Senin, 25 Agustus 2014

TATANGAN BAGI PEMIMPIN BARU

Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 22 Juli 1014 telah menetapkan Joko Widodo alias Jokowi sebagai presiden terpilih hasil pemilihan presiden (Pilpres) tanggal 9 Juli 2014. Siapapun yang terpilih haruslah kita dukung bersama. Hal ini sudah menjadi komitmen para calon presiden (Capres) sebelum Pilpres berlangsung. Namun pada saat akhir penghitungan suara Capres Prabowo Subianto menyatakan menarik diri dari Pilpres 2014, yang kemudian berlanjut dengan menggugat KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bapilu) ke Mahkamah Konstitusi (MK) pada tanggal 18 Juli dengan alasan ada kecurangan terstruktur, sistematik dan masif dalam pelaksanaan Pilpres dan rekapitulasi suara. Namun MK dalam keputusan sidang sengketa Pilpres tanggal 21Agustus 2014, menolak gugatan kubu Prabowo, sehingga Jokowi tetap menjadi pemenang Pilpres 2014.

Kita berharap agar Prabowo menerima keputusan MK dengan legowo dan Jokowi menerimanya dengan tawadhu'. Bukankah mereka adalah para pemimpin bangsa yang mengetahui arti amanah yang harus ditunaikan sebagai pemimpin? Amanah bukanlah sesuatu yang diperebutkan, melainkan diterima dengan ikhlas untuk dilaksanakan. Berdasarkan pengalaman selama lima tahun terakhir ini, berkali-kali ada upaya untuk menggoyang kursi presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sedang bekerja. Diharapkan hal seperti ini ini tidak terjadi lagi pada presiden baru - atau siapun presiden yang akan datang.  

Berkaitan dengan pemimpin, Rasulullah Saw bersabda: “Dunia ini ibarat kebun yang dihiasi dengan empat ornamen: ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kepemurahan orang-orang kaya, dan do’anya orang-orang fakir.” (HR Abu Daud). Sehubungan dengan hadits tersebut, kita akan membahas peran pemimpin sebagai kekuatan kedua yang tidak kalah penting dibanding ulama dalam membangun bangsa dan negara. Untuk itu terlebih dahulu, kita akan mempelajari apa saja syarat yang harus dipahami oleh seorang pemimpin, yang akan dijadikan modal untuk membangun bangsa dan negara.

Pertama, pemimpin haruslah menjaga amanah dan profesional. Hal itu, dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, raja berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami. Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah penjaga amanah (hafidz) dan berpengetahuan (alim)." (QS Yusuf 12: 54-55). Demikianlah kesiapan Nabi Yusuf penjaga amanah, yang dicerminkan dengan kata hafidz.

Menjadi pemimpin adalah menerima amanah yang dipercayakan masyarakat kepadanya. Menunaikan amanah itu sangat berat, karena pemimpin harus menyadari bahwa padanya melekat wewenang, kekuasaan, dan harta kekayaan negara yang harus dipertanggungawabkan, bukan hanya kepada masyarakat yang mempercayakan amanah itu tetapi terutama ke hadapan Allah Swt. 

Karena itu pemimpin haruslah profesional yang dicerminkan dengan kata-kata berpengetahuan (alim). Seorang pemimpin yang mendapatkan amanah suatu jabatan, seharusnya telah mendapatkan tempaan dari ibadah yang dilakukannya, dan sudah selayaknya mengedepankan kejujuran, kebenaran, dan keberpihakan pada nilai-nilai Ilahiyah dalam setiap kebijakan dan tindakan yang dilakukannya.

Dengan profesionalisme yang tinggi, pemimpin harus berusaha bersungguh-sungguh memecahkan berbagai persoalan bangsa dan ne-gara dengan perencanaan yang matang, kebijakan dan langkah yang jelas, transparansi yang terukur dan teruji, bukan semata-mata reaktif serta tambal sulam. Penanganan suatu masalah yang semata-mata mengandalkan pada kemampuan intuisi tanpa didasari alur logika yang sehat dan perencanaan yang baik, biasanya akan menambah masalah baru yang seharusnya tidak perlu terjadi. Jadi pemimpin haruslah berbekal amanah yang dibingkai dan diperkokoh oleh profesionalisme yang dilandasi keimanan dan ketakwaan. 

