Minggu, 25 Maret 2012

MEWASPADAI PENYAKIT MENDUSTAKAN AGAMA


Al-Qur’an, sebagaimana Rasul yang menyampaikannya yaitu Muhammad Saw, berfungsi sebagai basyiran wa nadziira - pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada ummat manusia. Sering kali kita jumpai ayat-ayat di dalam Kitab ini, yang memberitakan hal-hal yang sangat menyenangkan: tentang betapa dekatnya Allah kepada hamba-hamba-Nya, betapa agungnya ampunan Allah bagi siapa saja yang bertobat dengan penuh penyesalan atas kesalahan-kesalahan yang dilakukannya, betapa nikmatnya hidup di dunia bagi orang-orang yang hatinya tenteram karena berserah diri kepada Allah Swt, dan betapa bahagianya orang-orang itu di dalam surga yang bebas dari kecemasan, kegelisahan, iri hati, dengki serta permusuhan. Membaca atau mendengar bacaan ayat-ayat yang demikian, jiwa bagaikan dibuai kelembutan Kasih Sayang yang tiada batas.
Tetapi kita jumpai pula di dalam Al-Qur’an, ayat-ayat yang memberikan peringatan-peringatan, yang kadang-kadang dikemukakan dengan keras sehingga orang selalu mengingatnya: tentang nafsu yang rentan godaan dan tentang setan-setan yang sangat benci kepada anak keturunan Adam, dan karena itu mereka selalu membujuk, merayu dan menipu untuk menyesatkan orang di manapun dia berada dan apapun yang sedang dia perbuat. Peringatan itu kadang-kadang sedemikian keras sehingga tatkala membacanya kita merasa seperti sedang diguncang-guncang di dalam kendaraan buruk yang sedang berlari dengan kecepatan tinggi di jalan renjul.
Pada QS Al-Ma’un 107, kita dihentak dikejutkan oleh dua pernyataan yang sangat mengagetkan. Yang pertama dikemukakan pada tiga ayat pertama surah tersebut, yaitu: "Tahukah kamu, (sosok orang) yang mendustakan agama?  Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin". Mendustakan agama artinya menganggap agama Islam itu kedustaan Muhammad belaka, bukan ketetapan Allah dan pasti bukan wahyu yang diturunkan Allah melalui Malaikat Jibril. Abu Lahab yang memaki Rasulullah dengan kata-kata "Tabban lak - Celaka kamu Muhammad", ketika beliau menyampaikan ajaran tauhid, jelas orang yang mendustakan agama. Abu Jahal yang mengorganisasikan pasukan untuk menyerbu Madinah dengan tujuan menghancurkan agama Islam, jelas seorang yang mendustakan agama. Pada tiga ayat tadi dikemukakan ciri-ciri lain. Mereka adalah orang yang menghardik anak yatim; tentu bukan berkata keras sebagai bagian dari pendidikan, tetapi berbicara kasar untuk mengusir mereka, jijik kepada mereka dan enggan berdekatan dengan mereka. Padahal anak-anak yatim itu justru memerlukan santunan, kasih sayang, dan juga seseorang yang dapat dijadikan contoh untuk mengidentifikasi diri.
Para ulama tafsir menyatakan bahwa sababun nuzul - latar belakang turunnya ayat-ayat tadi adalah hardikan Abu Sufyan bin Harb, seorang tokoh musyrikin Qureisy pada masa itu, yang sering berpesta pora dengan kawan-kawannya, tetapi ketika datang anak-anak yatim minta belas kasihan, dia justru membentak dan mengusirnya jauh-jauh. Orang yang bersikap seperti itu bukan hanya Abu Sufyan seorang. Banyak lagi orang-orang lain, termasuk yang telah mengaku muslim, yang mengerjakan shalat, yang berpuasa Ramadan, dan yang telah menunaikan ibadah haji. Kalau ada di antara mereka yang menghardik anak yatim, dia menjadi seperti Abu Sufyan ketika masih musyrik. Dia mendustakan agama.
Termasuk yang tidak mempercayai agama pula orang-orang yang tidak menganjurkan untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Allah Swt menjadikan manusia ini berbeda-beda di dalam rupa, warna kulit, dan juga penghasilan serta rizkinya di dunia. QS Az-Zuhruf 43: 32 menyatakan: "Kami Allah telah membagi-bagi di antara manusia, penghidupan mereka dalam kehidupan dunia". Setiap orang diwajibkan Allah untuk ikhtiar - bekerja keras mengusahakan rizkinya masing-masing. Tetapi perbedaan kemampuan dan perbedaan kesempatan individual di dalam masyarakat menyebabkan adanya orang yang kaya dan yang miskin, orang yang pandai dan yang tak mengenyam pendidikan, orang yang kuat dan yang lemah. Maka kehidupan bermasyarakat adalah kehidupan ta’awun ‘alal birri wat taqwa - kehidupan bekerja sama, tolong menolong di dalam kebajikan dan takwa. Orang yang kuat menolong yang lemah, yang berkecukupan membantu yang kekurangan. Yang tidak mempunyai cukup rizki untuk diberikan kepada orang-orang miskinpun masih menyandang kewajiban yaitu mendorong, menganjurkan, mengingatkan, orang-orang kaya agar menolong orang miskin. Yang tidak melakukan fungsi itu, ayat tadi menyatakan - dia termasuk mendustakan agama, tidak mempercayai ajaran agama, tidak mengakui adanya agama yang diturunkan Allah.
Orang-orang yang dikatakan sebagai yukadzzibu biddin - mendustakan agama, bukan hanya mereka yang musyrik atau yang kafir. Orang yang berimanpun bisa masuk ke dalam kelompok tersebut. Bahkan yang beriman dan shalat, mungkin saja masuk ke dalam golongan itu. Inilah yang dikemukakan pada hentakan kedua, yang dinyatakan pada ayat 4 dan 5 surah QS Al-Ma’un:  "Maka sungguh celaka orang-orang yang shalat, yaitu yang lalai tentang shalatnya". Ayat ini menyatakan bahwa orang-orang yang mengerjakan shalat itu bisa celaka, bahkan wailun - celaka besar. Biasanya perkataan wailun ditujukan kepada orang-orang kafir, orang munafik, orang yang dzalim. Tetapi alangkah mengejutkan, cercaan keras itu pada ayat ini justru ditujukan kepada orang yang shalat. Mengapa mereka dicerca habis-habisan? Karena mereka lalai tentang shalatnya.
