Al-Qur’an, sebagaimana Rasul yang menyampaikannya yaitu Muhammad Saw, berfungsi sebagai basyiran wa nadziira - pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada ummat manusia. Sering kali kita jumpai ayat-ayat di dalam Kitab ini, yang memberitakan hal-hal yang sangat menyenangkan: tentang betapa dekatnya Allah kepada hamba-hamba-Nya, betapa agungnya ampunan Allah bagi siapa saja yang bertobat dengan penuh penyesalan atas kesalahan-kesalahan yang dilakukannya, betapa nikmatnya hidup di dunia bagi orang-orang yang hatinya tenteram karena berserah diri kepada Allah Swt, dan betapa bahagianya orang-orang itu di dalam surga yang bebas dari kecemasan, kegelisahan, iri hati, dengki serta permusuhan. Membaca atau mendengar bacaan ayat-ayat yang demikian, jiwa bagaikan dibuai kelembutan Kasih Sayang yang tiada batas.
Tetapi kita jumpai pula di dalam Al-Qur’an, ayat-ayat yang memberikan peringatan-peringatan, yang kadang-kadang dikemukakan dengan keras sehingga orang selalu mengingatnya: tentang nafsu yang rentan godaan dan tentang setan-setan yang sangat benci kepada anak keturunan Adam, dan karena itu mereka selalu membujuk, merayu dan menipu untuk menyesatkan orang di manapun dia berada dan apapun yang sedang dia perbuat. Peringatan itu kadang-kadang sedemikian keras sehingga tatkala membacanya kita merasa seperti sedang diguncang-guncang di dalam kendaraan buruk yang sedang berlari dengan kecepatan tinggi di jalan renjul.
Pada QS Al-Ma’un 107, kita dihentak dikejutkan oleh dua pernyataan yang sangat mengagetkan. Yang pertama dikemukakan pada tiga ayat pertama surah tersebut, yaitu: "Tahukah kamu, (sosok orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin". Mendustakan agama artinya menganggap agama Islam itu kedustaan Muhammad belaka, bukan ketetapan Allah dan pasti bukan wahyu yang diturunkan Allah melalui Malaikat Jibril. Abu Lahab yang memaki Rasulullah dengan kata-kata "Tabban lak - Celaka kamu Muhammad", ketika beliau menyampaikan ajaran tauhid, jelas orang yang mendustakan agama. Abu Jahal yang mengorganisasikan pasukan untuk menyerbu Madinah dengan tujuan menghancurkan agama Islam, jelas seorang yang mendustakan agama. Pada tiga ayat tadi dikemukakan ciri-ciri lain. Mereka adalah orang yang menghardik anak yatim; tentu bukan berkata keras sebagai bagian dari pendidikan, tetapi berbicara kasar untuk mengusir mereka, jijik kepada mereka dan enggan berdekatan dengan mereka. Padahal anak-anak yatim itu justru memerlukan santunan, kasih sayang, dan juga seseorang yang dapat dijadikan contoh untuk mengidentifikasi diri.
Para ulama tafsir menyatakan bahwa sababun nuzul - latar belakang turunnya ayat-ayat tadi adalah hardikan Abu Sufyan bin Harb, seorang tokoh musyrikin Qureisy pada masa itu, yang sering berpesta pora dengan kawan-kawannya, tetapi ketika datang anak-anak yatim minta belas kasihan, dia justru membentak dan mengusirnya jauh-jauh. Orang yang bersikap seperti itu bukan hanya Abu Sufyan seorang. Banyak lagi orang-orang lain, termasuk yang telah mengaku muslim, yang mengerjakan shalat, yang berpuasa Ramadan, dan yang telah menunaikan ibadah haji. Kalau ada di antara mereka yang menghardik anak yatim, dia menjadi seperti Abu Sufyan ketika masih musyrik. Dia mendustakan agama.
Termasuk yang tidak mempercayai agama pula orang-orang yang tidak menganjurkan untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Allah Swt menjadikan manusia ini berbeda-beda di dalam rupa, warna kulit, dan juga penghasilan serta rizkinya di dunia. QS Az-Zuhruf 43: 32 menyatakan: "Kami Allah telah membagi-bagi di antara manusia, penghidupan mereka dalam kehidupan dunia". Setiap orang diwajibkan Allah untuk ikhtiar - bekerja keras mengusahakan rizkinya masing-masing. Tetapi perbedaan kemampuan dan perbedaan kesempatan individual di dalam masyarakat menyebabkan adanya orang yang kaya dan yang miskin, orang yang pandai dan yang tak mengenyam pendidikan, orang yang kuat dan yang lemah. Maka kehidupan bermasyarakat adalah kehidupan ta’awun ‘alal birri wat taqwa - kehidupan bekerja sama, tolong menolong di dalam kebajikan dan takwa. Orang yang kuat menolong yang lemah, yang berkecukupan membantu yang kekurangan. Yang tidak mempunyai cukup rizki untuk diberikan kepada orang-orang miskinpun masih menyandang kewajiban yaitu mendorong, menganjurkan, mengingatkan, orang-orang kaya agar menolong orang miskin. Yang tidak melakukan fungsi itu, ayat tadi menyatakan - dia termasuk mendustakan agama, tidak mempercayai ajaran agama, tidak mengakui adanya agama yang diturunkan Allah.
Orang-orang yang dikatakan sebagai yukadzzibu biddin - mendustakan agama, bukan hanya mereka yang musyrik atau yang kafir. Orang yang berimanpun bisa masuk ke dalam kelompok tersebut. Bahkan yang beriman dan shalat, mungkin saja masuk ke dalam golongan itu. Inilah yang dikemukakan pada hentakan kedua, yang dinyatakan pada ayat 4 dan 5 surah QS Al-Ma’un: "Maka sungguh celaka orang-orang yang shalat, yaitu yang lalai tentang shalatnya". Ayat ini menyatakan bahwa orang-orang yang mengerjakan shalat itu bisa celaka, bahkan wailun - celaka besar. Biasanya perkataan wailun ditujukan kepada orang-orang kafir, orang munafik, orang yang dzalim. Tetapi alangkah mengejutkan, cercaan keras itu pada ayat ini justru ditujukan kepada orang yang shalat. Mengapa mereka dicerca habis-habisan? Karena mereka lalai tentang shalatnya.
Perlu diperhatikan bahwa yang diperingatkan dengan keras pada ayat ini bukanlah yang sering lupa bacaan atau gerakan shalatnya; ulama tafsir menerangkan, seandainya orang-orang itu yang dikecam, kalimatnya adalah alladzinahum fi shalatihim sahun - orang yang lalai di dalam shalatnya. Tetapi ayat 5 surah Al-Ma'un menyatakan: alladzinahum 'an shalatihim sahun - orang yang lalai tentang shalatnya. Orang yang lalai adalah yang tidak bersungguh-sungguh ketika menunaikan shalat. Bisa jadi karena tidak bersungguh-sungguh dia mengabaikan ketetapan tentang syarat dan rukun shalat. Bisa jadi pula dia tidak atau kurang memperhatikan apa yang dia baca dan yang dia lakukan ketika shalat.
Ketika takbir orang membaca Allahu Akbar - Allah yang Maha Besar. Mestinya dengan ucapan itu orang sadar bahwa dirinya kecil, lemah, tak berdaya di hadapan Allah Swt. Ketika sujud dia letakkan kening yang berada di kepala, bagian tubuh yang sangat dihormati, di atas tanah,. Dia menundukkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah seraya mengucapkan pengakuan: Subhana Rabbiyah a’la - Maha Suci Engkau ya Allah yang Maha Tinggi. Maka kalau selesai shalat masih sombong juga, masih membesarkan diri karena kekayaannya, karena posisi dirinya yang tinggi di masyarakat, karena kekuasaan yang digenggamnya, karena tumpukan ilmu pengetahuan yang ada di dalam benaknya, maka orang itu termasuk mushallin yang celaka. Orang mengakhiri shalat dengan ucapan yang jelas: Assalamu ‘alaikum wa Rahmatullah - semoga keselamatan dan rahmah Allah Dia anugerahkan kepada anda sekalian. Dia menyatakan itu kepada orang-orang yang berada di sebelah kanan, dan yang berada di sebelah kiri. Dengan do’a itu seharusnya dia merentang jembatan komunikasi yang harmonis dengan semua orang. Maka kalau setelah itu seseorang tetap memelihara sikap dengki dan permusuhan, dia adalah mushallin yang celaka.
Maka ayat 6 dan 7 surah Al-Ma’un kemudian menyatakan: "Mereka adalah orang-orang yang senang dipuji dan mengharapkan pujian dari sesama manusia. Dan mereka enggan menolong dengan sesuatu yang bermanfaat yang ada pada dirinya". Sombong, senang dipuji, dan tidak peduli kepada orang lain, bukanlah sifat orang yang benar-benar beriman kepada agama, dan bukan sifat orang yang menunaikan shalat dengan baik.
Agama mengajarkan manusia agar mengembangkan sistem kehidupan sosial yang setiap anggotanya saling concerned sehingga terbina keselarasan dan kebersamaan. Agar ritme kehidupan masyarakat itu dinamik untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang semakin tinggi, Allah memerintahkan manusia untuk berlomba di dalam kebaikan. (QS Al-Baqarah 2: 148). Berlomba tidak sama dengan bersaing. Berlomba bertujuan mendorong tiap-tiap peserta untuk mengembangkan potensinya sehingga mencapai kemampuan yang optimal, sedang bersaing adalah mengusahakan keuntungan sebesar-besarnya bagi diri sendiri. Orang yang berlomba diikat oleh jalinan silaturahim sehingga meskipun tiap-tiap orang berharap mencapai yang terbaik di antara semua orang, namun tetap gembira ketika ternyata yang menjadi terbaik adalah orang lain. Toh dengan berlomba dia tetap memperoleh kemajuan demi kemajuan. Tetapi orang yang bersaing tidak akan segan menggunakan cara apapun untuk mengalahkan orang-orang lain. Perlombaan diletakkan pada pondasi kejujuran, sedangkan kejujuran yang sejati bersemayan di dalam hati yang tenteram yaitu hati yang dengan shalat dibersihkan dari berbagai macam kotoran.
Uraian tadi mengantar kita untuk memahami keterkaitan yang sangat erat antara ibadah mahdhoh – ritual, dengan aktivitas mu'amalah – hubungan antar manusia. Ibadah ritual yang bukan hanya dilakukan tetapi juga dihayati, menghasilkan hati yang tenang serta kebersamaan sesama manusia sebagai hamba-hamba Allah. Maka ibadah mahdhoh yang tidak membuahkan silaturahim, adalah ibadah mahdhoh yang hanya menyelamatkan dari dosa. Tetapi tidak menghasilkan pahala apapun. Sebaliknya kegiatan sosial yang tidak didasari oleh pengharapan untuk memperoleh ridha Allah, tetapi untuk mendapat ridha sesama manusia, hanya akan memberi kebaikan di alam dunia tetapi tidak berbekas bagi kebaikan di akhirat. Tentang hal ini Allah Swt menandaskan: "Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun". (QS An-Nuur 24: 39). Orang-orang yang melakukan kedua kegiatan tersebut secara harmonis akan merasakan kegembiraan di dunia dan akhirat. Sebaliknya yang mengabaikan salah satu, apa lagi kedua-duanya, akan benar-benar sengsara. Al-Qur’an menggambarkan keadaan mereka dengan lugas: Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. (QS Ali-‘Imraan 3:112). Semoga kita senantiasa dicurahi hidayah Allah, sehingga mampu menunaikan kewajiban-kewajiban dengan suka rela dan gembira.
Sakib Machmud
No. 143