Allah Swt berfirman:
الَّذِينَ
آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ
تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴿٢٨﴾
“(Orang
yang Allah memberinya petunjuk yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah
hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra'd 13: 28).
Ayat yang ditulis di atas pada hakikatnya
merupakan seruan kepada manusia agar dzikrullah -
mengingat Allah, karena hal itu sangat baik bagi dirinya. Dzikrullah bukan
hanya ingat bahwa Allah itu ada, tetapi bahwa Dia dan hanya Dia saja yang
mencipta segala sesuatu, yang mengatur semua ciptaan-Nya itu dengan sempurna,
yang melindungi, memelihara, mewujudkan interaksi tiap-tiap makhluk di alam
raya ini sehingga membentuk harmoni. Ingatan yang demikian itu baik bagi
pengingatnya yaitu orang yang beriman, karena dengan itu tenteramlah hatinya. Orang
yang hatinya tenteram akan mampu berpikir jernih, sehingga dia membentuk
dinamika yang baik di alam dunia, dan berbahagia kelak di alam akhirat. "Eknsiklopedi
Islam" merumuskan dzikrullah itu sebagai: ucapan lisan, gerakan raga,
maupun getaran jiwa sesuai dengan cara-cara yang diajarkan agama, dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Seorang ulama dan tokoh Tasauf Mesir Ibnu Ata
(1250-1309 M) menulis di dalam bukunya ‘Al-Hikam’,
Dzikrullah terdiri atas tiga kelompok, yaitu dzikir jali -
dzikir yang nyata, dzikir khafi - dzikir
samara-samar, dan dzikir haqiqi - dzikir
yang sebenar-benarnya. Ketiga kelompok tersebut berurutan menurut tingkat
kemampuan manusia. Tingkat dasar adalah dzikir jali, pertengahannya dzikir
khafi dan yang paling tinggi dzikir haqiqi.
Menurut ibnu Ata dzikir jali adalah
mengingat Allah secara nyata dan dapat disaksikan oleh semua orang, yaitu dengan
mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah - kalimat-kalimat yang baik. Yang
dimaksud adalah Tahlil - membaca kalimat La ilaha illallah -
tidak ada Tuhan selain Allah, Tasbih -
membaca kalimat Subhannallah - Mahasuci Allah dari kesalahan,
kekurangan dan kelemahan, Takbir - membaca kalimat Allahu Akbar -
Allah yang Mahabesar, Tahmid - mengucapkan kalimat Alhamdulillah -
segala puji bagi Allah, dan sebagainya.
Dzikir khafi adalah ingatan hati
yang khusyu' kepada Allah Swt, baik disertai dengan mengucapkan kalimat
tertentu maupun tidak. Orang yang mencapai tingkatan ini merasakan kedekatan
diri dengan Allah karena selalu berhubungan dengan Allah Swt. Dia menghayati
eksistensi Allah di manapun dia berada, dan dalam kondisi apapun juga: ketika
sehat maupun sakit, sedang sibuk maupun santai, dalam keadaan sendiri maupun
bersama orang-orang lain. Dalam dunia tasauf ada ungkapan, seorang sufi ketika
melihat sesuatu yang dilihatnya adalah Allah. Tatkala memandang matahari
misalnya, yang dia rasakan adalah keagungan Allah yang mencipta matahari itu
dan yang mengatur sehingga benda angkasa tersebut memancarkan energi sebesar
389 juta miliar miliar watt setiap detik. Tatkala mendengarkan kemercik air,
yang dia tangkap di hatinya adalah kebesaran Allah yang mengatur air untuk
berkumpul lalu bergerak dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.
Dzikir haqiqi adalah ingatan
seseorang yang senantiasa tertuju kepada Allah Swt. Orang yang telah mencapai
tingkat tertinggi ini jasmani dan rohaninya senantiasa dan serentak berdzikir
kepada Allah, kapanpun dan di manapun. Lisannya bergerak untuk mengucapkan
puja-puji kepada Allah, hatinya bersikap tunduk dan patuh seutuhnya kepada
Allah, dan jasmaninya mengerjakan segala perintah Allah serta menegakkan
ketetapan-ketetapan Allah di dalam dirinya sendiri, keluarganya dan masyarakat
lingkungannya, sejauh dapat dia capai. Menurut Ibnu Ata, tingkatan dzikir
haqiqi ini akan diperoleh seseorang dengan melewati tingkatan-tingkatan
sebelumnya yaitu dzikir jali dan dzikir khafi. Maka orang yang mendapatkannya,
sebagaimana yang dikemukakan pada QS Ar-Ra'd: 28,
akan memperoleh ketenteraman yang sejati, dan ketenteraman itu merupakan
gerbang masuk bagi kebahagiaan.
Dzikir dengan ucapan, meskipun oleh para sufi
dianggap sebagai dzikir tingkat pertama, dikemukakan sebagai seruan di dalam
Al-Qur’an dan diajarkan serta dicontohkan
pelaksanaannya oleh Nabi Muhammad Saw. QS Al-Ahzaab
33: 41-42
menyatakan: "Hai orang-orang yang
beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang
sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan
petang". Perintah serupa dinyatakan pula
pada surah Ali 'Imran 3: 41. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dikemukakan
sabda Rasulullah: "Sebaik-baik ucapan saya dan juga para Nabi sebelum
saya adalah kalimat La ilaha illallah". Pada kesempatan lain beliau menyatakan:
"Barangsiapa mengucapkan kalimat: La ilaha illallahu wahdahu la syarika
lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah, tiada
sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, dan bagi-Nya segala pujian, Dia
menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) seratus kali setiap harinya, pahalanya sama dengan memerdekakan sepuluh
orang budak, dituliskan baginya seratus kebajikan, dihapuskan dari catatan
amalnya seratus keburukan, dan dia pada hari itu terpelihara dari godaan
syaitan." seratus
kali setiap harinya, pahalanya sama dengan memerdekakan sepuluh orang budak,
dituliskan baginya seratus kebajikan, dihapuskan dari catatan amalnya seratus
keburukan, dan dia pada hari itu terpelihara dari godaan syaitan". (HR
Muslim). Dari hadits lain dari periwayat yang sama
dinukilkan sabda Rasulullah: "Ucapan yang paling disukai Allah ada
empat, yaitu Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar."
Tatacara dzikrullah yang paling efektif
adalah shalat, terutama shalat fardhu yang lima waktu. QS Thaahaa 20: 14 menyatakan: "Sesungguhnya Aku adalah
Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat
untuk mengingat Aku." QS Al-'Ankabuut
29: 45 menegaskan: "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan
dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan) keji dan
mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (dengan shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan."
Demikian pentingnya shalat wajib lima waktu
ini sehingga untuk menerima perintah tersebut Rasulullah Saw diperjalankan dari
Makkah al-Mukaromah ke Baitul Maqdis kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Hadits
riwayat Ahmad, An-Nasai dan At-Tirmidzi
menceriterakan, mula-mula Allah mensyariatkan ummat
Muhammad Saw menunaikan waktu lima puluh kali sehari, kemudian dikurangi dan
dikurangi sehingga menjadi lima. Maka Allah berfirman kepada Rasul-Nya
tersebut: "Hai Muhammad, putusan-Ku tidak dapat diubah
lagi. Dengan shalat lima waktu ini engkau tetap memperoleh pahala lima puluh
kali". Keterangan ini merupakan isyarat bahwa dengan banyaknya karunia
yang dianugerahkan Allah kepada manusia, sepantasnya orang mendirikan shalat
lima puluh kali sehari. Tetapi karena rahmah Allah yang agung, kewajiban bagi
umat Muhammad hanya lima kali saja, dan bagi yang melaksanakannya Allah tetap
memberi karunia yang sangat besar, sepadan dengan shalat lima puluh kali.”
Kita telah
mengemukakan keterangan Al-Qur’an bahwa shalat merupakan tatacara mengingat Allah yang pokok.
Konsekuensinya, bila orang mengaku beriman tetapi tidak menunaikan shalat,
imannya itu tanpa bukti. Sehubungan dengan ini Rasulullah Saw bersabda: "Amal
yang pertama-tama dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalat.
Apabila shalatnya baik, baik pulalah seluruh amalnya yang lain, sebaliknya bila
shalatnya buruk, maka buruk pulalah semua amal lainnya". (HR Ath-Thabrani). Beliau menerangkan
pula: "Sungguh ikatan seseorang dengan Islam itu akan lepas satu demi
satu. Maka setiap kali sebuah ikatan itu lepas dia bergantung kepada ikatan
yang lain. Ikatan yang pertama lepas adalah menegakkan hukum, dan yang terakhir
ialah shalat" (HR Ibnu Hibban). Kita memahami dari pernyataan Rasul
tersebut bahwa kalau seseorang tidak lagi menunaikan shalat maka dia melepaskan
diri dari ikatan Islam.
Allah Swt menurunkan
kewajiban shalat itu bukan untuk membebani manusia, tetapi justru sebuah rahmah
bagi mereka. Dengan menunaikan shalat orang mengingat Allah dengan ingatan yang
sangat kuat, berkomunikasi kepada Allah dengan komunikasi yang sangat indah;
maka hasilnya sebagaimana telah diterangkan oleh Allah sendiri: ketenteraman
jiwa yang membahagiakannya di dunia, karena menyingkirkannya dari rasa resah
dan gelisah (QS Al-Ma'arij 70: 19-22). Shalat juga melindungi manusia dari dorongan nafsu melebihi batas yang
menyebabkan kejahatan dan kemungkaran (QS Al-'Ankabuut 29: 45). Maka dia akan menjadi pewaris Firdaus dan berada di surga itu untuk
selama-lamanya. (QS Al-Mukminun 23:
1-2 dan 9-11).
Tetapi shalat yang
menjamin kenikmatan dunia dan akhirat itu adalah shalat yang khusyu'
karena dilakukan dengan sepenuh hati. Orang-orang yang shalat tanpa perhatian
dan tanpa memahami maknanya, tidak akan memperoleh apa-apa dari shalatnya itu. Bahkan
lebih jauh lagi, Allah Swt menandaskan: "Celakalah orang yang shalat.
Yaitu yang lalai mengenai shalatnya". (QS Al-Ma'un
107: 4-5). Karena itu kita harus berusaha dan terus berusaha untuk
meningkatkan kualitas shalat kita sebagai tatacara yang paling baik di dalam
usaha mendekatkan diri kepada Allah Swt. Semoga Allah berkenan untuk menolong
usaha kita tersebut, sehingga kita termasuk hamba-hamba yang Dia ridhai. Aamin ya Rabbal
'aalamin.
Sakib Machmud
No. 187
Dzikir, senjata ampuh untuk mencegah kemaksiatan. Orang yang berdzikir akan segera bertaubat ketika hendak melakukan kemaksiatan dan memohon ampun kepada Allah Swt.
BalasHapus