Selasa, 25 September 2012

MENGHAYATI KALIMAT BASMALAH


PENGANTAR
Mulai dari penerbitan nomor ini insya Allah 'Media Dakwah Al-Mustaqiim' memperkenalkan pendekatan baru yang dikenal sebagai Tafsir Maudhu'i atau Tafsir Tematik. Apabila biasanya kita membicarakan suatu masalah yang kita kupas dengan menggunakan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai norma pokoknya, dalam Tafsir Maudhu'i kita berangkat dari satu atau beberapa ayat Al-Qur‘an, yang kemudian kita jabarkan untuk menyoroti berbagai persoalan nyata di dalam masyarakat. Tafsir Maudhu'i ini akan kita sajikan sebulan sekali, Semoga dapat menambah wawasan dan pemahaman kita terhadap petunjuk Allah Swt yang Dia turunkan sebagai Rahmat bagi hamba-hamba-Nya, termasuk kita. Tafsir Maudhu’i ini kami awali dengan tema:
MENGHAYATI KALIMAT BASMALAH
‘Basmalah’ adalah kalimat di dalam Al-Qur’an: “Bismillahirrahmanir-rahim”, yang biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai: “Dengan (menyebut) nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Ulama berbeda pendapat tentang kedudukan kalimat tersebut di dalam Al-Qur’an. Ada tiga pendapat.
Pertama, yang menyatakan bahwa basmalah merupakan ayat pertama dari semua surah, kecuali QS At-Taubah 9. Maka menurut kelompok ini, ayat pertama dari QS Al-Faatihah 1 sampai dengan QS An-Naas 114 adalah Bismillahirrahmanirrahim. Mengenai QS At-Taubah, sejak dari kodifikasi Al-Qur’an yang disusun pada masa Khalifah Utsman bin ‘Affan, surah  9 itu tidak dimulai dengan basmalah.
Pendapat kedua menyatakan, basmalah pada permulaan surah hanya merupakan pembatas antara dua surah, bukan ayat pertama dari surah yang manapun, termasuk QS Al-Faatihah 1. Kalimat itu dalam Al-Qur’an hanya merupakan bagian dari QS An-Naml 27: 30, yaitu yang menyatakan: Innahu min Sulaimana wa innahu Bismillahirrahmanirrahim - Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: "Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
Pendapat ketiga menyatakan basmalah sebagai ayat pertama dari surat Al-Faatihah saja. Penulis mengambil pendapat terakhir ini.
Ayat pertama QS Al-Faatihah 1, diawali dengan perkataan Bismillah, yang umumnya diterjemahkan: "Dengan nama Allah" atau "Dengan menyebut Nama Allah". Para penafsir menyatakan, maksud perkataan 'dengan Nama' adalah memulai sesuatu dengan menyebut Nama Allah, atau memulai sesuatu dengan berdo’a kepada Allah. Tetapi dalam bahasa Indonesia, ungkapan 'dengan nama’ itu tidak dikenal. Yang diketahui dan umum digunakan adalah 'atas nama'. Karena itu menurut pendapat penulis, lebih tepat bila perkataan Bismillah itu dimaknai di dalam Bahasa Indonesia sebagai "Atas Nama Allah".
Dengan demikian orang yang mengucapkan kalimat itu menyatakan pengakuannya bahwa yang hendak dia lakukan, termasuk membaca Al-Qur’an, dia niatkan ‘karena Allah’ atau untuk memenuhi perintah Allah. Perkataan ini memang seyogyanya diucapkan seorang Mukmin setiap kali hendak memulai suatu pekerjaan. Mengenai hal ini Rasulullah Saw bersabda: "Setiap perbuatan penting yang tidak dimulai dengan bismillah maka perbuatan itu kurang berkah." (HR Abu Dawud).
Tetapi hendaknya kalimat basmalah itu disertai atau muncul dari hati, dan orang menghayati maknanya. Dengan demikian ucapan itu mempunyai dua makna: sebagai niat, sehingga pekerjaannya menjadi ibadah, dan sebagai pagar yang kukuh. Dia sudah meniatkan melakukan sesuatu 'karena Allah', maka dia akan berusaha keras agar selalu berada di jalan Allah dan tidak akan melanggar larangan-Nya.
