Minggu, 25 Mei 2014

SENGKETA DALAM PEMILU


Kita sering mendengar terjadinya kecurangan dan gugatan atas hasil pemilihan umum (Pemilu) di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Tidak demikian halnya dengan di negara maju seperti misalnya di Jepang. Pemilu di Jepang meskipun hanya diikuti oleh warga Jepang yang tinggal di Jepang, sedangkan mereka yang sedang berada di luar negeri, tidak dapat mengikuti. Terhadap tidak adanya layanan untuk menggunakan hak pilih itu, mereka tidak protes apapun, karena undan-undangnya mengatur bergitu. Demikian yang saya alami selama saya tinggal di sana lebih dari 17 tahun (1967-1985)  selama itu pula saya tidak pernah mendengar adanya keccurangan dan gugatan dalam Pemilu. 

Mengapa bisa begitu? Faktor utama yang menentukan 'sedikitnya kecurangan' adalah rasa malu dan pengendaian nafsu untuk menda-patkan sesuatu dengan cara tidak jujur. Dalam SPMMI, kejujuran men-duduki urutan ketiga sesudah (i) Iman dan Takwa dan (2) Moral dan Etika. Bagi orang Jepang kecurangan hanya ada pada anak-anak kecil yang belum bisa menerapkan apa yang diajarkan di sekolah mengenai budi pekerti yang biasanya diajarkan di sekolah-sekolah Jepang kelas bawah (Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar). 
Jadi SPMMI itu sebenarnya adalah pelajaran moral yang paling mendasar dan universal - kecuali Iman dan Takwa yang menjadi urusan pribadi. Maka kecurangan dalam Pemilu bukanlah masalah yang harus dihadapi oleh orang dewasa, apalagi masalah bagi elite politik. Mereka sudah tidak mengenal hal itu. Sedangkan di Indonesia Mahkamah Kons-titusi (MK) mulai bosan menangani sengketa Pemilukada dan segala sengketa Pemilu. Penulis juga bosan, maka sebaiknya kita bicara tentang kebaikan saja.

Berikut itu adalah sekedar informasi tentang Pemilu di Jepang.  Semua proses pemilu dapat dilakukan dengan baik karena kecu-rangan sudah dianggap tidak ada. TPS tidak perlu diawasi petugas dari Parpol. Petugas Pemilu hanyalah pegawai Kementerian Dalam Negeri Prasarana Permilu sudah dipersiapkan, tinggal dibuka dengan mudah. Barang yang rusak sedini mungkin diperbaiki.
TPS dibuka 10 jam (08.00:-18.00), sesudah itu langsung dilaku-kan penghitungan, suara resmi, dan hasilnya sudah bisa diketahui ku-rang dari 24 jam. melalui quick count yang dijamin sesuai hasilnya dengan real count  Begitulah kalau semua orang memiliki amanah dan tanggungjawab yang besar terhadap kepentingan bersama.
Bagaimana kita? Masih saja bicara tentang amanah dan tanggungjawab. Padahal seharusnya apa yang JSM kemukakan di dalam SPMMI itu adalah kajian untuk diterapkan, bukan sekedar dijadikan ilmu, Berselisih tenang kecurangan dalam dan gugat menggugat itu hanya terjadi di kalangan anak-anak yang belum bisa menerapkan budi perkerti dengan benar. Orang dewasa tidak melakukan kecurangan yang men-yangkut kepentingan umum seperti Pemilu.
Berikut itu adalah sekedar informasi tentang Pemilu di Jepang.  Semua proses pemilu dapat dilakukan dengan baik karena kecurangan sudah dianggap tidak ada. TPS tidak perlu diawasi petugas dari Parpol. Petugas Pemilu hanyalah pegawai Kementerian Dalam Negeri Prasarana Permilu sudah dipersiapkan, tinggal dibuka / tutup, pasang / pasang dengan mudah. Barang yang rusak sedini mungkin diperbaiki.
TPS dibuka 10 jam (08.00:-18.00), sesudah itu langsung dilakukan penghitungan, suara resmi, dan halsilnya sudah bisa diketahui kurang dari 24 jam. melalaui quick count yang dijamin sesuai hasilnya dengan real count  Begitulah kalau semua orang memiliki amanah dan tanggungjawab yang besar terhadap kepentingan bersama.
Bagaimana kita? Masih saja bicara tentang fikih amanah dan tanggungjawab. Padahal seharusnya apa yang JSM kemukakan tentang SPMMI itu adalah kajian untuk diterapkan, bukan sekedar dijadikan ilmu., melainkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berselisih tenang kecurangan dalam dan gugat menggugat itu hanya terjadi di kalangan anak-anak yang belum menerapkan budi perketi dengen benar. Orang dewasa tidak melakukan kecurangan Pemilu,  kalau ada kecurangan itu biasanya bukan tentang hal-hal yang menyangkut kepentingan umum.

