Islam menekankan pentingnya pemimpin, dan masyarakat Islam perlu mempunyai pemimpin, sebab untuk membangun kesejahteraan bersama, akan lebih efisien jika dilakukan di bawah koordinasi pemimpin. Pemimpin yang baik mendapatkan penghargaan dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Sebaliknya pemimpin yang zhalim mendapat laknat dan kutukan dari Allah. Maka hendaknya kita memilih pemimpin yang memiliki kepemimpinan kuat dan amanah, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat sebagai ulil amri dan khadimul ummah.
Ulil amri atau umara adalah orang yang mendapatkan amanah dan kepercayaan untuk menangani segala urusan masyarakat. Ia bertanggungjawab penuh terhadap segala persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Pemimpin yang memahami makna ulil amri akan memiliki kesadaran bahwa amanah jabatan dan kekuasaan yang dimilikinya harus digunakan sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga ia akan berusaha untuk melindungi kepentingan masyarakat, terutama kaum yang lemah. Karena itulah, ketika diangkat menjadi khalifah, Abubakar menyatakan dengan tegas; “Aku adalah pemimpin yang berkeinginan agar orang kuat menjadi lemah di hadapanku, dan sebaliknya yang lemah menjadi kuat di hadapanku”.
Terhadap pemimpin yang demikianlah Allah SWT menegaskan pentingnya untuk memiliki ketaatan dan loyalitas sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“. [QS An Nisaa’ (4): 59].
Khadimul ummah atau pelayan masyarakat, adalah pemimpin yang berorientasi pada pelayanan masyarakat yang akan senantiasa berusaha untuk melakukan berbagai langkah dan upaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Rasulullah SAW bersabda: “Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka.” [HR Abu Na'im]. Kepedulian terhadap kondisi masyarakat harus tercermin pada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Maka jelaslah bahwa tidak ada loyalitas dan ketaatan terhadap pemimpin yang mengkhianati amanah yang telah diberikan Allah kepadanya, apalagi pemimpin yang hanya ingin mencari kekuasaan.
Berbangsa dan bernegara itu bukan menjadikan negara ini sebagai negara kekuasaan, melainkan negara pengurus, yakni negara yang mengurus rakyatnya dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian kita menolak penguasaan negara, baik individu maupun kelompok tertentu, melainkan harus mementingkan kepentingan rakyat secara keseluruhan. Jadi khadimul ummah ini menekankan pentingya pelayanan kepada masyarakat.
Menjelang Pilpres 2009, masing-masing calon pemimpin dan parpol yang mendukungnya, saling menggalang dukungan rakyat untuk memenangkan kompetisi tersebut. Berkompetisi itu wajar asalkan dalam konteks fastabiqul khairat (berlomba dalam berbuat kebajikan), Hal ini tidak ada hubungannya dengan slogan ‘lebih cepat lebih baik’, yang sering disebut di masa kampanye saat ini.
Di ‘era muhasabah’ dalam tampilan Al Mustaqiim ini, ada baiknya kita perhatikan sejumlah pesan dari Rasulullah SAW dalam memilih pemimpin, dan peringatan bagi para kandidat yang berkompetisi, karena Rasulullah SAW adalah pemimpin terbesar dalam sejarah manusia di muka bumi ini. Kebesaran tersebut bukan hanya kebanggaan sepihak bagi ummat Islam, melainkan telah diakui dunia Barat sebagai pemimpin nomor wahid. Berikut ini adalah pesan-pesan Rasulullah SAW tersebut:
1. Rasulullah SAW tidak berkenan terhadap calon pemimpin yang berambisi pada kedudukan / kekuasaan. Hal ini disebutkan dalam sabdanya: “Kami tidak mengangkat orang yang berambisi mendapatkan kedudukan.” [HR Muslim]. Mengapa? Jawabannya ada pada Hadis berikut: “Rasulullah SAW bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah, ‘Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu, maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya’." [HR Bukhari dan Muslim].
