- Iman dan Takwa.
- Moral dan Etika.
- Kejujuran
- Tanggungjawab.
- Kepatuhan Kepada Kesepakatan
- Kepedulian Sosial.
- Kesungguhan dan Profesionalisme.
- Pembinaan Generasi Penerus.
- Kesederhanaan
Mempelajari Agama Islam Secara Populer, Membentuk Pribadi Muslim Berakhlak Mulia, Membangun Masyarakat Islam Madani, Membahas Berbagai Fenomena Kehidupan Sosial, Mencari Solusi Permasalahan yang Dihadapi Ummat Islam, Mengangkat Martabat Ummat Islam
Minggu, 30 November 2008
10. MEMBANGUN MASYARAKAT ISLAMI
Minggu, 23 November 2008
9. MEMBANGUN KEKUATAN UMMAT
Pertama, mewujudkan ukhuwah Islamiyah melalui silaturahim. Rasulullah SAW bersabda: ”Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu adalah menyambungkan apa yang terputus”.[HR Bukhari]. Kata ’menyambungkan’ adalah proses aktif, karena itu kita harus pro aktif melaksanakannya.
Silaturahim ini penting karena merupakan perintah Allah SWT yang kedua setelah perimtah taqwa.sebagaimana firman-Nya dalam [QS An Nisaa’ (4): 1]: ”Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim”.
Dengan semangat ukhuwah Islamiyah, kita akan lebih intensif dan efektif menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan sosial ummat. Dalam bahasa modern, amar ma’ruf juga dapat dipahami sebagai humanisasi, yaitu pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sedangkan nahi munkar dipahami sebagai liberasi, yaitu ikhtiar membebaskan ummat dari kedzhaliman dan berbagai pelanggaran moral. Sementara itu iman bermakna seruan agar manusia tidak melupakan komitmen primordialnya dengan Tuhan.
Pada humanisasi terkandung penguatan intelektual, pada liberasi terkandung penguatan moral. Sedangkan pada iman terkandung penguatan spiritual. Inilah tiga hal, yang harus kita manfaatkan dalam membangun kekuatan ummat.
Dengan tiga kekuatan ini (intelektual. moral dan spiritual), manusia sebagai individu maupun anggota masyarakat akan bertahan hidup, bahkan menjadi panjang umur dalam arti maju dan beradab. Bayangkan betapa dalam dan kaaffah makna kalimat amar ma’ruf nahi munkar
Kedua, melakukan pembenahan kualitas ummat dan organisasi ummat. Untuk itu perlu dilakukan perbaikan atas kelemahan-kelemahannya, supaya potensi yang ada, layak dan mudah untuk dikembangkan. Dengan demikian dapat dilakukan optimalisasi kekuatan yang ada.
Untuk merealisasikan hal tersebut, antara lain kita harus bisa memilih sahabat (dalam organisasi lazim disebut anggota dan kader) dan pemimpin yang tepat, jangan memilih sahabat dan pemimpin yang aspek operasionalnya hanya berada pada kategori tingkatan Muslim saja, melainkan tingkatan Mukmin atau Mujahid.
Dalam bahasan ini pengertian sahabat dibedakan dari teman atau kenalan biasa. Sahabat adalah orang yang jika kita memperoleh kesulitan akan secara terbuka dan mudah kita dapat meminta tolong kepadanya, sedangkan apabila kita memperoleh kesenangan atau keuntungan atau kelebihan, dia merupakan orang yang sering kita ingat untuk membagi bersama kesenangan atau keuntungan tersebut.
Adapun teman atau kenalan adalah orang yang berkomunikasi dengan baik untuk berbagai masalah kehidupan tanpa suatu ikatan emosional yang berkesinambungan.
Siapakah Muslim, Mukmin dan Mujahid? Muslim adalah orang yang sudah memahami esensi Islam yang mendasar, khususnya ritual Islam. Mereka sudah Islam (melaksanakan shalat, puasa, zakat dan haji), namun baru sampai batas patuh melakukan ritual saja. Sedangkan tindakan operasionalnya hanya mengikuti apa yang terjadi di masyarakat, bahkan sering kali ‘hanyut’ dalam ‘arus yang mengalir.’
Seseorang pada tingkatan Mukmin, adalah Muslim yang hatinya benar-benar telah tertancap pada keyakinan bahwa Allah SWT adalah Tuhannya dan Muhammad SAW adalah Rasul-Nya, dan senantiasa menunjukkan kebenaran akan Islam dalam tindakan-tindakan operasional sehari-harinya.
Jika seorang Mukmin mampu mensyi’arkan Islam dan berjihad, dan apabila jihad yang dilakukan sampai dengan mengorbankan harta dan nyawanya di jalan Allah, maka tingkatan Mukmin itu disebut Mujahid.
Istilah Muslim dan tingkatan-tingkatannya yang disebutkan di atas, hanyalah bersifat ‘internal’, yang dimaksudkan untuk melakukan pembahasan dalam rangka melakukan konsolidasi potensi ummat Islam. Ketiga tingkatan tersebut tetap relevan disebut sebagai Muslim saja, untuk membedakan antara ummat Islam dengan non-Islam.
Pembedaan tingkatan seperti tersebut di atas, tidak dimaksudkan untuk merendahkan atau meninggikan derajat seseorang, melainkan untuk melakukan konsolidasi potensi ummat. Pemahaman dan keberanian kita untuk menentukan apakah seseorang itu Muslim, Mukmin, Mujahid, akan besar manfaatnya bagi sikap operasional kita selanjutnya pada orang tersebut.
Terhadap mereka yang dalam tingkatan Muslim, setidaknya ini harus dipertahankan untuk selanjutnya ditingkatkan ke tingkatan Mukmin. Pada dasarnya hanya perlu dimantapkan akidahnya sehingga memiliki motivasi yang lebih kuat untuk memahami Islam secara menyeluruh (kaaffah) dan terjun ke dalam kegiatan dakwah Islam.
Kepada mereka ini sikap yang terbaik tentulah bimbingan, pengarahan dan motivasi. insya Allah bila seseorang sudah menjalankan rukun Islam secara teratur, Allah SWT akan lebih membuka pintu hatinya untuk menjadi pejuang Islam yang kokoh ideologinya, jika secara tekun dan sabar diberi pengarahan dan petunjuk.
Pada tingkatan Mukmin dan Mujahid, orang tersebut sudah yakin benar akan baiknya Islam sebagai tuntunan hidup secara kaaffah tanpa keraguan sedikitpun, yang secara konsisten ditunjukkan dari sikap dan aktivitasnya dalam mendakwahkan Islam secara ikhlas, yang memiliki kualitas untuk dijadikan sahabat sejati dalam hidup di dunia yang heterogen ini.