Perlu diperhatikan bahwa yang diperingatkan dengan keras pada ayat ini bukanlah yang sering lupa bacaan atau gerakan shalatnya; ulama tafsir menerangkan, seandainya orang-orang itu yang dikecam, kalimatnya adalah alladzinahum fi shalatihim sahun - orang yang lalai di dalam shalatnya. Tetapi ayat 5 surah Al-Ma'un menyatakan: alladzinahum 'an shalatihim sahun - orang yang lalai tentang shalatnya. Orang yang lalai adalah yang tidak bersungguh-sungguh ketika menunaikan shalat. Bisa jadi karena tidak bersungguh-sungguh dia mengabaikan ketetapan tentang syarat dan rukun shalat. Bisa jadi pula dia tidak atau kurang memperhatikan apa yang dia baca dan yang dia lakukan ketika shalat.
Ketika takbir orang membaca Allahu Akbar - Allah yang Maha Besar. Mestinya dengan ucapan itu orang sadar bahwa dirinya kecil, lemah, tak berdaya di hadapan Allah Swt. Ketika sujud dia letakkan kening yang berada di kepala, bagian tubuh yang sangat dihormati, di atas tanah,. Dia menundukkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah seraya mengucapkan pengakuan: Subhana Rabbiyah a’la - Maha Suci Engkau ya Allah yang Maha Tinggi. Maka kalau selesai shalat masih sombong juga, masih membesarkan diri karena kekayaannya, karena posisi dirinya yang tinggi di masyarakat, karena kekuasaan yang digenggamnya, karena tumpukan ilmu pengetahuan yang ada di dalam benaknya, maka orang itu termasuk mushallin yang celaka. Orang mengakhiri shalat dengan ucapan yang jelas: Assalamu ‘alaikum wa Rahmatullah - semoga keselamatan dan rahmah Allah Dia anugerahkan kepada anda sekalian. Dia menyatakan itu kepada orang-orang yang berada di sebelah kanan, dan yang berada di sebelah kiri. Dengan do’a itu seharusnya dia merentang jembatan komunikasi yang harmonis dengan semua orang. Maka kalau setelah itu seseorang tetap memelihara sikap dengki dan permusuhan, dia adalah mushallin yang celaka.
Maka ayat 6 dan 7 surah Al-Ma’un kemudian menyatakan: "Mereka adalah orang-orang yang senang dipuji dan mengharapkan pujian dari sesama manusia. Dan mereka enggan menolong dengan sesuatu yang bermanfaat yang ada pada dirinya". Sombong, senang dipuji, dan tidak peduli kepada orang lain, bukanlah sifat orang yang benar-benar beriman kepada agama, dan bukan sifat orang yang menunaikan shalat dengan baik.
Agama mengajarkan manusia agar mengembangkan sistem kehidupan sosial yang setiap anggotanya saling concerned sehingga terbina keselarasan dan kebersamaan. Agar ritme kehidupan masyarakat itu dinamik untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang semakin tinggi, Allah memerintahkan manusia untuk berlomba di dalam kebaikan. (QS Al-Baqarah 2: 148). Berlomba tidak sama dengan bersaing. Berlomba bertujuan mendorong tiap-tiap peserta untuk mengembangkan potensinya sehingga mencapai kemampuan yang optimal, sedang bersaing adalah mengusahakan keuntungan sebesar-besarnya bagi diri sendiri. Orang yang berlomba diikat oleh jalinan silaturahim sehingga meskipun tiap-tiap orang berharap mencapai yang terbaik di antara semua orang, namun tetap gembira ketika ternyata yang menjadi terbaik adalah orang lain. Toh dengan berlomba dia tetap memperoleh kemajuan demi kemajuan. Tetapi orang yang bersaing tidak akan segan menggunakan cara apapun untuk mengalahkan orang-orang lain. Perlombaan diletakkan pada pondasi kejujuran, sedangkan kejujuran yang sejati bersemayan di dalam hati yang tenteram yaitu hati yang dengan shalat dibersihkan dari berbagai macam kotoran.
Uraian tadi mengantar kita untuk memahami keterkaitan yang sangat erat antara ibadah mahdhoh – ritual, dengan aktivitas mu'amalah – hubungan antar manusia. Ibadah ritual yang bukan hanya dilakukan tetapi juga dihayati, menghasilkan hati yang tenang serta kebersamaan sesama manusia sebagai hamba-hamba Allah. Maka ibadah mahdhoh yang tidak membuahkan silaturahim, adalah ibadah mahdhoh yang hanya menyelamatkan dari dosa. Tetapi tidak menghasilkan pahala apapun. Sebaliknya kegiatan sosial yang tidak didasari oleh pengharapan untuk memperoleh ridha Allah, tetapi untuk mendapat ridha sesama manusia, hanya akan memberi kebaikan di alam dunia tetapi tidak berbekas bagi kebaikan di akhirat. Tentang hal ini Allah Swt menandaskan: "Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun". (QS An-Nuur 24: 39). Orang-orang yang melakukan kedua kegiatan tersebut secara harmonis akan merasakan kegembiraan di dunia dan akhirat. Sebaliknya yang mengabaikan salah satu, apa lagi kedua-duanya, akan benar-benar sengsara. Al-Qur’an menggambarkan keadaan mereka dengan lugas: Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. (QS Ali-‘Imraan 3:112). Semoga kita senantiasa dicurahi hidayah Allah, sehingga mampu menunaikan kewajiban-kewajiban dengan suka rela dan gembira.
Sakib Machmud
No. 143