Kedua, pemimpin harus menegakkan kebenaran dan keadilan. Alllah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al- Maaidah 5: 8). 

Ketiga, seorang pemimpin tidak boleh berbuat zhalim. Tentang kezhaliman Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. (QS Asy-Syuura 42: 42). 

Keempat, pemimpin harus memiliki daya saring (furqaan) yang tinggi dalam memilih dan memilah perbuatan yang bermanfaat dari perbuatan yang mudharat dan merusak, perbuatan baik dari perbuatan buruk, dan perbuatan yang menyelamatkan dirinya dan masyarakatnya dari yang mencelakakannya. Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan penghapuskan segala kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS ِAl-Anfaal 8: 29). 

Dalam melaksanakan amanah yang sangat berat itu, apabila seorang pemimpin melakukan kesalahan, keburukan dan kejahatan, tentu akan dikecam oleh masyarakat, hal Itu wajar saja. Namun kenyataannya, apabila pemimpin adalah orang yang selalu menganjurkan, mengusahakan, membangun, dan memberikan kebajikan, kita juga sering menjumpai kritikan dan kecaman yang mungkin sangat pedas dan pahit kepada pemimpin itu.

Bagaimana menghadapi kritikan dan kecaman tersebut? Seorang pemimpin harus mempunyai pegangan yang kuat, yaitu senantiasa berpegang pada firman Allah: “Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung.” (QS Al-Ahzaab 33: 48). Jadi, pemimpin cukup mengabaikan saja kecaman dan kritikan semacam itu, dan melanjutkan berbuat kebajikan. Kalau memang bisa begitu, itu yang lebih baik. Tetapi memang tidak semudah itu bagi seorang pemimpin bisa mengabaikannya, apalagi jika pengecam itu tidak mau diam mengecam sebelum pemimpin itu lengser. Selalu ada saja perbuatan mereka yang membuat pemimpin bersedih. Itu manusiawi. Maka pegangan berikutnya bagi seorang pemimpin adalah seperti ditegaslah oleh Allah Swt: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS An-Nahl 16: 127). 

Kita perlu menyadari ada kalanya orang-orang yang mengecam suatu perbuatan baik seorang pemimpin itu disebabkan karena mereka sudah membencinya dari awal, karena alasan tertentu yang subyektif. Apalagi jika orang-orang itu sangat berpengaruh di kalangan para pendukungnya yang fanatik. Kalau sudah begini, pemimpin itu dihadapkan pada posisi sulit. Mereka yang mengecam bisa melakukan ghibah (bergunjing) atau fitnah sedemikian rupa sehingga pemimpin itu bisa saja terkucilkan dari masyarakat.

Namun seorang pemimpin sejati tidak perlu khawatir. Ingat! Allah Sang Pencipta dan Pemberi Rezeki Yang Maha Mulia saja, sering kali mendapat cacian dan cercaan dari orang-orang yang bodoh dan tak berakal. Maka pegangan bagi pemimpin terhadap kecaman semacam itu adalah pembelaan Allah Swt berikut ini: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (QS Al-Ahzaab 33: 69). Ibarat Nabi Musa, seorang pemimpin tidak perlu berkecil hati, karena Allah Swt menjamin akan membersihkan dari tuduhan orang-orang bodoh.

Sebagian dari orang-orang bodoh ada yang menganggap orang lain juga bodoh seperti mereka, meskipun tidak sedikit orang-orang pintar dan sok pintar yang juga suka membodohi orang lain, padahal yang dibodohi belum tentu bodoh. Terhadap sikap tersebut pegangan bagi pemimpin adalah sabda Rasulullah Saw berikut: “Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu." (HR Ath-Thabrani)

Dan apabila mereka masih juga mengecam, maka pegangan bagi pemimpin adalah, cukup mengomentari setiap perkataan mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Rasulullah Saw untuk melindungi beliau dalam menghadapi kecaman-kecaman bodoh: “Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: "Kami beriman"; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (Muhammad): “Matilah kamu karena kebencianmu itu. ” (QS ’ Ali ‘Imraan 3: 119). 

