Allah SWT bukan hanya Al Khaliq – Pencipta segala sesuatu, tetapi juga Rabbul ‘alamin – Pembina, Pemelihara, Pengatur dan Pengembang alam raya. Dia memproses penciptaan dan pembinaan seluruh ciptaan-Nya dengan Kasih yang maksimal; maka tatanan Allah mengenai interaksi di antara unsur alam yang satu dengan yang lain berlangsung secara harmonis, memberi manfaat bagi masing-masing unsur dan bagi alam secara keseluruhan. Manusia sebagai bagian alam yang sadar diri dan menyadari kesadarannya itu, semestinya tahu benar betapa sempurna Allah membentuk dia, dan betapa banyak anugerah yang dikaruniakan kepadanya.
Maka pemahaman bawaan lahir tentang eksistensi Allah SWT seharusnya mengantar setiap orang untuk berterima kasih kepada Allah. Tetapi karena ada kecenderungan lupa pada diri manusia, Al Qur’an berulang kali me-recall ingatan manusia itu, dengan menjelaskan secara rinci berbagai kenikmatan yang telah, sedang, dan akan diterimanya dari Allah SWT. Secara langsung pula Al Qur’an menyeru manusia agar bersyukur kepada Allah atas segala kenikmatan tersebut.
Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya ‘Wawasan Islam’ mengutip pendapat ahli bahasa Al Qur’an Ar Raghib Al Isfahani bahwa perkataan ‘syukur’ mengandung arti gambaran dalam benak mengenai kenikmatan dan menampakkannya ke permukaan. Karena itu Al Qur’an mengingatkan manusia bahwa Allah SWT telah mencipta dirinya sebagai sebaik-baik ciptaan. [QS At Tin (95): 4]. Bahwa Allah mengaruniakan kepada manusia kemampuan indera dan potensi budi yang tumbuh bertahap, untuk memahami apa yang ada di lingkungannya [QS An Nahl (16): 78]. Bahwa Allah menjadikan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi melayani kebutuhan manusia [QS Al Jaatsiyah (45): 13]. Bahwa Allah menyediakan bagi manusia, berbagai sarana hidup yang ada di langit dan di bumi, baik yang lahir yaitu yang segera nampak maupun yang batin yakni yang memerlukan kajian dan usaha keras untuk memperolehnya [QS Luqman (31): 20]. Bahwa Allah mengatur matahari dan bulan bergerak dalam orbitnya masing-masing; kedudukan bumi pada matahari itu mempergilirkan malam dengan siang [QS Az Zumar (39): 5]. Bahwa malam yang gelap dan senyap sesuai bagi manusia untuk istirahat, sedangkan siang yang terang benderang cocok bagi mereka untuk bekerja keras mengusahakan rizki yang bahannya telah disediakan Allah [QS Yunus (10): 67].
Allah menyediakan rizki untuk manusia itu dengan menyiramkan air dari langit, sehingga tanah-tanah yang kering menjadi subur, lalu di atas tanah itu tumbuh berbagai ragam tanaman. [QS Yaasiin (36): 33-35]. Allah mencipta pula aneka jenis hewan; sebagian diternakkan manusia, dagingnya dimakan dan tenaganya dimanfaatkan. [QS Yaasiin (36): 71-72]. Allah menjadikan sungai-sungai dan lautan, menjadi pembatas sebuah kawasan dengan kawasan lain; tetapi manusia dengan izin Allah dapat mengatasi halangan itu dengan melayarkan bahtera di atasnya [QS Luqman (31):31].
Kenikmatan-kenikmatan yang kita sebut tadi hanyalah sebagian dari yang diterangkan di dalam Al Qur’an. Sedangkan yang dikemukakan Al-Quran hanya contoh belaka dari karunia Allah yang diturunkan kepada manusia. Maka Allah SWT berfirman: “…… Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, tidak akan kamu dapat menghitungnya. Sesungguhnya kebanyakan orang itu zhalim kepada dirinya sendiri dengan mengingkari pemberian-pemberian Allah yang tak terhingga itu.” [QS Ibrahim (14): 34].
Sunggah amat sangat banyak karunia Allah kepada manusia, maka seperti yang telah kita kemukakan di bagian awal tulisan ini, sikap syukur merupakan sebuah keniscayaan bagi manusia. Tetapi sebagaimana dikemukakan pada akhir kalimat ayat 34 dari surah Ibrahim di atas, maka sikap demikian itu dikatakan sebagai menzhalimi dirinya sendiri, karena orang yang ‘kufur nikmat’ itu akan merasakan derita yang luar biasa, terutama di akhirat kelak. QS Ibrahim (14): 7 menandaskan dengan tegas: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Kami (Allah) akan menambah nikmat-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sungguh azab-Ku sangatlah pedih”.
Mengapa banyak orang tidak mau mengakui kenikmatan yang diterimanya itu sebagai karunia Allah?
Iblis, cikal bakal semua syeitan, yang sangat dengki kepada Adam AS, melampiaskan kebenciannya dengan berikrar di hadapan Allah SWT: “Ya Allah, karena Engkau telah mengutuk aku ketika aku tidak bersedia memberi penghormatan kepada Adam, maka aku akan menggoda dia dan keturunannya sehingga ke luar dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakanngnya, dari kanan dan dari kirinya, untuk membujuk dan menggoda mereka; dan Engkau tidak akan mendapati banyak di antara mereka yang bersyukur kepada-Mu. [QS Al A’raaf (7): 16-17].
