Sikap membenci
dan tidak senang terhadap apa yang dilihatnya berupa baiknya keadaan orang yang
tidak disukainya sering disebut hasad, iri hati, atau
dengki. Menurut Imam An-Nawawi: “Hasad
adalah menginginkan hilangnya nikmat dari yang memperolehnya, baik itu nikmat
dalam agama ataupun dalam perkara dunia.” (Riyadhush Shalihin). Bahasa
mudahnya dengki adalah
iri hati terhadap kebaikan atau kesuksesan orang lain
sambil berharap dia sendiri yang mendapatkan, bukan
orang lain. Atau yang lebih populer, dengki adalah
senang jika melihat orang lain susah dan susah ketika melihat orang lain
senang.
Hasad
termasuk perasaan yang sering kita rasakan tanpa kita sadari. Penyakit ini
adalah penyakit tertua yang menjadikan iblis membangkang kepada Allah Swt.
Penyakit lama Iblis ini kemudian banyak diwarisi kaum Muslimin hingga sekarang.
Seperti
telah dibahas dalam tulisan 171 / Menjauhkan Diri Dari Akhlak Tercela /
25-12-12, Muslim tidak boleh dengki
dan tidak menjadikannya akhlak dan
sifat dalam dirinya, selagi ia mencintai kebaikan bagi semua orang dan
mementingkan kebaikan itu untuk dirinya sendiri, karena dengki itu bertentangan
dengan sifat mulia yaitu ‘cinta dan mementingkan kebaikan’.
Orang yang mendengki berarti menentang pembagian
yang ditetapkan Allah Swt dari karunia yang diberikan kepada makhuk-Nya. Allah
Swt berfirman: ▪
“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran
karunia yang Allah berikan kepada manusia itu.” (QS
An-Nisaa’ 4: 54). ▪ “Mengapa mereka yang
membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan
mereka dalam kehidupan dunia. Dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas
sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan
sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih
baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS
Az-Zukhruf 43: 32).
Tidak
termasuk dengki adalah igtibat, karena igtibat berharap
memperoleh nikmat seperti yang didapatkan orang lain, baik berupa ilmu,
kekayaan dan kebaikan lainnya tanpa menginginkan agar nikmat itu lenyap dari
orang lain. Rasulullah Saw bersabda: “Bukanlah hasad
dalam dua hal; Pertama, seseorang yang diberi Allah kekayaan dan digunakannya
untuk menegakkan yang hak. Kedua, orang yang diberi Allah ilmu pengetahuan,
lalu memutuskan perkara dengan hikmah dan mengajarkannya.” Yang dimaksud
dengan hikmah ialah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
Allah Swt
berfirman: ”Dan dari kejahatan orang yang dengki
apabila ia dengki.” (QS Al-Falaq 113: 5). Celaan Allah terhadap sikap dengki di sini
berarti mengharamkan dan melarangnya. Rasulullah Saw bersabda: ▪ “Janganlah
kamu saling membenci, mendengki, membelakangi, dan saling memutuskan hubungan.
Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang
Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (Muttafaq’‘alaih). ▪ “Jauhilah olehmu dengki. Karena dengki itu merusak kebaikan,
seperti halnya api membakar kayu atau rumput.” (HR Abu Daud).
Kisah Seorang Pemecah Batu
Dari sebuah cerita populer untuk anak-anak dikisahkan bahwa pada zaman dahulu ada seorang pemecah batu yang melihat
seorang kaya berjalan dengan diiringi kereta kuda yang bagus
dan para pengawalnya. Timbullah rasa iri pada pemecah batu tersebut, dan karena
rasa iri yang luar biasa secara tiba-tiba oleh Tuhan ia diubah menjadi orang
kaya itu. Kemudian ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus
berhenti dan memberi jalan kepada seorang pejabat tinggi kerajaan yang
sedang lewat. “Wah enakan jadi pejabat ya, orang kaya saja musti menghormatinya”. Kemudian iri secara tiba-tiba Tuhan
mengubahnya menjadi pejabat tinggi kerajaan tersebut.
Kemudian ketika sebagai pejabat tinggi meneruskan perjalanannya, ia
merasakan panas terik matahari dan iri melihat matahari. Tiba-tiba Tuhan
mengubahnya menjadi matahari.
Ketika ia berubah menjadi matahari dan sedang bersinar terang, awan hitam
menyelimutinya. Tiba-tiba Tuhan
mengubahnya menjadi awan hitam. Ketika ia sedang menjadi awan hitam dan berarak
di langit, tiba-tiba angin menyapunya. Ia pun iri hati dengan kekuatan angin itu dan tiba-tiba
Tuhan mengubahnya menjadi angin.
