Sabtu, 15 September 2012

MEMPERBAIKI DIRI


MENJADI MUSLIM BARU SEUSAI RAMADHAN
Masih dalam suasana lebaran di mana seluruh ummat Muslim merayakan Idul Fitri 1433 H, setelah menyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Semoga amal ibadah puasa kita  diterima dan mendapat ridha Allah Swt, diampuni segala dosa dan kesalahan kita, serta mengantarkan pada tujuan  ibadah puasa yaitu ‘taqwa’.
Bagaikan menyelesaikan program pelatihan dari suatu training center, di dalam bulan Ramadhan setiap Muslim melaksanakan amalan di bulan ini, mulai dari menahan diri dari makan minum, menahan nafsu termasuk melakukan hubungan suami isteri, dan menghindarkan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sampai matahari tenggelam. Selain itu memperbanyak amal ibadah antara lain dengan shalat malam (tarawih), banyak membaca Al-Qur’an, menambah ilmu agama, i’tikaf, membayar zakat dan memperbanyak amal perbuatan yang baik antara lain mempererat silaturahim. Sementara itu Allah memberikan banyak keistimewaan dalam bulan Ramadahan berupa kesempatan memperoleh pahala yang berlipat ganda atas semua amal ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan, temasuk diturunkanNya malam Lailatul Qadar. Harapan kita semua tidak ada lain kecuali memperoleh predikat muttaqiin.
Namun berhasilnya ibadah puasa hanya akan terlihat dari perubahan setelah Ramadhan berlalu, yaitu adanya  perbaikan perilaku, sikap, maupun tindakan yang menunjukkan bukti atas predikat muttaqiin. Sebagaimana seorang karyawan setelah menyelesaikan pendidikan dari training center, maka yang diharapkan adalah meningkatnya pengetahuan, ketrampilan, yang hasil akhirnya adalah meningkatnya kualitas dan kinerja karyawan tersebut.
Setelah menyelesaikan ibadah Ramadhan, maka sebagai wujud penampilan baru seorang Muslim ditunjukkan  dengan adanya ‘perubahan’, yaitu dengan cara memperbaiki yang 5 (lima) macam, yaitu memperbaiki; Iman, Niat, Ibadah, Tarbiyyah, dan Ishlah.  
Memperbaiki Iman
Pembahasan tentang Iman merupakan yang terpenting dan tertinggi, karena seluruh kehidupan Muslim berpusat dan dibentuk olehnya. Iman adalah pokok pangkal dalam sistem kehidupan Muslim secara keseluruhan.
Iman menempati urutan pertama dari tiga elemen kekuatan dalam mengendalikan hidup manusia yang terdiri dari; Iman, Akal dan Nafsu. Ketiganya tidak boleh terbalik, karena kalau ‘akal’ menjadi yang pertama akan membawa manusia menjadi sombong, tidak terkendali, merasa benar sendiri dan tidak ada pegangan hidup di dunia. Sedangkan apabila ‘nafsu’ berada di depan, yang akan diperoleh manusia adalah keserakahan, menghalalkan segala cara untuk menguasai dunia.
‘Memperbaiki Iman’ berarti meningkatkan derajat keyakinan tentang Allah dan kekuasaan-Nya dengan seluruh sifat-sifat-Nya, serta berusaha ‘memagari’ dari pengaruh syirik yang melemahkan Iman.
Sebagai dalil bagi orang yang beriman, Allah Swt sendiri mengabarkan tentang wujud-Nya, tentang pemeliharaan-Nya terhadap seluruh mahluk, tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an, di antaranya: * “Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah sendiri. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam.” (QS Al-A’raaf 7: 54). Dari ayat yang lain: * “Sesungguhnya Aku inilah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thahaa 20: 14). Dan firman Allah dalam memuji diri-Nya: * “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan.” (QS Al-Faatihah 1: 2-4)
Memperbaiki Niat 