Tentu saja selain yang kufur nikmat, banyak pula hamba Allah yang memenuhi perintah untuk bersyukur. Para Rasul sudah pasti merupakan tipe manusia yang benar-benar mensyukuri berbagai kenikmatan yang dikaruniakan Allah. Aisyah menceriterakan, pada suatu malam Rasulullah SAW bangun dari tidurnya dan sebagaimana biasa beliau kemudian berwudhu lalu menunaikan shalat malam. Yang tidak biasa adalah, malam itu beliau terus menerus menitikkan air mata, baik pada waktu berdiri maupun ketika ruku’ dan sujud. Demikian keadaan beliau sampai mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal bin Rabah. Pada waktu itu beliau segera ke masjid.
Pagi hari setelah kejadian itu Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang anda kuatirkan sehingga tadi malam terus menerus menangis? Bukankah Allah telah memberi jaminan kepada Anda untuk menghapus dosa-dosa Anda dan menerima ibadah serta amal shalih Anda?”. Rasulullah menjawab: “Wahai Aisyah, sesungguhnya yang aku kuatirkan ialah bahwa aku belum menjadi seorang hamba yang benar-benar bersyukur kepada Allah”. Jauh sebelum itu, terjadi peristiwa ketika Nabi Sulaiman AS mendapatkan segala kenikmatan terbaik dari Allah SWT. Beliau seorang Raja di negara Palestina yang besar, menjadi Nabi dan Rasul, memiliki kekayaan yang amat banyak, dan menguasai ilmu yang sangat tinggi. Pada saat itu
Satu hal yang harus dipahami oleh orang-orang beriman adalah bahwa syukur nikmat itu bukan untuk kepentingan Allah, tetapi demi kebaikan orang yang bersyukur itu sendiri. Mengenai hal ini Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur (tidak masalah bagi Allah); sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahaterpuji”. [QS An Naml (27): 40]. Allah SWT benar-benar tidak memerlukan pujian atau ucapan terima kasih dari manusia. Dalam sebuah hadits qudsi Dia menyatakan: “Sekiranya seluruh jin dan manusia, dari yang pertama sampai yang terakhir, semua memuji-muji Aku, maka kemuliaan-Ku tidak akan bertambah sedikitpun. Sekiranya seluruh jin dan manusia, dari yang pertama sampai yang terakhir, semua memaki-maki Daku, kemuliaan-Ku tidak akan berkurang sedikitpun. Seandainya seluruh jin dan manusia, dari yang pertama sampai yang terakhir, masing-masing mereka mengajukan permohonan kepada-Ku dengan segala permohonan yang teringat dari benaknya, dan seluruh permohonan itu Aku kabulkan, kekayaan-Ku tidak akan berkurang sedikitpun”.
Manusialah yang sangat memerlukan untuk bersyukur kepada Allah, karena dia yang akan memperoleh manfaat dari syukurnya itu. Dia akan tenang tenteram hatinya, tidak menjadi sombong karena sadar bahwa yang diperolehnya itu bukan hasil kerjanya tetapi anugerah Allah. Kerjanya hanyalah jalan yang – bila Allah menghendaki – menjadikan dia memperoleh apa yang diharapkannya. Dengan bersyukur orang juga tidak menjadi pelit, karena sadar bahwa apapun yang ada pada dirinya merupakan amanah Allah untuk menjadi sarana ibadah. Selanjutnya dengan bersyukur orang merasa dekat dengan Allah dan didekati oleh Allah. Kesadaran itulah yang sungguh menenteramkan jiwa. Kemudian ketenteraman yang hakiki itu merupakan pintu gerbang menuju kebahagiaan.
Bagaimanakah cara orang bersyukur kepada Allah? Ulama mengemukakan tiga langkah yang perlu ditempuh. Pertama, bersyukur dengan hati, yaitu membina kesadaran yang semakin mendalam mengenai kebaikan Allah. Kedua bersyukur secara lisan, dengan mengucapkan kalimat-kalimat pujian yang dipersembahkan kepada Allah. Rasulullah SAW memberi contoh bacaan Alhamdulillah dalam banyak kesempatan. Bangun tidur beliau mengucapkan Alhamdulillah, begitu pula ketika selesai mengerjakan sesuatu, ketika mendapat sesuatu yang baik, ketika selesai makan, dan banyak lagi yang lain. Ketiga adalah bersyukur dengan perbuatan, yaitu beribadah dan beramal shalih ‘karena Allah’. Dengan menempuh tiga langkah tersebut orang telah berusaha untuk menjadi hamba Allah yang bersyukur.
Sudah jelas bahwa syeitan sangat tidak senang bila ada orang yang mensyukuri karunia Allah. Mereka pasti berusaha keras untuk membujuk, merayu, menipu siapapun, untuk menjauhkan manusia dari sikap yang benar. Karena itu orang perlu mengiringi niat dan usahanya itu dengan memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah SWT. Dia telah memerintahkan manusia untuk berdo’a: “Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan agar aku mampu melakukan amal saleh yang Engkau ridhai”. [QS Al Ahqaaf (46): 15]. Rasulullah SAW juga mengajarkan do’a: ”Wahai Tuhanku, mampukan aku untuk mengingat Engkau, bersyukur kepada Engkau, dan melakukan ibadah yang terbaik kepada Engkau”. Untuk bersyukur kepada Allah orang memohon pertolongan Allah. Itulah manusia, dan itulah manusia yang benar. [Sakib Machmud].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar