Minggu, 25 April 2010

74. BERSYUKUR, MERAIH MANFAAT UNTUK DIRI SENDIRI

Allah SWT bukan hanya Al Khaliq – Pencipta segala sesuatu, tetapi juga Rabbul ‘alamin – Pembina, Pemelihara, Pengatur dan Pengembang alam raya. Dia memproses penciptaan dan pembinaan seluruh ciptaan-Nya dengan Kasih yang maksimal; maka tatanan Allah mengenai interaksi di antara unsur alam yang satu dengan yang lain berlangsung secara harmonis, memberi manfaat bagi masing-masing unsur dan bagi alam secara keseluruhan. Manusia sebagai bagian alam yang sadar diri dan menyadari kesadarannya itu, semestinya tahu benar betapa sempurna Allah membentuk dia, dan betapa banyak anugerah yang dikaruniakan kepadanya.

Maka pemahaman bawaan lahir tentang eksistensi Allah SWT seharusnya mengantar setiap orang untuk berterima kasih kepada Allah. Tetapi karena ada kecenderungan lupa pada diri manusia, Al Qur’an berulang kali me-recall ingatan manusia itu, dengan menjelaskan secara rinci berbagai kenikmatan yang telah, sedang, dan akan diterimanya dari Allah SWT. Secara langsung pula Al Qur’an menyeru manusia agar bersyukur kepada Allah atas segala kenikmatan tersebut. Para ulama mencatat, perkataan ‘syukur’ dalam berbagai derivasinya lebih dari 60 (enam puluh) kali dikemukakan di dalam Kitabullah ini.

Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya ‘Wawasan Islam’ mengutip pendapat ahli bahasa Al Qur’an Ar Raghib Al Isfahani bahwa perkataan ‘syukur’ mengandung arti gambaran dalam benak mengenai kenikmatan dan menampakkannya ke permukaan. Karena itu Al Qur’an mengingatkan manusia bahwa Allah SWT telah mencipta dirinya sebagai sebaik-baik ciptaan. [QS At Tin (95): 4]. Bahwa Allah mengaruniakan kepada manusia kemampuan indera dan potensi budi yang tumbuh bertahap, untuk memahami apa yang ada di lingkungannya [QS An Nahl (16): 78]. Bahwa Allah menjadikan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi melayani kebutuhan manusia [QS Al Jaatsiyah (45): 13]. Bahwa Allah menyediakan bagi manusia, berbagai sarana hidup yang ada di langit dan di bumi, baik yang lahir yaitu yang segera nampak maupun yang batin yakni yang memerlukan kajian dan usaha keras untuk memperolehnya [QS Luqman (31): 20]. Bahwa Allah mengatur matahari dan bulan bergerak dalam orbitnya masing-masing; kedudukan bumi pada matahari itu mempergilirkan malam dengan siang [QS Az Zumar (39): 5]. Bahwa malam yang gelap dan senyap sesuai bagi manusia untuk istirahat, sedangkan siang yang terang benderang cocok bagi mereka untuk bekerja keras mengusahakan rizki yang bahannya telah disediakan Allah [QS Yunus (10): 67].

Allah menyediakan rizki untuk manusia itu dengan menyiramkan air dari langit, sehingga tanah-tanah yang kering menjadi subur, lalu di atas tanah itu tumbuh berbagai ragam tanaman. [QS Yaasiin (36): 33-35]. Allah mencipta pula aneka jenis hewan; sebagian diternakkan manusia, dagingnya dimakan dan tenaganya dimanfaatkan. [QS Yaasiin (36): 71-72]. Allah menjadikan sungai-sungai dan lautan, menjadi pembatas sebuah kawasan dengan kawasan lain; tetapi manusia dengan izin Allah dapat mengatasi halangan itu dengan melayarkan bahtera di atasnya [QS Luqman (31):31].

Kenikmatan-kenikmatan yang kita sebut tadi hanyalah sebagian dari yang diterangkan di dalam Al Qur’an. Sedangkan yang dikemukakan Al-Quran hanya contoh belaka dari karunia Allah yang diturunkan kepada manusia. Maka Allah SWT berfirman: “…… Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, tidak akan kamu dapat menghitungnya. Sesungguhnya kebanyakan orang itu zhalim kepada dirinya sendiri dengan mengingkari pemberian-pemberian Allah yang tak terhingga itu.” [QS Ibrahim (14): 34].

Sunggah amat sangat banyak karunia Allah kepada manusia, maka seperti yang telah kita kemukakan di bagian awal tulisan ini, sikap syukur merupakan sebuah keniscayaan bagi manusia. Tetapi sebagaimana dikemukakan pada akhir kalimat ayat 34 dari surah Ibrahim di atas, maka sikap demikian itu dikatakan sebagai menzhalimi dirinya sendiri, karena orang yang ‘kufur nikmat’ itu akan merasakan derita yang luar biasa, terutama di akhirat kelak. QS Ibrahim (14): 7 menandaskan dengan tegas: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Kami (Allah) akan menambah nikmat-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sungguh azab-Ku sangatlah pedih”.

Mengapa banyak orang tidak mau mengakui kenikmatan yang diterimanya itu sebagai karunia Allah? Ada beberapa sebab. Pertama, karena orang tersebut memang tidak percaya kepada Allah. Kedua, karena sikap sombong; orang yang sombong menganggap segala yang didapatnya sebagai hasil usahanya sendiri, dan dia memandang dirinya hebat dan serba mampu. Maka dia tidak mengakui siapapun termasuk Allah, sebagai penyebab keberhasilannya. Syeitan yang tahu kelemahan manusiawi itu memanfaatkannya untuk menggoda orang sehingga menolak bersyukur.

Iblis, cikal bakal semua syeitan, yang sangat dengki kepada Adam AS, melampiaskan kebenciannya dengan berikrar di hadapan Allah SWT: “Ya Allah, karena Engkau telah mengutuk aku ketika aku tidak bersedia memberi penghormatan kepada Adam, maka aku akan menggoda dia dan keturunannya sehingga ke luar dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakanngnya, dari kanan dan dari kirinya, untuk membujuk dan menggoda mereka; dan Engkau tidak akan mendapati banyak di antara mereka yang bersyukur kepada-Mu. [QS Al A’raaf (7): 16-17].

Tentu saja selain yang kufur nikmat, banyak pula hamba Allah yang memenuhi perintah untuk bersyukur. Para Rasul sudah pasti merupakan tipe manusia yang benar-benar mensyukuri berbagai kenikmatan yang dikaruniakan Allah. Aisyah menceriterakan, pada suatu malam Rasulullah SAW bangun dari tidurnya dan sebagaimana biasa beliau kemudian berwudhu lalu menunaikan shalat malam. Yang tidak biasa adalah, malam itu beliau terus menerus menitikkan air mata, baik pada waktu berdiri maupun ketika ruku’ dan sujud. Demikian keadaan beliau sampai mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal bin Rabah. Pada waktu itu beliau segera ke masjid.

Pagi hari setelah kejadian itu Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang anda kuatirkan sehingga tadi malam terus menerus menangis? Bukankah Allah telah memberi jaminan kepada Anda untuk menghapus dosa-dosa Anda dan menerima ibadah serta amal shalih Anda?”. Rasulullah menjawab: “Wahai Aisyah, sesungguhnya yang aku kuatirkan ialah bahwa aku belum menjadi seorang hamba yang benar-benar bersyukur kepada Allah”. Jauh sebelum itu, terjadi peristiwa ketika Nabi Sulaiman AS mendapatkan segala kenikmatan terbaik dari Allah SWT. Beliau seorang Raja di negara Palestina yang besar, menjadi Nabi dan Rasul, memiliki kekayaan yang amat banyak, dan menguasai ilmu yang sangat tinggi. Pada saat itu Sulaiman AS berkata: “Semua ini adalah anugerah Tuhanku, untuk menguji aku apakah aku menjadi orang yang bersyukur atau justru menjadi kufur”. [QS An-Naml (27): 40].

Satu hal yang harus dipahami oleh orang-orang beriman adalah bahwa syukur nikmat itu bukan untuk kepentingan Allah, tetapi demi kebaikan orang yang bersyukur itu sendiri. Mengenai hal ini Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur (tidak masalah bagi Allah); sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahaterpuji”. [QS An Naml (27): 40]. Allah SWT benar-benar tidak memerlukan pujian atau ucapan terima kasih dari manusia. Dalam sebuah hadits qudsi Dia menyatakan: “Sekiranya seluruh jin dan manusia, dari yang pertama sampai yang terakhir, semua memuji-muji Aku, maka kemuliaan-Ku tidak akan bertambah sedikitpun. Sekiranya seluruh jin dan manusia, dari yang pertama sampai yang terakhir, semua memaki-maki Daku, kemuliaan-Ku tidak akan berkurang sedikitpun. Seandainya seluruh jin dan manusia, dari yang pertama sampai yang terakhir, masing-masing mereka mengajukan permohonan kepada-Ku dengan segala permohonan yang teringat dari benaknya, dan seluruh permohonan itu Aku kabulkan, kekayaan-Ku tidak akan berkurang sedikitpun”.

Manusialah yang sangat memerlukan untuk bersyukur kepada Allah, karena dia yang akan memperoleh manfaat dari syukurnya itu. Dia akan tenang tenteram hatinya, tidak menjadi sombong karena sadar bahwa yang diperolehnya itu bukan hasil kerjanya tetapi anugerah Allah. Kerjanya hanyalah jalan yang – bila Allah menghendaki – menjadikan dia memperoleh apa yang diharapkannya. Dengan bersyukur orang juga tidak menjadi pelit, karena sadar bahwa apapun yang ada pada dirinya merupakan amanah Allah untuk menjadi sarana ibadah. Selanjutnya dengan bersyukur orang merasa dekat dengan Allah dan didekati oleh Allah. Kesadaran itulah yang sungguh menenteramkan jiwa. Kemudian ketenteraman yang hakiki itu merupakan pintu gerbang menuju kebahagiaan.

Bagaimanakah cara orang bersyukur kepada Allah? Ulama mengemukakan tiga langkah yang perlu ditempuh. Pertama, bersyukur dengan hati, yaitu membina kesadaran yang semakin mendalam mengenai kebaikan Allah. Kedua bersyukur secara lisan, dengan mengucapkan kalimat-kalimat pujian yang dipersembahkan kepada Allah. Rasulullah SAW memberi contoh bacaan Alhamdulillah dalam banyak kesempatan. Bangun tidur beliau mengucapkan Alhamdulillah, begitu pula ketika selesai mengerjakan sesuatu, ketika mendapat sesuatu yang baik, ketika selesai makan, dan banyak lagi yang lain. Ketiga adalah bersyukur dengan perbuatan, yaitu beribadah dan beramal shalih ‘karena Allah’. Dengan menempuh tiga langkah tersebut orang telah berusaha untuk menjadi hamba Allah yang bersyukur.

Sudah jelas bahwa syeitan sangat tidak senang bila ada orang yang mensyukuri karunia Allah. Mereka pasti berusaha keras untuk membujuk, merayu, menipu siapapun, untuk menjauhkan manusia dari sikap yang benar. Karena itu orang perlu mengiringi niat dan usahanya itu dengan memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah SWT. Dia telah memerintahkan manusia untuk berdo’a: “Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan agar aku mampu melakukan amal saleh yang Engkau ridhai”. [QS Al Ahqaaf (46): 15]. Rasulullah SAW juga mengajarkan do’a: ”Wahai Tuhanku, mampukan aku untuk mengingat Engkau, bersyukur kepada Engkau, dan melakukan ibadah yang terbaik kepada Engkau”. Untuk bersyukur kepada Allah orang memohon pertolongan Allah. Itulah manusia, dan itulah manusia yang benar. [Sakib Machmud].

Kamis, 15 April 2010

73. HARTA DAN KEKUASAAN

Kedudukan harta sangatlah tinggi di hati manusia. Harta menjadi sesuatu yang sangat dicintai dan berharga bagi manusia, sehingga mereka menjadi sangat bakhil. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” [QS Al Aadiyaat (100): 6-8].

Semua orang tahu kegunaan harta, karenanya mereka berlomba mencari harta sampai lalai memperhatikan perintah dan larangan Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Hal ini telah dijelaskan Rasulullah SAW: “Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) orang tidak lagi peduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram.” [HR Bukhari].

Demikianlah realita di masyarakat. Masalah harta dan rezeki ini telah mendapatkan perhatian besar dalam Al Qur`an. Para ulama mencatat, kata ‘harta’ (al maal) dengan kata turunannya diulang sebanyak 86 kali, dan kata ‘rezeki’ (ar rizki) dengan kata turunannya diulang sebanyak 123 kali. Allah SWT tidak mengulang-ulang satu kata kecuali demikian besar urgensinya kepada makhluknya. Hal ini juga kita temukan dalam QS Ar Rahman (55) di mana kalimat فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَان – “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”, diulang sampai 31 kali dari seluruh 78 ayat-ayatnya.

Sehingga sudah selayaknya kaum Muslimin mengenal dan mengerti bagaimana konsep Islam terhadap harta dan sikap yang tepat menjadikan harta sebagai nikmat yang membawa kepada kebahagian dunia dan akhirat. Paling tidak mengetahui harta adalah cobaan yang Allah ujikan kepada makhluk-Nya agar mereka dapat bersyukur dan tegak pada hujjah dan penjelasan yang terang. Semua itu agar orang hidup dengan harta berdasarkan ilmu, dan dapat bersabar bila tidak ia memiliki harta.

Allah SWT menciptakan manusia dan memberinya kesukaan kepada nafsu akan harta, sebagaimana firman-Nya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [QS Ali Imraan (3): 14].

Rasulullah SAW menggambarkan besarnya kecintaan manusia kepada harta: “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, pasti ia menginginkan yang ketiga, sedangkan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali dengan tanah, dan Allah SWT memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat.” [HR Bukhari dan Muslim]. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa harta adalah cobaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya sebagaimana firman-Nya: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” [QS Al Anfaal (8): 28].

Bahkan harta itu telah menjadi cobaan besar bagi ummat Islam yang merusak dan meluluh lantakkan persendian mereka, sehingga mereka terkapar seperti orang sakit dan menjadi hinaan ummat lain. Akal dan hati mereka terkendalikan oleh harta sehingga lambat laun lemahlah kondisi mereka. Tentang bahaya cobaan harta ini Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap ummat mendapatkan cobaan, dan cobaan ummat ini adalah harta.” [HR Timidzi].

Harta adalah salah satu nafsu terbesar yang dimiliki manusia, namun juga menjadi salah satu sebab mendekatkan diri kepada Allah. Harta menjadi tiang kehidupan seseorang. Ketika ia berusaha mendapatkan harta yang halal untuk membeli rumah, menikah dan memiliki anak yang shalih serta berbahagia dengan keluarga dan hartanya, maka hal itulah amalan yang disyariatkan Islam. Dengan demikian ada anjuran menjadi hartawan apabila cara mendapatkannya sesuai dengan ajaran Islam, sebab harta adalah kekuatan dalam pengertian kesempatan yang diberikan kepada hartawan dalam amal shalih tidak terbatas dan terhitung. Dengan hartanya ia bisa menikahkan para pemuda, mengobati orang sakit, menyantuni para janda dan memberi makan anak yatim dan orang miskin, dan lain-lainnya.

Oleh karena itu Rasulullah SAW menjadikan Mukmin yang kaya dekat dari derajat alim yang beramal dengan ilmunya, sebagaimana sabdanya: “Demikianlah harta dapat menjadi sebab seseorang masuk surga, namun juga bisa membuat seseorang terbang terjerumus ke dalam neraka jahannam.” Harta bisa menjadi nikmat bila dikeluarkan dan digunakan untuk ketaatan kepada Allah dan akan menjadi bencana bila digunakan untuk keburukan. Hal ini tergantung cara mendapatkannya dan bagaimana menginfaqkannya.

Allah SWT berfirman: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. [QS Al Maa’uun (107): 1-3]. Ayat tersebut menjelaskan, jika kita menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, maka berarti kita mendustakan agama. Mendustakan adalah kata lain dari berbohong atau tidak jujur. Berarti sebagai orang-orang yang mengaku beriman, kita sedang dalam ujian apakah kita benar-benar beriman atau munafik.

Islam sebagai ajaran yang sempurna mewajibkan zakat, dan menyerukan memberikan infaq dan shadaqah, sebagai pengejawantahan kepedulian sosial. Zakat dikeluarkan seseorang kepada fakir miskin sebagai tanda syukur atas nikmat Allah SWT. Dinamakan zakat karena di dalamnya terkandung harapan untuk beroleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan pelbagai kebajikan. Tidak membayar zakat, sanksinya adalah dosa, yang dapat mengurangi kualitas ibadah. Kewajiban membayar zakat disebutkan dalam firman-firman Allah SWT antara lain dalam QS Al Baqarah (2): 43, QS Al Baqarah (2): 254, QS Al Baqarah (2): 277, QS Ali Imran (3): 180, dan QS At Taubah (9):18.

Timbulnya kemiskinan di negeri kita terutama adalah kurangnya kepedulian sosial dari para hartawan. Meskipun mereka yang mampu senantiasa taat membayar zakat dan pajak, perilaku berfoya-foya adalah bukti kurangnya kepedulian sosial. Hidup secara berlebihan seperti itu dalam Islam dilarang. Dalam kaitan ini Allah SWT memperingatkan: “Ketahuilah sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas. Karena ia melihat dirinya serba cukup.” [QS Al ‘Alaq (96): 6-7]. Jika kita per-hatikan pesta pernikahan di gedung-gedung mewah dengan biaya puluhan / ratusan milyar rupiah misalnya, kita bisa mengetahui betapa kurangnya kepedulian sosial di kalangan mereka yang berada terhadap kaum fakir miskin. Jika kaum berada hanya berpikir: “Hari ini makan apa?”, berarti mereka tinggal memilih makanan enak apa yang akan dimakan pada hari itu, sebaliknya kaum fakir miskin selalu bertanya dalam hati; “Hari ini apa makan?” Sungguh menyedihkan mereka yang hari itu belum tentu bisa makan, karena apa yang akan dimakan belum tentu ada.

Kesenjangan sosial seperti itu disebabkan karena banyak hal. Salah satunya adalah keserakahan dalam bentuk korupsi. Korupsi yang makin meluas dan intensif di negeri kita, bukan hanya dilakukan oleh mereka yang mempunyai kekuasaan, melainkan juga dilakukan di kalangan bawahan, bahkan telah terjalin dalam bentuk kolaborasi antara keduanya. Hal itu sudah menjadi rahasia umum. Dengan dibentuknya ‘Satgas Pemberantasan Mafia Hukum’ oleh pemerintah, maka diharapkan akan terungkap penyalah-gunaan wewenang oleh aparat negara. Maka sudah saatnya kepada setiap aparat di bidang keuangan, perpajakan, dan penegak hukum untuk melakukan pembuktian terbalik atas kekayaan yang mereka miliki. Sistem pembuktian terbalik yang selama ini hanya merupakan wacana, harus benar-benar dan segera diterapkan secara konsekuen.

Nafsu harta pada manusia seperti ini pernah diprediksi Rasulullah SAW: “Pada suatu masa mesjid-mesjid ramai dikunjungi orang. Akan tetapi, hati penghuninya kosong dari petunjuk Allah. Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda: “Orang tidak mengenal ulama kecuali karena pakaiannya yang khas, dan bukan karena ilmu serta akhlaknya. Orang tidak mengenal Al Qur’an kecuali dengan suaranya yang baik. Mereka tidak beribadah kepada Allah kecuali di bulan Ramadhan saja. Bila ulama-ulamanya sudah seperti itu, dan bila ummat Muslim hanya beramai-ramai melakukan ibadah di bulan Ramadhan saja, maka mereka akan diberi penguasa yang tidak memiliki ilmu. Tidak mempunyai kasih sayang kepada rakyatnya.” [HR Bukhari]. Pada saat itu manusia menyembah, mengabdi, dan mencurahkan hidupnya demi hartanya.

Kita bisa melihat manusia memberikan penghormatan kepada mereka yang memiliki banyak kekayaan. Manusia berlomba menumpuk kekayaan untuk menunjukkan kemuliaan dan kehormatan mereka di masyarakat. Saat ini, banyak orang telah meninggalkan iman, Islam hanya tinggal upacara ritualnya saja. Hal ini bisa dilihat dari perlaku yang jauh dari kebajikan. Al Qur’an hanya tinggal pelajarannya saja. Orang-orang ramai belajar Al Qur’an, tetapi tidak mencoba hidup dengan ajaran Al Qur’an. Mereka membaguskan suara bacaan Al Qur’an, tetapi tidak membaguskan akhlak mereka dengan ajaran Al Qur’an. Tanpa kita sadari, kemakmuran yang dicapai manusia selama ini lebih bersifat duniawi, dan telah mencapai puncaknya sedemikian rupa sehingga manusia yang sudah mendapatkan bimbingan Ilahi dan para Rasul pun, telah mendzalimi diri mereka sendiri.

Namun meskipun kemasyhurannya telah meneggelamkan dunia sebenarnya harta bukanlah segalanya. Jadi apa sebenarnya yang paling dicari manusia dalam hidup mereka? Jika seseorang mencintai nilai-nilai luhur, maka jawabannya adalah ‘kebaikan dan perbaikan’. Jika dia pemburu kesenangan duniawi maka jawabannya adalah; ‘kekuasaan’. Kekuasaan selalu diminati manusia, bahkan diperebutkan, karena manusia mengira, dengan kekuasaan dia akan bisa menggapai apa saja yang diinginkannya.

Menurut Imam Al Ghazali, kekuasaan adalah sesuatu yang sangat digandrungi manusia. Setiap orang boleh mendapatkan kekuasaan, karena bukan sesuatu yang dilarang oleh agama, asalkan dengan cara yang baik dan digunakan untuk kebaikan pula. Nafsu kekuasaan itu lebih besar daripada nafsu harta, hal itu disebabkan karena tiga faktor. Pertama, kekuasaan bisa mendatangkan harta. Dengan kekuasaan, orang bisa menumpuk kekayaan. Tidak demikian sebaliknya. Diakui bahwa untuk mencapai kekuasaan, seseorang butuh harta, tetapi tidak setiap orang yang telah menggunakan banyak harta, bisa dengan sendirinya mencapai kekuasaan. Kedua, kekuasaan menimbulkan efek popularitas. Begitu seseorang berhasil menjadi penguasa, maka seketika akan menjadi masyhur. Ketiga, pengaruh kekuasaan relatif lebih kuat dan tahan lama. Pada sebagian orang, pengaruh kekuasaan bisa menimbulkan loyalitas yang sangat tinggi, bahkan kesetiaan sampai mati.

Karenanya tidak sedikit orang-orang yang meskipun sudah kaya raya, mereka belum juga puas jika belum mendapatkan kekuasaan. Kita bisa melihat betapa perebutan kekuasaan di lembaga-lembaga negara di negeri ini diikuti oleh banyak kalangan. Selain para politisi dan profesional, para pengusaha juga mencalonkan diri dalam pemilu, baik pemilu kepala daerah, pemilu legislatif, maupun pemilihan presiden. Begitu pula dari kalangan selebiriti, beberapa di antaranya telah menjadi anggota DPR dan wakil kepala daerah. Bahkan pada tahun 2010 ini dua wanita penyanyi dangdut / penari erotis konon akan ikut serta dalam pemilu kepala daerah di dua tempat yang berbeda. Itulah pesona kekuasaan. [Hermanto]

Senin, 05 April 2010

72. PERINGATAN AKAN DATANGNYA BENCANA

Bencana adalah sebagian dari musibah. Apakah sebenarnya musibah itu? Rasulullah SAW menjelaskan: “Apa yang menimpa manusia berupa hal-hal yang tidak dikehendaki, itu namanya musibah. [HR At Tabrani]. Dalam Al Qur’an terdapat banyak ayat yang menyinggung tentang bencana, antara lain dalam QS Al Baqarah (2): 155-156, QS Al Maaidah (5): 40, dan QS At Taubah (9): 50.

Musibah ada yang menimpa seseorang atau sekelompok orang tertentu berupa sakit, kerugian dalam usaha, kehilangan barang, meninggal dunia, yaitu musibah yang bersifat individual. Ada pula musibah bersifat sosial, misalnya bencana alam, wabah penyakit, kekeringan yang berkepanjangan, banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus, semburan lumpur / gas, dan sebagainya seperti yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini, bukan saja di Indonesia, tetapi juga banyak terjadi di berbagai tempat di bumi ini. Selanjutnya dalam tulisan ini musibah sosial kita sebut ‘bencana’ saja.

Pendekatan keagamaan menegaskan, musibah adalah ketentuan dari Allah SWT, yang tidak bisa ditolak maupun dicegah. Meskipun demikian, manusia wajib untuk menghindari atau mengantisipasi dari berbagai bentuk musibah yang sudah atau akan terjadi pada diri kita. Seorang yang terkena sakit, diwajibkan untuk berobat agar bisa mendapatkan kesehatan seperti sediakala. Jika terjadi banjir, kekeringan atau bencana alam lainnya, diwajibkan untuk menghindar dari bahaya tersebut.

Upaya untuk mengantisipasi musibah bukan saja pada tingkat pencegahan semata, tetapi juga dalam penanggulangannya. Karena membiarkan diri dalam kerusakan dan kebinasaan sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip Al Qur’an dalam menjaga jiwa. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat baik. [Al Baqarah (2): 195].

Islam memberikan tuntunan dalam menyikapi musibah yang dialami seseorang, berupa istirja (mengembalikan segalanya kepada Allah SWT), dengan mengucapkan: "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya). Hendaknya kita berdo’a agar musibah yang menimpa diri kita hanya bentuk ujian dari Allah SWT bagi hamba-Nya yang shalih, ikhlas dan lapang dada menghadapinya, agar kita mendapatkan rahmat dan pahala-Nya.

Dalam kehidupan di dunia, manusia tidak akan pernah terlepas dari musibah termasuk bencana dan cobaan lainnya. Selama hayat masih di kandung badan, seketika itu juga musibah mengintai dan kerap menghampiri kita. Menghadapi hal tersebut, selain istirja, hendaknya kita melakukan upaya antisipasi. Maka sudah sepantasnya ummat Islam lebih mendalami ayat-ayat kauniyah yaitu ayat yang dapat ditemukan manusia sendiri berupa realitas yang terjadi di alam semesta, di samping ayat-ayat yang sudah dirumuskan Allah SWT dan terhimpun dalam Al Qur’an, yang disebut ayat-ayat qur’aniyah atau tanziliah. Para tokoh besar masa lampau seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Al Kindi, Al Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, dan lainnya adalah ahli ayat-ayat kauniyah yang luar biasa. Mereka menunjukkan bahwa orang beriman akan selalu mendalami dan memegang teguh ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadits, dan ayat-ayat realitas di alam semesta secara bersama.

Musibah bisa menimpa orang-orang shalih. Namun bisa juga merupakan hukuman seperti yang ditimpakan pada kaum yang sesat. Apabila musibah adalah cobaan, maka cara tepat untuk menyikapinya adalah dengan cara istirja. Apabila bencana adalah hukuman, kita harus mengucap istighfar dan mengubah perilaku. Seruan moral memang penting, dorongan untuk lebih taat beribadah dan menjauhi maksiat harus ditingkatkan. Banyak melakukan istighfar serta dzikir sungguh berharga.

Dengan perspektif ini, para ulama senantiasa mengingatkan betapa banyak perilaku maksiat yang bertebaran di sekitar kita. Rentetan bencana seperti ini yang kita alami beberapa tahun belakangan ini, sangat mungkin disebabkan perilaku kita yang semakin jauh dari Allah SWT. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa mayoritas bangsa ini sudah tidak waras, baik para pemimpin, pengusaha, rakyat biasa, cendekiawan, maupun di kalangan ulama sendiri. Hampir semua orang telah menjadi sangat materialistis. Tidak ada yang salah dengan pandangan yang mengemukakan bahwa kerusakan moral bangsa ini telah sedemikian parah.

Tetapi memadaikah kita mengkaitkan bencana ini semata-mata dengan persoalan moral, sehingga kita hanya pasrah tanpa melakukan upaya untuk menghindarinya? Agama Islam bukan hanya mengatasi persoalan moral, tetapi juga menyangkut kemampuan untuk mengelola alam dan sosial, termasuk mengelola bencana alam yang kini semakin menjadi keseharian dalam kehidupan kita. Realitas mengajarkan bahwa bangsa yang kuat umumnya adalah bangsa yang mampu mengelola alamnya yang garang.

Kaum Qureisy sejak masa Nabi Ibrahim AS mampu bertahan hidup karena kemampuannya menghadapi alam yang keras. Ketika Mekkah dingin mereka pergi ke Yaman yang lebih panas. Di saat Mekkah sangat panas, mereka pergi ke Syria yang lebih dingin. Hal itu yang membuat mereka menjadi pribadi sekaligus pedagang yang kuat hingga sekarang. Daulah Abbasiyah berjaya di abad ke-8, karena kepiawaiannya mengelola alam. Mereka mengirim tim peneliti untuk tinggal dua tahun penuh di wilayah bekas kekuasaan Persia, mencatat keadaan cuaca, aliran air, dan bahkan angin setiap hari untuk membangun kota Baghdad yang mencengangkan dunia saat itu.

Di zaman modern ini, bangsa-bangsa Barat dan Asia Timur menjadi kuat karena tempaan iklim ekstrem. Musim dingin telah memaksa mereka berdisiplin mengelola hidup dan lingkungannya. Hingga kini mereka terlatih untuk mengantisipasi masa-masa sulit, termasuk menyediakan kotak makanan yang isinya selalu diperbarui sebelum kedaluwarsa, menyediakan kebutuhan darurat sewaktu-waktu terjadi bencana, dan menentukan ke arah mana harus menyelamatkan diri. Dengan begitu setidaknya dapat mengurangi timbulnya korban manusia dan kerugian lainnya.

Namun, terlepas dari ikhtiar manusia melakukan pembenahan untuk mencegah terjadinya musibah, dari sudut pandang kita sebagai ummat yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor semburan lumpur, dan sebagainya itu, bisa terjadi kapan saja apabila Allah menghendaki-Nya.

Dalam kaitan ini ada satu hal yang perlu kita cermati adalah peringatan Rasulullah SAW kepada para sahabat akan datangnya bencana: “Wahai kaum Muhajirin ada lima hal yang akan mendatangkan bencana bagimu, aku berlindung kepada Allah agar engkau tidak menemuinya, Tidak tampak perbuatan keji di suatu kaum hingga diumumkannya, kecuali akan ditimpakan pada mereka penyakit menular dan penyakit lainnya yang belum ada sebelumnya. Mereka tidak mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan ditimpakan kekeringan, kelaparan, dan kekejaman dari penguasa mereka. Mereka tidak membayar zakat atas harta mereka kecuali akan dicegah hujan dari langit. Kalau bukan karena binatang ternak maka tidak akan turun hujan bagi mereka. Mereka tidak melanggar ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan menciptakan musuh dari golongan selain mereka yang akan menguasai dan merampas semua yang mereka miliki, jika para pemimpin mereka tidak menghukumi (perkara) dengan kitab Allah dan tidak mengambil yang terbaik dari apa yang diturunkan Allah, maka Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka. [HR Ibnu Majah].

Hadits ini sangat luar biasa karena menjelaskan kelima fenomena di masyarakat yang merupakan tanda-tanda akan datangnya bencana yaitu:

1. Jika perbuatan keji dan kejahatan lainnya sudah tampak dan dipublikasikan di berbagai media, ketika pembunuhan dan mulitasi, pornografi, semarak di mana-mana, maka akan ada berbagai penyakit baru, yang belum ada sebelumnya. Lihat saja HIV/AIDS, flu burung, flu babi dan sebagainya.

2. Jika takaran dan timbangan dikurangi, ketika praktik korupsi menjadi tradisi, ketika dana pembangunan dibocorkan, ketika mark up menjadi kebiasaan, maka akan terjadi kekeringan, kelaparan, gizi buruk, dan kekejaman oleh para penguasa yang bertindak sewenang-wenang. Inipun telah terbukti, misalnya kekejaman para makelar kasus yang berkolusi dengan penegak hukum.