Dalam memilih pemimpin, kita ummat Islam dianjurkan agar memilih mereka yang pada tingkatan Mukmin atau Mujahid sebagaimana fiman Allah SWT dalam [QS Al Maaidah (5): 55-57]: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka yang tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolong, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang menang. Janganlah kamu angkat sebagai penolong dan pembela, orang-orang yang menjadikan agamamu menjadi sasaran ejekan dan permainan”.
Maka hendaknya kita hanya memilih penolong dan pembela (pemimpin) pada tingkatan Mukmin atau Mujahid dan diharapkan sanggup menghadapi dengan bijak orang-orang yang melecehkan Islam dengan kepemimpinan yang kuat dan amanah, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat sebagai ulil amri dan khadimul ummah.
Ulil amri atau umara adalah orang yang mendapatkan amanah dan kepercayaan untuk menangani segala urusan masyarakat. Ia bertanggungjawab penuh terhadap segala persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Pemimpin yang memahami makna ulil amri akan memiliki kesadaran bahwa amanah jabatan dan kekuasaan yang dimilikinya harus digunakan sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga ia akan berusaha untuk melindungi kepentingan masyarakat, terutama kaum yang lemah.
Karena itulah, ketika diangkat menjadi khalifah, Abubakar menyatakan dengan tegas; “Aku adalah pemimpin yang berkeinginan agar orang kuat menjadi lemah di hadapanku, dan sebaliknya yang lemah menjadi kuat di hadapanku”.
Terhadap pemimpin yang demikianlah Allah SWT menegaskan pentingnya untuk memiliki ketaatan dan loyalitas sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“. [QS An Nisaa’ (4): 59].
Khadimul ummah atau pelayan masyarakat, adalah pemimpin yang berorientasi pada pelayanan masyarakat yang akan senantiasa berusaha untuk melakukan berbagai langkah dan upaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kepedulian terhadap kondisi masyarakat harus tercermin pada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Maka jelaslah bahwa tidak ada loyalitas dan ketaatan terhadap pemimpin yang mengkhianati amanah yang telah diberikan Allah kepadanya, apalagi pemimpin yang hanya ingin mencari kekuasaan.
Dengan kategori Mukmin ini, khususnya Mukmin / Mujahid yang perjuangan Islamnya profesional dan berkualitaslah yang layak dijadikan pemimpin. Ukuran profesionalisme bukan hanya di bidang ilmu saja, melainkan lebih utama dan terutama adalah keimanannya. Tingkah laku manusia, betapapun keahliannya dalam suatu bidang, bahkan bidang manajemen sekalipun, yang menentukan hasilnya adalah hati nurani yang digerakkan oleh imannya. Profesional di sini dimaksudkan dalam pengertian kesungguhan dan kekhusyukan.
Demikianlah kita hendaknya terlebih dahulu memperbaiki keIslaman kita masing-masing, baik secara individual maupun berkelompok (dalam organisasi) untuk kemudian menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan menyadari hal ini, kita harus segera bangkit dari posisi sebagai ummat Islam yang mayoritas namun hanya berperan kecil dalam kehidupan sosial, insya Allah akan menjadi ummat Islam yang mayoritas dan berperan besar dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Untuk itu kita harus melakukan perbaikan yang meliputi tiga hal.
Pertama: Menunjukkan identitas Islam secara terbuka. Sebagai Muslim kita masih berada dalam status krisis identitas, meskipun sekarang tidak separah dibandingkan tiga empat dasawarsa yang lalu. Sepanjang sejarah dakwah Rasulullah SAW, tidak ada sikap-sikap menyembunyikan identitas dalam berhadapan dengan kaum yang lain.
Maka seorang Muslim jangan ragu untuk mengatakan bahwa dirinya Muslim dengan penuh kebanggaan, demikian pula jangan ragu bahwa dirinya akan mendakwahkan Islam dalam segala dimensi kehidupannya. Usaha-usaha sosial kemasyarakatan termasuk mengajukan konsep-konsep politik, ekonomi, sosial kemasyarakatan dan sebagainya, hendaknya tidak disamarkan identitas Islamnya.
Kedua: Memprioritaskan pembenahan masalah sosial kemasyarakatan, yang meliputi konsep Islam tentang pembangunan ekonomi, politik, hukum, keamanan dan ketertiban sosial, pengembangan kebudayaan, pengawasan terhadap tempat-tempat hiburan, narkoba, dan sebagainya, sebagai. Bukan sekedar melakukan kegiatan yang bersifat ritual individual, seperti melakukan shalat, berpuasa, berhaji dan sebagainya.
Dana ummat Islam yang dikumpulkan hendaknya tidak diprioritaskan untuk menambah jumlah masjid atau merenovasi masjid, kecuali pada tempat-tempat yang benar-benar memerlukan, namun lebih ditekankan pada kegiatan sosial kemasyarakatan yang bisa membuat ummat bergerak dinamis, dan sekaligus memanfaatkan fasilitas masjid agar tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah ritual saja, melainkan juga untuk melakukan pengkajian masalah sosial, ekonomi, pendidikan, dakwah, dan kegiatan lainnya, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan fungsi masjid.
Ketiga: Keberanian mengajukan konsep kesejahteraan sosial. Untuk itu diperlukan konsolidasi organisasi ummat agar menjadi kokoh dan profesional. Organisasi Islam yang ada hendaknya lebih menyadari peran mereka sebagai kelompok sosial yang mampu berkompetisi dengan kelompok non-Muslim. Jangan berlaku sebagai organisasi amal saja, bila ada banjir atau gunung meletus, dan bencana lainnya beramai-ramai mengumpulkan sumbangan. Organisasi Islam harus berpikir, bersikap dan bertindak sebagai kelompok sosial yang mempunyai cita-cita Islami.
Dengan mengidentifikasi kelemahan-kelemahan tersebut, diharapkan setidaknya kita bisa melakukan konsolidasi potensi ummat yang ada dan layak untuk dikembangkan. Dengan demikian optimalisasi kekuatan yang ada dapat lebih mudah dilakukan. Kita hendaknya bisa memanfaatkan momen ketika konsep ekonomi syariah menjadi wacana di negeri kita ini, dan bank-bank syariah sudah banyak diterapkan dan makin berkembang. [Hermanto]
Selasa, 18 November 2008
8. DARI AL MUSTAQIIM
Minggu, 16 November 2008
7. MAKNA JIHAD DAN IJTIHAD
Rasulullah SAW sangat terampil di dalam perjuangan fisik, terbukti beliau sering terlibat sebagai panglima angkatan perang yang sangat disegani oleh kawan dan lawan. Beliau juga memiliki kemampuan intelektual yang pikiran-pikirannya berhasil menyatukan bangsa Arab dan merubah perilaku jahiliyyah ke pola pikir dan perilaku Islami yang humanis dan madani.
