Minggu, 25 Agustus 2013

PERSEPSI DAN KEBENARAN HAKIKI

Dalam kehidupan kita sehari-hari, seseorang yang akan bepergian memanjatkan doa kepada Allah agar diberikan keselamatan selama perjalanan, namun dalam perjalanan kebetulan terjadi suatu musibah kecelakaan. Dia menganggap doanya tidak didengar dan tidak dikabulkan Allah, bahkan  menganggap tidak adil, karena rencana yang disusun bersamaan dengan perjalanan tidak terlaksana.

Seiring dengan berjalannya masa, semakin berkembangnya budaya dan majunya ilmu pengetahuan, serta  semakin beragamnya corak dan pola kedupan duniawi dalam segala aspeknya, semakin beragam pula sikap dan cara pandang terhadap masalah-masalah tersebut, yang perlu kita cermati khususnya bagi kebanyakan ummat Islam. Beberapa pandangan atau persepsi terhadap suatu keadaan kadang-kadang tidak sesuai dengan Al-Qur’an, walaupun kedengarannya benar, kalau tidak waspada dapat mengakibatkan lunturnya keimanan kita, sebagaimana contoh akibat yang ditunjukkan pada kedua kisah di atas.

Allah sudah mengingatkan hal tersebut melalui ayat di dalam Al-Qur’an: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah 2: 216).

Ayat di atas mengingatkan bahwa pendapat manusia kadang-kadang hanyalah kebenaran sesaat, karena memang sifat manusia yang kemampuannya terbatas untuk mengetahui yang hakiki. Al-Qur’an adalah sumber kebenaran yang hakiki.

Beberapa contoh di bawah ini menunjukkan cara pandang yang keliru untuk dicermati dan untuk memagari diri agar tidak terlanjur menjadi ‘salah kaprah’ yang dapat menjurus kepada pelemahan iman seseorang. Hal-hal tersebut antara lain cara pandang atau persepsi terhadap; hidayah Allah, tokoh panutan, mahzab, saling memberi dan saling menerima, dan halal bihalal.

Hidayah Allah

Allah hanya memberikan hidayah kepada yang dikehendaki-Nya. Pandangan tersebut berdasarkan ayat sebagai berikut: “Demikianlah Allah menyesatkan siapa saja menurut kehendak-Nya dan memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu melainkan Dia.” (QS Al-Muddatstsir 74: 31).

Dengan pemahaman yang  ‘keliru’ mengenai masalah pemberian hidayah Allah ini mengakibatkan orang malas berjuang untuk memahami kebenaran dan melawan hawa nafsunya. Karenanya ia akan selalu berdalih bahwa kesesatannya itu karena Allah belum memberinya hidayah. Begitu juga seseorang yang beranggapan, ia tidak mau menunaikan ibadah haji dengan berdalih bahwa ia belum mendapat ‘panggilan’ dari Allah.

Untuk melengkapi pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an mengenai hidayah Allah, perlu untuk disimak ayat-ayat di bawah ini: ▪ “Dan  Allah tidak memberi hidayah (petunjuk) kepada orang pendusta yang sangat ingkar.” (QS Az-Zumar 39: 3). ▪ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, maka Tuhan mereka akan memberikan petunjuk kepada mereka karena iman mereka.  (QS Yunus 10: 9). ▪ “Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Karena Allah itu mengetahui segala sesuatu. (QS At-Taghabun 64: 11). ▪ “Sesungguhna Allah menyesatkan kepada siapa saja yang dikehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang bertobat  kepada-Nya. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan yang hati mereka merasa tenteram dalam zikir (mengingat) Allah.   (QS Ar-Ra’d 13: 27-28).

Dengan demikian disimpulkan bahwa Allah memberikan hidayah kepada seseorang karena sebelumnya orang tersebut sudah melakukan amalan-amalan yang disenangi-Nya. Ini menunjukkan bahwa Allah Maha Adil.

