Kamis, 25 Juni 2009

38. MEMILIH PEMIMPIN

Islam menekankan pentingnya pemimpin, dan masyarakat Islam perlu mempunyai pemimpin, sebab untuk membangun kesejahteraan bersama, akan lebih efisien jika dilakukan di bawah koordinasi pemimpin. Pemimpin yang baik mendapatkan penghargaan dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Sebaliknya pemimpin yang zhalim mendapat laknat dan kutukan dari Allah. Maka hendaknya kita memilih pemimpin yang memiliki kepemimpinan kuat dan amanah, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat sebagai ulil amri dan khadimul ummah.

Ulil amri atau umara adalah orang yang mendapatkan amanah dan kepercayaan untuk menangani segala urusan masyarakat. Ia bertanggungjawab penuh terhadap segala persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Pemimpin yang memahami makna ulil amri akan memiliki kesadaran bahwa amanah jabatan dan kekuasaan yang dimilikinya harus digunakan sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga ia akan berusaha untuk melindungi kepentingan masyarakat, terutama kaum yang lemah. Karena itulah, ketika diangkat menjadi khalifah, Abubakar menyatakan dengan tegas; “Aku adalah pemimpin yang berkeinginan agar orang kuat menjadi lemah di hadapanku, dan sebaliknya yang lemah menjadi kuat di hadapanku”.

Terhadap pemimpin yang demikianlah Allah SWT menegaskan pentingnya untuk memiliki ketaatan dan loyalitas sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“. [QS An Nisaa’ (4): 59].

Khadimul ummah atau pelayan masyarakat, adalah pemimpin yang berorientasi pada pelayanan masyarakat yang akan senantiasa berusaha untuk melakukan berbagai langkah dan upaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Rasulullah SAW bersabda: “Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka.” [HR Abu Na'im]. Kepedulian terhadap kondisi masyarakat harus tercermin pada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Maka jelaslah bahwa tidak ada loyalitas dan ketaatan terhadap pemimpin yang mengkhianati amanah yang telah diberikan Allah kepadanya, apalagi pemimpin yang hanya ingin mencari kekuasaan.

Berbangsa dan bernegara itu bukan menjadikan negara ini sebagai negara kekuasaan, melainkan negara pengurus, yakni negara yang mengurus rakyatnya dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian kita menolak penguasaan negara, baik individu maupun kelompok tertentu, melainkan harus mementingkan kepentingan rakyat secara keseluruhan. Jadi khadimul ummah ini menekankan pentingya pelayanan kepada masyarakat.

Menjelang Pilpres 2009, masing-masing calon pemimpin dan parpol yang mendukungnya, saling menggalang dukungan rakyat untuk memenangkan kompetisi tersebut. Berkompetisi itu wajar asalkan dalam konteks fastabiqul khairat (berlomba dalam berbuat kebajikan), Hal ini tidak ada hubungannya dengan slogan ‘lebih cepat lebih baik’, yang sering disebut di masa kampanye saat ini.

Di ‘era muhasabah’ dalam tampilan Al Mustaqiim ini, ada baiknya kita perhatikan sejumlah pesan dari Rasulullah SAW dalam memilih pemimpin, dan peringatan bagi para kandidat yang berkompetisi, karena Rasulullah SAW adalah pemimpin terbesar dalam sejarah manusia di muka bumi ini. Kebesaran tersebut bukan hanya kebanggaan sepihak bagi ummat Islam, melainkan telah diakui dunia Barat sebagai pemimpin nomor wahid. Berikut ini adalah pesan-pesan Rasulullah SAW tersebut:

1. Rasulullah SAW tidak berkenan terhadap calon pemimpin yang berambisi pada kedudukan / kekuasaan. Hal ini disebutkan dalam sabdanya: “Kami tidak mengangkat orang yang berambisi mendapatkan kedudukan.” [HR Muslim]. Mengapa? Jawabannya ada pada Hadis berikut: “Rasulullah SAW bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah, ‘Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu, maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya’." [HR Bukhari dan Muslim].

Setiap orang mempunyai ambisi, namun yang dimaksud dalam hadis di atas adalah ambisi yang berlebihan untuk menggapai kedudukan / kekuasaan. Seperti disebutkan dalam tulisan 30 (15/06/09), kekuasaan adalah sesuatu yang secara alamiah digandrungi manusia, karena dengan kekuasaan seseorang mudah memperoleh harta, popularitas dan menimbulkan loyalitas yang tinggi dari pendukungnya.