Rabu, 21 Maret 2012

TINJAUAN TENTANG KEISLAMAN INDONESIA



Djokolono, seorang pembaca pada tgl 21-03-12, telah mengirimkan kepada kami tulisan Rektor UIN Prof. Komaruddin Hidayat berjudul ‘KeIslaman Indonesia’ di Harian Kompas (5-11-2011), sebagai resonansi dari tulisan AM No. 142 berjudul ‘Realitas Masyarakat Islam’ tgl 15-03-12. Berikut ini adalah kutipan bebas tulisan rektor tersebut.   
Sebuah penelitian sosial bertema ‘How Islamic are Islamic Countries’ menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling Islami di antara 208 negara yang diteliti, diikuti Luxemburg di urutan kedua. Sementara itu Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim dan negara Muslim terbesar di dunia berada di urutan 140.
Adalah Scheherazade Rehman dan Hossein Askari dari George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan mempengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan ber,asyarakat?
Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator yang dimaksud diambil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam tentang hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.
Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keIslaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang diteliti.
Pengalaman UIN Jakarta
Kesimpulan penelitian di atas tidak jauh berbeda dari pengalaman dan pengakuan beberapa ustadz dan kiai sepulang dari kunjungan selama dua minggu dari Jepang. Program ini sudah berlangsung enam tahun atas kerja sama UIN dengan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. Para ustadz dan kiai itu difasilitasi untuk melihat dari dekat kehidupan sosial di sana dan bertemu sejumlah tokoh. Setiba kembali di Tanah Air, hampir semua mengakui bahwa kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam daripada yang mereka jumpai, di Indonesia dan Timur Tengah. Masyarakat terbiasa antre, menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong, dan nilai-nilai Islam lain yang justru makin sulit ditemukan di Indonesia. Pernyataan serupa pernah dikemukakan Muhammad Abduh, Ulama besar Mesir setelah berkunjung ke Eropa. ”Saya lebih melihat Islam di Eropa, tetapi kalau orang Muslim banyak saya temukan di Dunia Arab.”
Kalau saja yang dijadikan indikator penelitian untuk menimbang keIslaman masyarakat itu ditekankan pada aspek ritual-individual, maka Indonesia menduduki peringkat pertama. Jumlah yang pergi haji setiap tahun meningkat, selama Ramadhan masjid penuh dan pengajian semarak di mana-mana. Tidak kurang dari 20 stasiun televisi di Indonesia setiap hari menyiarkan dakwah agama. Terlebih lagi selama bulan Ramadhan, hotel pun diramaikan oleh tarawih bersama. Ditambah lagi ormas dan parpol Islam yang terus bermunculan. Namun, pertanyaan yang dimunculkan oleh Rehman dan Askari bukan semarak ritual, melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk keshalehan sosial berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits.Contoh perilaku sosial di Indonesia yang sangat jauh dari ajaran Islam adalah maraknya korupsi, sistem ekonomi dengan bunga tinggi, kekayaan tidak merata, persamaan hak bagi setiap warga untuk memperoleh pelayanan negara dan untuk berkembang, serta banyak aset sosial yang mubazir. Apa yang dikecam ajaran Islam itu ternyata lebih mudah ditemukan di masyarakat Muslim daripada negara-negara Barat.
Kedua peneliti itu menyimpulkan: “….it is our belief that most self-declared and labeled Islamic countries are not conducting their affairs in accordance with Islamic teachings - at least when it comes to economic, financial, political, legal, social and governance policies.”.
Dari 56 negara OKI, yang masyarakatnya berperilaku Islami nilai tertinggi adalah Malaysia (urutan ke-38), diikuti oleh Kuwait (48), Uni Emirat Arab (66), Maroko (119), Arab Saudi (131), Indone-sia (140), Pakistan (147), Yaman (198), dan yang terburuk adalah Somalia (206). Sedangkan masyarakat negara Barat yang dinilai mendekati nilai-nilai Islam adalah: Selandia Baru (1), Luxemburg (2),  Kanada (7), Inggris (8), Australia (9), dan Amerika Serikat (25).
Penelitian ini tentu menyisakan banyak pertanyaan serius yang perlu juga dijawab melalui penelitian sebanding. Jika masyarakat atau negara Muslim korup dan represif, apakah kesalahan ini lebih disebabkan oleh perilaku masyarakatnya ataukah pada sistem pemerintahannya? Atau akibat sistem dan kultur pendidikan Islam yang salah? Namun, satu hal yang pasti, penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku sosial, ekonomi, dan politik negara-negara anggota OKI jusru berjarak lebih jauh dari ajaran Islam dibanding negara-negara non-Muslim yang perilakunya lebih Islami.
Semarak Dakwah dan Ritual
Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar, mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tidak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, tetapi justru dipraktikkan di negara-negara non Muslim?
Tampaknya dalam keberagamaan kita lebih senang pada semarak ritual untuk mengejar keshalehan individual, tetapi menyepelekan keshalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam - syahadat, shalat, puasa, zakat, haji - ia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keIslamannya. Padahal misi Rasulullah Saw itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama, yaitu; keilmuan, ketakwaan, dan akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah yang menurut penelitian Rehmen dan Askari, dunia Islam akan mengalami krisis.
Kita boleh setuju atau menolak hasil penelitian ini dengan cara melakukan penelitian tandingan. Jadi, jika ada pertanyaan: “How Islamic are Islamic Political Parties? menarik juga dilakukan penelitian dengan terlebih dahulu membuat indikator atau standar berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kemudian diproyeksikan untuk menakar keIslaman perilaku partai-partai yang mengusung simbol dan semangat agama dalam perilaku sosialnya. Demikian dikemukakan oleh Prof. Komaruddin Hidayat.
Komentar
Terhadap tulisan tersebut ada sebagian pembaca yang tidak setuju jika orang non Muslim dikatakan berperilaku Islami, karena mereka tidak beriman dan melaksanakan ibadah mahdah - ritual ­- sebagaimana diajarkan Islam, meskipun mereka berperilaku baik di bidang muamalah. Sehingga hasil penelitian itu tidak relevan.
Komentar lain mengungkapkan tindak kriminal yang terjadi di negara-negara Barat, jauh lebih banyak dibanding negara-negara Muslim. Data statistik kasus kriminal itu meliputi perkosaan, pencurian perampokan, penyerangan, narkoba per 100,000 penduduk. Berdasarkan data statistik kriminal di dunia diperoleh peringkat dari yang terbanyak kasus kriminalnya adalah Amerika Serikat (urutan 1) Inggris (2), Kanada (8), Selandia Baru (35), Arab Saudi (48), Kuwait (67), Qatar (79) - data ini tidak  termasuk peperangan. Sehingga penelitian ‘How Islamic are Islamic Countries’ itu kurang relevan dengan hukum Islam dan penilaian tentang negara Islami. Demikian komentar seorang pembaca lainnya. (http://jejakrina.wordpress.com)
Pandangan Jama’atush-Shirathal-Mustaqiim
Dalam dakwah Islam, kami Jama’atush-Shirathal-Mustaqiim (JSM) menetapkan Sepuluh Prinsip Membangun Masyarakat Islami (SPMMI) sebagai pokok materi dakwah dalam membangun masyarakat Islami. Bagi mereka yang belum beriman secara Islam atau belum menjadi Muslim, kami memperkenalkan ajaran Islam secara populer.
Prinsip pertama SPMMI Iman dan Takwa Kepada Allah Swt bukan hanya bagi ummat Islam, melainkan bersifat universal, karena menurut fitrahnya manusia adalah mahluk beragama. Hanya saja tidak semua orang menyadarinya, karena itu adalah naluri alamiahnya untuk menyembah atau mengabdi kepada suatu objek atau wujud yang dipandangnya lebih tinggi, atau yang menguasai dirinya. Dalam kaitan ini JSM tidak membedakan perilaku Islami yang dilakukan oleh Muslim atau non Muslim. Misalnya antre dengan tertib, jujur, peduli dan suka menolong orang lain, bertanggungjawab, dan sebagainya yang merupakan pengejawantahan dari SPMMI itu adalah perilaku Islami yang sifatnya universal, sedangkan perilaku yang berlawanan dengan itu adalah perilaku buruk yang tidak Islami.
Terhadap penelitian bahwa negara-negara non Muslim lebih banyak terjadi tindal kriminal daripada negara-negara Muslim, bagi JSM tidak menjadi kendala untuk sependapat bahwa  penelitian ‘How Islamic are Islamic Countries’ cukup relevan, karena setidaknya kita bisa mengambil hikmah terutama dalam rangka pemberantasan korupsi, mencegah kekerasan dan anarkisme, pembunuhan dan mutilasi, pencurian dan perampokan, kejahatan narkoba, dan kejahatan lainnya yang masih menjadi masalah besar di Indonesia.
Penulis pribadi yang pernah lama bermukim di Jepang, juga sependapat dengan pengakuan para ulama UIN Jakarta sekembalinya dari kunjungan mereka selama dua minggu di Jepang bahwa kehidupan bermasyarakat di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam daripada yang mereka jumpai di Indonesia dan Timur Tengah. Kita tidak perlu terlalu risau dengan lebih banyaknya kejahatan di negara-negara Barat daripada negara-negara Muslim, melainkan kita harus memacu diri kita agar lebih baik daripada mereka dalam akhlak, moral dan etika.
Hermanto Hs

