فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu
dustakan?”
Ayat di atas dikemukakan di dalam surah 55 Ar-Rahman, dan diulang-ulang
sampai 31 kali. Pengulangan berkali-kali menunjukkan betapa pentingnya bagi
manusia untuk memahami secara sempurna kenikmatan yang dikaruniakan Allah
kepadanya. Memang bagian terbesar dari 78 ayat yang dikandung oleh surah
Ar-Rahman membicarakan kemurahan Tuhan - Allah Swt kepada seluruh makhluknya,
khususnya manusia. Dia telah menjadikan alam raya ini indah, nyaman dihuni, dan
menyediakan berbagai keperluan serta keinginan manusia. Unsur-unsur alam ini
saling berinteraksi membentuk harmoni yang sangat bermanfaat. Tetapi meskipun
manusia dalam setiap waktu dari hidupnya menyaksikan keserasian serta
kemanfaatan unsur-unsur alam dan hubungan antar unsur alam, tetapi tanpa
berpikir secara mendalam sehingga kesaksiannya itu tidak sampai menyentuh hakikat
dari eksistensi alam ini sebagai sesuatu yang dicipta, diatur dan dikuasai
Allah Swt.
Banyak orang yang tidak sadar akan peranan
Allah di dalam mengatur alam beserta segala isinya. Karena itu Al-Quran
mengingatkannya melalui banyak ayat, termasuk di dalam surah Ar-Rahman. Kita
bicarakan beberapa di antaranya.
Ayat 2 sampai dengan 4 membicarakan penciptaan manusia sebagai makhluk
berpikir, yang karena itu diberi kebebasan untuk melakukan hal-hal yang
diinginkannya. Tetapi sekiranya kebebasan itu tanpa batas dan tanpa arahan,
pasti mencelakakan makhluk ini sendiri beserta lingkungan hidupnya. Maka Allah
menurunkan informasi dan petunjuk tentang kebenaran hakiki, yang orang tidak
akan mampu memperolehnya dengan akal semata. Keterangan itu Dia sampaikan
melalui para Nabi dan Rasul, dari yang pertama, Adam As sampai dengan yang
terakhir, Muhammad Saw. Rasul menyampaikannya kepada orang-orang yang beliau
jumpai, kemudian para penerima pertama itu dengan kemampuan komunikasinya yang baik
menyampaikan informasi dan petunjuk itu secara beranting kepada masyarakat yang
seluas-luasnya. Bukankah hal itu merupakan karunia Allah yang agung?
Ayat 5 dan 6 menuturkan kekuasaan Allah yang tidak terbatas dalam mencipta
langit yang luar biasa luas; di dalamnya ada bermiliar-miliar bintang, antara
lain matahari yang meskipun ukurannya relatif kecil dibanding bintang-bintang
lainnya tetapi mampu memancarkan energi sebesar 389 juta miliar miliar watt
setiap detik. Dengan energi sebesar itu bumi diteranginya dan dihangatkannya
dari waktu ke waktu. Kondisi itu sesuai untuk kerja keras. Tatkala salah satu
bagian dari permukaan bumi membelakangi matahari, kadang-kadang ada bulan yang
memantulkan cahaya matahari sehingga menerangi tanpa panas, menyajikan suasana
yang syahdu dan indah – cocok bagi orang-orang yang hendak beristirahat. Di
bumi tumbuh berbagai ragam tanamhan, dari yang tinggi menjulang sampai yang
amat rendah; masing-masing menyajikan keindahan bagi hati manusia, dan manfaat
tiap-tiap bagian dari tetumbuhan itu, mulai dari pucuk daun sampai dengan
akarnya. Bukankah itu merupakan anugerah Allah yang tidak terkira?
Ayat 19 dan 20 mengemukakan karya agung Allah Swt di bumi, yaitu himpunan
air di sungai dan di laut. Allah menetapkan salah satu sifat air, yaitu selalu
begerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Maka dari
sumbernya di pegunungan air itupun mengalir di parit-parit, sungai kecil,
sungai besar, melewati lembah dan ngarai, sampai di muara, tempat bertemunya
air sungai yang tawar dengan air laut yang asin. Di situ ada hukum
hidrodinamika yang memisahkan kedua macam air itu. Tidakkah kenyataan tersebut
menunjukkan keagungan Allah yang tidak terukur? Demikianlah beberapa contoh
dari kebesaran Allah yang diterangkan dapat kita baca dalam surah 55 Ar-Rahman.
Yang kita tulis di sini hanya sebagian kecil saja dari apa yang dipertelakan di
dalam surah tersebut.
Bahkan seandainya seluruh keterangan di surah ini kita kemukakan, tetap
merupakan bagian yang sangat kecil dari keagungan Allah Swt, yang sekaligus
merupakan karunia-Nya kepada segenap makhluk di alam semesta ini. Silakan
masing-masing pembaca dan pemerhati Al-Mustaqqim menuliskan apa yang dilihatnya
dan diketahuinya dari pengamatan sehari-hari; siapapun tidak akan mampu menuliskan
seluruh nikmat anugerah Allah Swt. Al-Quran menyatakan tentang hal ini di dalam
QS surah 14 Ibrahin: 34, “Dan
sekiranya kamu (hendak) menghitung nikmat-nikmat Allah, tidak akan kamu dapat
menghinggakannya”.