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya amal pebuatan itu tergantung dari niatnya”, maka ‘memperbaiki niat’ berarti meninjau setiap langkah dalam amal perbuatan dengan niat untuk semata-mata beribadah karena Allah. Hal tersebut mendasari firman Allah dalam Al-Qur’an: “Bahwa tidak Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaariyaat 51: 56). Artinya setiap kegiatan dan amal perbuatan kita  dilakukan hanya karena Allah semata.
Dengan ‘memperbaiki niat’, dan menjaganya agar selalu berada pada pada jalur ibadah karena Allah, seorang Muslim akan selalu mengontrol setiap langkah perbuatannya menjadi bernilai ibadah dan terpuji. Tidak akan ada perbuatan jahat atau maksiat yang dilakukan karena Allah.
Allah menjanjikan pahala dan rizki yang banyak atas semua perbuatan yang dilakukan karena Allah, seperti contoh dari firman Allah mengenai niat berhijrah: “Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasulnya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ketempat yang dituju), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisaa’ 4: 100)
Memperbaiki Ibadah
‘Memperbaiki ibadah’ adalah upaya meningkatkan kualitas ibadah serta memperbanyak amalan ibadah dibanding waktu-waktu sebelumnya. Untuk meningkatkan kualitas ibadah mulai mulai dari bersuci (thaharah), yaitu wudhu, mandi, tayamum, apakah sudah benar-benar tubuh kita bersih dari hadas dan najis, baik untuk melaksanakan sholat maupun dalam kegiatan lainnya.
Memperbaiki shalat, mulai dengan melaksanakan shalat wajib tepat waktu, dengan rukun yang tertib dan khusyuk, sebagaimana firman Alah: “...berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyuk”. (QS Al-Baqarah 2: 238). 
Shalat sunnah yaitu shalat witir, shalat fajar, sangat dianjurkan shalat Idul Fitri dan Idul Adha, shalat gerhana, dan shalat istisqa, yang semua itu disebut sunnah mu’akkad. Ada lagi shalat sunnah gair mu’akkad, yaitu shalat tahiyyat masjid, sunnah rawatib, dua rakaat sesudah wudhu, shalat dhuha, tarawih dan membiasakan shalat malam (qiyamul-lail).
Membayar zakat, dan memperhatikan apakah kita sudah membayar zakat dengan benar? Selama zakat belum benar ditunaikan, akan merupakan kotoran dalam diri kita, sebagaimana firman Allah: “Ambillah sebagian dari harta mereka, dengan sedekah itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka ......” (QS At-Taubah 9: 103).
Melakukan puasa sunnah dan menambah beramal sosial melalui sedekah, infaq  maupun menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa.
Memperbaiki Tarbiyyah
‘Memperbaiki tarbiyyah’ atau pendidikan, dengan jalan belajar dan menambah ilmu, memperluas pengetahuan dan selalu meningkatkan kualitas diri dan kemampuannya. Bukankah kita mengetahui bahwa pendidikan dan ilmu yang dimiliki seseorang akan menunjukkan kualitas dan kemampuannya.
Termasuk dalam memperbaiki tarbiyyah ini, adalah mempelajari fiqih, membaca Al-Qur’an, mendalami Hadits, dan ilmu agama lainnya, yang merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas ibadah, serta menjaga agar setiap amal perbuatan selalu bernilai bismi rabbik  (karena Allah).
Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk terus-menerus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasulullah pun diperintahkan berusaha dan berdoa agar selalu ditambah pengetahuannya: “Qul Rabbi zidni ‘ilma (berdoalah hai Muhammad). “Wahai Tuhanku, tambahkanlah untukku ilmu” (QS Thahaa 20: 114),
Meskipun demikian kaum Muslimin harus menghindarkan cara berfikir tentang bidang-bidang ilmu yang tidak menghasilkan manfaat, apalagi tidak memberikan hasil kecuali menghabiskan energi. Rasulullah sering berdoa: “Wahai Tuhanku. Aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat” 
Memperbaiki Ishlah
‘Ishlah’ mengandung makna memperbaiki hubungan antar manusia dalam rangka mewujudkan ‘ukhuwwah’ atau persaudaraan. Salah satu ayat dalam di dalam Al-Qur’an dapat dijadikan landasan pengamalan konsep ukhuwwah Islamiyah. Ayat yang dimaksud adalah: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara, karena itu lakukanlah ishlah di antara kedua saudaramu.” (QS Al-Hujuraat 49: 10).
Kata ’ishlah’ tidak hanya dipahami dalam arti mendamaikan antara dua orang (atau lebih) yang berselisih, melainkan harus dipahami sesuai makna semantiknya dengan memperhatikan penggunaan Al-Qur’an terhadapnya.
Ishlah dapat diartikan, terhimpunnya sejumlah nilai tertentu pada sesuatu agar bermanfaat dan berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan kehadirannya.  Apabila pada sesuatu obyek ada satu nilai yang tidak menyertainya hingga tujuan yang dimaksudkan tidak tercapai, maka manusia dituntut untuk menghadirkan nilai tersebut, dan hal yang dilakukan itu dinamai ‘ishlah’.
Salah satu hadits yang populer di dalam bidang ukhuwwah adalah sabda Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar: * “Seorang Muslim bersaudara dengan Muslim lainnya. Dia tidak menganiaya, tidak pula menyerahkannya (kepada musuh). Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi pula kebutuhannya. Barang siapa yang melapangkan dari seorang Muslim suatu kesulitan, Allah akan melapangkan baginya suatu kesulitan pula dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di hari kemudian. Barang siapa yang menutup aib seorang Muslim, Allah akan menutup aibnya di hari kemudian.” Dari riwayat At-Tirmidzi dari Abu Hurairah, larangan di atas dilengkapi dengan: * “Dia tidak menghianatinya, tidak membohonginya, dan tidak pula meninggalkannya tanpa pertolongan.”
Demikian, harapan kita, semoga amal ibadah Ramadhan yang baru diakhiri ini benar-benar mampu mengantarkan jiwa dan raga kita menjadi orang-orang muttaqin. Bila harapan ini menjadi kenyataan, Insya Allah kita akan menuai keberuntungan yang Allah janjikan sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an: “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, pasti Allah akan berikan jalan keluar (dari kesempitan di dunia dan di akhirat). Dan pasti Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak diduga-duga. Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan kemudahan urusannya (di dunia dan di akhirat). Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus berbagai kesalahan / kejelekannya dan Allah akan melipat-gandakan pahalaNya”. (QS At-Thalaaq 65: 2-5).
Demikian kiranya semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi, sambil tetap memohon kepada Allah Swt agar dapat kesempatan dapat bertemu lagi dengan Ramadhan tahun yang akan datang. Insya Allah.
Mohammad Kamal
No. 161

Tidak ada komentar:

Posting Komentar