Kamis, 15 Maret 2012

REALITAS MASYARAKAT ISLAM


Rasulullah Saw pernah memprediksi: ”Akan tiba suatu masa di mana tidak ada Islam yang tertinggal kecuali hanya namanya, dan tidak ada yang tertinggal dari Al-Qur’an kecuali tulisannya saja. Masjid-masjid ramai, namun jama’ahnya jauh dari petunjuk agama. Para ulama justru menjadi sumber konflik yang akibatnya kembali kepada mereka.“  (HR Al-Baihaqi).
Pertama. “Tidak ada Islam yang tertinggal kecuali hanya namanya.” Kita dilahirkan Islam, dan namapun kebanyakan Islam. Tetapi perilaku kita tidak menunjukkan bahwa kita beragama Islam. Banyaknya penganiayaan, perampokan, premanisme, pembunuhan, dan kejahatan lainnya, akan menjadi pokok bahasan kita dalam tulisan ini.  
Kedua. “Tidak ada yang tertinggal dari Al-Qur’an kecuali tulisannya saja”. Betapa banyak orang Islam yang tidak memahami ajaran Al-Qur’an. Nampaknya Al-Qur’an hanya dijadikan pajangan, dibaca untuk orang meninggal atau untuk diperlombakan, daripada dibaca dan dipahami isinya. Padahal ia adalah petunjuk hidup (hudan), cahaya (nur) dan kasih sayang (rahmah). Realitas menunjukkan bahwa ummat Islam lebih senang mendengarkan ceramah yang membuat mereka tersenyum daripada memahami ajaran Islam melalui membaca Al-Qur’an dan buku-buku lain tentang Islam.
Ketiga. “Masjid-masjid ramai, namun jama’ahnya jauh dari petunjuk agama.” Ummat Islam berlomba membangun masjid dengan megah dan mengisinya dengan banyak kegiatan, namun hanya seremonial belaka tanpa makna. Makna shaf yang lurus, ruku’, sujud dan salam (kedamaian) belum terwujud dalam keseharian. Masjid seharusnya menjadi tempat yang sejuk dan tenang untuk beribadah, namun tidak jarang menjadi sumber konflik dan keretakan ummat, karena kepentingan kelompok telah menodai kebersamaan. Dan masjidpun belum mampu menyatukan dan memberdayakan ummat.
Keempat. “Para ulama justru menjadi sumber konflik yang akibatnya kembali kepada mereka.” Kerusakan yang paling parah jika konflik dilakukan oleh ulama. Inilah penyakit klasik ummat Islam. Perbedaan organisasi sering menjadi sumber perpecahan dan belum bisa bersinergi dan menjadi rahmat.
Arogansi sektoral telah menjadikan ummat terpecah belah, padahal Allah Swt menyerukan: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (zaman jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali ‘Imraan 3: 103).
Perlu Kesadaran Melakukan Perbaikan
Sangat mungkin sekarang ini adalah masa yang pernah diprediksi oleh Rasulullah Saw 15 abad yang lalu, di mana kehidupan ummat Islam di setiap lapisan semakin semu akan nilai-nilai keIslaman, bahkan hampir hampir tidak terlihat keIslamannya di negeri Muslim terbesar di muka bumi ini.
Jumlah ummat Islam yang banyak patut disyukuri, tetapi harus dibarengi kualitas yang memadahi. Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sesungguhnya manusia masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong. Namun mereka pun akan keluar dari agamanya berbondong-bondong.” (HR Muslim). Kemurtadan itu bukan karena pengaruh agama lain, tetapi cukup dengan tidak menjalankan agama ummat Islam sendiri.
Terkadang muncul pesimisme untuk melakukan dakwah di tengah masyarakat yang korup, perilaku materialistis dan hedonis, kejahatan keji dan sadis, terorisme, dan perbuatan mungkar lainnya, di mana kedamaian dan kelembutan hati manusia nyaris hilang, Kalau bukan karena Islam melarang pesimis, tentulah penulis sudah putus asa melihat realitas masyarakat Islam sekarang. Siapa yang bertanggungjawab kalau bukan kita juga.
Melakukan dakwah Islam adalah kewajiban setiap Muslim, baik pribadi maupun kelompok sesuai kemampuannya. Allah Swt berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali ‘Imraan’ 3: 104).
Tanpa kesadaran akan kewajiban dakwah dan  melakukan perbaikan, tidak akan terbentuk masyarakat berkualitas (khairul jama’ah). Masyarakat berkualitas hanya dapat terwujud jika telah terbentuk keluarga berkualitas (khairul usrah), dan keluarga berkualitas terbentuk dari pribadi berkualitas (kairul bariyah).
Berikut ini adalah beberapa peristiwa yang terjadi belakang ini, yang sangat memprihatinkan. Dengan kapasitas dan ruang yang terbatas, penulis hendak berbagi keprihatinan dengan para pembaca yang kiranya dapat menggugah hati dan pikiran kita untuk melakukan perbaikan.  
Kekerasan dan Anarkisme
Jati diri bangsa yang dahulu dikenal dengan keramahan dan kesantunannya, sekarang telah mengalami perubahan. Dari realitas yang ada sedikitnya ada tiga hal yang menyebabkan terjadinya kekerasan dan anarkisme.
Pertama. Gerakan reformasi telah mendorong masyarakat merasa bebas sampai kebablasan menyampaikan pendapat dan melakukan tindakan, sebagai sisi negatif dari kemajuan demokrasi. Demokrasi yang salah diterapkan tersebut telah menimbulkan banyak perubahan terutama dalam perilaku masyarakat kita yang lebih mengedepankan kekerasan dan anarkisme daripada musyawarah untuk mencari solusi masalah yang dihadapi. Unjuk rasa, bentrok antar warga, bentrok antar mahasiswa / pelajar, bentrok antara warga dengan aparat keamanan, merupakan keseharian dalam kehidupan masyarakat. Di samping itu, warga makin berani melawan aparat keamanan yang kurang tegas dalam menindak kerusuhan yang terjadi. Perubahan semacm ini telah menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan, yang kemudian menjadi sebuah ‘budaya baru’.
Kedua. Pengaruh globalisasi. Kekerasan dan anarkisme yang berkembang di masyarakat tersebut, kemudian telah menjadi fondasi baru, sehingga virus negatif dari globalisasi mudah menyusup di masyarakat, sebagai sisi lain dari kemajuan zaman yang digaungkannya. Dalam kaitan ini sebenarnya globalisasi tidak sepenuhnya mengakibatkan terjadinya pergeseran budaya di masyarakat kita, namun proses pemaknaan yang kurang tepat terhadap globalisasi itulah yang menyebabkan terjadinya akulturasi yang tidak sempurna, dan telah menjurus menjadi hal-hal negatif. Kebanyakan orang mengambil kesimpulan yang dangkal atas suatu paham yang berasal dari luar, tanpa menyaring paham tersebut mana yang sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat kita.
Ketiga. Budaya materialistis dan hedonis. Perilaku hidup materialistis dan hedonis kaum ekonomi mapan yang kurang memiliki rasa kepedulian sosial, telah menimbulkan kecemburuan sosial rakyat miskin. Kesenjangan sosial yang tidak ditanggulangi dengan cermat, dapat mendorong rakyat miskin untuk melakukan tindakan kekerasan dan anarkisme dalam melampiaskan rasa ketidak-adilan sosial. Siapakah yang harus menanggulangi?