Meskipun demikian, kita kemukakan beberapa contoh yang berasal dari pikiran
manusia sendiri. Ada seseorang menulis di akun facebooknya, bahwa untuk
bernafas setiap orang setiap hari menghirup 2.880 liter oksigen dan 11.380
liter nitrogen. Maka seandainya mesti membeli dia harus mengeluarkan dana 170
juta rupiah sehari untuk dirinya saja. Bagaimana kalau dia kepala keluarga
dengan satu isteri dan dua orang anak? Beruntunglah orang itu dan semua orang
yang lain, karena Allah menyediakan kedua macam gas tersebut secara bebas dan
gratis di udara. Ada pula penyaji tulisan lain di facebook yang menggambarkan
kebutuhan makan setiap orang. Allah mensifati manusia sebagai sarwa boga -
pemakan segala, karena kebutuhan tubuhnya seperti itu dan struktur alat
pencernakannya juga demikian. Maka Allah menyediakan di bumi ini kebutuhan
makan tersebut secara lengkap.
Begitu pula Tuhan yang Mahapencipta menyiapkan bahan-bahan untuk memenuhi
kebutuhan menutup tubuh, kebutuhan berlindung dari cuaca yang dapat mengganggu
kesehatan, dan lain-lain, semua itu Dia sebarkan di bumi ini. Manusia tinggal
mengambilnya dan merekayasanya. Harus diingat bahwa kemampuan manusia untuk
mengambil, menggabungkan, dan mengolah segala bahan di alam itu juga karunia
Allah Swt.
Fa bi ayyi alaa-i Rabbikuma tukadzziban - Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang tidak kamu
akui? Ayat ini sebagaimana yang dikemukakan tadi mengingatkan dan
memeringatkan setiap orang untuk selalu mengingat-ingat berbagai karunia Allah
yang telah, sedang dan akan dinikmatinya. Kalau tidak, maka yang ada dalam
benaknya hanyalah kekurangan, kesulitan, dan keadaan yang tidak sesuai dengan
harapannya. Apabila ingatannya dipenuhi dengan hal-hal negatif demikian, tentu
kebahagiaan akan jauh darinya; hatinya sarat dengan keresahan dan kegelisahan.
Dalam kondisi batin yang demikian itu tidak akan dia memperoleh kebahagiaan -
di dunia tidak, apa lagi di akhirat. Allah memperingatkan manusia mengenai hal
tersebut dengan firman-Nya: ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami
akan menambah (nikmat-Ku) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku,
sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim 14: 7).
Al-Quran memberi contoh orang-orang yang mendustakan nikmat Allah itu dan
telah merasakan kesengsaraan di dunia. Qarun adalah seorang yang kaya raya, sedemikian
sehingga kunci-kunci gudang perbendaharaannya saja tidak dapat diangkat oleh
beberapa orang yang perkasa (QS 28 Al-Qashash 28: 76). Tetapi kekayaannya itu
menjadikannya sombong, menganggap dirinya serba hebat sedangkan orang-orang
lain tidak punya peran apapun untuk mengumpulkannya. Bahkan Tuhan pun tidak ada
artinya bagi dia. “Sesungguhnya aku mendapatkan harta ini semata-mata karena
ilmu yang aku miliki”. (QS Al-Qashash 28: 78). Demikian kata Qarun
yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.
Dia sengaja memamerkan perbendaharaan hartanya tersebut kepada masyarakat,
dan menikmati decak kagum orang-orang yang menyaksikannya. Maka Allah
membenamkan Qarun beserta hartanya ke dalam bumi. (QS Al-Qashash 28: 81).
Al-Quran menceriterakan pula riwayat Fir’aun, penguasa Mesir di zaman Nabi Musa
As. Dia dipatuhi oleh para hulubalang dan perajuritnya dengan ketaatan mutlak,
sehingga diapun berujar: “Aku adalah tuhanmu yang mahatinggi”. Maka Allah Swt
menghukum dia dengan adzab akhirat dan adzab dunia. (QS 79 An-Nazi’at 78:
24-25).
Menghayati berbagai nikmat yang dikaruniakan Allah adalah keniscayaan.
Itulah yang dicontohkan oleh Nabi Sulaiman As. seorang yang dikaruniai
kekuasaan, kepandaian, dan kekayaan yang luar biasa. Maka beliau menegaskan: “Ini
merupakan anugerah Tuhanku, untuk menguji aku, apakah aku bersyukur atau
mengingkari nikmat-Nya”. (QS 27 An-Naml 27: 40).
Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang-orang yang menghayati
karunia Allah. Pertama: bersyukur kepada Allah Swt yang telah
menganugerahkan kenikmatan tersebut kepadanya. Kedua: menggunakan karunia
itu secara optimal untuk ibadah, baik ibadah ritual maupun ibadah sosial.
Ketiga: terus menerus memantapkan penghayatan atas karunia-karunia Allah
tersebut, dan dengan itu memantapkan iman kepada Allah dan meningkatkan
frekuensi dan kualitas ibadah kepada Allah Swt. Semoga kita termasuk golongan
yang menyukuri nikmat seperti Nabi Sulaiman As. dan Rasul-rasul lainnya. Amiin
yaa Rabbal ‘alamin.
Sakib Machmud
No. 225
Tidak ada komentar:
Posting Komentar