Setiap orang mempunyai ambisi, namun yang dimaksud dalam hadis di atas adalah ambisi yang berlebihan untuk menggapai kedudukan / kekuasaan. Seperti disebutkan dalam tulisan 30 (15/06/09), kekuasaan adalah sesuatu yang secara alamiah digandrungi manusia, karena dengan kekuasaan seseorang mudah memperoleh harta, popularitas dan menimbulkan loyalitas yang tinggi dari pendukungnya.
Dengan kekuasaan, manusia bisa menumpuk kekayaan. Tidak demikian sebaliknya. Diakui bahwa untuk mencapai kekuasaan, manusia butuh harta, tetapi tidak setiap orang yang telah menggunakan banyak harta, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan. Setiap orang boleh mendapatkan kekuasaan, bukan sesuatu yang dilarang oleh agama, asalkan dengan cara yang baik dan digunakan untuk kebaikan pula.
Kita harus bisa membedakan antara calon pemimpin yang dengan ambisi besarnya ngotot ingin mendapatkan kekuasaan, dengan calon pemimpin yang lebih berorientasi pada kesadaran akan pentingnya melaksanakan amanah yang harus diembannya sebagai ulil amri dan khadimul ummah. Memilih pemimpin janganlah hanya karena pengaruh iklan atau pengaruh kampanye, apalagi kampanye hitam. Sungguh tepat himbauan agar pemilih cerdas memilih pemimpin berkualitas.
2. Janganlah memilih dan mengikuti pemimpin yang berdusta dan zhalim, sebagai mana pesan Rasulullah SAW: “Kepada Ka'ab bin Ujrah, Rasulullah berpesan, 'Semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang yang jahat'. Ka'ab bertanya, apa makdudnya? Nabi SAW bersabda, 'Yaitu para pemimpin yang ada sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak bersunah dengan sunahku. Maka barangsiapa yang membenarkan atas dustanya dan membantu kezhalimannya, mereka itu bukanlah ummatku dan aku pun tidak termasuk bersama mereka, mereka tidak akan mendatangi telagaku’.'' [HR Ahmad].
Kita tentu tidak bisa mengetahui apakah kandidat yang akan kita pilih menjadi pemimpin itu orang yang akan berdusta dan berbuat zhalim atau tidak. Sehingga kalimat “...barangsiapa yang membenarkan atas dustanya dan membantu kezhalimannya” yang tercantum dalam hadis itu menunjuk pada track record seseorang calon pemimpin di masa lalu. Waspadalah!
3. Seyogyanya tidak memilih wanita sebagai pemimpin, kecuali kalau memang tidak ada laki-laki yang lebih baik dan sanggup melakukannya. Hal ini berdasarkan peringatan Rasulullah SAW: “Tidak akan sukses suatu kaum yang mengangkat seorang wanita sebagai pemimpin.” [HR Bukhari]. Jika Rasulullah SAW sudah memperingatkan sesuatu hal, hendaknya kita perhatikan dengan seksama. Tidak perlu kita mencoba berseberangan dengan apa yang dinasihatkan Rasulullah SAW, karena beliau adalah pemimpin yang selalu mendapatkan bimbingan dari Allah SWT.
Namun tidak ada keberatan apapun memilih wanita untuk memimpin suatu jabatan di bidang tertentu, di mana ada wanita yang lebih unggul keakhliannya daripada laki-laki. Allah SWT berfirman: “Katakan (Muhammad): ‘Masing-masing dari kita bekerja menurut jalan (bidangnya) yang dipilih, Tuhanmu Maha Tahu siapa di antara kita yang menempuh jalan paling benar [QS Al Israa’ (17): 84]. Dalam urusan keakhlian, di sini tidak dibedakan antara laki-laki atau wanita. Ini berbeda dengan amanah yang harus dijalankan oleh seorang ulil amri dan khadimul ummah, di mana tugas yang menjadi tanggungjawabnya sangat berat.