Selain itu ada unsur ketiga yaitu mujahadah, yang merupakan kelanjutan dari perjuangan bersifat fisik dan intelektual, yaitu perjuangan batin atau rohani. Memang, tidak semua orang bisa melaksanakan ketiga unsur itu dengan sempurna, dan di dunia ini tidak ada manusia sempurna dalam segala hal (paripurna) selain Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
Namun, bukan berarti kita tidak berhak untuk mencapai predikat itu. Untuk dapat mengantar manusia meraih predikat tertinggi sebagai insan kamil diperlukan tiga unsur yaitu Jihad, Ijtihad, dan Mujahadah. Ketiganya harus sinergi di dalam diri, sebagaimana ditampilkan oleh Rasulllah SAW sebagai teladan kita (ushwatun hasanah), tidak bisa hanya mengandalkan salah satu di antaranya.
Jihad yang sesungguhnya adalah perpaduan antara ketiga unsur tersebut. Jika tidak, maka tidak layak disebut jihad, mungkin lebih tepat disebut dengan nekat, dan korbannya tidak dapat disebut syuhada, bahkan mungkin hanya bisa disebut mati konyol.
Allah SWT mengecam keras orang-orang yang mati konyol, yaitu orang-orang yang sengaja menceburkan diri ke dalam kebinasaan, karena hal itu tidak sesuai dengan firmanNya; ”Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. [QS Al Baqarah (2): 195].
Meskipun jihad adalah perjuangan yang dilakukan seseorang dengan mengandalkan fisik, perjuangan non-fisik juga masuk kategori jihad di tempat lain. Jihad secara fisik tidak mesti harus diukur kemampuan seseorang untuk mengangkat senjata melawan musuh-musuh Islam, tetapi juga melakukan berbagai usaha secara fisik untuk terwujudnya keadilan, keamanan, keselamatan dan ketinggian martabat manusia juga termasuk jihad. Bahkan menyingkirkan batu kerikil di jalanan yang dapat membahayakan orang lain termasuk cabang dari jihad, kata Rasulullah SAW.
Medan jihad di sekitar kita kini semakin banyak, meskipun musuh-musuh, kaum kafir secara fisik tidak tampak. Semua kondisi dan keadaan yang menindas dan mereduksi hak-hak asasi manusia dapat dijadikan sebagai medan jihad. Kebodohan, kemiskinan, rasa takut, kondisi kesehatan masyarakat yang rendah, berbagai penyakit yang mewabah, dan semacamnya, juga menjadi lahan jihad yang tak kalah mulianya dengan menghadapi musuh dan kaum kafir.
Jihad yang dilakukan harus dengan niat luhur, kemudian dipadu dengan strategi, dan taktik yang benar dan tepat. Jihad tidak boleh kontra produktif. Jihad yang dilakukan Rasulullah SAW selalu mendatangkan manfaat yang lebih besar dengan resiko yang sekecil-kecilnya.
Jihad yang dipimpin Rasulullah SAW selalu berhasil karena beliau tidak pernah mengenyamping-kan perhitungan-perhitungan, sehingga bisa memperoleh kemenangan. Jihad demikian inilah yang dijanjikan dalam Al Qur’an: ”Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. [QS Al Baqarah (2): 249].
Dalam jihad haruslah ada motivasi kuat yang didorong oleh niat tulus hanya untuk Allah SWT. Tanpa niat dan motivasi ini jihad sulit mencapai tujuan yang diharapkan. Mungkin secara fisik berhasil, misalnya menaklukkan musuh, tetapi harus pula berhasil di sisi Allah yang diukur berdasarkan niat suci tadi.
Dalam konteks individu, setiap orang harus melakukan jihad sesuai dengan kadar kemampuan dan menurut kekhususan yang Allah berikan kepadanya. Setiap orang pasti memiliki kekhususannya masing-masing dan kekhususan itu perlu disampaikan atau dibagikan kepada orang lain yang mungkin membutuhkannya.
Unsur kedua adalah Ijtihad. Di sini diartikan perjuangan secara intelektual. Tidak semua orang dapat melakukan ijtihad. Unsur-unsur yang harus dipenuhi seseorang agar dapat disebut mujtahid tergantung pada berbagai konteks. Dalam konteks fikih, seorang mujtahid harus menguasai bahasa Arab, ‘Ulumul Qur’an, ’Ulumul Hadits. Seorang ilmuwan yang ahli dalam bidang ekonomi dapat menyumbangkan konsep-konsepnya dalam memberantas kemiskinan ummat, seorang fisikawan dapat meyumbangkan teknologi untuk tujuan perdamaian ummat manusia, seorang ahli obat-obatan dapat menyumbangkan ramuan dan resep untuk kesehatan manusia, dan seorang dokter dapat memberikan konsultasi dan mengupayakan penyembuhan pasien dengan cara-cara Islami.
Dalam konteks sosiologi Islam, seorang mujtahid difigurkan sebagai orang yang mampu memberikan sumbangan intelektual untuk membela dan mengangkat derajat ummat Islam dalam berbagai segi. Inilah yang diupayakan oleh Paguyuban Shiraath al Mustaqiim (PSM), yang kami dirikan. PSM teleh menerbitkan dua buku panduan untuk membangun masyarakat Islam madani, masing-masing berjudul MEMBANGUN MASYARAKAT ISLAMI dan KUMPULAN BULETIN DAKWAH. Dari kedua buku itu timbul gagasan untuk lebih mensyi’arkan kepada masyarakat luas, materi yang tertulis di dalamnya melalui tulisan-tulisan pendek dalam situs AL MUSTAQIIM ini.
Dalam ijtihad, Rasulullah SAW memberikan proteksi dan jaminan kepada setiap ummat yang melakukannnya bahwa barang siapa melakukan ijtihad dan benar (optimalisasi kemampuan) maka baginya dua pahala dan apabila ijtihad-nya tidak / kurang memberikan manfaat, maka ia tetap mendapat satu pahala. Ijtihad yang salah itupun dihargai.
Jihad dan itjihad masing-masing memiliki kekhususan. Perjuangan jihad yang dilakukan lebih bersifat temporer / jangka pendek, tergantung suasana dan intensitas tantangan, sedangkan perjuangan melalui ijtihad relatif lebih berjangka panjang, terutama jika diukur semenjak seseorang menuntut ilmu pengetahuan, dan profesinya kemudian diabdikan ke dalam masyarakat.
Kesulitan yang dihadapi antara keduanya tergantung kondisi yang dihadapi. Boleh jadi tingkat kesulitan dan tantangan jihad lebih berat, terutama di waktu kekacauan dan peperangan. Sedangkan perjuangan ijtihad dituntut lebih banyak di masa damai, terutama untuk memikirkan kualitas hidup ummat yang lebih layak.
Dari segi peralatan juga berbeda. Seorang mujahid mungkin lebih banyak membutuhkan alat-alat fisik, seperti persenjataan atau alat-alat bangunan, tetapi seorang mujtahid lebih banyak membutuhkan fasilitas dan institusi sebagai arena untuk melahirkan konsep-konsep kesejahteraan ummat.
Mana yang lebih baik antara mujahid dan mujtahid? Di satu sisi seorang mujtahid lebih baik daripada mujahid. Rasulullah SAW secara arif pernah mengatakan: “Goresan tinta pena para ulama lebih mulia daripada tetesan darah para syuhada”. Di sisi lain syuhada yang gugur di medan jihad, yang hanya mengandalkan kemampuan fisik, akan langsung masuk surga.
Setiap orang dikaruniai akal pikiran yang membedakan manusia dengan binatang atau makhluk Tuhan lainnya. Akal pikiranlah yang akan mengangkat manusia ke martabat kemanusiaan lebih tinggi. Semakin tinggi kemampuan untuk mendayagunakan akal pikiran ini maka akan semakin berpotensi untuk mendapatkan keutamaan di sisi Allah SWT.
Unsur ketiga adalah Mujahadah. Yaitu perjuangan dengan mengerahkan energi spiritual. Kalau para mujahid mengandalkan fisiknya dan para mujtahid mengandalkan otaknya, maka yang diandalkan di dalam mujahadah ini ialah kekuatan batin, yakni kemampuan untuk melakukan pendekatan diri kepada Allah SWT (taqarrub). Pendekatan yang dilakukan muqarrabin (kekasih Allah) berpotensi melahirkan keajaiban yang boleh jadi sulit dicapai oleh mujahidin dan mujtahidin.
Unsur mujahadah ini merupakan kelengkapan dari jihad dan ijtihad. Seseorang bisa mengimplementasikan secara terpadu di dalam dirinya, dan orang-orang yang jihad, ijtihad, dan mujahadahnya seperti inilah, yang berpotensi menjadi manusia paripurna (insan kamil), yaitu manusia yang sudah sampai ke puncak perjuangan dalam hidupnya.
Ciri-ciri insan kamil ialah orang-orang yang secara vertikal berhasil menjadi hamba yang baik, dan secara horizontal berhasil menjadi khalifah. Orang ini telah berhasil menjalin relasi yang sangat harmonis, bukan hanya dengan Tuhannya, melainkan juga dengan sesama manusia dan sesama makhluk lainnya, dan bahkan dengan benda-benda alam di sekitarnya.
Untuk sampai ke tingkat ini memang memerlukan tahapan kesungguhan dari olah fisik, olah nalar, sampai kepada olah batin. Kelompok inilah yang mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT sebagaimana firmanNya: ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [QS Al ’Ankabuut (29): 69].
Sebagai kesimpulan, komposisi ketiga unsur perjuangan; jihad, ijtihad dan mujahadah hendaknya tidak dipisahkan satu sama lain. Sinergi ketiga unsur ini akan melahirkan khaira ummat (ummat ideal). Sinergi ini pulalah yang membuat kesuksesan Rasulullah SAW, baik sebagai pribadi maupun pemimpin ummat. [Hermanto]
Kamis, 13 November 2008
6. BANGKIT DARI KRISIS
Selanjutnya, jika kita ingin mendapatkan pertolongan Allah dan keluar dari berbagai macam krisis saat ini, kita harus memiliki empat kekuatan sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW: “Dunia ini ibarat kebun yang dihiasi dengan empat ornamen: ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kepemurahan orang-orang kaya, dan do’anya orang-orang fakir”. [HR Abu Daud].
Pertama, ilmunya para ulama, yaitu para ulama yang senantiasa takut dan mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama”. [QS Faathir (35): 28].
Takut para ulama kepada Allah adalah takut dalam arti bertanggungjawab dan bisa menjadi contoh kebaikan bagi ummat atau masyarakatnya, yaitu tanggungjawab akan terwujudnya masyarakat yang benar-benar Islami. Bukan ulama yang hanya pandai memperjualbelikan ayat-ayat Allah demi kepentingan dunia yang sesaat, seperti yang sekarang banyak terjadi. Selesai berdakwah terima duit, tidak peduli masyarakat kelak akan menjadi apa dan bagaimana. Betapa banyak ulama yang mengatakan; “Kami hanya bertugas menyampaikan ajaran agama, selanjutnya tergantung kepada ummat yang melaksanakan”. Sangat disayangkan dan tidak bertanggungjawab ulama seperti ini.
Allah SWT memperingatkan kita semua: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” [QS Ash Shaaf (61): 3]
Jadi apa manfaatnya ulama yang hanya berdakwah tanpa memberikan teladan kebajikan. Pantas saja bangsa dan negara kita tetap terpuruk dan tak bisa bangkit, meskipun kita sudah 63 tahun merdeka, telah merayakan 80 tahun sumpah pemuda, dan 100 tahun kebangkitan bangsa.
Sudah sewajarnya jika para ulama itu menjadi guru bangsa termasuk bagi para umara, bukan sebaliknya para ulama hanya sekedar menuruti kebijakan para umara.
Kedua, keadilan para pemimpin (umara). Hendaknya para pemimpin tidak bermain-main dengan ajaran Allah apalagi dengan melakukan kedzaliman dan ketidakadilan. Tentang keadilan Allah SWT berfirman; “Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca (keadilan) itu”. [QS Ar Rahman (55): 9].
Para pemimpin hendaknya lebih bertanggungjawab terhadap amanah kepemimpinannya secara adil, dan mempersembahkan yang terbaik pada saat memegang jabatannya. Jangan ketika sedang memimpin, tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik seperti apa yang diucapkan ketika kampanye.
Peringatan Allah dalam [QS Ash Shaaf (61): 3], juga berlaku bagi para umara yang berambisi menjadi pemimpin, tiba-tiba muncul seolah-olah paling peduli dan paling mampu mengemban amanat rakyat. Hal yang sama juga dilakukan para umara yang telah lengser, padahal ketika masih menjabat tidak mampu berbuat yang terbaik.
Berbeda dengan apa yang pernah dikemukakan seorang aktor senior dalam suatu wawancara TV, yang mengatakan rasa takutnya menerima tawaran dari partai-partai politik untuk tampil dalam Pilkada dan bahkan dalam Pemilu sebagai Caleg. Dia menyadari bahwa mengemban amanah adalah beban yang paling berat pertanggungjawabannya di akhirat. Memang seharusnya mereka yang terkenal di masyarakat bukan sekedar memanfaatkan kepopulerannya untuk meraih kekuasaan atau jabatan demi memperoleh harta, melainkan menyadari arti dan tanggungjawab mengemban amanah.