Ketika ia menjadi angin dan sedang berhembus, ia tak kuasa menembus
gunung. Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba Tuhan mengubahnya menjadi
gunung. Ketika ia sebagai gunung sedang bertengger, ia melihat ada orang yang
memecahnya. Dengki dengan
orang itu, tiba-tiba Tuhan
merubahnya menjadi
pemecah batu. Dari seorang pemecah batu kini ia menjadi pemecah batu kembali hanya disebabkan karena rasa
dengki.
Hikmah dari kisah tersebut adalah bahwa sebenarnya di
antara manusia tidak ada yang lebih tinggi atau
lebih rendah di hadapan Tuhan. Seorang
dengan jabatan raja atau presiden tidak lebih mulia dari pembersih
jalan. Seorang dengan jabatan gubernur atau bupati, tidak lebih mulia dari
pembersih kamar kecil. Kehidupan ini sebenarnya baik-baik saja.
Tetapi mengapa kemudian kita mulai membanding-bandingkan satu dengan yang lain?
Karena berlebihan dalam membanding-bandingkan, maka bisa menimbulkan iri hati
di antara manusia, yaitu salah satu sifat tercela yang Allah tidak suka.
Realitas Terkait Kedengkian
Kita
bisa menyaksikan seringnya terjadi protes atas hasil pemilihan kepala daerah
(Pemilukada) dengan menuding pihak lawan berlaku curang atau menuding Komisi
Pemilihan Umum (KPU) kurang cermat atau tidak netral dalam memutuskan
pememangnya. Tidak puas terhadap putusan KPU, perselisihan itu diadukan ke
Mahkamah Konstitusi (MK) untuk dipertimbangkan dan diputuskan pemenangnya.
Penyebab konflik itu tidak lain adalah karena dengki, di mana pihak yang kalah
tidak siap kalah, melainkan hanya mau menang dan tidak senang apabila lawannya
yang menang.
Karena
dikalahkan dalam pemilihan presiden, seorang mantan presiden tidak mau memenuhi
undangan presiden yang menggantikannya untuk menghadiri upacara kenegaraan
memperingati hari ulang tahun kemerdekaan. Jika sikap dengki seperti itu terus
merajalela di kalangan pemimpin bangsa, maka negeri kita ini akan jatuh di
tangan egoisme para pemimpinnya, di mana rakyat hanya dijadikan obyek untuk
kepentingan pribadi mereka.
Pada
umumnya pendirian partai politik (parpol) baru tidak sepenuhnya didukung visi
dan misi yang ideal dalam rangka pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Ada
kalanya berdirinya parpol baru dilatar-belakangi rasa dengki pendirinya
terhadap pemimpin parpol di mana ia pernah menjadi salah seorang petinggi
parpol itu dan kemudian mengundurkan diri. Di sini terlihat bahwa dengki dan
egoisme terkait sangat erat.
Seperti itu
pulalah yang dilakukan mantan bendahara umum suatu parpol yang telah dinyatakan
bersalah oleh KPK dan menjadi terpidana karena terlibat korupsi, yang mencoba menyeret
ketua umum parpol itu ke dalam kasusnya. Belakangan ketua umum parpol tersebut dinyatakan sebagai
tersangka dalam kasus korupsi dan kemudian berusaha membongkar ‘kebobrokan’
parpol yang pernah dipimpinnya. Inilah kepanikan yang timbul akibat rasa dengki
bercampur dendam yang tidak disadarinya telah membuka aibnya sendiri. Imam
Ali Bin Abu Thalib pernah berkata: "Tidak ada orang zhalim yang menzhalimi
orang lain sambil sekaligus menzhalimi
dirinya sendiri, selain orang yang dengki."
Dengki itu
pulalah yang mengkibatkan kisruh di kalangan pengurus persepakbolaan kita sejak
tahun lalu. Sungguh ironis, sebuah tim nasional sepakbola dikelola oleh dua
kepengurusan, sementara itu prestasi sepakbola kita makin merosot.
Berbagai
perselisihan, unjuk rasa, kejahatan, kekejaman
dan sebagainya, yang terjadi di masyarakat, sebagian besar disebabkan
karena dengki, baik berupa kesenjangan sosial maupun ketidak-adilan, dan faktor
sosial ekonomi lainnya.
Terapi
Mengatasi Kedengkian
Kalangan salaf
mengatakan: “Rasa berkecukupan adalah kekayaaan terbesar.” Pengejaran jabatan,
keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan tidak akan berakhir, karena roda
kehidupan terus berputar, silih berganti dengan kerugian, ketidak-tenaran,
celaan, dan penderitaan. Inilah kondisi duniawi yang senantiasa
mengombang-ambingkan kita sepanjang hidup. Sesungguhnya akan
jauh lebih mulia jika kita ikut bergembira dan memberikan ucapan selamat kepada
saudara, sahabat. teman atau tetangga yang mendapatkan keberhasilannya melebihi
diri kita, daripada memendam dengki
yang merusak kesehatan jiwa kita.
