Minggu, 10 Agustus 2014

MENSYUKURI BERBAGAI NIKMAT KARUNIA ALLAH

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”

Ayat di atas dikemukakan di dalam surah 55 Ar-Rahman, dan diulang-ulang sampai 31 kali. Pengulangan berkali-kali menunjukkan betapa pentingnya bagi manusia untuk memahami secara sempurna kenikmatan yang dikaruniakan Allah kepadanya. Memang bagian terbesar dari 78 ayat yang dikandung oleh surah Ar-Rahman membicarakan kemurahan Tuhan - Allah Swt kepada seluruh makhluknya, khususnya manusia. Dia telah menjadikan alam raya ini indah, nyaman dihuni, dan menyediakan berbagai keperluan serta keinginan manusia. Unsur-unsur alam ini saling berinteraksi membentuk harmoni yang sangat bermanfaat. Tetapi meskipun manusia dalam setiap waktu dari hidupnya menyaksikan keserasian serta kemanfaatan unsur-unsur alam dan hubungan antar unsur alam, tetapi tanpa berpikir secara mendalam sehingga kesaksiannya itu tidak sampai menyentuh hakikat dari eksistensi alam ini sebagai sesuatu yang dicipta, diatur dan dikuasai Allah Swt.

Banyak orang yang tidak sadar akan peranan Allah di dalam mengatur alam beserta segala isinya. Karena itu Al-Quran mengingatkannya melalui banyak ayat, termasuk di dalam surah Ar-Rahman. Kita bicarakan beberapa di antaranya.

Ayat 2 sampai dengan 4 membicarakan penciptaan manusia sebagai makhluk berpikir, yang karena itu diberi kebebasan untuk melakukan hal-hal yang diinginkannya. Tetapi sekiranya kebebasan itu tanpa batas dan tanpa arahan, pasti mencelakakan makhluk ini sendiri beserta lingkungan hidupnya. Maka Allah menurunkan informasi dan petunjuk tentang kebenaran hakiki, yang orang tidak akan mampu memperolehnya dengan akal semata. Keterangan itu Dia sampaikan melalui para Nabi dan Rasul, dari yang pertama, Adam As sampai dengan yang terakhir, Muhammad Saw. Rasul menyampaikannya kepada orang-orang yang beliau jumpai, kemudian para penerima pertama itu dengan kemampuan komunikasinya yang baik menyampaikan informasi dan petunjuk itu secara beranting kepada masyarakat yang seluas-luasnya. Bukankah hal itu merupakan karunia Allah yang agung?

Ayat 5 dan 6 menuturkan kekuasaan Allah yang tidak terbatas dalam mencipta langit yang luar biasa luas; di dalamnya ada bermiliar-miliar bintang, antara lain matahari yang meskipun ukurannya relatif kecil dibanding bintang-bintang lainnya tetapi mampu memancarkan energi sebesar 389 juta miliar miliar watt setiap detik. Dengan energi sebesar itu bumi diteranginya dan dihangatkannya dari waktu ke waktu. Kondisi itu sesuai untuk kerja keras. Tatkala salah satu bagian dari permukaan bumi membelakangi matahari, kadang-kadang ada bulan yang memantulkan cahaya matahari sehingga menerangi tanpa panas, menyajikan suasana yang syahdu dan indah – cocok bagi orang-orang yang hendak beristirahat. Di bumi tumbuh berbagai ragam tanamhan, dari yang tinggi menjulang sampai yang amat rendah; masing-masing menyajikan keindahan bagi hati manusia, dan manfaat tiap-tiap bagian dari tetumbuhan itu, mulai dari pucuk daun sampai dengan akarnya. Bukankah itu merupakan anugerah Allah yang tidak terkira?  

Ayat 19 dan 20 mengemukakan karya agung Allah Swt di bumi, yaitu himpunan air di sungai dan di laut. Allah menetapkan salah satu sifat air, yaitu selalu begerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Maka dari sumbernya di pegunungan air itupun mengalir di parit-parit, sungai kecil, sungai besar, melewati lembah dan ngarai, sampai di muara, tempat bertemunya air sungai yang tawar dengan air laut yang asin. Di situ ada hukum hidrodinamika yang memisahkan kedua macam air itu. Tidakkah kenyataan tersebut menunjukkan keagungan Allah yang tidak terukur? Demikianlah beberapa contoh dari kebesaran Allah yang diterangkan dapat kita baca dalam surah 55 Ar-Rahman. Yang kita tulis di sini hanya sebagian kecil saja dari apa yang dipertelakan di dalam surah tersebut.

Bahkan seandainya seluruh keterangan di surah ini kita kemukakan, tetap merupakan bagian yang sangat kecil dari keagungan Allah Swt, yang sekaligus merupakan karunia-Nya kepada segenap makhluk di alam semesta ini. Silakan masing-masing pembaca dan pemerhati Al-Mustaqqim menuliskan apa yang dilihatnya dan diketahuinya dari pengamatan sehari-hari; siapapun tidak akan mampu menuliskan seluruh nikmat anugerah Allah Swt. Al-Quran menyatakan tentang hal ini di dalam QS surah 14 Ibrahin: 34,  “Dan sekiranya kamu (hendak) menghitung nikmat-nikmat Allah, tidak akan kamu dapat menghinggakannya”.