Setiap Muslim adalah saudara, dan belum sempurna iman seseorang apabila dia tidak mencintai saudaranya sendiri. Sebagai agama mayoritas di negeri ini, sudah semestinya bahwa mengentaskan ummat Islam dari kemiskinan adalah menjadi tanggungjawab ummat Islam sendiri. Kita tidak dapat hanya berpangku tangan menuntut pemerintah untuk mengatasi kemiskinan.
Dengan ummat Islam berjumlah 190 juta orang, jika 20% saja di antaranya mau berzakat tunai Rp. 100 ribu setiap bulan, maka jumlah yang terkumpul setiap bulan sekitar Rp. 3,8 trilyun, atau Rp. 45,8 trilyun setiap tahun. Angka ini sangat besar artinya sebagai modal untuk mengentaskan ummat dari kemiskinan. Kehormatan ummat Islam antara lain dapat dilihat dari kemampuan untuk mengentaskan sesamanya dari kemiskinan.
Sehubungan dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM - jika disetujui oleh DPR, dengan kompensasi pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan lainnya bagi rakyat miskin sangatlah tepat. Di pihak lain, sebailknya pemerintah dan DPR juga mengambil jalan pintas dengan memotong 10-20% gaji presiden, wakil presiden, para menteri, gubernur, bupati, walikota, anggota DPR, DPD, DPRD, dan pejabat eselon I, karena kenaikan harga BBM tidak akan berdampak besar, bahkan tidak berdampak apa-apa bagi mereka.
Setidaknya hal itu merupakan empati - resonansi perasaan - kepada rakyat miskin, karena kenaikan harga BBM akan berdampak pada kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok, yang bagi rakyat miskin sangatlah berat. Tidak kalah penting adalah tindakan tegas kepada para pedagang yang mengambil keuntungan di atas kesulitan negara seperti sekarang ini, di mana sebelum harga BBM naik, mereka menimbun BBM atau sudah menaikkan harga barang kebutuhan pokok.
Islam mengajarkan, pada dasarnya rakyat haruslah mematuhi apa yang diatur oleh negara / pemimpin, kecuali pemimpin itu membuat kebijakan yang dzalim. Dalam kebijakan kenaikan harga BBM, penulis tidak melihat hal itu, melainkan kondisii yang memaksa pemerintah mengambil kebijakan yang ‘tidak popuper’.   
Di isi lain para pejabat, pegawai, petinggi partai politik, dan siapa saja yang korup atau menghindari pajak, haruslah ditindak tegas dengan hukuman seberat-beratnya. Tidak ada cara yang lebih baik untuk mencegah korupsi kecuali dengan ‘potong tangan’ para korupor - dalam arti yang luas termasuk hukuman penjara seumur hidup atau mati, seperti dikemukakan di Al-Mustaqiim dalam tulisan 86 (15/9/10).
Pembunuhan Keji
Sekarang ini nyawa manusia sepertinya sudah tidak ada harganya lagi, seakan-akan manusia sekarang sudah tidak mempunyai naluri peri kemanusiaan. Sangat disayangkan bahwa ketika manusia yang diberi Allah Swt kelebihan untuk berpikir, ternyata tidak bisa menggunakan kelebihan itu dengan baik, melainkan digunakan secara biadab. Selama 20 tahun terakhir sejak Harnoko Dewanto pada tahun 1992 melakukan pembunuhan berantai di Los Angeles, Amerika Serikat, telah terjadi sedikitnya 10 kasus  pembunuhan berantai, termasuk yang dilakukan oleh Riyan, Baekuni dan Mujianto di Indonesia. Di samping itu juga banyak terjadi pembunuhan keji lainnya seperti mutilasi dan sebagainya.
Sesungguhnya tidak ada alasan yang lebih sesuai untuk dilkemukakan tentang kasus pembunuhan yang semakin menjadi-jadi belakangan ini kecuali penyelewengan manusia terhadap hukum Allah. Inilah akibatnya apabila manusia berhukum dengan hukum sendiri, yang kesudahannya akan membawa kepada kerusakan dan kemudharatan. Allah Swt berfirman: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS An- Nisaa’ 4: 93).
Inilah tantangan bagi para ulama. Mereka harus melakukan transformasi sosial melalui gerakan amar ma’ruf nahyi munkar agar supaya ummat Islam menjadi yang terbaik karena sejarah telah mencatat ummat Islam pernah menjadi khairu ummah - ummat terbaik, yang telah dideklarasikan Allah Swt di dalam QS Ali ‘Imraan 3: 110: “Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
Selain berbagai kejahatan keji yang disebutkan di atas, masih banyak hal-hal yang sangat memilukan keadaannya. Hukum hanya tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Orang benar bisa dibuat menjadi salah, dan yang salah seakan-akan benar. Pencuri sandal jepit, semangka, pisang dan kejahatan kecil sejenisnya, begitu cepat mendapatkan hukuman. Tetapi kasus besar yang melibatkan orang-orang berpengaruh secara politik dan ekonomi, sering kali kandas dan menguap begitu saja. Itulah realitas masyarakat Islam Indonesia sekarang ini.
Penertiban Pemberitaan dan Penyiaran di Media Massa
Dalam mengatasi berbagai kejahatan, selain optimalisasi pendidikan akhlak, moral dan etika, dan kesungguhan penegakan hukum atas tindak kejahatan, perlu dilakukan perbaikan pemberitaan dan penyiaran di media massa, terutama televisi umum gratis yang dikelola swata. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seharusnya menyeleksi lebih ketat semua pemberitaan dan tayangan drama, sinetron yang materinya menampilkan tindak kejahatan, kekerasan, anarkisme, dan sebagainya. Demikian pula perlu ditertibkan  tayangan acara debat dan diskusi yang tidak memberikan solusi terhadap masalah yang dibahas, melainkan hanya untuk kepentingan politik penyelenggara dan pesertanya, yang tidak memberi manfaat bagi masyarakat umum. Inilah kejahatan dalam bentuk egoisme yang dilakukan para politisi yang tidak memikirkan kepentingan masyarakat, melainkan demi memperebutkan kekuasaan.  
Televisi umum gratis hendaknya lebih banyak memberitakan dan menayangkan acara yang bisa dinikmati oleh pemirsa di segala lapisan masyarakat, daripada drama kehidupan materialistis, hedonis dan glamour kaum ekonomi mapan. Iklan rumah-rumah dan apartemen mewah sebaiknya tidak ditayangkan di televisi umum gratis, melainkan hanya di televisi berlangganan bagi pemirsa tertentu.
Dengan menanamkan kembali nilai-nilai luhur bangsa di sekolah dan optimalisasi pendidikan agama secara tepat oleh para ulama yang mampu memberikan tauladan dalam menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar kepada masyarakat semenjak usia dini, diharapkan dapat mengurangi sedikit demi sedikit kekerasan, anarkisme dan kejahatan lainnya yang terjadi di masyarakat kita saat ini.  Jangan kita biarkan Islam menjadi semu dan kamuflase. Kita awali dari diri sendiri dari hal-hal yang kecil mulai saat ini. Insya Allah.
Hermanto Hs
No. 142

