Jumat, 25 Juli 2014

MUDIK LEBARAN DAN PULANG KAMPUNG

Sepintas lalu dua istilah ‘Mudik Lebaran’ dan ‘Pulang Kampung’ artinya hampir sama. Namun dalam tulisan ini apa sebenarnya yang dimaksud? Marilah kita simak dengan cermat uraian berikut ini, yang dikaitkan dengan momentum musahabah selama bulan Ramadhan:  

MUDIK LEBARAN

Tidak lama lagi kita akan mengakhiri ibadah puasa Ramadhan 1435 H ini dengan masing-masing amalan ibadah yang sudah kita lakukan. Mungkin kita benar-benar menjadi orang-orang Muttaqin - orang yang takwa, karena selama Ramadhan kita melaksanakan ibadah dengan penuh kekhlasan, kesungguhan dan kesabaran. Atau mungkin kita menghabiskan selama waktu Ramadhan hanya mendapatkan lapar dan dahaga, tanpa mendapatkan predikat Muttaqin karena kita tidak memahami esensi Ramadhan, sehingga Ramadhan menjadi sesuatu yang sia-sia dalam hidup kita. Namun bagi sebagian orang, ada yang tidak peduli akan predikat  itu. Pokoknya yang penting menyambut hari 1 Syawal yang lazim disebut hari Lebaran dengan merayakannya di kampung halaman bersama para kerabat mereka.

Dalam kaitan ini ada baiknya kita merenungkan betapa banyak orang berkemas untk mudik Lebaran ke kampung halaman tanpa mengingat banyaknya kecelakaan lalu-lintas yang dialami kaum para pemudik untuk bersilaturahmi Lebaran di kampung halaman. Kejadian ini berulang sepanjang tahun selama berpuluh tahun. Mereka rela bersusah-payah sepanjang tahun menabung sebagai bekal menghadapi kemacetan di perjalanan yang setiap tahun semakin parah dan rawan kecelakaan, berdesak-desakan di kendaraan umum - bahkan ada yang sampai meninggalkan puasanya karena kelelahan di perjalanan - semuanya itu hanya untuk kesenangan di hari Lebaran bersama keluarga dan kerabat di tempat mudik yang sesaat itu.

Kurang Disiplin

Fakta menunjukkan jumlah pemudik dari tahun ke tahun terus meningkat. Baik dari sisi jumlah pemudik maupun jumlah angkutan moda transportasi yang digunakan jelas ada pertambahan. Sehingga pelebaran dan perbaikan jalan misalnya, hanyalah sebagian upaya untuk mengurangi tingkat kepadatan dan kemacetan arus lalu lintas. Selain pembenahan infrastruktur, audit terhadap kelaikan seluruh jenis moda transportasi menjadi keharusan. Bukan rahasia lagi, salah satu penyebab kecelakaan terutama di darat, dan laut ialah moda transportasi yang tidak laik tetap dipaksakan beroperasi.

Di sisi lain, tingginya angka kecelakaan dan korban tewas selama arus mudik dan arus balik Lebaran juga disebabkan karena kurang disiplinnya pemudik berkendara dan kurang tegasnya aparat kepolisian menindak pelanggaran lalu lintas. Hal ini terjadi karena puluhan ribu dan bahkan ratusan ribu warga yang tinggal di kota besar mudik ke kampung halamannya masing-masing dalam waktu yang relatif bersamaan. Hal inilah yang menyebabkan arus lalu lintas di jalur mudik dan balik menjadi sangat padat dan terjadi kemacetan panjang sehingga sangat berpotensi terjadi kecelakaan lalu lintas. Apalagi banyak pemudik menggunakan sepeda motor dan membawa banyak barang. Mereka berjalan beriringan dengan jarak yang rapat sehingga sangat mungkin terjadi saling senggol dan terjatuh.

Dalam kondisi arus lalu lintas yang padat dan macet, banyak pengendara yang ingin cepat sampai kemudian main serobot sehingga tidak mengindahkan keselamatan berkendaraan. Di sisi lain, aparat kepolisian yang mengatur arus lalu lintas sering tidak tegas menindak pemudik yang tidak disiplin dan melanggar aturan berlalu lintas, misalnya berpenumpang lebih dari dua orang, tidak menggunakan helm, dan sebagainya.

