Senin, 25 Februari 2013

KISAH-KISAH DALAM AL-QUR’AN


Al-Qur’an adalah Kitab yang diturunkan Allah melalui Nabi Muhammad Saw, berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan atas petunjuk itu, serta pembeda antara yang haq dengan yang bathil  (QS Al-Baqarah 2: 185). Pada ayat lain disebutkan bahwa Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi orang-orang yang berjuang menuju ke tingkat takwa, tingkatan tertinggi yang dapat dicapai manusia (QS Al-Baqarah 2: 2). Manusia yang dituju oleh Al-Quran beraneka ragam, ada yang mampu berpikir runtut dan sistematik, tetapi ada pula yang tidak mudah memahami hal-hal yang konsepsional dan abstrak. Maka agar mudah dimengerti oleh sebanyak mungkin penerimanya, petunjuk Allah Swt tersebut disampaikan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Ada kalanya Kitab Allah ini mengemukakan keterangan secara lugas, misalnya ketika membicarakan ke-Mahaesaan Allah dalam surah QS Al-Ikhlas 112. Pada sejumlah ayat yang lain digunakan metafora - kiasan. Contohnya ketika melukiskan sebuah masyarakat yang telah memperoleh Kitab Allah tetapi tidak melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, mereka digambarkan seperti keledai yang membawa banyak Kitab di punggungnya. Keledai merasakan beratnya beban yang dibawanya tanpa memperoleh manfaat apapun dari bawaannya (QS Al-Jumu’ah 62: 5).
Pendekatan lain yang digunakan Al-Qur’an dalam menyampaikan kebenaran adalah mengemukakan kisah-kisah. Ada tiga macam kisah yang kita jumpai di dalam Al-Qur’an, yaitu:
Pertama: Kisah para Nabi dan Rasul Allah yang terdahulu, sejak Nabi Adam As sampai dengan Nabi ‘Isa As. Mengenai hal ini, pada umumnya kisah seorang Nabi tidak diletakkan dalam satu surah dan disampaikan secara berurutan, ayat demi ayat, tetapi disebar di dalam berbagai surah dan ayat yang berpencaran. Kisah Nabi Adam As misalnya, terdapat dalam QS Al-Baqarah 2: 30-39, Al-A’raaf 7: 11-25, Al-Hijr 15: 28-44, Al-Israa’ 17: 61-63, Thaahaa 20: 116-117, Shad 38: 71-74. Masing-masing kelompok ayat tersebut menuturkan suatu episode dari kisah, yang relevan dengan pesan yang hendak disampaikan.
Orang yang berkeinginan untuk memahami kisah seorang Rasul secara utuh, harus menggabungkan berbagai keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat yang terpencar-pencar itu. Meskipun demikian ada kisah Rasul yang disampaikan secara berurutan dalam satu surah, yaitu kisah Nabi Yusuf As. di dalam QS Yusuf 12: 3-101. Dalam surah tersebut dipaparkan secara lengkap, kisah Nabi Yusuf sejak masih anak-anak sampai menjadi manusia dewasa, yang diangkat Allah menjadi Rasul-Nya dan diberi amanah oleh penguasa Mesir masa itu untuk memegang posisi Bendahara Negara.
Kedua: Kisah tentang orang-orang terdahulu yang tidak diketahui secara tepat masa dan tempat kehidupannya. Rupanya yang dipentingkan adalah isi pesan yang dikandungnya. Contoh kelompok ini adalah kisah penghuni gua (As-habul kahfi) yang dikemukakan dalam surah Al-Kahfi 18: 9-26, kisah Iskandar Dzulqarnain dalam surah Al-Kahfi 18: 83-98, dan kisah Luqmanul Hakim dalam surah Luqman (31): 12-13 dan 16-19.
Ketiga: Kisah tentang peristiwa-peristiwa yang berlangsung pada masa Nabi Muhammad Saw, seperti Pertempuran Badar dalam surah Al-Baqarah 2: 5-12, dan Perang Uhud dalam surah Ali ‘Imran 3: 121-125.
Untuk apa Allah Swt mengemukakan kisah-kisah masa lalu dalam Al-Quran? Allah Swt berfirman:
وَكُـلاًّ نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاء الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءكَ فِي هَـذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ ﴿١٢٠﴾
“Dan semua kisah dari Rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (QS Huud 11: 120).
Firman Allah tersebut di atas mengemukakan kepada kita, empat hal yang menjadi tujuan pemaparan kisah-kisah tersebut:
Tujuan yang pertama adalah meneguhkan keyakinan umat tentang posisi Muhammad Saw sebagai Rasul Allah. Ketika beliau memperkenalkan dirinya sebagai utusan Allah, yang mengajarkan tauhid, dan mengajak orang agar meninggalkan keyakinan syirik, mayoritas masyarakat mencemooh beliau. Mereka menolak semua perkataan Muhammad karena beranggapan bahwa beliau hanyalah seorang laki-laki yang lahir sebagai anak yatim, beranjak dewasa sebagai orang miskin karena ayahnya tidak meninggalkan banyak harta warisan, dan semua orang Makkah mengetahui bahwa beliau adalah orang yang ummiy - tuna aksara, dan tidak pernah mempelajari ilmu dari siapapun. Tetapi meskipun demikian beliau mampu mengemukakan kisah-kisah masa lalu secara jelas, kadang-kadang bahkan amat rinci, sampai seakan-akan beliau menyaksikan peristiwa-peristiwa tersebut dengan mata kepala sendiri. Tentu saja beliau tidak menyaksikan peristiwa yang berkenaan dengan Adam As sampai dengan ‘Isa As, begitu pula dengan peristiwa Iskandar Zulqarnain, Ashabul Kahfi, dan sebagainya. Kenyataan demikian justru membuktikan bahwa satu-satunya kemungkinan, beliau mengetahui hal itu dari wahyu Allah Swt.
Tujuan yang kedua dari pemaparan kisah-kisah ialah menyatakan kebenaran, untuk menerangkan peristiwa yang benar terjadi dan mengoreksi keterangan-keterangan yang salah. Kisah-kisah tersebut, kecuali yang berkenaan dengan Nabi Muhammad Saw sendiri, terdapat pula dalam Kitab-kitab sebelum Al-Qur’an. Tetapi banyak dari detail kebenaran yang terlupakan, atau sengaja dipalsukan segolongan orang, agar sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka. Misalnya orang-orang Yahudi Madinah menyatakan bahwa yang memprovokasi orang-orang untuk menyembah patung anak sapi ketika Musa As dipanggil Allah naik ke bukit Tursina adalah Nabi Harun AS, Al-Quran menerangkan bahwa yang menjadi penganjur penyembahan tersebut adalah seorang pendeta Mesir bernama Samiri. Karena sesuatu hal dia  turut serta dalam rombongan Bani Israil. Harun adalah seorang Nabi Allah, maka tidak mungkin beliau mengajak orang untuk menyekutukan sesuatu dengan Allah.
Tujuan ketiga: menjadi pelajaran untuk orang-orang yang sedang menjalani hidup di dunia, karena di dalam sejarah itu ada pola-pola tertentu, yang berulang dari masa ke masa. Maka kalau orang memasuki pola itu dia akan menjadi seperti orang-orang terdahulu yang masuk ke pola yang sama. Di dalam Al-Qur’an dikemukakan secara berurutan, riwayat umat Nabi Nuh As, ummat Nabi Hud As (kaum ‘Ad), dan ummat Nabi Shalih As. (kaum Tsamud). Semua mereka adalah orang-orang yang cerdas, kreatif dan pekerja keras. Karena itu mereka sama-sama berhasil mengembangkan diri menjadi bangsa yang kuat dengan kemampuan ekonomi yang mantap. Tetapi ketika kaum Nabi Nuh mencapai sukses, mereka menjadi sombong, meremehkan kaum-kaum lain di sekitarnya, bahkan mengeksploitasi kaum-kaum yang dianggap lemah itu untuk keuntungan diri sendiri. Allah Swt menurunkan Nabi Nuh As sebagai Rasul-Nya, yang diberi tugas mengingatkan kaum tersebut dari kekeliruannya, dan mengajarkan tata hidup yang benar. Tetapi kaum itu menolak ajaran Nuh As, mencemooh, dan menzhalimi para pengikut Rasul tersebut. Maka Allah menjatuhkan adzab yang keras sehingga kaum itu punah, kecuali sebagian kecil yang menjadi pengikut Rasul Allah. Generasi berikutnya yaitu kaum ‘Ad, seharusnya mengambil pelajaran dari peristiwa tragis tersebut. Tetapi mereka justru mengulang pola hidup kaum Nuh. Allah Swt mengutus Nabi Hud a.s. dengan tugas seperti Nabi Nuh, yaitu memberi peringatan akan bahaya besar, bahkan kehancuran yang akan mereka alami bila tidak merngubah diri dengan melakukan perbuatan yang benar. Nabi tersebut kemudian  menginformasikan kebenaran dari Allah Swt. Tetapi mereka juga menolak, mencemooh, dan mendzalimi Nabi tersebut, persis seperti kaum Nabi Nuh melakukan hal itu kepada Rasul yang diutus kepada mereka. Maka Allah menjatuhkan adzab yang menjadikan kaum ‘Ad punah pula, seperti pendahulunya. Hal yang sama terjadi lagi pada kaum Tsamud.
Tujuan keempat: Menjadi peringatan bagi ummat Nabi Muhammad Saw agar jangan menjalani pola hidup seperti ummat-ummat terdahulu yang congkak dan bebal, karena bila mereka melakukannya, akan diadzab Allah seperti kaum-kaum terdahulu tersebut. Mungkin umat Muhammad tidak akan dipunahkan, dari alam dunia, karena Rasul terakhir itu menjadi rahmatan lil ‘alamin - rahmat bagi semesta alam. Tetapi toh banyak orang-orang kafir dari umat Muhammad akan diganjar dengan adzab dunia dan akhirat yang sungguh sangat menyengsarakan. Di dunia mereka mengalami kekalahan telak ketika melakukan invasi ke Madinah untuk menghancurkan Islam dan membunuh utusan Allah, Muhammad Saw. Di akhirat mereka akan merasakan siksa neraka yang sangat berat untuk waktu tanpa batas akhir. 
Demikianlah pemaparan kisah-kisah di dalam Al-Qur’an mempunyai tujuan yang penting dan jelas. Maka pesan pokok kepada orang-orang yang telah beriman, ketika membaca kisah-kisah di dalam Kitabullah ini, jangan hanya sekedar membacanya sebagai perintang waktu, tetapi benar-benar menjadikannya sebagai tuntunan dalam kehidupannya di dunia sekarang, untuk memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Sakib Machmud
No.177

Jumat, 15 Februari 2013

TAFAKUR (2)

SARANA UNTUK MEMPEROLEH HIKMAH ILAHI

(Tulisan ini adalah lanjutan dari terbitan No 173 dengan judul yang sama).

"Al-Qur’an dari waktu ke waktu menggugat manusia untuk berpikir, merenung dan menggunakan akalnya. Berpikir adalah sebagian dari petunjuk Allah ke arah iman kepada-Nya. Allah memuji mereka yang berjiwa terbuka, suka mendengarkan pendapat orang lain, kemudian mengikuti mana yang terbaik dari pendapat itu, yaitu setelah melalui kegiatan berpikir  dan pemeriksaan serta pemahaman yang kritis dan teliti.” (Dr Nurcholish Majid dalam buku ‘Pintu-pintu menuju Tuhan)
Bertafakur Memahami Kehidupan Setelah Kematian
Untuk tafakur yang agak berat, marilah kita ikuti renungan kekhwatiran seorang manusia yang sadar akan adanya kehidupan setelah kematian:
Sesaat setelah ruhku berpisah dengan jasad, yaitu ketika aku mulai memasuki alam kehidupan yang baru, apakah aku dapat tersenyum menjumpai malaikat yang memberikan salam kepadaku: 1. Wahai anak Adam, engkaukah yang meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkanmu?. 2. Wahai anak Adam, engkaukah yang merengkuh dunia, atau dunia yang merengkuhmu?. 3. Wahai anak Adam, engkaukah yang mematikan dunia, atau dunia yang mematikanmu?
Ketika jasadku digeletakkan menunggu untuk dimandikan, mampukah aku tegar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan malaikat kepadaku: 1. Wahai anak Adam, dimanakah tubuhmu yang kuat itu, mengapa kini engkau tidak berdaya? 2. Wahai anak Adam, dimanakah lisanmu yang lantang dulu, mengapa kini engkau terdiam?. 3. Wahai anak Adam, di manakah orang-orang yang mengasihimu, mengapa kini mereka membiarkanmu tergeletak tanpa daya?
Sewaktu mayatku dibaringkan di atas kain kafan, siap dibungkus, mampukah aku manuruti apa yang dikatakan malaikat: 1. Wahai anak Adam, bersiaplah engkau pergi jauh tanpa membawa bekal!. 2. Wahai anak Adam, pergilah dari rumahmu dan jangan kembali!. 3. Wahai anak Adam, naikilah tandu yang tidak akan pernah engkau nikmati lagi setelah itu !.
Tatkala jenazahku dipikul di atas keranda, sanggupkah aku bersikap anggun seperti seorang raja yang ditandu prajurit, ketika malaikat berseru kepadaku: 1. Wahai anak Adam, bahagialah engkau apabila engkau termasuk orang-orang yang bertaubat. 2. Wahai anak Adam, berbahagialah engkau apabila selama di dunia engkau selalu taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya. 3. Wahai anak Adam, berbahagialah engkau apabila yang menjadi teman abadimu di alam kubur adalah ridha Allah, celakalah engkau apabila teman abadimu murka Allah!
Ketika aku dibaringkan untuk dishalati, akankah diriku mampu bersikap ‘manis’ tatkala malaikat berbisik di telingaku: 1. Wahai anak Adam, semua perbuatan yang telah engkau lakukan akan engkau lihat kembali, 2. Wahai anak Adam, apabila selama ini engkau tenggelam dalam amal shaleh maka bergembiralah. 3. Wahai anak Adam, apabila selama ini engkau tenggelam dalam kemaksiatan menuruti nafsu, maka sambutlah penderitaan akibat keenggananmu mengabdi kepada-Nya !
Sewaktu jasadku berada di tepi kubur siap untuk diturunkan ke liang lahat, akankah lidahku kelu menjawab pertanyaan malaikat yang berbisik lirih: 1. Wahai anak Adam, kedamaian apakah yang engkau bawa untuk menempati rumah cacing ini? 2. Wahai anak Adam, cahaya apakah yang engkau bawa untuk menempati rumah yang gelap ini? 3. Wahai anak Adam, siapakah temanmu yang kau ajak menemanimu dalam penantian panjang ini?
Tatkala aku sudah diletakkan di liang kubur, masih mampukah aku tersenyum menjawab ucapan selamat datang yang disampaikan bumi kepadaku: 1. Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bergelak tawa, kini setelah berada di perutku apakah engkau akan tertawa juga, ataukah engkau akan menangis menyesali diri? 2. Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bergembira ria, kini setelah berada di perutku apakah kegembiraan itu masih tersisa, ataukah engkau akan tenggelam  dalam duka nestapa? 3. Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bersilat lidah, masihkah kini engkau ‘bernyanyi’ ataukah engkau akan diam membisu seribu bahasa bergelut dengan penyesalan?
Setelah aku sendiri terbujur kaku dihimpit bumi tanpa daya dalam liang lahat, sementara sanak keluargaku beserta teman-teman karibku pulang ke rumahnya masing-masing, akankah kecemasan menguasai diriku ketika Allah Swt berfirman: “Wahai hamba Ku, sekarang engkau terasingkan sendirian. Mereka telah pergi meninggalkan engkau dalam kesempitan dan kegelapan. Padahal dulu engkau membangkang tidak mau taat kepada-Ku semata-mata untuk kepentingan mereka. Balasan apa yang engkau peroleh dari mereka? Masih pantaskah engkau mengharapkan surga-Ku?         
Bertafakur Dengan Syair
Dari syair pun kita dapat bertafakur, sebagaimana contoh di bawah ini, marilah kita renungkan ‘dua syair’ berikut:
Waktu nafas yang tak kembali .................
▪     Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya.
▪     Digulung hari demi hari, bulan, dan tahun tanpa terasa
▪     Nafasku terus berjalan, setia  menuntunku ke pintu kematian.
▪     Sebenarnya dunialah yang kujauhi dan liang kuburlah yang kudekati.
▪     Satu hari berlalu, berarti satu hari berkurang umurku.
▪     Umurku yang tersisa di hari ini sungguh tidak ternilai harganya, sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diriku.
▪     Karena itu, jika satu hari berlalu tapi tiada pahala dan keyaknanku yang bertambah, apalah arti hidupku di mata Allah.

Ketika Allah berkata tidak .........
▪     Ya Allah, ambillah kesombonganku dariku...
▪     “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya!”
▪     Ya Allah, berilah aku kesabaran ...
▪     “Tidak. Kesabaran diperoleh dari ketabahan dalam menghadapi cobaan. Aku tidak memberikan kesabaran, engkau harus meraihnya sendiri!”
▪     Ya Allah, berilah aku kebahagiaan...
▪     “Tidak. Aku memberi keberkahan dan hikmah, sedangkan kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri!”
▪     Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesusahan .....
▪     “Tidak. Penderitaan akan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku!”
▪     Ya Allah, beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat .....
▪     “Tidak. Aku beri kau akal dan kalbu serta Al-Qur’an, supaya kau dapat menikmati kehidupan!”
Bertafakur Setelah Mengalami Peristiwa Yang Dahsyat
Laura Lorenza, seorang pramugari dari suatu maskapai penerbangan yang mengalami musibah, karena pesawatnya jatuh dan terbakar sesaat setelah mendarat di bandara Adi Sumarmo Solo beberapa tahun  yang lalu.
Dalam peristiwa itu, pramugari ini sempat dinyatakan meninggal dunia oleh regu penolong, badannya yang sebagian besar hangus terbakar dan tidak menunjukkan tanda-tanda masih hidup, diangkat dan diletakkan bersama-sama dengan jenazah para korban lainnya yang telah meninggal dunia.   
Dalam kondisi yang tidak berdaya sama sekali, dia merintih dengan lemah dan hampir tidak dapat didengar oleh orang-orang di lokasi musibah itu. Yang dapat diucapkan hanyalah kata-kata lirih: “Tolong aku, tolong aku..........”.
Untunglah ada seorang paramedis yang kebetulan memeriksa jenazah-jenazah yang rencananya akan diangkut dari lokasi musibah ke rumah sakit, mendengar rintihan itu dan mencari asal suara tersebut, yang akhirnya mengetahui bahwa salah satu tubuh yang setengah rusak itu masih mempunyai harapan untuk hidup.
Dalam proses perawatan dan pemulihan kondisi tubuhnya, Laura mengalami sebanyak belasan kali operasi yang terdiri atas penyembuhan luka-luka, perbaikan wajah, permukaan kulit, maupun operasi pada tulang-tulang yang memerlukan pemasangan pin dan logam untuk memullihkan kondisi maupun fungsi tubuhnya.
Kondisi Laura saat ini yang kembali kelihatan cantik dan ceria, tidak seorang pun mengira bahwa di dalam tubuhnya banyak benda-benda yang mendukung kehidupan barunya sekarang, mulai dari plat di tulang pipinya, logam dan pin-pin pada tulang-tulang rusuk dan bahunya, dan bagian tubuh yang baru setelah ditambal dari bagian tubuh yang lain, berkat suatu operasi yang berhasil dengan baik.
Menurut pengakuannya, pada waktu kejadian itu, ia merintih minta tolong dengan hampir putus asa, yang diingatnya adalah memohon kepada Tuhan untuk diberikan kesempatan hidup lagi untuk memperbaiki kesalahan dan kelakuan selama ini.
Selama proses penyembuhan yang lama dan melalui serangkaian operasi dijalaninya dengan sabar, dan pada saat-saat itu ia mengaku ‘berpikir’ tentang kelakuannya yang selama ini tidak terpuji dan sering berani dan menyakitkan hati orang tuanya, bahkan ada rasa tinggi hati dalam  perilakunya, sementara biaya perawatan dan operasi yang mencapai ratusan juta didukung oleh orang tuanya yang mengasihinya. Ia berpikir apakah ini merupakan teguran dari Tuhan atas semua itu, namun Dia telah mendengarkan dan mengabulkan doanya dengan memberi kesempatan untuk hidup dan memperbaiki kelakuannya.
Nasihat Para Bijak Dan Kata-Kata Mutiara
Dari nasihat para bijak dapat pula kita tafakuri, seperti contoh sebagai berikut: Imam Ali bin Abi Thalib Ra berkata: “Tiada kekayaan lebih utama daripada akal. Tiada kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan lebih baik daripada penidikan.”
Prof. Jalaluddin Rahmat dalam bukunya ‘Islam Aktual’ berpendapat, seorang Muslim dituntut harus bertindak secara sadar, yaitu dengan menggunakan seluruh kemampuan / potensi intelektualnya. Menurutnya, karena itulah Al-Qur’an bertanya: “Katakan, apakah sama orang yang buta dan orang yang melihat? Tidakkah mereka berpikir?” (QS Al-An’aam 6: 50).
Dr. M. Imaduddin Abdulrahim, dalam bukunya ‘Kuliah Tauhid’ menafsirkan QS Al-A’raaf 7: 178 dengan menjelaskan: “hikmah atau hidayah Allah tidak akan diberikan Allah secara cuma-cuma (gratis), tetapi ini hanya diberikan kepada orang-orang yang dengan sungguh-sungguh menggunakan akal dan rasa yang dimilikinya. ‘Akal’ untuk menganalisa lalu memahami, dan ‘rasa’ untuk meresapkan atau menghayatinya.”   
Kata-Kata Mutiara Yang Patut Kita Tafakuri
Perbuatan dosa adalah penghantar pada kekufuran, sebagaimana halnya demam penghantar menuju kematian.
Keinginan agar keistimewaanmu diketahui orang adalah bukti tidak adanya kejujuran dalam kehambaannmu.
Orang yang sebenarnya gila adalah orang yang pikirannya justru masih waras, ia mengaku hamba Tuhan dan mengharapkan surga-Nya, sementara ia malas mematuhi perintah-perintah-Nya.
Maksiat yang anda lakukan pada hakikatnya adalah secara sadar menanda tangani kontrak untuk tinggal di neraka.
Demikian, beberapa telaahan mengenai tafakur dengan beberapa contohnya, semoga memberikan tambahan nuansa bagi kita agar secara sadar dan aktif bertafakur untuk memperoleh hikmah dan hidayah dari Allah Swt.
Seseorang tidak perlu menunggu ‘dipaksa’ oleh Allah untuk berpikir tentang kekuasaan-Nya dengan mengalami peristiwa yang dahsyat, namun apabila hal itu terjadi maka dari sanalah Allah menunjukkan kasih sayang kepada hamba-Nya dengan memberi peringatan dan kesempatan untuk bertobat, kembali menyadari sebagai hamba dan mentaati perintah-Nya.
Mengerti atau mengenal ‘kebenaran’ saja tidaklah cukup. Karena di dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa, orang yang terhindar dari ‘kerugian’ adalah mereka yang memenuhi 4 kriteria: 1) yang mengenal kebenaran, 2) yang mengamalkan kebenaran, 3) yang saling nasihat menasihati mengenai kebenaran; dan 4) yang sabar dan tabah dalam mengamalkan serta mengajarkan kebenaran.
(Tulisan utama disadur dari buku ‘Bahan Renungan Kalbu’, penulis Permadi Alibasyah, kisah Laura Lorenza disadur dari Talk Show ‘Kick Andy’, Metro TV)
Mohammad Kamal
No. 176


Selasa, 05 Februari 2013

SAKARATUL MAUT


Orang yang takwa (muttaqiin), akan selalu ingat kematian yang bisa terjadi setiap saat. karena kematian merupakan jalan kembali kepada Allah yang menciptakan kita. Dahulu kita berada di sisi Allah. kemudian kita diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini untuk menjalani kehidupan sementara, kemudian kita mengakhirinya dengan kematian, yang artinya kita kembali ke sisi Allah lagi dalam keadaan Islam.
Pada umumnya proses tercabutnya nyawa ini akan diawali dengan saat-saat yang menegangkan dan kadang-kadang menyakitkan, yang disebut ‘sakaratul maut’. Tentang sakaratul naut ini Allah Swt berfirman: ▪ “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”. (QS Qaaf 50: 19). ▪ “Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. (QS Al-Qiyaamah 75: 26-30).
Kabar Gembira Untuk Orang-Orang Mukmin
Orang yang beriman (mukmin), ruhnya akan lepas dengan mudah dan ringan. Malaikat akan mendatangi orang yang beriman untuk mengambil nyawanya dengan kesan yang baik dan menggembirakan. Rasulullah Saw bersabda tentang proses kematian seorang Mukmin: “Seorang hamba mukmin, jika telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat akan mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka mereka layaknya sinar matahari. Mereka membawa kafan dari surga, serta hanuth (wewangian) dari surga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang. Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata: “Wahai jiwa yang baik, jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.” Ruhnya keluar bagaikan aliran cucuran air dari mulut kantong kulit. Setelah keluar ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya. Jika telah diambil, para malaikat lainnya tidak membiarkannya di tangannya (malaikat maut) sejenak saja, untuk mereka ambil dan diletakkan di kafan dan hanuth tadi. Dari jenazah, semerbak aroma misk terwangi yang ada di bumi.” (HR Ahmad).
Malaikat memberi kabar gembira kepada orang Mukmin dengan ampunan dengan ridha Allah untuknya. Secara tegas dalam kitab-Nya, Allah menyatakan bahwa para malaikat menghampiri orang-orang yang beriman, dengan mengatakan janganlah takut dan sedih serta membawa berita gembira tentang surga, sebagaimana firman Allah Swt “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqamah, maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata):” Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Fushshilat 41: 30-32)
Ismail bin Katsir mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Allah semata dan mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Allah niscaya para malaikat akan menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan berkata “janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk akhirat dan jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan, baik itu anak, istri, harta atau agama sebab kami akan mewakili kalian dalam perkara itu. Mereka (para malaikat) memberi kabar gembira berupa sirnanya kejelekan dan turunnya kebaikan.”
Allah Swt menjelaskan kondisi kematian orang Mukmin dalam keadaan baik dengan firman-Nya: “(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)”, masuklah ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS An-Nahl 16: 32)
Syaikh Asy Syinqithi mengatakan: “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang yang bertakwa, yang melaksanakan perintah Tuhan mereka dan menjauhi larangan-Nya akan diwafatkan para malaikat yaitu dengan mencabut nyawa-nyawa mereka dalam keadaan thayyibin –baik, yakni bersih dari syirik dan maksiat, ini menurut tafsiran yang paling shahih, juga memberi kabar gembira berupa surga dan menyambut mereka dengan salam…
Mengapa Rasulullah Menderita Saat Sakaratul Maut?
Kondisi umum proses pencabutan nyawa seorang Mukmin mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita sakarul maut juga mendera sebagian orang shaleh. Tujuannya adalah untuk menghapus dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Ini pertanda baik bagi mereka yang dosa-dosanya dihapuskan sebelum wafat. Hal ini dialami Rasulullah Saw, beliau merasakan pedihnya sakaratul maut.
