Kita sering mendengar terjadinya kecurangan dan gugatan atas hasil pemilihan umum (Pemilu) di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Tidak demikian halnya dengan di negara maju seperti misalnya di Jepang. Pemilu di Jepang meskipun hanya diikuti oleh warga Jepang yang tinggal di Jepang, sedangkan mereka yang sedang berada di luar negeri, tidak dapat mengikuti. Terhadap tidak adanya layanan untuk menggunakan hak pilih itu, mereka tidak protes apapun, karena undan-undangnya mengatur bergitu. Demikian yang saya alami selama saya tinggal di sana lebih dari 17 tahun (1967-1985) selama itu pula saya tidak pernah mendengar adanya keccurangan dan gugatan dalam Pemilu.
Mengapa bisa begitu? Faktor utama yang menentukan 'sedikitnya kecurangan' adalah rasa malu dan pengendaian nafsu untuk menda-patkan sesuatu dengan cara tidak jujur. Dalam SPMMI, kejujuran men-duduki urutan ketiga sesudah (i) Iman dan Takwa dan (2) Moral dan Etika. Bagi orang Jepang kecurangan hanya ada pada anak-anak kecil yang belum bisa menerapkan apa yang diajarkan di sekolah mengenai budi pekerti yang biasanya diajarkan di sekolah-sekolah Jepang kelas bawah (Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar).
Jadi SPMMI itu sebenarnya adalah pelajaran moral
yang paling mendasar dan universal - kecuali Iman dan Takwa yang menjadi urusan
pribadi. Maka kecurangan dalam Pemilu bukanlah masalah yang harus dihadapi oleh
orang dewasa, apalagi masalah bagi elite politik. Mereka sudah tidak mengenal
hal itu. Sedangkan di Indonesia Mahkamah Kons-titusi (MK) mulai bosan menangani
sengketa Pemilukada dan segala sengketa Pemilu. Penulis juga bosan, maka
sebaiknya kita bicara tentang kebaikan saja.
Berikut itu adalah sekedar informasi tentang Pemilu
di Jepang. Semua proses pemilu dapat dilakukan dengan baik karena kecu-rangan
sudah dianggap tidak ada. TPS tidak perlu diawasi petugas dari Parpol. Petugas
Pemilu hanyalah pegawai Kementerian Dalam Negeri Prasarana Permilu sudah
dipersiapkan, tinggal dibuka dengan mudah. Barang yang rusak sedini mungkin
diperbaiki.
TPS dibuka 10 jam (08.00:-18.00), sesudah itu
langsung dilaku-kan penghitungan, suara resmi, dan hasilnya sudah bisa diketahui
ku-rang dari 24 jam. melalui quick count yang dijamin sesuai hasilnya
dengan real count Begitulah kalau semua orang memiliki amanah dan
tanggungjawab yang besar terhadap kepentingan bersama.
Bagaimana kita? Masih saja bicara tentang amanah dan tanggungjawab.
Padahal seharusnya apa yang JSM kemukakan di dalam SPMMI itu adalah kajian untuk
diterapkan, bukan sekedar dijadikan ilmu, Berselisih tenang kecurangan dalam
dan gugat menggugat itu hanya terjadi di kalangan
anak-anak yang belum bisa menerapkan budi perkerti dengan benar. Orang dewasa tidak
melakukan kecurangan yang men-yangkut
kepentingan umum seperti Pemilu.
TPS dibuka 10 jam (08.00:-18.00),
sesudah itu langsung dilakukan penghitungan, suara resmi, dan halsilnya sudah
bisa diketahui kurang dari 24 jam. melalaui quick count yang dijamin sesuai hasilnya dengan real count Begitulah kalau semua orang
memiliki amanah dan tanggungjawab yang besar terhadap kepentingan bersama.
