Senin, 25 Februari 2013

KISAH-KISAH DALAM AL-QUR’AN


Al-Qur’an adalah Kitab yang diturunkan Allah melalui Nabi Muhammad Saw, berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan atas petunjuk itu, serta pembeda antara yang haq dengan yang bathil  (QS Al-Baqarah 2: 185). Pada ayat lain disebutkan bahwa Al-Quran menjadi petunjuk bagi orang-orang yang berjuang menuju ke tingkat takwa, tingkatan tertinggi yang dapat dicapai manusia (QS Al-Baqarah 2: 2). Manusia yang dituju oleh Al-Quran beraneka ragam, ada yang mampu berpikir runtut dan sistematik, tetapi ada pula yang tidak mudah memahami hal-hal yang konsepsional dan abstrak. Maka agar mudah dimengerti oleh sebanyak mungkin penerimanya, petunjuk Allah Swt tersebut disampaikan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Ada kalanya Kitab Allah ini mengemukakan keterangan secara lugas, misalnya ketika membicarakan ke-Mahaesaan Allah dalam surah QS Al-Ikhlas 112. Pada sejumlah ayat yang lain digunakan metafora - kiasan. Contohnya ketika melukiskan sebuah masyarakat yang telah memperoleh Kitab Allah tetapi tidak melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, mereka digambarkan seperti keledai yang membawa banyak Kitab di punggungnya. Keledai merasakan beratnya beban yang dibawanya tanpa memperoleh manfaat apapun dari bawaannya (QS Al-Jumu’ah 62: 5).
Pendekatan lain yang digunakan Al-Quran dalam menyampaikan kebenaran adalah mengemukakan kisah-kisah. Ada tiga macam kisah yang kita jumpai di dalam Al-Quran, yaitu:
Pertama: Kisah para Nabi dan Rasul Allah yang terdahulu, sejak Nabi Adam As sampai dengan Nabi ‘Isa As. Mengenai hal ini, pada umumnya kisah seorang Nabi tidak diletakkan dalam satu surah dan disampaikan secara berurutan, ayat demi ayat, tetapi disebar di dalam berbagai surah dan ayat yang berpencaran. Kisah Nabi Adam As misalnya, terdapat dalam QS Al-Baqarah 2: 30-39, Al-A’raaf 7: 11-25, Al-Hijr 15: 28-44, Al-Israa’ 17: 61-63, Thaahaa 20: 116-117, Shad 38: 71-74. Masing-masing kelompok ayat tersebut menuturkan suatu episode dari kisah, yang relevan dengan pesan yang hendak disampaikan.
Orang yang berkeinginan untuk memahami kisah seorang Rasul secara utuh, harus menggabungkan berbagai keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat yang terpencar-pencar itu. Meskipun demikian ada kisah Rasul yang disampaikan secara berurutan dalam satu surah, yaitu kisah Nabi Yusuf As. di dalam QS Yusuf 12: 3-101. Dalam surah tersebut dipaparkan secara lengkap, kisah Nabi Yusuf sejak masih anak-anak sampai menjadi manusia dewasa, yang diangkat Allah menjadi Rasul-Nya dan diberi amanah oleh penguasa Mesir masa itu untuk memegang posisi Bendahara Negara.
Kedua: Kisah tentang orang-orang terdahulu yang tidak diketahui secara tepat masa dan tempat kehidupannya. Rupanya yang dipentingkan adalah isi pesan yang dikandungnya. Contoh kelompok ini adalah kisah penghuni gua (As-habul kahfi) yang dikemukakan dalam surah Al-Kahfi 18: 9-26, kisah Iskandar Dzulqarnain dalam surah Al-Kahfi 18: 83-98, dan kisah Luqmanul Hakim dalam surah Luqman (31): 12-13 dan 16-19.
Ketiga: Kisah tentang peristiwa-peristiwa yang berlangsung pada masa Nabi Muhammad Saw, seperti Pertempuran Badar dalam surah Al-Baqarah 2: 5-12, dan Perang Uhud dalam surah Ali ‘Imran 3: 121-125.
Untuk apa Allah Swt mengemukakan kisah-kisah masa lalu dalam Al-Quran? Allah Swt berfirman:
وَكُـلاًّ نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاء الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءكَ فِي هَـذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ ﴿١٢٠﴾
“Dan semua kisah dari Rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (QS Huud 11: 120).
Firman Allah tersebut di atas mengemukakan kepada kita, empat hal yang menjadi tujuan pemaparan kisah-kisah tersebut:
Tujuan yang pertama adalah meneguhkan keyakinan umat tentang posisi Muhammad Saw sebagai Rasul Allah. Ketika beliau memperkenalkan dirinya sebagai utusan Allah, yang mengajarkan tauhid, dan mengajak orang agar meninggalkan keyakinan syirik, mayoritas masyarakat mencemooh beliau. Mereka menolak semua perkataan Muhammad karena beranggapan bahwa beliau hanyalah seorang laki-laki yang lahir sebagai anak yatim, beranjak dewasa sebagai orang miskin karena ayahnya tidak meninggalkan banyak harta warisan, dan semua orang Makkah mengetahui bahwa beliau adalah orang yang ummiy - tuna aksara, dan tidak pernah mempelajari ilmu dari siapapun. Tetapi meskipun demikian beliau mampu mengemukakan kisah-kisah masa lalu secara jelas, kadang-kadang bahkan amat rinci, sampai seakan-akan beliau menyaksikan peristiwa-peristiwa tersebut dengan mata kepala sendiri. Tentu saja beliau tidak menyaksikan peristiwa yang berkenaan dengan Adam As sampai dengan ‘Isa As, begitu pula dengan peristiwa Iskandar Zulqarnain, Ashabul Kahfi, dan sebagainya. Kenyataan demikian justru membuktikan bahwa satu-satunya kemungkinan, beliau mengetahui hal itu dari wahyu Allah Swt.
