Minggu, 25 November 2012

MENCINTAI RASULULLAH SAW DENGAN SEMANGAT AMAR MA’RUF NAHYI MUNKAR

Beberapa bulan yang lalu kita dikejutkan oleh berita beredarnya film ‘Innocence of Muslim’, yang menghina Islam dan Nabi Muhammad Saw. Seperti diberitakan, cuplikan film itu telah menyulut aksi unjuk rasa di berbagai negara di Timur Tengah dan negara-negara Muslim lainnya termasuk Indonesia. Bahkan aksi protes di Libya telah memakan korban tewasnya Duta Besar Amerika Serikat dan beberapa staf kedutaan. Film yang berdurasi dua jam tersebut dibuat oleh seorang warga negara Amerika Serikat keturunan Israel - yang sekarang menjalani hukuman satu tahun penjara, di mana menurutnya disebutkan, “Islam adalah suatu kanker,” seperti yang disampaikan kepada ‘Associated Press’ dan ‘The Wall Street Journal’. Dalam film ini dikisahkan Nabi Muhammad Saw yang dijunjung tinggi ummat Islam, digambarkan sebagai sosok yang nista. Ummat Islam yang sangat mempercayai kesucian Nabi Muhammad Saw, tentu saja perilaku Nabi tidak dapat digambarkan dalam setiap keadaan apapun atau dibandingkan dengan siapapun.

Film yang beredar di ‘Youtube’ itu akhirnya ditutup di Indonesia atas permintaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta ummat Islam di Indonesia tidak terprovokasi dengan adanya peredaran film “Innocence of Muslims’. Meskipun dinilai menghina Nabi Muhammad dan Islam, MUI meminta ummat Islam merespon film ini dengan kepala dingin. "Jangan reaksioner," kata Ketua MUI,

Semangat Mencintai Rasul

Semangat cinta Rasulullah oleh setiap Muslim menunjukkan kesetiaan terhadap ajaran Islam dan menjaga kehormatan Nabi Muhammad Saw. Namun kita harus tetap tenang tidak terbawa emosi. Dalam suatu unjuk rasa yang dilakukan dengan pengerahan massa akan memicu suasana yang rawan, kalau tidak dikendalikan dengan ketat baik oleh pengunjuk rasa mapun oleh parat keamanan. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan menjurus pada tindakan anarkis dan akibat kerusakan yang merugikan masyarakat, maka ummat Islam malah dianggap sebagai penyebab atau biang anarki yang akhirnya merugikan ummat Islam sendiri. Maka sebaiknya kita betindak dengan kepala dingin sambil kembali meninjau perintah Allah Swt dan mengikuti contoh-contoh Rasulullah Saw.

Muhammad Rasulullah Sebagai Suri Tauladan

Ummat Muslim dibekali dengan Al-Qur’an dan Hadits, di mana Al-Qur’an merupakan kumpulan firman-firman Allah yang terjaga keasilannya sampai akhir zaman nanti, sedangkan Hadits adalah rekaman ucapan dan perilaku Nabi Muhammad Saw, yang kebenarannya dijamin Allah Swt.

Allah Swt berfirman: 1. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzaab 33: 21). 2. “Dan taatilah perintah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS Ali Imran 3: 132). 3. *Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatannya itu), maka kami tidak mengutus Rasul untuk menjadi ‘penjaga’ mereka.” (QS An-Nisaa’ 4: 80). 4. “Ikutlah dia (Rasulullah) supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS Al-A’raaf 7: 158).

Agar dapat mengikuti perilaku Rasulullah Saw, maka di samping memiiki bekal keyakinan ilahiyah yang memadai, kita harus mengenal dengan baik siapa Rasulullah. Tidak mungkin kita dapat mengikuti perilaku seseorang yang tidak kita kenal dan tidak kita kagumi. Ibarat pepatah, ‘tidak kenal maka tak sayang’. Maka di sinilah tempatnya kita mencintai Rasul, karena itu sering-seringlah kita ‘mengucapkan shalawat’, dan mempelajari kehidupan beliau, serta melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar.

Shalawat Nabi

Mengapa kita harus mengucapkan shalawat bagi Nabi Muhammad Saw dalam setiap shalat dan doa kita, padahal beliau sudah pasti dijamin masuk surga oleh Allah? Shalawat tidak hanya dilakukan oleh manusia, namun Allah dan malaikat-malaikatnya pun mengucap shalawat untuk Nabi Muhammad Saw. Shalawat dari Allah bermakna memberi rakhmat, shalawat dari malaikat berarti memintakan ampunan (maghfirah), sedangkan shalawat dari orang Mukmin mempunyai makna doa agar ia diberi rakhmat.

Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzaab 33: 56).