Harus kita akui bahwa, manusia mempunyai naluri tidak jujur atau berbohong, dan egois. Kebohongan adalah segala pernyataan mengecoh dan menyesatkan orang lain. Bagi seorang pembohong atau pendusta, kebenaran adalah kebohongan yang terus menerus diulang dan diceritakan ribuan kali. Pembohong senantiasa berupaya menciptakan ribuan skenario. Bila satu skenario gagal, maka diciptakanlah skenario baru dan seterusnya. Kebohongan hanya dapat dipertahankan dengan kebohongan lagi.

Orang berbohong biasanya disebabkan karena tiga hal yaitu; 1) Kebiasaan berbohong, akan menjadikan seseorang mengingkari janji, sehingga orang mengemukakan alasan untuk tidak memenuhi janjinya dengan kebohongan lagi. 2) Keserakahan yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya termasuk dengan berbohong. 3) Kedengkian bersamaan dengan permusuhan dengan orang lain, akan mendorongnya menjatuhkan orang lain dengan kebohongan atau fitnah. Satu saja sebab ini ada pada diri seseorang, maka dia pasti gemar berbohong. Dari fakta yang ada, perlahan tapi pasti, banyak orang akan mendeteksi kebohongan seseorang, karena Allah Maha Adil. Kepada pembohong, perlu kita sampaikan peringatan bahwa lambat laun orang lain akan menyadari dan mencium aroma dusta lidahnya. Sekali lagi, perlahan tapi pasti, suatu ketika orang akan mendeteksi kebohongan itu. 

Jika demikian, yang bisa ia lakukan hanyalah: 1) berhenti dan bertobat, atau 2) mencari mangsa baru yang belum tahu siapa dia. Beruntunglah dia bila memilih yang pertama, dan celakalah dia bila masih saja mencari mangsa baru. Lebih celaka lagi, mereka yang selalu menjadi korban kebohongan, tidak sadar dan terus memilih teman atau pemimpin siapa saja yang suka berbohong, dan selalu menyediakan ruang untuk terus berbohong. Hanya dengan jujurnya para pemimpin, ulama, birokrat, pengusaha, penegak hukum dan setiap Mukmin, maka masyarakat akan berkembang maju. Islam mengajarkan agar ummatnya berlaku jujur dalam kehidupan bermasyarakat. Allah Swt memperingatkan: ▪ "Sesungguhnya Allah tak akan memberikan petunjuk kepada orang yang keterlaluan dan suka berbohong. (QS Ghaafir 40: 28). ▪ “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS An-Nahl 16: 105). Rasulullah Saw bersab-da; “Pengkhianatan yang paling besar ialah engkau memberi informasi kepada saudaramu, yang informasi itu mereka percayai, padahal engkau sendiri berdusta.” (HR Al-Bukhari dan Abu Dawud). 

Demikianlah bahwa pembohong itu sesungguhnya adalah juga pengkhianat besar. Mereka adalah orang-orang yang curang dalam berdagang, membocorkan dana pembangunan, koruptor, penyuap dan penerima suap, dan sebagainya. Dalam perdagangan, Islam mengajar-kan tentang kejujuran: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan qisth (tepat) janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka.” (QS Huud 11: 85). Di samping itu terminologi qisth dalam ukuran, mengingatkan kita pada presisi dengan ketepatan yang tinggi, yang merupakan faktor penting di bidang teknologi yang menerapkan profesionalisme tinggi.

Kejujuran biasanya dikaitkan dengan keadilan bahkan dalam kasus tertentu identik dengan keadilan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan: “Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca (keadilan) itu.” (QS Ar-Rahmaan 55: 9). Pengawasan Allah terhadap kejujuran sangatlah ketat. Selain kejujuran merupakan faktor penting dalam kehidupan bermasyarakat, orang-orang yang jujur juga dijanjikan akan mendapatkan surga. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya jujur itu membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan pada surga. Dan seseorang berperilaku jujur, hingga ia dikatakan sebagai seorang yang jujur. Sementara kedustaan akan membawa pada keburukan, dan keburukan akan mengantarkan pada api neraka. Dan seseorang berperilaku dusta, hingga ia dikatakan sebagai pendusta.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).  

Hadits dengan kalimat sederhana ini menggambarkan dua pe-bedaan hakikat yang begitu jauh, sejauh perbedaan antara surga dan neraka. Hakikat pertama adalah ash-shiddiq (kejujuran & kebenaran iman), yang digambarkan sebagai pintu gerbang kebaikan yang akan mengantarkan seseorang ke surga. Sedangkan hakikat yang kedua adalah al-kadzdzib (kedustaan), yang merupakan pintu gerbang keburukan yang akan mengantarkan pelakunya ke dalam neraka. Ketika menggambarkan kedua hal di atas, Rasulullah Saw sekaligus mengaitkan juga dengan mashirah (kesudahan) dua sifat yang berbeda tadi, yaitu surga bagi orang yang jujur dan neraka bagi pendusta. Manfaatnya adalah untuk memberikan makna yang mendalam dan tidak menjadikan kedua hal tersebut sebagai masalah yang sepele, karena secara tabi’at, manusia seringkali menganggap remeh keduanya. Sementara kesudahan dari kedua sifat itu yang sangatlah jauh berbeda, sejauh perbedaan antara surga dan neraka.

Pada kedua sifat yang digambarkan Rasulullah Saw di atas, selalu diikuti dengan perilaku manusia terhadap kedua sifat tersebut, sehingga manusia akan menjadi salah satu di antara keduanya; jujur atau pendusta. Artinya, untuk dikatakan bahwa seseorang itu adalah jujur, ia harus membuktikannya dengan perbuatannya sendiri, sehingga ia dengan sendirinya akan mendapatkan sifat jujur tersebut. Sebaliknya, seseorang yang dikatakan sebagai pendusta, adalah hasil dari perilaku dan perbuatannya, yang akhirnya menjadikannya sebagai pendusta.

Di sisi lain, kejujuran juga merupakan salah satu tujuan sekaligus kunci keberhasilan puasa kita. Misalnya, puasa adalah ibadah yang sifatnya sangat pribadi, sehingga kita harus menjalani puasa dengan penuh kejujuran. Ketidakjujuran dalam diri seseorang, adalah; orang yang memulai harinya dengan makan sahur, kemudian di luar rumah dia secara bersembunyi makan atau minum, dan melakukan apa saja yang dilarang dilakukan selama bulan puasa. Jika kita jujur, maka hal itu tidak akan terjadi.

Jika kita bisa menjaga kejujuran dalam hal makan, minum dan apa-apa saja yang dilarang yang sifatnya pribadi, mengapa kita tidak bisa menjaga kejujuran dalam hal lain yang menyangkut kepentingan masyarakat? Pertanyaan itu wajar kalau kita melihat praktik berbangsa dan bernegara, kita tidak menunjukkan indikator kejujuran yang nyata. Dalam kasus korupsi misalnya, kendala melakukan pemberantasan korupsi adalah karena ketidakjujuran mereka yang terliba dan terkait; yaitu para koruptor dan penegak hukum yang memberantasnya.

Dalam ibadah puasa ada tiga aspek yang fundamental yang perlu kita pahami, yaitu; 1) Pendekatan diri kepada Tuhan, 2) Penyucian diri, dan 3) Membangun keshalehan sosial. Dengan beribadah puasa, seorang yang beriman berusaha mengaktifkan kekuatan ruhaninya, lalu berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin.

Dengan kedekatan dan intensitas berkomunikasi dengan Tuhan, sebuah proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai ilahi dalam diri seseorang diharapkan akan terjadi bahwa apa yang selalu dipikirkan, dibayangkan, dan dirasakan seseorang, akan mempengaruhi dan meng-gerakkan perilaku orang itu. Jika hati dan pikiran selalu terikat dan tertuju kepada Allah Yang Maha Pengasih, maka kasih Allah akan merasuk ke dalam diri kita sehingga kita menjadi instrumen Allah sebagai penyebar kasih dan kebajikan. Namun, untuk meraih prestasi ini, kita harus membuka diri, membersihkan diri, dan membuang jauh-jauh berbagai pikiran, perasaan, serta perilaku kotor karena akan menghalangi cahaya dan energi ilahi untuk turun ke dalam diri kita.

Bagi sebagian orang, bulan berpuasa merupakan bulan untuk meningkatkan dan merevitalisasi diri sehingga hidup ini senantiasa dipandu kekuatan spiritual. Melalui puasa kita kembalikan dan perkokoh nurani untuk menjadi pemimpin kehidupan. Kita mesti bersikap positif karena yakin, bulan Ramadhan pasti mendatangkan berkat dan rahmat bagi kita semua.

Namun bagaimana kenyataannya? Kita perlu bertanya apakah ada yang salah dalam cara kita berpuasa? Di mana salahnya dan bagai-mana memperbaikinya? Salah satu caranya ialah belajar bersungguh-sungguh menerapkan perilaku jujur di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kejujuran adalah dasar kehidupan di dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kejujuran adalah persyaratan utama pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang, dan tolong-menolong

Kejujuran adalah inti dari akhlak yang merupakan salah satu tujuan dari diutusnya Rasulullah Saw oleh Allah Swt. Kejujuran tidak akan datang dengan sendirinya, melainkan harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh. Demikian Islam mengajarkan tentang pentingnya kejujuran. Kalau Islam adalah yang terbaik, mengapa ummat Islam yang baik hanya sedikit? Mengapa ada korupsi di MK  yang melibatkan Ketua MK dan di Kementerian Agama yang melibatkan Menteri Agama.

Marilah kita menjaga hati kita dengan menjauhi sifat munafik dan dusta yang dapat menjauhkan kita dari sifat jujur, untuk kemudian secara bertahap kita tumbuhkan sifat jujur, agar kita dapat bersama-sama dengan para nabi, syuhada dan shalihin di akhirat makna kejujuran, agar kaun Muslimin tidak mudah terjebak ke dalan kecurangan dan persaingan yang tidak diajarkan Islam.
Hermanto Harsolumakso
No.220

Sabtu, 10 Mei 2014

MENJAUHI PERILAKU BERMEGAH-MEGAHAN


أَلْهَاكُ أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk liang kubur. Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Dan jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui. " (QS At-Takatsur 102:1-4).
 
Ayat pertama surah At-Takatsur yang kita pampangkan di atas mengecam keras orang-orang yang bermegah-megahan dalam kehidupan dunia. Yang dimaksud dengan bermegah-megahan adalah senang menampilkan berbagai kelebihan yang ada pada dirinya, yang berupa kekayaan, kepandaian, kedudukan, kekuasaan, ketampanan atau kecantikan, dan sebagainya. Sikap bermegah-megahan itu menjadikan dia lalai terhadap Allah, dalam arti tidak melaksanakan perintah Allah, enggan menjauhi larangan Allah, menolak mengikuti petunjuk Allah, dan tidak mau meneladani akhlak Rasul Allah. Pekerti buruk itu terus menerus dijalaninya sampai masuk liang kubur – maksudnya sampai dengan kematiannya. Padahal ketika seseorang mati, dia tidak dapat lagi memperbaiki diri, sehingga kelak di dalam pengadilan agung di padang Mahsyar, dia memperoleh rapor buruk dan hasil pemeriksaan yang buruk, yang mengantar dia menjadi penghuni neraka Jahanam.

Merupakan sebuah kenyataan bahwa orang mengumpulkan harta bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan lahiriah seperti makan, pakaian, rumah, kesehatan; kebutuhan seperti itu memiliki plafon yang rendah. Kebanyakan orang mengusahakan kekayaan yang sebanyak-banyaknya, untuk memperoleh kehormatan, prestise, dan pujian dari orang-orang lain. Orang membangun rumah yang luas dan megah, mengenakan pakaian yang indah, membeli mobil-mobil mewah, bukan hanya untuk dia nikmati secara fisik, tetapi terutama untuk menjadikan dirinya "orang terpandang" di tengah-tengah masyarakat, bahkan yang paling unggul di antara semua anggota masyarakat. Maka nafsu bermegah-megahan itu menjadi tidak berbatas, dan orang akan terus menerus mengejar keinginannya, dengan terengah-engah sampai saat kematian tiba, sampai liang kubur menelan tubuhnya.  