Tujuan yang kedua dari pemaparan kisah-kisah ialah menyatakan kebenaran, untuk menerangkan peristiwa yang benar terjadi dan mengoreksi keterangan-keterangan yang salah. Kisah-kisah tersebut, kecuali yang berkenaan dengan Nabi Muhammad Saw sendiri, terdapat pula dalam Kitab-kitab sebelum Al-Quran. Tetapi banyak dari detail kebenaran yang terlupakan, atau sengaja dipalsukan segolongan orang, agar sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka. Misalnya orang-orang Yahudi Madinah menyatakan bahwa yang memprovokasi orang-orang untuk menyembah patung anak sapi ketika Musa As dipanggil Allah naik ke bukit Tursina adalah Nabi Harun AS, Al-Quran menerangkan bahwa yang menjadi penganjur penyembahan tersebut adalah seorang pendeta Mesir bernama Samiri. Karena sesuatu hal dia  turut serta dalam rombongan Bani Israil. Harun adalah seorang Nabi Allah, maka tidak mungkin beliau mengajak orang untuk menyekutukan sesuatu dengan Allah.
Tujuan ketiga: menjadi pelajaran untuk orang-orang yang sedang menjalani hidup di dunia, karena di dalam sejarah itu ada pola-pola tertentu, yang berulang dari masa ke masa. Maka kalau orang memasuki pola itu dia akan menjadi seperti orang-orang terdahulu yang masuk ke pola yang sama. Di dalam Al-Quran dikemukakan secara berurutan, riwayat umat Nabi Nuh As, ummat Nabi Hud As (kaum ‘Ad), dan ummat Nabi Shalih As. (kaum Tsamud). Semua mereka adalah orang-orang yang cerdas, kreatif dan pekerja keras. Karena itu mereka sama-sama berhasil mengembangkan diri menjadi bangsa yang kuat dengan kemampuan ekonomi yang mantap. Tetapi ketika kaum Nabi Nuh mencapai sukses, mereka menjadi sombong, meremehkan kaum-kaum lain di sekitarnya, bahkan mengeksploitasi kaum-kaum yang dianggap lemah itu untuk keuntungan diri sendiri. Allah Swt menurunkan Nabi Nuh As sebagai Rasul-Nya, yang diberi tugas mengingatkan kaum tersebut dari kekeliruannya, dan mengajarkan tata hidup yang benar. Tetapi kaum itu menolak ajaran Nuh As, mencemooh, dan menzhalimi para pengikut Rasul tersebut. Maka Allah menjatuhkan adzab yang keras sehingga kaum itu punah, kecuali sebagian kecil yang menjadi pengikut Rasul Allah. Generasi berikutnya yaitu kaum ‘Ad, seharusnya mengambil pelajaran dari peristiwa tragis tersebut. Tetapi mereka justru mengulang pola hidup kaum Nuh. Allah Swt mengutus Nabi Hud a.s. dengan tugas seperti Nabi Nuh, yaitu memberi peringatan akan bahaya besar, bahkan kehancuran yang akan mereka alami bila tidak merngubah diri dengan melakukan perbuatan yang benar. Nabi tersebut kemudian  menginformasikan kebenaran dari Allah Swt. Tetapi mereka juga menolak, mencemooh, dan mendzalimi Nabi tersebut, persis seperti kaum Nabi Nuh melakukan hal itu kepada Rasul yang diutus kepada mereka. Maka Allah menjatuhkan adzab yang menjadikan kaum ‘Ad punah pula, seperti pendahulunya. Hal yang sama terjadi lagi pada kaum Tsamud.
Tujuan keempat: Menjadi peringatan bagi ummat Nabi Muhammad Saw agar jangan menjalani pola hidup seperti ummat-ummat terdahulu yang congkak dan bebal, karena bila mereka melakukannya, akan diadzab Allah seperti kaum-kaum terdahulu tersebut. Mungkin umat Muhammad tidak akan dipunahkan, dari alam dunia, karena Rasul terakhir itu menjadi rahmatan lil ‘alamin - rahmat bagi semesta alam. Tetapi toh banyak orang-orang kafir dari umat Muhammad akan diganjar dengan adzab dunia dan akhirat yang sungguh sangat menyengsarakan. Di dunia mereka mengalami kekalahan telak ketika melakukan invasi ke Madinah untuk menghancurkan Islam dan membunuh utusan Allah, Muhammad Saw. Di akhirat mereka akan merasakan siksa neraka yang sangat berat untuk waktu tanpa batas akhir. 
Demikianlah pemaparan kisah-kisah di dalam Al-Quran mempunyai tujuan yang penting dan jelas. Maka pesan pokok kepada orang-orang yang telah beriman, ketika membaca kisah-kisah di dalam Kitabullah ini, jangan hanya sekedar membacanya sebagai perintang waktu, tetapi benar-benar menjadikannya sebagai tuntunan dalam kehidupannya di dunia sekarang, untuk memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Sakib Machmud
No.177

Tidak ada komentar:

Posting Komentar