Dengki selain
sikap tidak terpuji, juga bisa merusak jiwa raga bagi seseorang. Orang yang
mempunyai rasa dengki, hatinya selalu terasa panas ... panas ... dan panas
ketika melihat orang lain lebih baik dan lebih sukses dibandingkan dengan kita.
Celakanya
lagi, dengki bisa menggerogoti amal kebajikan yang pernah dilakukannya.
Akibat
dari dengki ialah kehilangan perasaan tenteram
pada diri seseorang. Orang yang dengki tidak
bisa menikmati kehidupan yang normal karena hatinya tidak pernah bisa tenang
sebelum melihat orang lain mengalami kesulitan. Dia melakukan berbagai hal
untuk memuaskan dengki itu. Bila ia gagal, ia akan jatuh
kepada frustrasi.
Bagaimanapun,
selama kita hidup dengki atau rasa iri itu akan sering datang
menghampiri kita ketika ada teman,
saudara atau orang lain yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan kita. Saat
perasaan dengki hadir, segera bersihkan jiwa kita
dari akar penyebabnya dengan banyak bersyukur, ikhlas menerima hal buruk yang
terjadi dalam hidup kita dan gembleng terus keimanan kita dengan
tersenyum. Dengan tersenyum hati yang kecut bisa
menjadi segar dan lembut, karena
tersenyum itu laksana obat bagi kesedihan. Pengaruhnya akan sangat kuat untuk
membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia.
Di sisi lain,
bagaimana kita menyikapi ucapan orang yang dengki
kepada kita? Janganlah terburu-buru membalasnya sampai kata-kata itu terucap
‘sepuluh kali’. Sebab, jika kita segera membalasnya dengan ‘syair’ lain, maka
orang akan sibuk dengan balasan syair itu yang akan masuk dalam koleksi para
sastrawan.
Jika
ada pernyataan pedas karena dengki yang
dialamatkan kepada kita, maka redamlah kepedasan itu dengan bersikap pura-pura
tidak mendengar. Anggaplah bahwa orang yang menyatakan itu tidak mengarahkannya
kepada kita. Jika ada seseorang yang mengritik karena dengki kepada kita, maka
biarkan ia bicara apa saja dan anggap saja ia sedang bercakap-cakap dengan
tembok bangunan.
Balaslah
perbuatan buruk orang lain dengan kebaikan tanpa pamrih dan tidak dibuat-buat,
sering-seringlah melihat dengan mata lebar dan hati yang jernih di lingkungan
sekitar dan sesama kita yang masih kurang beruntung dibanding kita, niscaya
sakitnya jiwa kita akan sirna. Silakan baca tulisan 163 / Membalas Kebencian
Dengan Kasih Sayang / 15-10-12
Kalangan
salaf mengatakan: “Ketabahan hati akan menguburkan segala aib. Laut yang luas
tidak akan terpengaruh oleh lemparan batu seorang anak kecil.” Sebaliknya, jika
mendengar pujian kepada diri kita, maka bersikapkan seakan-akan kita tidak
mendengarnya. Seperti itulah analogi seorang yang sabar, berani, cerdas, dan
memiliki kekebalan untuk dibenci orang. Allah berfirman: “Sesungguhnya
orang-orang yang membenci kamu, dialah orang yang terputus.” (QS Al-Kautsar
108: 3). Dan hendaknya kita berlindung di benteng yang kokoh yang
melindungi kita dari gangguan orang iseng, sehingga kita tetap aman, karena
Allah melindungi kita: “Maka, sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan
Kami.” (QS Ath-Thuur 52: 48).
Semoga
Allah Swt senantiasa menjauhkan kita dari penyakit hati seperti dengki, ujub,
ria’, sombong, dan sebagainya. Dan semoga pula Allah Swt senantiasa
menganugerahkan kepada kita hati yang bersih (qalbun salim). Aamiin
yaa Rabbal Alamiin.
Hermanto
Harsolumakso
No. 178
Bagus om
BalasHapusMengungkit kasus bank Century lebih bernuansa kedengkian politik daripada menegakkan supremasi hukum maupun keprihatinan atas bailout Rp. 6,7 trilyun.
BalasHapusGara-gara dengki, suami memutilasi isteri, isteri membakar suami dan entah apa lagi .... Rupanya banyak manusia iblis di negeri ini yang mendengki dan yang berbuat di luar batas ....
BalasHapus