Bagaimana kita? Masih
saja bicara tentang fikih amanah dan tanggungjawab. Padahal seharusnya apa yang JSM kemukakan
tentang SPMMI itu adalah kajian untuk diterapkan, bukan sekedar dijadikan ilmu., melainkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berselisih tenang kecurangan dalam dan gugat menggugat itu hanya terjadi di kalangan anak-anak yang belum menerapkan budi perketi dengen benar. Orang dewasa tidak melakukan kecurangan Pemilu, kalau ada kecurangan itu biasanya bukan tentang hal-hal yang menyangkut kepentingan umum.
Harus kita akui bahwa, manusia mempunyai naluri tidak jujur atau berbohong, dan egois. Kebohongan adalah segala pernyataan mengecoh dan menyesatkan orang lain. Bagi seorang pembohong atau pendusta, kebenaran adalah kebohongan yang terus menerus diulang dan diceritakan ribuan kali. Pembohong senantiasa berupaya menciptakan ribuan skenario. Bila satu skenario gagal, maka diciptakanlah skenario baru dan seterusnya. Kebohongan hanya dapat dipertahankan dengan kebohongan lagi.
Orang berbohong biasanya disebabkan karena tiga hal yaitu; 1) Kebiasaan berbohong, akan menjadikan seseorang mengingkari janji, sehingga orang mengemukakan alasan untuk tidak memenuhi janjinya dengan kebohongan lagi. 2) Keserakahan yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya termasuk dengan berbohong. 3) Kedengkian bersamaan dengan permusuhan dengan orang lain, akan mendorongnya menjatuhkan orang lain dengan kebohongan atau fitnah. Satu saja sebab ini ada pada diri seseorang, maka dia pasti gemar berbohong. Dari fakta yang ada, perlahan tapi pasti, banyak orang akan mendeteksi kebohongan seseorang, karena Allah Maha Adil. Kepada pembohong, perlu kita sampaikan peringatan bahwa lambat laun orang lain akan menyadari dan mencium aroma dusta lidahnya. Sekali lagi, perlahan tapi pasti, suatu ketika orang akan mendeteksi kebohongan itu.
Jika demikian, yang bisa ia lakukan hanyalah: 1) berhenti dan bertobat, atau 2) mencari mangsa baru yang belum tahu siapa dia. Beruntunglah dia bila memilih yang pertama, dan celakalah dia bila masih saja mencari mangsa baru. Lebih celaka lagi, mereka yang selalu menjadi korban kebohongan, tidak sadar dan terus memilih teman atau pemimpin siapa saja yang suka berbohong, dan selalu menyediakan ruang untuk terus berbohong. Hanya dengan jujurnya para pemimpin, ulama, birokrat, pengusaha, penegak hukum dan setiap Mukmin, maka masyarakat akan berkembang maju. Islam mengajarkan agar ummatnya berlaku jujur dalam kehidupan bermasyarakat. Allah Swt memperingatkan: ▪ "Sesungguhnya Allah tak akan memberikan petunjuk kepada orang yang keterlaluan dan suka berbohong. (QS Ghaafir 40: 28). ▪ “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS An-Nahl 16: 105). Rasulullah Saw bersab-da; “Pengkhianatan yang paling besar ialah engkau memberi informasi kepada saudaramu, yang informasi itu mereka percayai, padahal engkau sendiri berdusta.” (HR Al-Bukhari dan Abu Dawud).
Demikianlah bahwa pembohong itu sesungguhnya adalah juga pengkhianat besar. Mereka adalah orang-orang yang curang dalam berdagang, membocorkan dana pembangunan, koruptor, penyuap dan penerima suap, dan sebagainya. Dalam perdagangan, Islam mengajar-kan tentang kejujuran: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan qisth (tepat) janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka.” (QS Huud 11: 85). Di samping itu terminologi qisth dalam ukuran, mengingatkan kita pada presisi dengan ketepatan yang tinggi, yang merupakan faktor penting di bidang teknologi yang menerapkan profesionalisme tinggi.