Beberapa hadits tentang fenomena sakaratul maut: ▪ ‘Aisyah Ra, bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Saw). “Di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut.” Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas.” (HR Al-Bukhari). ▪ Dari Anas Ra berkata: “Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fatimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini..” (HR Al-Bukhari). ▪ Dalam riwayat dengan ‘Aisyah Ra menceritakan: “Aku tidak iri kepada siapapun atas kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah.”  (HR At-Tirmidzi)
Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Dalam hadits tersebut, kesengsaran (dalam) sakaratul maut bukan petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya.” Sedangkan Abu Abdillah Muhammad Al-Qurthubi mengatakan dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para nabi, mengandung manfaat:
Pertama, supaya orang-orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak kasat mata. Kadang ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak ada gerakan atau keguncangan. Terlihat ruh keluar dengan mudah. Sehingga ia berfikir, sakaratul maut ini ringan. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada mayat sebenarnya. Ketika para nabi mengabarkan tentang dahsyatnya penderitaan dalam kematian - meskipun mereka mulia di sisi Allah, dan kemudahannya untuk sebagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan kematian yang akan ia rasakan dan dihadapi mayit secara mutlak.
Kedua, mungkin akan terbetik di benak sebagian orang, mengapa mereka adalah para kekasih Allah dan para nabi dan rasul-Nya, mengalami kesengsaraan yang berat ini? Padahal Allah mampu meringankannya bagi mereka. Jawabanya, adalah orang yang paling berat ujiannya di dunia adalah para nabi, kemudian orang yang menyerupai mereka, dan orang yang semakin mirip dengan mereka seperti dikatakan disebutkan dalam hadits. Allah ingin menguji mereka untuk melengkapi keutamaan dan peningkatan derajat mereka di sisi-Nya. Ini bukan sebuah aib bagi mereka juga bukan bentuk siksaan. Allah menginginkan menutup hidup mereka dengan penderitaan ini meski mampu meringankan dan mengurangi (kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tetapi bukan berarti Allah mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk kejahatan mereka. Maka tidak bisa disamakan”. (HR Al-Bukhari dan lainnya).
Kabar Buruk Untuk Orang-Orang Kafir
Di sisi lain orang kafir, ruhnya akan keluar dengan susah payah, ia tersiksa dengannya. Rasulullah Saw menceritakan kondisi sakaratul maut orang kafir atau orang yang jahat dengan sabdanya: “Sesungguhnya hamba yang kafir, yang jahat jika akan telah berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat-malaikat yang kasar akan dari langit dengan wajah yang buruk dengan membawa dari neraka. Mereka duduk sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat maut hadir dan duduk di atas kepalanya dan berkata: “Wahai jiwa yang keji keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya”. Maka ia mencabut (ruhnya) layaknya mencabut saffud (penggerek) yang banyak mata besinya dari bulu wol yang basah.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Secara ekspilisit, Al-Quran telah menjelaskan bahwa para malaikat akan memberi kabar buruk kepada orang kafir dengan siksa. Allah berfirman: “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat mumukul dengan tangannya, (Sambil berkata): “Keluarkan nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya.” (Al-An'am 6: 93)
Para malaikat memukulimya supaya nyawanya keluar dari tubuhnya. Seketika itu, malaikat mengatakan: “Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatnya, artinya pada hari ini, kalian akan dihinakan dengan penghinaan yang tidak terukur karena mendustakan Allah dan (karena) kecongkakan kalian dalam mengikuti ayat-ayat-Nya dan tunduk kepada para rasul-Nya.”
Saat detik-detik kematian datang, orang kafir minta dikembalikan agar bisa masuk Islam. Sedangkan orang yang jahat mohon dikembalikan ke dunia untuk bertaubat, dan beramal shaleh. Namun sudah tentu, permintaan mereka tidak akan terkabulkan. Allah Swt berfirman: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Rabbi kembalikan aku ke dunia. Agar aku berbuat amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (QS Al Mu’minuun 23: 99-100)
Setiap orang yang teledor di dunia ini, baik dengan kekufuran maupun perbuatan maksiat lainnya akan dilanda penyesalan, dan akan meminta dikembalikan ke dunia meski sejenak saja, untuk menjadi orang yang insan muslim yang shaleh. Namun kesempatan untuk itu sudah hilang, tidak mungkin disusul lagi. Jadi, persiapan harus dilakukan sejak dini dengan tetap memohon agar kita semua diwafatkan dalam keadaan memeluk agama Allah.

Hermanto Harsolumakso
No. 175