Senin, 05 Maret 2012

MUHAMMAD DI MASA MUDA


CERMIN PERILAKU REMAJA MUSLIM

“Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari kemudian.” (QS Al-Ahzaab 33: 21).

Masih dalam suasana memperingati Maulid Nabi besar Muhammad Saw, tepatnya pada 12 Rabi’ulawal 1433 H yang dalam tarikh Masehi bertepatan pada tanggal 5 Februari 2012. Secara tradisional peringatan Maulid tersebut dilaksanakan di masjid-masjid, sekolahan, dan majelis-majelis taklim, serta organisasi kemasyarakatan yang bernafaskan Islam, berupa pertemuan dengan diisi ceramah yang intinya mengambil hikmah melalui momentum hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Hal ini dimaksudkan untuk menggali khazanah Islam untuk mempertebal keimanan ummat Islam, serta sebagai sarana syiar sekaligus media dakwah Islamiyah. Peringatan Maulid Nabi bukan merupakan tradisi atau perintah Rasul pada masa hidupnya, juga bukan upacara kebiasaan yang dilakukan para Khulafaur Rasyidin, yaitu pada masa Kekhalifahan Abubakar Ash-Shidieq, Umar bin Chattab, Utsman bin Affan, maupun Ali bin Abi Thalib. 
 
Peringatan Maulid mulai diperkenalkan jauh setelah masa kehidupan Rasulullah, yaitu pada zaman Sultan Salahuddin Al Ayyubi di Syria, dimaksudkan untuk mengajak kaum Muslimin kembali mendalami agama Islam dengan keyakinan yang mendalam melalui momentum hari lahir Nabi Muhammad Saw, dan bukan hanya melaksanakan syariat secara tradisi, setelah selama ratusan tahun terlena menikmati kebesaran dan kejayaan Islam di seantero hampir tiga benua, Asia, Eropa dan Afrika.

Di dalam episode kali ini penulis mencoba menelaah peri hidup Muhammad semasa muda, tepatnya sebelum masa kenabian, untuk menjadi cermin perilaku para remaja Muslim, agar lebih dapat mengaktualisasi rasa cinta kepada Rasulullah Saw.

Tanda-tanda Manusia Agung

Seorang manusia  agung, selalu menjadi poros peradaban  di setiap tempat yang ia pijak. Apa yang dilakukannya senantiasa menarik perhatian, setiap kata yang  keluar dari mulutnya adalah sabda. Manusia agung adalah  manusia yang membuat zaman itu larut olehnya, dan bukan sebaliknya, ia larut oleh zaman. Dan orang yang paling pantas mendapat julukan ini adalah Muhammad Saw. Jejak-jejak keagungan Muhammad  sudah nampak sejak ia kecil. Kesabaran yang luar biasa ketika menghadapai cobaan secara beruntun, telah ia tunjukkan pada usia yang sangat belia.

