Al-Qur’an adalah Kitab yang diturunkan Allah melalui Nabi Muhammad Saw,
berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan atas
petunjuk itu, serta pembeda antara yang haq dengan yang bathil (QS Al-Baqarah 2: 185). Pada ayat
lain disebutkan bahwa Al-Qur’an menjadi
petunjuk bagi orang-orang yang berjuang menuju ke tingkat takwa, tingkatan
tertinggi yang dapat dicapai manusia (QS
Al-Baqarah 2: 2). Manusia
yang dituju oleh Al-Quran beraneka ragam, ada yang mampu berpikir runtut dan
sistematik, tetapi ada pula yang tidak mudah memahami hal-hal yang konsepsional
dan abstrak. Maka agar mudah dimengerti oleh sebanyak mungkin penerimanya,
petunjuk Allah Swt tersebut disampaikan dengan menggunakan berbagai pendekatan.
Ada kalanya Kitab Allah ini mengemukakan keterangan secara lugas, misalnya
ketika membicarakan ke-Mahaesaan Allah dalam surah QS Al-Ikhlas 112.
Pada sejumlah ayat yang lain digunakan metafora - kiasan. Contohnya ketika melukiskan sebuah masyarakat yang telah memperoleh Kitab
Allah tetapi tidak melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, mereka
digambarkan seperti keledai yang membawa banyak Kitab di punggungnya. Keledai
merasakan beratnya beban yang dibawanya tanpa memperoleh manfaat apapun dari
bawaannya (QS Al-Jumu’ah 62: 5).
Pendekatan lain yang digunakan Al-Qur’an
dalam menyampaikan kebenaran adalah mengemukakan kisah-kisah. Ada tiga macam
kisah yang kita jumpai di dalam Al-Qur’an, yaitu:
Pertama: Kisah para Nabi dan Rasul Allah yang
terdahulu, sejak Nabi Adam As sampai dengan Nabi
‘Isa As. Mengenai hal ini, pada umumnya kisah
seorang Nabi tidak diletakkan dalam satu surah dan disampaikan secara
berurutan, ayat demi ayat, tetapi disebar di dalam berbagai surah dan ayat yang
berpencaran. Kisah Nabi Adam As misalnya, terdapat dalam QS
Al-Baqarah 2: 30-39, Al-A’raaf 7:
11-25, Al-Hijr 15: 28-44, Al-Israa’
17: 61-63, Thaahaa 20: 116-117,
Shad 38: 71-74. Masing-masing kelompok ayat tersebut menuturkan suatu episode
dari kisah, yang relevan dengan pesan yang hendak disampaikan.
Orang yang berkeinginan untuk memahami kisah
seorang Rasul secara utuh, harus menggabungkan berbagai keterangan yang
terdapat dalam ayat-ayat yang terpencar-pencar itu. Meskipun demikian ada kisah
Rasul yang disampaikan secara berurutan dalam satu surah, yaitu kisah Nabi
Yusuf As. di dalam QS Yusuf 12:
3-101. Dalam surah tersebut dipaparkan secara lengkap, kisah Nabi Yusuf sejak
masih anak-anak sampai menjadi manusia dewasa, yang diangkat Allah menjadi
Rasul-Nya dan diberi amanah oleh penguasa Mesir masa itu untuk memegang posisi
Bendahara Negara.
Kedua: Kisah tentang orang-orang terdahulu
yang tidak diketahui secara tepat masa dan tempat kehidupannya. Rupanya yang
dipentingkan adalah isi pesan yang dikandungnya. Contoh kelompok ini adalah kisah
penghuni gua (As-habul kahfi) yang dikemukakan dalam surah Al-Kahfi 18: 9-26,
kisah Iskandar Dzulqarnain dalam surah Al-Kahfi 18: 83-98, dan kisah Luqmanul
Hakim dalam surah Luqman (31): 12-13 dan 16-19.
Ketiga: Kisah tentang peristiwa-peristiwa
yang berlangsung pada masa Nabi Muhammad Saw, seperti Pertempuran Badar dalam
surah Al-Baqarah 2: 5-12, dan Perang Uhud dalam surah Ali ‘Imran 3:
121-125.
Untuk apa Allah Swt mengemukakan kisah-kisah
masa lalu dalam Al-Quran? Allah Swt berfirman:
وَكُـلاًّ
نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاء الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءكَ
فِي هَـذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ ﴿١٢٠﴾
“Dan semua kisah dari Rasul-rasul
yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu;
dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan
peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (QS Huud
11: 120).
Firman Allah tersebut di atas
mengemukakan kepada kita, empat hal yang menjadi tujuan pemaparan kisah-kisah
tersebut:
Tujuan yang pertama adalah meneguhkan
keyakinan umat tentang posisi Muhammad Saw sebagai Rasul Allah. Ketika beliau
memperkenalkan dirinya sebagai utusan Allah, yang mengajarkan tauhid, dan
mengajak orang agar meninggalkan keyakinan syirik, mayoritas masyarakat
mencemooh beliau. Mereka menolak semua perkataan Muhammad karena beranggapan
bahwa beliau hanyalah seorang laki-laki yang lahir sebagai anak yatim, beranjak
dewasa sebagai orang miskin karena ayahnya tidak meninggalkan banyak harta
warisan, dan semua orang Makkah mengetahui bahwa beliau adalah orang yang ummiy
- tuna aksara, dan tidak pernah mempelajari
ilmu dari siapapun. Tetapi meskipun demikian beliau mampu mengemukakan
kisah-kisah masa lalu secara jelas, kadang-kadang bahkan amat rinci, sampai
seakan-akan beliau menyaksikan peristiwa-peristiwa tersebut dengan mata kepala
sendiri. Tentu saja beliau tidak menyaksikan peristiwa yang berkenaan dengan
Adam As sampai dengan ‘Isa As,
begitu pula dengan peristiwa Iskandar Zulqarnain, Ashabul Kahfi, dan
sebagainya. Kenyataan demikian justru membuktikan bahwa satu-satunya
kemungkinan, beliau mengetahui hal itu dari wahyu Allah Swt.
Tujuan yang kedua dari pemaparan kisah-kisah
ialah menyatakan kebenaran, untuk menerangkan peristiwa yang benar
terjadi dan mengoreksi keterangan-keterangan yang salah. Kisah-kisah tersebut,
kecuali yang berkenaan dengan Nabi Muhammad Saw sendiri, terdapat pula dalam
Kitab-kitab sebelum Al-Qur’an. Tetapi banyak
dari detail kebenaran yang terlupakan, atau sengaja dipalsukan segolongan
orang, agar sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka. Misalnya orang-orang
Yahudi Madinah menyatakan bahwa yang memprovokasi orang-orang untuk menyembah
patung anak sapi ketika Musa As dipanggil Allah naik
ke bukit Tursina adalah Nabi Harun AS, Al-Quran
menerangkan bahwa yang menjadi penganjur penyembahan tersebut adalah seorang
pendeta Mesir bernama Samiri. Karena sesuatu hal dia turut serta dalam rombongan Bani Israil.
Harun adalah seorang Nabi Allah, maka tidak mungkin beliau mengajak orang untuk
menyekutukan sesuatu dengan Allah.
Tujuan ketiga: menjadi pelajaran untuk
orang-orang yang sedang menjalani hidup di dunia, karena di dalam sejarah itu
ada pola-pola tertentu, yang berulang dari masa ke masa. Maka kalau orang
memasuki pola itu dia akan menjadi seperti orang-orang terdahulu yang masuk ke
pola yang sama. Di dalam Al-Qur’an dikemukakan secara
berurutan, riwayat umat Nabi Nuh As, ummat
Nabi Hud As (kaum ‘Ad), dan ummat
Nabi Shalih As. (kaum Tsamud). Semua mereka adalah
orang-orang yang cerdas, kreatif dan pekerja keras. Karena itu mereka sama-sama
berhasil mengembangkan diri menjadi bangsa yang kuat dengan kemampuan ekonomi
yang mantap. Tetapi ketika kaum Nabi Nuh mencapai sukses, mereka menjadi
sombong, meremehkan kaum-kaum lain di sekitarnya, bahkan mengeksploitasi
kaum-kaum yang dianggap lemah itu untuk keuntungan diri sendiri. Allah Swt
menurunkan Nabi Nuh As sebagai Rasul-Nya, yang diberi tugas
mengingatkan kaum tersebut dari kekeliruannya, dan mengajarkan tata hidup yang
benar. Tetapi kaum itu menolak ajaran Nuh As,
mencemooh, dan menzhalimi para pengikut Rasul tersebut. Maka
Allah menjatuhkan adzab yang keras sehingga kaum itu punah, kecuali sebagian
kecil yang menjadi pengikut Rasul Allah. Generasi berikutnya yaitu kaum ‘Ad,
seharusnya mengambil pelajaran dari peristiwa tragis tersebut. Tetapi mereka
justru mengulang pola hidup kaum Nuh. Allah Swt mengutus Nabi Hud a.s. dengan
tugas seperti Nabi Nuh, yaitu memberi peringatan akan bahaya besar, bahkan
kehancuran yang akan mereka alami bila tidak merngubah diri dengan melakukan
perbuatan yang benar. Nabi tersebut kemudian
menginformasikan kebenaran dari Allah Swt. Tetapi mereka juga menolak,
mencemooh, dan mendzalimi Nabi tersebut, persis seperti kaum Nabi Nuh melakukan
hal itu kepada Rasul yang diutus kepada mereka. Maka Allah menjatuhkan adzab
yang menjadikan kaum ‘Ad punah pula, seperti pendahulunya. Hal yang sama
terjadi lagi pada kaum Tsamud.
Tujuan keempat: Menjadi peringatan bagi ummat
Nabi Muhammad Saw agar jangan menjalani pola hidup seperti ummat-ummat
terdahulu yang congkak dan bebal, karena bila mereka melakukannya, akan diadzab
Allah seperti kaum-kaum terdahulu tersebut. Mungkin umat Muhammad tidak akan
dipunahkan, dari alam dunia, karena Rasul terakhir itu menjadi rahmatan lil
‘alamin - rahmat bagi semesta alam. Tetapi toh banyak
orang-orang kafir dari umat Muhammad akan diganjar dengan adzab dunia dan
akhirat yang sungguh sangat menyengsarakan. Di dunia mereka mengalami kekalahan
telak ketika melakukan invasi ke Madinah untuk menghancurkan Islam dan membunuh
utusan Allah, Muhammad Saw. Di akhirat mereka akan merasakan siksa neraka yang
sangat berat untuk waktu tanpa batas akhir.
Demikianlah pemaparan kisah-kisah di dalam
Al-Qur’an mempunyai tujuan yang penting dan jelas.
Maka pesan pokok kepada orang-orang yang telah beriman, ketika membaca
kisah-kisah di dalam Kitabullah ini, jangan hanya sekedar membacanya sebagai
perintang waktu, tetapi benar-benar menjadikannya sebagai tuntunan dalam
kehidupannya di dunia sekarang, untuk memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di
akhirat.
Sakib Machmud
No.177
Tidak ada komentar:
Posting Komentar