Sesuai perintah Allah tersebut, maka kita wajib bershalawat. “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad” dan mengucapkan salam; “Assalamu’alaika ayyuhannabi ...” Bershalawat adalah salah satu cara untuk menanamkan ‘rasa cinta’ terhadap Nabi Muhammad Saw. Tidak diragukan lagi rasa cinta akan membuat seseorang rela berkorban dan mengikuti permintaan orang yang dicintainya. Allah Swt berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukum-Nya.” (QS Al-Hasyr 59: 7).

Bershalawat akan menyebabkan para malaikat mendoakan kita. Rasulullah bersabda: “Siapa yang berdoa untuk orang lain, maka para malaikat akan mendoakannya dengan doa yang serupa.” Bershalawat merupakan ungkapan rasa terima kasih kepada Nabi Muhammad Saw. Bukankah kita patut berterima kasih kepade beiau yang telah berjuang dengan penuh penderitan dan kegigihan untuk menyampaikan risalah Allah kepada kita, yaitu agar kita dapat berbahagia di dunia dan ‘akhirat.

Amar ma’ruf nahyi munkar

Amar ma’ruf nahyi munkar, menganjurkan manusia berbuat baik dan mencegah berbuat kemungkaran. Hal ini secara tersurat menjadi kewajiban individu setiap ummat Islam. Perintah Rasulullah Saw: “Bila engkau melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu. Bila engkau tidak sanggup, maka ubahlah dengan perkataanmu. Bila engkau tidak sanggup juga, maka ubahlah dengan hatimu, itulah serendah-trendahnya iman.” Tentu saja hadits ini bukan dimaksudkan untuk menganjurkan kekerasan. Kata ‘mengubah dengan tanganmu’ berarti menggunakan kekuasaan dan kewenangan yang ada dengan cara-cara yang bijaksana dan berbudaya.

Kita ketahui Rasulullah tidak pernah berlaku kasar kepada paman-pamannya yang dengan nyata berbuat kemungkaran di depan matanya. Beliau juga tidak berlaku kasar terhadap orang-orang Quraisy yang memusuhinya. Ini bukan berarti iman beliau rendah. Mengapa mesti berlaku emosional dalam menegakkan ajaran Islam ini, bukankah Islam sendiri secara tegas melarang adanya pemaksaan untuk memeluk agama ini? Petunjuk Allah dalam Al-Qur’an sudah jelas, yaitu: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang paling baik dan ramah. Sungguh Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui,” (QS An-Nahl 16:125).

Ada 4 (empat) pedoman yang harus dihayati dalam melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar, agar terhindar dari jebakan nafsu yang berjubah agama. Sejarah mencatat, banyak permusuhan timbul di kalangan ummat Islam yang diakibatkan oleh pemuasan ego yang berdalih amar ma’ruf nahyi munkar.

1. Pengamalan Hadits Jangan Mengabaikan Al-Qur’an 

Bila kita mempertahankan suatu pendapat yang berasal dari Hadits, maka berhati-hatilah jangan sampai akhirnya terjadi permusuhan. Al-Qur’an mengatakan bahwa sesama Muslim itu bersaudara (QS Al Hujuraat 49: 10) dan Allah murka kepada orang yang memutuskan tali persaudaraan.

Sebagai contoh seorang anak muda yang mengeluarkan kata-kata kasar atau tindakan yang tidak sepatutnya kepada orang-tuanya, hanya demi mempertahankan suatu hadits Padahal Al-Qur’an jelas menyatakan: 1. “Dan Kami wajibkan manusia berbuat kebaikan kepada kedua orang ibu bapaknya.” (QS Al-Ankabuut 29: 8). 2 “Dan rendahkanlah dirimu tehadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS Al-Israa’ 17: 24).

2. Tidak Perlu Memaksakan Pengertian 

Kita tidak perlu memaksakan ‘pengertian’ kepada seseorang, karena ayat Allah itu tidak akan dapat diterima oleh orang yang sedang buta mata hatinya. Allah Swt berfirman 1 “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al-Qashash 28: 56). 2 “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta mata hatinya dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan petunjuk Tuhan melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat Kami, mereka itulah orang yang berserah diri kepada Kami.” (QS Ar-Ruum 30: 53).* 3. “Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan ijin Allah, dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS Yunus 10: 100). 4 “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman sama saja untuk mereka baik engkau beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tetap tidak akan beriman.”(QS Al-Baqarah 2: 6).

3. Tidak Terbawa Emosi Dalam Berdebat 

Janganlah terbawa emosi dalam berdebat mengenai masalah agama, karena tidak ada kerugian sedikitpun bagi kita bila orang menolak kebenaran. Jika setelah diberi penjelasan dengan sungguh-sungguh ternyata orang itu masih juga tetap ingkar, tidak usah gusar atau kecewa. Tugas kita hanya sebatas menyampaikan, Allah yang menentukan hasilnya. Allah Swt berfirman: 1. “Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini kebenaran ayat-ayat Allah itu menggelisahkan kamu.” (QS Ar-Ruum 30: 60).“ 2. “Padahal tidak ada cela atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS ‘Abasa 80: 7). 3. “Barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (QS An-Nissa’ 4: 14).