Ketiga, kepemurahan orang-orang kaya. Inilah momentum yang tepat bagi mereka yang berada untuk berbagi rizki Allah dengan mereka yang kurang beruntung. Harus disadari bahwa kekayaan yang akan menemani kita di akhirat kelak, adalah kekayaan diinfaqkan untuk kepentingan dan kemaslahatan agama dan masyarakat. Firman Allah tentang hal ini, sudah banyak dijelaskan dalam pelbagai penerbitan dan ceramah.
Keempat, do’anya kaum fakir miskin. Tentu kita pernah mendengar ucapan pengemis ketika dia menerima pemberian kita, dengan mengatakan “terimakasih Pak/Bu, saya do’akan”. Itulah ucapan seorang hamba Allah, yang dilandasi kecintaan dan penghargaan kepada sesamanya yang telah menolongnya. Maka marilah kita perbanyak berinfaq dan shadaqah dan amalan lainnya kepada kaum fuqara dan masakin agar supaya mereka bergembira menerima pemberian kita dan berdo’a untuk kita semua, bukan sekedar menerima dengan sinis karena pemberian kita yang dianggapnya hanya sedikit.
Demikianlah, jika keempat elemen ini terbangun dengan baik, insya Allah berbagai krisis dan kesulitan, yang terjadi, akan dapat diatasi dengan baik. Maka marilah kita memperbanyak amar ma’ruf nahi munkar, dan yakin serta optimis bahwa pertolongan Allah akan datang menghampiri kita.
Marilah kita semua bermuhasabah untuk memperbaiki diri. Kita sudah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 63 kali sejak bangsa kita merdeka dari penjajahan bangsa asing. Ramadhan, bukan sekedar rutinitas ritual keagamaan belaka. Kita berharap ada sesuatu yang lebih, yakni menjadi inspirasi terbaik bagaimana meningkatkan kepedulian ummat terhadap masyarakat secara keseluruhan. Memperbaiki diri tidak terbatas pada bulan Ramadhan melainkan juga pada bulan-bulan lainnya sampai hari-hari kemenangan yang sesungguhnya tiba, yaitu awal bulan Ramadhan berikutnya.
Dengan modal itu, seharusnya moral dan etika kita makin baik, kita makin jujur, makin bertanggungjawab, makin tinggi kepedulian sosialnya, hidup sederhana, tidak bermewah-mewah, makin bersungguh-sungguh dan profesional dalam bekerja, makin rajin belajar terutama bagi kaum muda, makin berdisiplin, dan serba lebih baik dalam segalanya.
Diwajibkannya berpuasa setiap tahun itu untuk memperbaiki amalan yang kurang sempurna selama hidup dengan amalan baik dan nilai pahala yang tinggi dari Allah SWT selama bulan Ramadhan. Tanpa bisa terjadi perbaikan seperti itu, maka yang terjadi di bulan Ramadhan hanya sekedar lulus dari exersise tidak makan dan minum dan menahan larangan lainnya di siang hari, maka puasa kita, buka bersama kita, shalat tarawih berjamaah kita hanya meningkatkan keriyaan dalam beribadah yang tiada pahalanya.
Logikanya, jika kita melaksanakan ibadah puasa setiap tahun dengan baik sebagaimana diajarkan Islam, maka seharusnya setiap manusia, setiap tahun amal shalehnya juga meningkat, Marilah kita bermuhasabah untuk bangkit dari keterpurukan. Kebangkitan yang sesungguhnya adalah apabila kita bersungguh-sungguh dalam berjihad dan berijtihad di jalan Allah. [Hermanto]
Senin, 10 November 2008
5. MEMBANGUN OPTIMISME
Ada baiknya kita sejenak mempelajari tentang nafsu. Manusia perlu mengenal dirinya sendiri, jika tidak maka kita tidak akan bisa mengendalikan diri sendiri. Untuk itu kita perlu mengenal kekuatan dahsyat yang menguasai diri kita yaitu nafsu. Kekuatan itu harus kita kenali, agar kita bisa mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kepentingan pengabdian kita kepada Allah SWT.
Pada umumnya nafsu diartikan sebagai emosi yang menyuruh manusia untuk melakukan keburukan. Akan tetapi, dengan memanfaatkan kecerdasan emosionalnya manusia mampu mengendalikan nafsu, bukan membunuhnya. Nafsu sangat kita butuhkan, sebab dia merupakan salah satu faktor yang mendorong terlaksananya tugas kekhalifahan, yakni untuk membangun dunia sesuai kehendak dan tuntunan Ilahi.
Nafsu dari sisi dzatnya adalah satu, sedangkan sifatnya ada tiga. 1) Jika nafsu memerintahkan keburukan dan maksiat, maka dinamakan amaratun bissuu', 2) jika memerintahkan kebaikan dan ketaatan, maka dinamakan muthmainnah, dan 3) Jika memerintahkan sesuatu lalu mencelanya, itu disebut lawwamah. Jika yang dicela itu perbuatan buruk, maka ia terpuji, dan jika yang dicela perbuatan baik, maka ia tercela. Meskipun demikian, secara umum nafsu memerintahkan kepada keburukan dan kemaksiatan.
Nafsu pada umumnya menyuruh melakukan apa-apa yang enak dan menyenangkan. Ini merupakan salah satu tipu dayanya. Andaikan kita memberi keleluasaan kepadanya, maka dia akan menyelipkan keburukan, dan tidak akan berhenti memerintahkan keburukan kepada kita. Namun dengan kecerdasan emosional, manusia mampu mengendalikan nafsunya ke arah positif, agar tidak terjerumus ke dalam kegiatan negatif.
Nafsu tidak akan mampu berubah dengan sendirinya tanpa perjuangan serta usaha yang sungguh-sungguh dari kita sendiri (manusia) dan pertolongan Allah SWT. Nafsu menghiasi kita dengan kemaksiatan seakan-akan baik dan indah, menganjurkan melakukan dan membiasakannya.
Firman Allah SWT dalam [QS Yuusuf (12): 53] menyebutkan pengakuan Nabi Yuusuf AS sbb: ”Aku tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh nafsuku, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.
Faktor pendorong terbesar gejolak nafsu buruk adalah kebodohan (aj jahl) dan kezhaliman (az zhulm). Dari dua faktor ini muncul perilaku dan perkataan yang buruk. Tetapi, dengan pertolongan Allah SWT nafsu dapat berubah. Yaitu dengan cara menggunakan ilmu yang bermanfaat dan beramal shaleh.
