Kita sering menyaksikan manusia pada umumnya mementingkan urusan duniawi. Sebaliknya kita juga menyaksikan orang-orang yang terlalu mementingkan urusan ukhrawi sehingga mengabaikan urusan duniawi, yang menjadikan kehidupan bermasyarakat mereka tertinggal dan terbelakang.
Apa sebenarnya yang kita cari dari perjalanan hidup ini? Jawabanya tergantung kepada siapa yang menjawab. Jika mereka mencintai nilai-nilai luhur, maka jawabannya adalah; ‘kebaikan dan perbaikan’. Jika mereka pemburu kesenangan duniawi jawabannya adalah; ‘kekuasaan’ dalam arti yang seluas-luasnya.
Kekuasaan itu selalu diminati manusia, bahkan diperebutkan, karena manusia mengira, dengan kekuasaan ia akan bisa menggapai apa saja yang menjadi keinginannya. Imam Al Ghazali menyebutkan kekuasaan adalah sesuatu yang secara alamiah digandrungi manusia. Setiap orang boleh mendapatkan kekuasaan, bukan sesuatu yang dilarang oleh agama, asalkan dengan cara yang baik dan digunakan untuk kebaikan pula. Syahwat kekuasaan itu lebih besar daripada syahwat harta, hal itu disebabkan karena optiga faktor.
Pertama, kekuasaan bisa mendatangkan harta. Dengan kekuasaan, manusia bisa menumpuk kekayaan. Tidak demikian sebaliknya. Diakui bahwa untuk mencapai kekuasaan, manusia butuh harta, tetapi tidak setiap orang yang telah menggunakan banyak harta, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan.
Kedua, kekuasaan menimbulkan efek popularitas yang luar biasa. Begitu seseorang dinobatkan sebagai penguasa, maka seketika ia akan menjadi masyhur. Popularitas itu akan bertambah besar bila ia mampu memanfaatkan dukungan media
Ketiga, pengaruh kekuasaan relatif lebih dalam dan tahan lama. Pada sebagian orang, pengaruh kuasa menimbulkan loyalitas yang sangat tinggi, bahkan kesetiaan sampai mati. Tidak demikian dengan pengaruh harta.
Manusia adalah makhluk Allah SWT yang mampu menggunakan kecerdasan otaknya sebagai senjata ampuh untuk hidup. Lebih daripada kuku macan, tanduk banteng, maupun belalai gajah. Kita harus cerdas, dan ketika kita mempunyai akal yang cerdas, kecerdasan itu harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, bukan untuk mengembangkan sesuatu yang keliru akibat hasrat mencari kesenangan sehingga menjauhkan manusia dari hakikat hidup sebenarnya, yaitu beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana firmannya:"Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi kepada-Ku." [QS Adz Dzaariyaat (51): 56]
Di samping itu dalam beribadah, hendaknya kita selalu berpegang pada keseimbangan hidup mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana firman-Nya: "Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, janganlah berbuat kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." [QS Al Qashash (28): 77].
Ayat tersebut menegaskan prioritas tujuan hidup, yaitu kehidupan di akhirat. Namun kita tidak boleh lupa bahwa saat ini kita sedang hidup di alam dunia yang mengharuskan bekerja keras mencari kebahagiaan di dunia agar hidup kita makmur dan sejahtera, sebagaimana cara hidup yang diajarkan Islam.
Mengingat umur manusia yang begitu terbatas, semasa hidup di dunia, hendaknya kita tidak menghabiskan umur untuk melakukan pekerjaan yang sia-sia, perbuatan yang tidak Islami, sekedar berpesta pora, yang menyebabkan kita menyesal di akhirat.
Bagaimana menikmati kehidupan dunia ini secara Islami, ada baiknya kita melakukan penelitian atas diri kita masing-masing. Dalam diri manusia ada suatu daya yang tersusun dalam roh yang membuat roh itu sensitif akan keindahan. Di dalam struktur roh manusia terdapat beberapa macam daya atau kemampuan yang masing-masing berfungsi menurut hukumnya sendiri. Bermacam daya itu antara lain adalah; daya berfikir, daya kemampuan logika, daya etika dan daya estetika (menikmati keindahan). Pemanfaatan daya estetika yang kurang semestinya bisa menimbulkan masalah.
Daya estetika memiliki empat karakteristik, yaitu; 1) Tanpa pamrih. Daya ini berfungsi sebelum daya-daya lain mempengaruhinya. 2) Universal. Daya yang berlaku umum untuk manusia, yakni ketika daya ini belum terpengaruh oleh daya-daya lain, ketika itulah daya ini bersifat universal. 3) Mutlak. Daya yang kehadirannya dalam roh manusia adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. 4) Bertujuan. Yakni daya estetika yang membuat manusia mampu mengenali obyek-obyek keindahan.
Rasa ‘indah’ selalu dihubungkan dengan ‘seni’. Kata ‘indah’ diidentikkan dengan ‘nilai estetika’, yang biasanya dikaitkan dengan alam. Inilah sebabnya, mengapa kajian tentang estetika lebih masuk ke wilayah seni daripada filsafat. Hal-hal yang indah lalu menjadi penghampiran kesenian, bukan kefilsafatan. Padahal estetika adalah cabang dari filsafat, yakni filsafat keindahan. Ketika masalah keindahan menjadi sebatas masalah kesenian, maka suatu karya disebut ‘nyeni’ jika ia memenuhi standar normatif kesenian.
Jika sekarang orang ramai-ramai bicara tentang pornografi, sering pembicaraan hanya berkisar pada seni melulu, terlepas dari kefilsafatan, termasuk nilai-nilai moralitas. Padahal yang berkuasa menentukan keindahan bukanlah obyek yang dinikmati, melainkan subyeknya, yaitu manusia.
Dari perbedaan perspektif dan dasar pemikiran inilah, akhirnya memunculkan pola perbedaan dalam kerangka berpikir dalam menyikapi obyek kesenian yang (berbau) pornografi dan pornoaksi. Apalagi jika pemikiran itu telah disisipi dan didominasi dengan kepentingan bisnis yang berangkat dari pemikiran sekuler dan hedonis, tanpa memperhatikan dan mematuhi rambu-rambu halal dan haramnya dalam mengumpulkan materi / uang.
Dari perspektif Islam, seni harus terkait dengan ibadah. Ummat Islam harus memandang seni itu untuk melaksanakan syariah dengan ikhsan, karena kesenian itu bisa membantu peningkatan kualitas keikhsanan. Seni dalam pandangan Islam harus bisa meningkatkan kualitas interaksi (keimanan dan ketaqwaan) seseorang dengan Allah SWT.
Seni adalah, misalnya bagaimana seseorang ketika melihat lukisan atau membuat/membaca puisi atau menciptakan/mendengarkan lagu tentang pemandangan alam; sawah, pegunungan, laut, langit, awan, matahari, bulan, perasaan manusia, dan sebagainya, ketika dia melihat atau mendengar sesuatu, tiba-tiba seolah-olah dia ‘bertemu Tuhan’, yang kemudian meningkatkan ketakjubannya terhadap kebenaran dan kekuasaan Tuhan.
Sebenarnya kalau mau jujur, dari sanubari setiap manusia tentu akan terbetik pertanyaan “betapa besar kuasa Tuhan dalam menciptakan alam semesta dan pengaturannya. Manusia sesungguhnya bukan apa-apa kalau dibanding dengan-Nya”. Jangankan manusia yang hidup di zaman modern sekarang ini, orang-orang yang hidup di zaman pra Islam sudah mengakui bahwa alam semesta beserta isinya ini ada yang menciptakan.
Karena itu banyak dijumpai seniman yang lebih agamis pandangannya dibanding dengan ulama yang kurang mengenal kesenian dengan baik. Ini merupakan tantangan bagi para ulama, yang seharusnya lebih peka dalam hal keimanan dan keikhsanan.
