PERLU PENDIDIKAN YANG BENAR BAGI GENERASI PENERUS
Indonesia selain dikenal sebagai bangsa berbudaya korupsi sejak empat dekade yang lalu, juga dikenal sebagai sarang teroris sejak terjadi pembajakan pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla pada tahun 1981, bom Bali tahun 2002, dan hingga sekarang masih sering terjadi tindakan teror dalam berbagai modus. Di samping itu Indonesia juga dikenal sebagai salah satu produsen narkoba jaringan internasional dan pasar transaksi narkoba yang menarik bagi mafia narkoba, dan kejahatan lainnya seperti pembunuhan berantai, mutilasi, pencurian komponen sarana umum, perampokan dan tindak kekerasan seperti tawuran antar warga, perang antar suku, kekerasan oleh mahasiswa / pelajar. Ditambah lagi dengan tampilnya video porno yang melibatkan selebrita, pemerkosaan di kendaraan umum, dan lain sebagainya, maka makin banyak pula ragam akhlak buruk masyarakat, sehingga citra bangsa Indonesia semakin buruk.
Lingkaran Survei Indonesia, (LSI) menyatakan bahwa citra buruk bangsa Indonesia itu terus dipublikasikan media internasional. Data survei LSI terkini menunjukkan persepsi buruk media internasional terhadap pemimpin negara telah meningkat dari 53,8% menjadi 64%. Padahal sesungguhnya yang paling bertanggungjawab atas buruknya citra bangsa adalah para guru bangsa termasuk ulama.
Di sela-sela seminar internasional ‘Diplomasi Publik dan Pencitraan Indonesia dalam Perspektif Humas Internasional di Bandung tanggal 21 September 2011 yang lalu, pakar Humas Internasional Universitas Islam Bandung (UNISBA), Ani Yuningsih menyatakan, salah satu upaya memperbaiki citra Indonesia di mata dunia internasional adalah dengan membentuk dan memfungsikan Humas Internasional.
Terhadap gagasan tersebut, penulis berpendapat bahwa pembentukan Humas Internasional itu tidak akan efektif untuk memperbaiki citra bangsa, karena buruknya citra bangsa adalah karena buruknya perilaku sebagian bangsa itu sendiri. Seperti dikatakan oleh Syaikh Muhammad Abduh, ulama Mesir, pakar hukum, dan reformis pendidikan: “Al-Islam mahjub bil Muslimin - Keindahan ajaran Islam ditutupi oleh kelakuan sebagian ummat Islam.” Dengan demikian cara paling efektif untuk memperbaiki citra bangsa Indonesia adalah dengan memperbaiki perilaku ummat Islam, yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia.
Untuk itu para guru termasuk ulama, perlu mengintensifkan pendidikan untuk mengenal dan memiliki sifat malu, karena sifat malu adalah akhlak yang menghiasi perilaku manusia dengan keanggunan yang ada padanya. Inilah akhlak terpuji yang ada pada diri setiap orang laki-laki dan fitrah yang menjadi karakter setiap wanita. Sifat malu adalah akhlak yang muncul dalam diri seseorang untuk meninggalkan keburukan, mencegah diri dari kelalaian dan penyimpangan terhadap hak orang lain.
Abu Qasim Al-Junaid, ulama Sufi Irak mendefinisikan sifat malu dengan kalimat: “Sifat malu adalah melihat nikmat dan karunia sekaligus melihat kekurangan dalam diri seseorang, yang akhirnya muncul dari keduanya suasana jiwa yang disebut dengan malu kepada Sang Pemberi Rizki.”
Ada tiga jenis sifat malu, yaitu: Pertama, malu yang bersifat fitrah. Misalnya, malu yang dialami saat melihat gambar seronok atau wajah yang menjadi merah karena malu mendengar ucapan kotor. Kedua, malu yang bersumber dari iman. Misalnya, seseorang menghindari berbuat maksiat karena malu atas muraqabatullah - pantauan Allah. Ketiga, adalah malu yang muncul dari dalam jiwa. Misalnya, perasaan yang menganggap malu bertelanjang di hadapan orang banyak.
Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata: “Orang yang menjadikan sifat malu sebagai pakaiannya, niscaya orang-orang (lain) tidak akan melihat aib dan cela pada dirinya.” Karena itu, beruntunglah orang yang punya sifat malu. Rasulullah Saw menjadikan sifat malu sebagai bagian dari cabang iman sebagaimana sabdanya: “Iman memiliki 70 atau 60 cabang. Paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan.” (HR Muslim).
Dari hadits itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak akan ada sifat malu dalam diri seseorang yang tidak beriman. Akhlak yang mulia ini tidak akan kokoh tegak dalam jiwa orang yang tidak punya landasan iman yang kuat kepada Allah Swt, sebab, sifat malu adalah pancaran iman. Sabda Nabi: “Malu adalah bagian dari iman, dan keimanan itu berada di surga. Ucapan buruk berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya di neraka.” (HR At-Tirmidzi).
Selain merupakan bagian dari iman, sifat malu juga sejajar dengan iman Tentang kesejajaran sifat malu dengan iman ini ditegaskan Rasulullah Saw: “Malu dan iman keduanya sejajar bersama. Ketika salah satu dari keduanya diangkat, maka yang lain pun terangkat.” (HR Al-Hakim). Karena itu, memiliki sifat malu menjadi sangat penting bagi orang-orang Mukmin.
Sifat malu tidak akan mendatangkan kemudharatan. Rasa malu ini akan membawa kebaikan bagi pemiliknya. Rasulllah Saw bersabda: “Sifat malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.” (HR Al-Bukhari). Dengan kata lain, orang yang kehilangan sifat malu, yang tersisa dalam dirinya hanyalah keburukan. Buruk dalam ucapan, buruk dalam perbuatan. Rasulullah Saw juga bersabda: “Bila kamu tidak malu, lakukanlah apa saja yang kamu inginkan.” (HR Al-Bukhari).
Ada tiga pemahaman atas sabda Rasulullah itu. Pertama, berupa peringatan: “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Fushshilat 41: 40). Kedua, perkataan itu memberitakan tentang kondisi orang yang tidak punya sifat malu. Mereka bisa melakukan apa saja karena tidak punya standar moral. Tidak punya aturan. Ketiga, hadits ini merupakan perintah Rasulullah Saw kepada kita untuk bersikap malu. Memaknai apa yang tersirat dalam hadits di atas, Rasulullah Saw menegaskan, apakah kamu tidak malu melakukannya? Kalau malu, menghindarlah!
Dari mana sebenarnya rasa malu bisa kita miliki? Sumber sifat malu adalah dari pengetahuan kita tentang keagungan Allah Swt. Sifat malu akan muncul jika kita menghayati betul bahwa Allah itu Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari Penglihatan Allah. Segala lintasan pikiran, niat yang terbersit dalam hati kita, semua diketahui olwh Allah Swt. Inilah yang dinamakan muraqabatullah - pantauan Allah - yang merupakan energi rasa malu. Hal ini juga telah dibahas pada paragraf ke-6 di atas yang merupakan salah satu jenis sifat malu..
Muraqabah itulah yang penulis ajarkan intinya kepada anak-anak kami di Tokyo ketika masih kecil. Pada tahun 1977, kami berlibur di Hawaii, Nana, anak perempuan kami yang bungsu bertanya kepada ibunya sebelum shalat berjamaah pertama kali di kamar apartemen tempat kami menginap: “Mama, Tuhan juga ada di Hawaii?” Begitulah kekaguman seorang anak berumur 4 tahun, bahwa Tuhan juga ada di tempat sejauh itu setelah lama naik pesawat dari Tokyo yang terbang di atas awan menyeberangi lautan yang luas.
Penulis sangat sedih ketika membayangkan betapa reaksi anak, menantu dan cucu kami yang jumlahnya 10 orang yang lahir, dibesarkan dan bermukim di Jepang itu, jika mereka mengetahui keburukan moral dan etika ummat Islam Indonesia dewasa ini dari media massa Jepang. Apalagi jika saat ini mereka sedang berada di Indonesia.
Seketika itu juga penulis teringat pada tahun 2008, anak-cucu kami berlibur di Indonesia, mereka pergi ke Taman Safari, Cisarua, Bogor. Makoto, salah seorang cucu yang ketika itu berumur 7 tahun, bersama kakak dan adiknya - ketiganya laki-laki - tiba-tiba menjadi rebutan para pemandu gajah yang mencoba memaksa mendudukkanya di atas punggung gajah yang dipandunya. Makoto dengan heran bertanya kepada penulis: “Kake, mengapa para pemandu gajah saling berebut tamu, padahal di situ banyak orang yang ingin menunggang gajah? Mengapa mereka tidak mengatur giliran dan menunggu dengan sabar?” Penulis hanya bisa menjawab: “Mereka tidak pintar seperti Makoto waktu bersekolah.”
Tentang kesabaran, Rasulullah Saw mengajarkan: “Sabar adalah sebagian dari iman.” Sedangkan iman merupakan kekuatan di dalam hati manusia untuk mengendalikan nafsu,. Bagi Makoto yang ‘mualaf’, tentu sulit untuk memahami makna ajaran Islam tersebut tanpa penjelasan lebih lanjut. Baginya lebih mudah memahani gambar di buku pelajaran sekolahnya yang menceritakan dua ekor keledai sedang berpapasan di kedua ujung suatu jembatan sempit di atas sungai. Mereka bermaksud menyeberangi jembatan itu. Karena kedua keledai itu tidak ada yang mau bersabar dan saling menahan diri, maka keduanya tercebur ke dalam sungai ketika bertemu di tengah jembatan.
Inilah tantangan bagi para guru termasuk ulama kita untuk menyusun konsep pendidikan akhlak, moral dan etika yang mudah dimengerti dan diamalkan oleh anak-anak. Perlu kita sadari bahwa anak-anak adalah mad’u - penerima dakwah, bukan dai - pemberi dakwah. Kita harus memanfaatkan kepandaian anak-anak menghafal sesuatu untuk memberikan pemahaman yang benar tentang akhlak, moral dan etika. Janganlah memanfaatkan anak-anak untuk kepentingan bisnis melalui acara televisi seperti pemilihan da’i cilik (PILDACIL). Anak-anak itu belum tentu memahami materi yang didakwahkannya, karena mereka diarahkan untuk mendapatkan hadiah, sedangkan keuntungan lebih besar justru diperoleh penyelenggara acara dan para juri.
Kita membutuhkan modal para guru termasuk ulama yang terdidik, mandiri dan bertanggungjawab untuk melakukan reformasi di bidang pendidikan, yang mampu mendidik anak bangsa menjadi lebih berkualitas, bukan mereka yang menjadikan anak bangsa sebagai alat untuk mencari uang. Allah Swt berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (bodoh), yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS An-Nisaa’ 4: 9).
Hermanto Hs
No. 127