Jika Allah yang Maha Pengasih sudah sampai memerintahkan begitu, maka berarti sikap dan perbuatan sekelompok orang munafik yang berhati buruk itu harus dienyahkan dari dunia ini. Tetapi seseorang tidak boleh membunuh orang lain gara-gara kritikan, kecaman, maupun kutukan yang dilakukan terhadap dirinya. Kita serahkan penyelesaian atas perbuatan orang-orang munafik itu di tangan Allah Swt. Rasulullah Saw pernah bersabda tentang orang-orang yang suka mencela: "Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor." (HR At-Tirmidzi). Berdasarkan hadits ini berarti mereka hanya mengaku Muslim tetapi sesungguhnya bukan, atau setidaknya bukan Muslim yang baik.

Begitulah salah satu fenomena dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka yang mengecam pemimpin karena pemimpin itu berbuat kebajikan, adalah karena hasad (iri) terhadap kemampuan dan kelebihan pemimpin itu. Padahal mereka sendiri tidak melakukan kebajikan seperti yang dilakukan pemimpinnya. Maka untuk menghadapinya, yang terbaik adalah tidak menjawab lagi kritikan mereka, melainkan ‘menyumpalkan ke mulut mereka potongan-potongan daging’ supaya mereka diam, yaitu dengan cara memperbanyak berbuat keutamaan, memperbaiki akhlak, dan meluruskan setiap kesalahan dengan terus berbuat kebajikan. Anggaplah kritikan dan kecaman itu sebagai penghormatan kepada pemimpinnya. Semakin tinggi derajat dan posisi seorang pemimpin, maka akan lebih pedas pula kritikan itu.

Meskipun demikian, seorang pemimpin harus menyadari bahwa, mustahil dia bisa diterima semua pihak, dicintai semua orang, dan terhindar dari cela, dan mengangankan sesuatu yang terlalu jauh untuk diwujudkan. Seseorang yang melakukan sesuatu karena Allah tidak boleh merasa bahwa semua orang sepakat dengannya. Pemimpin harus menyadari bahwa tidak ada satu pun masalah yang disepakati semua orang. Bahkan terhadap Nabi sekalipun. Tetapi para Nabi itu tidak pernah putus asa, meski banyak pihak yang tidak mau mengakui kebenaran, kejujuran dan kehebatannya. Pemimpin juga harus demikian. Apa yang menjadi kewajibannya harus dikerjakan, meskipun banyak orang yang tidak suka atau malahan memusuhinya.

Perlu kita sadari bahwa seorang pemimpin tidak akan bisa melaksanakan amanahnya dengan baik apabila rakyat tidak mentaati apa yang diaturnya. Itu adalah kewajiban rakyat. Allah Swt berfir-man: ”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisaa’ 4: 59).

Rasulullah Saw bersabda: “Hendaklah kamu mendengar, patuh dan taat (kepada pemimpinmu), dalam masa kesenangan, dalam kesulitan dan kesempitan dalam kegiatanmu, dan di saat mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, meskipun keadaan itu merugikan kepentinganmu.” (HR Muslim dan An-Nasa'i). 

Pesan moral yang terkandung dalam ayat dan hadits di atas, kepada pemimpin terpilih dengan ridha Allah (bukan pemimpin yang terpilih karena kecurangan dalam Pemilu), hendaknya kita taati petunjuk dan bimbingannya. Itu adalah kewajiban ummat untuk mematuhinya dalam masa senang maupun masa sulit. Hanya orang-orang yang hasad, ujub, riya’, dan dengki, yang menghina pemimpinnya. Jika tidak maka kita akan mendapat penghinaan dari Allah Swt sebagaimana sabda Nabi Saw: “Barangsiapa menghina penguasa Allah di muka bumi maka Allah akan menghinanya.” (HR At-Tirmidzi). 

Saya, penulis menghimbau kepada sesama bangsa, termasuk para politisi maupun pengunjuk rasa untuk senantiasa bersikap arif dan bijaksana dalam melakukan kritik dan saran kepada pemimpin dengan etika yang diajarkan Rasulullah Saw seperti telah dibahas pada tulisan terdahulu tentang ‘Demokrasi dan Unjuk Rasa’, yaitu dengan medepankan musyawarah daripada melakukan orasi secara terbuka. Hendaknya masyarakat memberi kesempatan kepada pemimpin itu untuk menunaikan amanah yang dipegangnya sampai akhir masa jabatannya, karena pemimpin kita sekarang - siapapun presidennya - dipilih rakyat secara langsung sesuai UU Pemilu yang berlaku.