Dengan tadabur alam (belajar dan mengenal langsung dari alam sekitar), manusia akan mengakui betapa kuasanya Sang Pencipta, dan sebaliknya betapa kerdilnya dirinya. Dengan perasaan begitu, manusia akan menghargai hidup dan kehidupan, dia akan memanfaatkan alam dan dirinya dengan efektif, hati-hati dan optimal. Akhirnya, suasana hati yang seperti itulah yang mengkhuyukkan ibadah dan menyuburkan keimanan kita.
Dengan demikian manipulasi terhadap seni dan keindahan yang diselewengkan untuk kepentingan jangka pendek, dapat dibendung dengan mengendalikan nafsu dan memperbaiki akhlak. Maka seharusnya kita senantiasa mengkhusyukkan ibadah dan menyuburkan keimanan kita, bukan melakukan atau mengurusi hal-hal yang justru menimbulkan kontroversi dalam diri kita.
Misalnya, ketika manusia mempunyai fisik yang sehat dan gagah / cantik, mereka berani menantang Allah dengan mengatakan dalam hati, bahwa tubuh-tubuh itu adalah mutlak milik mereka, dan karena itu mereka merasa berhak untuk memanfaatkan, mengatur, merubah bentuk tubuh dan wajah, mengenakan pakaian, melakukan kegiatan kesenian yang mereka kembangkan bukannya untuk beribadah kepada Allah SWT, melainkan dipertontonkan keindahan itu kepada orang lain secara tidak wajar, bahkan sampai mengumbar syahwat. Padahal keindahan itu seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, bukan untuk mencapai kesenangan duniawi semata-mata.
Betapa kesenangan duniawi telah mengumbar syahwat masyarakat. Hal ini dikemukakan oleh Taufik Ismail dalam salah satu pidato kebudayaannya yang menyebutkan 13 komponen pendukung gerakan ’syahwat merdeka’. Yakni 1) Praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok seks bebas, hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. 2) Penerbit majalah dan tabloid mesum yang telah menikmati ditiadakannya SIUPP. 3) Produser, penulis skrip dan pengiklan. Betapa ekstensifnya pengaruh tayangan televisi. Setiap tayangan dilihat rata-rata 170 juta pemirsa. Untuk situs pornografi, kini tersedia 4,2 juta di dunia dan 100 ribu di internet
Sungguh ironis jika kita menyaksikan asyik dan gembiranya kaum wanita berjilbab berbaur dengan kaum pria yang melepas baju dan mengibarkan bajunya itu untuk mengelu-elukan biduanita yang menyanyikan lagu-lagu ‘syeitan’ dalam busana seronok.
Mereka telah mengaburkan kesenian dan keindahan sampai menjurus kepada kerangka berpikir menyikapi obyek kesenian yang (berbau) pornografi, Apalagi jika pemikiran itu disisipi dan didominasi dengan kepentingan bisnis oleh penyelenggara pertunjukan yang berangkat dari pemikiran sekuler dan hedonis, tanpa memperhatikan dan mematuhi rambu-rambu halal dan haram untuk mendapatkan keuntungan materi semata-mata. Betapa banyak kaum perempuan mengenakan jilbab sekedar menutup rambut (bagi yang sudah ubanan atau kaum muda yang malas menata rambut). Apa maksudnya mengenakan jilbab, jika dia tetap mengenakan kaus dan celana ketat, yang menjadikan bahan tertawaan orang-orang asing di
nyang dipentingken daripada umat Islam nampaknya baru sebatas yang bersifat atributif, ritual, seremonial. lho kok sekian taon hasil dakwah baru sampai segini? coba lihat, siapa yang: malas, boros, bodoh, merusak lingkungan, terlibat masalah susila, korupsi? jawab ndili dah.
BalasHapusmaap, aye kire kite perlu tahu benar arti dan tahapan daripada: tahu, bisa, dan mau. dimana kapling para dai, muballigh, dan ulama?