Kejujuran biasanya dikaitkan dengan keadilan bahkan dalam kasus tertentu identik dengan keadilan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan: “Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca (keadilan) itu.” (QS Ar-Rahmaan 55: 9). Pengawasan Allah terhadap kejujuran sangatlah ketat. Selain kejujuran merupakan faktor penting dalam kehidupan bermasyarakat, orang-orang yang jujur juga dijanjikan akan mendapatkan surga. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya jujur itu membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan pada surga. Dan seseorang berperilaku jujur, hingga ia dikatakan sebagai seorang yang jujur. Sementara kedustaan akan membawa pada keburukan, dan keburukan akan mengantarkan pada api neraka. Dan seseorang berperilaku dusta, hingga ia dikatakan sebagai pendusta.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Hadits dengan kalimat sederhana ini menggambarkan dua pe-bedaan hakikat yang begitu jauh, sejauh perbedaan antara surga dan neraka. Hakikat pertama adalah ash-shiddiq (kejujuran & kebenaran iman), yang digambarkan sebagai pintu gerbang kebaikan yang akan mengantarkan seseorang ke surga. Sedangkan hakikat yang kedua adalah al-kadzdzib (kedustaan), yang merupakan pintu gerbang keburukan yang akan mengantarkan pelakunya ke dalam neraka. Ketika menggambarkan kedua hal di atas, Rasulullah Saw sekaligus mengaitkan juga dengan mashirah (kesudahan) dua sifat yang berbeda tadi, yaitu surga bagi orang yang jujur dan neraka bagi pendusta. Manfaatnya adalah untuk memberikan makna yang mendalam dan tidak menjadikan kedua hal tersebut sebagai masalah yang sepele, karena secara tabi’at, manusia seringkali menganggap remeh keduanya. Sementara kesudahan dari kedua sifat itu yang sangatlah jauh berbeda, sejauh perbedaan antara surga dan neraka.
Pada kedua sifat yang digambarkan Rasulullah Saw di atas, selalu diikuti dengan perilaku manusia terhadap kedua sifat tersebut, sehingga manusia akan menjadi salah satu di antara keduanya; jujur atau pendusta. Artinya, untuk dikatakan bahwa seseorang itu adalah jujur, ia harus membuktikannya dengan perbuatannya sendiri, sehingga ia dengan sendirinya akan mendapatkan sifat jujur tersebut. Sebaliknya, seseorang yang dikatakan sebagai pendusta, adalah hasil dari perilaku dan perbuatannya, yang akhirnya menjadikannya sebagai pendusta.
Harus kita akui bahwa, manusia mempunyai naluri tidak jujur atau berbohong, dan egois. Kebohongan adalah segala pernyataan mengecoh dan menyesatkan orang lain. Bagi seorang pembohong atau pendusta, kebenaran adalah kebohongan yang terus menerus diulang dan diceritakan ribuan kali. Pembohong senantiasa berupaya menciptakan ribuan skenario. Bila satu skenario gagal, maka diciptakanlah skenario baru dan seterusnya. Kebohongan hanya dapat dipertahankan dengan kebohongan lagi.
Orang berbohong biasanya disebabkan karena tiga hal yaitu; 1) Kebiasaan berbohong, akan menjadikan seseorang mengingkari janji, sehingga orang mengemukakan alasan untuk tidak memenuhi janjinya dengan kebohongan lagi. 2) Keserakahan yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya termasuk dengan berbohong. 3) Kedengkian bersamaan dengan permusuhan dengan orang lain, akan mendorongnya menjatuhkan orang lain dengan kebohongan atau fitnah. Satu saja sebab ini ada pada diri seseorang, maka dia pasti gemar berbohong. Dari fakta yang ada, perlahan tapi pasti, banyak orang akan mendeteksi kebohongan seseorang, karena Allah Maha Adil. Kepada pembohong, perlu kita sampaikan peringatan bahwa lambat laun orang lain akan menyadari dan mencium aroma dusta lidahnya. Sekali lagi, perlahan tapi pasti, suatu ketika orang akan mendeteksi kebohongan itu.
