Rasulullah Saw pernah memprediksi: ”Akan tiba suatu masa di mana tidak ada Islam yang tertinggal kecuali hanya namanya, dan tidak ada yang tertinggal dari Al-Qur’an kecuali tulisannya saja. Masjid-masjid ramai, namun jama’ahnya jauh dari petunjuk agama. Para ulama justru menjadi sumber konflik yang akibatnya kembali kepada mereka.“ (HR Al-Baihaqi).
Pertama. “Tidak ada Islam yang tertinggal kecuali hanya namanya.” Kita dilahirkan Islam, dan namapun kebanyakan Islam. Tetapi perilaku kita tidak menunjukkan bahwa kita beragama Islam. Banyaknya penganiayaan, perampokan, premanisme, pembunuhan, dan kejahatan lainnya, akan menjadi pokok bahasan kita dalam tulisan ini.
Kedua. “Tidak ada yang tertinggal dari Al-Qur’an kecuali tulisannya saja”. Betapa banyak orang Islam yang tidak memahami ajaran Al-Qur’an. Nampaknya Al-Qur’an hanya dijadikan pajangan, dibaca untuk orang meninggal atau untuk diperlombakan, daripada dibaca dan dipahami isinya. Padahal ia adalah petunjuk hidup (hudan), cahaya (nur) dan kasih sayang (rahmah). Realitas menunjukkan bahwa ummat Islam lebih senang mendengarkan ceramah yang membuat mereka tersenyum daripada memahami ajaran Islam melalui membaca Al-Qur’an dan buku-buku lain tentang Islam.
Ketiga. “Masjid-masjid ramai, namun jama’ahnya jauh dari petunjuk agama.” Ummat Islam berlomba membangun masjid dengan megah dan mengisinya dengan banyak kegiatan, namun hanya seremonial belaka tanpa makna. Makna shaf yang lurus, ruku’, sujud dan salam (kedamaian) belum terwujud dalam keseharian. Masjid seharusnya menjadi tempat yang sejuk dan tenang untuk beribadah, namun tidak jarang menjadi sumber konflik dan keretakan ummat, karena kepentingan kelompok telah menodai kebersamaan. Dan masjidpun belum mampu menyatukan dan memberdayakan ummat.
Keempat. “Para ulama justru menjadi sumber konflik yang akibatnya kembali kepada mereka.” Kerusakan yang paling parah jika konflik dilakukan oleh ulama. Inilah penyakit klasik ummat Islam. Perbedaan organisasi sering menjadi sumber perpecahan dan belum bisa bersinergi dan menjadi rahmat.
Arogansi sektoral telah menjadikan ummat terpecah belah, padahal Allah Swt menyerukan: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (zaman jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali ‘Imraan 3: 103).
Perlu Kesadaran Melakukan Perbaikan
Sangat mungkin sekarang ini adalah masa yang pernah diprediksi oleh Rasulullah Saw 15 abad yang lalu, di mana kehidupan ummat Islam di setiap lapisan semakin semu akan nilai-nilai keIslaman, bahkan hampir hampir tidak terlihat keIslamannya di negeri Muslim terbesar di muka bumi ini.
Jumlah ummat Islam yang banyak patut disyukuri, tetapi harus dibarengi kualitas yang memadahi. Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sesungguhnya manusia masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong. Namun mereka pun akan keluar dari agamanya berbondong-bondong.” (HR Muslim). Kemurtadan itu bukan karena pengaruh agama lain, tetapi cukup dengan tidak menjalankan agama ummat Islam sendiri.
Terkadang muncul pesimisme untuk melakukan dakwah di tengah masyarakat yang korup, perilaku materialistis dan hedonis, kejahatan keji dan sadis, terorisme, dan perbuatan mungkar lainnya, di mana kedamaian dan kelembutan hati manusia nyaris hilang, Kalau bukan karena Islam melarang pesimis, tentulah penulis sudah putus asa melihat realitas masyarakat Islam sekarang. Siapa yang bertanggungjawab kalau bukan kita juga.
Melakukan dakwah Islam adalah kewajiban setiap Muslim, baik pribadi maupun kelompok sesuai kemampuannya. Allah Swt berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali ‘Imraan’ 3: 104).
