Selasa, 30 Desember 2014

PERJALANAN RUH MENUJU AKHIRAT (4)

KETIKA MANUSIA BANGKIT DARI KUBUR

Pada Bagian Ketiga yang lalu, kita telah mencermati beberapa fenomena di masyarakat dan fenomena alam yang menandai akan datangnya kiamat seperti banyak terjadinya kejahatan, bencana dan lain sebagainya. Pada hari Kiamat para penghuni kubur dibangkitkan kembali dari kuburnya. Lalu apa yang akan terjadi ketika setelah sangkala kiamat ditiup oleh Malaikat Israfil.

Blogger Walijo.com/, pembaca Al-Mustaqiim telah mengirimkan tulisan berjudul ‘Ketika Manusia Bangkit dari Kubur’ kepada Al-Muustaqiim yang memuat percakapan Muaz bin Jabal Ra dengan Rasulullah Saw. Berikut kutipannya, “Wahai Rasulullah, tolong jelaskan kepadaku mengenai firman Allah Swt: Pada sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berkelompok-kelompok.” (QS An-Naba’ 78: 18). Mendengar pertanyaan itu, Rasul menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab, “Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepada aku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris menjadi 12 barisan, masing-masing dengan pembawaan mereka sendiri….”  Maka dijelaskanlah oleh Rasulullah ke 12 kelmpok barisan tersebut sebagai berikut:

Pertama. Bangkit dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: “Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

Kedua. Bangkit dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: “Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan shalat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

Ketiga. Ketika Bangkit dari kubur, Mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking. “Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

Keempat. Bangkit dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancutan keluar dari mulut mereka. “Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual-beli, maka inilah balasannya dan tempat mereka adalah neraka…”

Kelima. Bangkit dari kubur dengan bau lebih busuk daripada bangkai. Ketika itu Allah Swt menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar. “Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka, takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula rasa takut kepada Allah Swt, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

Keenam. Bangkit dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. “Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

Ketujuh. Bangkit dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. “Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

Kedelapan. Bangkit dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. “Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

Kesembilan. Bangkit dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. “Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”
Kesepuluh. Bangkit dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit sopak dan kusta. “Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

Kesebelas. Bangkit dari kubur mereka dengan berkeadaan buta mata-kepala, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran. “Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka…”

Keduabelas. Mereka Bangkit dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirothol mustaqim seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan: “Mereka adalah orang yang beramal shalih dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara shalat lima waktu, ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat keampunan, kasih sayang dan keridhaan Allah Yang Maha Pengasih…”Demikian yang kami kutip dari dari kiriman Walijo. com/.

Selanjutkan para penghuni neraka akan menjalani hukuman berupa balasan yang sangat pedih. Balasan yang mereka derita dalam neraka itu bermacam-macam sekali, sebagaimana firman Allah Swt
  • “Dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka.” (QS At-Taubah 9: 35). “Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, supaya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.” (QS Al-Mu’min 40: 71-72). 
  • “Peganglah dia kemudian seretlah dia ketengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya  (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” (QS Ad-Dukhan 44: 47-49). 
  • “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya kelehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (QS Al-Haqqah 69: 30-32). 
Sebelum mengakhiri membaca tulisan bersambung ini, kita perlu menyimak Sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan balasannya ialah orang yang diberi sepasang sandal yang talinya terbuat dari api neraka, lalu mendidihlah otaknya karena panas, laksana air panas mendidih di dalam periuk. Dia mengira tiada seorangpun yang menerima balasan lebih dahsyat dari itu, padahal dialah orang yang mendapat balasan paling ringan.” (HR Bukhari, Muslim). 

Dengan adanya 'informasi' ini tentu kita harus menghimdar agar kita tidak tergelincir masuk neraka. Ada baiknya kita ketahui tentang jenis-jenis neraka dan para penghuninya: 
  1. Neraka Jahannam (QS Al-Hijr 15: 43). Dihuni oleh para pengikut syeitan.
  2. Neraka Sya’iir (QS Al-Insyiqaaq 84: 12-13). Dihuni oleh orang-orang kafir, tidak percaya terhadap akhirat, juga untuk orang yang senang bila mendapat rizki dan marah ketika sulit memperoleh rizki, orang yang memakan harta anak yatim.
  3. Neraka Shaqar (QS Al-Muddatstsir 74: 42-47). Dihuni oleh orang yang tidak melaksanakan shalat, tidak mau memberi makan orang miskin, dan lainnya. orang yang mendustakan perintah Allah dan rasul. Mereka mengetahui bahwa Allah sudah menentukan hukum Islam melalui lisan Muhammad Saw, tetapi mereka meremehkan syariat Islam.
  4. Neraka Jahim (QS 26: 91). Dihuni oleh mereka yang menyembah berhala, thagut (harta dan tahta), juga untuk orang yang sesat, orang-orang musyrik atau orang yang menyekutukan Allah. Mereka akan dibalas oleh para sesembahan mereka. Dalam ajaran Islam syirik adalah sebagai salah satu dosa paling besar menurut Allah, karena syirik berarti menganggap bahwa ada makhluk yang lebih hebat dan berkuasa sehebat Allah dan bisa pula menganggap bahwa ada Tuhan selain Allah.
  5. Neraka Khuthamah (QS Al-Humazah 104: 1-9). Dihuni oleh para pengumpat dan pencela, orang yang gemar mengumpulkan harta  berupa berupa emas, perak atau platina, mereka yang serakah tidak mau mengeluarkan zakat harta dan menghina orang miskin. Di neraka ini harta yang mereka kumpulkan akan dibawa dan dibakar untuk diminumkan sebagai balasan kepada manusia pengumpul harta.
  6. Neraka Ladha (QS Al-Ma'aarij 70: 15-18). Dihuni oleh orang yang tidak beragama, menyimpan harta (kikir), orang yang suka mengumpulkan harta, serakah dan menghina orang miskin. Bagi mereka yang tidak mau bersedekah, membayar zakat, atau bahkan memasang muka masam apabila ada orang miskin datang meminta bantuan.  
  7. Neraka Hawiyah (QS Al-Qaariah 101: 1-11). Dihuni oleh orang yang sedikit amal kebaikannya, mereka yang selama hidupnya mengerjakan kebaikan bercampur dengan keburukan. Orang muslim laki dan perempuan yang tindak tanduknya tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, seperti para wanita muslim yang tidak menggunakan jilbab, bagi para lelaki muslim yang sering memakai sutra dan emas, mencari rizky dengan cara tidak halal, memakan riba dan sebagainya, Hawiyah adalah sebagai tempat tinggalnya.  
  8. Neraka Wail. Dihuni oleh orang-orang yang malas melakukan shalat dan para pengusaha atau pedagang yang licik, dengan cara mengurangi berat timbangan, mencalokan barang dagangan untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat. Barang dagangan mereka akan dibakar dan dimasukkan ke dalam perut mereka sebagai adzab dosa-dosa mereka seperti disebutkan di dalam QS Al-Muthaffifiin (83) dan QS At-Thuur (52).