4. Seorang pemimpin harus mendapatkan kepemimpinan itu dengan cara yang baik untuk menerima amanah, bukan dengan cara yang curang, melanggar aturan dan etika dalam kampanye, bukan dengan politik uang, dan sebagainya. Rasulullah SAW bersabda: “Kepada sahabat Abu Dzarrin, Rasulullah SAW menyampaikan pesan; ‘Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah suatu amanah dan di hari kiamat akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan kecuali mereka yang mengambilnya dengan cara yang baik serta dapat memenuhi kewajibannya sebagai pemimpin dengan baik’.'' [HR Muslim].
5. Peringatan bagi pemimpin yang menyalah gunakan kepemimpinannya: “Bagi pemimpin yang menyalah gunakan jabatannya dengan berbuat yang zhalim, maka jabatan (kedudukan) nya pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat.” [HR Ath Thabrani]. Hadis ini merupakan penegasan dari nasihat Rasulullah SAW pada butir 2 di atas tentang pemimpin yang zhalim.
6. Waspadalah pemimpin penipu dan hartawan yang tidak membayarkan zakat, sebagaimana dikatakan Abu Hurairah RA: ‘'Telah bersabda Rasulullah SAW, 'Disodorkan padaku tiga golongan yang paling pertama masuk surga. Dan tiga golongan juga yang paling pertama masuk neraka. Adapun yang paling pertama masuk surga ialah orang yang mati syahid, hamba sahaya yang baik ibadahnya kepada Allah dan selalu menasihati majikannya (tuannya) dan mereka yang menjauhkan diri dari barang yang haram. Adapun tiga golongan yang paling pertama masuk neraka ialah pemimpin yang menipu, hartawan yang tidak pernah memberikan kewajiban (zakat), dan orang yang fakir yang sombong'.'' [HR Damiri dan Ahmad]. Hadis ini juga merupakan penegasan dari nasihat Rasulullah SAW pada butir 2 di atas tentang pemimpin penipu.
7. Pemimpin harus menyadari bahwa mengurus ummat, bukan hanya main perintah, bukan hanya bisa berpidato, tetapi juga harus berbuat kebajikan bagi ummat. Hal ini diperingatkan dengan tegas dalam sabda Rasulullah SAW: “Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.” [HR Ath Thabrani]. Jika sudah begini, benar-benar pemimpin munafik, dan di akhirat nanti ia akan ditempatkan di kerak-kerak neraka. Ingat [QS An Nisaa' (4): 145].
8. Rasulullah SAW: “Khianat paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya.” [HR Ath Thabrani]. Upaya memberikan lapangan pekerjaan bagi ‘rakyat kecil’ ke luar negeri sebagai pembantu ramah tangga (PRT) bisa dipahami, namun masih perlu dikaji ulang apabila hal ini dikaitkan dengan target peningkatan devisa yang dilakukan pemerintah selama ini (siapapun presidennya), apakah hal ini termasuk memperdagangkan rakyat atau bukan. PRT yang kurang memiliki intelegensia, mudah dilecehkan majikan, yang ujungnya adalah penyiksaan oleh majikannya itu atau keputus asaan bagi pekerja itu sendiri.
9. Pemimpin harus bisa melindungi kaum yang lemah, mendahulukan memenuhi kebutuhan mereka yang membutuhkan bantuan. Dalam kaitan ini Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat.” [HR Ahmad]. Bagi kaum yang lemah (baik fisik maupun entelegensia) lebih baik diberikan bantuan langsung, baik tunai maupun barang keperluan lainnya. Dana untuk itu bisa diusahakan bersama dengan menggalang wakaf tunai seperti dijelaskan dalam tulisan 21 (22/03/09). Pemberian modal usaha tanpa bimbingan usaha yang benar, hanya akan memperbanyak pedagang kaki lima dan pedagang asongan.
Jika misalnya 20% saja dari 180 juta dari ummat Islam Indonesia mau berzakat sedikitnya Rp. 100 ribu setiap bulan, maka jumlah yang terkumpul Rp. 3,6 trilyun, atau Rp. 43 trilyun per tahun. Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa bangsa Indonesia selain bisa mengatasi kemiskinan, juga bisa membayar utang kepada negara-negara kaya, dan bahkan mandiri di masa depan, jika mampu menggali potensi wakaf tunai tersebut.