Tanpa kesadaran akan kewajiban dakwah dan melakukan perbaikan, tidak akan terbentuk masyarakat berkualitas (khairul jama’ah). Masyarakat berkualitas hanya dapat terwujud jika telah terbentuk keluarga berkualitas (khairul usrah), dan keluarga berkualitas terbentuk dari pribadi berkualitas (kairul bariyah).
Berikut ini adalah beberapa peristiwa yang terjadi belakang ini, yang sangat memprihatinkan. Dengan kapasitas dan ruang yang terbatas, penulis hendak berbagi keprihatinan dengan para pembaca yang kiranya dapat menggugah hati dan pikiran kita untuk melakukan perbaikan.
Kekerasan dan Anarkisme
Jati diri bangsa yang dahulu dikenal dengan keramahan dan kesantunannya, sekarang telah mengalami perubahan. Dari realitas yang ada sedikitnya ada tiga hal yang menyebabkan terjadinya kekerasan dan anarkisme.
Pertama. Gerakan reformasi telah mendorong masyarakat merasa bebas sampai kebablasan menyampaikan pendapat dan melakukan tindakan, sebagai sisi negatif dari kemajuan demokrasi. Demokrasi yang salah diterapkan tersebut telah menimbulkan banyak perubahan terutama dalam perilaku masyarakat kita yang lebih mengedepankan kekerasan dan anarkisme daripada musyawarah untuk mencari solusi masalah yang dihadapi. Unjuk rasa, bentrok antar warga, bentrok antar mahasiswa / pelajar, bentrok antara warga dengan aparat keamanan, merupakan keseharian dalam kehidupan masyarakat. Di samping itu, warga makin berani melawan aparat keamanan yang kurang tegas dalam menindak kerusuhan yang terjadi. Perubahan semacm ini telah menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan, yang kemudian menjadi sebuah ‘budaya baru’.
Kedua. Pengaruh globalisasi. Kekerasan dan anarkisme yang berkembang di masyarakat tersebut, kemudian telah menjadi fondasi baru, sehingga virus negatif dari globalisasi mudah menyusup di masyarakat, sebagai sisi lain dari kemajuan zaman yang digaungkannya. Dalam kaitan ini sebenarnya globalisasi tidak sepenuhnya mengakibatkan terjadinya pergeseran budaya di masyarakat kita, namun proses pemaknaan yang kurang tepat terhadap globalisasi itulah yang menyebabkan terjadinya akulturasi yang tidak sempurna, dan telah menjurus menjadi hal-hal negatif. Kebanyakan orang mengambil kesimpulan yang dangkal atas suatu paham yang berasal dari luar, tanpa menyaring paham tersebut mana yang sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat kita.
Ketiga. Budaya materialistis dan hedonis. Perilaku hidup materialistis dan hedonis kaum ekonomi mapan yang kurang memiliki rasa kepedulian sosial, telah menimbulkan kecemburuan sosial rakyat miskin. Kesenjangan sosial yang tidak ditanggulangi dengan cermat, dapat mendorong rakyat miskin untuk melakukan tindakan kekerasan dan anarkisme dalam melampiaskan rasa ketidak-adilan sosial. Siapakah yang harus menanggulangi?
Setiap Muslim adalah saudara, dan belum sempurna iman seseorang apabila dia tidak mencintai saudaranya sendiri. Sebagai agama mayoritas di negeri ini, sudah semestinya bahwa mengentaskan ummat Islam dari kemiskinan adalah menjadi tanggungjawab ummat Islam sendiri. Kita tidak dapat hanya berpangku tangan menuntut pemerintah untuk mengatasi kemiskinan.
Dengan ummat Islam berjumlah 190 juta orang, jika 20% saja di antaranya mau berzakat tunai Rp. 100 ribu setiap bulan, maka jumlah yang terkumpul setiap bulan sekitar Rp. 3,8 trilyun, atau Rp. 45,8 trilyun setiap tahun. Angka ini sangat besar artinya sebagai modal untuk mengentaskan ummat dari kemiskinan. Kehormatan ummat Islam antara lain dapat dilihat dari kemampuan untuk mengentaskan sesamanya dari kemiskinan.