3. Ketika zakat tidak dibayar, ketika orang-orang sudah menimbun harta mereka, maka Allah akan mencegah turunnya hujan, kalau bukan karena kasih sayang Allah kepada makhluk selain manusia, maka tidak ada hujan sama sekali. Betapa sering terjadi gagal panen dan sebagainya.

4. Ketika ketentuan-ketentuan Allah dilanggar, ketika ajaran-ajaran Rasulullah SAW disepelekan, maka akan datang musuh kejam yang akan merampas segala yang dimiliki, baik nyawa maupun harta. Perhatikan apa yang telah terjadi di sekitar kita masing-masing.

5. Ketika pemimpin jauh dari Kitabullah dan Sunnah Nabi, ketika mereka memuja dan memuji hedonisme, liberalisme, dan isme-isme lain yang bertentangan dengan agama, maka akan terjadi permusuhan di antara anak bangsa sendiri hingga hilanglah rasa cinta kasih di antara mereka. Hal ini juga sudah terbukti dari banyaknya konflik antar warga maupun konflik kepentingan para elite bangsa.

Begitulah peringatan dari Rasulullah SAW sebelum datangnya bencana. Peringatan ini adalah pesan ghaib, yang tidak hanya berkenaan dengan pengetahuan berdasarkan pengertian belaka, tetapi juga dengan perasaan. Perasaan itu bisa ditimba jika kita tidak sibuk dengan rasionalitas dan penyelesaian teknis belaka, tetapi juga berempati dan solider dengan nasib penderitaan ummat yang tertimpa bencana. Dengan empati dan solidaritas itu para pemimpin tak boleh mengelak dari tanggungjawab, seakan-akan bencana yang terjadi adalah kehendak alam yang tidak terelakkan, sehingga mereka melepaskan tangan begitu saja.

Belajar dari sabda Rasulullah SAW tersebut, kita seyogyanya menyadari bahwa bencana juga merupakan ulah mereka yang serakah, mengutamakan hidup dan nafsu untuk mengangkangi harta, dan tak peduli terhadap mereka yang miskin dan menderita. Kita harus bisa mengakui bahwa bencana apapun halnya, adalah akibat kesalahan dan keteledoran kita bersama. Bangsa yang demikian adalah bangsa yang menghargai sesamanya yang telah ‘terkorbankan’ menjadi pembawa peringatan tersebut. Jika tidak, bukan mustahil akan datang bencana lebih dahsyat dan besar bagi bangsa ini. Dan kenyataan itupun telah terjadi pula selama ini.

Setiap bencana selalu dapat dikaitkan dengan takdir, dan takdir juga hampir selalu menjadi cermin yang baik untuk mengetahui manusia macam apa kita ini. Satu dua bencana mungkin memang ujian dari Allah. Namun rangkaian bencana adalah petunjuk nyata, bahwa kita bukanlah bangsa yang baik.

Dalam Al Qur’an, Allah SWT menegaskan bahwa terdapat hukum alam yang pasti yang disebut Sunatullah yang tidak berubah. Alam mempunyai disain sempurna yang memiliki hubungan sebab dan akibat. Allah telah menggariskan keseimbangan alam. Hal ini ditegaskan oleh Allah bahwa kerusakan yang terjadi di alam semesta ini adalah karena ulah tangan manusia. Misalnya saja, karena hutan dirusak, maka sudah jelas bahwa sesuai dengan Sunatullah akan terjadi bencana banjir, karena fungsi hidrologis hutan tidak lagi berjalan. Hujan dan hutan sudah memiliki ukuran (takdirnya) masing-masing. Pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi saat ini telah kita akui sebagai kesalahan manusia di seluruh dunia.

Sunatullah tidak terjadi seketika, melainkan didahului berbagai sinyal-sinyal kepada manusia. Akan tetapi sering kali manusia mengabaikan sinyal-sinyal itu sehingga keseimbangan alam menjadi rusak dan kemudian menjadi tidak terkendali dan menjadi bencana bagi kita. Makin seringnya terjadi gempa bumi, meluasnya bencana banjir, dan bencana lainnya, menjadi bukti bahwa kita telah mengabaikan sinyal-sinyal yang terjadi sebelumnya. Terlihat jelas pula, bagi manusia yang selalu menentang hukum Allah, akan ditimpa malapetaka, adzab dan bencana, kehancuran dan kesengsaraan yang berkepanjangan tiada hentinya. Meskipun demikian, janganlah rakyat kecil yang tidak terkait dengan kemungkaran orang-orang tertentu yang serakah menjadi ‘terkorbankan’. Semoga mereka yang wafat itu mendapat tempat yang baik di sisi Allah SWT, dan para korban lainnya senantiasa dalam lindungan-Nya. Aamiin ya rabbal aalamiin. [Hermanto]