Minggu, 25 September 2011

MENGHAYATI KEMAHAESAAN ALLAH MELALUI ‘AYAT KURSI’

Ajaran dasar dan fondasiagama Islam adalah keyakinan Tauhidullah, tidak ada Tuhan yang mencipta,membina dan menguasai segala alam dan karena itu tidak ada yang disembah dandipatuhi segala aturan-Nya secara mutlak kecuali Allah. Itulah yang disampaikanoleh semua Rasul Allah, sejak Nabi Adam As, Nuh As, Ibrahim As, Musa As, DawudAs, ‘Isa As sampai dengan Muhammad Saw. Maka pemahaman Tauhidullah itu kitajumpai dalam banyak sekali ayat Al-Qur’an; ada yang dinyatakan secaraekspilisit dan ada yang implisit.
Keterangantentang ke-Mahaesaan Allah itu sering kali dikemukakan sebagai pernyataan Allahsendiri, tetapi kadang-kadang dinyatakan sebagai ajaran Rasul-rasul-nya.Menarik untuk kita cermati bahwa dalam surah 7 QS Al-‘Araaf dikemukakanpernyataan empat orang utusan Allah tentang tauhid, yang dikemas menggunakankalimat yang sama: “Wahai kaumku sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimuselain Dia”. (QS Al-‘Araaf 7: 59,65,73,85). Empat Rasul tersebut yaitu NuhAs, Hud As, Shalih As, dan Syu’aib As merupakan representasi dari semua utusanAllah. Dengan cara ini Al-Qur’an menegaskan bahwa inti ajaran semua Rasul samayaitu Tauhidullah. Bila ada anggapan yang tidak demikian, anggapan tersebutpasti keliru.
Salahsatu ayat yang menyampaikan Tauhidullah secara ekplisit dan sangat lugasadalah ayat 255 QS Al-Baqarah 2, yaitu yang dikenal sebagai Ayat Kursi. Ayat ini menyatakan sebagai berikut:
اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّهُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِيالسَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّبِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍمِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَوَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ.
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhakdisembah) melainkanDia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidakmengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiadayang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahuiapa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidakmengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. KursiAllah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memeliharakeduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Ayat di atasdikenal luas sebagai ‘ayat kursi’, karena di dalamnya terdapat perkataan kursiyyang berarti kedudukan atau kekuasaan. Secara keseluruhan ayat ini memaparkanke-Agungan Allah Swt, Pemilik kekuasaan mutlak atas segala sesuatu. Ayat Kursidibuka dengan kalimat, “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia.” Inimerupakan pernyataan keyakinan tauhid yang sangat tegas. Kalimat, “Tidakada Tuhan selain Allah,” berarti hanya Allah sendiri yang mencipta,mengatur dan menguasai alam semesta. Dia, tanpa bantuan siapapun, menciptamatahari, salah satu dari miliaran bintang di alam raya ini. Matahari relatifkecil dibanding bintang-bintang lainnya, tetapi karena letaknya dekat, hanya149 juta kilometer dari bumi, dia nampak jauh lebih besar. Allah menjadikanmatahari kita dari waktu ke waktu secara terus menerus memancarkan energi yangsangat besar: 389 juta miliar miliar watt setiap detik. Allah mencipta bumi danmemperjalankan bumi kita mengelilingi matahari dengan kecepatan tetap yangfantastis: 107 ribu kilometer setiap jam. Allah mencipta air, udara, batu,tanah, logam, mineral, dan menentukan bagi setiap unsur itu sifat-sifat yangkhas. Allah mencipta aneka ragam flora dan aneka jenis fauna, yangmasing-masing bermanfaat bagi manusia. Allah mencipta daging, tulang, darah,paru-laru, jantung, hati, mata, otak, yang berinteraksi satu sama lain sehinggaorang dapat benafas, makan dan minum, bergerak, berpikir, dan beraktivtas yangberaneka rupa. Maka Allah yang mengadakan dan mengatur segala sesuatu itulahsatu-satunya yang pantas dan wajib disembah oleh setiap orang.