Sebagai tambahan atas penjelasan di atas, diingatkan melalui ayat berikut: ▪ “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik”. (QS Al-Israa’ 17: 19). ▪ “Dan taatilah perintah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat”. (QS Ali ‘Imraan 3: 132).

Tokoh Panutan

Banyak orang menganggap tokoh yang paling baik untuk jadi panutan adalah ulama atau orang tua. Pandangan ini sekilas baik, namun apabila hal ini diyakini benar, pada suatu saat akan mengalami kekecewaan, yaitu apabila ulama yang diidolakan melakukan kesalahan yang sebenarnya adalah kesalahan manusiawi biasa. Demikian juga yang menjadikan orang tua sebagai panutan. Apabila orang tuanya itu berbuat salah, maka penghormatan terhadap orang tuanya akan menurun. Bahkan mungkin akan berbuat zhalim kepada orang tuanya. Hal ini berarti ia telah melakukan dosa besar. Bukankah Allah memerintahkan kita agar selalu berbuat baik kepada orang tua dalam keadaan apapun?.

Demikian juga fenomena yang menjadi kecenderungan saat ini antara lain apa yang disebut ‘guru spiritual’, yaitu sebutan bagi tokoh yang oleh seseorang dianggap menjadi panutan, tempat bertanya atau curhat, dan sekaligus merupakan figur yang dipercaya memberi kekuatan maupun bimbingan dalam menghadapi masalah-masalah dunia yang sangat komplek. Seorang yang beriman wajib menjaga dirinya dari perbuatan syirik yang melemahkan imannya. Bila ingin mencari guru sebagai panutan dan pembimbing rohani, upayakan untuk tidak menjurus ke arah mengkultuskan seseorang dan menghindarkan dari perbuatan syirik.

Panutan kaum Muslimin hanyalah satu yaitu Nabi Muhammad Saw. Banyak suri tauladan yang ditinggalkan oleh Rasulullah Saw, oleh karena itu seharusnyalah kita menjadikannya sebagai satu-satunya panutan. Ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab 33: 21).

Ayat Al-Qur’an tersebut cukup memberikan pedoman yang tegas tanpa kompromi, bahwa satu-satunya tokoh yang harus ditauldani oleh ummat Islam adalah Nabi Muhammad Saw. Untuk dapat meneladaninya, kita harus mengenal lebih jauh beliau, dengan jalan membaca dan mempelajari sejarah kehidupan beliau, agar kita menjadi lebih ‘mencintai’ Rasulullah.

Mahzab

Fanatik terhadap Mahzab merupakan kekeliruan yang dapat mendatangkan bencana, baik bagi diri sendiri, juga bagi kaum muslimin. Kefanatikan terhadap mahzab ini telah ditunjukkan oleh sejarah, membuat ummat Islam tercerai berai. Masing-masing berpendapat hanya mahzab atau fahamnya yang benar dan menganggap faham orang lain keliru. Mereka tidak segan-segan berperang dan berbunuh-bunuhan sesama Muslim karena mempertahankan fahamnya. Padahal, jangankan saling berbunuhan, memutuskan persaudaraan antar kaum Muslimin saja mendapat laknat dari Allah Swt.

Sebaiknya kita kembali kepada Al-Qur’an untuk dijadikan pedoman dalam menyikapinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, maka itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat 49: 10). “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan kekeluargaan? Mereka itulah yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka, serta dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS Muhammad 47: 22-23).

Sikap fanatik mahzab ini membuat orang menjadi bodoh dan berpandangan sempit, karena mereka tidak mau mendengar pendapat aorang lain. Mereka melihat siap ayang bicara, bukan apa yag disampaikan. Padahal Rasulullah mewajibkan setiap orang Islam menuntut ilmu sebnyak-banyaknya sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, bahkan kalau perlu sampai ke negeri Cina.