Bagian terpenting dari ayat ini adalah perkataan 'Allah'. Siapakah dia? Semua sepakat bahwa Allah adalah yang mencipta dan mengatur serta memiliki seluruh alam. Hanya Dia yang menghidupkan, memberi perlengkapan hidup, rizki dan petunjuk kehidupan kepada manusia. Dia memberi kemampuan alamiah kepada manusia untuk mengenal diri-Nya. Psikolog terkemuka pemenang hadiah Nobel, Prof. Dr. Carl Gustav Yung menyebut potensi mengenal Tuhan itu naturaliter religiosa, kesadaran akan Tuhan yang alamiah. Al-Qur’an secara metaforik (kiasan) menggambarkan hal itu: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka dengan berfirman: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab: “Benar, Engkau adalah Tuhan kami. Kami menjadi saksi akan hal itu.” QS Al-A’raaf 7: 172).
Potensi mengenal Tuhan itu dipunyai manusia sejak lahir, maka orang-orang Arab penyembah berhala pun mengenal Tuhan, bahkan mereka juga menyebut Tuhan yang mencipta dan menguasai segala sesuatu itu ‘Allah’. QS Luqman 31: 25 menyatakan, “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka; "Siapakah yang mencipta langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Allah". Hanya saja pandangan orang-orang Arab jahiliyah tentang Allah berbeda dengan keterangan yang dikemukakan Allah sendiri. Mereka menganggap Allah tidak berkomunikasi dengan manusia. Untuk itu manusia memerlukan 'perantara', yakni berhala-berhala, yang meneruskan keinginan dan permohonan manusia kepada Allah, dan kemudian menurunkan anugerah Allah kepada manusia. Maka pada saat-saat tertentu orang-orang Musyrik Arab mempersembahkan sesuatu kepada berhala-berhala mereka; al-Lata, al-Uzza, Manaat dan lain-lainnya agar bersedia menyampaikan permohonan mereka kepada Allah dan berkenan pula meneruskan anugerah dari Allah kepada mereka.
Anggapan orang-orang Arab jahiliyah itu jelas sekali salah; para ulama sepakat bahwa kepercayaan mereka termasuk syirik - menyekutukan Allah, memandang ada sekutu bagi Allah, yang mempunyai kekuasaan atau kekuatan setara dengan Allah. Maka QS Al-'Ankabuut 29: 61 mengecam pernyataan kaum Musyrikin Qureisy itu dengan sebuah pertanyaan retorika: "Maka betapa mereka dapat dipalingkan (dari jalan Allah yang benar)."
Namun pandangan kaum Musyrikin Arab yang salah bahkan merupakan sikap syirik itu justru kemudian diambil alih sebagian orang yang sudah menyatakan dirinya Muslim. Mereka menjadikan kuburan para ulama yang sangat mereka muliakan, sebagai wasilah - perantara untuk menyampaikan permohonan kepada Allah. Mereka juga sering meminta para kiyai untuk mendo'akannya dan berkeyakinan bahwa do'a orang-orang 'suci' itulah yang pasti mendatangkan kebaikan dari Allah Swt. Sampai sekarangpun masih cukup banyak orang yang menganggap dirinya mendapatkan berkah Allah karena telah bersalaman dengan kiyai, bahkan karena meminum atau memakan sisa yang telah disantap oleh kiyai.
Al-Qur’an mengajarkan, Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, yang tidak berputera dan tidak diputerakan, yang sendirian tanpa batuan siapapun mengatur segala proses yang berlangsung di seluruh alam kemudian menentukan hasil-hasilnya. Allah tidak memerlukan perantara untuk berkomunikasi dengan hamba-hamba-Nya. QS Al-Baqarah 2: 186, menegaskan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Rasul) tentang Daku, jawablah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia memohon (langsung) kepada-Ku." Dengan keterangan tadi jelas bahwa petunjuk terpenting yang dikemukakan Al-Qur’an tentang Tuhan tidak terletak pada penyebutan namanya tetapi pada pengenalan hakikat-Nya, posisi-Nya, dan hubungan-Nya dengan manusia. Karena itu ayat-ayat yang pertama-tama diturunkan kepada Rasulullah Saw tidak atau belum menyebut Nama itu. QS Al-‘Alaq 96: 1, menggunakan perkataan Rabbuka - Tuhanmu. Begitu pula keterangan pada QS Al-Muzammil 73 dan QS Al-Mudatstsir 74, dan surah-surah yang memuat ayat-ayat yang diturunkan kepada Rasulullah Saw pada masa awal kenabian beliau. Sebutan 'Allah' dikemukakan setelah orang memperoleh keterangan yang memadai mengenai apa dan bagaimana Rabb itu.
Selanjutnya QS Al-Faatihah 1: 1 memaparkan dua sifat Allah, yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim, diterjemahkan sebagai “Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Banyak pendapat tentang makna dua sifat tersebut, tetapi semua sependirian bahwa Rahman dan Rahim berasal dari akar kata yang sama yang makna dasarnya kasih sayang. Sebagian ulama menyatakan bahwa Rahman adalah kasih sayang yang umum, yang dicurahkan Allah kepada semua makhluk-Nya, sedangkan Rahim adalah kasih sayang khusus, yaitu untuk mereka yang beriman dan mewujudkan imannya itu dalam bentuk amal shaleh. Sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa Rahman adalah kasih sayang yang bersifat sementara atau duniawi, sedangkan Rahim bersifat tetap, diturunkan di akhirat. Dua sifat tersebut merupakan sifat-sifat Allah yang paling banyak dinyatakan dalam Al-Qur’an. Ulama mencatat, Rahman dikemukakan 57 kali sedangkan Rahim 114 kali. Ini merupakan indikasi bahwa meskipun Allah juga Syadidul 'Iqab - sangat keras siksa-Nya, Al-Muntaqim – Maha Penyiksa, tetapi Dia berkehendak agar orang beriman pertama-tama mengenali Dia sebagai yang Pemurah dan Penyayang. Semua perbuatan-Nya Dia lakukan sesuai dengan kedua sifat tersebut. Selanjutnya kedua sifat itu semestinya ditiru oleh orang-orang beriman, karena Rasul telah memerintahkan: "Berakhlaklah kamu sekalian dengan akhlak Akhlak Allah".
Rasulullah Saw menggambarkan bahwa Rahim Allah itu jauh lebih besar nilainya dari Rahman-Nya. Dalam hadits riwayat Muslim dinukilkan sabda beliau: “Allah Swt menjadikan kasih sayang-Nya itu seratus bagian. Satu bagian digunakan untuk seluruh makhluk-Nya di bumi ini sehingga seekor induk burung mengangkat sebuah kakinya ketika takut menginjak telur yang berada di bawahnya. Sembilan puluh sembilan bagian lagi Dia simpan untuk dianugerahkan di alam akhirat.” Maka kalau 1% (satu prosen) dari kasih Allah saja telah cukup untuk menciptakan harmoni semesta alam, bagaimana yang 99% (sembilanpuluh sembilan prosen) lagi?. Karena itu orang beriman pasti sangat bersemangat untuk menjemput Rahim Allah itu, dengan iman dan amal shaleh yang diusahakan dengan sebanyak mungkin dan sebaik mungkin.
Kalimat Basmalah yang ringkas tadi mempunyai makna yang sungguh sangat mendalam. Karena itu seyogyanya orang-orang beriman menghayati arti kalimat tersebut, yang dia ucapkan tatkala memulai suatu perbuatan yang baik, terutama ketika dia membacanya di dalam shalat.
Pangasuh Media Dakwah Al-Mustaqiim
Sakib Machmud
No. 162

Sabtu, 15 September 2012

MEMPERBAIKI DIRI


MENJADI MUSLIM BARU SEUSAI RAMADHAN
Masih dalam suasana lebaran di mana seluruh ummat Muslim merayakan Idul Fitri 1433 H, setelah menyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Semoga amal ibadah puasa kita  diterima dan mendapat ridha Allah Swt, diampuni segala dosa dan kesalahan kita, serta mengantarkan pada tujuan  ibadah puasa yaitu ‘taqwa’.
Bagaikan menyelesaikan program pelatihan dari suatu training center, di dalam bulan Ramadhan setiap Muslim melaksanakan amalan di bulan ini, mulai dari menahan diri dari makan minum, menahan nafsu termasuk melakukan hubungan suami isteri, dan menghindarkan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sampai matahari tenggelam. Selain itu memperbanyak amal ibadah antara lain dengan shalat malam (tarawih), banyak membaca Al-Qur’an, menambah ilmu agama, i’tikaf, membayar zakat dan memperbanyak amal perbuatan yang baik antara lain mempererat silaturahim. Sementara itu Allah memberikan banyak keistimewaan dalam bulan Ramadahan berupa kesempatan memperoleh pahala yang berlipat ganda atas semua amal ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan, temasuk diturunkanNya malam Lailatul Qadar. Harapan kita semua tidak ada lain kecuali memperoleh predikat muttaqiin.
Namun berhasilnya ibadah puasa hanya akan terlihat dari perubahan setelah Ramadhan berlalu, yaitu adanya  perbaikan perilaku, sikap, maupun tindakan yang menunjukkan bukti atas predikat muttaqiin. Sebagaimana seorang karyawan setelah menyelesaikan pendidikan dari training center, maka yang diharapkan adalah meningkatnya pengetahuan, ketrampilan, yang hasil akhirnya adalah meningkatnya kualitas dan kinerja karyawan tersebut.
Setelah menyelesaikan ibadah Ramadhan, maka sebagai wujud penampilan baru seorang Muslim ditunjukkan  dengan adanya ‘perubahan’, yaitu dengan cara memperbaiki yang 5 (lima) macam, yaitu memperbaiki; Iman, Niat, Ibadah, Tarbiyyah, dan Ishlah.  
Memperbaiki Iman
Pembahasan tentang Iman merupakan yang terpenting dan tertinggi, karena seluruh kehidupan Muslim berpusat dan dibentuk olehnya. Iman adalah pokok pangkal dalam sistem kehidupan Muslim secara keseluruhan.
Iman menempati urutan pertama dari tiga elemen kekuatan dalam mengendalikan hidup manusia yang terdiri dari; Iman, Akal dan Nafsu. Ketiganya tidak boleh terbalik, karena kalau ‘akal’ menjadi yang pertama akan membawa manusia menjadi sombong, tidak terkendali, merasa benar sendiri dan tidak ada pegangan hidup di dunia. Sedangkan apabila ‘nafsu’ berada di depan, yang akan diperoleh manusia adalah keserakahan, menghalalkan segala cara untuk menguasai dunia.
‘Memperbaiki Iman’ berarti meningkatkan derajat keyakinan tentang Allah dan kekuasaan-Nya dengan seluruh sifat-sifat-Nya, serta berusaha ‘memagari’ dari pengaruh syirik yang melemahkan Iman.
Sebagai dalil bagi orang yang beriman, Allah Swt sendiri mengabarkan tentang wujud-Nya, tentang pemeliharaan-Nya terhadap seluruh mahluk, tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an, di antaranya: * “Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah sendiri. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam.” (QS Al-A’raaf 7: 54). Dari ayat yang lain: * “Sesungguhnya Aku inilah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thahaa 20: 14). Dan firman Allah dalam memuji diri-Nya: * “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan.” (QS Al-Faatihah 1: 2-4)
Memperbaiki Niat 

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya amal pebuatan itu tergantung dari niatnya”, maka ‘memperbaiki niat’ berarti meninjau setiap langkah dalam amal perbuatan dengan niat untuk semata-mata beribadah karena Allah. Hal tersebut mendasari firman Allah dalam Al-Qur’an: “Bahwa tidak Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaariyaat 51: 56). Artinya setiap kegiatan dan amal perbuatan kita  dilakukan hanya karena Allah semata.
Dengan ‘memperbaiki niat’, dan menjaganya agar selalu berada pada pada jalur ibadah karena Allah, seorang Muslim akan selalu mengontrol setiap langkah perbuatannya menjadi bernilai ibadah dan terpuji. Tidak akan ada perbuatan jahat atau maksiat yang dilakukan karena Allah.
Allah menjanjikan pahala dan rizki yang banyak atas semua perbuatan yang dilakukan karena Allah, seperti contoh dari firman Allah mengenai niat berhijrah: “Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasulnya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ketempat yang dituju), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisaa’ 4: 100)
Memperbaiki Ibadah
‘Memperbaiki ibadah’ adalah upaya meningkatkan kualitas ibadah serta memperbanyak amalan ibadah dibanding waktu-waktu sebelumnya. Untuk meningkatkan kualitas ibadah mulai mulai dari bersuci (thaharah), yaitu wudhu, mandi, tayamum, apakah sudah benar-benar tubuh kita bersih dari hadas dan najis, baik untuk melaksanakan sholat maupun dalam kegiatan lainnya.
Memperbaiki shalat, mulai dengan melaksanakan shalat wajib tepat waktu, dengan rukun yang tertib dan khusyuk, sebagaimana firman Alah: “...berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyuk”. (QS Al-Baqarah 2: 238). 
Shalat sunnah yaitu shalat witir, shalat fajar, sangat dianjurkan shalat Idul Fitri dan Idul Adha, shalat gerhana, dan shalat istisqa, yang semua itu disebut sunnah mu’akkad. Ada lagi shalat sunnah gair mu’akkad, yaitu shalat tahiyyat masjid, sunnah rawatib, dua rakaat sesudah wudhu, shalat dhuha, tarawih dan membiasakan shalat malam (qiyamul-lail).
Membayar zakat, dan memperhatikan apakah kita sudah membayar zakat dengan benar? Selama zakat belum benar ditunaikan, akan merupakan kotoran dalam diri kita, sebagaimana firman Allah: “Ambillah sebagian dari harta mereka, dengan sedekah itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka ......” (QS At-Taubah 9: 103).
Melakukan puasa sunnah dan menambah beramal sosial melalui sedekah, infaq  maupun menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa.
Memperbaiki Tarbiyyah
‘Memperbaiki tarbiyyah’ atau pendidikan, dengan jalan belajar dan menambah ilmu, memperluas pengetahuan dan selalu meningkatkan kualitas diri dan kemampuannya. Bukankah kita mengetahui bahwa pendidikan dan ilmu yang dimiliki seseorang akan menunjukkan kualitas dan kemampuannya.
Termasuk dalam memperbaiki tarbiyyah ini, adalah mempelajari fiqih, membaca Al-Qur’an, mendalami Hadits, dan ilmu agama lainnya, yang merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas ibadah, serta menjaga agar setiap amal perbuatan selalu bernilai bismi rabbik  (karena Allah).
Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk terus-menerus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasulullah pun diperintahkan berusaha dan berdoa agar selalu ditambah pengetahuannya: “Qul Rabbi zidni ‘ilma (berdoalah hai Muhammad). “Wahai Tuhanku, tambahkanlah untukku ilmu” (QS Thahaa 20: 114),
Meskipun demikian kaum Muslimin harus menghindarkan cara berfikir tentang bidang-bidang ilmu yang tidak menghasilkan manfaat, apalagi tidak memberikan hasil kecuali menghabiskan energi. Rasulullah sering berdoa: “Wahai Tuhanku. Aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat” 
Memperbaiki Ishlah
‘Ishlah’ mengandung makna memperbaiki hubungan antar manusia dalam rangka mewujudkan ‘ukhuwwah’ atau persaudaraan. Salah satu ayat dalam di dalam Al-Qur’an dapat dijadikan landasan pengamalan konsep ukhuwwah Islamiyah. Ayat yang dimaksud adalah: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara, karena itu lakukanlah ishlah di antara kedua saudaramu.” (QS Al-Hujuraat 49: 10).
Kata ’ishlah’ tidak hanya dipahami dalam arti mendamaikan antara dua orang (atau lebih) yang berselisih, melainkan harus dipahami sesuai makna semantiknya dengan memperhatikan penggunaan Al-Qur’an terhadapnya.
Ishlah dapat diartikan, terhimpunnya sejumlah nilai tertentu pada sesuatu agar bermanfaat dan berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan kehadirannya.  Apabila pada sesuatu obyek ada satu nilai yang tidak menyertainya hingga tujuan yang dimaksudkan tidak tercapai, maka manusia dituntut untuk menghadirkan nilai tersebut, dan hal yang dilakukan itu dinamai ‘ishlah’.
Salah satu hadits yang populer di dalam bidang ukhuwwah adalah sabda Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar: * “Seorang Muslim bersaudara dengan Muslim lainnya. Dia tidak menganiaya, tidak pula menyerahkannya (kepada musuh). Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi pula kebutuhannya. Barang siapa yang melapangkan dari seorang Muslim suatu kesulitan, Allah akan melapangkan baginya suatu kesulitan pula dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di hari kemudian. Barang siapa yang menutup aib seorang Muslim, Allah akan menutup aibnya di hari kemudian.” Dari riwayat At-Tirmidzi dari Abu Hurairah, larangan di atas dilengkapi dengan: * “Dia tidak menghianatinya, tidak membohonginya, dan tidak pula meninggalkannya tanpa pertolongan.”
Demikian, harapan kita, semoga amal ibadah Ramadhan yang baru diakhiri ini benar-benar mampu mengantarkan jiwa dan raga kita menjadi orang-orang muttaqin. Bila harapan ini menjadi kenyataan, Insya Allah kita akan menuai keberuntungan yang Allah janjikan sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an: “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, pasti Allah akan berikan jalan keluar (dari kesempitan di dunia dan di akhirat). Dan pasti Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak diduga-duga. Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kemudahan urusannya (di dunia dan di akhirat). Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus berbagai kesalahan / kejelekannya dan Allah akan melipat-gandakan pahalaNya”. (QS At-Thalaaq 65: 2-5).
Demikian kiranya semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi, sambil tetap memohon kepada Allah Swt agar dapat kesempatan dapat bertemu lagi dengan Ramadhan tahun yang akan datang. Insya Allah.
Mohammad Kamal
No. 161

Selasa, 04 September 2012

KOMUNIKASI YANG EFEKTIF


Pemahaman 

Salah satu ciri seseorang yang dapat dikatagorikan berhasil dalam suatu lingkungan atau masyarakat adalah bahwa ia pandai dalam mengkomunikasikan apa yang dipikirkannya. Komunikasi adalah proses penyampaian informasi yang dapat berupa pesan, gagasan atau perintah dan sebagainya, dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya. 

Komunikasi berasal dari bahas latin ‘communis’ yang artinya ‘sama’. Komunikasi dapat terjadi bila ada kesamaan antara ‘sender’ (pengirim pesan) dan ‘receiver’ (penerima pesan). Komunikasi tergantung pemahaman kedua belah pihak, artinya pesan yang disampaikan harus jelas dan mengikuti aturan atau etika sesuai dengan saluran atau sarana yang digunakan, sehingga dengan demikian ada umpan balik dari penerima pesan.
Maraknya tawuran antar kelompok satu dengan lainnya, antar pelajar bahkan antar suku, dan tidak jarang antar golongan, yang mengakibatkan terjadinya perpecahan bahkan pembunuhan, sebagian besar adalah akibat dari buruknya cara berkomunikasi di antara mereka yang bertikai. Dahulu di Bosnia, dan saat ini kaum Muslim di Rohingya, telah terjadi bentrokan antara aparat setempat dan golongan minoritas yang beragama Islam, sehingga mengakibatkan terjadinya pembunuhan yang diindikasikan sebagai pemusnahan etnis.
Begitu pentingnya komunikasi ini, Islam  mengajarkan agar ummatnya selalu berkomunikasi  dengan baik bukan saja antar Muslim satu dengan yang lainnya, namun juga dengan seluruh ummat manusia. Karena itulah kita perlu memahami konsep komunikasi yang efektif menurut Islam.
Ajaran Rasulullah Saw
Selain fathonah - cerdas, amanah - jujur (terpercaya), shiddiq - benar (tidak berbohong), salah satu sifat Rasulullah Saw yang terkenal adalah tabligh atau komunikatif. Rasulullah Saw selalu menganjurkan, menebarkan salam ketika bertemu dengan sesama Muslim dengan mengucapkan salam secara lengkap: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, dan yang ditegur dianjurkan untuk menjawab: Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.