Meskipun demikian, kita kemukakan beberapa contoh yang berasal dari pikiran manusia sendiri. Ada seseorang menulis di akun facebooknya, bahwa untuk bernafas setiap orang setiap hari menghirup 2.880 liter oksigen dan 11.380 liter nitrogen. Maka seandainya mesti membeli dia harus mengeluarkan dana 170 juta rupiah sehari untuk dirinya saja. Bagaimana kalau dia kepala keluarga dengan satu isteri dan dua orang anak? Beruntunglah orang itu dan semua orang yang lain, karena Allah menyediakan kedua macam gas tersebut secara bebas dan gratis di udara. Ada pula penyaji tulisan lain di facebook yang menggambarkan kebutuhan makan setiap orang. Allah mensifati manusia sebagai sarwa boga - pemakan segala, karena kebutuhan tubuhnya seperti itu dan struktur alat pencernakannya juga demikian. Maka Allah menyediakan di bumi ini kebutuhan makan tersebut secara lengkap.
Begitu pula Tuhan yang Mahapencipta menyiapkan bahan-bahan untuk memenuhi kebutuhan menutup tubuh, kebutuhan berlindung dari cuaca yang dapat mengganggu kesehatan, dan lain-lain, semua itu Dia sebarkan di bumi ini. Manusia tinggal mengambilnya dan merekayasanya. Harus diingat bahwa kemampuan manusia untuk mengambil, menggabungkan, dan mengolah segala bahan di alam itu juga karunia Allah Swt. 

Fa bi ayyi alaa-i Rabbikuma tukadzziban - Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang tidak kamu akui? Ayat ini sebagaimana yang dikemukakan tadi mengingatkan dan memeringatkan setiap orang untuk selalu mengingat-ingat berbagai karunia Allah yang telah, sedang dan akan dinikmatinya. Kalau tidak, maka yang ada dalam benaknya hanyalah kekurangan, kesulitan, dan keadaan yang tidak sesuai dengan harapannya. Apabila ingatannya dipenuhi dengan hal-hal negatif demikian, tentu kebahagiaan akan jauh darinya; hatinya sarat dengan keresahan dan kegelisahan. Dalam kondisi batin yang demikian itu tidak akan dia memperoleh kebahagiaan - di dunia tidak, apa lagi di akhirat. Allah memperingatkan manusia mengenai hal tersebut dengan firman-Nya: ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat-Ku) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim 14: 7).

Al-Quran memberi contoh orang-orang yang mendustakan nikmat Allah itu dan telah merasakan kesengsaraan di dunia. Qarun adalah seorang yang kaya raya, sedemikian sehingga kunci-kunci gudang perbendaharaannya saja tidak dapat diangkat oleh beberapa orang yang perkasa (QS 28 Al-Qashash 28: 76). Tetapi kekayaannya itu menjadikannya sombong, menganggap dirinya serba hebat sedangkan orang-orang lain tidak punya peran apapun untuk mengumpulkannya. Bahkan Tuhan pun tidak ada artinya bagi dia. “Sesungguhnya aku mendapatkan harta ini semata-mata karena ilmu yang aku miliki”. (QS Al-Qashash 28: 78). Demikian kata Qarun yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Dia sengaja memamerkan perbendaharaan hartanya tersebut kepada masyarakat, dan menikmati decak kagum orang-orang yang menyaksikannya. Maka Allah membenamkan Qarun beserta hartanya ke dalam bumi. (QS Al-Qashash 28: 81). Al-Quran menceriterakan pula riwayat Fir’aun, penguasa Mesir di zaman Nabi Musa As. Dia dipatuhi oleh para hulubalang dan perajuritnya dengan ketaatan mutlak, sehingga diapun berujar: “Aku adalah tuhanmu yang mahatinggi”. Maka Allah Swt menghukum dia dengan adzab akhirat dan adzab dunia. (QS 79 An-Nazi’at 78: 24-25).

Menghayati berbagai nikmat yang dikaruniakan Allah adalah keniscayaan. Itulah yang dicontohkan oleh Nabi Sulaiman As. seorang yang dikaruniai kekuasaan, kepandaian, dan kekayaan yang luar biasa. Maka beliau menegaskan: “Ini merupakan anugerah Tuhanku, untuk menguji aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya”. (QS 27 An-Naml 27: 40).

Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang-orang yang menghayati karunia Allah. Pertama: bersyukur kepada Allah Swt yang telah menganugerahkan kenikmatan tersebut kepadanya. Kedua: menggunakan karunia itu secara optimal untuk ibadah, baik ibadah ritual maupun ibadah sosial. Ketiga: terus menerus memantapkan penghayatan atas karunia-karunia Allah tersebut, dan dengan itu memantapkan iman kepada Allah dan meningkatkan frekuensi dan kualitas ibadah kepada Allah Swt. Semoga kita termasuk golongan yang menyukuri nikmat seperti Nabi Sulaiman As. dan Rasul-rasul lainnya. Amiin yaa Rabbal ‘alamin

Sakib Machmud
No. 225 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar