Selasa, 05 Maret 2013

KETIKA RASA DENGKI DATANG


Sikap membenci dan tidak senang terhadap apa yang dilihatnya berupa baiknya keadaan orang yang tidak disukainya sering disebut hasad, iri hati, atau dengki. Menurut Imam An-Nawawi: “Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari yang memperolehnya, baik itu nikmat dalam agama ataupun dalam perkara dunia.” (Riyadhush Shalihin). Bahasa mudahnya dengki adalah iri hati terhadap kebaikan atau kesuksesan orang lain sambil berharap dia sendiri yang mendapatkan, bukan orang lain. Atau yang lebih populer, dengki adalah senang jika melihat orang lain susah dan susah ketika melihat orang lain senang.
Hasad termasuk perasaan yang sering kita rasakan tanpa kita sadari. Penyakit ini adalah penyakit tertua yang menjadikan iblis membangkang kepada Allah Swt. Penyakit lama Iblis ini kemudian banyak diwarisi kaum Muslimin hingga sekarang.
Seperti telah dibahas dalam tulisan 171 / Menjauhkan Diri Dari Akhlak Tercela / 25-12-12, Muslim tidak boleh dengki dan tidak menjadikannya akhlak dan sifat dalam dirinya, selagi ia mencintai kebaikan bagi semua orang dan mementingkan kebaikan itu untuk dirinya sendiri, karena dengki itu bertentangan dengan sifat mulia yaitu ‘cinta dan mementingkan kebaikan’.
Orang yang mendengki berarti menentang pembagian yang ditetapkan Allah Swt dari karunia yang diberikan kepada makhuk-Nya. Allah Swt berfirman: ▪ “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah berikan kepada manusia itu.” (QS An-Nisaa’ 4: 54). ▪ “Mengapa mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS Az-Zukhruf 43: 32).
Tidak termasuk dengki adalah igtibat, karena igtibat berharap memperoleh nikmat seperti yang didapatkan orang lain, baik berupa ilmu, kekayaan dan kebaikan lainnya tanpa menginginkan agar nikmat itu lenyap dari orang lain. Rasulullah Saw bersabda: “Bukanlah hasad dalam dua hal; Pertama, seseorang yang diberi Allah kekayaan dan digunakannya untuk menegakkan yang hak. Kedua, orang yang diberi Allah ilmu pengetahuan, lalu memutuskan perkara dengan hikmah dan mengajarkannya.” Yang dimaksud dengan hikmah ialah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
Allah Swt berfirman: ”Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS Al-Falaq 113: 5). Celaan Allah terhadap sikap dengki di sini berarti mengharamkan dan melarangnya. Rasulullah Saw bersabda: ▪ “Janganlah kamu saling membenci, mendengki, membelakangi, dan saling memutuskan hubungan. Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (Muttafaq’‘alaih). ▪ “Jauhilah olehmu dengki. Karena dengki itu merusak kebaikan, seperti halnya api membakar kayu atau rumput.” (HR Abu Daud).
Kisah Seorang Pemecah Batu
Dari sebuah cerita populer untuk anak-anak dikisahkan bahwa pada zaman dahulu ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya berjalan dengan diiringi kereta kuda yang bagus dan para pengawalnya. Timbullah rasa iri pada pemecah batu tersebut, dan karena rasa iri yang luar biasa secara tiba-tiba oleh Tuhan ia diubah menjadi orang kaya itu. Kemudian ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus berhenti dan memberi jalan kepada seorang pejabat tinggi kerajaan yang sedang lewat. “Wah enakan jadi pejabat ya, orang kaya saja musti menghormatinya”. Kemudian iri secara tiba-tiba Tuhan mengubahnya menjadi pejabat tinggi kerajaan tersebut.
Kemudian ketika sebagai pejabat tinggi meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari dan iri melihat matahari. Tiba-tiba Tuhan mengubahnya menjadi matahari. Ketika ia berubah menjadi matahari dan sedang bersinar terang, awan hitam menyelimutinya. Tiba-tiba Tuhan mengubahnya menjadi awan hitam. Ketika ia sedang menjadi awan hitam dan berarak di langit, tiba-tiba angin menyapunya. Ia pun iri hati dengan kekuatan angin itu dan tiba-tiba Tuhan mengubahnya menjadi angin.
Ketika ia menjadi angin dan sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung. Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba Tuhan mengubahnya menjadi gunung. Ketika ia sebagai gunung sedang bertengger, ia melihat ada orang yang memecahnya. Dengki dengan orang itu, tiba-tiba Tuhan merubahnya menjadi pemecah batu. Dari seorang pemecah batu kini ia menjadi pemecah batu kembali hanya disebabkan karena rasa dengki.
Hikmah dari kisah tersebut adalah bahwa sebenarnya di antara manusia tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah di hadapan Tuhan. Seorang dengan jabatan raja atau presiden tidak lebih mulia dari pembersih jalan. Seorang dengan jabatan gubernur atau bupati, tidak lebih mulia dari pembersih kamar kecil. Kehidupan ini sebenarnya baik-baik saja. Tetapi mengapa kemudian kita mulai membanding-bandingkan satu dengan yang lain? Karena berlebihan dalam membanding-bandingkan, maka bisa menimbulkan iri hati di antara manusia, yaitu salah satu sifat tercela yang Allah tidak suka.
Realitas Terkait Kedengkian
Kita bisa menyaksikan seringnya terjadi protes atas hasil pemilihan kepala daerah (Pemilukada) dengan menuding pihak lawan berlaku curang atau menuding Komisi Pemilihan Umum (KPU) kurang cermat atau tidak netral dalam memutuskan pememangnya. Tidak puas terhadap putusan KPU, perselisihan itu diadukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk dipertimbangkan dan diputuskan pemenangnya. Penyebab konflik itu tidak lain adalah karena dengki, di mana pihak yang kalah tidak siap kalah, melainkan hanya mau menang dan tidak senang apabila lawannya yang menang.
Karena dikalahkan dalam pemilihan presiden, seorang mantan presiden tidak mau memenuhi undangan presiden yang menggantikannya untuk menghadiri upacara kenegaraan memperingati hari ulang tahun kemerdekaan. Jika sikap dengki seperti itu terus merajalela di kalangan pemimpin bangsa, maka negeri kita ini akan jatuh di tangan egoisme para pemimpinnya, di mana rakyat hanya dijadikan obyek untuk kepentingan pribadi mereka.
Pada umumnya pendirian partai politik (parpol) baru tidak sepenuhnya didukung visi dan misi yang ideal dalam rangka pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Ada kalanya berdirinya parpol baru dilatar-belakangi rasa dengki pendirinya terhadap pemimpin parpol di mana ia pernah menjadi salah seorang petinggi parpol itu dan kemudian mengundurkan diri. Di sini terlihat bahwa dengki dan egoisme terkait sangat erat.
Seperti itu pulalah yang dilakukan mantan bendahara umum suatu parpol yang telah dinyatakan bersalah oleh KPK dan menjadi terpidana karena terlibat korupsi, yang mencoba menyeret ketua umum parpol itu ke dalam kasusnya. Belakangan ketua umum parpol tersebut dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus korupsi dan kemudian berusaha membongkar ‘kebobrokan’ parpol yang pernah dipimpinnya. Inilah kepanikan yang timbul akibat rasa dengki bercampur dendam yang tidak disadarinya telah membuka aibnya sendiri. Imam Ali Bin Abu Thalib pernah berkata: "Tidak ada orang zhalim yang menzhalimi orang lain sambil sekaligus menzhalimi dirinya sendiri, selain orang yang dengki."
Dengki itu pulalah yang mengkibatkan kisruh di kalangan pengurus persepakbolaan kita sejak tahun lalu. Sungguh ironis, sebuah tim nasional sepakbola dikelola oleh dua kepengurusan, sementara itu prestasi sepakbola kita makin merosot.
Berbagai perselisihan, unjuk rasa, kejahatan, kekejaman  dan sebagainya, yang terjadi di masyarakat, sebagian besar disebabkan karena dengki, baik berupa kesenjangan sosial maupun ketidak-adilan, dan faktor sosial ekonomi lainnya.
Terapi Mengatasi Kedengkian
Kalangan salaf mengatakan: “Rasa berkecukupan adalah kekayaaan terbesar.” Pengejaran jabatan, keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan tidak akan berakhir, karena roda kehidupan terus berputar, silih berganti dengan kerugian, ketidak-tenaran, celaan, dan penderitaan. Inilah kondisi duniawi yang senantiasa mengombang-ambingkan kita sepanjang hidup. Sesungguhnya akan jauh lebih mulia jika kita ikut bergembira dan memberikan ucapan selamat kepada saudara, sahabat. teman atau tetangga yang mendapatkan keberhasilannya melebihi diri kita, daripada memendam dengki yang merusak kesehatan jiwa kita.
