Jumat, 25 Januari 2013

MEMPEROLEH HIKMAH DENGAN MENGAMATI LEBAH


Sudah pernahkah Anda memanjakan pikiran dan perasaan dengan membaca dan meresapi keterangan Allah Swt QS An-Nahl 16: 68 dan 69? Rangkaian dua ayat tersebut menyatakan sebagai berikut:
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ ﴿٦٨﴾ ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴿٦٩﴾
Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)". Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
Surah yang diletakkan oleh Rasulullah Saw pada urutan 16 ini dinamai An-Nahl yang bermakna lebah. Tentu tidak berarti bahwa surah ini secara khusus membicarakan lebah atau banyak sekali berbicara tentang jenis hewan tersebut. Pembicaraan tentang lebah hanya dikemukakan dalam dua ayat di antara 128 ayat yang terdapat di dalamnya. Hal ini serupa dengan surah kedua yang dinamai Al-Baqarah - sapi betina. Surah itu bahkan sama sekali tidak membicarakan sapi, tetapi hanya menceriterakan sekelompok orang Yahudi yang terlalu banyak bertanya ketika Nabi Musa As menyuruh mereka menyembelih seekor sapi betina. Para ulama menyatakan bahwa nama sebuah surah di dalam Al-Quran ditetapkan hanya agar mudah diingat saja, tidak selalu menunjuk bagian inti atau yang paling banyak dikupas di dalam surah itu.
Apakah isi QS An-Nahl? Sebagai himpunan ayat-ayat Makkiyah - ayat-ayat yang diturunkan ketika Rasulullah Saw belum hijrah ke Madinah dan masih bermukim di Makkah, isi utama An-Nahl adalah pengajaran yang lugas mengenai tauhidullah - keyakinan akan keMahaesaan Allah Swt. Tauhid merupakan aqidah - inti  sekaligus pondasi ajaran Islam, sehingga layak dan semestinya diturunkan pada masa awal kenabian Muhammad Saw.
Dalam menyampaikan tauhidullah - keyakinan kepada Allah yang Maha Esa, Al-Qur’an menggunakan banyak cara dan pendekatan. Ada kalanya keterangan disampaikan secara lugas sebagaimanya dinyatakan dalam surah 112 Al-Ikhlas: Katakanlah (wahai Rasul): "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada siapa pun yang setara dengan Dia." Tetapi ada kalanya pula pengajaran pokok tersebut dikemukakan secara tidak langsung, yaitu dengan menggambarkan betapa sempurna Allah mencipta dan mengatur berbagai macam dan jenis makhluk-Nya.
Digambarkan kepada kita, bagaimana unsur-unsur alam itu berinteraksi satu sama lain membentuk harmoni, dan keselarasan yang sempurna di alam raya ini benar-benar bermanfaat bagi manusia. Kita jumpai di dalam Kitabullah gambaran mengenai hal tersebut, antara lain dalam surah-surah As-Syams - matahari, Al-Qomar - bulan, Al-Lail - malam, An-Nuur - cahaya, An-Naml - semut, QS An-Nahl 16 - lebah.
QS An-Nahl 16: 68 yang kita pampangkan di atas mengantar orang memerhatikan sifat dan perilaku salah satu makhluk Allah yang kecil dan nampak bersahaja yaitu lebah. Berbeda halnya dengan manusia, lebah tidak dapat memahami sesuatu dengan akal pikirannya. Lebah tidak dapat menganalisis berbagai keadaan untuk mengambil kesimpulan. Lebah tidak pula merencanakan apa yang hendak dikerjakannya, bahkan tidak menyadari apa yang sedang dia perbuat. Meskipun demikian toh lebah dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang hasilnya dikagumi kebanyakan orang, bahkan para ahli sekalipun. Ayat tadi menyatakan bahwa Allah mengilhamkan kepada lebah, menanamkan naluri (instinct) pada lebah, petunjuk yang sempurna sehingga mampu membuat sarangnya di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan juga di rumah-rumah orang. Keadaan sarang lebah itu sungguh indah dan berfungsi baik. Kalau kita perhatikan dengan saksama, sarang lebah berbentuk kumpulan segi enam yang menempel satu dengan lainnya.
