Jumat, 25 April 2014

MENJAGA AMANAH

Kalau kita perhatikan syariat Islam dan seluruh ajaran Islam, maka kita akan mendapati bahwa keseluruhannya adalah untuk mashlahat dan kebahagiaan manusia. Salah satu perilaku dan pengajaran tertinggi di dalam Islam adalah kewajiban melaksanakan amanah. Tentang amanah amanah, ada tiga kata sepadan yang semuanya dibentuk dari huruf   ا(alif),  م (mim) dan (nun)  ن (nun), ketiganya memiliki hubungan yang erat, yaitu aman, amanah dan iman dan makna ketiganya hampir serupa yaitu menunjukkan kepada ketenangan (tumaninah). Amanah menunjukkan pada kepercayaan, dan kepercayaan adalah ketenangan, sedang aman adalah hilangnya rasa takut dan ini juga berarti ketenangan, kemudian iman bermakna pembenaran dan ketetapan (iqrar) serta amal perbuatan, yang di dalamnya terdapat pula ketenangan.

Oleh karena itu Allah menyebut hamba-Nya dengan sebutan Mukmin karena hanya orang Mukmin saja yang dapat memelihara amanat Allah, menunaikan serta memegangnya dengan erat, sebagaimana difirmankan oleh Allah, yaitu: ‘orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya (QS Al-Mukminuun 23: 8).

Dalam konteks perilaku kehidupan sehari-hari amanah berarti tumbuhnya sikap untuk memelihara dan menjaga apa saja yang menjadi perjanjian atau tanggungan manusia berupa benda nyata atau yang bersifat maknawi. Hal ini seperti yang ditunjukkan di dalam sabda Rasulullah Saw: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya.” Maka amanah memiliki makna yang sangat luas yang mencakup seluruh hubungan mua’malah dan hak-hak pihak lain yang harus ditunaikan.

Secara garis besar amanah terbagi menjadi tiga bagian:

Pertama. Amanah Dalam Menunaikan Hak-hak Allah. Yaitu dengan menauhidkan-Nya, mengesakan-Nya di dalam beribadah, mengerjakan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang, semata-mata untuk mengharapkan keridhaan Allah. Ini merupakan amanah yang terbesar, yang setiap hamba wajib melaksanakannya pertama kali sebelum amanah-amanah yang lain. Dan darinya akan muncul seluruh bentuk amanah yang lain.

Kedua. Amanah Dalam Nikmat Yang Diberikan Allah. Misalnya nikmat pendengaran, penglihatan, pemeliharaan, harta dan anak-anak. juga amanah badan dan segala isinya, kepala dan kemampuan otaknya untuk berfikir. Maka setiap mukallaf wajib menggunakan nikmat-nikmat tersebut sesuai fungsinya yang Allah ciptakan dan dalam rangka menunaikan perintah-perintah Allah. Apabila anggota badan, kesehatan, harta dan seluruh nikmat yang kita terima digunakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt, maka berarti kita telah merealisasikan amanah serta menunaikan sesuai tuntutannya. Sebagai balasannya maka Allah akan menjaga dan memelihara orang yang berbuat demikian dan juga menjaga nikmat tersebut.Nabi Saw bersabda: Jagalah Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah Allah maka Dia akan kau dapati dihadapanmu.

Seorang salaf berkata, Barang siapa bertakwa kepada Allah maka dia telah menjaga dirinya sendiri, dan barang siapa menyia-nyiakan ketakwaan kepada-Nya maka berarti dia menyia-nyiakan dirinya sendiri, sedangkan Allah tidak pernah membutuhkannya.