Demikian Al Mustaqiim menyambut Pilpres 2009, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Tidak ada motivasi politik dari tulisan ini, melainkan menegakkan yang ma’ruf dan meninggalkan yang munkar, karena semua bahasan berdasarkan Al Qur’an dan Hadis. [Hermanto]
Ulil amri atau umara adalah orang yang mendapatkan amanah dan kepercayaan untuk menangani segala urusan masyarakat. Ia bertanggungjawab penuh terhadap segala persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Pemimpin yang memahami makna ulil amri akan memiliki kesadaran bahwa amanah jabatan dan kekuasaan yang dimilikinya harus digunakan sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga ia akan berusaha untuk melindungi kepentingan masyarakat, terutama kaum yang lemah. Karena itulah, ketika diangkat menjadi khalifah, Abubakar menyatakan dengan tegas; “Aku adalah pemimpin yang berkeinginan agar orang kuat menjadi lemah di hadapanku, dan sebaliknya yang lemah menjadi kuat di hadapanku”.
Terhadap pemimpin yang demikianlah Allah SWT menegaskan pentingnya untuk memiliki ketaatan dan loyalitas sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“. [QS An Nisaa’ (4): 59].
Khadimul ummah atau pelayan masyarakat, adalah pemimpin yang berorientasi pada pelayanan masyarakat yang akan senantiasa berusaha untuk melakukan berbagai langkah dan upaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Rasulullah SAW bersabda: “Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka.” [HR Abu Na'im]. Kepedulian terhadap kondisi masyarakat harus tercermin pada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Maka jelaslah bahwa tidak ada loyalitas dan ketaatan terhadap pemimpin yang mengkhianati amanah yang telah diberikan Allah kepadanya, apalagi pemimpin yang hanya ingin mencari kekuasaan.
Berbangsa dan bernegara itu bukan menjadikan negara ini sebagai negara kekuasaan, melainkan negara pengurus, yakni negara yang mengurus rakyatnya dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian kita menolak penguasaan negara, baik individu maupun kelompok tertentu, melainkan harus mementingkan kepentingan rakyat secara keseluruhan. Jadi khadimul ummah ini menekankan pentingya pelayanan kepada masyarakat.
Menjelang Pilpres 2009, masing-masing calon pemimpin dan parpol yang mendukungnya, saling menggalang dukungan rakyat untuk memenangkan kompetisi tersebut. Berkompetisi itu wajar asalkan dalam konteks fastabiqul khairat (berlomba dalam berbuat kebajikan), Hal ini tidak ada hubungannya dengan slogan ‘lebih cepat lebih baik’, yang sering disebut di masa kampanye saat ini.
Di ‘era muhasabah’ dalam tampilan Al Mustaqiim ini, ada baiknya kita perhatikan sejumlah pesan dari Rasulullah SAW dalam memilih pemimpin, dan peringatan bagi para kandidat yang berkompetisi, karena Rasulullah SAW adalah pemimpin terbesar dalam sejarah manusia di muka bumi ini. Kebesaran tersebut bukan hanya kebanggaan sepihak bagi ummat Islam, melainkan telah diakui dunia Barat sebagai pemimpin nomor wahid. Berikut ini adalah pesan-pesan Rasulullah SAW tersebut:
1. Rasulullah SAW tidak berkenan terhadap calon pemimpin yang berambisi pada kedudukan / kekuasaan. Hal ini disebutkan dalam sabdanya: “Kami tidak mengangkat orang yang berambisi mendapatkan kedudukan.” [HR Muslim]. Mengapa? Jawabannya ada pada Hadis berikut: “Rasulullah SAW bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah, ‘Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu, maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya’." [HR Bukhari dan Muslim].
Setiap orang mempunyai ambisi, namun yang dimaksud dalam hadis di atas adalah ambisi yang berlebihan untuk menggapai kedudukan / kekuasaan. Seperti disebutkan dalam tulisan 30 (15/06/09), kekuasaan adalah sesuatu yang secara alamiah digandrungi manusia, karena dengan kekuasaan seseorang mudah memperoleh harta, popularitas dan menimbulkan loyalitas yang tinggi dari pendukungnya.