Demikian para penghuni neraka akan menjalani hukuman berupa balasan yang sangat pedih. Balasan yang mereka derita dalam neraka itu bermacam-macam sekali, sebagaimana yang difirmankan Allah seperti berikut: ▪“ Dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka.” (QS At-Taubah 9: 35). “Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, supaya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.” (QS Al-Mu’min 40: 71-72). ▪ “Peganglah dia kemudian seretlah dia ketengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya  (dari) air yang amat panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” (QS Ad-Dukhan 44: 47-49). ▪ “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya kelehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (QS Al-Haqqah 69: 30-32). ▪ “Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian dari api neraka, disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala-kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada di dalam perut mereka dan juga kulit-kulit mereka. Dan cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, maka mereka dikembalikan ke dalamnya, (serta dikatakan kepada mereka): “Rasailah azab yang membakar ini.” (Al-Hajj 22: 19-22). 

Sebelum mengakhiri membaca tulisan bersambung ini, kita perlu menyimak Sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan balasannya ialah orang yang diberi sepasang sandal yang talinya terbuat dari api neraka, lalu mendidihlah otaknya karena panas, laksana air panas mendidih di dalam periuk. Dia mengira tiada seorangpun yang menerima balasan lebih dahsyat dari itu, padahal dialah orang yang mendapat balasan paling ringan.” (HR Bukhari, Muslim). 

Maka marilah kita bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan Al-Qur’an yang sarat taddabur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam berbagai hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar kita, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga kita, serta perbuatan baik kita terhadap sesama.
                                                                    
Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya. Hari ini adalah hari kita, kita ucapkan selamat tinggal masa lalu, tenggelamlah bersama mataharimu. Dan bukan esok hari, karena hari itu belum tentu datang. Masa depan masih dalam keghaiban. Kita tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan.

Umur kita mungkin tinggal hari ini. Hari ini seharusnya kita dengan niat ikhlas mempersiapkan kesenangan yang bersifat kekal abadi di kampung akhirat nanti. Hari ini milik kita, manfaatkanlah hari ini dengan sebaik-baiknya untuk menjalani hidup yang benar, sehingga apabila ajal atau kiamat tiba kita sudah siap. Inilah yang disebut husnul khatimah. Billahit taufiq wal hidayah.

Hermanto Harsolumakso
No. 236

Kamis, 25 Desember 2014

PERJALANAN RUH MENUJU AKHIRAT (3)

KIAMAT

Salah satu informasi yang wajib dipercayai oleh setiap orang yang mengaku Muslim adalah keterangan tentang Hari Kiamat, hari yang mengakhiri kehidupan dunia sekaligus mengawali kehidupan akhirat. Kepercayaan mengenai hari kiamat adalah salah satu dari enam Rukun Iman. Kiamat pasti terjadi, tetapi kapan datangnya, hanya Allah yang mengetahuinya. Allah Swt berfirman: “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat: Bilakah terjadinya? Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia". (QS Al-A’raaf 7: 187). Allah merahasiakan informasi mengenai hal itu kepada siapapun, termasuk Rasulullah, Malaikat Jibril, bahkan Malaikat ‘Israfil yang bertugas memberi tanda dimulainya hari kiamat tersebut. 
Sunatullah tentang Kiamat tidak terjadi seketika, melainkan didahului berbagai sinyal, agar kita bisa melakukan muhasabah sebelum sebelum akhirnya kiamat tiba. Beberapa hadits tentang fenomena dalam masyarakat yang mengantisipasi akan datangnya Kiamat ini, antara lain: ▪ “Sesungguhnya tanda-tanda kiamat ialah, dicarinya ilmu itu dari ahli bid’ah.” (HR Abdullah bin Mubarak dan Ath-Thabrani, dishahihkan oleh Imam Al-Albany). ▪ “Tidak akan tegak hari kiamat sampai manusia bermegah-megah dengan (membangun) masjid-masjid(nya). Aku tidak diperintah untuk memegahkan masjid-masjid. Sungguh kalian akan memperindahnya (masjid-masjid, sebagaimana Yahudi dan Nasrani memperindah tempat ibadah mereka.” (HR Abu Dawud). Apakah rencana pembangunan Masjid dan Islamic Center di Ground Zero, New York, merupakan suatu kebutuhan atau ingin bermegah-megah? Jangan-jangan bisa memicu terjadinya konflik agama secara global. ▪ “Sesungguhnya di hadapan hari kiamat akan ada al-harju, yaitu pembunuhan oleh sebagian kamu membunuh sebagian yang lain, sehingga seseorang sampai membunuh tetangganya, anak pamannya dan membunuh keluarganya.” (HR Ahmad). Membunuh yang dimaksud di sini bukanlah membunuh dalam peperangan, tetapi pembunuhan sebagian dari kita membunuh yang lain sehingga terjadi bentrok antar warga, membunuh tetangga, kerabat dan keluarga sendiri, dan pembunuhan kejam lainnya seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Fenomena Akan Datangnya Bencana 

