MENJADI MUSLIM BARU SEUSAI RAMADHAN
Masih dalam suasana
lebaran di mana seluruh ummat Muslim merayakan Idul Fitri 1433 H, setelah menyelesaikan
ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Semoga amal ibadah puasa kita diterima dan mendapat ridha Allah Swt,
diampuni segala dosa dan kesalahan kita, serta mengantarkan pada tujuan ibadah puasa yaitu ‘taqwa’.
Bagaikan
menyelesaikan program pelatihan dari suatu training
center, di dalam bulan Ramadhan setiap Muslim melaksanakan amalan di bulan
ini, mulai dari menahan diri dari makan minum, menahan nafsu termasuk melakukan
hubungan suami isteri, dan menghindarkan diri dari hal-hal yang membatalkan
puasa, mulai dari terbit fajar sampai matahari tenggelam. Selain itu memperbanyak
amal ibadah antara lain dengan shalat malam (tarawih),
banyak membaca Al-Qur’an, menambah ilmu agama, i’tikaf, membayar zakat dan memperbanyak amal perbuatan yang baik
antara lain mempererat silaturahim. Sementara itu Allah memberikan banyak keistimewaan
dalam bulan Ramadahan berupa kesempatan memperoleh pahala yang berlipat ganda
atas semua amal ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan, temasuk diturunkanNya
malam Lailatul Qadar. Harapan kita
semua tidak ada lain kecuali memperoleh predikat muttaqiin.
Namun berhasilnya ibadah
puasa hanya akan terlihat dari perubahan setelah Ramadhan berlalu, yaitu adanya
perbaikan perilaku, sikap, maupun
tindakan yang menunjukkan bukti atas predikat muttaqiin. Sebagaimana seorang karyawan setelah menyelesaikan
pendidikan dari training center, maka
yang diharapkan adalah meningkatnya pengetahuan, ketrampilan, yang hasil akhirnya
adalah meningkatnya kualitas dan kinerja karyawan tersebut.
Setelah menyelesaikan
ibadah Ramadhan, maka sebagai wujud penampilan baru seorang Muslim ditunjukkan dengan adanya ‘perubahan’, yaitu dengan cara
memperbaiki yang 5 (lima) macam, yaitu memperbaiki; Iman, Niat, Ibadah,
Tarbiyyah, dan Ishlah.
Memperbaiki Iman
Pembahasan tentang
Iman merupakan yang terpenting dan tertinggi, karena seluruh kehidupan Muslim
berpusat dan dibentuk olehnya. Iman adalah pokok pangkal dalam sistem kehidupan
Muslim secara keseluruhan.
Iman menempati urutan
pertama dari tiga elemen kekuatan dalam mengendalikan hidup manusia yang
terdiri dari; Iman, Akal dan Nafsu. Ketiganya tidak boleh terbalik, karena
kalau ‘akal’ menjadi yang pertama akan membawa manusia menjadi sombong, tidak
terkendali, merasa benar sendiri dan tidak ada pegangan hidup di dunia. Sedangkan
apabila ‘nafsu’ berada di depan, yang akan diperoleh manusia adalah
keserakahan, menghalalkan segala cara untuk menguasai dunia.
‘Memperbaiki Iman’
berarti meningkatkan derajat keyakinan tentang Allah dan kekuasaan-Nya dengan
seluruh sifat-sifat-Nya, serta berusaha ‘memagari’ dari pengaruh syirik yang melemahkan Iman.
Sebagai dalil bagi
orang yang beriman, Allah Swt sendiri mengabarkan tentang wujud-Nya, tentang
pemeliharaan-Nya terhadap seluruh mahluk, tentang nama-nama dan
sifat-sifat-Nya. Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an, di antaranya: * “Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yang
telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Dia bersemayam di atas ‘Arasy.
Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan
(diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing)
tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak
Allah sendiri. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam.” (QS Al-A’raaf 7: 54). Dari
ayat yang lain: * “Sesungguhnya Aku
inilah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat
Aku.” (QS Thahaa 20: 14). Dan firman Allah dalam memuji diri-Nya: * “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan.” (QS Al-Faatihah
1: 2-4)
Memperbaiki Niat
Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya amal pebuatan itu tergantung dari niatnya”, maka ‘memperbaiki niat’ berarti meninjau setiap langkah dalam amal perbuatan dengan niat untuk semata-mata beribadah karena Allah. Hal tersebut mendasari firman Allah dalam Al-Qur’an: “Bahwa tidak Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaariyaat 51: 56). Artinya setiap kegiatan dan amal perbuatan kita dilakukan hanya karena Allah semata.
Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya amal pebuatan itu tergantung dari niatnya”, maka ‘memperbaiki niat’ berarti meninjau setiap langkah dalam amal perbuatan dengan niat untuk semata-mata beribadah karena Allah. Hal tersebut mendasari firman Allah dalam Al-Qur’an: “Bahwa tidak Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaariyaat 51: 56). Artinya setiap kegiatan dan amal perbuatan kita dilakukan hanya karena Allah semata.
Dengan ‘memperbaiki
niat’, dan menjaganya agar selalu berada pada pada jalur ibadah karena Allah, seorang
Muslim akan selalu mengontrol setiap langkah perbuatannya menjadi bernilai
ibadah dan terpuji. Tidak akan ada perbuatan jahat atau maksiat yang dilakukan
karena Allah.
Allah menjanjikan
pahala dan rizki yang banyak atas semua perbuatan yang dilakukan karena Allah,
seperti contoh dari firman
Allah mengenai niat berhijrah: “Dan barang siapa
berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat
hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya
dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasulnya, kemudian kematian menimpanya
(sebelum sampai ketempat yang dituju), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan
di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisaa’ 4: 100)
Memperbaiki Ibadah
‘Memperbaiki ibadah’
adalah upaya meningkatkan kualitas ibadah serta memperbanyak amalan ibadah dibanding
waktu-waktu sebelumnya. Untuk meningkatkan kualitas ibadah mulai mulai dari
bersuci (thaharah), yaitu wudhu,
mandi, tayamum, apakah sudah benar-benar tubuh kita bersih dari hadas dan
najis, baik untuk melaksanakan sholat maupun dalam kegiatan lainnya.
Memperbaiki shalat, mulai
dengan melaksanakan shalat wajib tepat waktu, dengan rukun yang tertib dan khusyuk,
sebagaimana firman Alah: “...berdirilah
untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyuk”. (QS Al-Baqarah 2: 238).
Shalat sunnah yaitu
shalat witir, shalat fajar, sangat dianjurkan shalat Idul Fitri dan Idul Adha,
shalat gerhana, dan shalat istisqa, yang
semua itu disebut sunnah mu’akkad. Ada
lagi shalat sunnah gair mu’akkad, yaitu
shalat tahiyyat masjid, sunnah rawatib, dua rakaat sesudah wudhu, shalat
dhuha, tarawih dan membiasakan shalat malam (qiyamul-lail).
Membayar zakat, dan
memperhatikan apakah kita sudah membayar zakat dengan benar? Selama zakat belum
benar ditunaikan, akan merupakan kotoran dalam diri kita, sebagaimana firman
Allah: “Ambillah sebagian dari harta
mereka, dengan sedekah itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka ......” (QS
At-Taubah 9: 103).
Melakukan puasa
sunnah dan menambah beramal sosial melalui sedekah, infaq maupun menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa.
Memperbaiki Tarbiyyah
‘Memperbaiki tarbiyyah’ atau pendidikan, dengan jalan
belajar dan menambah ilmu, memperluas pengetahuan dan selalu meningkatkan kualitas
diri dan kemampuannya. Bukankah kita mengetahui bahwa pendidikan dan ilmu yang
dimiliki seseorang akan menunjukkan kualitas dan kemampuannya.
Termasuk dalam
memperbaiki tarbiyyah ini, adalah
mempelajari fiqih, membaca Al-Qur’an,
mendalami Hadits, dan ilmu agama lainnya, yang merupakan sarana untuk
meningkatkan kualitas ibadah, serta menjaga agar setiap amal perbuatan selalu
bernilai bismi rabbik (karena Allah).
Al-Qur’an
memerintahkan manusia untuk terus-menerus berupaya meningkatkan kemampuan
ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasulullah pun diperintahkan berusaha dan
berdoa agar selalu ditambah pengetahuannya: “Qul Rabbi zidni ‘ilma (berdoalah hai Muhammad). “Wahai
Tuhanku, tambahkanlah untukku ilmu” (QS Thahaa 20: 114),
Meskipun demikian kaum
Muslimin harus menghindarkan cara berfikir tentang bidang-bidang ilmu yang
tidak menghasilkan manfaat, apalagi tidak memberikan hasil kecuali menghabiskan
energi. Rasulullah sering berdoa: “Wahai
Tuhanku. Aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat”
Memperbaiki Ishlah
‘Ishlah’ mengandung makna memperbaiki hubungan antar
manusia dalam rangka mewujudkan ‘ukhuwwah’
atau persaudaraan. Salah satu ayat dalam di dalam Al-Qur’an dapat dijadikan
landasan pengamalan konsep ukhuwwah
Islamiyah. Ayat yang dimaksud adalah: “Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu adalah bersaudara, karena itu lakukanlah ishlah di
antara kedua saudaramu.” (QS Al-Hujuraat 49: 10).
Kata ’ishlah’ tidak hanya dipahami dalam
arti mendamaikan antara dua orang (atau lebih) yang berselisih, melainkan harus
dipahami sesuai makna semantiknya dengan memperhatikan penggunaan Al-Qur’an
terhadapnya.
Ishlah dapat diartikan, terhimpunnya sejumlah nilai
tertentu pada sesuatu agar bermanfaat dan berfungsi dengan baik sesuai dengan
tujuan kehadirannya. Apabila pada
sesuatu obyek ada satu nilai yang tidak menyertainya hingga tujuan yang
dimaksudkan tidak tercapai, maka manusia dituntut untuk menghadirkan nilai
tersebut, dan hal yang dilakukan itu dinamai ‘ishlah’.
Salah satu hadits
yang populer di dalam bidang ukhuwwah
adalah sabda Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat
Ibnu Umar: * “Seorang Muslim bersaudara
dengan Muslim lainnya. Dia tidak menganiaya, tidak pula menyerahkannya (kepada
musuh). Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi
pula kebutuhannya. Barang siapa yang melapangkan dari seorang Muslim suatu
kesulitan, Allah akan melapangkan baginya suatu kesulitan pula dari
kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di hari kemudian. Barang siapa yang menutup
aib seorang Muslim, Allah akan menutup aibnya di hari kemudian.” Dari
riwayat At-Tirmidzi dari Abu Hurairah, larangan di atas dilengkapi dengan: * “Dia tidak menghianatinya, tidak membohonginya,
dan tidak pula meninggalkannya tanpa pertolongan.”
Demikian, harapan
kita, semoga amal ibadah Ramadhan yang baru diakhiri ini benar-benar mampu
mengantarkan jiwa dan raga kita menjadi orang-orang muttaqin. Bila harapan ini menjadi kenyataan, Insya Allah kita akan
menuai keberuntungan yang Allah janjikan sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an:
“Dan barang siapa yang bertakwa kepada
Allah, pasti Allah akan berikan jalan keluar (dari kesempitan di dunia dan di
akhirat). Dan pasti Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak diduga-duga.
Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kemudahan
urusannya (di dunia dan di akhirat). Dan siapa yang bertakwa kepada Allah,
niscaya Allah akan menghapus berbagai kesalahan / kejelekannya dan Allah akan
melipat-gandakan pahalaNya”. (QS At-Thalaaq 65: 2-5).
Demikian kiranya semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang
yang merugi, sambil tetap memohon kepada Allah Swt agar dapat kesempatan dapat bertemu
lagi dengan Ramadhan tahun yang akan datang. Insya Allah.
Mohammad
Kamal
No. 161
Tidak ada komentar:
Posting Komentar