Oleh karenanya siapa saja yang menunaikan amanah dalam menjaga batasan-batasan Allah serta memelihara hak-hak Nya, baik yang berkaitan dengan dirinya atau apa yang diberikan oleh Allah berupa nikmat, harta dan sebagainya, maka Allah akan menjaganya untuk kebaikan agama dan dunianya. Sebab balasan itu sesuai dengan amal usaha seseorang sebagaimana firman Allah Swt: ▪ “Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS Al-Baqarah 2: 40).▪” Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad 47: 7) 

Ketiga. Amanah Dalam Menunaikan Hak Sesama Manusia Seperti titipan, harta, rahasia, aib dan kehormatan, dan lain sebagainya. Al-Qur’an telah menyebutkan tentang keutamaan sifat amanah dalam banyak ayat, yang sekaligus menganjurkan kepada kita untuk memelihara dan menjaganya. Di antaranya adalah firman Allah: ▪ “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.“ (QS An Nisaa’ 4: 58) Juga firman Allah yang menyebutkan sifat-sifat orang mukmin yang berhak mendapatkan surga Firdaus: ▪ “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat(yang dipikulnya) dan janjinya,(QS Al- Mu’minuun 23: 8)

Berkaitan dengan amanah ada sebuah ayat yang sangat mulia yang menceritakan tentang tawaran Allah kepada langit , bumi dan gunung untuk memikul amanah, namun mereka semua enggan karena merasa tidak mampu, lalu amanah tersebut dipikul oleh manusia. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (QS. 3A- Ahzaab 3: 72)

Dalam ayat ini terkandung penjelasan tentang beratnya amanah dan beban yang harus ditanggung oleh manusia, dimana langit, bumi dan gunung sebagai makhluk Allah yang perkasa dan kuat merasa lemah dan enggan untuk memikul amanah itu, takut dan khawatir jikalau tidak sanggup menunaikannya.

Akan tetapi manusia menawarkan diri untuk memikul amanah tersebut,dan dengan itu manusia berarti telah berlaku zhalim terhadap diri sendiri, sekaligus telah bersikap bodoh terhadap berbagai konskwensi yang begitu banyak dari amanah itu, berupa kerja keras sehingga tidak menjadikannya terjerumus ke dalam siksa.

Sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzaab 33:73)

Oleh karenanya siapa saja yang menerima amanah ini, menjaganya serta menunaikan hak-haknya maka dia mendapatkan kemenangan dan pahala yang besar. Dan barang siapa yang menyia-nyiakannya, menelantarkan hak-haknya maka dia akan merugi dan mendapatkan siksa. Maka dalam lanjutan ayat Allah menjelaskan tiga golongan manusia dalam menunaikan amanah tersebut, yaitu munafik, musyrik dan Mukmin. Mereka itu juga termsuk kita oramg-orang yang bekerja uutuk Al-Musaqiim tetapi kemudian tidak peduli lagi akan kelangsungan penerbitannya. Tahukah kita bahwa amalan yang paling disukai oelh Rasulllah adallah "Adwamuha wa inqalla." sedikit tetapi istiqanah dibangdingkan amalan besar tetapi hanya sekali dua kali. saja.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan tentang kengganan langit, bumi dan gunung, yang berbeda dengan keengganan iblis ketika diperintahkan sujud terhada Adam as. Perbedaanya adalah bahwa keengganan langit, bumi dan gunung adalah timbul dari kelemahan dan ketidakmampuan sedangkan keengganan iblis karena menolak dan takabbur (sombong). Hal yang kedua adalah bahwa yang disampaikan kepada langit,bumi dan gunung adalah tawaran yang disitu ada pilihan sedangkan yang disampaikan kepada iblis adalah perintah wajib yang harus, tidak ada pilihan lain selain patuh.

Beberapa Pelajaran Seputar Amanah

Amanah adalah akhlak yang bersifat utuh, tidak bisa hanya dilaksanakan sebagiannya saja. Maka orang yang amanah terhadap yang sedikit dan berkhianat terhadap yang banyak dia adalah khianah. Orang yang amanah dalam satu kondisi lalu berkhianat dalam kondisi yang lain maka berarti tidak amanah.

Amanah adalah akhlak dan ciri keimanan. Dengan pendidikan keimanan dia akan menjadi baik dan bersih yaitu dengan menumbuhkan rasa kedekatan Allah, yang tak satupun tersembunyi di hadapan Allah, serta takut ketika ditanya di hadapan Allah. Orang yang amanah hanya ketika ada orang lain berarti dia belum merealisasikan amanah.

Amanah adalah bekal paling besar dan paling baik yang dimiliki seseorang, jika seseorang terpercaya di dalam amanahnya maka itu merupakan kekayaan di dunia sebelum nanti di akhirat.

Amanah adalah kekuatan, dalam pengaruh dan kekuasaan, kemuliaan dan kecukupan, bahkan merupakan kekuatan jiwa sehingga tidak lemah dan tunduk terhadap hawa nafsu dan segala yang membawa kepada kebinasaan.

Lawan amanah adalah khianat yaitu meninggalkan dan menyembunyikan yang hak dan yang seharusya disampaikan. Dan ini merupakan karakter utama orang munafik sebagaimana di dalam hadits yang masyhur, Nabi saw bersabda, artinya, Tanda-tanda orang munafik ada tiga, Jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berkhianat.

Bermacam-macam Khianat

Allah swt berfirman: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu, mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.(QS Al-Afaal 8: 27)

Berdasar ayat ini, khianat ada tiga macam:

1.Khianat terhadap hak-hak Allah swt, yang paling besar adalah kufur dan syirik kemudian setelah itu disusul dengan fusuq (kefasikan) dan ishyan (kemaksiatan). Tauhid, shalat, puasa, ikhlas, zakat, ruku,sujud,mandi janabah adalah contoh amanat seorang hamba di hadapan Allah Swt, yang harus ditunaikan dengan benar dan tidak boleh dikhianati.

2. Khianat terhadap hak-hak Rasul saw, yaitu dengan meremehkan sunnah-sunnah dan pengajarannya, ghuluw (berlebihan) di dalam mengagungkan beliau, meninggalkan sunnah dan melakukan bid’ah atau membuat hal-hal baru di dalam agama padahal tidak pernah diajarkan oleh beliau SAW.

3. Khianat terhadap hak-hak sesama manusia, seperti khianat di dalam harta, kehormatan atau nasihat terhadap mereka. Amanah terhadap sesama manusia amat banyak, diantaranya adalah amanat anak,orang tua, kerabat,suami- istri, tetangga,amanah dalam jual beli, berbicara, pekerjaan, ilmu, nasihat, dan lain sebagainya.

Semoga Allah menolong kita semua untuk dapat melaksanakan amanah kehidupan ini, amin. Wallahu a’lam bish shawab.

Selain kita berharap kepada para para wakil rakyat akan pentingnya amanah yang harus mereka tunaikan, tentu akan lebih baik pula kalau kita sebagai masyarakat untuk muhasabah sejauh mana perilaku kita sebagai anggota masyarakat.

Rasulullah bersabda: "Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu juga akan diminta bertanggungjawab tentang apa yang kamu pemimpin, ketua atau imam adalah pemimpin dan ia akan diminta tanggungjawab tentang apa yang dipimpin. (HR Al-Bukhari).

PadaA suatu hari ketika sedang berkecamuk Perang Uhud, Rasulullah mengangkat pedang, lalu bersabda kepada para sahabat yang ada waktu itu, "Siapakah di antara kalian yang mau menerima dan menggunakan pedang ini?

Para sahabat hampir semua mengulurkan tangannya seraya berkata, "Saya, saya," sahut mereka.

Melihat reaksi para sahabat demikian kemudian Rasulullah bersabda lagi dengan suara agak tinggi, "Siapakah di antara kalian yang mau menerima dan menggunakan pedang ini dengan penuh tanggung jawab"?

Karena disetai dengan kata-kata tanggungjawab, untuk beberapa saat tidak ada yang menjawab. Akan tetapi, tidak terlalu lama, kemudian Abu Dujanah salah seorang di antara mereka yang duduk cukup jauh dari baginda Rasul, berteriak sambil berkata, "Wahai utusan Allah insya Allah saya mau menerimanya dengan penuh tanggung jawab".

Tanpa berpikir kembali kemudian Rasulullah memberikan pedang tersebut kepadanya sambil berkata, "Semoga engkau bisa menggunakannya dengan sebaik-baiknya".

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada peperangan tersebut Abu Dujanah berhasil memenggal leher orang-orang musyrik yang akan membahayakan kaum Muslimin.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Dujanah adalah seorang sahabat Rasul yang tidak begitu populer di kalangan kaum Muslimin. Kalau kebetulan Rasulullah mengadakan suatu musyawarah dengan para sahabat yang lainnya tentang sesuatu hal, Abu Dujanah senantiasa mengikutinya dengan baik, ia memiliki perhatian besar terhadap keselamatan kaum Muslimin dan perjuangan Rasulullah sekalipun kalau ada musyawarah/pertemuan tertentu duduknya selalu berjauhan dengan baginda Rasul.

Abu Dujanah menerima pedang dari Rasulullah dalam keadaan kritis dan krisis sehingga ini merupakan amanah yang cukup berat. Ia tahu memegang pedang bukan untuk tidak berbuat apa-apa, hanya sensasi atau hanya untuk membela diri sendiri yang kemudian disalahgunakan. Akan tetapi, ia harus berbuat banyak untuk kepentingan bersama, kepentingan kaum Muslimin bahkan kalau perlu ia harus berani memenggal leher musuh yang nyata-nyata memang akan membahayakan Rasulullah dan kaum Muslimin. Demikian prinsip Abu Dujanah. 

Hermanto Harsolumakso
No. 218

Rabu, 09 April 2014

ADAKAH WAKIL RAKYAT YANG AMANAH

Pemilihan umum (legislatif) 2014 yang berlangsung hari ini 9 April 2014, kita harapkan menjadi proses terpilihnya orang terbaik yang akan mengurus negeri ini. Namun dari pengalaman selama ini, Pemilu selalu cidera karena sebagian besar pesertanya menghalalkan segala cara untuk mengantarkannya menjadi anggota legislatif.

Untuk mendapatkan kursi wakil rakyat itu, di banyak pojok terdengar caleg anu bayar sekian sedangkan caleg si fulan bayar sekian. Harga suara rakyat, yang katanya, suara Tuhan, telah menjadi bahan dagangan. Harganya pun meningkat dan saling menimpa. Awalnya, muncul patokan Rp 100 ribu / suara. Tetapi, ada caleg berani menimpanya Rp 250 sampai Rp 400 ribu. Caleg yang sudah menempel fotonya dengan sejuta gaya, masih tidak percaya diri untuk bisa memenangi pemilihan tanpa membayar (suara) rakyat.  Belum lagi aksi ’serangan fajar’ di hari ‘H’ dengan mengantar kebutuhan pokok, seperti beras, gula, ddan sebagainya.

Membayar suara pemilih adalah ciri paling memalukan dari para wakil rakyat. Sesungguhnya, suara itu diperoleh atas kepercayaan rakyat dengan memberikan amanah kepada mereka sebagai wakil rakyat di lembaga legislatif, bukan dengan membayarnya. Namun, yang terjadi adalah, karena mereka telah membayar suara rakyat dengan uang recehan plus sedikit bahan pokok, sehingga ‘pemegang mandat’ itu tidak merasa perlu lagi bertanggungjawab kepada rakyat (konstituen) yang memilihnya. Akhirnya, seperti yang kita saksikan selama ini, anggota dewan itu bekerja tanpa peduli rakyatnya, karena semuanya sudah mereka lunas sebelum Pemilu.