Sehubungan dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM - jika disetujui oleh DPR, dengan kompensasi pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan lainnya bagi rakyat miskin sangatlah tepat. Di pihak lain, sebailknya pemerintah dan DPR juga mengambil jalan pintas dengan memotong 10-20% gaji presiden, wakil presiden, para menteri, gubernur, bupati, walikota, anggota DPR, DPD, DPRD, dan pejabat eselon I, karena kenaikan harga BBM tidak akan berdampak besar, bahkan tidak berdampak apa-apa bagi mereka.
Setidaknya hal itu merupakan empati - resonansi perasaan - kepada rakyat miskin, karena kenaikan harga BBM akan berdampak pada kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok, yang bagi rakyat miskin sangatlah berat. Tidak kalah penting adalah tindakan tegas kepada para pedagang yang mengambil keuntungan di atas kesulitan negara seperti sekarang ini, di mana sebelum harga BBM naik, mereka menimbun BBM atau sudah menaikkan harga barang kebutuhan pokok.
Islam mengajarkan, pada dasarnya rakyat haruslah mematuhi apa yang diatur oleh negara / pemimpin, kecuali pemimpin itu membuat kebijakan yang dzalim. Dalam kebijakan kenaikan harga BBM, penulis tidak melihat hal itu, melainkan kondisii yang memaksa pemerintah mengambil kebijakan yang ‘tidak popuper’.
Di isi lain para pejabat, pegawai, petinggi partai politik, dan siapa saja yang korup atau menghindari pajak, haruslah ditindak tegas dengan hukuman seberat-beratnya. Tidak ada cara yang lebih baik untuk mencegah korupsi kecuali dengan ‘potong tangan’ para korupor - dalam arti yang luas termasuk hukuman penjara seumur hidup atau mati, seperti dikemukakan di Al-Mustaqiim dalam tulisan 86 (15/9/10).
Pembunuhan Keji
Sekarang ini nyawa manusia sepertinya sudah tidak ada harganya lagi, seakan-akan manusia sekarang sudah tidak mempunyai naluri peri kemanusiaan. Sangat disayangkan bahwa ketika manusia yang diberi Allah Swt kelebihan untuk berpikir, ternyata tidak bisa menggunakan kelebihan itu dengan baik, melainkan digunakan secara biadab. Selama 20 tahun terakhir sejak Harnoko Dewanto pada tahun 1992 melakukan pembunuhan berantai di Los Angeles, Amerika Serikat, telah terjadi sedikitnya 10 kasus pembunuhan berantai, termasuk yang dilakukan oleh Riyan, Baekuni dan Mujianto di Indonesia. Di samping itu juga banyak terjadi pembunuhan keji lainnya seperti mutilasi dan sebagainya.
Sesungguhnya tidak ada alasan yang lebih sesuai untuk dilkemukakan tentang kasus pembunuhan yang semakin menjadi-jadi belakangan ini kecuali penyelewengan manusia terhadap hukum Allah. Inilah akibatnya apabila manusia berhukum dengan hukum sendiri, yang kesudahannya akan membawa kepada kerusakan dan kemudharatan. Allah Swt berfirman: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS An- Nisaa’ 4: 93).
Inilah tantangan bagi para ulama. Mereka harus melakukan transformasi sosial melalui gerakan amar ma’ruf nahyi munkar agar supaya ummat Islam menjadi yang terbaik karena sejarah telah mencatat ummat Islam pernah menjadi khairu ummah - ummat terbaik, yang telah dideklarasikan Allah Swt di dalam QS Ali ‘Imraan 3: 110: “Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
Selain berbagai kejahatan keji yang disebutkan di atas, masih banyak hal-hal yang sangat memilukan keadaannya. Hukum hanya tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Orang benar bisa dibuat menjadi salah, dan yang salah seakan-akan benar. Pencuri sandal jepit, semangka, pisang dan kejahatan kecil sejenisnya, begitu cepat mendapatkan hukuman. Tetapi kasus besar yang melibatkan orang-orang berpengaruh secara politik dan ekonomi, sering kali kandas dan menguap begitu saja. Itulah realitas masyarakat Islam Indonesia sekarang ini.