Saling Memberi Dan Saling Menerima

Cara pandang bahwa dalam melakukan hablum minannas dengan memakai konsep ‘saling memberi dan saling menerima’ sekilas adalah merupakan hal yang adil dan seimbang. Namun konsep tersebut dalam pergaulan sebenarnya tidak Islami, karena ada pamrih agar orang yang kita perlakukan dengan baik itu berlaku pula pada kita. Atau dengan perkataan lain, tindakan kita tidak lillahi taala - ikhlas karena Allah. Mungkin kita akan sakit hati, dendam, atau berlaku zhalim kepada orang itu bila ia tidak bertindak seperti harapan kita. Allah melarang kita mempunyai sifat dendam dan melarang melakukan perbuatan zalim.

Karenanya sebaiknya lakukanlah hablum minannas sesuai dengan yang menjadi kewajiban kita, adapun orang lain tidak  melakukan kewajibannya, itu bukan urusan kita, melainkan urusan mereka dengan Allah. 

Pemahaman ini kita berpedoman pada hadits berikut: “Sesungguhnya semua amal haruslah berdasakan niat, dan sesungguhnya tiap-tiao manusia akan dibatasi menurut apa yang diniatkannya. Maka barang siapa yang berhijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka berhijrahlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang berhijrah karena dunia (harta atau kemegahan dunia) atau karena seorang perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.” (HR Saikhan dari Umar).

Halal Bihalal

Kata halal dari segi bahasa hukum diartikan sebagai sesuatu yang bukan haram, sedangkan haram merupakan perbuatan yang mengakibatkan dosa dan ancaman siksa. Seperti diketahui dalam Islam dikenal lima hukum yaitu, wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Empat yang pertama termasuk kelompok halal (termasuk di sini makruh yang dianjurkan untuk ditinggalkan).

Salah satu dari ayat dalam Al-Qur’an yang mengandung kata halal, yaitu: “Katakanlah, Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu ataukah kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS Yunus 10: 59).

Dalam istilah ‘halal bihalal’ yang berlaku selama ini, tidak terlihat secara pas arti kata halal seperti diterangkan pada ayat di atas. Karena itu, sebaiknya kata halal pada istilah halal bihalal tidak dipahami dalam pengertian hukum, kecuali menjadi istilah yang sudah lumrah sebagai wacana bersilaturrahim untuk saling memaafkan dan terjalinnya keserasian antar sesama. 

Saling memaafkan pada saat Idulfitri dan Halal Bihalal, bukan berarti mengkhususkan maaf hanya pada momen itu saja. Terlebih dikatakan sebagai menambah-nambahi syariat (bid'ah). Yang terpenting. Yang terpenting adalah kau, Muslimin mayakini bahwa saling memaafkan tidak memiliki batas waktu. Tetapi jika sampai meyakini bbahwa memaafkan dan silaturahmi hanya berlaku saat Idul Fitri atau Hahal Bihalal saya itulah yang salah secara syariat. 

Jadi, Hahal Bihalal Bihahah adalah salah satu keluwesan ajaran Islamdalam implementasi nilai-nilai Islam dalam implementasi nilai nilai universsalitasnya. Nilai universalitas silaturahim yang diajarkan Islam, bisa menjelma menjadi beragam acara sesuai dengan kearifan lokal masing-masing daerah, dengan catatan tetap mengindahkan norma-norma Islam yang sudah ditentukan, asalkan tidak tercampuri kemaksiatan apapun dalam implementasinya.

Demikian, sekelumit catatan semoga menjadi tambahan pencerahan dan pemahaman dalam menyikapi dan menjaga harmonisnya dengan sesama, dan menjaga keimanan kepada Allah. Insya Allah. 
Mohammad Kamal
 No.195


 

Kamis, 15 Agustus 2013

IDULFTRI, KEMBALI KE FITRAH

Baru saja kita merayakan Hari Raya Idul Fitri 1434 H setelah menyelesaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan, semoga amal ibadah puasa, shalat tarawih dan amal-amal kita lainnya diterima dan mendapat ridha Allah Swt dan diampuni segala dosa dan kesalahan kita. Dengan berakhirnya puasa Ramadhan, timbullah berbagai macam perasaan kita dalam menyikapinya. Kita merasa bahagia karena telah selesai melaksanakan amanah dan perjuangan berat melawan hawa nafsu. Kita dapat merasakan kembali santapan yang lezat di mana sebelumnya kita harus menahan diri, dan merasakan segarnya minuman pada siang hari di mana kita harus menahannya selama bulan puasa. Kita merasakan ke bahagiaan sebagaimana bahagianya pada waktu berbuka puasa. Harapan kita, semoga amal ibadah Ramadhan yang baru diakhiri ini benar-benar mampu mengantarkan jiwa dan raga kita menjadi orang-orang muttaqin.

Apabila harapan ini menjadi kenyataan, insya Allah kita akan menuai keberuntungan yang Allah janjikan sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an: “Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, pasti Allah akan berikan jalan keluar (dari kesempitan di dunia dan di akhirat). Dan pasti Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak diduga-duga. Dan siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kemudahan urusannya (di dunia dan di akhirat). Dan siapa yang ber-takwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus berbagai kesalahan / kejelekannya dan Allah akan melipatgandakan pahalaNya”. (QS At-Thalaq 65: 2-5).

Namun di sisi lain kita juga merasa sedih, bahkan menangis karena cemas dan kawatir kalau ternyata Ramadhan telah berlalu tanpa nilai tambah dan mutu, karena dalam mengemban perintah Allah untuk melaksanakan ibadah puasa sasarannya agar kita menjadi orang yang bertakwa. Bahkan lebih ekstrim lagi kekhawatiran kita, apakah kita masih dapat bertemu bulan Ramadhan pada tahun depan. Demikianlah gambaran rasa senang dan sedih setiap kita meninggalkan bulan suci Ramadhan, meskipun setiap orang mempunyai kadar berbeda dalam menyikapinya.

Selesai Ramadhan, maka kita ber’Idul Fitri’ atau ‘kembali kepada fitrah’. Selama bulan puasa yang merupakan bulan ‘ujian kenaikan tingkat’ bagi setiap orang yang mengaku beriman,  sekaligus sebagai bulan koreksi atas penyimpangan dari fitrah manusia, untuk selanjutnya kembali kepada fitrahnya dengan mengharapkan ridha Allah  agar termasuk kedalam golongan orang-orang muttaqin.

‘Fitrah’ Manusia Yang Paling Asasi Adalah ‘Tauhid’

Tauhid, yaitu pengakuan terhadap Allah sebagai Tuhan sebagaimana tertulis dalam ayat Al-Qur’an: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu melahirkan keturunanmu dan para anak Adam dari tulang rusuknya dan menyuruh mereka bersaksi terhadap dirinya sendiri, atas pertanyaan: ‘Bukankah Aku Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan  yang demikian itu) agar di hari kiamat nanti kamu tidak berkata: ‘Sesungguhnya kami tidak mengetahui hal itu (keesaan Tuhan)“ (QS Al-‘Araaf 7: 172). Makna dari ayat-ayat di atas adalah pengakuan kita bahwa tiada Tuhan selain Allah. Untuk itu kita siap untuk taat, patuh, tunduk dan menyerahkan diri hanya kepadaNya. Kita siap untuk melaksanakan seluruh perintahNya, menjauhi seluruh larangan-Nya, berhukum pada hukum-Nya, dan kita hanya mengharap ridha dari Allah.

Tauhid mengantarkan manusia mengakui bahwa keesaan Allah mengandung konsekuensi keyakinan bahwa segala sesuatu bersumber serta kesudahannya berakhir pada Allah Swt. Dia-lah Pemilik mutlak dan tunggal yang dalam genggaman-Nya segala kerajaan langit dan bumi. Keyakinan demikian mengantarkan seorang muslim untuk menyatakan sebagaimana dalam doa ruku’: “Ya Tuhanku, Kepada-Mulah aku ruku’, dengan-Mu aku beriman, dan kepada-Mu aku menyerah. Engkau adalah Tuhanku. Kepada-Mu pendengaran dan penglihatanku tunduk, dan begitu juga otak dan tulang-tulangku.” (HR Muslim dan Abu ‘Awanah).

Keyakinan terhadap adanya Tuhan sesungguhnya sudah ada dalam diri manusia, baik sadar atau tidak, seperti tercantum dalam ayat Al-Qur’an: “Sesunguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’, maka betapakah mereka dipalingkan dari jalan yang benar.” (QS Al-Ankabuut 29: 61) 

Seluruh manusia mengakui Allah sebagai pencipta, namun sudahkah kita meng’Esa’kan Allah dalam seluruh hidup dan kehidupan kita? Maka di sinilah persoalannya, apabila seseorang yang hanya mengakui Allah, tetapi dia tidak meng’esa’kan Allah, maka sebenarnya dia telah menyimpang dari ‘fitrah’nya.

Mengapa Kembali Ke Fitrah?

Dalam perjalanan hidup manusia di dunia yang penuh dengan godaan terutama oleh pengaruh hawa nafsu dan kekuasaan, sangat mungkin terjadi penyimpangan dari fitrah. Bentuk penyimpangan dari fitrah yang paling mendasar adalah ‘syirik’, yaitu menganggap ada Tuhan selain Allah. Kadang-kadang kita merasa sudah tauhid, tapi pada hakikatnya menjurus kepada syirik. Ketika mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ kita sering mengartikan hanya sebatas tiada Tuhan selain Allah, namun barangkali kita belum mengartikan secara utuh bahwa hanya Allah yang ‘maha segala-galanya’. Kita harus meyakini  mengucapkan dan melaksanakan ‘laa ilaaha illallahu’ dalam arti tidak ada pencipta, raja, pemimpin tujuan, tempat kembali, rizki, penguasa, hukum, kedudukan, kepandaian, dan seterusnya kecuali semua milik Allah. Dia memiliki ling-kup yang luas, seluas kemahaan zat, nama dan sifat-Nya. Memaknakan ‘laa ilaaha illallahu’ hanya sebatas pengertian tidak ada Tuhan selain Allah, berarti kemurnian tauhid  seperti yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul belum tertanam dalam dirinya, maka berarti fitrahnya masih tertutup syirik.

Apabila orang yang mengaku sudah ber’Idul fitri’, sementara imannya masih terselubungi syirik, tauhidnya bercampur kufur, aqidah-nya berbagi dengan selain Allah, maka sebenarnya dia belum ber’idul fitri’, walaupun menyambut ‘Idul Fitri’ lengkap dengan ketupat dan baju barunya. Karena itu marilah kita seru mereka, sekaligus mengevaluasi diri kita agar kembali kepada fitrah yang sebenarnya, dalam arti mengembalikan pengertian dan pemahaman yang  benar akan tauhid, dan menghilangkan unsur-unsur syirik dalam setiap tindak tanduk kegiatan amal sehari-hari.

Bentuk penyimpangan dari fitrah atau syirik sangat mudah dan kadang-kadang tidak terasa seseorang terbawa kesana karena sudah lumrah terjadi di masyarakat, antara lain:

Pertama. Mencari pertolongan kepada kekuatan selain Allah. Karena lemahnya iman dan kurangnya pemaham-an agama serta kurangnya keyakinan bahwa Allah ta’ala adalah tempat meminta pertolongan, merupakan faktor utama seseorang mencari alter-natif lain untuk menyelesaikan permasalahan hidup, dan menggan-tungkan harapan kepada kekuatan lain seperti dukun, paranormal dan sebagainya. Solusi yang Islami untuk ini adalah meminta pertologan kepada Allah dengan sabar dan shalat, seperti firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada) Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah 2: 153).

Kedua. Mempercayai kekuatan gaib atas suatu benda yang dikeramatkan, seperti pusaka, benda peninggalan, atau azimat, yang diyakini bisa membawa berkah dan keselamatan, bahkan mem-punyai kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia. Kadang-kadang kepercayaan tersebut dibungkus dengan ayat-ayat Al-Qur’an, namun disertai amalan-amalan yang tidak diajarkan dalam Al-Qur’an.