Saat ini, lihatlah, puluhan anggota legislatif yang sudah dan atau masih duduk (satu atau dua periode). Apa sesungguhnya yang sudah mereka lakukan? Adakah mereka dekat dengan rakyatnya? Ataukah mereka coba sangat ramah bahkan santun, hanya menjelang Pemilu saja?   

Memang tidak semua wakil rakyat menjadikan uang sebagai segalanya. Masih ada di antara mereka yang menjadikan rakyat sumber inspirasinya, sumber ide dan kerja kreatifnya. Ada mereka yang selalu berdialog dan bersama rakyat dan memahami aspirasi rakyat, memiliki ko Seperti yang terjadi selama ini, mereka selalu tampak bermanis muka, sok akbrab, jadi pahlawan, tetapi apa yang mereka lakukan kemudian adalah ‘kegilaan sesungguhnya’ sebagai wakil rakyat dengan mempertontonkan aksi nambah dan ganti mobil, nambah rumah baru, pesiar ke luar negeri dan sebagainya. Rakyat sudah tidak mereka pikirkan lagi.

nsepnya untuk rakyat. Ia susun perencanaan anggaran pembangunan untuk rakyat. Mereka perjuangkan insfrastruktur dan fasilitas umum, untuk rakyat. Bila ada dana aspirasi pun mereka gunakan untuk kepentingan rakyat. Mereka kritisi eksekutif yang lalai, karena merasa rakyat tak dibela. Mereka tidak selingkuh dengan eksekutif untuk menzhalimi rakyat, dan mereka pun siap berseberangan dengan orang-orang zhalim, siap tidak populer, karena memperjuangkan rakyat. Tetapi mereka yang amanah itu hanya sedikit. Padahal rakyat  butuh mereka wakil rakyat yang amanah, kreatif, punya gagasan, inovasi, gigih dan selalu bersama rakyat. Nafas rakyat adalah nafas pejuangan mereka. Tetapi adakah mereka? Jawabnya, bisa ‘ada’ bisa ‘tidak’.

Selama rakyat memilih caleg melalui politik uang ditambah serangan fajar, pasti pasti mereka itu bukanlah wakil yang bisa amanah. Akhirnya, kembali berpulang kepada dua belah pihak, yang membayar dan yang dibayar.

Amanah Dan Tugas Berat Wakil Rakyat

Berkaitan dengan amanah, ada sebuah ayat yang sangat mulia yang menceritakan tentang tawaran Allah kepada langit, bumi dan gunung untuk memikul amanah, namun mereka semua enggan,  karena merasa tidak mampu, lalu amanah tersebut dipikul oleh manusia. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzaab 33: 72)

Dalam ayat ini terkandung penjelasan tentang beratnya amanah dan beban yang harus ditanggung oleh manusia, di mana langit, bumi dan gunung sebagai makhluk Allah yang perkasa dan kuat merasa lemah dan enggan untuk memikul amanah itu, takut dan khawatir jikalau tidak sanggup menunaikannya.

Akan tetapi manusia menawarkan diri untuk memikul amanah tersebut,dan dengan itu manusia berarti telah berlaku zhalim terhadap diri sendiri, sekaligus telah bersikap bodoh terhadap berbagai konsekwensi yang begitu banyak dari amanah itu, berupa kerja keras sehingga tidak menjadikannya terjerumus ke dalam siksa.

Oleh karenanya siapa saja yang menerima amanah ini, menjaganya dan serta menunaikan hak-haknya, maka dia mendapatkan kemenangan dan pahala yang besar. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya, menelantarkan hak-haknya,  maka dia akan merugi dan mendapatkan siksa.

Dalam ayat berikutnya ditegaskan oleh Alllah: “Sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzaab 33: 73). Begitulah bodohnya manusia manusia yang tidak mengerti apa hakikat amanah dan bagaimana memperlakukan amanah itu.