Bersin, yang dianggap sebagian orang menebarkan kuman, juga menimbulkan komunikasi antar sesama Muslim. Yang bersin dianjurkan mengucapkan: Alhamdulillah, - sambil menutup mulutnya, bukan malah dikeraskan. Kemudian dijawab oleh yang hadir: Yarhamukallah - Semoga Allah merahmatimu.” (bukannya dijawab dengan ucapan: sialan, bersin seenaknya), lalu dijawab lagi dengan mengucapkan: Yahdikumullah wa yushlihu balakum - Semoga Allah menunjuki dan membaikkan keadaanmu.
Bagaimana cara kita berkomunikasi dengan sahabat kita yang terkena musibah? Rasulullah Saw mengajarkan agar kita mengucapkan doa: “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, Allahumma ajirnii fii mushiibati wa akhluflii khairan minhaa.” -  “Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Ya Allah dampingi kami dalam musibah ini, dan berilah ganti yang lebih baik dari padanya.” (HR Muslim dan Ahmad).
Ini adalah cara berkomunikasi yang sangat efektif, yakni dengan menyatakan bahwa semua milik kita ini adalah kepunyaan Allah Swt dan pasti akan dikembalikan lagi kepada-Nya, dan kemudian kita memohonkan agar digantikan dengan yang lebih baik.

Menjenguk orang sakit, disunahkan mendoakan orang sakit itu agar Allah menyembuhkan sakitnya, artinya bahwa kita diminta berkomunikasi dengan orang sakit (hablum minannas) dan berkomunikasi dengan Allah (hablum minnallah): “Allahumma rabbannaa siadzibil ba’sa, asyfi antasyafii laa syifaa’a illa syifaa’uka syifaa’an la lughaadiru saqama. - Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah penyakit itu dan sembuhkanlah ia. Engkau yang menyembuhkan, tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkan penyakit itu wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya pada-Mu lah obat itu, tak ada yang dapat menghilangkan selain Engkau, aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan nya ‘arasy yang agung, semoga Dia menyembuhkanmu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Bila seseorang hendak memasuki rumah orang lain, Allah Swt memerintahkan agar kita berkomunikasi terlebih dulu kepada penghuninya, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتاً غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS An-Nuur  24 : 27).
Di dalam berkomunikasi Allah Swt memerintahkan kepada orang yang beriman bila berkomunikasi, katakanlah hal yang benar: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS Al-Ahzaab 33: 70).
Saling Menghargai
Dalam mengembangkan komunikasi yang efektif, ada beberapa sikap yang perlu dimiliki oleh orang yang hendak berkomunikasi dengan orang lain, salah satunya adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran penerima pesan. Apabila kita ingin berhasil dengan baik dalam berkomunikasi, rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam berkomunikasi, karena pada prinsipnya manusia itu ingin dihargai dan dianggap penting.
Bahkan bila kita harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh hormat atau terhadap harga diri dan kebanggaaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi dan meningkatkan efektifitas kinerja, baik sebagai individu maupun secara keseluruhan dalam sebuah tim.
Menurut mahaguru komunikasi Dale Carnegie dalam bukunya ‘How to Win Friends and Influence People’, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang psikolog terkenal William James juga mengatakan: "Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai."
Penghargaan terhadap diri seseorang adalah  sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, bukan seperti harapan ataupun keinginan yang bisa ditunda atau bahkan tidak harus dipenuhi. Ibaratnya, penghargaan diri adalah suatu rasa lapar hati manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan. Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati seseorang atau sekelompok orang, ia akan menggenggam orang atau sekelompok orang tersebut dalam telapak tangannya.
Charles Schwabb, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar yang dia miliki adalah kemampuannya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain, atau kepada seluruh staf perusahaan. 
Maka untuk membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal terbaik adalah dengan memberi penghargaan yang tulus. Hal ini pula yang menjadi satu dari tiga rahasia manajer satu menit dalam buku ‘The One Minute Manager‘ karya Ken Blanchard dan Spencer Johnson.