Dan jangan pula karena mereka gagal atau tidak mendapat kesempatan dalam kekuasaan, para politisi termasuk politisi berkedok ulama, pakar politik dan tokoh-tokoh partai oposisi, ingin ‘menggoyang’ atau menistakan pemimpin yang sedang bekerja. Para elite bangsa hendaknya bersikap sebagai negarawan yang bertanggungjawab, bukan sekedar mengritik dan mengecam apalagi memfitnah, seolah-olah mereka itu paling peduli dan paling mampu mengemban amanah rakyat.

Selama ini, elite bangsa yang sudah lengser maupun yang belum mendapat kesempatan untuk memimpin, ditambah politisi berkedok ulama, pengamat politik, media massa yang dikuasai oleh politisi tertentu, kebanyakan mereka melakukan kritik dan kecaman untuk sekedar fusuq dan jidal. Fusuq adalah perkataan dan perbuatan yang dimaksudkan untuk menyakiti, menyerang, merusak, bahkan merendahkan orang lain. Dalam jidal, semua pengritik dan pengecam menganggap pendapatnya paling benar.

Sesungguhnya kebenaran itu hanya pada Allah Swt, dan orang-orang yang iman dan takwanya benar, bukan pada mereka yang dikuasai kekuatan ghadab dan wahmiyah. Kekuatan ghadhab adalah dorongan untuk mengalahkan orang lain, di dalamnya termasuk kesombongan, kedengkian, rasa benci, rasa iri (hasad) dan dendam. Kekuatan wahmiyah datangnya dari syeitan, yakni kekuatan yang membenarkan ucapan buruk. Ini pernyataan yang tidak enak, tetapi setidaknya itu merupakan tantangan bagi para elite bangsa untuk memperbaiki diri.

Ucapan seseorang mencerminkan hati dan lidahnya. Keduanya memiliki makna fisik dan metafisik. Secara fisik hati adalah organ yang menjadi pusat dalam jasmani manusia. Secara metafisik hati adalah wadah dari segala pusat aktivitas diri dan menampung segala bentuk sikap, perbuatan dan pikiran manusia. Sementara itu lidah secara fisik adalah organ yang membuat manusia bisa berbicara, tetapi secara metafisik lidah adalah ucapan yang keluar dari hati manusia.

Semoga kita akan semua menjadi lebih bijaksana dalam ucapan dan perbuatan. Baik para pengritik dan pengecam maupun pemimpin yang sedang menunaikan amanah bangsa dan negara hendaknya menjadikan momen ini untuk saling memelihara silaturahim supaya kita memperoleh hikmah dan mendapatkan pahalanya. Dan semoga hikmah tersebut berbuah pada perbaikan ucapan dan perbuatan kita. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
Hermanto Harsolumakso
No. 226

Minggu, 10 Agustus 2014

MENSYUKURI BERBAGAI NIKMAT KARUNIA ALLAH

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”

Ayat di atas dikemukakan di dalam surah 55 Ar-Rahman, dan diulang-ulang sampai 31 kali. Pengulangan berkali-kali menunjukkan betapa pentingnya bagi manusia untuk memahami secara sempurna kenikmatan yang dikaruniakan Allah kepadanya. Memang bagian terbesar dari 78 ayat yang dikandung oleh surah Ar-Rahman membicarakan kemurahan Tuhan - Allah Swt kepada seluruh makhluknya, khususnya manusia. Dia telah menjadikan alam raya ini indah, nyaman dihuni, dan menyediakan berbagai keperluan serta keinginan manusia. Unsur-unsur alam ini saling berinteraksi membentuk harmoni yang sangat bermanfaat. Tetapi meskipun manusia dalam setiap waktu dari hidupnya menyaksikan keserasian serta kemanfaatan unsur-unsur alam dan hubungan antar unsur alam, tetapi tanpa berpikir secara mendalam sehingga kesaksiannya itu tidak sampai menyentuh hakikat dari eksistensi alam ini sebagai sesuatu yang dicipta, diatur dan dikuasai Allah Swt.

Banyak orang yang tidak sadar akan peranan Allah di dalam mengatur alam beserta segala isinya. Karena itu Al-Quran mengingatkannya melalui banyak ayat, termasuk di dalam surah Ar-Rahman. Kita bicarakan beberapa di antaranya.

Ayat 2 sampai dengan 4 membicarakan penciptaan manusia sebagai makhluk berpikir, yang karena itu diberi kebebasan untuk melakukan hal-hal yang diinginkannya. Tetapi sekiranya kebebasan itu tanpa batas dan tanpa arahan, pasti mencelakakan makhluk ini sendiri beserta lingkungan hidupnya. Maka Allah menurunkan informasi dan petunjuk tentang kebenaran hakiki, yang orang tidak akan mampu memperolehnya dengan akal semata. Keterangan itu Dia sampaikan melalui para Nabi dan Rasul, dari yang pertama, Adam As sampai dengan yang terakhir, Muhammad Saw. Rasul menyampaikannya kepada orang-orang yang beliau jumpai, kemudian para penerima pertama itu dengan kemampuan komunikasinya yang baik menyampaikan informasi dan petunjuk itu secara beranting kepada masyarakat yang seluas-luasnya. Bukankah hal itu merupakan karunia Allah yang agung?

Ayat 5 dan 6 menuturkan kekuasaan Allah yang tidak terbatas dalam mencipta langit yang luar biasa luas; di dalamnya ada bermiliar-miliar bintang, antara lain matahari yang meskipun ukurannya relatif kecil dibanding bintang-bintang lainnya tetapi mampu memancarkan energi sebesar 389 juta miliar miliar watt setiap detik. Dengan energi sebesar itu bumi diteranginya dan dihangatkannya dari waktu ke waktu. Kondisi itu sesuai untuk kerja keras. Tatkala salah satu bagian dari permukaan bumi membelakangi matahari, kadang-kadang ada bulan yang memantulkan cahaya matahari sehingga menerangi tanpa panas, menyajikan suasana yang syahdu dan indah – cocok bagi orang-orang yang hendak beristirahat. Di bumi tumbuh berbagai ragam tanamhan, dari yang tinggi menjulang sampai yang amat rendah; masing-masing menyajikan keindahan bagi hati manusia, dan manfaat tiap-tiap bagian dari tetumbuhan itu, mulai dari pucuk daun sampai dengan akarnya. Bukankah itu merupakan anugerah Allah yang tidak terkira?  

Ayat 19 dan 20 mengemukakan karya agung Allah Swt di bumi, yaitu himpunan air di sungai dan di laut. Allah menetapkan salah satu sifat air, yaitu selalu begerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Maka dari sumbernya di pegunungan air itupun mengalir di parit-parit, sungai kecil, sungai besar, melewati lembah dan ngarai, sampai di muara, tempat bertemunya air sungai yang tawar dengan air laut yang asin. Di situ ada hukum hidrodinamika yang memisahkan kedua macam air itu. Tidakkah kenyataan tersebut menunjukkan keagungan Allah yang tidak terukur? Demikianlah beberapa contoh dari kebesaran Allah yang diterangkan dapat kita baca dalam surah 55 Ar-Rahman. Yang kita tulis di sini hanya sebagian kecil saja dari apa yang dipertelakan di dalam surah tersebut.

Bahkan seandainya seluruh keterangan di surah ini kita kemukakan, tetap merupakan bagian yang sangat kecil dari keagungan Allah Swt, yang sekaligus merupakan karunia-Nya kepada segenap makhluk di alam semesta ini. Silakan masing-masing pembaca dan pemerhati Al-Mustaqqim menuliskan apa yang dilihatnya dan diketahuinya dari pengamatan sehari-hari; siapapun tidak akan mampu menuliskan seluruh nikmat anugerah Allah Swt. Al-Quran menyatakan tentang hal ini di dalam QS surah 14 Ibrahin: 34,  “Dan sekiranya kamu (hendak) menghitung nikmat-nikmat Allah, tidak akan kamu dapat menghinggakannya”.