Rasulullah Saw bersabda: “Wahai kaum Muhajirin ada lima hal yang akan mendatangkan bencana bagimu, aku berlindung kepada Allah agar engkau tidak menemuinya. Tidak tampak perbuatan keji di suatu kaum hingga diumumkannya, kecuali akan ditimpakan pada mereka penyakit menular dan penyakit lainnya yang belum ada sebelumnya. Mereka tidak mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan ditimpakan kekeringan, kelaparan, dan kekejaman dari penguasa mereka. Mereka tidak membayar zakat atas harta mereka kecuali akan dicegah hujan dari langit. Kalau bukan karena binatang ternak maka tidak akan turun hujan bagi mereka. Mereka tidak melanggar ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan menciptakan musuh dari golongan selain mereka yang akan menguasai dan merampas semua yang mereka miliki, jika para pemimpin mereka tidak menghukumi (perkara) dengan kitab Allah dan tidak mengambil yang terbaik dari apa yang diturunkan Allah, maka Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka. (HR Ibnu Majah dari Umar bin Khattab).

Hadits ini sangat menarik, karena menjelaskan 5 (lima) fenomena dalam kehidupan bermasyarakat yang merupakan tanda-tanda akan datangnya bencana yang diisyaratkan oleh Rasulullah Saw, yaitu:
  1. Jika perbuatan keji dan kejahatan lainnya sudah tampak dan dipublikasikan di berbagai media, ketika pembunuhan dan mutilasi, pornografi, semarak di mana-mana, maka akan ada berbagai penyakit baru, yang belum ada sebelumnya. Lihat saja HIV/AIDS, flu burung, flu babi, ebola dan sebagainya. 
  2. Jika takaran dan timbangan dikurangi, ketika praktik korupsi menjadi tradisi, ketika dana pembangunan dibocorkan, ketika mark up menjadi kebiasaan, maka akan terjadi kekeringan, kelaparan, gizi buruk, dan kekejaman oleh para penguasa yang bertindak sewenang-wenang. Inipun telah terbukti, misalnya kekejaman para makelar kasus yang berkolusi dengan penegak hukum. 
  3. Ketika zakat tidak dibayar, ketika orang-orang sudah menimbun harta mereka, maka Allah akan mencegah turunnya hujan, kalau bukan karena kasih sayang Allah kepada makhluk selain manusia, maka tidak ada hujan sama sekali. Betapa sering terjadi gagal panen dan sebagainya. 
  4. Ketika ketentuan-ketentuan Allah dilanggar, ketika ajaran-ajaran Rasulullah Saw disepelekan, maka akan datang musuh kejam yang akan merampas segala yang dimiliki, baik nyawa maupun harta. Perhatikan apa yang telah terjadi di sekitar kita masing-masing. 
  5. Ketika para pemimpin jauh dari Kitabullah dan Sunnah Nabi, ketika mereka memuja dan memuji hedonisme, liberalisme, dan isme-isme lain yang bertentangan dengan agama, maka akan terjadi permu-suhan di antara anak bangsa sendiri sehingga hilanglah rasa cinta kasih di antara mereka. Inilah malapetaka egoisme.
Longsor Banjarnegara 2014
Gunung Gamalama Meletus 2014
Banjir Jakarta 2014
Pada dasarnya bumi, memang mempunyai potensi (kerentanan) yang besar seperti gempa bumi, meletusnya gunung api dan bencana alam lainnya; tsunami, tanah longsor, tanah amblas, semburan lumpur, gas dan lainnya dari perut bumi, semuanya itu sebenarnya sedang berlangsung dalam proses alam yang bekerja. Gempa bumi merupakan salah satu bencana alam terbesar seperti halnya bencana akibat hujan dan angin. Kebanyakan gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan di mana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa bumi akan terjadi. Beberapa gempa bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam gunung berapi. Gempa bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya letusan gunung berapi. 

Beberapa gempa bumi, meskipun jarang, juga terjadi karena menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam. Sebagian kecil lagi juga dapat terjadi karena injeksi cairan dari dan ke dalam bumi (contohnya pada beberapa pembangkit listrik tenaga panas bumi). Terakhir, gempa bumi juga dapat terjadi dari peledakan bahan peledak, yang dapat membuat para ilmuwan memonitor tes rahasia senjata nuklir. 

Sinyal-Sinyal Akan Datangnya Kiamat

Dalam satu dekade belakangan ini, kita menyaksikan dan mengalami bencana (alam) yang cukup dahsyat di berbagai belahan bumi termasuk di Indonesia. Dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menyinggung tentang bencana, antara lain dalam QS Al-Baqarah 2: 155, QS Al-Maaidah 5: 40, dan QS At-Taubah 9: 50. Sehingga kita juga perlu merenungkan berbagai bencana yang menimpa bumi ini. Allah Swt menjelaskan di dalam Al-Qur’an tentang hukum alam yang pasti yang disebut Sunatullah yang tidak berubah.

Perhatikan isyarat Al-Qur’an ketika menyatakan bahwa air hujan yang diserap bumi menumbuhkan tanaman, dan bahwa perjalanan angin menyebabkan hujan, dan sebagainya (QS An-Nahl 16: 11-12). Alam mempunyai disain sempurna yang memiliki hubungan sebab dan akibat. Allah Swt telah menggariskan keseimbangan alam. Hujan dan hutan sudah memiliki ukuran (takdirnya) masing-masing. Karena ulah manusia atas bumi dan udara di atasnya, maka terjadilah perubahan iklim, yang menimbulkan bencana alam. Karena hutan dirusak, maka sudah jelas bahwa sesuai dengan Sunatullah akan terjadi bencana banjir, karena fungsi hidrologis hutan tidak lagi berjalan. Hal ini ditegaskan oleh Allah bahwa kerusakan yang terjadi di alam semesta ini adalah karena ulah tangan manusia. Karena manusia sering kali mengabaikan sinyal-sinyal itu, maka keseimbangan alam menjadi rusak, tidak terkendali dan menimbulkan bencana bagi kita.