Allah Swt menyebutkan kata amanah dalam bentuk jamak, bukan tunggal. Itu artinya amanah yang diemban seseorang tidak hanya satu. Pasti ia mengemban amanah lebih dari satu dan beraneka-ragam. Di sisi lain, kita melihat ayat ini menyebutkan kata adil setelah menyebutkan kata amanah. Dan ternyata memang demikian fenomena yang terjadi, bahwa keadilan tidak dituntut kecuali amanah sudah tidak ditunaikan.

Menjadi seorang wakil rakyat sesungguhnya bukanlah tugas yang ringan, bahkan teramat berat. Bukan karena kemampuan dalam menguasai tugas-tugas secara teknis maupun non teknis, karena mereka sesungguhnya didukung oleh staf-staf ahli yang sesuai dengan komisi di mana mereka duduk. Yang memberatkan adalah ketika jiwa kepemimpinan dan sikap amanah yang harus tetap dijaga secara konsisten.

Rasulullah Saw bersabda tentang beberapa tahapan hilangnya sikap amanah. “Jika Allah hendak membinasakan seseorang, maka Dia akan mencabut rasa malu darinya. Jika dicabut rasa malu, maka kamu akan melihat dia akan dibenci dan dijauhi orang-orang. Jika ia dibenci dan dijauhi orang-orang, maka hilanglah  rasa amanah dalam dirinya. Bila amanah itu sudah dicabut, maka kamu melihat ia menjadi khianat dan pengkhianat. Jika ia telah dianggap khianat dan pengkhianat, maka dicabutlah rasa kasih sayang dalam dirinya. Jika rasa kasih sayang itu sudah dicabut, maka kamu akan melihat dia menjadi penjahat dan terlaknat. Bila ia sudah jadi penjahat dan terlaknat, maka dicabutlah Islam dalam dirinya." (HR Ibnu Majah).  

Siapakah yang orang yang berhak mengemban amanah setidaknya memiliki dua syarakat 1) Kompetensi (ilmiyah) dan Integritas (syar’iyah). Kompetensi tanpa integritas hanya melahirkan kecongkakan yang berdampak pada pengabaian terhadap amanah.

Demikian, semoga amanah yang kita emban, baik amanah dalam rumah-tangga, keluarga, masyarakat, pekerjaan, maupun jabatan dapat kita tunaikan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw tersebut

Modal awal yang seharusnya disadari oleh semua pemimpin negeri ini termasuk wakil rakyat (anggota legislatif) adalah bahwa keberadaan mereka saat ini menjadi seorang pemimpin adalah bukan hal yang main-main, karena mereka bukan hanya bertanggungjawab terhadap rakyat yang telah memilihnya, juga kepada Yang Maha Esa atas apa-apa yang telah dilakukan selama memegang amanah sebagai pemimpin sekaligus wakil rakyat.

Hidup Sederhana
Jalan menuju tampuk kekuasaan dan kursi-kursi kepemimpinan  negeri ini harus memenuhi norma-norma agama, bahwa jabatan itu tidak boleh diambil dengan cara-cara meminta-minta melalui politik uang. Bahwa amanat yang dipikul bukanlah hal yang patut disyukuri sebagai sebuah keberuntungan apalagi dianggap sebagai rizki. Sikap-sikap tersebut seharusnya menjadi bagian tak terpisahkan dari para pemimpin-pemimpin negeri, baik yang berada di eksekutif, legislatif maupun yudikatif, sehingga akan mempersempit ruang gerak dalam menyalahgunakan jabatan yang dipegang untuk melakukan hal-hal yang merugikan orang banyak, seperti tindak pidana korupsi.

Godaan-godaan kekuasaan di negeri yang kaya raya ini memang begitu menggiurkan bagi para pemimpin negeri, khususnya para wakil rakyat. Tahta, harta dan wanita akan terus berputar silih berganti untuk mengoyak jiwa-jiwa wakil rakyat yang tidak amanah. Apabila kedudukan yang kini ada dalam genggaman adalah hasil dari perjuangan yang dipenuhi oleh politik uang, tentunya ketiga godaan tersebut bagaikan makanan lezat yang ingin segera disantap dan dilahap tanpa tersisa.