Ilmu yang bermanfaat adalah segala yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Sedangkan amal shaleh adalah amal yang memenuhi dua syarat yaitu ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti apa saja yang telah diajarkan Rasulullah SAW). Sedangkan yang tidak mencontoh Rasulullah SAW dinamakan bid'ah.
Namun ada pula perbuatan yang tidak mencontoh Rasulullah tetapi terpuji, yang dinamakan bid’ah hasanah. Kebanyakan orang yang suka membid’ahkan orang lain, biasanya ilmu agamanya dangkal, asal mengenal salah satu hadis tentang bid’ah, semuanya disalahkan dan disesatkan. Bid’ah semacam ini disebut bid’ah dholalah (sesat)
Dalam kaitan kehidupan manusia, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat, kita harus bisa mengendalikan nafsu yang meliputi diri kita masing-masing, agar menjadi suatu kekuatan yang dahsyat untuk melawan kemungkaran. Jika berhasil, maka baru bisa kita katakan bahwa kita telah melaksanakan shalat dengan khusyuk, yang tercermin dalam keshalehan kita, baik secara individu maupun sosial.
Jika kita tinjau lebih lanjut tentang kondisi ummat Islam yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia, betapa negeri kita ini terus menerus dalam keterpurukan, sebenarnya terlalu membosankan untuk diungkapkan, karena begitu jelas kondisinya sudah sangat menyedihkan dan memalukan.
Dari sekian banyak parameter kekurangan dan kelemahan bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim, salah satu yang sangat menyedihkan, adalah pudarnya keyakinan bahwa pertolongan Allah SWT adalah suatu keniscayaan. Padahal Allah tidak akan membiarkan hambaNya yang beriman, berada dalam kesulitan.
Sebagai Muslim tentu kita beriman kepada Allah SWT dan karena itu kita wajib menegakkan agama Allah, sebagaimana firmanNya: “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Demikian sabda Nabi Nuhammad Rasulullah SAW yang termuat dalam [QS Muhammad (47): 7]. Jadi hanya jika kita menolong atau menegakkan agama Allah, maka Allah akan menolong kita.
Namun demikian, kita hendaknya juga jangan lupa bahwa, janji Allah tersebut hanya akan datang apabila kita memiliki optimisme dan prasangka yang baik kepada Allah. Optimisme dan prasangka baik kepada Allah itu bisa kita lihat sendiri, antara lain dari sejauh mana kita telah melakukan perbuatan amal shaleh secara berkesinambungan, tidak melakukan kejahatan dan perbuatan mungkar lainnya yang bertentangan secara diametral dengan ajaran Allah.
Dalam peristiwa pembunuhan berantai yang terungkap beberapa waktu yang lalu, dan mutilasi lainnya yang banyak terjadi di Indonesia, ada beberapa kualifikasi penyebab yang muncul dalam kasus-kasus itu. yakni: 1) Nafsu yang mencapai tingkat penyimpangan luar biasa dalam diri manusia. 2) Unsur syaithaniyah yang menempel dalam diri manusia maupun jin yang berposisi di antara karakter, sifat dan nafsu itu sendiri. 3) Ilmu yang berkolaborasi dengan jin dan syeitan, sangat berpengaruh pada kepribadian orang itu. 4) Tradisi bermaksiat, memanjakan kesenangan, meremehkan perintah dan larangan agama. 5) Lingkungan keluarga, konflik sejak dalam kandungan, juga bisa menjadi pemicu tumbuhnya watak konflik dan kepribadian ganda.
Namun, apapun motivasi dan klasifikasi penyebabnya, penyebab utama adalah karena pelakunya tidak memiliki optimisme dan berprasangka buruk kepada Allah Yang Maha Pencipta, sehingga mereka mengambil tindakan keji dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.
Dalam sebuah Hadis quds, Allah SWT menyatakan dengan tegas: Aku adalah bersama dengan persangkaan baik hamba-Ku. Ini berarti, jika kita berburuk sangka kepada Allah SWT, maka kita pun akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan persangkaan kita, yaitu hasil yang buruk. Tetapi, jika kita memiliki prasangka yang baik, maka insya Allah, kebaikan dan kemenangan akan kita dapatkan.
Betapa kemenangan dan ketegaran yang diperoleh seseorang yang kakinya terpaksa diamputasi akibat sakit yang dideritanya, Itu adalah karena optimisme dan persangkaan baikmya kepada Allah. Dia telah lulus menghadapi ujian yang berat dari Allah, dan naik tingkat keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah.Karena itulah, kita harus memiliki semangat dan optimisme yang kuat, yang harus melekat pada diri kita masing-masing. Semuanya harus menyikapi secara positif terhadap segala yang terjadi saat ini dengan persangkaan baik kepada Allah SWT. [Hermanto]
Jumat, 07 November 2008
4. SUDAHKAH KITA ISLAMI? (2)
Kita memerlukan waktu yang panjang untuk mampu merenungi hidup kita selama ini dan masa depan keakhiratan, terutama bagi mereka yang pandangannya terhalang tembok dunia, tertimbun rupiah dan dollar, bertabirkan nafsu, sementara orang lain telah berusaha menjumpai Tuhannya, ‘bercakap’ dengan-Nya, melalui wahyu yang diturunkan melalui utusan-Nya.
Sesungguhnya kita dikaruniai Allah SWT otak sebagai sarana berpikir yang berfungsi untuk menjadikan manusia itu makhluk berakal sehat. Kita masih memerlukan waktu yang panjang untuk menikmati peribadatan, shalat berjamaah tepat waktu, menghadiri taklim, lekatnya hati pada masjid, berhati-hati dalam bicara supaya tidak menyinggung perasaan orang lain, berakhlak mulia seperti yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya. Memerlukan waktu yang panjang untuk menegakkan yang ma’ruf dan menjauhi hal-hal yang munkar, mengubah jiwa ‘kaleng’ menjadi berjiwa ‘emas’ untuk suatu persiapan prosesi menerima hidayah di atas kepala kita.
Meskipun di antara kita waktu semakin sempit karena usia terus menerus digerogoti masa disamping ‘kemalasan’, sesungguhnya dunia belumlah kiamat untuk memberi kesempatan kepada kita untuk menerima ilmu dan hidayah dari Allah SWT. Itulah yang harus kita manfaatkan jika kita hendak menjadi orang-orang yang selalu mendapatkan petunjuk-Nya.
Jika kita berbicara tentang agama dan keIslaman kita, maka mau tak mau akan dilibatkan pada kesibukan yang tiada nilai ibadahnya di sisi Allah SWT, malahan suatu kesibukan yang cenderung menjauhi dan memusuhi Allah. Betapa tidak, marilah kita tengok apa yang kita kerjakan setelah bangun dari tidur di pagi hari hingga kembali tidur di malam hari. Hanya ada dua pilihan: beribadah atau bermaksiat, tidak ada pilihan ketiga.