Makin meluasnya bencana banjir, menjadi bukti bahwa kita telah mengabaikan sinyal-sinyal yang terjadi sebelumnya. Terlihat jelas pula, bagi manusia yang selalu menentang hukum Allah, akan ditimpa malapetaka, adzab dan bencana, kehancuran dan kesengsaraan yang berkepanjangan hingga datangnya hari kiamat. Setiap bencana selalu dapat dikaitkan dengan takdir, tetapi takdir juga hampir selalu menjadi cermin yang baik, yaitu; manusia macam apa kita ini. Satu dua bencana mungkin memang merupakan ujian dari Allah. Namun rangkaian bencana bisa jadi merupakan petunjuk nyata, bahwa kita bukanlah bangsa yang baik. 

Demikian kita telah mencermati beberapa fenomena dalam masyarakat dan fenomena alam seperti terjadinya bencana, dan kepercayaan kita akan datangnya kiamat setelah kita dibangkitkan kembali dari kubur pada hari kiamat nanti. (Bersambung).

Hermanto Harsolumakso
No. 235

Sabtu, 20 Desember 2014

PERJALANAN RUH MENUJU AKHIRAT (2)

RUH DI ALAM BARZAKH 

Menceritakan perjalanan ruh manusia bukanlah hal mudah, karena hal ini termasuk dalam perkara ghaib yang tiada seorangpun yang tahu kecuali Allah Swt. Karena itu, orang yang berusaha menceritakan berbagai perkara, padahal tidak memiliki pengetahuan itu padanya, maka hal itu merupakan kedustaan dan khayalan si pencerita. Boleh jadi perbuatannya itu merupakan kesesatan dan penyesatan bagi ummat manusia. Maka setiap mukmin harus jeli dan waspada terhadap rangkaian celotehan dan tulisan dari orang tersebut.

Oleh karena itu dalam Bagian Kedua ini penulis tidak menyusun tulisan berdasarkan pengetahuan yang penulis peroleh dari membaca buku-buku dan tulisan-tulisan orang lain, melainkan berpegang hanya pada satu buku saja yang berjudul ‘KUBUR - Persinggahan Pertama Menuju Akhirat’ (Penulis; Abu Ubaidullah Al-faruq, Penerbit; Pustaka Al-firqah an-Najiyah, Cetakan pertama, Juli 2010), sebagai nara sumber yang kiranya dapat dipertanggungjawabkan materinya. Berdasarkan apa yang diuraikan di dalam buku setebal 246 halaman ukuran ½ folio itu, penulis mencoba menyadur pokok-pokok penting yang kiranya perlu kita pelajari. 

Pada buku 'KUBUR' tersebut disebutkan bahwa setiap orang niscaya akan merasakan kematiannya. Ketika itu Malaikat Maut adalah malaikat yang diserahi tugas untuk mencabut nyawa manusia, sebagaimana firman Allah: “Katakanlah: "Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS As-Sajdah 32: 11).

Hal ini juga telah ditegaskan oleh Allah Swt di dalam QS Al-A'raaf 7: 34, pada bagian awal Bagian Pertama tulisan ini. Ketika itu malaikat Maut adalah malaikat yang diserahi tugas untuk mencabut nyawa manusia. Tentang ayat tersebut Syeikh Al-Albani menyatakan; Malaikat Maut adalah nama malaikat yang disebut di dalam Al-Qur’an, bukan malaikat 'Izrail yang telah terkenal di kalangan manusia.” 

Dalam menguraikan perjalanan ruh menuju akhirat, Abu Ubaidullah Al-faruq mengedepankan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-barra’ bin ‘Azib Ra. Hadits shahih ini cukup panjang itu yaitu 5 halaman dalam bahasa Arab dan 8 halaman terjemahan dalam bahasa Indonesia (halaman 12-24), yang tidak kami muat di sini, karena  akan menyita waktu dalam halaman yang panjang.

Hadts tersebut tercantum dalam buku-buku hadits Abu Dawud: 4753, Ahmad: IV / 287-288, 295-298, Al-Hakim: 114, Ath-Thayalisi dan Al-Juiri di dalam kitab Asy-Syariah / 327-328, yang dinyatakan shahih oleh Syeikh Al-Albani. Hadits tersebut mempunyai banyak makna dan pelajaran yang dapat diambil darinya, baik dari sisi akidah ibadah ataupun muamalah. 

Dijelaskan antara lain kedatangan Malaikat Maut ini diawali dengan datangnya beberapa malaikat yang menyertainya, apakah para malaikat yang berwajah putih bersinar laksana matahari, yang pada tangan mereka ada kain kafan dari surga dan balsem dari surga, ataukah para malaikat yang hitam kelam, yang keras lagi bengis yang pada tangan mereka ada semacam karung goni dari neraka.

Manakah di antara dari dua golongan malaikat itu yang datang? Maka itu menunjukkan keadaan orang yang akan mati. Jika yang datang adalah dari golongan yang pertama, maka orang yang akan meninggal itu adalah termasuk orang mukmin yang genar beribadah kepada Allah Swt, yang kelak akan menempati surga dan meraih keridhaan-Nya. Namun jika yang datang itu dari golongan malaikat yang kedua, maka niscaya yang akan mati itu adalah orang kafir atau munafik yang kerap berbuat dosa, yang kelak akan menempati neraka dan mendapatkan kemurkaan-Nya. 

Penguburan Jenazah 

Makna penting berikutnya yang dapat dipetik dari hadits panjang itu adalah tentang perilaku dan pensyariatan Rasulullah Saw dan para sahabatnya dalam menguburkan jenazah yang telah dipastikan kematiannya. Ajaran Islam dengan gamblang mensyariatkan penguburan mayit setelah memandikan, mengkafani dan menshalatkannya apabila mayit itu seorang yang baik keIslamannya. Namun apabila si mayit orang kafir, maka cukup dengan dikuburkan saja, tidak perlu dimandikan, dikafani, apalagi dishalatkan.
Tiada keraguan sedikitpun terhadap aturan semuanya itu, apalagi Allah Swt juga telah menyebutkan menguburan bagi mayit di dalam beberapa ayat-Nya, di antaranya QS Abasa 80: 19-21 dan hadits yang lain tentang penggalian lubang yang luas, dalam dan bagus untuk menguburkan dua atau tiga orang.