Dengan kekuasaan, manusia bisa menumpuk kekayaan. Tidak demikian sebaliknya. Diakui bahwa untuk mencapai kekuasaan, manusia butuh harta, tetapi tidak setiap orang yang telah menggunakan banyak harta, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan. Setiap orang boleh mendapatkan kekuasaan, bukan sesuatu yang dilarang oleh agama, asalkan dengan cara yang baik dan digunakan untuk kebaikan pula.

Kita harus bisa membedakan antara calon pemimpin yang dengan ambisi besarnya ngotot ingin mendapatkan kekuasaan, dengan calon pemimpin yang lebih berorientasi pada kesadaran akan pentingnya melaksanakan amanah yang harus diembannya sebagai ulil amri dan khadimul ummah. Memilih pemimpin janganlah hanya karena pengaruh iklan atau pengaruh kampanye, apalagi kampanye hitam. Sungguh tepat himbauan agar pemilih cerdas memilih pemimpin berkualitas.

2. Janganlah memilih dan mengikuti pemimpin yang berdusta dan zhalim, sebagai mana pesan Rasulullah SAW: “Kepada Ka'ab bin Ujrah, Rasulullah berpesan, 'Semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang yang jahat'. Ka'ab bertanya, apa makdudnya? Nabi SAW bersabda, 'Yaitu para pemimpin yang ada sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak bersunah dengan sunahku. Maka barangsiapa yang membenarkan atas dustanya dan membantu kezhalimannya, mereka itu bukanlah ummatku dan aku pun tidak termasuk bersama mereka, mereka tidak akan mendatangi telagaku’.'' [HR Ahmad].

Kita tentu tidak bisa mengetahui apakah kandidat yang akan kita pilih menjadi pemimpin itu orang yang akan berdusta dan berbuat zhalim atau tidak. Sehingga kalimat “...barangsiapa yang membenarkan atas dustanya dan membantu kezhalimannya” yang tercantum dalam hadis itu menunjuk pada track record seseorang calon pemimpin di masa lalu. Waspadalah!

3. Seyogyanya tidak memilih wanita sebagai pemimpin, kecuali kalau memang tidak ada laki-laki yang lebih baik dan sanggup melakukannya. Hal ini berdasarkan peringatan Rasulullah SAW: “Tidak akan sukses suatu kaum yang mengangkat seorang wanita sebagai pemimpin.” [HR Bukhari]. Jika Rasulullah SAW sudah memperingatkan sesuatu hal, hendaknya kita perhatikan dengan seksama. Tidak perlu kita mencoba berseberangan dengan apa yang dinasihatkan Rasulullah SAW, karena beliau adalah pemimpin yang selalu mendapatkan bimbingan dari Allah SWT.

Namun tidak ada keberatan apapun memilih wanita untuk memimpin suatu jabatan di bidang tertentu, di mana ada wanita yang lebih unggul keakhliannya daripada laki-laki. Allah SWT berfirman: “Katakan (Muhammad): ‘Masing-masing dari kita bekerja menurut jalan (bidangnya) yang dipilih, Tuhanmu Maha Tahu siapa di antara kita yang menempuh jalan paling benar [QS Al Israa’ (17): 84]. Dalam urusan keakhlian, di sini tidak dibedakan antara laki-laki atau wanita. Ini berbeda dengan amanah yang harus dijalankan oleh seorang ulil amri dan khadimul ummah, di mana tugas yang menjadi tanggungjawabnya sangat berat.

4. Seorang pemimpin harus mendapatkan kepemimpinan itu dengan cara yang baik untuk menerima amanah, bukan dengan cara yang curang, melanggar aturan dan etika dalam kampanye, bukan dengan politik uang, dan sebagainya. Rasulullah SAW bersabda: “Kepada sahabat Abu Dzarrin, Rasulullah SAW menyampaikan pesan; ‘Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah suatu amanah dan di hari kiamat akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan kecuali mereka yang mengambilnya dengan cara yang baik serta dapat memenuhi kewajibannya sebagai pemimpin dengan baik’.'' [HR Muslim].

5. Peringatan bagi pemimpin yang menyalah gunakan kepemimpinannya: “Bagi pemimpin yang menyalah gunakan jabatannya dengan berbuat yang zhalim, maka jabatan (kedudukan) nya pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat.” [HR Ath Thabrani]. Hadis ini merupakan penegasan dari nasihat Rasulullah SAW pada butir 2 di atas tentang pemimpin yang zhalim.

6. Waspadalah pemimpin penipu dan hartawan yang tidak membayarkan zakat, sebagaimana dikatakan Abu Hurairah RA: ‘'Telah bersabda Rasulullah SAW, 'Disodorkan padaku tiga golongan yang paling pertama masuk surga. Dan tiga golongan juga yang paling pertama masuk neraka. Adapun yang paling pertama masuk surga ialah orang yang mati syahid, hamba sahaya yang baik ibadahnya kepada Allah dan selalu menasihati majikannya (tuannya) dan mereka yang menjauhkan diri dari barang yang haram. Adapun tiga golongan yang paling pertama masuk neraka ialah pemimpin yang menipu, hartawan yang tidak pernah memberikan kewajiban (zakat), dan orang yang fakir yang sombong'.'' [HR Damiri dan Ahmad]. Hadis ini juga merupakan penegasan dari nasihat Rasulullah SAW pada butir 2 di atas tentang pemimpin penipu.

7. Pemimpin harus menyadari bahwa mengurus ummat, bukan hanya main perintah, bukan hanya bisa berpidato, tetapi juga harus berbuat kebajikan bagi ummat. Hal ini diperingatkan dengan tegas dalam sabda Rasulullah SAW: “Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.” [HR Ath Thabrani]. Jika sudah begini, benar-benar pemimpin munafik, dan di akhirat nanti ia akan ditempatkan di kerak-kerak neraka. Ingat [QS An Nisaa' (4): 145].

8. Rasulullah SAW: “Khianat paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya.” [HR Ath Thabrani]. Upaya memberikan lapangan pekerjaan bagi ‘rakyat kecil’ ke luar negeri sebagai pembantu ramah tangga (PRT) bisa dipahami, namun masih perlu dikaji ulang apabila hal ini dikaitkan dengan target peningkatan devisa yang dilakukan pemerintah selama ini (siapapun presidennya), apakah hal ini termasuk memperdagangkan rakyat atau bukan. PRT yang kurang memiliki intelegensia, mudah dilecehkan majikan, yang ujungnya adalah penyiksaan oleh majikannya itu atau keputus asaan bagi pekerja itu sendiri.

9. Pemimpin harus bisa melindungi kaum yang lemah, mendahulukan memenuhi kebutuhan mereka yang membutuhkan bantuan. Dalam kaitan ini Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat.” [HR Ahmad]. Bagi kaum yang lemah (baik fisik maupun entelegensia) lebih baik diberikan bantuan langsung, baik tunai maupun barang keperluan lainnya. Dana untuk itu bisa diusahakan bersama dengan menggalang wakaf tunai seperti dijelaskan dalam tulisan 21 (22/03/09). Pemberian modal usaha tanpa bimbingan usaha yang benar, hanya akan memperbanyak pedagang kaki lima dan pedagang asongan.

Jika misalnya 20% saja dari 180 juta dari ummat Islam Indonesia mau berzakat sedikitnya Rp. 100 ribu setiap bulan, maka jumlah yang terkumpul Rp. 3,6 trilyun, atau Rp. 43 trilyun per tahun. Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa bangsa Indonesia selain bisa mengatasi kemiskinan, juga bisa membayar utang kepada negara-negara kaya, dan bahkan mandiri di masa depan, jika mampu menggali potensi wakaf tunai tersebut.

Demikian Al Mustaqiim menyambut Pilpres 2009, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Tidak ada motivasi politik dari tulisan ini, melainkan menegakkan yang ma’ruf dan meninggalkan yang munkar, karena semua bahasan berdasarkan Al Qur’an dan Hadis. [Hermanto]

Senin, 15 Juni 2009

37. HIDUP DAN MATI

Apa sebenarnya yang kita cari dari perjalanan hidup ini? Jawabannya tergantung pada siapa yang menjawab. Jika mereka mencintai nilai-nilai luhur, maka jawabannya adalah; ‘kebaikan dan perbaikan’. Jika mereka pemburu kesenangan duniawi jawabannya adalah; ‘kekuasaan’ dalam arti yang seluas-luasnya.

Kekuasaan itu selalu diminati manusia, bahkan diperebutkan, karena manusia mengira, dengan kekuasaan ia akan bisa menggapai apa saja yang menjadi keinginannya. Imam Al Ghazali menyebutkan kekuasaan adalah sesuatu yang secara alamiah digandrungi manusia. Setiap orang boleh mendapatkan kekuasaan, bukan sesuatu yang dilarang oleh agama, asalkan dengan cara yang baik dan digunakan untuk kebaikan pula. Syahwat kekuasaan itu lebih besar daripada syahwat harta, hal itu disebabkan karena tiga faktor.

Pertama, kekuasaan bisa mendatangkan harta. Dengan kekuasaan, manusia bisa menumpuk kekayaan. Tidak demikian sebaliknya. Diakui bahwa untuk mencapai kekuasaan, manusia butuh harta, tetapi tidak setiap orang yang telah menggunakan banyak harta, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan.

Kedua, kekuasaan menimbulkan efek popularitas yang luar biasa. Begitu seseorang dinobatkan sebagai penguasa, maka seketika ia akan menjadi masyhur. Popularitas itu akan bertambah besar bila ia mampu memanfaatkan dukungan media massa. Dan kekuasaan mudah diperkokoh dengan berbagai cara bahkan dengan melakukan kebohongan sekalipun.

Ketiga, pengaruh kekuasaan relatif lebih dalam dan tahan lama daripada harta. Pada sebagian orang, pengaruh kuasa menimbulkan loyalitas yang sangat tinggi, bahkan kesetiaan sampai mati. Tidak demikian dengan pengaruh harta. Jika kekuasaan lepas dari tangan seorang penguasa, pengaruh hartanya tidak akan bertahan lama dibanding pengaruh kekuasaan.

Manusia adalah makhluk Allah SWT yang mampu menggunakan kecerdasan otaknya sebagai senjata ampuh untuk hidup. Lebih daripada kuku macan, tanduk banteng, maupun belalai gajah. Kita harus cerdas, dan ketika kita mempunyai akal yang cerdas, kecerdasan itu harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, bukan untuk melakukan sesuatu yang keliru akibat hasrat mencari kesenangan sehingga menjauhkan manusia dari hakikat hidup sebenarnya, yaitu beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi kepada-Ku.” [QS Adz Dzaariyaat (51): 56]

Di samping itu dalam beribadah, hendaknya kita selalu berpegang pada keseimbangan hidup mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana firman-Nya: “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, janganlah berbuat kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan ” [QS Al Qashash (28): 77].

Peringatan itu sudah jelas, tujuan akhir adalah akhirat, tetapi jangan lupa mengurus dunia untuk kepentingan bersama, dan berbuat baik kepada orang lain, sebagimana Allah berbuat baik kepada kita. Ini adalah amanat yang harus kita laksanakan, tetapi yang terjadi justru memanfaatkan orang lain bahkan sampai mengorbankan orang lain, semata-mata untuk kepentingan diri sendiri sendiri. Dan kita hendaknya tidak merusak bumi dan isinya. Jika tidak maka Allah akan murka. Itulah yang sedang terjadi saat ini, sebagai akibat yang harus kita tanggung atas perbuatan manusia yang berbuat kerusakan di bumi.

Sebagai Muslim, kita harus tahu apa makna hidup ini. Dan yang penting pula adalah mensyukuri bahwa manusia adalah mahluk Allah yang mampu menggunakan kecerdasan otaknya untuk berpikir. Jika kita bodoh, maka kita akan dalam kerugian, karena kita menyia-nyiakan usia. Mengingat kita yang begitu terbatas semasa hidup di dunia, hendaknya kita tidak menghabiskan umur untuk melakukan pekerjaan yang sia-sia, perbuatan yang tidak Islami, sekedar berpesta pora, yang menyebabkan kita menyesal di akhirat nanti.

Kita bersyukur kepada Allah SWT bahwa kita telah menjadi pemeluk agama Islam, yang mengajarkan kesempurnaan hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Namun kebahagiaan di akhirat itu baru akan kita peroleh jika amalan kita di dunia baik. Amal adalah perwujudan dari sesuatu yang menjadi harapan jiwa, baik berupa ucapan, perbuatan anggota badan, ataupun berbuatan hati. Amal harus berdasarkan pada niat, karena Allah SWT menilai amal dari niatnya. Jika niatnya baik, maka hasilnya adalah kebaikan pula. Ada tiga jenis amal, yaitu amal jariah, amal ibadah, dan amal shalih.

> Pertama, amal jariah. Amal Jariah juga disebut wakaf. Harta / benda wakaf adalah harta / benda yang disumbangkan untuk kepentingan umum / agama. Pahala amal jariah tidak akan terputus walaupun pemberinya sudah meninggal dunia, selama harta / benda yang diamalkan tersebut masih memberikan manfaat bagi kepentingan umum. Maka amal jariah merupakan perbuatan amal yang berkelanjutan. Dalam Hadis disebutkan: "Bila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya, kecuali tiga (hal): Sedekah jariah, ilmu yang diambil manfaatnya dan anak shalih yang mendo’akan orang tuanya. [HR Muslim].

> Kedua, Amal Ibadah. Ibadah berarti melayani, mengabdi dan menyembah. Maka amal ibadah berarti pengabdian kepada Allah SWT. Perintah untuk beribadah banyak disebutkan terdapat dalam Al Qur’an. Selain yang disebut dalam [QS Adz Dzaariyaat (51): 56], juga disebut dalam [QS Az Zumar(39): 11]: “Katakanlah bahwasanya aku diperintahkan menyembah Allah seraya mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.

> Ketiga, Amal Shalih. Adalah semua perbuatan, lahir maupun batin, yang berakibat pada hal yang positip atau bermanfaat. Amal shalih bisa mencakup pengertian amal jariah dan amal ibadah.

Demikian telah kita bahas tentang makna hidup dengan amalannya. Selanjutnya kita bahas tentang kematian. Mengingat kematian ini penting, karena menurut Imam Al Ghazali, kematian adalah hal yang paling dekat dalam kehidupan kita, karena bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa bisa kita programkan. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. [QS Ali Imran (3): 102].

Bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang kematian itu? Kematian merupakan sesuatu yang tidak perlu ditakuti, karena kematian itu merupakan jalan kembali kepada Tuhan yang menciptakan kita semua. Dahulu kita berada di sisi Allah kemudian kita diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini menjalani kehidupan sementara, kemudian kita mengakhirinya dengan kematian, yang sebenarnya kita kembali ke sisi Allah lagi.

Dengan kata lain, kita dipanggil oleh Yang Maha Kuasa agar kembali kepada-Nya. Karena itu, kita sering mengatakan kepada orang yang meninggal dunia itu “berpulang ke rahmatullah” atau kita mengucapkan "Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un", yang artinya “sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali”.

Kapan kita mati? Allah SWT berfirman: “Tiap-tiap ummat mempunyai ajal (batas waktu), maka apabila datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun, dan tidak dapat memajukannya.” [QS Al A’raaf (7): 34]. Jelaslah bahwa sebagai makhluk yang bersifat fana, kita dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Suatu ketika drama kehidupan yang kita jalani, apapun yang kita perankan dalam kehidupan ini, baik sebagai seorang pemimpin, pejabat, ulama, atau rakyat biasa, semuanya akan berakhir, sesuai dengan skenario yang telah ditentukan oleh Allah Sang Pencipta.

Kita semua akan mati, cepat atau lambat. Cepat bukan dengan jalan pintas bunuh diri misalnya, dan lambat bukan berarti alon-alon asal kelakon, tetapi alon-alon supoyo kelakon. Maksudnya kita harus sabar dan pasrah, tetapi tekun mempersiapkan diri untuk mati dalam Islam, supaya tercapai kebahagiaan di akhirat.

Betapapun mulianya seseorang, betapapun berkuasaanya seseorang, pasti akan mati. Para Nabi dan Rasul Allah juga telah meninggal(kan dunia) untuk kembali kepada-Nya. Soekarno dan Mohammad Hatta, proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia, telah meninggal, Soeharto presiden Indonesia yang paling lama menjabat, telah meninggal, Saddam Hussein, presiden Irak yang sangat berkuasa di negerinya juga telah meninggal, George W. Bush, mantan presiden negara adi daya Amerika, yang menaklukkan Afganistan dan menjatuhkan kekuasaan Saddam Hussein, nanti juga akan meninggal.

Kematian itu sesuatu yang mesti terjadi pada seseorang, walaupun ia berusaha menghindari kematian atau berusaha bersembunyi dan berlindung di tempat yang dikira aman. Hal ini secara tegas dinyatakan dalam Al Qur’an: ”Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,... [QS. An-Nisa (4): 78].

Ketika kita meninggalkan dunia ini menuju ke akhirat, itu ibarat sebuah perjalanan menuju ke suatu negeri yang lain. Di mana keterangan tentang negeri tersebut tidak dimuat dalam brosur perjalanan wisata, melainkan di dalam Al Qur’an dan Hadis. Tak perlu dirisaukan mengenai booking untuk perjalanan ini, karena sudah dipesankan sejak kita masih dalam kandungan ibu kita. Kita masing-masing harus siap untuk menempuh perjalanan tersebut, karena setiap orang akan mendapatkan free one-way ticket untuk satu kali perjalanan yakni perjalanan yang tidak akan pernah kembali lagi ke dunia fana ini.