Dengan kekuasaan, manusia bisa menumpuk kekayaan. Tidak demikian sebaliknya. Diakui bahwa untuk mencapai kekuasaan, manusia butuh harta, tetapi tidak setiap orang yang telah menggunakan banyak harta, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan. Setiap orang boleh mendapatkan kekuasaan, bukan sesuatu yang dilarang oleh agama, asalkan dengan cara yang baik dan digunakan untuk kebaikan pula.
Kita harus bisa membedakan antara calon pemimpin yang dengan ambisi besarnya ngotot ingin mendapatkan kekuasaan, dengan calon pemimpin yang lebih berorientasi pada kesadaran akan pentingnya melaksanakan amanah yang harus diembannya sebagai ulil amri dan khadimul ummah. Memilih pemimpin janganlah hanya karena pengaruh iklan atau pengaruh kampanye, apalagi kampanye hitam. Sungguh tepat himbauan agar pemilih cerdas memilih pemimpin berkualitas.
2. Janganlah memilih dan mengikuti pemimpin yang berdusta dan zhalim, sebagai mana pesan Rasulullah SAW: “Kepada Ka'ab bin Ujrah, Rasulullah berpesan, 'Semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang yang jahat'. Ka'ab bertanya, apa makdudnya? Nabi SAW bersabda, 'Yaitu para pemimpin yang ada sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak bersunah dengan sunahku. Maka barangsiapa yang membenarkan atas dustanya dan membantu kezhalimannya, mereka itu bukanlah ummatku dan aku pun tidak termasuk bersama mereka, mereka tidak akan mendatangi telagaku’.'' [HR Ahmad].
Kita tentu tidak bisa mengetahui apakah kandidat yang akan kita pilih menjadi pemimpin itu orang yang akan berdusta dan berbuat zhalim atau tidak. Sehingga kalimat “...barangsiapa yang membenarkan atas dustanya dan membantu kezhalimannya” yang tercantum dalam hadis itu menunjuk pada track record seseorang calon pemimpin di masa lalu. Waspadalah!
3. Seyogyanya tidak memilih wanita sebagai pemimpin, kecuali kalau memang tidak ada laki-laki yang lebih baik dan sanggup melakukannya. Hal ini berdasarkan peringatan Rasulullah SAW: “Tidak akan sukses suatu kaum yang mengangkat seorang wanita sebagai pemimpin.” [HR Bukhari]. Jika Rasulullah SAW sudah memperingatkan sesuatu hal, hendaknya kita perhatikan dengan seksama. Tidak perlu kita mencoba berseberangan dengan apa yang dinasihatkan Rasulullah SAW, karena beliau adalah pemimpin yang selalu mendapatkan bimbingan dari Allah SWT.
Namun tidak ada keberatan apapun memilih wanita untuk memimpin suatu jabatan di bidang tertentu, di mana ada wanita yang lebih unggul keakhliannya daripada laki-laki. Allah SWT berfirman: “Katakan (Muhammad): ‘Masing-masing dari kita bekerja menurut jalan (bidangnya) yang dipilih, Tuhanmu Maha Tahu siapa di antara kita yang menempuh jalan paling benar [QS Al Israa’ (17): 84]. Dalam urusan keakhlian, di sini tidak dibedakan antara laki-laki atau wanita. Ini berbeda dengan amanah yang harus dijalankan oleh seorang ulil amri dan khadimul ummah, di mana tugas yang menjadi tanggungjawabnya sangat berat.
4. Seorang pemimpin harus mendapatkan kepemimpinan itu dengan cara yang baik untuk menerima amanah, bukan dengan cara yang curang, melanggar aturan dan etika dalam kampanye, bukan dengan politik uang, dan sebagainya. Rasulullah SAW bersabda: “Kepada sahabat Abu Dzarrin, Rasulullah SAW menyampaikan pesan; ‘Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah suatu amanah dan di hari kiamat akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan kecuali mereka yang mengambilnya dengan cara yang baik serta dapat memenuhi kewajibannya sebagai pemimpin dengan baik’.'' [HR Muslim].