Dari beberapa ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang Muhammad Saw sebelum kenabian beliau, antara lain: “Bukankah Dia (Tuhan) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu, dan Dia mendapatimu bimbang, lalu Dia memberi petunjuk kepadamu, dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?” (QS Adh-Dhuhaa 93: 6-8).

Muhammad sanggup menjalani hidup dengan tabah walau orang-orang yang paling ia cintai, satu persatu meninggalkan dirinya untuk selamanya. Dua bulan dalam kandungan ibunya, ayah tercinta Abdullah meninggal dunia. Umur 6 tahun ibunya meninggal dunia, dan selanjutnya ikut kakeknya Abdul Muthalib. Pada usia 8 tahun, kakeknyapun  meninggalkannya menyusul kedua orang tuanya. Muhammad kecil tanpa ayah dan ibu, belajar langsung dari kehidupan yang keras. Muhammad yang belia, telah mengerti menjadi orang dewasa. Dengan tekun, disiplin dengan semangat yang begitu tinggi, ulet dan penuh dedikas, Muhammad memiliki jiwa petualang. Dari satu tempat ke tempat yang lain, bersama pamannya Abu Thalib, Muhammad mendapat kan sejuta hikmah darinya.

Muhammad yang tampan dengan kepribadian menarik yang senantiasa memikat siapa saja. Jauh sebelum pengangkatan dirinya sebagai Rasul, Muhammad telah memperoleh kepercayaan dari masyarakat luas. Kejujuran dari sikapnya itu, telah meluluhkan hati seorang putri bangsawan yang sangat cantik, Siti Khadijah.

Selanjutnya Al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw tidak pernah membaca satu kitab atau menulis satu kata sebelum datangnya wahyu Al-Qur’an.

“Engkau tidak pernah membaca satu kitab pun sebelumnya (Al-Qura’an), tidak juga menuis satu tulisan dengan tanganmu, (andai kata kamu pernah membaca dan menulis) pasti akan benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu) (QS Al-‘Ankabuut 29: 48).

Ayat ini secara pasti menyatakan bahwa beliau adalah ummi - orang yang tidak pandai membaca dan menulis. Banyak ulama yang memahami bahwa kendatipun kemudian Nabi Saw menganjurkan ummatnya belajar membaca dan menulis, namun beiau sendiri tidak melakukannya, karena Allah Swt ingin menjadikan beliau sebagai bukti bahwa informasi (wahyu) yang diperolehnya benar-benar bukan dari manusia, melainkan dari Allah Swt. Kata ummi ditemukan dua kali dalam Al-Qur’an (QS Al-A’raaf 7: 157-158), dan keduanya menjadi sifat Nabi Muhammad Saw.

Sebagian ulama yang memahami bahwa ketidakmampuan beliau membaca hanya terbatas sampai sebelum terbukti kebenaran ajaran Islam. Namun setelah kebenaran Islam terbukti, setelah hijrah ke Madinah, beiau telah pandai membaca. Pendapat ini dikuatkan antara lain oleh kata “sebelumnya” yang terdapat pada ayat di atas.

Belajar Hidup Mandiri.

Bagaimana mungkin manusia mampu mengelola bumi, jika masih tergantung pada sesuatu yang seharusnya dipimpin. Bagaimana bisa seseorang menjadi pemimpin, jika dia tidak memiliki kemandirian dalam bersikap. Hanya dengan kemandirianlah seseorang bisa menjalankan fungsi sebagai khalifah (pemimpin). 

Mengamati perjalanan Muhammad, kita akan menemukan bagaimana sebuah kemandirian telah dipupuk semenjak usianya masih dini. Sebagaimana diketahui, pada usianya yang masih belia, Muhammad telah ditinggal oleh kedua orangtuanya. Ketika masa kanak-kanak pada umumnya sedang asyik-asyiknya dibawah naungan kasih sayang orangtua, ia justru berjuang menentang kerasnya kehidupan. Muhammad bukan tipe anak yang mudah menyerah. Atas segala rintangan yang menghadang, tak pernah ia menghindar, sebaliknya ia songsong masalah ini dengan solusi yang jernih. Muhammad adalah karakter yang memiliki semangat pertahanan hidup yang sangat tinggi. Dalam keadaan yang serba kekurangan, naluri pertahanan hidup tumbuh dengan subur dalam diri Muhammad.

Jujur dan Amanah

Kehidupan masa muda dimulai bersama putra Halima, ibu susuannya, ia menggembala kambing kepunyaan penduduk di kota Makkah. Meskipun ia memiiki seorang kakek yang terhormat, sebagai kepala suku yang memegang kekuasaan di Makkah, namun semuanya itu tidak membuatnya malu untuk melakukan pekerjaan itu.

Pada usia 12 tahun, Muhammad pertama kali mendapat pengalaman istimewa dalam berpetualang. Saat itu, ia mengikuti pamannya pergi berdagang ke Syria. Setelah itu, satu persatu pengalaman demi pengalaman,  hinggap dalam kehidupan Muhammad, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, pribadi yang tidak mudah menyerah, kuat dan selalu siap mengambil keputusan pada saat-saat yang sulit.

Selanjutnya ketika pamannya tdak bisa lagi terjun langsung menangani usaha, pada usia 17 tahun Muhammad diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis pamannya. Untuk pertama kalinya Muhammad memimpin kafilah, atau misi dagang, menyusuri jalur perdagangan utama Yaman, Syam melalui Madyan, Wadil Qura dan banyak tempat lain  yang pernah ditempuhnya saat masih kecil. Muhammad meraup keuntungan yang  belum pernah mampu diraih misi-misi dagang sebelumnya. Apa yang membuat Muhammad meraup keuntungan yang luar biasa? Jawabnya adalah karena kejujuran beliau. Sifat jujur beliau inilah, yang juga mengantarkannya di waktu muda sehingga beliau dijuluki dengan Al-Amiin (dapat dipercaya) oleh penduduk Makkah. Sifat jujur beliau yang diakui dan disegani bahkan oleh musuh-musuh beliau kelak pada masa kenabian, antara lain An-Nashr bin Al-Harits, dan Abu Sufyan.

Seorang Entrepreneur yang Handal.

Muhammad bukan hanya memiliki skill berdagang, tetapi juga ketrampilan membangun sebuah jaringan (network) juga dimiliki olehnya. Pada masa mudanya, ia sudah membangun hubugan (jaringan) dengan kepala suku-suku Kabilah Arab yang sebenarnya adalah kawan-kawan kakeknya. Ini jugalah yang menentukan perkembangan bisnisnya dikemudian hari.

Dari pengajuan penawaran Muhammad kepada para saudagar kaya Makkah, sejarah mencatat, salah seorang di antara pemilik modal tersebut adalah janda kaya bernama Siti Khadijah, yang menawarkan satu kemitraan berdasarkan pada sistem bagi hasil (profit sharing). Dengan kemandirian yang telah ia miliki sejak kecil, Muhammad telah berhasil mengelola barang dagangan yang dipasrahkan Siti Khadijah kepadanya. Kecakapannya sebagai seorang entrepreneur telah mendatangkan keuntungan yang melimpah, sehingga membuat Siti Khadijah terkesan kepadanya.

Sebagai seorang entrepreneur, Muhammad  selalu memikirkan cara-cara baru dalam berdagang, sementara seorang pedagang biasa akan menganggap kegiatan berdagang sebagai kegiatan yang itu-itu saja. Seorang entrepreneur memiliki visi dan misi, sementara pedagang biasa hanya menganggap aktivitasnya sebagai rutinitas.

Atas dasar inilah, Muhammad Saw sangat menekankan pentingnya suatu riset dan pengembangan. Dalam salah satu Hadits beliau bersabda: “Barang siapa (melakukan inovasi sehingga) menemukan sesuatu  yang baru lagi baik, maka baginya pahala penemuan dan pahala orang yang mengambil manfaat daripadanya”.

Beliau juga memberikan jaminan bagi ummatnya yang berinovasi: “Barangsiapa berijtihad (optimalisasi kemampuan) dan benar, maka baginya dua pahala, dan apabila ijtihatnya salah ia mendapat satu pahala.”

Demikianlah apa yang terjadi atas diri Muhammad ketika dewasa, sangat tergantung dari apa yang ia lakukan di waktu kecil. Kemandirian yang ia miliki, pada hakikatnya akibat dari pembiasaannya di waktu kecil.

Kejujuran, kreativitas, dan luasnya jaringan kemanusiaan yang dibangun, telah ditransformasikan ke dalam dunia usaha yang sukses, melalui perpaduan antara cinta, bisnis, dan kemuliaan hidup bersama Khadijah. Selama lima belas tahun lamanya Muhammad bergelut dengan perdagangan, telah mengantarkannya menjadi salah satu keluarga kaya, dan terpandang di kota Makkah.

Pemimpin yang Rendah Hati

Pada masa kecil, Muhammad telah terbiasa untuk tidak menggantungkan diri kepada orang lain, bahkan kepada orangtuanya sendiri. Untuk meringankan beban pamannya, Muhammad kecil menggembala kambing milik Ibnu Abi Mu’ith dengan imbalan segenggam kurma. Dalam kisahnya sebagai seorang pengembala kambing, tidak pernah ada satupun citra buruk yang pernah menempel pada dirinya. Menurut para ulama, dengan menggembala kambing mengandung beberapa butir nilai, diantaranya: 1. Menggembala kambing dapat menumbuhkan sikap kelembutan, sabar dan rendah hati. Oleh karena tidak heran jika Muhammad adalah orang yang rendah hati (tawadhu). 2. Menggembala kambing mengandung pendidikan (simulasi) bagaimana mengatur manusia dan menata kehidupan mereka. Dan nantinya, dari menggembala ini, tertanamlah dalam jiwa Muhammad dasar-dasar dari tata kelola (management). Seolah-olah, Muhammad waktu itu adalah seorang manajer yang mempunyai tugas mengelola dan mengurus bawahannya. Walaupun hanya kambing, namun dari kambing inilah Muhammad kemudian bisa mengatur dan mengelola ummat Islam begitu dahsyatnya sampai saat ini.

Muhammad sangat rajin dan tekun, oleh karena itu pamannya lebih sering mengajaknya untuk berdagang keluar daerah, dibanding mengajak anak Abu Thalib sendiri. Tekun dalam bahasa agama sering kita mengartikan dengan istiqaamah, sebagai kelanjutan dari kesabaran. Istiqaamah berarti kesungguhan untuk menegakkan dan mempertahankan prinsip-prinsip yang benar. Orang yang istiqaamah tidak mudah terpengaruh oleh oleh keadaan.

Awal Masa Kenabian

Dalam usia 40 tahun, atau setelah 13 tahun sebagai kepala rumah tangga dan dikaruniai anak-anak yang saleh, rumah tangganya yang kokoh, bisnisnya pada puncak kejayaannya, jaringan usahanya telah meluas meliputi Jazirah Arab, dari Syam sampai Bahrain di Timur, dan di Barat membentang dari Azerbaijan di Utara sampai Yaman di Selatan.

Pada usia ini, seperti orang bilang: life is begin after fourty,  dan disebut oleh Al-Qur’an (QS Al-Ahqaaf 46: 15) sebagai “usia kesempurnaan”, setelah Muhammad menjadi manusia yang kuat secara fisik maupun keteguhan hatinya, pada saatnya Allah mengangkat menjadi utusan-Nya yang akan merubah dunia dengan ajaran Islam. Allah melantik Muhammad menjadi Rasul yang ditandai dengan turunnya wahyu pertama kali berupa perintah membaca (iqra’) yang dibawa oleh malaikat Jibril di gua Hira, setelah beliau berhari-hari menyendiri di sana.

“Wahai seluruh manusia,  telah datang kepada kamu bukti yang sangat jelas dari Tuhanmu (yakni Muhammad Saw), dan Kami telah pula menurunkan cahaya yang terang benderang (Al-Qur’an).” (QS An-Nisaa’ 4: 174).

Dialah Sang Nabi Agung yang diutus Allah ke bumi. Dialah idola yang sempurna, apa yang dilakukan pada usia mudanya, patutlah dijadikan pedoman, terlebih setelah masa kenabiannya. “Muhammad adalah manusia, namun bukan manusia biasa”. Sampai sekarang pancaran pribadi yang agung itu, sebagaimana mutiara yang berkilau,  tidak pernah pudar. Tidak ada contoh tauladan yang lebih baik daripada beliau. “Sesungguhnya engkau (Muhammad)  berada di atas akhlak yang agung.” (QS Al-Qalam 68: 4)

Mohammd Kamal Hs
No. 141