Sikap demikian itu telah menjadi kebiasaan manusia sejak dahulu. Al-Quran meriwayatkan sejumlah orang dari zaman berbeda yang berperilaku seperti itu. Surah Al-Qashash (28) ayat 78 sampai dengan 82 berkisah tentang Qarun, seorang yang karena kerja kerasnya dan juga kelicikannya menjadi sangat kaya raya. Dengan amat sombong dia mengatakan bahwa kekayaan itu dia peroleh semata-mata karena kepintarannya, bukan karena keberuntungan atau pertolongan siapapun. Maka secara berkala dia mengadakan parade pameran kekayaan ke seluruh pelosok negeri, dan menikmati decak kagum orang-orang yang menyaksikan pameran harta itu. Orang-orang yang berilmu mengritik perbuatan Qarun tersebut. Mereka mengatakan bahwa kekayaan yang berlimpah itu tidak ada artinya dibanding pahala Allah bagi orang-orang yang beramal saleh. Karena itu seyogyanya Qarun membelanjakan hartanya untuk menolong orang-orang yang lemah dan miskin, bukan memamerkannya kepada khalayak ramai. Tetapi Qarun justru menertawakan para pengritiknya itu dengan menganggap mereka sebagai orang-orang yang tak tahu diri. Akhirnya Allah Swt menurunkan adzabnya yang berupa gempa tektonik dahsyat, yang membenamkan dia bersama seluruh hartanya ke dalam tanah. Allah berfirman tentang nasib orang ini: "Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah. dan tidaklah dia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya. (QS 28 Al-Qasshash: 81).

Al-Quran menceriterakan pula perilaku Ratu Balqis yang merasa gerah ketika orang-orang membicarakan Sulaiman a.s., Raja Bani Israil yang perkasa dan juga seorang Rasul. Perempuan penguasa itu tidak mau disaingi dalam hal kemasyhuran dan kekayaan oleh Sulaiman. Maka dia melakukan kunjungan kehormatan ke negeri Bani Israil, bukan untuk bersilaturahim menjalin persahabatan dan kerjasama, tetapi hendak mendemonstrasikan kemegahan diri dan negaranya. Karena itu Sang Ratu membawa hadiah berupa emas permata yang sangat berharga. Sulaiman yang telah menerima informasi dari petugas intelejen, segera menyiapkan penyambutan yang tidak kalah megahnya. Tetapi dia melakukan itu untuk memertontonkan kelebihan. Dia hendak memperlihatkan bahwa apa yang dimiliki seseorang atau sebuah negeri, tidak berarti apa-apa dibanding keagungan Allah Swt. Raja pun mengerahkan pasukan jin untuk membangun istana yang luar biasa indah, kemudian memindahkan tahta Balqis sendiri ke istana baru itu. Ratu Balqis benar-benar terpesona oleh keadaan istana yang luar biasa megah itu, dan lebih-lebih lagi melihat mahligainya yang telah diangkut dengan cara ajaib tersebut. Maka diapun tunduk kepada Allah dan mengakui ke-Rasulan Sulaiman a.s. Kisah ini diceriterakan di dalam Al-Quran, surah An-Naml (27) ayat 15 sampai dengan 24.

Sikap bermegahan ini diikuti orang-orang dari kawasan ke kawasan dan dari generasi ke generasi sampai sekarang. Di Indonesia pada saat ini, di tengah kemiskinan yang menghimpit banyak orang, demam berfoya-foya justru makin menyeruak. Padahal apabila kita renungkan dengan saksama, banyak hal yang tidak masuk akal. Orang membeli mobil-mobil super mewah dan tentu juga super mahal, tetapi hampir tidak dapat diambil manfaatnya, kecuali memuaskan nafsu pamer belaka. Misalnya orang membeli mobil sport Ferrari atau Lamborghini, dengan spesifikasi luar biasa. Kita baca dalam majalah otomotif, Ferrari tipe terbaru dapat melesat dari berhenti ke kecepatan 100 km sejam hanya dalam 3 detik saja, dan mencapai kecepatan 200 km sejam sejak dari nol hanya dalam waktu 7 detik. Tetapi di mana di negeri ini, mobil tersebut dapat dipakai? Tentu tidak mungkin di jalan umum yang macet dan banyak renjulnya. Maka pemilik kendaraan ini hanya dapat menjalankan mobilnya pelan-pelan, untuk ditonton oleh para pengagum yang berdecak-decak. Orang itu merasa puas mendengar orang-orang berkata seperti pada masa Qarun: "Aduhai, alangkah senangnya bila kita memiliki apa yang dipunyai Qarun. Sesungguhnya dia memperoleh keberuntungan yang besar!". (QS 28 Al-Qashash: 79). Kita juga dapat menyaksikan keganjilan beberapa orang Indonesia yang membeli mobil mewah Rolls Royce Phantom II yang harganya lebih dari 13 milyar rupiah. Padahal beberapa waktu yang lalu masyarakat Jakarta menyaksikan mobil dengan merk sama tenggelam di tengah banjir Jakarta. Untung, mobil mewah yang terbenam di air itu "cuma" keluaran generasi pertama.

Surah 102 ini jelas dan tegas memerintahkan orang-orang beriman menjauhi perilaku bermegah-megahan. Perbuatan demikian menyebabkan atau menguatkan sifat 'ujub, kagum kepada diri sendiri. Seorang mukmin seharusnya tawaddhu' – merendah diri kepada Allah dan merendah hati kepada sesama manusia. Seorang mukmin tahu dan yakin benar bahwa yang Mahasempurna hanya Allah Swt. Yang berhak dan pantas menerima pujian hanya Allah Swt. Setiap orang punya kekurangan dan kelemahan, karena itu tidak patut dan tidak boleh sombong. Allah menyatakan: "Janganlah kamu terlalu membanggakan diri. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang terlalu membanggakan diri". (QS 28 Al-Qashash: 76). Rasulullah Saw menerangkan: "Tidak akan masuk surga orang yang ketika mati di dalam hatinya masih ada kesombongan walaupun hanya sebesar bijih sawi". (HR Muslim). Mengenai pengertian sombong, Rasulullah menerangkan bahwa sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia. (HR Muslim).

Bermegah-megahan juga menyebabkan kedengkian dan permusuhan. Telah kita bicarakan bahwa orang yang bermegahan ingin agar dia dihormati dan dipandang oleh orang-orang lain sebagai yang terbaik. Dengan sikap itu dia, sadar atau tidak sadar, menempatkan orang lain sebagai saingannya. Maka ketika menyaksikan seorang lain berprestasi, atau mendapat pujian dari masyarakat, dia tidak senang, kemudian dengki kepadanya, lalu memusuhinya. Orang yang dibenci dan dimusuhi juga mempunyai sifat yang sama; maka keduanya saling bermusuhan. Orang yang beriman tidak boleh mengidap penyakit seperti itu. Mukmin menyadari bahwa setiap orang dilahirkan di dunia ini sebagai keturunan Adam a.s. karena itu mereka bersaudara. Apa lagi orang-orang beriman, yang telah sama-sama berikrar untuk ber-Tuhankan Allah, beragama Islam dan meneladani Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul Allah. Tentang hal ini Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat". (QS 49 Al-Hujurat:10). Rasulullah Saw bersabda: "Perumpamaan orang Islam yang saling mengasihi dan mencintai satu sama lain adalah ibarat satu tubuh,
Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit dan tidak bisa tidur" (HR Bukhari).

Inti persaudaraan adalah saling mengasihi, saling menolong dan saling melindungi. Termasuk dalam hal ini adalah menolong orang tersebut dari adzab Allah, dengan menghalanginya dari melakukan perbuatan buruk. Rasul berpesan: "Tolonglah saudaramu dalam keadaan zhalim atau dizhalimi", Abu Hurairah bertanya, "Wahai Rasulullah, aku tahu bagaimana menolong dia dalam keadaan dizhalimi, tetapi bagaimana aku menolongnya dalam keadaan zhalim?', beliau bersabda: "Kamu cegah dia dari berbuat dzalim. Itulah pertolonganmu kepadanya."(HR Bukhari)

Rangkaian ayat yang menjadi pokok bahasan kita hari ini mengingatkan semua kita agar menjauhi sikap bermegah-megahan, karena hanya akan merugikan diri sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Orang-orang yang meniru Qarun barangkali merasakan kesenangan dari pujian orang lain dan kekaguman mereka kepada dirinya. Tetapi kesenangan itu hanya sebentar sekali, dan semu. Segera setelah itu dia akan menyadari bahwa ada sejumlah orang lain yang memiliki kelebihan dibanding dirinya dalam hal-hal lain. Maka dia merasa kecil hati dan resah. Lalu dia berusaha lebih keras untuk memperoleh kemampuan lebih tinggi dari orang yang meresahkan hatinya itu, agar dapat memperlihatkannya kepada masyarakat. Demikian seterusnya sehingga hatinya tidak pernah tenteram. Allah Swt Pencipta manusia memang menerangkan bahwa manusia itu bersifat resah. Apabila menghadapi kesulitan dia mudah putus asa, tetapi tatkala memperoleh kegembiraan dia menjadi sombong dan kikir. Kecuali orang-orang yang shalat, dan menghayati shalatnya itu dengan sepenuh hati. Silakan membaca keterangan ini dalam surah 70 Al-Ma'arij ayat 19 sampai dengan 23. Semoga masing-masing kita memperoleh hikmah dari telaah ini.    
Sakib Mchmud
No. 219