Dengki selain sikap tidak terpuji, juga bisa merusak jiwa raga bagi seseorang. Orang yang mempunyai rasa dengki, hatinya selalu terasa panas ... panas ... dan panas ketika melihat orang lain lebih baik dan lebih sukses dibandingkan dengan kita. Celakanya lagi, dengki bisa menggerogoti amal kebajikan yang pernah dilakukannya.
Akibat dari dengki ialah kehilangan perasaan tenteram pada diri seseorang. Orang yang dengki  tidak bisa menikmati kehidupan yang normal karena hatinya tidak pernah bisa tenang sebelum melihat orang lain mengalami kesulitan. Dia melakukan berbagai hal untuk memuaskan dengki itu. Bila ia gagal, ia akan jatuh kepada frustrasi.
Bagaimanapun, selama kita hidup dengki atau rasa iri itu akan sering datang menghampiri kita ketika ada teman, saudara atau orang lain yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan kita. Saat perasaan dengki hadir, segera bersihkan jiwa kita dari akar penyebabnya dengan banyak bersyukur, ikhlas menerima hal buruk yang terjadi dalam hidup kita dan gembleng terus keimanan kita dengan tersenyum. Dengan tersenyum hati yang kecut bisa menjadi segar dan lembut, karena tersenyum itu laksana obat bagi kesedihan. Pengaruhnya akan sangat kuat untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia.
Di sisi lain, bagaimana kita menyikapi ucapan orang yang dengki kepada kita? Janganlah terburu-buru membalasnya sampai kata-kata itu terucap ‘sepuluh kali’. Sebab, jika kita segera membalasnya dengan ‘syair’ lain, maka orang akan sibuk dengan balasan syair itu yang akan masuk dalam koleksi para sastrawan.
Jika ada pernyataan pedas karena dengki yang dialamatkan kepada kita, maka redamlah kepedasan itu dengan bersikap pura-pura tidak mendengar. Anggaplah bahwa orang yang menyatakan itu tidak mengarahkannya kepada kita. Jika ada seseorang yang mengritik karena dengki kepada kita, maka biarkan ia bicara apa saja dan anggap saja ia sedang bercakap-cakap dengan tembok bangunan.
Balaslah perbuatan buruk orang lain dengan kebaikan tanpa pamrih dan tidak dibuat-buat, sering-seringlah melihat dengan mata lebar dan hati yang jernih di lingkungan sekitar dan sesama kita yang masih kurang beruntung dibanding kita, niscaya sakitnya jiwa kita akan sirna. Silakan baca tulisan 163 / Membalas Kebencian Dengan Kasih Sayang / 15-10-12
Kalangan salaf mengatakan: “Ketabahan hati akan menguburkan segala aib. Laut yang luas tidak akan terpengaruh oleh lemparan batu seorang anak kecil.” Sebaliknya, jika mendengar pujian kepada diri kita, maka bersikapkan seakan-akan kita tidak mendengarnya. Seperti itulah analogi seorang yang sabar, berani, cerdas, dan memiliki kekebalan untuk dibenci orang. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah orang yang terputus.” (QS Al-Kautsar 108: 3). Dan hendaknya kita berlindung di benteng yang kokoh yang melindungi kita dari gangguan orang iseng, sehingga kita tetap aman, karena Allah melindungi kita: “Maka, sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (QS Ath-Thuur 52: 48).
Semoga Allah Swt senantiasa menjauhkan kita dari penyakit hati seperti dengki, ujub, ria’, sombong, dan sebagainya. Dan semoga pula Allah Swt senantiasa menganugerahkan kepada kita hati yang bersih (qalbun salim). Aamiin yaa Rabbal Alamiin.
Hermanto Harsolumakso
No. 178

3 komentar:

  1. Mengungkit kasus bank Century lebih bernuansa kedengkian politik daripada menegakkan supremasi hukum maupun keprihatinan atas bailout Rp. 6,7 trilyun.

    BalasHapus
  2. Gara-gara dengki, suami memutilasi isteri, isteri membakar suami dan entah apa lagi .... Rupanya banyak manusia iblis di negeri ini yang mendengki dan yang berbuat di luar batas ....

    BalasHapus