Jika demikian, yang bisa ia lakukan hanyalah: 1) berhenti dan bertobat, atau 2) mencari mangsa baru yang belum tahu siapa dia. Beruntunglah dia bila memilih yang pertama, dan celakalah dia bila masih saja mencari mangsa baru. Lebih celaka lagi, mereka yang selalu menjadi korban kebohongan, tidak sadar dan terus memilih teman atau pemimpin siapa saja yang suka berbohong, dan selalu menyediakan ruang untuk terus berbohong. Hanya dengan jujurnya para pemimpin, ulama, birokrat, pengusaha, penegak hukum dan setiap Mukmin, maka masyarakat akan berkembang maju. Islam mengajarkan agar ummatnya berlaku jujur dalam kehidupan bermasyarakat. Allah Swt memperingatkan: ▪ "Sesungguhnya Allah tak akan memberikan petunjuk kepada orang yang keterlaluan dan suka berbohong. (QS Ghaafir 40: 28). ▪ “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS An-Nahl 16: 105). Rasulullah Saw bersab-da; “Pengkhianatan yang paling besar ialah engkau memberi informasi kepada saudaramu, yang informasi itu mereka percayai, padahal engkau sendiri berdusta.” (HR Al-Bukhari dan Abu Dawud).
Demikianlah bahwa pembohong itu sesungguhnya adalah juga pengkhianat besar. Mereka adalah orang-orang yang curang dalam berdagang, membocorkan dana pembangunan, koruptor, penyuap dan penerima suap, dan sebagainya. Dalam perdagangan, Islam mengajar-kan tentang kejujuran: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan qisth (tepat) janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka.” (QS Huud 11: 85). Di samping itu terminologi qisth dalam ukuran, mengingatkan kita pada presisi dengan ketepatan yang tinggi, yang merupakan faktor penting di bidang teknologi yang menerapkan profesionalisme tinggi.
Kejujuran biasanya dikaitkan dengan keadilan bahkan dalam kasus tertentu identik dengan keadilan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan: “Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca (keadilan) itu.” (QS Ar-Rahmaan 55: 9). Pengawasan Allah terhadap kejujuran sangatlah ketat. Selain kejujuran merupakan faktor penting dalam kehidupan bermasyarakat, orang-orang yang jujur juga dijanjikan akan mendapatkan surga. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya jujur itu membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan pada surga. Dan seseorang berperilaku jujur, hingga ia dikatakan sebagai seorang yang jujur. Sementara kedustaan akan membawa pada keburukan, dan keburukan akan mengantarkan pada api neraka. Dan seseorang berperilaku dusta, hingga ia dikatakan sebagai pendusta.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Hadits dengan kalimat sederhana ini menggambarkan dua pe-bedaan hakikat yang begitu jauh, sejauh perbedaan antara surga dan neraka. Hakikat pertama adalah ash-shiddiq (kejujuran & kebenaran iman), yang digambarkan sebagai pintu gerbang kebaikan yang akan mengantarkan seseorang ke surga. Sedangkan hakikat yang kedua adalah al-kadzdzib (kedustaan), yang merupakan pintu gerbang keburukan yang akan mengantarkan pelakunya ke dalam neraka. Ketika menggambarkan kedua hal di atas, Rasulullah Saw sekaligus mengaitkan juga dengan mashirah (kesudahan) dua sifat yang berbeda tadi, yaitu surga bagi orang yang jujur dan neraka bagi pendusta. Manfaatnya adalah untuk memberikan makna yang mendalam dan tidak menjadikan kedua hal tersebut sebagai masalah yang sepele, karena secara tabi’at, manusia seringkali menganggap remeh keduanya. Sementara kesudahan dari kedua sifat itu yang sangatlah jauh berbeda, sejauh perbedaan antara surga dan neraka.