5. Peringatan bagi pemimpin yang menyalah gunakan kepemimpinannya: “Bagi pemimpin yang menyalah gunakan jabatannya dengan berbuat yang zhalim, maka jabatan (kedudukan) nya pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat.” [HR Ath Thabrani]. Hadis ini merupakan penegasan dari nasihat Rasulullah SAW pada butir 2 di atas tentang pemimpin yang zhalim.
6. Waspadalah pemimpin penipu dan hartawan yang tidak membayarkan zakat, sebagaimana dikatakan Abu Hurairah RA: ‘'Telah bersabda Rasulullah SAW, 'Disodorkan padaku tiga golongan yang paling pertama masuk surga. Dan tiga golongan juga yang paling pertama masuk neraka. Adapun yang paling pertama masuk surga ialah orang yang mati syahid, hamba sahaya yang baik ibadahnya kepada Allah dan selalu menasihati majikannya (tuannya) dan mereka yang menjauhkan diri dari barang yang haram. Adapun tiga golongan yang paling pertama masuk neraka ialah pemimpin yang menipu, hartawan yang tidak pernah memberikan kewajiban (zakat), dan orang yang fakir yang sombong'.'' [HR Damiri dan Ahmad]. Hadis ini juga merupakan penegasan dari nasihat Rasulullah SAW pada butir 2 di atas tentang pemimpin penipu.
7. Pemimpin harus menyadari bahwa mengurus ummat, bukan hanya main perintah, bukan hanya bisa berpidato, tetapi juga harus berbuat kebajikan bagi ummat. Hal ini diperingatkan dengan tegas dalam sabda Rasulullah SAW: “Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.” [HR Ath Thabrani]. Jika sudah begini, benar-benar pemimpin munafik, dan di akhirat nanti ia akan ditempatkan di kerak-kerak neraka. Ingat [QS An Nisaa' (4): 145].
8. Rasulullah SAW: “Khianat paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya.” [HR Ath Thabrani]. Upaya memberikan lapangan pekerjaan bagi ‘rakyat kecil’ ke luar negeri sebagai pembantu ramah tangga (PRT) bisa dipahami, namun masih perlu dikaji ulang apabila hal ini dikaitkan dengan target peningkatan devisa yang dilakukan pemerintah selama ini (siapapun presidennya), apakah hal ini termasuk memperdagangkan rakyat atau bukan. PRT yang kurang memiliki intelegensia, mudah dilecehkan majikan, yang ujungnya adalah penyiksaan oleh majikannya itu atau keputus asaan bagi pekerja itu sendiri.
9. Pemimpin harus bisa melindungi kaum yang lemah, mendahulukan memenuhi kebutuhan mereka yang membutuhkan bantuan. Dalam kaitan ini Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat.” [HR Ahmad]. Bagi kaum yang lemah (baik fisik maupun entelegensia) lebih baik diberikan bantuan langsung, baik tunai maupun barang keperluan lainnya. Dana untuk itu bisa diusahakan bersama dengan menggalang wakaf tunai seperti dijelaskan dalam tulisan 21 (22/03/09). Pemberian modal usaha tanpa bimbingan usaha yang benar, hanya akan memperbanyak pedagang kaki lima dan pedagang asongan.
Jika misalnya 20% saja dari 180 juta dari ummat Islam Indonesia mau berzakat sedikitnya Rp. 100 ribu setiap bulan, maka jumlah yang terkumpul Rp. 3,6 trilyun, atau Rp. 43 trilyun per tahun. Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa bangsa Indonesia selain bisa mengatasi kemiskinan, juga bisa membayar utang kepada negara-negara kaya, dan bahkan mandiri di masa depan, jika mampu menggali potensi wakaf tunai tersebut.
Demikian Al Mustaqiim menyambut Pilpres 2009, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Tidak ada motivasi politik dari tulisan ini, melainkan menegakkan yang ma’ruf dan meninggalkan yang munkar, karena semua bahasan berdasarkan Al Qur’an dan Hadis. [Hermanto]