Perlu kita sadari bahwa sejak adzan Subuh berkumandang, rakyat menghadapi kemacetan lalu-lintas menuju ke dan pulang dari tempat kerjanya, Menghadapi kemacetan itu aparat kepolisian seharus-nya bertindak tegas terhadap pelanggaran lalu-lintas dalam rangka penegakkan disiplin lalu-lintas. Tetapi faktanya petugas lalu-lintas tak kunjung melakukan perbaikan kinerja.

Pentingya Moda Transportasi Massal

Bagaimanapun, jumlah korban tewas selama arus mudik dan balik Lebaran jelas sebuah petaka kemanusiaan yang harus diatasi dengan cermat. Memang tidak mudah bagi pemerintah untuk mengurangi kecelakaan terutama di saat mudik Lebaran. Kita perlu belajar dari kesalahan kebijakan yang diambil oleh pemerintah di bidang transportasi pada awal Indonesia membangun ekonomi yang kurang berdampak positif bagi masyarkat umum. Prioritas pembangunan jalan layang lebih banyak dinikmati oleh para penguasa, pengusaha besar dan mereka yang yang mampu membayar tarif tol, Meskipun sebagian rakyat kecil juga naik bus yang melewati jalan tol.

Padahal yang dperlukan masyarakat adalah pembangunan jaringan lalu-lintas yang dapat mengangkut banyak orang, nyaman dan cepat dengan sedikit hambatan, yakni jaringan kereta api, baik di atas maupun di bawah tanah. Untuk itu pada awalnya memang diperlukan biaya sangat besar, namun dalam jangka panjang hasilnya terbukti bisa mengatasi kemacetan dan kecelakaan di kota-kota metropolitan dunia yang berpenduduk padat.

Misalnya saja di stasiun kereta api Tokyo, Jepang terdapat lebih dari 20 peron untuk melayani lalu-lintas kereta, begitu pula di kota-kota lainnya di Jepang jaringan kereta menjadi moda transportasi utama, menyusul bus dan kendaraan lainnya. Baik di Tokyo, San Francisco, maupun Amsterdam, masyarakat masih bisa menggunakan kereta listrik yang meluncur di tengah jalan karena keberadaannya masih dibutuhkan.

Peran Ulama

Kembali pada pembahasan mudik Lebaran yang sudah menjadi tradisi, tidak mungkin pemerintah melarang rakyat bersilaturahim di kampung halaman. Hanya himbauan para ulama yang bisa menyadarkan ummatnya untuk berpikir dan bertindak lebih realistis dalam menyikapi tradisi yang sudah berlangsung lama. Ulama jangan hanya bicara, tetapi juga harus memberikan jalan keluar bagaimana mengatasi berbagai masalah ummat. Kita hendaknya tetap mengutamakan ibadah puasa Ramadhan secara hakiki dan ikhlas, sedangkan kebiasaan mudik ke kampung halaman hendaknya hanya menjadi pelengkap saja tanpa membatalkan puasanya.

PULANG KAMPUNG

Kalau kita masyarakat mau bekerja keras sepanjang tahun, dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk kesenangan sesaat yaitu mudik Lebaran, mengapa kita tidak mulai berpikir bekerja keras sepanjang tahun dan mengerahkan seluruh sumber daya untuk mudik kita ke kampung akhirat yang abadi kelak? Kita tentu merindukan bersilaturahim dengan ibu-bapak kita di tempat mudik, anak-anak kitapun merindukan nenek-nenek dan kakek-kakek, yang bahkan sering kasih sayangnya terhadap cucu-cucunya melebihi apa yang bisa kita berikan. Bila mereka menyiapkan masakan dan kue-kue Lebaran, targetnya bukan untuk kita - anak-anaknya, tetapi untuk anak-anak kita - yang adalah cucu-cucu mereka. 

Kitapun seyogyanya merenungkan sabda Rasulullah Saw: “Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kun-jungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu adalah menyambungkan apa yang terputus.” (HR Al-Bukhari). Kekuatan silaturahim - yang berarti menyambungkan kasih sayang, bukanlah sekedar saling bersalaman, dan saling memaafkan, tetapi yang lebih hakiki tentang silaturahim ini adalah kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia untuk memperbaiki akhlak, dengan merubah karakter dasar manusia untuk menjadi lebih baik, karena hati yang kotor tidak akan terpadu dengan hati yang bersih.

Jika ibu-ayah kita telah tiadapun, kita bisa berkumpul kembali dengan mereka bila kita mau berusaha, karena Allah Swt menjanjikan pertemuan itu sebagaimana diatur di dalam Al-Qur’an: Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.(QS Ath-Thuur 52: 21).

Muhasabah

Maka ketika Lebaran yang sesaat ini berakhir, marilah mulai bekerja keras kembali, bukan untuk kesenangan yang sesaat, melainkan mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk pulang kampung akhirat kita yang abadi. Allah Swt berfirman: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS Al-An’aam 6: 32). Karenanya kita perlu muhasabah dengan menanyakan kepada diri kita sendiri apakah kita beribadah karena 1) ingin mendapatkan pahala, 2) meningkatkan ketakwaan, atau 3) beryukur kepada Allah Swt.

Namun sesungguhnya ketiga tipologi ibadah tersebut di atas yang penting adalah ibadah karea ikhlas, lilahi ta ‘ala, meskipun makna dan muatannya berbeda bagi setiap orang. Dan beribadah karena cinta mestinya menjadi puncak dari perjalanan spiritual kita menuju Allah Swt. Dan bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keikhlasan, bersungguh-sungguh dan sabar, maka akan segera mendapatkan maghfirah - ampunan, dan dijauhkan dari api neraka (iqun minannar), dan sampai digambarkan menjadi manusia
dalam keadaan fitri - yang benar bersih, seperti bayi yang baru lahir.

Kemudian, kita melaksanakan shalat Idul Fitri, seraya menga- gungkan dan memuliakan Allah Swt, sebagai hari kemenangan, yaitu kemenangan terhadap syeitan dan hawa nafsu. Dan sekarang, di bulan Syawal kita memulai lagi kehidupan dan menghadapi rutinitas seperti biasanya dan berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari. Di kantor, di perusahaan, di pasar, di pabrik, dan di pusat-pusat kegiatan lainnya, itu semuanya akan mempengaruhi kehidupan kita. Kita akan menghadapi dan berinteraksi dengan seluruh jenis pekerjaan, kegiatan dan dengan segala jenis karakter manusia.

Pada hari ini kita marilah bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan Al-Qur’an yang sarat taddabur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam berbagai hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar kita, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga kita, serta perbuatan baik kita terhadap sesama.

Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya. Hari ini adalah hari kita, kita ucapkan selamat tinggal masa lalu, tenggelamlah bersama mataharimu. Dan bukan esok hari, karena hari itu belum tentu datang. Masa depan masih dalam keghaiban. Kita tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan.

Umur kita mungkin tinggal hari ini. Hari ini seharusnya kita dengan niat ikhlas mempersiapkan kesenangan yang bersifat kekal abadi di kampung akhirat nanti. Hari ini milik kita, manfaatkanlah hari ini dengan sebaik-baiknya untuk menjalani hidup yang benar, sehingga apabila pulang ke rahmatullah kita sudah siap.

Hermanto Harsolumakso
No. 224



3 komentar:

  1. Saya baru lembali dari mudik ke Jombang. Tulisan ustadz ini benar, tapi kebiasaan mudik lebaran sepertinya tidak bisa diubah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya baru pulang dari Padang ikut rombongan 33 orang kerabat isteri mudik ke Kotogadang dam berwisata di kota-kota sekitarnya.Sekalian mengkorfirmasi materi tulisan saya di Al-Mustaqiim No. 224 ini, macet, macet dan macet di perjalanan darat. Waktu kembali saya beruntung datang pagi untuk dapatkan seat pesawat jam 14.00 yang masih dalam daftar tunggu, malahan dapat seat yang jam 12.00. Alhamdulillah.

      Hapus