Pesawat yang akan ditumpangi dan yang akan mengantarkan kita bukanlah pesawat Garuda Indonesia atau Saudi Airlines, melainkan Keranda Jenazah. Untuk perjalanan ini barang bawaan kita tidak dibatasi hanya 20 kg, melainkan berapa pun berat dan banyaknya amal perbuatan kita. Kita tidak akan ditagih atas kelebihan barang bawaan. Semuanya gratis berkat kemurahan Allah Sang Pencipta.

Pramugari yang melayani bukanlah gadis cantik dengan senyuman menawan, tetapi malaikat Izrail, yang mencabut nyawa kita. Dan pelayanan selama penerbangan bukanlah di kelas eksekutif atau ekonomi, tetapi ambulan, limosin atau truk sampah, tergantung bagaimana perilaku kita semasa hidup.

Jangan pikirkan tentang hiburan selama penerbangan, karena kita sudah tidak memiliki cita rasa lagi. Juga tak perlu dipikirkan siapa yang akan duduk di sebelah kita, karena kita adalah satu-satunya penumpang di sana. Dan nikmatilah perjalanan tersebut, jika memang bisa menikmatinya.

Disembarkasi penerbangan bukanlah Jeddah International Airport, tetapi qabarastaan (tempat pemakaman). Petugas Immigrasi yang memeriksa bukanlah petugas imigrasi dari Kerajaan Arab Saudi, tetapi malaikat Munkar dan Nakir dari ’Kementerian Kehakiman Akhirat’. Ruang tunggu bukanlah ruangan terang benderang berhamparkan karpet yang ber-AC, tetapi ruang gelap seluas 1 x 2 m² bernama Kuburan. Tempat istirahat kita sampai dibangkitkan kembali adalah alam barzakh yang ghaib. Tujuan akhir kita adakah surga atau sebaliknya neraka, tergantung amalan di dunia yang kita bawa.

Dalam perspektif Islam, hidup dan mati merupakan ajang persaingan amal di antara manusia. Dengan daya nalarnya, manusia dapat memilah dan memisahkan antara yang baik dan yang buruk atau yang benar dan yang salah. Dengan begitu, Allah dapat mengevaluasi yang terbaik amalnya di kalangan manusia, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [Al Mulk (67):1-2]. [Hermanto]

Jumat, 05 Juni 2009

36. BERSYUKUR DAN BERSABAR

> Dalam QS Ar Rahmaan (55) Allah SWT berfirman: "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?". Ayat tersebut diulang berkali-kali, yang menegaskan bahwa banyak orang yang mendustakan nikmat-Nya. Allah SWT memperingatkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih [QS Ibrahim (14): 7].

Ahli terapi kejiwaan dari Dr. Aidh Al Qarni, dari bukunya 'La Tahzan' (Jangan Bersedih), mengutip firman Allah SWT: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” [QS Azd Dzaariyaat (51): 20-21]. Selanjutnya dia menuliskan:

Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa yang tersedia di sekeliling kita, dan janganlah termasuk golongan seperti disebutkan dalam Al Qur’an; “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” [QS An Nahl (16): 83].

Betapa hinanya diri kita ketika tertidur lelap, sanak saudara di sekitar kita masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya. Pernahkan kita merasa nista ketika dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar kita tidak bisa makan dan minum karena sakit atau kemiskinan?

Coba pikirkan betapa fungsi pendengaran, yang dengannya Allah SWT menjauhkan kita dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata kita yang tidak buta. Ingat dengan kulit kita yang terbebas dari penyakit lepra? Dan coba renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak kita yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan?

Apakah kita ingin menukarkan mata kita dengan emas sebesar gunung Uhud? Atau menjual pendengaran kita dengan dengan perak satu bukit? Apakah kita mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah yang bisu? Maukah kita menukar kedua tangan kita dengan untaian mutiara sementara tangan kita buntung. Begitulah sebenarnya, kita berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempurnaan tubuh, tetapi kita tidak menyadarinya. Kita tetap merasa resah, sedih dan gelisah, meskipun kita masih mempunyai nasi hangat untuk disantap dan air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.