Di sisi lain apabila amalan atau diri kita tidak dihargai oleh orang lain, bagaimana kita menghadapinya? Psikolog Muslim termasyur Dr. Aidh Al-Qarni menasihati kita: “Jangan bersedih bila kebaikan Anda tak dihargai orang, sebab yang Anda cari adalah pahala dari Allah.” Selanjutnya dikemukakan: “Ya sudahlah ... tak perlu kau risaukan apabila hasil kerja kerasmu tak bernilai apa-apa di dunia, yakinlah Allah telah melihat keringat yang menetes dalam peluhmu, telah melihat darah yang menetes dari tubuhmu, dan telah melihat perbuatanmu. Azzamkan dalam sanubarimu, bahwa segala yang kulakukan di atas dunia ini diniatkan semata-mata hanyalah untuk Allah, sehingga tak ada lagi kata, tulisan, dan ekspresi yang keluar dari mulut, pena, dan tubuhmu “keluh kesah” dalam menjalani hari-hari yang sebetulnya indah namun mendadak menjadi tak menyenangkan karena dirimu sendiri.”
Dalam Islam sikap menghargai setiap individu ini sangat ditekankan. Jangankan terhadap sesama Muslim yang masih hidup, kepada yang sudah mati saja kita ini diminta menghormati jenazahnya. Kalau kita dalam keadaan sedang duduk, kemudian jenazah yang diusung oleh kaum kerabatnya lewat, Rasulullah mengajarkan agar kita berdiri dan diminta mendoakan: “Inna lillahi wa innalillaihi raaji’un. 
Sikap menghargai sesama Muslim dalam Islam adalah merupakan kewajiban, bahkan Allah Swt memerintahkan sesama Muslim adalah saudara antara satu dengan lainnya, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.
 “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujuraat 49: 10).
Dalam suatu hadits, Rasulullah saw menekankan agar setiap orang yang beriman  tidak hanya saling menghargai namun mereka disunahkan untuk saling mencintai dalam  sabdanya:
“Salah seorang di antara kalian tidak beriman sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, At-Turmudzi).
Pada suatu hari ketika Rasulullah Saw sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba muncul seorang pemuda meminta izin kepada beliau: “izinkanlah saya untuk berzina”. Mendengar perkataan yang tidak sopan tersebut, para sahabat saling menggelengkan kepala dan merasa amat marah dan malu kepada Rasulullah.  Namun, bagaimana sikap Rasulullah?  Beliau bersikap tenang, tidak marah  dan menghargai pemuda tesebut, dengan tetap melayani pemuda itu dengan baik. Beliau kemudian menyuruh pemuda itu duduk didekatnya.
Sesudah tenang, Rasul bertanya: ”Maukah engkau berzina dengan ibumu?” Pemuda itu menjawab: “Tidak ya Rasul.” Lalu Nabi bertanya lagi: ”Sukakah kamu berbuat jahat terhadap saudara perempuanmu sendiri?. Atau kalau kamu sudah beristri, sukakah istri kamu dinodai org lain?” Pemuda itu menjawab: “Tidak ya Rasul”. Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya di atas pundak pemuda itu seraya berdoa: ”Ya Allah sucikanlah hati pemuda ini, ampunkanlah dosanya dan peliharalah dia dari melakukan zina.” Sejak saat itu pemuda tersebut menjadi pemuda yang shaleh dan tiadalah pekara yang paling dibencinya kecuali berzina.
Penutup
Menguasai komunikasi berarti kita mewarisi salah satu sifat kepimpinan Nabi, yakni tabligh atau komunikatif. Cara berkomunikasi seseorang sangat menentukan mutu kehidupan ketakwaannya. Ia harus bisa melaksanakan komunikasi dengan Allah, habluminallah  - hubungan antara manusia dengan Allah - dengan baik dan khusyu’, dan sekaligus dapat melaksanakan habluminannas - hubungan antar manusia - dengan baik pula. Orang-orang yang takwa memahami bagaimana memanfaatkan keberhasilan, tantangan atau cobaan yang diberikan kepadanya dan mengkomunikasikan pandangan dan pemikirannya  kepada dirinya, kepada orang lain dan kepada alam sekitarnya sedemikian rupa sehingga  mereka berhasil mengubah sesuatu menjadi yang lebih baik dan bermanfaat, dan dalam Al-Qur’an disebut orang-orang shaleh.
Djoeffan Nawawi
No. 160