Rabu, 05 Juni 2013

DZIKRULLAH, AKTIVITAS YANG MENENTERAMKAN HATI


Allah Swt berfirman:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴿٢٨﴾
(Orang yang Allah memberinya petunjuk yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS Ar-Ra'd 13: 28).
Ayat yang ditulis di atas pada hakikatnya merupakan seruan kepada manusia agar dzikrullah - mengingat Allah, karena hal itu sangat baik bagi dirinya. Dzikrullah bukan hanya ingat bahwa Allah itu ada, tetapi bahwa Dia dan hanya Dia saja yang mencipta segala sesuatu, yang mengatur semua ciptaan-Nya itu dengan sempurna, yang melindungi, memelihara, mewujudkan interaksi tiap-tiap makhluk di alam raya ini sehingga membentuk harmoni. Ingatan yang demikian itu baik bagi pengingatnya yaitu orang yang beriman, karena dengan itu tenteramlah hatinya. Orang yang hatinya tenteram akan mampu berpikir jernih, sehingga dia membentuk dinamika yang baik di alam dunia, dan berbahagia kelak di alam akhirat. "Eknsiklopedi Islam" merumuskan dzikrullah itu sebagai: ucapan lisan, gerakan raga, maupun getaran jiwa sesuai dengan cara-cara yang diajarkan agama, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Seorang ulama dan tokoh Tasauf Mesir Ibnu Ata (1250-1309 M) menulis di dalam bukunya Al-Hikam, Dzikrullah terdiri atas tiga kelompok, yaitu dzikir jali - dzikir yang nyata, dzikir khafi - dzikir samara-samar, dan dzikir haqiqi - dzikir yang sebenar-benarnya. Ketiga kelompok tersebut berurutan menurut tingkat kemampuan manusia. Tingkat dasar adalah dzikir jali, pertengahannya dzikir khafi dan yang paling tinggi dzikir haqiqi.
Menurut ibnu Ata dzikir jali adalah mengingat Allah secara nyata dan dapat disaksikan oleh semua orang, yaitu dengan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah - kalimat-kalimat yang baik. Yang dimaksud adalah Tahlil - membaca kalimat La ilaha illallah - tidak ada Tuhan selain Allah, Tasbih -  membaca kalimat Subhannallah - Mahasuci Allah dari kesalahan, kekurangan dan kelemahan, Takbir - membaca kalimat Allahu Akbar - Allah yang Mahabesar, Tahmid - mengucapkan kalimat Alhamdulillah - segala puji bagi Allah, dan sebagainya.
Dzikir khafi adalah ingatan hati yang khusyu' kepada Allah Swt, baik disertai dengan mengucapkan kalimat tertentu maupun tidak. Orang yang mencapai tingkatan ini merasakan kedekatan diri dengan Allah karena selalu berhubungan dengan Allah Swt. Dia menghayati eksistensi Allah di manapun dia berada, dan dalam kondisi apapun juga: ketika sehat maupun sakit, sedang sibuk maupun santai, dalam keadaan sendiri maupun bersama orang-orang lain. Dalam dunia tasauf ada ungkapan, seorang sufi ketika melihat sesuatu yang dilihatnya adalah Allah. Tatkala memandang matahari misalnya, yang dia rasakan adalah keagungan Allah yang mencipta matahari itu dan yang mengatur sehingga benda angkasa tersebut memancarkan energi sebesar 389 juta miliar miliar watt setiap detik. Tatkala mendengarkan kemercik air, yang dia tangkap di hatinya adalah kebesaran Allah yang mengatur air untuk berkumpul lalu bergerak dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.
Dzikir haqiqi adalah ingatan seseorang yang senantiasa tertuju kepada Allah Swt. Orang yang telah mencapai tingkat tertinggi ini jasmani dan rohaninya senantiasa dan serentak berdzikir kepada Allah, kapanpun dan di manapun. Lisannya bergerak untuk mengucapkan puja-puji kepada Allah, hatinya bersikap tunduk dan patuh seutuhnya kepada Allah, dan jasmaninya mengerjakan segala perintah Allah serta menegakkan ketetapan-ketetapan Allah di dalam dirinya sendiri, keluarganya dan masyarakat lingkungannya, sejauh dapat dia capai. Menurut Ibnu Ata, tingkatan dzikir haqiqi ini akan diperoleh seseorang dengan melewati tingkatan-tingkatan sebelumnya yaitu dzikir jali dan dzikir khafi. Maka orang yang mendapatkannya, sebagaimana yang dikemukakan pada QS Ar-Ra'd: 28, akan memperoleh ketenteraman yang sejati, dan ketenteraman itu merupakan gerbang masuk bagi kebahagiaan.
Dzikir dengan ucapan, meskipun oleh para sufi dianggap sebagai dzikir tingkat pertama, dikemukakan sebagai seruan di dalam Al-Quran dan diajarkan serta dicontohkan pelaksanaannya oleh Nabi Muhammad Saw. QS Al-Ahzaab 33: 41-42 menyatakan: "Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang". Perintah serupa dinyatakan pula pada surah Ali 'Imran 3: 41. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dikemukakan sabda Rasulullah: "Sebaik-baik ucapan saya dan juga para Nabi sebelum saya adalah kalimat La ilaha illallah". Pada kesempatan lain beliau menyatakan: "Barangsiapa mengucapkan kalimat: La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, dan bagi-Nya segala pujian, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) seratus kali setiap harinya, pahalanya sama dengan memerdekakan sepuluh orang budak, dituliskan baginya seratus kebajikan, dihapuskan dari catatan amalnya seratus keburukan, dan dia pada hari itu terpelihara dari godaan syaitan." seratus kali setiap harinya, pahalanya sama dengan memerdekakan sepuluh orang budak, dituliskan baginya seratus kebajikan, dihapuskan dari catatan amalnya seratus keburukan, dan dia pada hari itu terpelihara dari godaan syaitan". (HR Muslim). Dari hadits lain dari periwayat yang sama dinukilkan sabda Rasulullah: "Ucapan yang paling disukai Allah ada empat, yaitu Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar."  
Tatacara dzikrullah yang paling efektif adalah shalat, terutama shalat fardhu yang lima waktu. QS Thaahaa 20: 14 menyatakan: "Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." QS Al-'Ankabuut 29: 45 menegaskan: "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (dengan shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Demikian pentingnya shalat wajib lima waktu ini sehingga untuk menerima perintah tersebut Rasulullah Saw diperjalankan dari Makkah al-Mukaromah ke Baitul Maqdis kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Hadits riwayat Ahmad, An-Nasai dan At-Tirmidzi menceriterakan, mula-mula Allah mensyariatkan ummat Muhammad Saw menunaikan waktu lima puluh kali sehari, kemudian dikurangi dan dikurangi sehingga menjadi lima. Maka Allah berfirman kepada Rasul-Nya tersebut: "Hai Muhammad, putusan-Ku tidak dapat diubah lagi. Dengan shalat lima waktu ini engkau tetap memperoleh pahala lima puluh kali". Keterangan ini merupakan isyarat bahwa dengan banyaknya karunia yang dianugerahkan Allah kepada manusia, sepantasnya orang mendirikan shalat lima puluh kali sehari. Tetapi karena rahmah Allah yang agung, kewajiban bagi umat Muhammad hanya lima kali saja, dan bagi yang melaksanakannya Allah tetap memberi karunia yang sangat besar, sepadan dengan shalat lima puluh kali.
Kita telah mengemukakan keterangan Al-Quran bahwa shalat merupakan tatacara mengingat Allah yang pokok. Konsekuensinya, bila orang mengaku beriman tetapi tidak menunaikan shalat, imannya itu tanpa bukti. Sehubungan dengan ini Rasulullah Saw bersabda: "Amal yang pertama-tama dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, baik pulalah seluruh amalnya yang lain, sebaliknya bila shalatnya buruk, maka buruk pulalah semua amal lainnya". (HR Ath-Thabrani). Beliau menerangkan pula: "Sungguh ikatan seseorang dengan Islam itu akan lepas satu demi satu. Maka setiap kali sebuah ikatan itu lepas dia bergantung kepada ikatan yang lain. Ikatan yang pertama lepas adalah menegakkan hukum, dan yang terakhir ialah shalat" (HR Ibnu Hibban). Kita memahami dari pernyataan Rasul tersebut bahwa kalau seseorang tidak lagi menunaikan shalat maka dia melepaskan diri dari ikatan Islam.
Allah Swt menurunkan kewajiban shalat itu bukan untuk membebani manusia, tetapi justru sebuah rahmah bagi mereka. Dengan menunaikan shalat orang mengingat Allah dengan ingatan yang sangat kuat, berkomunikasi kepada Allah dengan komunikasi yang sangat indah; maka hasilnya sebagaimana telah diterangkan oleh Allah sendiri: ketenteraman jiwa yang membahagiakannya di dunia, karena menyingkirkannya dari rasa resah dan gelisah (QS Al-Ma'arij 70: 19-22). Shalat juga melindungi manusia dari dorongan nafsu melebihi batas yang menyebabkan kejahatan dan kemungkaran (QS Al-'Ankabuut 29: 45). Maka dia akan menjadi pewaris Firdaus dan berada di surga itu untuk selama-lamanya. (QS Al-Mukminun 23: 1-2 dan 9-11).
Tetapi shalat yang menjamin kenikmatan dunia dan akhirat itu adalah shalat yang khusyu' karena dilakukan dengan sepenuh hati. Orang-orang yang shalat tanpa perhatian dan tanpa memahami maknanya, tidak akan memperoleh apa-apa dari shalatnya itu. Bahkan lebih jauh lagi, Allah Swt menandaskan: "Celakalah orang yang shalat. Yaitu yang lalai mengenai shalatnya". (QS Al-Ma'un 107: 4-5). Karena itu kita harus berusaha dan terus berusaha untuk meningkatkan kualitas shalat kita sebagai tatacara yang paling baik di dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah Swt. Semoga Allah berkenan untuk menolong usaha kita tersebut, sehingga kita termasuk hamba-hamba yang Dia ridhai. Aamin ya Rabbal 'aalamin.
Sakib Machmud
No. 187

1 komentar:

  1. Dzikir, senjata ampuh untuk mencegah kemaksiatan. Orang yang berdzikir akan segera bertaubat ketika hendak melakukan kemaksiatan dan memohon ampun kepada Allah Swt.

    BalasHapus