Ketika bangun tidur jam 04.00 (jika diprogramkan) apakah kita akan mengambil air wudhu atau menarik kembali selimut, lalu pergi ke masjid atau ke warung kopi, membaca Qu’ran atau membaca Koran. Sadarlah kita bahwa selanjutnya dua ‘kamerawan’ yang tidak pernah tidur yaitu malaikat Rakib dan Atid selalu setia mendampingi di kanan dan kiri kita untuk merekam ‘video’ yang siap bergerak dari berbagai sudut. Berhati-hatilah kita dengan kesenangan duniawi, manusia-manusia ‘kelas dunia’ pun bisa tak terselamatkan jika menafsirkan keindahan secara keliru, semata-mata mengikuti nafsu yang tak terkendali.
Perhatikan firman-firman Allah berikut ini:
1) Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, yaitu ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. [QS Qaaf (50): 16-17].
2) Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [QS Al Hadid (57): 20].
Sebagai contoh, adalah rekaman perselingkuhan manusia yang bisa mengungkap perbuatan, bukan hanya berdampak besar bagi pelaku, melainkan juga bagi keluarganya, institusi dan masyarakat, dan seketika itu juga jabatan yang tinggi bisa copot, harga diri, pamor bisa ternoda. Dan bagaimana mah-kamah Allah kelak akan memberikan vonis kepada manusia, jika rekaman video oleh para malaikat itu juga akan diputar ulang itu menunjukkan kejahatan, dan kemungkaran lainnya? Waspadalah!
Tetapi, manusia relatif sedikit membicarakan akhirat, jarang melakukan diskusi tentang kubur, tentang nikmat dan adzab Allah SWT, karena berbicara tentang hal ini dianggap mengerikan, bernuansa takabur, dan tidak keren, walaupun hari demi hari langkah manusia sedang menuju ke
Apabila kita pancing mereka berbicara tentang topik non agamis, misalnya tentang pekerjaan, karir, rumah, tanah, bunga deposito, permadani, mobil, perkutut, batu giok, lukisan, pertandingan sepakbola Eropa dan Amerika Latin, kuis berhadiah, kehidupan kaum selebriti, acara televisi, dan sebagainya, mereka sangat fasih di luar kepala dalam pemaparannya, termasuk istilah- istilahnya hingga hal-hal yang sangat rinci.
Cobalah tanyakan kepada mereka siapakah Phil Collins, Michael Jackson, Chuck Norris, David Copperfield, Steven Spielberg dan karyanya, niscaya mereka lancar-lancar saja menjawabnya, jauh lebih fasih daripada menjawab siapakah Iman Al Ghazali, Ibnul Qayum, Ibnu Taimiyah, Sheikh Nashirudin Al Albani, Abdullah bin Baz, Yusuf Qardhawi, Sayyid Qutub, dan lainnya.
Sebenarnya tidak apa-apa kalau memang maunya demikian, tetapi janganlah merendahkan orang-orang yang dengan serius mencoba menimba ilmu dari tokoh-tokoh Islam yang disebut di atas.
Kehidupan mereka bagaikan lembu yang berputar-putar mengitari batu penggilingan, yang manfaatnya takkan pernah mereka cicipi. Lembu itu tidak pernah menikmati roti dan gandum yang dia giling, juga tidak pernah merasakan manisnya gula tebu, yang dengan tenaganya air gula mengucur.
Dalam Al Qur’an banyak dijelaskan bahwa di akhirat nanti banyak ‘jerih payah’ manusia yang sia-sia, di antaranya adalah: "Pada hari emas dan perak dibakar di neraka jahanam, lalu dengannya dibakar juga dahi, lambung dan punggung mereka, dan dikatakan (kepada mereka), “Inilah hasil harta yang kamu simpan dahulu, maka rasakanlah akibat simpananmu." [At Taubah (9): 35].
Betapa ayat yang demikian itu tidak pernah diketahui oleh mereka, manusia pekerja keras yang melupakan Tuhannya, yang menjadikan dirinya sekerup dan baut dari mesin kehidupan yang digerakkan oleh nafsu cinta dunia (hubuddunya). Kebanyakan di antara kita, tidak mengendalikan kehidupan ini, melainkan dalam kenyataannya dikendalikan oleh pikiran ‘orang lain’, yang di antaranya ‘orang lain’ itu adalah musuh-musuh Allah juga, karena mereka tidak seakidah dengan kita, dan mencocokkan pola hidupnya dengan pola ‘investor baru’ tersebut.
Pola hidup ‘Pergi Pagi Pulang Petang (P4)’, hanya menghabiskan usia di perjalanan, apalagi kalau saat demi saat tidak diisi dengan dzikrullah, sungguh suatu perjalanan tanpa diberati oleh timbangan Allah. Hari, bulan tahun meninggalkan kita sedemikian cepat dikarenakan kita teramat dan betah hidup di dunia yang penuh dengan keasyikkan menggapai kesenangan, padahal dunia ini hanya mempunyai dua tabiat; kalau dunia tidak meninggalkan kita, maka kitalah yang akan meninggalkan dunia.
Maka berhati-hatilah kita terhadap kesenangan duniawi, yang menyilau-kan mata, menyesatkan hati, sehingga kita lepas kendali menikmatinya, sementara dua ‘kamerawan’ selalu merekam, tingkah polah kita. Apakah kita tidak malu seandainya rekaman itu video kehidupan kita yang jelek diputar dan diperlihatkan kepada Allah SWT kelak?
Dengan demikian, kita bisa melakukan introspeksi, sejauh mana kita sudah Islami. Selain memperhatikan hal-hal tersebut di atas, kita perlu pula memperhatikan hal-hal yang nampaknya sepele. Misalnya, jika kita tinggal di kota-kota besar dan padat penduduknya, tentu kita akan menghadapi kemacetan lalu lintas. Sadarkah kita bahwa kemacetan itu akibat tidak disiplin dalam mengemudikan kendaraan, tidak saling memberi kesempatan dan mendahulukan siapa yang harus didahulukan, sebagaimana diajarkan ketika mendapatkan SIM (Surat Izin Mengemudi) untuk pertama kali, sesuai ketentuan lalu-lintas?
Jika kita naik bus, ada orang duduk di sebelah koridor di dalam bus apakah dia bersedia menggeser ke arah jendela untuk memberikan tempat duduk kepada kita? Dari situ saja sudah terlihat bahwa di antara kita tidak ada tenggang rasa satu sama lain. Orang maunya enak sendiri, tetap ingin duduk di sebelah koridor supaya bisa mudah keluar untuk turun. Untuk itu dia rela kakinya dilangkahi orang lain yang mau menuju ke arah jendela mencari tempat duduk. Perlukah kita bersaing hanya untuk memperebutkan tempat duduk di bus? Kapan kita bisa menerapkan kepedulian sosial? Di mana letak kebersamaan kita?
Jika kita berada di tempat umum, sudah seharusnya kita saling peduli satu sama lain, saling bekerjasama. Kita hendaknya bersaing dalam berbuat kebajikan, bersaing untuk meningkatkan kemampuan kita secara individual, kemudian berpartisipasi secara baik dalam hidup bermasyarakat.
Kebiasaan memenuhi pungutan liar atau memberikan hadiah atas layanan kepada aparat kantor pemerintah, meskipun hanya melibatkan uang dalam jumlah kecil, adalah ‘benih’ yang bisa tumbuh menjadi korupsi, kolusi dan penyimpangan lainnya. Korupsi dan kolusi yang sudah merajalela sejak tiga dasawarsa yang lalu, nampaknya makin meningkat kualitas dan kuantitasnya. Bahkan tak sedikit korupsi yang melibatkan para petinggi negara, baik di kalangan wakil rakyat, penegak hukum, pemerintahan, dan tak ketinggalan para pengusaha yang berkolusi dengan aparat negara.
Berapa banyak kasus kehilangan barang yang bisa ditemukan kembali di negeri kita? Mengapa di negeri kita tidak ada tempat penitipan barang temuan milik orang yang kehilangan, karena kelupaan atau terjatuh? Di negara-negara maju banyak tempat bertuliskan ‘Lost and found’, atau ditulis dalam bahasa negara bersangkutan, yang merupakan tempat menitipkan barang temuan yang bukan miliknya, dan juga merupakan tempat menanyakan atau mengambil barang-barang yang hilang, siapa tahu barangnya ditemukan orang lain dan dititipkan di situ.
Tidak sadarkah kita bahwa meskipun bukan mencuri, barang temuan itu bukanlah milik kita, bukan hak kita untuk memilikinya. Bagaimana rasanya jika barang milik kita hilang dan tak bisa kembali? Sikap diam-diam memiliki sesuatu yang bukan haknya seperti itu pulalah salah satu benih korupsi yang dilakukan oleh banyak orang yang berpendirian “barang sudah ‘ditakdirkan’ jatuh, maka itu rezekiku”. Mereka berpikir, itu rezeki dari Allah, padahal dari syeitan. Mereka lupa bahwa di mana mereka berada, di situ ada dua ‘kame-rawan’ Malaikat yang sangat profesional, yang siap membidik perbuatan kita dari pelbagai sudut.
Begitulah kenyataannya, Islam tidak kurang hanya sebagai identitas belaka daripada sebagai kebenaran yang harus diikuti. Pada umumnya, kita lebih peka pada masalah-masalah seperti korupsi, perdagangan narkoba, per-judian, pergaulan bebas dengan yang bukan muhrim, dan sebagainya. Tetapi, kita tidak peka dengan bagaimana memperbaiki kerusakan moral ummat Islam yang sudah sangat parah itu, yang meliputi hampir semua segi kehidupan. Itu-lah tantangan bagi kita ummat Islam, untuk memperbaiki diri di tengah-tengah martabat ummat Islam dan bangsa
Untuk menjawab tantangan itu, kita harus mempunyai rasa malu atas keburukan kita. Rasa malu itu tidak begitu saja bisa diatur dengan undang-undang, apalagi undang-undang di negeri kita dengan mudahnya dilanggar, karena hukum belum ditegakkan sepenuhnya oleh hampir semua pihak.
Untuk bisa senantiasa melakukan perbuatan baik, kita memerlukan pendidikan dan sosialisasi moral dan etika yang baik dari kalangan pendidikan, termasuk ulama. Apalagi kita mempunyai Departemen Agama, yang mengurusi pendidikan agama, moral dan budi pekerti. Tetapi ironisnya, departemen itu yang mestinya dihuni orang-orang berilmu agama di atas rata-rata, shalih dan tawadhu, justru mempunyai reputasi buruk dan memalukan, yakni menjadi sarang korupsi, penuh dengan percaloan, dan dari tahun ke tahun ada saja penyimpangan yang terjadi dalam penyelenggaraan perjalanan haji, akibat kolusi dengan pejabatnya.
Demikian pula tak sedikit para ulama dan umara yang belum bersih dari perbuatan yang dilarang oleh agama kita, baik mereka yang duduk di badan legislatif, eksekutif, yudikatif, maupun pemuka masyarakat. Apalagi jika dalam profesinya sebagai ulama, dia tidak memberikan teladan yang selayaknya kepada para jamaah yang selama ini ‘setia’ mendengarkan khotbah, terlebih-lebih jika yang dilakukan ulama itu ternyata bertentangan dengan apa yang pernah dianjurkan kepada jamaahnya.
Hendaknya kita lebih mengenal Allah SWT, mengenal Rasulullah SAW dengan suri teladannya, kita perlu mengenal diri kita sendiri dan mengenal nafsu yang terkandung dalam diri kita masing-masing. Dan lebih daripada itu, kita harus bisa mengendalikan nafsu itu agar menjadi suatu kekuatan yang dahsyat untuk melawan kemungkaran yang menjadi karakter nafsu itu. Jika berhasil, maka dapatlah dikatakan bahwa kita telah melaksanakan shalat dengan khusyuk, yang tercermin dalam keshalihan sosial kita.
Nafsu yang tak terkendali itu pulalah yang kita lihat sehari-hari dalam bentuk unjuk rasa yang anarkistis. Mengapa kita menjadi bangsa pemarah, bangsa yang tidak bisa mengambil jalan keluar pelbagai masalah melalui musyawarah. Terlepas dari materi yang menjadi tuntutan atau protes para pengunjuk rasa, tidak sepantasnya mereka melampiaskan kekesalan dengan cara merusak, membakar fasilitas umum, dan bahkan membunuh aparat yang melaksanakan tugasnya.
Kesulitan ekonomi yang dialami rakyat kecil bisa kita maklumi. Hati nurani kita bisa berbicara tentang hal itu, karena hati nurani itu jujur. Namun jika ada ummat Islam yang sampai melakukan perbuatan memotong rel kereta api (untuk dijual sebagai besi bekas) yang mengakibatkan kecelakaan, dan bisa membahayakan nyawa orang lain, maka dapatkah dia dikatakan memiliki hati nurani? Belum lagi memotong tubuh manusia. Apa yang hendak kita katakan?
Sebagai manusia yang bertaqwa, sudah seharusnya kita memperbanyak mengingat kematian, bertafakkur merenung sudah berapa banyak kita melanggar aturan atau perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, seberapa banyak kesalahan atau dosa yang kita lakukan di selama ini, agar kita bisa memperbaiki diri kita. [Hermanto]