Hadits tersebut juga menjelaskan keutamaan untuk ikut mengantarkan dan menguburkan jenazah, dibolehkannya tausiyah atau pemberian nasihat ketika selesai menguburkan jenazah dan ketetapan mengenai keberadaan adzab dan nikmat kubur. 

Adzab Kubur 

Adzab kubur termasuk perkara ghaib, yang hanya Allah yang mengetahui sebagaimana disebutkan dalam QS An-Naml 27: 66, QS Al-An’aam 6: 59 dan Al-Jin 72: 26-27 dan lainnya, di mana dijelaskan tentang dosa-dosa yang menyebabkan adzab kubur yang meliputi: 
  1. Tidak membersihkan diri dari air kencing, karena hal itu bertentangan dengan anjuran untuk memelihara kebersihan bagi para pemeluknya. 
  2. Ghibah - menceritakan kekurangan orang lain tentang hal-hal yang tidak disukainya dan namimah - menyampaikan ucapan orang lain kepada orang lainnya dengan maksud merusak hubungan (mengadu domba). 
  3. Tidak membaca Al-Qur’an atau membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengamalkan ajarannnya.
  4. Mengabaikan shalat wajib termasuk shalat berjamaah. 
  5. Berdusta apapun alasannya, walaupun sekedar untuk menutupi kekurangan atau ingin menonjolkan kebaikannya. 
  6. Berzina, biasanya dilakukan karena nafsu yang tak terkendali yang merupakan berhala dalam diri manusia. 
  7. Makan riba, sesuatu yang sekarang banyak terjadi bahkan telah menjadi legal di masyarakat. 
  8. Ghulul (korupsi), yaitu mengambil sesuatu yang bukan miliknya. 
  9. Hutang yang belum sempat dilunasi. 
  10. Ratapan dari keluarga yang ditinggalkan. Bersedih itu wajar, tetapi meratapi tidak dibenarkan. 
  11. Tambahnya adzab kubur bagi orang kafir akibat tangisan keluarga yang ditinggalkan.
Beberapa Jenis Adzab Kubur 

Berikutnya akan dijelaskan beberapa jenis adzab kubur yang memang telah disediakan oleh Allah Swt. Penjelasan ini dimaksudkan agar setiap muslim takut, lalu mereka berusaha menghindar dan menjauhkan dirinya dengan kepenuh hati dan kesungguhan. Bahkan terkadang Allah Swt menampakkan beberapa hal yang dialami para penghuni kubur kepada sebagain yang masih hidup. Hal ini telah diutarakan oleh Shaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, “Hal tersebut sungguh telah tersingkap bagi sebahagian manusia sehingga mereka dapat mendengar suara (jeritan) orang-orang yang disiksa di dalam kubur mereka dan juga dapat melihat dengan mata kepala sendiri, para penghuninya itu diadzab di dalam kubur mereka. Tetapi hal tersebut dapat dilakukan selamanya dalam setiap waktu, namun hanya dirasakan pada waktu tertentu saja. Beberapa jenis adzab kubur antara lain:
  1. Kubur itu adalah tempat yang gelap gulita, di mana manusia akan tersiksa hidup di dunia tanpa cahaya. 
  2. Akan diperlihatkan tempat tinggalnya di neraka setiap pagi dan petang. 
  3. Dibelit oleh ular berbisa yang datang dari arah kepala dan kedua kaki, dan meremukkan tulang belulangnya. 
  4. Dibenamkan ke dalam tanah yang membelah kemudian tanah itu menutup kembali. 
  5. Dipotong-potong lidahnya bagi orang yang dikenal pandai dan lancar berteori dan berbicara tentang agama namun tidak mengamalkannya padahal ia mampu untuk mengamalkannya. 
  6. Dimuntahkannya kembali mayat orang-orang yang murtad dan berhak mendapatkan penghinaan seakan-akan bumi menolak jasadnya. Ia tidak dapat lagi dimasukkan ke liang kubur, sehingga tergetetak tanpa daya di atas tanah atau dibakar sehingga menjadi debu. 
  7. Dihimpit bumi yang akan mematahkan dan menghancurkan tulang belulang penghuninya, kecuali bagi orang-orang yang teguh keimanannya dan baik amal shalihnya.
  8. Dipukul oleh malaikat yang buta tuli dengan gada besar dari besi bagi orang kafir yang dengan pukulan itu gunung pun akan hancur. 
  9. Mencakar muka dan dadanya dengan kuku dari tembaganya sendiri bagi orang yang suka ghibah dan merusak kehormatan orang lain. 
  10. Orang yang beramal buruk, ditemani oleh seseorang yang buruk wajahnya, jelek pakaiannya dan menusuk baunya. 
  11. Dikirimnya hembusan panas dari anginnya neraka kepada dan dipersempitlah kuburnya sehingga tulang belalangnya berselisih bagi orang yang tidak dapat menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. 
  12. Dikailkan mulutnya dengan kail besi sampai tembus ke telinga, mata, hidung dan tengkuknya bagi orang yang gemar berdusta. 
  13. Dibakar di dalam satu tempat seperti dapur roti bagi orang yang suka berzina. 
  14. Orang yang mengambil Al-Qur’an tetapi tidak menngamalkannya akan dihantam dengan batu besar sampai remuk. 
  15. Mulutnya dihantam batu besar ketika berada di tengah sungai merah laksana darah bagi orang gemar memakan harta riba atau harta yang haram.  
Menjauhkan Dari Adzab Kubur 

