat kita sebagai tatacara yang paling baik di dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah Swt. Semoga Allah berkenan untuk menolong usaha kita tersebut, sehingga kita termasuk hamba-hamba yang Dia ridhai. Aamin ya Rabbal 'aalamin.
Sakib Machmud
No. 187