Memang orang beriman tidak akan abadi di neraka. Rasulullah SAW menerangkan bahwa orang yang ada iman di dalam hatinya walaupun seberat bijih sawi, akhirnya akan dimasukkan ke surga. Tetapi berada di kancah siksaan Allah, sebentar atau lama, pasti tidak dikehendaki oleh siapapun. Maka orang beriman memahami perintah puasa Ramadhan itu bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi kesempatan emas untuk memperoleh kenikmatan, “yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam benak seorangpun”. [Hadits].
Yang kedua, puasa Ramadhan mengantarkan orang yang menunaikannya ke dalam kebahagiaan yang langsung dan segera dirasakannya di dunia. Orang yang berpuasa dengan tulus, di saat lapar dan haus justru merasakan dekatnya Allah. Selalu terngiang di hatinya firman Allah yang diletakkan di tengah ayat-ayat tentang puasa: “Dan apabila hamba-hamba-Ku menanyakan Daku, katakan kepadanya wahai Rasul, Aku sungguh dekat.” [QS Al-Baqarah (2):186].
Orang yang menghayati kedekatan Allah hatinya tenteram, meskipun sedang menghadapi bahaya yang besar, walaupun tengah berurusan dengan masalah yang amat pelik. Allah dekat berarti dekat pula pertolongan dan perlindungan-Nya, dekat pula petunjuk dan jalan ke luar yang disediakan Allah baginya. Tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. [QS Al-Baqarah (2): 112]. Mukmin yang merasa dekat dengan Allah ketika sedang berpuasa, seperti para perajurit Rasulullah tatkala berhadapan dengan musuh yang sangat kuat. Mereka menyatakan suara hatinya yang penuh yakin: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. [QS Ali ‘Imraan (3): 173].
Hati yang tenteram meniupkan udara yang segar untuk berpikir jernih, dan pikiran yang jernih menghasilkan kreatifitas yang tinggi dalam berbagai hal. Maka orang yang tenteram hatinya akan sukses dalam usaha-usahanya tanpa dicederai oleh efek samping seperti stress dan kesombongan. Stress akan dialami oleh orang-orang yang mengharuskan dirinya berhasil di dalam menangani sesuatu dan mematok target-target yang pasti harus dipenuhi untuk waktu yang ditetapkan. Sedangkan orang beriman sadar benar bahwa keputusan atas segala sesuatu tidak berada di tangannya, tetapi ditetapkan oleh Allah SWT.
Kewajibannya sebagai manusia adalah ikhtiar, berusaha dengan sebaik-baiknya. Maka dia menyusun rencana yang cermat, dengan target yang terukur, lalu mengorganisasikan segala daya dengan rapih. Tetapi ingatannya tak pernah lepas dari pesan Al-Quran: “Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, berserah dirilah kepada Allah. Sungguh Dia menyukai orang-orang yang berserah diri”. [QS Ali ‘Imran (3): 159]. Sombong adalah sifat orang yang tidak percaya diri, karena di bawah sadar dia tahu kelemahan-kelemahannya. Dia mencoba meyakinkan orang lain dan dirinya sendiri bahwa kelemahan dan kekurangan itu tidak ada. Maka orang itu menutupi kenyataan dengan menonjolkan hal-hal yang dia kira merupakan kelebihannya.
Fir’aun memanipulasi kelemahannya berargumentasi dengan Nabi Musa, dengan menonjolkan kekuasaannya yang besar atas seluruh warga negara. Kepada orang-orang yang ia khawatir terpengaruh oleh ucapan Musa dia berkata ketus: “Aku adalah tuhanmu yang maha tinggi!”. [QS An-Naazi’aat (79): 24].
Qarun adalah orang yang tidak yakin bahwa kekayaannya yang sangat banyak itu akan membahagiakan dia. Tetapi dia berusaha untuk menimbun perasaan yang menggelisahkan itu dengan mengadakan parade pameran harta. Dia menikmati decak kagum masyarakat dan ucapan khayal mereka untuk menjadi seperti Qarun. Toh kepuasaan hanya sesaat, sesudah itu rasa tak percaya diri datang kembali.
Orang yang hatinya tenteram karena merasa dekat dengan Allah, tidak akan sombong karena ia sadar bahwa hal itu tidak ada gunanya. Dia tahu benar bahwa segala yang ada padanya adalah amanah Allah SWT yang harus dia pertanggung-jawabkan kelak kepada Pemberinya. Kelebihan dan kekurangan pada seseorang adalah ketetapan Allah SWT. Dan Allah menerangkan hal itu kepada manusia agar mereka tidak berduka mengenai apa yang luput darinya, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang Allah berikan padanya. [QS Al-Hadiid (57): 23]. Orang yang tenteram, bersikap tawadhu’ – rendah hati tetapi tidak rendah diri kepada sesamanya. Rasulullah membesarkan hati orang yang bersikap demikian dengan sabdanya: “Tidaklah seseorang berendah hati kecuali Allah meningkatkan martabatnya”. [HR Muslim].
Orang yang merasa dekat dengan Allah, dan karena itu hatinya tenteram, merupakan sosok yang dihormati oleh masyarakat, bukan karena pangkat dan kedudukannya, atau karena kekayaannya, atau karena ilmunya, tetapi karena akhlaknya yang mulia. Ia dihormati karena menghormati orang lain, ia disayangi karena menyayangi orang lain. Pekerti baiknya itu terbentuk oleh keyakinan agamanya. Maka tatkala berjumpa orang lain dia melempar senyum, karena senyum itu sedekah. Kemudian dia menebar salam, karena mengucapkan salam berarti memenuhi seruan Rasul. Dia menghormati tamu yang datang kepadanya, tanpa membeda-bedakan tamu yang kaya dengan yang miskin, yang berpangkat dengan yang jelata, yang tua dengan yang muda. Dia menjalin silaturahim dengan semua tetangga, dan dia tidak mengucapkan perkataan kecuali yang baik dan perlu. Dia melakukan semua itu bukan karena ingin dipuji masyarakat tetapi karena memenuhi perintah Allah dan contoh Rasul-Nya Muhammad SAW..
Orang yang tenteram hatinya menghindari segala perbuatan yang dapat mengganggu ketenteraman hati orang lain. Dia bersikap lemah lembut karena mengikuti keteladanan Rasul. Dia tidak pernah membicarakan keburukan orang lain karena tak pernah melupakan keterangan Allah, dosa bergunjing setara dengan mengunyah-ngunyah daging saudara sendiri yang sudah menjadi mayat. [QS Al-Hujuraat (49): 12]. Ketika hadir di hadapan banyak orang, dia tidak pernah berbisik-bisik kepada beberapa orang di antara mereka, karena khawatir menyinggung perasaan sebagian lainnya. Dia ingat betul firman Allah: “Sesungguhnya perkataan bisik-bisik itu dari syeitan, yang dilakukannya supaya orang beriman berkecil hati, padahal tidak akan orang beriman merasa kecil hati kecuali atas ijin Allah. [QS Al-Mujaadilah (58): 10]. Dia juga mengingat-ingat penegasan Rasul berkenaan dengan hal tersebut: “Jika kamu sedang bertiga, janganlah dua orang di antara kalian berbisik-bisik dengan meninggalkan seorang yang lain sebelum datang lagi orang yang lebih banyak, karena hal itu menyusahkan dia”. [HR Bukhari dan Muslim].
Orang yang tenteram hatinya, bila orang lain berbuat buruk kepadanya kemudian menyesali perbuatannya itu, dia segera memberi maaf. Dia ingin sekali memenuhi salah satu ciri orang yang takwa seperti yang dinyatakan dalam QS Ali ‘Imraan (3): 134 yaitu; mampu menahan marah dan mudah memaafkan kesalahan sesama manusia.
Orang yang hatinya terteram merasa gembira bila dapat menolong orang lain dengan menafkahkan apa saja yang ada pada dirinya, yang bermanfaat bagi yang dibantunya. Dia sadar bahwa Allah memberikan rizki kepada semua yang melata di muka bumi [QS Huud (11): 6], tetapi Dia meluaskan rizki sebagian orang dan menyempitkan sebagian yang lain. [QS Al-Israa’ (17): 30].
Maka sepantasnyalah orang yang berkecukupan menafkahkan sebagian hartanya untuk membantu yang kekurangan. Allah menyemangati orang yang menafkahkan harta untuk kebaikan, dengan menjanjikan baginya balasan yang sangat besar. Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus bijih. Allah melipat-gandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui. [QS Al-Baqarah (2): 261].
Tetapi Allah menyeru orang yang sempit rizki agar menjadi muta’affif – orang yang menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta kalau tidak benar-benar terpaksa. Rasulullah SAW menyatakan, orang yang meminta bukan karena terpaksa, yang ia minta itu adalah sepotong api neraka. Itulah keseimbangan sosial yang dikehendaki Allah. Yang kaya bersemangat memberi, yang miskin menahan diri.
Orang yang tidak memiliki cukup harta, dapat pula menafkahkan tenaganya, atau pikirannya, termasuk kritik yang jujur dan disampaikan dengan ma’ruf – pantas, kepada orang yang membutuhkan. Rasul bersabda: “Tolonglah saudaramu, yang zhalim dan yang dizhalimi”. Seseorang bertanya: “Kami tahu bagaimana menolong yang dizhalimi. Tetapi bagaimana menolong yang zhalim, ya Rasul?”. Beliau menjawab: “Dengan menahan tangannya”. Artinya menghalangi dia melaksanakan kezhaliman yang direncanakannya. Betapa indahnya masyarakat yang hidup dalam kebersamaan dan kedamaian, saling membantu dengan tulus, dan saling menghindari perbuatan tak terpuji kepada orang lain. Masyarakat demikian itu hanya dapat dibentuk oleh pribadi-pribadi yang tenteram hatinya, yang berserah diri kepada Allah, bersyukur atas apa yang ada padanya dan sabar atas apa yang tidak dimilikinya.
Puasa Ramadhan merupakan salah satu wahana mewujudkan pribadi-pribadi demikian itu. Tetapi puasa yang berhasil adalah yang tidak hanya mempuasakan perut dan faraj, tetapi mempuasakan nafsu sehingga terkendali, tidak berlebihan dan tidak salah arah. Mudah-mudahan semua kita mampu melaksanakannya.