Setiap muslim niscaya berkeinginan untuk dihindarkan dan diselamatkan dari adzab kubur. Karena itu Rasulullah Saw memerintahkan ummatnya untuk senantiasa berdoa meminta perlindugan kepada Allah Swt dari siksa kubur. Kemudian menghindarkan dirinya dari berbagai amalan yang menyebabkan datangnya adzab kubur seperti telah disebutkan di atas. Hal-hal yang dapat menjauhkan dari adzab Allah yang meliputi:
  1. Mati syahid, yaitu dibunuh oleh orang-orang kafir ketika berperang melawan mereka dalam rangka memperjuangkan agama Allah.
  2. Mempersiapkan diri untuk berjihad di jalan Allah, apakah itu berupa mempersiapkan bekal makanan, pakaian ataupun tenda, kendaraan dan persenjataan, menghimpun dana atau yang lainnya.
  3. Membaca dan mengamalkan surat Al-Mulk. Rasulullah Saw telah menjelaskan tentang keutamaan membaca beberapa surat Al-Qur’an, Misalnya surat Al-Faathihah yang merupakan ummul (induk) Al-Qur’an, Al-Ikhlas, yang nilainya sepertiga isi Al-Qur’an dan yang lainnya. Demikian pula telah menyebutkan keutamaan membaca surat Al-Mulk atau Tabaarak, yang jika dibaca oleh seorang muslim, apalagi dipahami dan diamalkan, maka surat itu dapat mencegahnya dari adzab kubur.
  4. Mengamalkan berbagai amal shalih lainnya. Pada dasarnya setiap amal shalih yang dikerjakan oleh setiap muslim adalah dalam keadaan ikhlas mengharapkan keridhaan-Nya semata. Misalnya shalat, shaum, zakat, shadaqah, silaturahmi, berbakti kepada orangtua, berbuat baik kepada sesama manusia dan selainnya akan menjaga dan melindungi dirinya dari kedatangan para malaikat kubur dari berbagai arah.
  5. Ridha dan sabar ketika akan mati dengan sebab sakit perut. Penyakit di dunia ini ternyata memiliki keutamaan, di antaranya adalah sakit perut. Penyakit itu dan selainnya apabila diderita orang seorang muslim yang ridha dan sabar atas musibah tersebut, maka ketika ia akan mati, matinya itu adalah mati syahid. Dan ia dalam keadaan husnul khatimah dan sakit perut itu menyebabkan seorang muslim terhindar dari adzab kubur (HR An-Nasai, At-Tirmidzi dan Ahmad, yang dinyatakan hasan oleh Syeikh Al-Albani).  
  6. Meninggal dunia pada hari Jum’at atau malam Jum’at.  Rasulullah Saw telah menjelaskan beberapa waktu yang baik untuk beribadah, misalnya setuap malam sepertiga malam terakhir di bulan Ramadhan, pada hari Arafah bagi yang menunaikan ibadah haji. Maka di antara waktu-waktu yang istimewa itu adalah orang yang mati pada hari Jum’at atau malam Jum’at di mana Allah akan menjaga seseorang dari fitnah kubur (HR At-Tirmidzi, Ahmad, dinyatakan hasan oleh Syeikh Al-Albani).
Hal-Hal Yang Membantu Seorang Muslim Setelah Kematiannya

Di samping itu ada beberapa hal yang maknanya dapat membantu seseorang setelah kematiannya, yaitu:
  1. Melakukan shalat jenazah yang dilakukan oleh 40 orang mukmin yang tidak berbuat syirik bagi seorang muslim, maka shalat tersebut sangat bermanfaat baginya, yaitu shalat itu dapat memberikaan syafaat itu kepadanya. Hal itu menunjukkan pentingnya bergaul dengan orang-orang shalih dan melazimkan diri dengan mereka di masjid. 
  2. Berdiam dirinya para pengantar kuburnya, lamanya seukuran dengan seseorang menyembelih kambing lalu membagi-bagikan dagingnya. Hal ini dapat menenangkan penghuni kubur dan bersiap menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. 
  3. Doa minta ampunan dan keteguhan pengantarnya untuknya. Hal lain yang dapat memberi faidah kepada oang yang telah mati adalah, permohonan ampun kepada Allah Swt dan permintaan keteguhan hati dari pertanyaan malaikat kubur ketika jenazahnya baru saja dikuburkan. 
  4. Amal perbuatan yang dikerjakannya ketika masih hidup sangat bermanfaat bagi orang yang telah mati. 
  5. Sedekah anaknya atas nama dirinya, yaitu sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendoakannya dan ilmu yang bermanfaat yang dia ajarkan dan sebar luaskan kepada sesamanya, menghadiahkan mushaf (Al-Qur’am), buku-buku, majalah syar’i dan yang semisalnya kepada suatu komunitas muslim dan selain mereka. Begitu juga jika ia mampu membangun masjid dengan tujuan memakmurkannya dengan pengajaran yang benar sesuai Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih. Hal lain adalah menyediakan rumah singgah bagi kaum musafir dan perbuatan sosial seperti mengalirkan air ke tempat pemukiman, sawah ladang dan selainnya. 
  6. Pembayaran shaum atau haji nadzar dari keluarga mayit untuknya. 
  7. Pembayaran hutang dari keluarganya atau selainnya, jika mayit memiliki hutang. 
  8. Doa dan permohonan ampun dari kaum muslimin.  
Jenis-Jenis Nikmat Kubur

Di dalam penjelasan sebelum ini telah diuraikan tentang berbagai jenis siksa kubur dan penyebab-penyebabnya dan selainnya. Jika telah dipahami itu semuanya, maka kita juga perlu mengetahui beberapa jenis nikmat kubur sesuai keimanan dan amal shalih dari tiap-tiap mukmin yang mendapatkannya yang secara ringkas meliputi hal-hal berikut ini:
  1. Dilapangkan kuburnya. 
  2. Diberi cahaya. 
  3. Istirahat tidur sampai hari berbangkit. 
  4. Makan sebagian dari buah-buahan yang ada di surga sebelum tegaknya hari kiamat. 
  5. Memakai pakaian dari surga. 
  6. Melihat tempat tinggalnya di surga 
  7. Ditemani oleh amal shalihnya.
Demikian beberapa penjelasan tentang berbagai jenis siksa neraka, amalan-amalan yang menjadi penyebab seseorang mendapatkannya. Penjelasan ini diharapkan agar kita sebagai muslim menjadi takut akan siksa kubur sehingga berusaha maksimal untuk meninggalkan berbagai amalan yang menjadi penyebab mendapatkan siksa kubur. Dan juga diharapkan kita akan bersungguh-sungguh untuk mengerjakan amalan-amalan yang dapat mencegah siksa kubur menimpa diri kita. 

Sehubungan dengan siksa kubur tersebut, Rasulullah Saw menganjurkan agar kita berdoa memohon perlindungan kepada Allah Swt dari siksa kubur itu yang disyariatkan bahkan diwajibkan di dalam setiap shalat ketika tahajjud akhir sesudah mengucapkan shalawat Ibrahimiyah dan sebelum mengucapkan salam, karena adzab kubur itu benar adanya dan akan terjadi bagi orang yang berhak mendapakannya. (Bersambung).

Hermanto Harsolumakso
No. 234

Rabu, 10 Desember 2014

PERJALANAN RUH MENUJU AKHIRAT (1)

Allah Swt berfirman di dalam QS A-A’raaf 7: 34):
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ.

“Tiap-tiap ummat mempunyai ajal (batas waktu), maka apabila datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun, dan tidak dapat memajukannya.”

KEHIDUPAN DI DUNIA

Manusia adalah makhluk Allah Swt yang mampu menggunakan kecerdasan otaknya sebagai senjata ampuh untuk hidup. Kita memang harus cerdas, dan ketika kita mempunyai akal yang cerdas, kecerdasan itu harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, bukan untuk mengembangkan sesuatu yang keliru akibat hasrat mencari kesenangan sehingga menjauhkan manusia dari hidup yang hakiki, yaitu beribadah kepada Allah Swt sebagaimana firman-Nya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaariyaat 51: 56).

Dalam beribadah, hendaknya kita selalu berpegang pada keseimbangan hidup mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana firman-Nya: “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, janganlah berbuat kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash 28: 77).

Peringatan itu sudah jelas, tujuan akhir adalah akhirat, tetapi jangan lupa mengurus dunia untuk kepentingan bersama, dan berbuat baik kepada orang lain, sebagimana Allah berbuat baik kepada kita. Ini adalah amanat yang harus kita laksanakan, tetapi yang terjadi justru memanfaatkan orang lain bahkan sampai mengorbankan orang lain, semata-mata untuk kepentingan diri sendiri. Dan kita hendaknya tidak merusak bumi dan isinya. Itulah yang sedang terjadi saat ini, sebagai akibat yang harus kita tanggung atas perbuatan manusia yang berbuat kerusakan di muka bumi.

Amalan di Dunia

Kita bersyukur kepada Allah Swt bahwa kita telah menjadi pemeluk agama Islam, yang mengajarkan kesempurnaan hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Namun kebahagiaan di akhirat itu baru akan kita peroleh jika amalan kita di dunia baik.

Apakah Amal? Amal adalah perwujudan dari sesuatu yang menjadi harapan jiwa, baik berupa ucapan, perbuatan anggota badan, ataupun berbuatan hati. Amal harus berdasarkan pada niat, karena Allah Swt menilai amal dari niatnya. Ada tiga jenis amal, yaitu amal jariah, amal ibadah, dan amal shalih.
  1. Amal jariah yang juga disebut wakaf. Harta atau benda wakaf adalah harta atau benda yang disumbangkan untuk kepentingan umum atau agama. Pahala amal jariah tidak akan terputus walaupun pemberinya sudah meninggal dunia, selama harta atau benda yang diamalkan tersebut masih memberikan manfaat bagi kepentingan umum. Maka amal jariah merupakan perbuatan amal yang berkelanjutan. Dalam hadits disebutkan: “Bila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariah, ilmu yang diambil manfaatnya dan anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya.” (HR Muslim). 
  2. Amal ibadah yang berarti pengabdian kepada Allah Swt. Perintah untuk beribadah banyak disebutkan terdapat dalam Al-Qur’an, antara lain: ▪ “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzaariyaat 51: 56). ▪ “Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.“ (QS Az-Zumar 39: 11). 
  3. Amal shalih, yaitu semua perbuatan, lahir dan batin, yang berakibat pada hal yang positip atau bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain atau masyarakat. Amal shalih bisa mencakup pengertian amal jariah dan amal ibadah.
Muttaqin Selalu Ingat Kematian

Menurut Imam Al-Ghazali, kematian adalah hal yang paling dekat dalam kehidupan kita, yang bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa bisa kita programkan, sehingga kita harus siap setiap saat. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. (QS Ali Imran 3: 102). Ayat yang sering disebut pada awal setiap pembukaan ceramah atau khutbah ini merupakan perintah wajib kepada orang-orang beriman untuk menindak lanjuti keimanannya dengan bertakwa. Apakah yang dimaksud dengan sebenar-benarnya takwa?
  1. Orang yang benar-benar takwa (muttaqin) itu adalah orang yang selalu ta’at kepada Allah dan berusaha tidak akan berbuat maksiat. Karena itu orang yang bertakwa ini akan selalu berusaha melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena semua perbuatan yang dilakukannya pasti terbersit rasa takut dalam hatinya,karena Allah selalu memantaunya (muraqabatullah). 
  2. Muttaqin selalu berdzikir kepada Allah. Dia selalu ingat kepada Allah dan ketika dia hendak melakukan kemaksiatan dia akan langsung berdzikir mengingat Allah dan segera bertaubat serta memohon ampun kepada-Nya. 
  3. Muttaqin selalu bersyukur atas segala anugerah Allah. Rasa syukur itu dinyatakan dalam bentuk ibadah. Misalnya, ketika diberikan kesehatan, dia mensyukurinya dengan shalat dan puasa. Ketika mendapatkan anugerah harta, dia beribadah dengan membelanjakan rizkinya di jalan Allah. Ketika diberikan anugerah anak dia selalu beribadah dengan menjaga anaknya agar selalu dekat dengan Allah, dan banyak lagi anugerah Allah yang perlu disyukuri dengan beribadah kepada-Nya. 
  4. Muttaqin akan selalu ingat kematian yang bisa terjadi setiap saat, karena kematian merupakan jalan kembali kepada Allah yang menciptakan kita. Dahulu kita berada di sisi Allah. kemudian kita diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini untuk menjalani kehidupan sementara, kemudian kita kembali ke sisi Allah lagi. Dengan kata lain kita dipanggil oleh Allah Yang Maha Kuasa agar kembali kepada-Nya dalam keadaan Islam. Kematian merupakan sesuatu yang tidak perlu ditakuti, karena kematian itu adalah jalan kembali kepada Tuhan yang menciptakan kita semua. Dahulu kita berada di sisi Allah kemudian kita diturunkan atau dilahirkan di muka bumi ini menjalani kehidupan sementara, kemudian kita mengakhirinya dengan kematian, yaitu kita kembali ke sisi Allah lagi. Dengan kata lain, kita dipanggil oleh Yang Maha Kuasa agar kembali kepada-Nya. Karena itu, kita sering mengatakan kepada orang yang meninggal dunia itu ‘berpulang ke rahmatullah’ atau kita mengucapkan istirja; Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un, yang artinya “Sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nya lah kita kembali.”
KEMATIAN 

Seperti disebutkan dalam firman Allah pada awal tulisan ini, suatu ketika drama kehidupan yang kita jalani, apapun yang kita perankan dalam kehidupan ini, baik sebagai seorang pemimpin, pejabat, ulama, atau rakyat biasa, semuanya akan berakhir, sesuai dengan skenario yang telah ditentukan oleh Allah Sang Pencipta. Jelaslah bahwa sebagai makhluk yang bersifat fana, kita dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Kita semua akan mati, cepat atau lambat. Cepat bukan dengan jalan pintas bunuh diri misalnya, dan lambat bukan berarti alon-alon asal kelakon, tetapi alon-alon mesthi kelakon. Artinya kita bukan sekedar berserah diri dan pasrah saja, melainkan harus tekun mempersiapkan diri untuk mati dalam keadaan Islam, supaya tercapai kebahagiaan di akhirat.

Kematian itu sesuatu yang mesti terjadi pada seseorang, walaupun ia berusaha menghindarinya atau berusaha bersembunyi atau berlindung di tempat yang dikira aman. Allah Swt berfirman: ”Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)." Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah." Maka mengapa orang-orang (munafik) itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (QS An-Nisaa 4: 78).

Perjalanan Ruh Menuju Alam Barzakh

Ketika kita meninggalkan dunia ini menuju ke akhirat, itu ibarat sebuah perjalanan menuju ke suatu negeri yang lain. Di mana keterangan tentang negeri tersebut tidak dimuat dalam brosur perjalanan wisata, melainkan di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tak perlu dirisaukan mengenai booking untuk perjalanan ini, karena sudah dipesankan sejak kita masih dalam kandungan ibu kita. Kita masing-masing harus siap untuk menempuh perjalanan tersebut, karena setiap orang akan mendapatkan free one-way ticket untuk satu kali perjalanan yang tidak akan pernah kembali lagi ke dunia fana ini.

Pesawat yang akan ditumpangi dan yang akan mengantarkan kita bukanlah pesawat Garuda Indonesia atau Saudi Airlines, melainkan Keranda Jenazah. Untuk perjalanan ini barang bawaan kita tidak dibatasi hanya 20 kg, melainkan berapa pun berat dan banyaknya amal perbu-atan kita. Kita tidak akan ditagih atas kelebihan barang bawaan. Semuanya gratis berkat kemurahan Allah Sang Pencipta. Dalam perjalanan, yang melayani kita bukan pramugari dengan senyuman menawan, melainkan Malaikat Izrail, yang mencabut nyawa kita. Dan pelayanan selama penerbangan bukanlah di kelas eksekutif atau ekonomi, tetapi ambulan, limosin atau truk sampah, tergantung bagaimana perilaku kita semasa hidup. Jangan pikirkan tentang hiburan selama penerbangan, karena kita sudah tidak memiliki cita rasa lagi. Juga tak perlu dipikirkan siapa yang akan duduk di sebelah kita, karena kita adalah satu-satunya penumpang di sana. Dan nikmatilah perjalanan tersebut, jika memang bisa menikmatinya.  

Disembarkasi penerbangan bukan Jeddah International Airport, tetapi qabarastaan (tempat pemakaman). Petugas Imigrasi yang meme-riksa bukanlah petugas imigrasi dari Kerajaan Arab Saudi, tetapi malaikat Munkar dan Nakir dari ’Kementerian Kehakiman Akhirat’. Ruang tunggu bukanlah ruangan terang benderang berhamparkan karpet yang ber-AC, tetapi ruang gelap seluas 1 x 2 m² bernama Kuburan, yaitu peristirahatan pertama dalam perjalanan menuju akhirat, yang dinamakan alam Barzakh yang ghaib. Tujuan akhir kita adakah surga atau sebaliknya neraka, tergantunga amalan di dunia yang kita bawa.
Dalam perspektif Islam, hidup dan mati merupakan ajang persaingan amal di antara manusia. Dengan daya nalarnya, manusia dapat memilah dan memisahkan antara yang baik dan yang buruk atau yang benar dan yang salah. Dengan begitu, Allah dapat mengevaluasi yang terbaik amalnya di kalangan manusia, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk 67: 1-2). 

Demikian kita awali tulisan tentang perjalanan ruh setelah meninggalkan jasadnya, dan selanjutnya kita akan membahas tentang alam barzakh, antara lain dengan belajar memahami sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Al-Barra' bin 'Azib Ra. (Bersambung)

Hermanto Harsolumakso
No. 233