Kita seringkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kita pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jika kita mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera, padahal sesungguhnya kita masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagiaan, karunia, kenikmatan dan lain sebagainya. Maka seharusnya kita pikirkan semua itu dan mensyukurinya.

> Di sisi lain Allah SWT berfirman: “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. [QS Al Baqarah (2): 45]. Jadi, hanya bagi orang-orang yang sabar dan khusyuk shalatnya, Allah akan memberikan pertolongan. Jika tidak, maka manusia akan dalam kerugian sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [QS Al ‘Ashr (103): 2-3].

Mengenai kesabaran, ada kisah yang dituturkan oleh masyarakat Jepang tentang perilaku seekor anjing yang setia mengantar majikannya berangkat bekerja dari rumah sampai di depan stasiun stasiun KRL di kawasan Shibuya, Tokyo. Kemudian anjing itu pulang ke rumah majikannya. Biasanya sore hari sampai larut malam, anjing itu datang lagi ke stasiun, menunggu majikannya pulang.

Namun pada suatu musim dingin, kecelakaan merenggut nyawa majikannya, sehingga ia tidak lagi pulang kembali naik KRL ke stasiun Shibuya. Tetapi, anjing itu tetap menjemputnya di stasiun seperti biasanya, terus menunggu, di tempat duduk seperti biasanya. Matanya selalu memandang tajam pada setiap rombongan penumpang yang keluar dari stasiun KRL itu, mencari majikannya. Salju musim dingin sudah menutup seluruh tubuhnya. Malam telah menjatuhkan tirai kegelapan.

Ia mematung berhari-hari. Tidak makan tidak minum. Sampai suatu pagi, giliran para penumpang KRL mematung di depan mayatnya yang sudah membeku. Mata mereka basah dengan air mata. Anjing itu bersabar, karena rasa terima kasih dan kesetiannya kepada majikannya. Para penumpang meneteskan air mata, bukan hanya karena kasihan saja, mereka juga bertanya; “apakah manusia mempunyai kesabaran seperti itu?”

Anak-anak kami menceritakan bahwa kisah tersebut adalah salah satu tema dari pelajaran budi pekerti yang mereka peroleh di sekolah Jepang, di mana kisah anjing tersebut termasuk di dalamnya. Untuk mengenang anjing yang sudah mati itu, didirikanlah monumen di depan stasiun Shibuya tersebut. Kini patung anjing bernama ‘Hachiko’ itu dikelilingi taman kecil, dan dijadikan tempat rendezvous bagi orang-orang yang mengadakan perjanjian untuk bertemu di sekitar kawasan Shibuya, Tokyo. Di sana banyak orang yang mematung sambil memperhatikan ke arah sekerumunan orang lain, mencari teman dengan siapa mereka telah berjanji.

Ada baiknya kami sampaikan informasi bahwa Jepang tidak menjadikan agama sebagai pedoman hidup bangsa, karena konstitusi menetapkan, agama adalah urusan pribadi masing-masing orang, tidak boleh diajarkan kepada orang lain / masyarakat melalui sarana publik termasuk sekolah-sekolah umum. Di sana tidak ada siaran teve umum yang menayangkan ceramah agama apapun, karena dianggap memberikan prioritas kepada penyebaran ajaran agama tertentu yang melanggar konstitusi. Sehingga dalam pendidikan budi pekerti, antara lain diceritakan kisah seperti anjing ‘Hachiko’ dan lainnya, yang mengandung pesan akhlak dan moral untuk diajarkan sekolah-sekolah.

> Selanjutnya di sini dikemukakan dua kisah yang kami kutip bebas dari tulisan Dr. Jalaluddin Rahmat tentang bersyukur dan bersabar. Pertama, pada zaman khalifah Al Mansyur, salah seorang menterinya bernama Al Ashma'i, melakukan perburuan. Karena keasyikan mengejar buruannya, ia terpisah dari kelompoknya. Ia tersesat di padang sahara. Ketika rasa haus mencekamnya, dalam kejauhan ia melihat sebuah kemah. Terasing dan sendirian. Ia memacu kudanya ke arah sana dan menemukan penghuni yang memukau; perempuan muda dan jelita. Ia meminta air. Perempuan Itu berkata, "Ada air sedikit, tetapi aku persiapkan hanya untuk suamiku. Ada sisa minumanku. Kalau engkau mau, ambillah." Tiba-tiba wajah perempuan itu tampak siaga. Ia memandang kepulan debu dari kejauhan. "Suamiku datang", katanya.

Wanita itu kemudian menyiapkan air minum dan kain pembersih. Lelaki yang datang itu lebih tepat disebut ‘bekas manusia’. Seorang tua yang jelek dan menakutkan. Mulutnya tidak henti-hentinya menghardik istrinya. Tidak satu pun perkataan keluar dari mulut perempuan itu. Ia membersihkan kaki suaminya, menyerahkan minuman dengan khidmat, dan menuntunnya dengan mesra masuk ke kemahnya.

Sebelum pergi, Al Ashma'i sempat bertanya kepada wanita itu; "Engkau muda, cantik, dan setia. Kombinasi yang jarang sekali terjadi. Mengapa engkau korbankan dirimu untuk melayani lelaki tua yang berakhlak buruk?" Jawaban perempuan itu mengejutkan, "Muhammad Rasulullah SAW bersabda, agama itu terdiri dari dua bagian, yaitu syukur dan sabar. Aku bersyukur karena Allah SWT telah menganugerahkan kepadaku kemudaan, kecantikan, dan perlindungan. Dia membimbingku untuk berakhlak baik. Aku telah melaksanakan setengah agamaku. Karena itu, aku ingin melengkapi agamaku dengan setengahnya lagi, yakni bersabar".

Kisah ini menunjukkan keputusan rohaniah ketika menetapkan pilihan. Ia memilih menyempurnakan agamanya dengan menambahkan sabar setelah syukur. Perasaan terima kasihnya kepada Allah SWT membuatnya tabah menanggung derita apa pun. Dari kisah ini kita dapat belajar bahwa kesabaran adalah buah dari perasaan syukur.

Kisah kedua. Sa'di, penyair Persia, dalam Gulistan menceritakan pengalamannya ketika ia selesai shalat di Masjid Umayyah, Damaskus, ia mendapatkan sepatunya hilang. Ia mencari ke sana ke mari dengan hati yang jengkel dan sedih. Sa'di menggerutu terus-menerus, sampai di sudut masjid ia menemukan seorang penceramah di hadapan jamaahnya. Khatib itu selalu tersenyum. Wajahnya cerah gembira. Ia tampak menikmati hidupnya. Sangat kontras dengan wajah Sa'di, yang bermuram durja. Ketika Sa'di memperhatikan khatib itu lebih cermat, ia terkejut. Khatib itu sudah kehilangan kedua kakinya. Sa’di berkata dalam hati; "Aku berduka karena kehilangan sepatuku, padahal ia tetap ceria walaupun sudah kehilangan kedua kakinya".

Jadi, bersyukur adalah belajar memperhatikan anugerah Allah SWT. Bersyukur adalah memperhatikan kaki kita daripada sepatu yang tiada, tangan kita daripada cincin yang terlepas, dan seluruh tubuh kita daripada kekayaan yang lenyap. Dengan bersyukur, kita akan dapat menerima ketentuan-Nya dan bersabar atas ujian-Nya, karena Allah memberikan banyak kenikmatan bagi manusia. Allah memerintahkan kita untuk selalu menghitung nikmat-Nya.

Dengan bersyukur, kita akan memaafkan orang lain yang menyakiti hati kita; karena kita tahu, banyak kenyamanan dalam hidup ini kita nikmati berkat jasa orang lain. Boleh jadi ada keluarga kita, tetangga kita, kawan-kawan kita yang berbuat buruk kepada kita dengan satu perbuatan. Jangan lupa, ada banyak perbuatan mereka yang lain, yang menyenangkan kita.

> Marilah kita muhasabah seperti yang dinasihatkan Dr. Aidh Al Qarni di atas, belajar dari perempuan penghuni sahara, yakni melengkapi syukur kita dengan kesabaran, dan merenungkan seekor anjing yang setia dan sabar menunggu majikannya kembali.

Walhasil, bersyukur akan menyebabkan kita sabar dalam mentaati Tuhan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam memaafkan orang lain. Itulah sebabnya, setelah Allah menjelaskan hukum-hukum puasa, Allah mengakhirinya dengan: “Dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangan puasa kalian, mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya pada kalian, supaya kalian bersyukur." [QS Al Baqarah (92): 185]. Rasa syukur yang mendalam bukan saja membuahkan kesabaran untuk menaati Allah, tetapi juga kesabaran untuk menerima pemberian-Nya. Tentang pentingnya bersyukur, Allah SWT mengingatkan: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. [QS Al Baqarah (2): 152]. Dan Allah akan menyertai orang-orang bersabar, sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS Al Baqarah (2): 153]. [Hermanto]