Kalaupun mereka yang duduk sebagai wakil rakyat tidak melalui proses politik uang, masih harus diuji keamanahannya dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai wakil rakyat. Salah satu sikap yang perlu juga dimiliki adalah sikap hidup sederhana. Jika sebelumnya kehidupan wakil rakyat dalam kondisi ekonominya pas-pasan, maka setelah duduk sebagai wakil rakyat tawaran untuk gaya hidup bermewah-mewah sangat mungkin dilakukan. Dengan gaji  dan tunjangan di atas rata-rata rakyat kebanyakan, kesempatan tersebut sangat terbuka luas.

Hal ini juga berlaku bagi mereka yang sebelumnya sudah memiliki kekayaan yang berlimpah, dengan kedudukannya tersebut bisa mengeruk kekayaan yang lebih banyak lagi melalui jalan menjadi makelar-makelar proyek yang ada ataupun penyalahgunaan wewenangnya sebagai wakil rakyat untuk menekan pihak-pihak yang terindikasi melakukan hal-hal yang merugikan negara.

Menjadi wakil rakyat bila tidak memahami betul tugas dan tanggung-jawabnya maka yang akan terjadi adalah seperti yang kita sering dengar di pemberitaan media massa. Satu persatu wakil rakyat duduk di kursi pesakitan karena telah melakukan tindak pidana korupsi, baik di saat jabatan sebagai wakil rakyat masih dipegang, maupun setelah tak menjabat lagi.

Rapor Kinerja Wakil Rakyat

Sudah menjadi suatu hal yang umum di masyarakat bahwa para elit politik, khususnya para anggota dewan legislatif menebar pesona dalam kampanye mereka menjelang Pemilu. Mereka berupaua ‘memperlihatkan’ kepada masyarakat luas bahwa mereka berjuang untuk rakyat. Safari politik dilakukan menuju pelosok-pelosok daerah, padahal pada hari-hari biasa hal itu samasekali tidak dilakukan.

Kalau hal seperti ini terus terjadi, maka masyarakat kita menjadi objek ‘pembodohan’ oleh para wakil rakyat tanpa bisa memberikan sikap terhadap hal ini. Masyarakat sudah seharusnya mengetahui perilaku, sikap kerja, kedisiplinan, dan prestasi para wakil yang mereka pilih. Akan tetapi hingga saat ini mungkin tidak ada ‘perangkat’ yang dapat membantu masyarakat untuk melakukan pemantauan terhadap kinerja para wakil mereka.

Oleh karena itu, seperti layaknya siswa sekolah yang dapat melihat kinerja serta prestasi mereka di lembaga pendidikan melalui rapor yang mereka terima, maka diperlukan juga adanya rapor penilaian untuk memantau kinerja dari masing-masing wakil rakyat. Rapor penilaian ini diberlakukan terhadap keseluruhan anggota dewan, dan setiap akhir tahun dipublikasikan kepada masyarakat untuk menunjukkan tingkat kinerja dari masing-masing orang. Kriteria penilaian yang dimasukkan dapat berupa tingkat kehadiran, kedisiplinan dalam menghadiri sidang, kemampuan menjaring aspirasi publik, dan lain sebagainya.

Dengan demikian masyarakat dapat memberikan penilaian apakah anggota dewan yang telah mereka pilih masih layak untuk dipilih lagi pada periode selanjutnya atau tidak. Kebijakan untuk membuat rapor penilaian terhadap para wakil rakyat harus dipantau dengan ketat dan diperlukan kerjasama antar semua pihak terkait agar mampu memberikan hasil yang optimal.

Hermanto Harsolumakso
No. 217