Meskipun demikian, kita kemukakan beberapa contoh yang berasal dari pikiran manusia sendiri. Ada seseorang menulis di akun facebooknya, bahwa untuk bernafas setiap orang setiap hari menghirup 2.880 liter oksigen dan 11.380 liter nitrogen. Maka seandainya mesti membeli dia harus mengeluarkan dana 170 juta rupiah sehari untuk dirinya saja. Bagaimana kalau dia kepala keluarga dengan satu isteri dan dua orang anak? Beruntunglah orang itu dan semua orang yang lain, karena Allah menyediakan kedua macam gas tersebut secara bebas dan gratis di udara. Ada pula penyaji tulisan lain di facebook yang menggambarkan kebutuhan makan setiap orang. Allah mensifati manusia sebagai sarwa boga - pemakan segala, karena kebutuhan tubuhnya seperti itu dan struktur alat pencernakannya juga demikian. Maka Allah menyediakan di bumi ini kebutuhan makan tersebut secara lengkap.
Begitu pula Tuhan yang Mahapencipta menyiapkan bahan-bahan untuk memenuhi kebutuhan menutup tubuh, kebutuhan berlindung dari cuaca yang dapat mengganggu kesehatan, dan lain-lain, semua itu Dia sebarkan di bumi ini. Manusia tinggal mengambilnya dan merekayasanya. Harus diingat bahwa kemampuan manusia untuk mengambil, menggabungkan, dan mengolah segala bahan di alam itu juga karunia Allah Swt. 

Fa bi ayyi alaa-i Rabbikuma tukadzziban - Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang tidak kamu akui? Ayat ini sebagaimana yang dikemukakan tadi mengingatkan dan memeringatkan setiap orang untuk selalu mengingat-ingat berbagai karunia Allah yang telah, sedang dan akan dinikmatinya. Kalau tidak, maka yang ada dalam benaknya hanyalah kekurangan, kesulitan, dan keadaan yang tidak sesuai dengan harapannya. Apabila ingatannya dipenuhi dengan hal-hal negatif demikian, tentu kebahagiaan akan jauh darinya; hatinya sarat dengan keresahan dan kegelisahan. Dalam kondisi batin yang demikian itu tidak akan dia memperoleh kebahagiaan - di dunia tidak, apa lagi di akhirat. Allah memperingatkan manusia mengenai hal tersebut dengan firman-Nya: ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat-Ku) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim 14: 7).

Al-Quran memberi contoh orang-orang yang mendustakan nikmat Allah itu dan telah merasakan kesengsaraan di dunia. Qarun adalah seorang yang kaya raya, sedemikian sehingga kunci-kunci gudang perbendaharaannya saja tidak dapat diangkat oleh beberapa orang yang perkasa (QS 28 Al-Qashash 28: 76). Tetapi kekayaannya itu menjadikannya sombong, menganggap dirinya serba hebat sedangkan orang-orang lain tidak punya peran apapun untuk mengumpulkannya. Bahkan Tuhan pun tidak ada artinya bagi dia. “Sesungguhnya aku mendapatkan harta ini semata-mata karena ilmu yang aku miliki”. (QS Al-Qashash 28: 78). Demikian kata Qarun yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Dia sengaja memamerkan perbendaharaan hartanya tersebut kepada masyarakat, dan menikmati decak kagum orang-orang yang menyaksikannya. Maka Allah membenamkan Qarun beserta hartanya ke dalam bumi. (QS Al-Qashash 28: 81). Al-Quran menceriterakan pula riwayat Fir’aun, penguasa Mesir di zaman Nabi Musa As. Dia dipatuhi oleh para hulubalang dan perajuritnya dengan ketaatan mutlak, sehingga diapun berujar: “Aku adalah tuhanmu yang mahatinggi”. Maka Allah Swt menghukum dia dengan adzab akhirat dan adzab dunia. (QS 79 An-Nazi’at 78: 24-25).

Menghayati berbagai nikmat yang dikaruniakan Allah adalah keniscayaan. Itulah yang dicontohkan oleh Nabi Sulaiman As. seorang yang dikaruniai kekuasaan, kepandaian, dan kekayaan yang luar biasa. Maka beliau menegaskan: “Ini merupakan anugerah Tuhanku, untuk menguji aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya”. (QS 27 An-Naml 27: 40).

Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang-orang yang menghayati karunia Allah. Pertama: bersyukur kepada Allah Swt yang telah menganugerahkan kenikmatan tersebut kepadanya. Kedua: menggunakan karunia itu secara optimal untuk ibadah, baik ibadah ritual maupun ibadah sosial. Ketiga: terus menerus memantapkan penghayatan atas karunia-karunia Allah tersebut, dan dengan itu memantapkan iman kepada Allah dan meningkatkan frekuensi dan kualitas ibadah kepada Allah Swt. Semoga kita termasuk golongan yang menyukuri nikmat seperti Nabi Sulaiman As. dan Rasul-rasul lainnya. Amiin yaa Rabbal ‘alamin. 

Sakib Machmud
No. 225