Ketiga. Meyakini bahwa keberhasilan dan kemajuan diperoleh karena hasil jerih payah serta upaya pikiran manusia. Di sini orang tidak mensyukuri dan lupa bahwa semua itu atas kehendak dan karunia Allah.

Keempat. Mencampur-adukkan ajaran berbagai agama dan kepercayaan dengan maksud untuk mencari penyelesaian masalah dunia. Untuk ini marilah kita simak firman Allah: “Orang-orang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS Al-Anam 6: 82).

Seruan Kembali Kepada Fitrah

Penyimpangan dari fitrah selalu ada dan sudah berlangsung sejak awal-awal kehidupan manusia, baik di zaman nabi-nabi sampai sekarang ini. Ketika penyimpangan manusia dari fitrahnya mencapai puncaknya, Allah selalu mengutus seorang Rasul untuk mengembalikan manusia pada kesucian fitrahnya. Tugas para Nabi dan Rasul dalam sejarah kenabian sampai dengan Rasulullah Muhammad Saw, adalah menyeru manusia untuk kembali kepada fitrahnya mengakui tiada Tuhan selain Allah.

Seseorang yang imannya teguh, tauhidnya kukuh, aqidahnya mantap, adalah orang yang memiliki dan berpegang dengan fitrah asasi. Hal itu dapat di peroleh  antara lain melalui upaya yang terus menerus untuk mendalami tauhid, menjauhi syirik, melatih diri memperbanyak amal shaleh serta mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan. Pada bulan ini Allah memberikan ampunan, pahala yang melimpah, bahkan Allah menurunkan suatu malam ‘Laitul Qadar’ yang lebih baik dari seribu bulan. Demikianlah Allah menjadikan Ramadhan sebagai wahana bagi setiap mukmin untuk mengevaluasi, mengoreksi, dan men-dekatkan diri pada Allah, mempertebal iman, serta kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk memperbanyak ‘timbangan’ melipatgandakan pahala. Maka apabila seseorang telah khusyu’ dan ikhlas melaksanakan itu semua, dia  layak disebut orang yang ber ‘Idul Fitri’.

Bila iman yang fitri harus bersih dari syirik, maka selanjutnya diikuti dengan amal perbuatan yang fitri juga harus bersih dari bid’ah dan khurafat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih menyaksikan banyak-nya ummat Islam, mungkin termasuk kita juga, yang dalam amal ibadahnya masih belum bersih dari bid’ah dan khurafat. Padahal Nabi dalam salah satu haditsnya menyerukan: “Barang siapa berbuat sesuatu yang tidak ada contohnya dariku, maka perbuatan itu tertolak”

Betapa ruginya bila kita sudah menghabiskan waktu, tenaga dan biaya untuk suatu yang kita anggap sebagai ibadah, tapi ditolak karena tidak ada contoh dari Nabi. Karena itu lebih baik kita tinggalkan hal-hal yang tak berguna agar tidak rugi dan selamat dari api neraka. Iman yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah akan melahirkan al-akhlaqul-karimah, di mana salah satu ciri al-akhlaqul-karimah adalah keikhlasan dalam seluruh amal ibadahnya, karena beribadah hanya untuk mengharap ridha Allah Swt.
Mohammad Kamal
No. 194

Kamis, 08 Agustus 2013

IDUL FITRI 1 SYAWAL 1434 H



SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1434 H

Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum wa ja’alna minal ‘aidin wal faizin

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ
 وَجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِين وَالْفَائِزِين

Semoga Allah menerima amalan-amalan kita, menerima puasa kita,
dan semoga Allah menjadikan kita
termasuk (orang-orang) yang kembali (dalam keadaan yang suci)
dan mendapatkan kemenangan.

جما عة الصّرا ط المستقيم
Jama'atush-Shiraathal-Mustaqiim