Penertiban Pemberitaan dan Penyiaran di Media Massa
Dalam mengatasi berbagai kejahatan, selain optimalisasi pendidikan akhlak, moral dan etika, dan kesungguhan penegakan hukum atas tindak kejahatan, perlu dilakukan perbaikan pemberitaan dan penyiaran di media massa , terutama televisi umum gratis yang dikelola swata. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seharusnya menyeleksi lebih ketat semua pemberitaan dan tayangan drama, sinetron yang materinya menampilkan tindak kejahatan, kekerasan, anarkisme, dan sebagainya. Demikian pula perlu ditertibkan tayangan acara debat dan diskusi yang tidak memberikan solusi terhadap masalah yang dibahas, melainkan hanya untuk kepentingan politik penyelenggara dan pesertanya, yang tidak memberi manfaat bagi masyarakat umum. Inilah kejahatan dalam bentuk egoisme yang dilakukan para politisi yang tidak memikirkan kepentingan masyarakat, melainkan demi memperebutkan kekuasaan.
Televisi umum gratis hendaknya lebih banyak memberitakan dan menayangkan acara yang bisa dinikmati oleh pemirsa di segala lapisan masyarakat, daripada drama kehidupan materialistis, hedonis dan glamour kaum ekonomi mapan. Iklan rumah-rumah dan apartemen mewah sebaiknya tidak ditayangkan di televisi umum gratis, melainkan hanya di televisi berlangganan bagi pemirsa tertentu.
Dengan menanamkan kembali nilai-nilai luhur bangsa di sekolah dan optimalisasi pendidikan agama secara tepat oleh para ulama yang mampu memberikan tauladan dalam menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar kepada masyarakat semenjak usia dini, diharapkan dapat mengurangi sedikit demi sedikit kekerasan, anarkisme dan kejahatan lainnya yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Jangan kita biarkan Islam menjadi semu dan kamuflase. Kita awali dari diri sendiri dari hal-hal yang kecil mulai saat ini. Insya Allah.
Hermanto Hs
No. 142
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusPemberian BLT itu kan sifatnya sementara, sebagai salah satu kompensasi dari kenaikan harga BBM dan dampak kenaikan harga barang kebutuhan pokok kepada rakyat miskin yang membutuhkan bantuan segera. Mereka perlu dibantu untuk mempertahankan hidupnya, karena tidak mudah menciptakan lapangan kerja untuk mereka dalam waktu dekat. Dalam mengatasi kemiskinan, yang kami tekankan adalah pentingnya kesadaran memberikan wakaf tunai, karena wakaf yang terkumpul bisa digunakan untuk apa saja termasuk menciptakan lapangan kerja. Empati semacam itu sangat kurang di kalangan ummat Islam. Inilah yang harus kita semangati, sebagaimana firman-Nya, “Ahshin kamaa ahsanallah - Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”
BalasHapusTepat sekali, potong gaji para pejabat tinggi negara, potong pendapatan orang-orang kaya, potong tangan para koruptor dan sekaligus rampas harta hasil korupsinya, semua itu dikembalikan mereka yang berhak, yaitu kaum fuqara dan masakin.
BalasHapusTerima kasih banyak atas kirimannya, benar-benar bermanfaat bagi penjagaan jiwa kami disi-Nya. Semoga seluruh pengasuh selalu dalam lindungan Allah Swt, tetap berkarya demi umat tercinta. Amin. (Via E-mail)
BalasHapusSerahkan saja urusan kenaikan BBM kepada pemerintah dan DPR, unjuk rasa anarkis itu hanya ulah orang-orang yang tidak bertanggungjawab, baik mereka itu mahasiswa maupun buruh. Unjuk rasa itu menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang kurang prihatin atas kesulitan yang dihadapi bangsa dan negara, mereka hanya memikirkan egoisme pribadi dan kelompok. Lebih parah lagi jika unjuk rasa itu ditunggangi oleh orang-orang tertentu yang bersambisi kekuasaan atau dilakukan karena dibayar. Penimbun BBM dan pedagang kebutuhan pokok yang menaikkan harga sebelum harga BBM naik itu harus ditindak tegas. Aparat keamanan dan penegak hukum jangan memble. Salut untuk mas Hermanto dan Al Mustaqiim. Semoga Allah Swt senantiasa memberi petunjuk kepada Anda sekalian. Amien. Wassalam.ualaikum wr.wb.
BalasHapus