Para ahli struktur menyatakan bahwa bentuk bangunan segi enam adalah bentuk yang menyediakan ruang paling luas untuk menjadi hunian, dan pemakaian bahan-bahan untuk itu paling efisien. Apakah lebah membuat rumahnya berbentuk demikian karena telah mengetahui kenyataan itu? Sama sekali tidak. Apakah sebelum membangun rumahnya lebah menghitung terlebih dahulu kekuatan bangunan yang akan dibuatnya itu? Apakah ketika rumah tersebut digantungkannya pada sebuah dahan, dia telah menghitung kekuatan ikatannya? Sama sekali tidak. Apakah lebah melakukan studi mendalam untuk memperoleh bahan-bahan yang sesuai bagi pembangunan rumahnya itu? Tidak juga. Dia bekerja semata-mata karena mengikuti naluri nya.
Maka sepantasnya orang berpikir: Siapakah yang memberikan kepada lebah itu naluri, sedemikian sehingga dapat membangun rumahnya dengan tingkat efisiensi tinggi dan hasilnya mengagumkan manusia? Jawabannya sudah pasti: Allah. Dengan naluri anugerah Allah itu lebah terbang ke berbagai penjuru, mendatangi berbagai species tetumbuhan, mengisap bagian-bagian dari tanaman itu, dan memprosesnya menjadi bahan bangunan yang sesuai dengan bentuk yang dikerjakannya. Bahan dari tanaman itu dipadunya dengan lilin lebah menjadi sesuatu yang orang menyebutnya propolis. Kemudian bahan itu dibawanya ke suatu tempat yang sesuai berdasarkan nalurinya pula, lalu disusunnya sedemikian rupa hingga benar-benar sesuai untuk menjadi tempat tinggalnya.
Sarang lebah sangat ringan tetapi toh mampu menahan bobot induk lebah dan lebah-lebah jantan, berikut telur-telurnya dan embrio-embrio anaknya sekaligus. Allah Swt yang mengatur semua itu, kemudian aturan Allah tersebut ditanamkan ke dalam benak lebah. Tatkala petunjuk dari Allah itu dilaksanakan dengan semestinya, terbentuklah koloni-koloni lebah yang menjamin eksistensi species hewan tersebut dari masa ke masa. Maka mestinya kita yang merenungkan karya agung Allah itu menyatakan suara hati kita: Subhanallah - Maha Suci Allah, bebas sepenuhnya dari kelemahan dan kekurangan!
QS An-Nahl 16: 69 kemudian mendorong manusia agar memerhatikan lebih jauh lagi, untuk memahami kenyataan bahwa zat-zat dari tanaman yang dikonsumsi lebah  itu ketika masuk ke dalam perutnya berproses sedemikian rupa sehingga menjadi madu, cairan kental yang manis serta mengandung berbagai zat yang baik. Madu itu bermacam-macam warnanya, bermacam-macam aromanya, dan bermacam-macam pula cita rasanya, bergantung kepada jenis lebahnya dan juga jenis bunga-bungaan yang diisap oleh lebah itu. Ada madu yang putih, ada yang kekuning-kuningan dan ada pula yang berwarna merah kehitaman. Ayat tadi menyatakan bahwa madu mengandung khasiat yang amat baik untuk manusia. Madu menguatkan tubuh, menyegarkan badan dan memperkuat daya tahan terhadap rupa-rupa penyakit. Bahkan di dalam madu terdapat obat yang menyembuhkan beberapa jenis penyakit. Karena itu Rasulullah menganjurkan umat beliau supaya minum madu, baik ketika sakit maupun ketika sehat.
Dari kenyataan itu jelas bahwa perjuangan lebah ternyata bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, tetapi juga besar manfaatnya bagi manusia. Kita telah membicarakan proses pembuatan propolis oleh lebah. Manfaat propolis untuk lebah adalah sebagai zat penting yang sangat fundamental untuk sterilisasi sarang dari serangan bakteri, jamur dan penyakit.
Para ahli menerangkan, propolis berfungsi melindungi seluruh sarang dan tempat lebah ratu menyimpan telur-telurnya dari hama bacillus larvae yang menyebabkan terjadinya pembusukan telur-telur. Sedang bagi manusia, propolis digunakan sebagai bahan terapi untuk melindungi tubuh dari serangan bakteri, virus, jamur, dan radikal bebas.
Selain itu karena kandungannya yang kompleks, propolis secara simultan meningkatkan fungsi sistem imun atau kekebalan terhadap berbagai penyakit, dan secara langsung menghambat mikroorganisme patogen. Demikianlah Allah Swt menjadikan lebah sebagai contoh dari kekuasaan-Nya yang tidak berbatas, dan kekuasaan itu Dia gunakan untuk memberi kemudahan kepada manusia melalui hewan yang sederhanya yaitu lebah. Maka orang sepantasnya bersyukur, bukan kepada lebah tetapi kepada Pencipta dan Pembina lebah yaitu  Allah yang Maha Agung.
Al-Quran berulang kali mengemukakan keindahan dan kegunaan berbagai makhuk di alam ini bagi manusia. Allah mengadakan matahari yang memancarkan energi berupa cahaya dan panas dalam kadar yang sesuai dengan kebutuhan manusia di bumi. Allah mengatur posisi berbagai kawasan bumi terhadap matahari yang berubah dari waktu ke waktu sehingga terjadi pergantian siang dengan malam secara teratur. Masa siang yang benderang sesuai dengan kebutuhan manusia untuk bekerja keras, sedang masa malam yang gelap dan senyap memenuhi kebutuhan beristirahat.
Allah Mahatahu, di waktu malam yang gelap sebagian orang perlu melakukan perjalanan; maka Dia atur miliaran bintang untuk memancarkan cahaya redup, dan Dia atur pula posisi bintang-bintang itu agar dapat menjadi pemandu arah bagi orang yang bepergian. Allah menjadikan bermacam species hewan, di antaranya ada yang menjadi bahan makanan bagi manusia, ada yang dimanfaatkan tenaganya, dan ada pula yang dinikmati keindahan tubuh maupun ulah geraknya. Ujung dari rangkaian ayat 68 dan 69 surah An-Nahl menyebut semua gejala itu sebagai ayat-ayat Allah, tanda-tanda keagungan Allah, yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berpikir.
Tanda kebesaran Allah yang dikemukakan dalam dua ayat tersebut hanya bagian yang sangat kecil dari keagungan Allah. Masih banyak lagi yang dinyatakan pada ayat-ayat lain, dan jauh lebih banyak lagi yang tidak disebut di dalam Al-Qur’an. QS Fushshilat 41: 53 menegaskan: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Allah menurunkan ayat-ayat-Nya dalam dua bentuk yaitu ayat yang terhampar dalam alam (ayat kauniyah) dan ayat yang Dia turunkan melalui Rasul-rasul-Nya (ayat tanziliah).”
Keduanya berasal dari Allah, maka pastilah dua macam ayat tersebut tidak bertentangan satu sama lain, kecuali dalam tiga hal: Pertama: pemahaman orang terhadap ayat kauniyah salah. Kedua: pemahamannya atas ayat tanziliah keliru. Ketiga: pemahamannya terhadap dua-duanya tidak benar. Bila pemahaman orang terhadap kedua macam ayat benar, ayat-ayat tersebut akan saling menunjang dan mengokohkan iman di dalam hatinya. Orang-orang yang mempunyai sifat seperti itu disebut Al-Quran sebagai Ulul Albab – Cendekiawan (QS Ali Imran 3: 190-191). Ayat 68 dan 69 surah An-Nahl mendorong manusia untuk mencapai derajat yang sangat tinggi tersebut.
Sakib Machmud
No. 174

Selasa, 15 Januari 2013

TAFAKUR

SARANA UNTUK MEMPEROLEH HIKMAH ILAHI
“Allah menganugerahkan al-hikmah - kepahaman -  yang dalam tentang Al-Qur’an dan Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (QS Al-Baqarah 2: 269).
Mengetahui kebenaran sebagaimana yang dimaksud di atas, itulah yang disebut ‘hikmah’. Dengan hikmah, manusia akan lebih mudah menjalani hidup sesuai dengan kehendak Ilahi,karena hikmah akan berfungsi sebagai kendalinya.
Seperti halnya dengan rezeki, maka al-hikmah inipun hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang berusaha untuk mendapatkannya, yaitu orang-orang yang menggunakan kemampuan akal dan rasa yang dimilikinya untuk ‘berfikir’ (bertafakur). Semakin sungguh-sungguh usaha yang dilakukannya, maka semakin tinggi pula kualitas al-hikmah yang diperoleh dari-Nya. Sayidina Ali bin Abi Thalib Ra berkata: “Tiada ilmu yang lebih baik dari pada hasil tafakur’”.
Di dalam Al-Qur’an ditemukan tidak kurang dari 130 kali perintah Allah untuk berfikir (antara lain terdapat pada QS  Shaad 29, QS Adz-Dzariyaat 20-21, QS Yunus 24), dan kehinaan akan menimpa orang yang tidak mau berfikir (QS Al-Furqaan 44, QS Al-A’araf 179, QS Al-Mulk 10).
Berfikir, terbukti merupakan pelita hati, karena itu apabila ia tidak dihidupkan, maka hati akan gelap gulita. Orang yang serius berfikir tentang apa-apa yang telah Allah ciptakan, ataupun tentang sakaratul maut, siksa kubur, maupun kesulitan-kesulitan yang akan dijumpai di hari kiamat kelak, niscaya akan mendapatkan pencerahan jiwa.
Demikian besar keutamaan bertafakur, sehingga Rasulullah Saw pernah bersabda: “Bertafakur sejenak lebih baik dari ibadah satu tahun”. Mengapa Rasulullah berwasiat demikian, hal ini semata-mata karena beliau ingin menyelamatkan ummatnya agar kelak tidak dijadikan untuk isi neraka, sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya Kami ciptakan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mempunyai mata tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), mempunyai telinga tapi tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al-A’raaf 7: 179). 
Keutamaan bertafakur sudah amat jelas, begitupun ancaman bagi yang tidak mau melakukannya, namun mengapa sedikit orang yang mau bertafakur? Hal ini tidak lain karena mereka membiarkan pikiran dan hatinya terbelenggu oleh kentalnya masalah keduniawian. Ketika hati seseorang dipenuhi oleh khayalan, impian-impian mustahil, sendau-gurau yang tidak berguna, serta pengetahuan yang tidak bermanfaat, maka hidayah akan menjauh darinya. Dengan demikian selama orang tidak mau memangkas hal-hal yang dapat merusak keseimbangan antara urusan  dunia dan akhirat di hatinya, maka  selama itu pula ia akan lalai untuk bertafakur. Karena itulah Lukman Hakim memberikan nasihat kepada anaknya: “Janganlah engkau memasuki dunia yang dapat membahayakan akhirat.”
Obyek Yang Dapat Ditafakuri
Sesungguhnya buah dari tafakur adalah keyakinan-keyakinan Ilahiyyah yang akan memudahkan kita dalam pengendalian diri agar dapat selalu taat pada keinginan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu banyak obyek yang dapat ditafakuri, antara lain; 1. Bertafakur mengenai tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, akan lahir darinya rasa tawadhu’ - rendah hati - dan rasa takzim - sikap hormat - akan keagungan Allah. 2. Bertafakur mengenai kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan, akan lahir darinya rasa cinta dan syukur kepada Allah. 3. Bertafakur tentang janji-janji Allah, akan lahir darinya rasa cinta kepada akhirat. 4. Bertafakur tentang ancaman Allah. akan lahir darinya rasa takut kepada Allah. 5. Bertafakur tentang sejauh mana ketaatan kita kepada Allah sementara Dia selalu mencurahkan karunia-Nya kepada kita, akan lahir darinya kegairahan dalam beribadah.
Contoh Tafakur
Bila kita renungkan, sedetik dari hidup ini pun sudah mukjizat. Bagaimana kita bisa bernapas, punya jantung yang berdetak, mata berkedip, telinga yang dapat mendengar, lidah yang dapat merasakan kenikmatan makanan, dan seterusnya. Semuanya sungguh menakjubkan, kalau kita mau berfikir.
Ketika gigi kita tanggal satu, kita menjadi susah makan. Ya Allah, karena gigi satu hilang begitu susahnya. Sekian tahun engkau berikan gigi itu, baru sekali disadari artinya ketika gigi itu copot. Satu gigi yang begitu bernilainya. Dan bagaimana dengan anggota badan yang lain seperti tangan, hidung, mata, telinga dan otak?
Dengan bertafakur seperti ini  akan timbul rasa malu. Betapa Allah telah  memberikan karunia yang sangat banyak, tetapi kita tidak mengabdi kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.
Tafakur Adalah Berfikir Dipadukan Dengan Dzikir
Bila kita berfikir hanya dengan akal, maka yang akan kita temukan adalah; 1. Musibah merupakan suatu hal yang buruk. 2. Tak seorang pun yang mau menerima musibah. 3 Musibah identik dengan apes atau sial. 4. Musibah merupakan hasil perbuatan jahat orang lain pada diri kita. 5. Musibah terjadi semata-mata karena kecerobohan kita saja.
Dari proses berfikir yang demikian, akan menghasilkan keluaran (output), antara lain; 1. Wajar orang mengalami stress ketika tertimpa musibah. 2. Orang yang ditimpa musibah  adalah orang yang malang, yaitu orang yang sedang ‘apes’ atau ‘sial’. 3. Berbuatlah dengan perhitungan yang matang supaya tidak tertimpa musibah.
Hal tersebut akan berbeda bila  berfikir dengan disertai dzikir (menghadirkan nuansa Ilahiyyah dalam hati kita); maka yang akan kita peroleh adalah; 1. Allah selamanya Maha Pengasih dan Penyayang, Allah tidak zalim, namun Ia Maha Adil. 2. Allah Maha Pandai, Maha Pengatur lagi Maha Suci. 3. Allah mendengar doa manusia.
Perpaduan antara ‘fikir’ dan ‘dzikir’ sebagaimana yang dimaksud di atas akan menghasilkan keyakinan-keyakinan sebagai berikut; 1. Tidak wajar bila kita stress pada waktu kita mengalami musibah, bukankah hal ini merupakan realsasi dari permintaan kita “ihdinash-shiraathal-mustaqiim” – tunjukilah kami jalan yang lurus”? 2. Bila Allah memberikan musibah, sebenarnya yang ingin Dia berikan pada kita adalah hikmah. Banyak hikmah yang dapat dilihat di antara taring-taring bencana. 3. Musibah adalah tanda cinta Allah kepada kita, yaitu Dia memberikan peluang bagi kita untuk meningkatkan ketakwaan, bukankah manusia yang paling hebat itu adalah orang yang paling bertakwa?
Ilmu Sebagai Bahan Dasar Untuk Bertafakur
Ilmu diperoleh melalui kesungguhan belajar. Seseorang sekalipun dianugerahi otak yang prima, tetap saja selamanya akan bodoh bila ia tidak mau belajar. Orang yang mempunyai banyak ilmu, tidak disangsikan lagi akan dapat menghasilkan ‘tafakur’ yang berbobot. Karena itulah Islam meletakkan ilmu di atas segala-galanya.
Seorang ahli hikmah mengatakan, bahwa ilmu itu ibarat baterai (accu) mobil. Semakin mobil itu digunakan, maka semakin besar pula muatan listrik baterai tersebut. Sebaliknya, bila mobil itu jarang sekali digunakan, apalagi bila sama sekali  tidak digunakan, maka baterainya akan menjadi lemah dan akhirnya rusak. Rasulullah Saw menegaskan pentingnya mengamalkan ilmu yang telah kita miliki sebagaimana sabdanya: “Barangsiapa yang mengamalkan apa-apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya, dan Allah akan menolong dia dalam amalannya sehingga ia mendapatkan surga. Dan barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya, maka ia tersesat oleh ilmunya itu, dan Allah tidak menolong dia dalam amalannya. Sehingga ia akan mendapatkan neraka.”
Disamping ilmu akan menjadi rusak bila tidak diamalkan, ia juga akan rusak bila pemiliknya merasa tinggi (sombong) dengan ilmunya itu, seperti halnya banjir yang menghancurkan / melongsorkan tempat yang tinggi sekalipun.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwasanya Dia meninggikan derajat orang yang berilmu beberapa derajat lebih tinggi dari orang awam: “Allah akan meninggikan orang-orang  yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al-Mujaadilah 58: 11).
Memiliki banyak ilmu tapi tidak terwujud dalam sikap dan perbuatan juga tidak ada gunanya. “Wahai manusia! Ilmu yang tak membuahkan perbuatan, laksana petir dan guntur yang tidak membawa  hujan. (Hadits Qudsi).
Sayidina Ali bin Abi Thalib yang oleh Rasulullah Saw dijuluki sebagai pintu gerbangnya ilmu, mengatakan: “Tiada kekayaan lebih utama  daripada akal. Tiada kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan lebih baik daripada pendidikan.”
Ketika Sayidina Abi Thalib ditanya tentang mana yang lebih utama antara ilmu dengan harta, maka jawabnya; ▪ “Ilmu lebih utama daripada harta, karena ilmu adalah pusaka para Nabi, sedang harta adalah pusaka Karun, Firaun dan para pengumbar nafsu”. ▪ “Ilmu lebih utama daripada harta, karena ilmu itu menjagamu, sedangkan harta, malah engkau yang harus menjaganya”. ▪ “Harta itu jika engkau berikan menjadi berkurang, sebaliknya ilmu jika engkau berikan, malah kian bertambah”. ▪ “Pemilik harta disebut dengan nama ‘bakhil’ - kikir - dan buruk, tetapi pemilik ilmu disebut dengan nama keagungan dan kemuliaan.” ▪ “Pemilik harta itu musuhnya banyak, sedangkan pemilik ilmu itu temannya banyak”. ▪ “Ilmu lebih utama daripada harta, karena di akhirat nanti pemilik harta akan dihisab, sedang orang yang berilmu akan memperoleh syafa’at”. ▪ “Harta akan hancur berantakan karena lama ditimbun zaman,  tetapi ilmu tidak akan rusak dan musnah walau ditimbun zaman.” ▪ “Harta membuat hati seseorang menjadi keras, sedang ilmu malah membuat hati menjadi bercahaya.” ▪ “Ilmu lebih utama daripada harta, karena pemilik harta bisa mengaku menjadi Tuhan akibat harta yang dimilikinya, sedang orang yang berilmu justru mengaku sebagai hamba Allah karena imunya.”
Indikator Keberhasilan Bertafakur
Keberhasilan tafakur dapat dilihat dari timbulnya motivasi-motivasi yang dapat memudahkan untuk taat melaksanakan aturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Pengalaman telah membuktikan bahwa pekerjaan sesulit apapun akan terasa menjadi ringan bila dilandasi dengan motivasi yang kuat.
Motivasi yang tercipta lewat tafakur ini sifatnya sangat individual, artinya belum tentu cocok dan sesuai digunakan orang lain.
Semoga tulisan ini dapat menimbulkan gairah dan kekhusu’an untuk bertafakur pada kita karena dilandasi oleh kesadaran dan keikhlasan.
(Disarikan dari buku   ‘Bahan Renungan Kalbu’, penulis Permadi Alibasyah)
Mohammad Kamal
No. 173