Kemudiandinyatakan bahwa Allah yang Maha Esa itu “Al-hayyu dan Al-qayyum- hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia hidup terus menerussejak kapanpun sampai kapanpun juga, dan Dia tidak pernah berhenti mengurusmakhluk-Nya sejak makhluk itu ada sampai tidak ada lagi. Allah mengurus cicaksehingga dapat memakan nyamuk yang dapat terbang padahal cicak itu hanya bisamelata di dinding. Allah memberi asupan zat kepada pepohonan meski tanamantidak dapat bergerak. Dia mengembangbiakkan setiap species tetumbuhan dan hewan,ada yang secara vegetatif dan ada yang generatif. Dia menggerakkan paru-parumanusia dengan gerakan mengembang mengempis untuk memasukkan udara bersh danmengeluarkan udara kotor. Dia menggerakkan dan menjaga gerakan denyut jantung,aliran darah, remasan usus, kornea mata, dan segala sesuatu yang merupakanbagian tubuh manusia. 
Selanjutnya ayattadi menandaskan bahwa Allah Swt itu tidak mengantuk dan tidak tidur. Dia tidakmengantuk, berarti selalu siaga, cermat, saksama, di dalam mengurus makhluk-Nya.Seandainya Allah sampai lengah sekajap saja ketika memutar bumi pada porosnya,maka sekejap pula bumi berhenti bergerak. Saat berhenti yang sekejap itu pastimenimbulkan keguncangan yang luar biasa sehingga semua yang berada di permukaanmaupun di dalam bumi akan hancur berantakan. Tetapi Allah tidak mengantuk, apalagi tertidur. Dia tidak memerlukan istirahat dan tidak pula inginberistirahat. Dia, atas kehendak-Nya sendiri yang bebas, tidak karena dorongansiapapun dan tidak untuk meraih hasil apapun bagi Diri-Nya, selalu bekerjamengatur segala sesuatu.
Ayat Kursi yangsedang kita bahas ini kemudian menyatakan: “Kepunyaan Allah segala sesuatuyang di langit dan segala yang di bumi.” Miliran bintang yang berhimpun didalam gugusan Bima Sakti adalah milik Allah, dan miliaran bintang lain yang adadi luar Bima Sakti juga milik Allah. Seluruh gunung, bukit, danau, sungai,laut, yang ada di muka bumi, dan setiap batang pohon serta setiap jenis hewanadalah milik Allah. Begitu pula setiap manusia yang hidup di dunia, sejak yangpertama yaitu Adam As. sampai dengan manusia terakhir yang masih ada ketikaKiamat tiba, adalah kepunyaan Allah Swt. Maka menjadi hak Allah untukmenentukan segala sesuatu, termasuk memberi perintah, larangan, dan ketetapanhukum kepada manusia, sebagaimana Dia menentukan hukum-hukum-Nya bagi air,udara, batu, tanah, flora dan fauna.
Maka menjadi hakAllah pula untuk memberikan pahala kepada orang-orang yang patuh danmenjatuhkan siksa kepada mereka yang membangkang. Manusia hanya tahu, bila diaberpikir jernih, bahwa karena Allah itu Maha Pengasih dan Pemurah, segalaketetapan-Nya selalu baik bagi ciptaan-ciptaan-Nya termasuk manusia. HukumAllah tentang perputaran bumi pada porosnya, tentang grafitasi, tentangpenguapan dan pembekuan air, tentang pergerakan udara mengisi ruang-ruangkosong, tentang cara pembiakan tanaman dan hewan, masing-masing dan secarakeseluruhan telah menjadikan kehidupan dunia ini harmonis. Maka demikian pulaketetapan Allah untuk manusia, pasti baik untuk kehidupannya di dunia danakhirat. Orang yang menyadari hal itu akan patuh kepada Allah dengan suka reladan gembira. Dia akan menunaikan ibadah mahdhoh maupun mu’amalah,ritual maupun sosual, bukan karena terpaksa tetapi karena sadar akan kewajibandirinya sebagai makhluk kepada Al-Khalik. 
Ayat tadi kemudianmenyatakan: Tidak ada yang dapat memberi syafaat di Sisi Allah kecualiatas ijin-Nya. Maksudnya, kelak pada hari Kiamat ada siapapun yang dapatmemberi pertolongan kepada seseorang, kecuali Allah sudah terlebih dahulumemberi ijin kepadanya. Rasulullah Saw akan memberi syafaat - pertolongan,kepada ummat beliau, sehingga orang yang mendapat syafa’at tersebut akanmerasakan ketenteraman dan kenikmatan di tengah situasi yang sangat berat itu.Hal itu dimungkkinkan bukan karena kehebatan Rasul, tetapi semata-mata karenaijin Allah Swt. Tidak semua orang yang hidup sezaman atau sesudah Nabi MuhammadSaw memperoleh syafaat. Hanya orang-orang tertentu yang memenuhi syaratsajalah yang dapat merasakan kenikmatan berada di bawah naungan syafaatRasul.
Mengapa demikian?Ayat 255 QS Al-Baqarah 2 meneruskan keterangannya: “Allah mengetahui apayang di belakang mereka (manusia) dan yang di depan mereka, sedangkan merekatidak mengetahui mengenai ilmu Allah kecuali sebatas yang Dia kehendaki untukdiketahui manusia.” Manusia dengan akalnya telah mengetahui banyak sekalikejadian beserta prosedur dan proses yang mewujudkan kejadian itu. Tetapi toh jauhlebih banyak lagi yang ghaib bagi manusia. Termasuk yang tidak dapatdiketahui manusia dengan jalan apapun adalah hal-hal mengenai Kiamat, sejakdari kapan terjadinya sampai dengan apa yang akan terjadi secara rinci padahari itu. Maka orang hanya dapat berbuat kebaikan selama berada di bumi sambilmengharapkan syafa’at Rasul, tanpa mengetahui apakah dia akanmemperolehnya kelak atau tidak mendapatkannya. Hanya Allah yang mengetahui haltersebut.
Bagian akhir dariayat yang sedang kita bahas menyatakan: “Kursi atau Kekuasaan Allah meliputilangit dan bumi; Dia yang menentukan segala sesuatu di sudut-sudut manapun darialam raya ini.” Apakah seekor zebra di sebuah padang gersang di Afrika, yang sedang berlarikencang dikejar singa pemangsanya, berhasil menyelamatkan diri atau menjadisantapan singa tersebut, Allah Swt yang menentukannya. Apakah sekuntum bungayang mekar di Istana Bunga Bogor berposes menjadi buah, karena ada kumbang yanghinggap padanya serta menjatuhkan serbuk sari dan menyatu dengan putik, ataudia menjadi layu karena pembuahan tidak terjadi, Allah Swt saja yangmenetapkannya. Apakah satu dari dua ratus limapuluh juta spermatozoa yang berpancar dari rahim suami akan menyatu denganindung telur yang telap siap di rahim isteri tatkala mereka berdua melakukanhubungan, Allah dan hanya Dia sendiri yang menetapkannya.
Alangkah banyaknyayang dilakukan Allah terhadap ciptaan-cptaan-Nya di jagad luas tak berbatasini. Tetapi Toh Dia menyatakan: Allah tidak merasa berat untuk memikulkeduanya, langit dan bumi. Banyak dan beratnya urusan Allah adalah menurutukuran manusia, bukan menurut Allah. Manusia harus tahu benar bahwa  Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar. Tidak adayang menyamai atau mendekati ketinggian maupun kebesaran-Nya. Sifat-sifatdemikian hanya ada pada Allah Swt. Itulah keyakinan tauhid yang harus dimilikioleh setiap orang yang beriman kepada-Nya.  
Sakib Machmud
No. 125 

Kamis, 15 September 2011

KEMBALI MENGHADAPI UJIAN

Telah lebih dari setengah bulan kita tinggalkan bulan suci Ramadhan 1432 H, dengan masing-masing amalan ibadah yang sudah kita lakukan. Mungkin kita benar-benar menjadi orang-orang Muttaqin, karena selama Ranadhan kita melaksanakan ibadah dengan penuh ikhlas, kesungguhan dan kesabaran. Atau mungkin kita menghabiskan selama waktu Ramadhan hanya mendapatkan lapar dan dahaga, tanpa mendapatkan predikat Muttaqin, karena kita tidak memahmi esesnsi Ramadhan, sehingga selama Ramadhan menjadi sesuatu yang sia-sia dalam hidup kita.

Karenanya kita perlu muhasabah dengan menanyakan kepada diri kita sendiri tentang motivasi kita beribadah di bulan Ramadhan yang baru lalu dengan hikmah dari Imam Ali Bin Abi Thalib, tentang tiga Tipologi Ibadah.

Pertama, beribadah karena Pahala. Apakah kita beribadah puasa karena mengharap pahala, ganjaran, imbalan dan surga. Jika itu motivasi kita, maka itu adalah ibadah tipe pedagang, yaitu dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya. Misalnya orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah pada hari-hari biasa saja akan mendapatkan pahala berlipat ganda 700 kali dan terus bahkan tak terhingga (QS Al-Baqarah 2: 261-262), apalagi di bulan Ramadhan.

Kedua, beribadah karena Takut. Inilah ibadah tipe budak. Melakukan pekerjannya karena takut hukuman oleh majikannya. Orang yang masuk kategori ini, misalnya, mendirikan shalat, memberi makan orang miskin, karena takut kepada Allah Swt dan siksa neraka, sebagaimana firman Allah: "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam saqar (neraka)? Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin.” (QS Al- Muddatstsir 74: 42-44).

Ketiga, beribadah karena Syukur. Tipe ibadah yang ketiga ini adalah beribadah karena cinta kepada Allah Swt. Inilah cinta orang yang bersyukur. Dalam syukur itulah tumbuh rasa cinta yang dalam. Kita beribadah bukan karena hanya berharap surga atau takut neraka, tetapi lebih dari pada itu adalah karena cinta kepada Allah Swt.
Namun sesungguhnya ketiga Tipologi ibadah tersebut di atas adalah ibadah yang ikhlas, lilahi ta ‘ala, meskipun makna dan muatannya berbeda bagi setiap orang. Dan beribadah karena cinta mestinya menjadi puncak dari perjalanan spiritual kita menuju Allah Swt. Dan bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keikhlasan, bersungguh-sungguh dan sabar, maka akan segera mendapatkan maghfirah - ampunan, dan dijauhkan dari api neraka (iqun minannar), dan sampai digambarkan menjadi manusia dalam keadaan fitri - yang benar-benar bersih, seperti bayi yang baru lahir.
Kemudian, kita melaksanakan shalat Idul Fitri, seraya mengagungkan dan memuliakan Allah Swt, sebagai hari kemenangan, yaitu kemenangan terhadap syeitan dan hawa nafsu. Dan sekarang, di bulan Syawal kita memulai lagi kehidupan dan menghadapi rutinitas seperti biasanya dan berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari. Di kantor, di perusahaan, di pasar, di pabrik, dan di pusat-pusat kegiatan lainnya, itu semuanya akan mempengaruhi kehidupan kita. Kita akan menghadapi dan berinteraksi dengan seluruh jenis pekerjaan, kegiatan dan dengan segala jenis karakter manusia.
Inilah yang akan menentukan kehidupan kita selama sebelas bulan ke depan, apakah kita akan masih tetap dapat mempertahankan jati diri kita sebagai orang-orang yang mendapat kategori Muttaqin? Dengan tetap tekun beribadah, berdzikir, mengingat Allah, membaca, dan mengamalkan isi Al-Qur'an dengan terus-menerus di dalam kehidupan sehari-hari? Atau kita lupa beribadah, lupa berdzikir mengingat Allah dan tidak lagi menyentuh Al-Qur'an?
Apakah Ramadhan tidak ada lagi bekasnya? Apakah jejak Ramadhan yang pernah ada di dalam diri kita, sirna bersamaan datangnya bulan Syawal? Kita akan bergumul dengan kehidupan - yang mungkin saja - tanpa ruh Islam. Apakah kita akan kembali berbuat dosa, maksiat, berbuat durhaka, melakukan perbuatan faqisah - dosa besar, dan bahkan melalaikan Allah Rabbul Alamin, serta melakukan perbuatan syirik kepada-Nya?
Maka, semuanya nanti akan nampak dalam fenomena kehidupan, khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Ukurannya, bagaimana arus yang kuat dalam kehidupan mayoritas ummat atau masyarakat sehari-hari. Adakah arus yang kuat itu kecenderungan orang berbuat baik, yang menjadi ciri orang-orang Mukmin, yaitu selalu berbuat baik, dan meninggalkan keburukan dan kejahatan yang dilarang, serta melakukan nahyi munkar - melarang kemungkaran? Jika arus ini yang kuat di dalam kehidupan ummat dan masyarakat, berarti ibadah selama bulan Ramadhan itu, termasuk sukses mendidik dan mengubah karakter kehidupan kita, sehingga, mempunyai atsar - bekas - di dalam kehidupan sehari-hari, tidak punah tergerus oleh berbagai kehidupan jahiliyah.
Sebaliknya bila yang menjadi fenomena umum, yang dominan dan menjadi arus utama dalam kehidupan ummat dan masyarakat, adalah keburukan, perbuatan faqisah - dosa besar, serta banyak kedurhakaan kepada Allah Swt, berarti Ramadhan yang baru kita lalui, tidak mempunyai nilai apa-apa dalam kehidupan kita. Ibadah Ramadhan hanya menjadi sebuah rutinitas dan ritual, yang tidak mempunyai kaitan sama sekali dengan kehidupan sehari-hari.
Kemudian, fenomenanya semakin banyak orang yang tamak, tidak sabar, tidak mampu mengendalikan hawa nafsu, berlebihan dalam segala hal, menghalalkan yang diharamkan oleh Allah Swt, hilangnya rasa malu, berbuat sewenang-wenang dan tanpa batas. Inilah kegagalan yang nyata.
Setiap tahun dan setiap Ramadhan, seharusnya semakin banyak orang yang Muttaqiin, dan menjadi sebuah entitas yang baru. Dengan hidup lebih bersih, lebih shaleh, lebih sabar berpegang dengan syari'ah Allah, akan semakin sedikitnya jumlah orang yang durhaka, berbuat dosa dan maksiat serta melakukan faqisah, yang melahirkan ummat dengan, satu aqidah, satu tujuan, yaitu menjadikan Allah Swt sebagai satu-satunya tujuan hidup. Tidak ada yang lain.
Kita akan menghadapi ujian kembali dalam sebelas bulan ke depan. Mungkin kita tergolong yang selamat dengan iman dan amalan kita, serta tetap istiqamah di jalan Allah, dan mungkin kita termasuk orang yang gagal, dan mengikuti jalan syeitan dan melanggar semua larangan Allah Swt.
Kita sedang diuji dalam kehidupan kita, sehari-hari, dan ujian itulah yang akan menentukan nasib kita nanti. Apakah kita termasuk orang yang sukses atau orang yang gagal dalam mengelola kehidupan.
Sesungguhnya pada hari ini seyogyanya kita merenung sejenak betapa banyak setiap tahun kaum Muslimin mudik ke kampung halaman pada akhir bulan Ramadhan hingga awal bulan Syawal untuk bersilaturahmi Lebaran bersama keluarga dan kerabat di kampung halaman. Dan ini berulang sepanjang tahun selama berpuluh tahun. Kita rela bersusah-payah sepanjang tahun menabung, menghadapi kemacetan di perjalanan yang setiap tahun semakin parah dan rawan kecelakaan yang menimbulkan korban tewas dan luka-luka, berdesak-desakan di kendaraan umum, semuanya untuk kesenangan sesaat di hari Lebaran bersama keluarga dan kerabat di tempat mudik.
Kalau kita mau bekerja keras sepanjang tahun, mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk kesenangan sesaat yaitu mudik Lebaran, mengapa kita tidak mulai berpikir juga bekerja keras sepanjang tahun dan mengerahkan seluruh sumber daya untuk mudik kita ke kampung akhirat kita yang abadi kelak?
Kita tentu merindukan bersilaturahim dengan ibu-bapak kita di tempat mudik, anak-anak kitapun merindukan nenek-nenek dan kakek-kakek, yang bahkan sering kasih sayangnya terhadap cucu-cucunya melebihi apa yang bisa kita berikan. Bila mereka menyiapkan masakan dan kue-kue Lebaran, targetnya bukan untuk kita - anak-anaknya, tetapi untuk anak-anak kita - yang adalah cucu-cucu mereka.
Kitapun seyogyanya merenungkan sabda Rasulullah Saw: “Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu adalah menyambungkan apa yang terputus.” (HR Al-Bukhari). Kekuatan silaturahim - yang berarti mennyambungkan kasih sayang, bukan sekedar saling bersalaman dan saling memaafkan, tetapi yang lebih hakiki tentang silaturahim ini adalah kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia untuk memperbaiki akhlak, dengan memperbaiki mengubah karakter dasar manusia untuk menjadi lebih baik. Ini adalah prioritas utama dalam dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw.
Jika ibu-ayah kita telah tiadapun, kita bisa berkumpul kembali dengan mereka bila kita berusaha, karena Allah Swt menjanjikan pertemuan ini: “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS Ath-Thuur 52: 21).
Maka ketika Lebaran yang sesaat ini berakhir, marilah mulai bekerja keras kembali, bukan untuk kesenangan yang sesaat, melainkan mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk pulang kampung akhirat kita yang abadi. Allah Swt berfirman: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS Al-An’aam 6: 32).
Pada hari ini kita marilah bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan Al-Qur’an yang sarat taddabur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam berbagai hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar kita, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga kita, serta perbuatan baik kita terhadap sesama.
Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya. Hari ini adalah hari kita, kita ucapkan selamat tinggal masa lalu, tenggelamlah bersama mataharimu. Dan bukan esok hari, karena hari itu belum tentu datang. Masa depan masih dalam keghaiban. Kita tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan.
Umur kita mungkin tinggal hari ini. Hari ini seharusnya kita dengan niat ikhlas mempersiapkan kesenangan yang bersifat kekal abadi di kampung akhirat nanti. Hari ini milik kita, manfaatkanlah hari ini sebaik-baiknya untuk menjalani hidup yang benar, sehingga apabila ajal atau kiamat tiba kita sudah siap. Inilah yang disebut husnul khatimah.
Hermanto Hs
No. 124

Senin, 05 September 2011

KEMBALI KEPADA FITRAH


Baru saja kita merayakan Hari Raya Idul Fitri 1432 H setelah menyelesaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan, semoga amal ibadah puasa, shalat tarawih dan amal-amal kita lainnya diterima dan mendapat ridha Allah Swt dan diampuni segala dosa dan kesalahan kita. Setelah mengakhiri puasa Ramadhan, timbullah berbagai macam perasaan dalam diri kita dalam menyikapinya, mulai dari rasa bahagia telah menyelesaikan kewajiban ibadah puasa selama sebulan, namun sekaligus timbul rasa sedih, khawatir dan cemas meliputi perasaan kita, sehingga kita berada di antara tangis dan tertawa.
Kita merasa bahagia karena telah selesai melaksanakan amanah dan perjuangan berat melawan hawa nafsu. Kita dapat merasakan kembali santapan yang lezat di mana sebelumnya kita harus menahan diri, juga merasakan segarnya minuman pada siang hari di mana kita harus menahannya selama bulan puasa. Kita merasakan ke bahagiaan sebagaimana bahagianya pada waktu berbuka puasa.
Harapan kita, semoga amal ibadah Ramadhan yang baru diakhiri ini benar-benar mampu mengantarkan jiwa dan raga kita menjadi orang-orang Muttaqin. Bila harapan ini menjadi kenyataan, Insya Allah kita akan menuai keberuntungan yang Allah janjikan sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an: “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, pasti Allah akan berikan jalan keluar (dari kesempitan di dunia dan di akhirat). Dan pasti Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak diduga-duga. Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kemudahan urusannya (di dunia dan di akhirat). Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus berbagai kesalahan / kejelekannya dan Allah akan melipatgandakan pahalaNya”. (QS At-Thalaq 65: 2-5)
Namun di sisi lain kita juga merasa sedih, bahkan menangis karena cemas dan kawatir kalau ternyata Ramadhan telah berlalu tanpa nilai tambah dan mutu, karena dalam mengemban perintah Allah untuk melaksanakan ibadah puasa sasarannya agar kita menjadi orang yang bertakwa. Bahkan lebih ekstrim lagi kekhawatiran kita, apakah kita masih dapat bertemu bulan Ramadhan pada tahun depan. Demikianlah gambaran rasa senang dan sedih setiap kita meninggalkan bulan suci Ramadhan, meskipun setiap orang mempunyai kadar berbeda dalam menyikapinya.
Selesai Ramadhan, maka kita ber’Idul Fitri’ atau ‘kembali kepada fitrah’. Selama bulan puasa yang merupakan bulan ‘ujian kenaikan tingkat’ bagi setiap orang yang mengaku beriman, sekaligus sebagai bulan koreksi atas penyimpangan dari fitrah manusia, untuk selanjutnya kembali kepada fitrahnya dengan mengharapkan ridha Allah agar termasuk kedalam golongan orang-orang Muttaqin.
Fitrah Manusia Yang Paling Asasi Adalah ‘Tauhid’
Tauhid, yaitu pengakuan terhadap Allah sebagai Tuhan sebagaimana tertulis dalam ayat Al-Qur’an: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu melahirkan keturunanmu dan para anak Adam dari tulang rusuknya dan menyuruh mereka bersaksi terhadap dirinya sendiri, atas pertanyaan: ‘Bukankah Aku Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat nanti kamu tidak berkata: ‘Sesungguhnya kami tidak mengetahui hal itu (keesaan Tuhan)“ (QS Al-‘Araaf 7: 172). Makna dari ayat-ayat di atas adalah pengakuan kita bahwa tiada Tuhan selain Allah. Untuk itu kita siap untuk taat, patuh, tunduk dan menyerahkan diri hanya kepadaNya. Kita siap untuk melaksanakan seluruh perintahNya, menjauhi seluruh laranganNya, berhukum pada hukumNya, dan kita hanya mengharap ridha dari Allah.
Tauhid, mengantarkan manusia mengakui bahwa keesaan Allah mengandung konsekuensi keyakinan bahwa segala sesuatu bersumber serta kesudahannya berakhir pada Allah Swt. Dia-lah Pemilik mutlak dan tunggal yang dalam genggaman-Nya segala kerajaan langit dan bumi. Keyakinan demikian mengantarkan seorang muslim untuk menyatakan sebagaimana dalam doa ruku’: “Ya Tuhanku, Kepada-Mulah aku ruku’, dengan-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku menyerah. Engkau adalah Tuhanku. Kepada-Mu pendengaran dan penglihatanku tunduk, dan begitu juga otak dan tulang-tulangku.” (HR Muslim dan Abu ‘Awanah)
Keyakinan terhadap adanya Tuhan sudah ada dalam diri manusia, baik sadar atau tidak, seperti tercantum dalam ayat Al-Qur’an: “Sesunguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’, maka betapakah mereka dipalingkan dari jalan yang benar.” (QS Al-Ankabuut 29: 61)
Seluruh manusia mengakui Allah sebagai pencipta, namun sudahkah kita meng’Esa’kan Allah dalam seluruh hidup dan kehidupan kita? Maka di sinilah persoalannya, apabila seseorang yang hanya mengakui Allah, tetapi dia tidak meng’esa’kan Allah, maka sebenarnya dia telah menyimpang dari ‘fitrah’nya.
Mengapa Kembali Ke Fitrah?
Dalam perjalanan kehidupan manusia di dunia yang penuh dengan godaan terutama oleh pengaruh hawa nafsu dan kekuasaan, sangat mungkin terjadi penyimpangan dari fitrah. Bentuk penyimpangan dari fitrah yang paling mendasar adalah ‘syirik’, yaitu menganggap ada Tuhan selain Allah. Kadang-kadang kita merasa sudah tauhid, tapi pada hakikatnya menjurus kepada syirik. Ketika mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ kita sering mengartikan hanya sebatas tiada Tuhan selain Allah, namun barangkali kita belum mengartikan secara utuh bahwa hanya Allah yang ‘maha segala-galanya’. Kita harus meyakini mengucapkan dan melaksanakan ‘laa ilaaha illallahu’ dalam arti tidak ada pencipta, raja, pemimpin tujuan, tempat kembali, rizki, penguasa, hukum, kedudukan, kepandaian, dan seterusnya kecuali semua milik Allah. Dia memiliki lingkup yang luas, seluas kemahaan zat, nama dan sifat-Nya.
Memaknai ‘Laa ilaaha illallahu’ hanya sebatas pengertian tidak ada Tuhan selain Allah, berarti kemurnian tauhid seperti yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul belum tertanam dalam dirinya, maka berarti fitrahnya masih tertutup syirik.
Apabila orang yang mengaku sudah menyambut ’Idul Fitri’, sementara imannya masih terselubungi syirik, tauhidnya bercampur kufur, aqidahnya berbagi dengan selain Allah, maka sebenarnya dia belum menyambut ‘Idul Fitri’, walaupun menyambutnya’ lengkap dengan ketupat dan baju barunya. Karena itu marilah kita seru mereka, sekaligus mengevaluasi diri kita agar kembali kepada fitrah yang sebenarnya, dalam arti mengembalikan pengertian dan pemahaman yang benar akan tauhid, dan menghilangkan unsur-unsur syirik dalam setiap tindak tanduk kegiatan amal sehari-hari.
Bentuk penyimpangan dari fitrah atau syirik sangat mudah dan kadang-kadang tidak terasa seseorang terbawa kesana karena sudah lumrah terjadi di masyarakat, antara lain: 1) Mencari pertolongan kepada kekuatan selain Allah. Karena lemahnya iman dan kurangnya pemahaman agama serta kurangnya keyakinan bahwa Allah ta’ala adalah tempat meminta pertolongan, merupakan faktor utama seseorang mencari alternatif lain untuk menyelesaikan permasalahan hidup, dan menggantungkan harapan kepada kekuatan lain seperti dukun, paranormal dan sebagainya. Solusi yang Islami untuk ini adalah meminta pertologan kepada Allah dengan sabar dan shalat, seperti firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada) Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhna Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah 2: 153). 2) Mempercayai adanya kekuatan gaib atas suatu benda yang dikeramatkan, seperti pusaka, benda peninggalan, atau azimat, yang diyakini bisa membawa berkah dan keselamatan, bahkan mempunyai kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia. Meskipun kadang-kadang kepercayaan tersebut dibungkus dengan ayat-ayat Al-Qur’an, namun disertai dengan amalan-amalan yang tidak diajarkan dalam Al-Qur’an. 3) Meyakini bahwa keberhasilan dan kemajuan diperoleh karena hasil jerih payah serta upaya pikiran manusia. Di sini orang tidak mensyukuri dan lupa bahwa semua itu atas kehendak dan karunia Allah. 4) Mencampur adukkan ajaran berbagai faham dan agama dengan maksud untuk mencari penyelesaian masalah dunia. Untuk ini marilah kita simak firman Allah: “Orang-orang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS Al-Anam 6: 82).
Seruan Kembali Kepada Fitrah
Penyimpangan dari fitrah selalu ada dan sudah berlangsung sejak awal-awal kehidupan manusia, baik di zaman nabi-nabi sampai sekarang ini. Ketika penyimpangan manusia dari fitrahnya sudah mencapai puncaknya, Allah selalu mengutus seorang Rasul untuk mengembalikan manusia pada kesucian fitrahnya. Tugas para Nabi dan Rasul dalam sejarah kenabian sampai dengan Rasulullah Muhammad Saw, adalah menyeru manusia untuk kembali kepada fitrahnya mengakui tiada Tuhan selain Allah.
Seseorang yang imannya teguh, tauhidnya kukuh, aqidahnya mantap, adalah orang yang memiliki dan berpegang dengan fitrah asasi. Hal itu dapat di peroleh antara lain melalui upaya yang terus menerus untuk mendalami tauhid, menjauhi syirik, melatih diri memperbanyak amal soleh serta mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan. Pada bulan ini Allah memberikan ampunan, pahala yang melimpah, bahkan Allah menurunkan suatu malam ‘Laitul Qadar’ yang lebih baik dari seribu bulan. Demikianlah Allah menjadikan Ramadhan sebagai wahana bagi setiap mukmin untuk mengevaluasi, mengoreksi, dan mendekatkan diri pada Allah, mempertebal iman, serta kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk memperbanyak ‘timbangan’ melipatgandakan pahala. Maka apabila seseorang telah khusyu’ dan ikhlas melaksanakan itu semua, dia layak disebut orang yang ber ‘Idul Fitri’
Bila iman yang fitri harus bersih dari syirik, maka selanjutnya diikuti dengan amal perbuatan yang fitri juga harus bersih dari bid’ah dan khurafat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih menyaksikan banyaknya ummat Islam, mungkin termasuk kita juga, yang dalam amal ibadahnya masih belum bersih dari .bid’ah dan khurafat. Padahal Nabi dalam salah satu haditsnya menyerukan: “Barang siapa berbuat sesuatu yang tidak ada contohnya dariku, maka perbuatan itu tertolak”
Betapa ruginya bila kita sudah menghabiskan waktu, tenaga dan biaya untuk suatu yang kita anggap sebagai ibadah, tapi ditolak karena tidak ada contoh dari Nabi. Karena itu lebih baik kita tinggalkan hal-hal yang tak berguna agar tidak rugi dan selamat dari api neraka. Iman yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah akan melahirkan al-akhlaqul-karimah, di mana salah satu ciri al-akhlaqul-karimah adalah keikhlasan dalam seluruh amal ibadahnya, karena beribadah hanya untuk mengharap ridha Allah Swt.
Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang kembali ke fitrah. Amien.
Moh. Kamal Hs
No. 123