4. Semua Amal Berdasarkan Ilmu 

Semua pekerjaan itu ada ilmunya, oleh karena itu janganlah menangani suatu pekerjaan hanya berdasarkan ‘kira-kira’ saja. Rasulullah Saw bersabda: “Apabila amanat disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya.” Berkata seseorang: “Bagaimana caranya menyia-nyiakan amanat ya Rasulullah?” Berkata Nabi: “Apabila dikerjakan sesuatu pekerjaan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR Al-Bukhari).

Demikian pula untuk mengoreksi atau meluruskan kesalahan pandangan seseorang perlu ilmu khusus yang dapat dipelajari, seperti dari teknik komunikasi yang telah banyak ditulis oleh para pakar komunikasi.

Dari beberapa pembahasan di atas dapat kita ambil sari kesimpulan, yaitu untuk ‘mencintai Rasulullah Saw’, yang harus kita bayangkan bukan gambaran fisiknya, tetapi keagungan pribadinya. Kita harus dapat mengembangkan diri sedemikian rupa sehingga tidak terpukau oleh keindahan lahiriah. Kita harus berusaha menembus rasa cinta yang hanya didasarkan hal-hal yang nyata. Keindahan yang bukan berada pada platform material, melainkan pada platform immaterial. Kalau kita senang suatu buku, jangan karena keindahan cover-nya, atau kemewahan kertasnya, tetapi karena kearifan dan kesejukan tulisannya.

Pelaksanaan amar ma’ruf nahyi munkar harus selalu diiringi nuansa bagaimana Rasulullah melakukannya. Bila tidak, amal yang suci seringkai tergelincir menjadi pemuasan nafsu belaka yang berdalih ibadah. Beberapa pengalaman sejarah menunjukkan, citra Islam sebagai agama yang membawa kesejahteraan seringkali ternoda karena ulah dari penganutnya sendiri yang kebablasan dihanyutkan emosi dalam melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar.

Dalam berdakwah terkait keimanan dan ketakwaan, tugas kita hanya sebatas menyampaikan saja, tidak memaksa orang untuk menerima apa yang kita ucapkan, Allah Swt berfirman: 1. “Dan tidak ada pertanggunganjawab sedikitpun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa.” (QS Al-An’aam 6: 69). 2. “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.“ (QS Al-Baqarah 2: 272).

Terkait dengan provokasi melalui film ‘Innocence of Moslems’, hendaknya ummat Islam tidak terpancing dengan aksi-aksi kekerasan. Perasaan tersinggung sebagai ummat yang mencintai Nabi Muhammad Saw hendaklah diekspresikan dengan cara-cara berbudaya. Kejahatan yang dibalas dengan kejahatan hanya akan menjadikan Islam dipandang sebagai agama kekerasan.

Langkah yang tepat telah dilakukan pemerintah melalui Kemkominfo dengan memblok penayangan film tersebut di internet. Namun yang penting adalah ‘tindak lanjut pengawasannya’, jangan sampai kebobolan yang hanya akan memberi kesan tidak berwibawanya pemerintah. Kalau perlu sanksi yang tegas dengan menutup provider yang membandel. Demikian juga melalui jalur diplomasi harus secara intens dilakukan yang meliputi diplomasi kebudayaan, hak azasi manusia (HAM) dan keagamaan.

Demikian kiranya semoga kita selalu terjaga dari tindakan yang tidak terpuji dan menjaga diri agar setiap langkah amar ma’ruf nahyi munkar selalu dibimbing di jalan yang benar dan diridhai Allah Swt.
Mohammad Kamal 
No. 168

Kamis, 15 November 2012

TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK MELAKUKAN PERBAIKAN


Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan. baik bagi Anda yang belum masuk Islam, maupun yang sudah masuk Islam, tetapi belum melaksanakan shalat dengan tertib, atau belum dapat membaca Al-Qur’an, atau merasa belum sempurnanya mengerjakan rukun Islam yang lain, merasa ilmu keIslaman kurang, dan pernah mengerjakan maksiat, atau kejahatan yang menyebabkan merasa berdosa besar, dan lain sebagainya.
Jangan terlalu menyesal atau sedih, karena tidak ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan, segeralah melakukan kebaikan, dan segera pula meninggalkan perbuatan yang buruk atau tercela. Mulai saat ini pada tanggal 1 Muharam yaitu hari pertama tahun 1434 Hijriyah, Anda berkesempatan besar melakukan perbaikan dalam kehidupan pribadi dan sosial yang diilhami ‘semangat hijrah’.
Peristiwa hijrah, secara lahiriyah adalah berpindahnya Nabi Muhammad Saw beserta para sahabat dan seluruh pengikutnya dari Makkah ke Madinah. Peristiwa itu menjadi sangat penting, karena merupakan episode baru dalam pengembangan Islam, demikian juga bagi para pengikutnya yakni kaum ‘muhajirin’.
Allah Swt berfirman: “Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisaa’ 4: 100).
Pesan moral yang tersirat dalam peristiwa hijrah, adalah semangat melakukan perubahan, yaitu perubahan dari kegelapan menuju peradaban yang disinari oleh aqidah. Peristiwa hijrah dapat juga memberikan inspirasi semangat perubahan dari perilaku atau keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik, hijrah dari kemaksiatan kepada takwa, hijrah dari masyarakat yang kurang sejahtera menuju peningkatan kesejahteraan seluruh elemen masyarakat, atau apapun keinginan kita untuk merubah ke arah keadaan yang lebih baik dan memberikan manfaat yang lebih besar.
Untuk melakukan hijrah memang tidak mudah. Dalam diri seorang muhajir harus tertanam niat yang tulus, jihad, dan perjuangan, karena dalam perjalanan hijrah itu pasti akan menghadapi tantangan dan cobaan. Tanpa niat yang tulus untuk berjihad dengan kesungguhan yang terus bergelora tidak mungkin tantangan-tantangan itu bisa ditaklukkan.
Bagi yang belum Islam, baik yang usianya masih muda maupun yang usia lanjut, bersegeralah membaca Dua Kalimah Syahadat, karena agama di sisi Allah hanyalah Islam sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali ‘Imraan 3: 19), dan agama yang sempurna sebagaimana ditegaskan-Nya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku cukupkan nikmatku bagimu dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS Al-Maaidah 5: 3). Allah pun mengingatkan: “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali dia tidak akan terima (agama itu), dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali-‘Imraan 3: 85).
Allah Swt Maha Pengampun dan Maha Penyayang: ”Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah Maha pengampun lagi Penyayang.“ (QS Al-Maidah 5: 74). Layanan ampunan dari Allah selalu terbuka 24 jam, tidak peduli siang ataupun malam, tidak memerlukan perantara, Allah Swt sangat senang dengan adanya keluhan dan permintaan dari hamba-Nya secara langsung.
Sebuah Hadits Qudsi, menjelaskan: Dari Abu Musa Abdullah bin Al-Asyari Ra, Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala Itu membentangkan tangan-Nya (memberikan kesempatan) pada waktu malam, untuk taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah mebentangkan tangan-Nya pada waktu siang untuk taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, hingga matahari terbit dari Barat.”
Panjangnya kesempatan untuk bertaubat bagi orang yang berbuat dosa sampai matahari terbit dari Barat, artinya sampai hari Kiamat dan sebelum ajal sampai di tenggorokan atau meninggalkan dunia, berarti pula tidak mengenal waktu kapanpun dan di manapun. Maka kalau kita mengetahui dan percaya betapa Maha Pengampun Allah, maka tidak ada kata putus asa dalam kehidupan ini. Maka berubahlah mulai sekarang juga jangan menunda waktu lagi. Ampunan Allah sangat luas, janganlah terpedaya oleh syeitan dan hawa nafsu sehingga rmudah berbuat dosa, sebagaimana firman-Nya: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?” (QS  Al-Infithaar 82: 6).
Allah Swt menandaskan: “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS Ibrahim 14: 18)
Dalam kehidupan di dunia ini setiap manusia tidak dapat terlepas dari berbagai masalah, kesulitan, ujian dan cobaan. Dalam menghadapi permasalahan, ada sebagian ummat Islam memilih sikap apatis dan putus harapan. Padahal sikap seperti itu sangat dilarang dalam ajaran Islam. Karena putus asa itu adalah sikap orang-orang kafir. Sebagaimana firman Allah: “(Dan berkata Ya’kub): “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS Yusuf 12: 87).
Setiap ada masalah apalagi yang dianggap serius dan besar manusia umumnya berkeluh kepada sesama manusia. Beberapa di antaranya bahkan mencaci dirinya sendiri, ada juga yang menuduh orang lain atas masalah yang dihadapi. Sikap seperti ini jelas tidak patut bagi seorang Muslim. Adalah sangat tepat jika kita berkeluh kesah kepada Allah Swt sebagaimana para Nabi dan Rasul melakukannya. Allah Swt menggambarkannya secara gamblang di dalam kitab Akl-Qur’an agar kita benar-benar berkeluh kesah hanya kepada-Nya. Hal ini bisa kita cermati di dalam Al-Qur’an: QS Yusuf 12: 86 (Nabi Ya’kub), QS Al-Anbyaa’ 21: 83-84, (Nabi Ayub), QS Maryam 19: 7-8 (Nabi Zakaria). Jadi berkeluh kesah kepada Allah Swt akan melahirkan sikap sabar, qana’ah - merasa cukup dan puas - dan terus menerus mengharap kekuatan dari Allah Swt.
Kalau kita sudah masuk Islam dan mengaku Islam, sudah bertaubat kepada Allah Swt dari perbuatan dosa, maka selain kita wajib melaksanakan 5 (lima) rukun Islam - sesuai kemampuan maksimal, kita harus pula mengembangkan diri menjadi dan membentuk pribadi Muslim yang mulia (al-akhlaqul-karimah), yakni sikap atau perilaku pemeluk agama Islam yang patut diteladani, beriman kuat, takwa kepada Allah Swt, shaleh, menguasai ilmu keIslamannya dan berwawasan luas serta mampu menyebarkan ilmunya kepada orang lain sehingga bermanfaat. Untuk itu, ada 7 (tujuh) landasan kokoh dan kuat untuk membentuk pribadi Muslim berakhlak mulia.
1. Shalat Berjamaah
Setelah Anda mengucapkan mengucapkan Dua Kalimah Syahadat - bagi yang baru masuk Islam, segeralah mulai melaksanakan shalat wajib lima waktu dan melakukan shalat berjamaah, karena shalat berjamaah pahalanya berlipat daripada shalat sendirian seperti disebutkan dalam Hadits Tarjamah Bulughul Maraam, A. Hasan, 421. Dari Abdullah bin Umar diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat pada shalat sendiri-sendiri.” Hal ini berarti dapat dipakai atau merupakan percepatan kita untuk membekali diri untuk di akhirat nanti daripada melakukan shalat sendirian. Dan akan lebih baik dilaksanakan di masjid karena shalat di masjid berarti pula ikut memakmurkan masjid, di mana suasananya dapat membangkitkan semangat untuk lebih meningkatkan mengerjakan shalat sunnah serta kesempurnaan shalat yang lain, yang rapat lurus shafnya serta tepat waktunya, sebab itulah sumber kekuatan, tenaga, iman dan pemersatu ummat Islam sehingga menumbuhkan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan.
2. Puasa
Melaksanakan ibadah puasa bukan hanya puasa wajib pada bulan Ramadhan tiap tahun saja, lakukanlah juga puasa sunnat sesuai dengan petunjuk atau Hadits Nabi Muhammad Saw. Puasa akan menghimpun kekuatan tenaga iman, membentengi Al-Islam dari pengaruh-pengaruh buruk yang menyesatkan, menenangkan jiwa, dan menajamkan doa munajat agar segera terkabul.
3. Zakat dan Infaq
Perintah menunaikan zakat berkali-kali diulang dan digandengkan dengan perintah shalat di antaranya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku’. (QS Al-Baqarah 2: 43). Zakat adalah suatu metode pembelajaran agar seseorang memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah salah satu bagian dari lingkungan sosial yang memiliki tugas menjalankan misi-Nya sebagai rahmatan lil ‘alamin. antara lain membuka pintu perbendaharaan duniawi yang bisa dijadikan sumber rejeki kaum Muslimin, dan infaq dapat untuk mencegah bencana atau menolak bala, melebur dosa, mengangkat derajat dan menyampaikan segala hajat serta cita-cita. Perintah infaq juga sering disebut di dalam Al-Qur’an seperti: “Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah sebagian rejeki yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah orang yang zhalim.” (QS Al-Baqarah 2: 254).
Untuk dapat melaksanakan zakat dan infaq seorang Muslim harus mempunyai dana. Untuk itu seorang Muslim sebaiknya bekerja mencari nafkah, baik untuk keluarganya maupun untuk zakat dan infaq, maka dari itu disunnahkan untuk melakukan shalat Dhuha karena waktu Dhuha biasanya dgunakan untuk mencari nafkah, Insya Allah memberikan rejekinya bagi yang rutin mengerjakan shalat Dhuha.
4. Membaca Al-Qur’an
Tak bisa disangkal bahwa Al-Qur’an adalah ‘obat’ yang mujarab untuk mengobati penyakit-penyakit hati yang terkadang mendekam di sanubari seseorang, penyakit syirik, nifaq, kebodohan, bid’ah, penyakit syubhat, syahwat, dan lain-lain. Oleh karena itu hendaklahlah seorang Muslim senantiasa membaca Al-Qur’an secara rutin setiap hari. Membaca Al-Qur’an bukan sekedar melagukan, melainkan juga berupaya untuk memahami seluruh isi kandungan Al-Qur’an yang merupakan pedoman hidup ummat Islam.
Al-Qur’an adalah pembimbing menuju suatu kebahagiaan di tengah kondisi yang terus berubah cepat, memberikan prinsip dasar yang dapat dipakai suatu pegangan untuk mencapai suatu keberhasilan dan kesejahteraan, baik lahir maupun batin. Ini adalah proses pembelajaran menimba ilmu keIslaman sampai menguasai sumber hukum yang menerangi perjalanan hidup manusia kejalan yang benar dan lurus yang bisa menolong dan mengeluarkan manusia dari kegelapan, dan dari segala macam kesulitan hidup.
5. Silaturahim
Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa menghubungkan silaturahim merupakan perintah kedua setelah perintah takwa sebagaimana firman Allah Swt: “Bertakwalah kamu kepada Allah, yang dengan nama-Nya kamu saling memohon dan peliharalah kekerabatan (silaturahim).” (QS An-Nisaa’ 4: 1).
Tentang silaturahim ini Rasulullah Saw bersabda: “Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu adalah menyambungkan apa yang terputus.” (HR Al-Bukhari).
Makna silaturahim adalah menyambung tali persaudaran. Dengan kata lain yang lebih luas mencegah perasaan buruk sangka, menjalin tali persaudaraan (ukhuwah Islamiyah), menumbuhkan rasa kasih sayang dan melapangkan rejeki yang murah penuh berkah.
6. Doa dan Dzikir
Dasar doa dan dzikir disebutkan di dalam Al-Qur’an, antara lain: 1. Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-A’raaf 7: 180), 2. “Dan Tuhanmu berfiman: Berdoalah kepadaku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.“ (QS Ghafir 40: 60)
Doa dan dzikir merupakan senjata pamungkas andalan kaum Muslimin untuk menarik dan mendatangkan rahmat kasih sayang pertolongan Allah, membentuk pribadi Muslim yang berakhlak mulia. Doa dan dzikir adalah benteng bagi seorang Muslim, dan juga penentram hati yang hakiki. Orang Islam yang tidak pernah berdoa dan berdzikir ibarat seekor ikan yang hidup di daratan. Akan mati hatinya dan berjuta-juta kesengsaraan selalu siap mengkeceramkan. Dan jangan lupa berdoa agar dapat melaksanakan ibadah Haji ke tanah suci memenuhi panggilah Allah Swt bagi yang belum berkesempatan, karena ibadah Haji adalah Rukun Islam yang kelima yang wajib dikerjakan oleh setiap Muslim yang memliki kemampuan - dana, kesehatan dan lainnya - untuk menunaikannya.
7. Shalat Tahajud
Allah Swt berfirman: ”Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat Tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Israa’ 17: 79). Shalat Tahajud memberikan motivasi menuju pintu sukses keberhasilan dalam segala perjuangan untuk meraih kemenangan membuka rahasia ilmu yakin dan ilmu rabbaniyah - berwawasan luas - untuk mendapatkan karunia dan keridhaan Allah Swt.
Semoga tulisan ini dapat menjadi dasar kehidupan dalam rumah tangga yang bahagia, mengatur masyarakat, bahkan dalam upaya mewujudkan cita-cita kita seluruh rakyat Indonesia yaitu suatu negara yang kaya raya, adil makmur, aman dan sentosa, yang diridhai Allah Swt sebagaimana janji-Nya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS An-Nuur 24: 55).
Indrasto Harsolumakso
No. 167

Senin, 05 November 2012

BERBAGAI UJIAN TERHADAP IMAN


KAJIAN TERHADAP QS AL-'ANKABUUT 29: 1-3

Tiga ayat permulaan surah Al-'Ankabut menyatakan:  
الم ﴿١﴾ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ﴿٣﴾
Alif laam miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi (atas perkataannya itu?). Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka; maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar pengakuan imannya dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” 

Surah yang diletakkan Rasulullah Saw di dalam Mushaf Al-Qur’an pada urutan ke 29 ini diawali dengan fawatihus suwari – rangkaian huruf hijaiyah (Alfabet Arab) yaitu alif, laam dan mim. Untaian huruf itu tidak digunakan orang dalam komunikasi sehari-hari. Para ulama tafsir menerangkan bahwa fungsi fawatihus suwari adalah menangkap perhatian orang-orang yang membaca atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an, karena sesudah itu akan disampaikan pesan atau keterangan yang sangat penting. Keterangan penting yang diungkapkan pada surah ke ini dikemas dengan sebuah pertanyaan retorika, pertanyaan yang jawabannya sudah jelas; pertanyaan demikian itu dimaksudkan untuk menegaskan sebuah kebenaran, sekaligus menarik perhatian. Pertanyaan retorika tersebut adalah: Pantaskah seseorang atau segolongan orang mengira bahwa mereka mudah saja mengaku sebagai orang yang beriman, dan pengakuan mereka itu langsung diterima oleh Allah tanpa diuji kebenarannya? Tentu saja tidak. Setiap pengakuan iman akan dicocokkan dengan sikap dan perilaku orang tersebut. 

Di antara manusia ada yang menjalani hidup sesuai dengan imannya dan di antara mereka ada pula yang perbuatan-perbuatannya justru bertolak belakang dengan pengakuan imannya. Kaum munafikin mengaku beriman kepada Allah tetapi mereka tidak menunaikan shalat, kecuali ketika sedang berada di depan orang banyak. Mereka mengaku menjadi pengikut setia Rasul Allah, tetapi tidak menaati perintah-perintah beliau dan tidak menjadikan Rasul sebagai idola untuk diteladani dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka mengaku beriman kepada hari Kiamat tetapi tidak berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang besar itu. Apakah Allah dan Rasul-Nya mudah tertipu oleh pengakuan mereka? Tentu saja tidak! Selama beberapa waktu Allah memberi kesempatan kepada mereka untuk intropeksi dan mengubah pendiriannya. Tetapi bila mereka mengabaikan kesempatan emas itu, kelak mereka akan tahu bahwa Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka lakukan; mereka pasti memperoleh balasan yang pedih atas sikap dan pekertinya tersebut.

Manusia dicipta Allah Swt sebagai makhluk yang sadar diri. Dia mengetahui secara mendalam sebagian besar dari perbuatan-perbuatannya, memahami tujuan dari aktivitasnya itu, mampu memperhitungkan hasil yang akan dia peroleh dan resiko yang mungkin menimpanya. Manusia dikaruniai Allah potensi aql - rasio dan hati - yang dapat memahami benar dan salah, baik dan buruk, banyak sedikitnya manfaat serta besar kecilnya mudharat. Selain itu manusia juga memiliki nafsu, yang menjadikan dia merasakan kegembiraan terhadap proses dan hasil kegiatannya. Nafsu mendorong orang mengembangkan kemampuannya untuk mewujudkan budaya yang semakin maju. Tetapi bila nafsu berkembang melewati batas, dia akan merugikan. Nafsu yang menguntungkan adalah yang dirahmati Allah (QS Yusuf 12: 53), sedangkan nafsu yang memperoleh rahmat Allah ialah yang dikendalikan sesuai norma-norma agama. Allah mempersilakan para wanita mengenakan perhiasannya, bahkan ketika pergi ke masjid, dan membolehkan setiap orang makan dan minum apa yang disukainya asal tidak berlebihan, karena Allah tidak suka kepada orang yang berlebihan. (QS Al-A’raaf 7: 31).

Karena potensi kemanusiaannya yang tinggi, maka kelakuan orang dapat memberi hasil yang optimal, tetapi juga bisa mendatangkan kerugian yang sangat besar. Sekelompok lebah ketika bekerja sama menghasilkan madu yang banyak, mencukupi kebutuhan konsumtif anggotanya untuk beberapa waktu. Tetapi sekelompok orang mampu membangun dan mengoperasionalkan pabrik-pabrik yang hasilnya dinikmati jutaan orang lain. Sekawanan gajah yang marah dapat menghancurkan sebuah kampung, tetapi sekawanan orang telah terbukti meluluh-lantakkan dua kota besar: Hiroshima dan Nagasaki, dengan bom atom yang dijatuhkan ke dua kota tersebut. Sungguh dahsyat akibat ulah manusia.
Oleh karena itu Allah yang Maha Mengtahui dan Maha Bijaksana menganugerahi manusia informasi serta petunjuk kehidupan, yang bila dipatuhi akan mengantarkannya kepada ketenteraman, kedamaian, kesejahteraan serta kebahagiaan yang panjang. Sebagian orang mengikuti arahan Allah tersebut dengan suka rela namun sebagian banyak lainnya menolak karena lebih suka mengikuti kehendak nafsunya dan bujuk rayu syaitan yang datang kepadanya dengan wajah manis dan tipuan-tipuan menarik.
Mengerjakan yang benar dan baik serta menjauhi yang salah dan buruk, memerlukan tekad yang kuat dan semangat yang tinggi; itulah yang disebut jihad - perjuangan, dan jihad itu memang sangat berat. Ketika pulang dari pertempuran Badar melawan agresor Qureisy, Rasulullah bersabda: "Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar, yaitu mengendalikan nafsu". Perjuangan tersebut dapat kita pahami pula sebagai menempuh ujian hidup, seperti yang dikemukakan pada ayat 2 surah Al-'Ankabuut. Sedangkan ujian-ujian demikian itu akan selalu dihadapi di segala tempat, pada semua waktu, dan dalam setiap keadaan. Karena itu ada pepatah bahasa Arab yang menyatakan: Alhayatu silsilatun minal imtihan - kehidupan itu merupakan untaian dari ujian demi ujian.
Bila orang memandang ujian hidup itu sebagai aral, halangan dan hambatan, nilai dirinya di hadapan Allah tidak beranjak naik. Tetapi bila orang menganggap ujian sebagai wahana untuk memperoleh penghargaan dari Allah Swt, dia pasti mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepadanya, yaitu ketenteraman dan kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan hakiki dan abadi di akhirat.  
Ayat 3 surah Al-'Ankabuut kemudian menerangkan bahwa pada masa dahulu Allah telah menguji orang-orang yang hidup sebelum generasi Muhammad Saw. Di antara mereka yang diuji itu ada yang lulus dan ada yang gagal, ada yang memperoleh ridha Allah karena ketulusan dan kesabarannya menerima ujian, dan ada yang ketahuan kadar imannya yang sangat tipis, ketika tidak tahan menghadapi beberapa cobaan yang mereka terima.
Sebagaimana yang dikemukakan pada ayat sebelum ini, Allah pasti akan menguji setiap orang untuk membuktikan kadar imannya. Hal ini dikemukakan pula pada ayat lain: "Apakah kamu mengira, kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah, orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar?” (QS 142 Ali ‘Imraan 3: 142). Setiap orang pasti mengalami cobaan-cobaan hidup, bahkan orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah sekalipun. Mereka diuji justru sebagai kesempatan untuk meningkatkan derajatnya.
Rasulullah Saw pernah menyatakan: "Manusia yang paling berat cobaannya ialah para nabi, kemudian orang-orang yang shaleh, lalu orang-orang yang terkemuka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya; jika agamanya kuat maka ujiannya diperberat pula." Demikian sabda Rasul. Dari keterangan tersebut jelas bahwa orang yang lulus dalam ujian yang sangat berat adalah orang yang benar-benar beriman.
Bagaimanakah sosok orang-orang yang benar-benar beriman itu? QS Al-Hujuraat 49: 15 menjelaskan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu terhadap imannya itu, dan mereka berjuang di jalan Allah dengan harta dan dirinya. Mereka itulah orang-orang yang benar pengakuan imannya.” Ayat yang kita baca tadi menyatakan bahwa siapa saja yang mengaku beriman akan diuji dengan bermacam-macam ujian. Ada ujian yang berupa keadaan yang sulit, misalnya masalah-masalah besar, musuh kuat yang mengancam, kemiskinan yang menghimpit dan sebagainya. Bani Israil umat Nabi Musa As. diperlakukan Fir’aun di Mesir sebagai budak-budak yang dibebani kerja keras tetapi tidak memiliki hak apapun. Para pengikut Nabi ‘Isa As. terpaksa hidup berpindah-pindah karena dikejar hendak dibinasakan oleh tentara Romawi.
Al-Qur’an menceriterakan tiga orang Rasul yang menghadapi ujian berbeda. Nabi Ayyub As adalah gambaran seorang hamba Allah yang sangat sabar ketika dihadapkan kepada beberapa kesulitan berturut-turut: kekayaannya ludas, putera-puteranya wafat dan beliau sendiri sakit berat. Tetapi Ayyub As tetap sabar menerima segala cobaan itu sambil terus berdo’a tanpa mengeluh sama sekali. Yang beliau katakan hanyalah: "Wahai Tuhanku sesungguhnya aku ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang". (QS 21:83). Ada pula ujian yang sebaliknya yaitu keadaan yang serba menyenangkan seperti kekayaan yang berlimpah ruah, kedudukan yang tinggi, anak keturunan yang banyak, dan sebagainya. Nabi Sulaiman As adalah sosok hamba yang memperoleh segala-galanya: kekuasaan, kekayaan, ilmu pengetahuan, dan kenabian. Tetapi semua itu tidak menjadikan beliau ke luar dari sikap tawaddhu'  -rendah hati. Menanggapi berbagai kenikmatan yang beliau terima Sulaiman As. menyatakan: "Semua ini adalah karunia Tuhanku, untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau bahkan menjadi kufur”. (QS An Naml 27: 40). Nabi Isma'il As ketika masih remaja sudah diuji Allah yang luar biasa, yaitu akan disembelih ayahandanya sendiri. Tatkala Ibrahim menanyakan pendapatnya tentang hal itu beliau menjawab mantap: "Wahai ayahku, laksanakan perintah Allah itu dengan semestinya. Engkau akan menyaksikan daku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar". (QS Ash-Shaffaat 37: 102).
Nabi Ayyub As dihadapkan kepada keadaan yang sangat tidak nyaman, tetapi beliau amat bersabar. Nabi Sulaiman As. memperoleh situasi yang benar-benar menjadi idaman setiap orang, dan beliau sangat bersyukur. Nabi Isma'il As hendak dihabisi hidupnya dengan seketika, dan beliau ikhlas sepenuhnya. Ketiga beliau lulus dengan predikat cumlaude sehingga kelak pasti menerima karunia terbaik dari Allah Swt. Setiap kita juga diuji Allah dengan ujian yang bermacam-macam. Allah Maha  Mengetahui tingkatan iman kita, maka Dia tidak akan menguji kita sebagaimana yang Dia hadapkan kepada Ayyub, Sulaiman dan Isma'il. Toh banyak orang yang tidak tahan dengan ujian-ujian ‘ringan’ itu. Mudah-mudahan kita tidak termasuk ke dalam golongan tersebut. 
Sakib Machmud
No. 166