Pada kedua sifat yang digambarkan Rasulullah Saw di atas, selalu diikuti dengan perilaku manusia terhadap kedua sifat tersebut, sehingga manusia akan menjadi salah satu di antara keduanya; jujur atau pendusta. Artinya, untuk dikatakan bahwa seseorang itu adalah jujur, ia harus membuktikannya dengan perbuatannya sendiri, sehingga ia dengan sendirinya akan mendapatkan sifat jujur tersebut. Sebaliknya, seseorang yang dikatakan sebagai pendusta, adalah hasil dari perilaku dan perbuatannya, yang akhirnya menjadikannya sebagai pendusta.
Di sisi lain, kejujuran juga merupakan salah satu tujuan sekaligus kunci keberhasilan puasa kita. Misalnya, puasa adalah ibadah yang sifatnya sangat pribadi, sehingga kita harus menjalani puasa dengan penuh kejujuran. Ketidakjujuran dalam diri seseorang, adalah; orang yang memulai harinya dengan makan sahur, kemudian di luar rumah dia secara bersembunyi makan atau minum, dan melakukan apa saja yang dilarang dilakukan selama bulan puasa. Jika kita jujur, maka hal itu tidak akan terjadi.
Jika kita bisa menjaga kejujuran dalam hal makan, minum dan apa-apa saja yang dilarang yang sifatnya pribadi, mengapa kita tidak bisa menjaga kejujuran dalam hal lain yang menyangkut kepentingan masyarakat? Pertanyaan itu wajar kalau kita melihat praktik berbangsa dan bernegara, kita tidak menunjukkan indikator kejujuran yang nyata. Dalam kasus korupsi misalnya, kendala melakukan pemberantasan korupsi adalah karena ketidakjujuran mereka yang terliba dan terkait; yaitu para koruptor dan penegak hukum yang memberantasnya.
Dalam ibadah puasa ada tiga aspek yang fundamental yang perlu kita pahami, yaitu; 1) Pendekatan diri kepada Tuhan, 2) Penyucian diri, dan 3) Membangun keshalehan sosial. Dengan beribadah puasa, seorang yang beriman berusaha mengaktifkan kekuatan ruhaninya, lalu berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin.
Dengan kedekatan dan intensitas berkomunikasi dengan Tuhan, sebuah proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai ilahi dalam diri seseorang diharapkan akan terjadi bahwa apa yang selalu dipikirkan, dibayangkan, dan dirasakan seseorang, akan mempengaruhi dan meng-gerakkan perilaku orang itu. Jika hati dan pikiran selalu terikat dan tertuju kepada Allah Yang Maha Pengasih, maka kasih Allah akan merasuk ke dalam diri kita sehingga kita menjadi instrumen Allah sebagai penyebar kasih dan kebajikan. Namun, untuk meraih prestasi ini, kita harus membuka diri, membersihkan diri, dan membuang jauh-jauh berbagai pikiran, perasaan, serta perilaku kotor karena akan menghalangi cahaya dan energi ilahi untuk turun ke dalam diri kita.
Bagi sebagian orang, bulan berpuasa merupakan bulan untuk meningkatkan dan merevitalisasi diri sehingga hidup ini senantiasa dipandu kekuatan spiritual. Melalui puasa kita kembalikan dan perkokoh nurani untuk menjadi pemimpin kehidupan. Kita mesti bersikap positif karena yakin, bulan Ramadhan pasti mendatangkan berkat dan rahmat bagi kita semua.
Namun bagaimana kenyataannya? Kita perlu bertanya apakah ada yang salah dalam cara kita berpuasa? Di mana salahnya dan bagai-mana memperbaikinya? Salah satu caranya ialah belajar bersungguh-sungguh menerapkan perilaku jujur di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kejujuran adalah dasar kehidupan di dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kejujuran adalah persyaratan utama pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang, dan tolong-menolong
Kejujuran adalah inti dari akhlak yang merupakan salah satu tujuan dari diutusnya Rasulullah Saw oleh Allah Swt. Kejujuran tidak akan datang dengan sendirinya, melainkan harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh. Demikian Islam mengajarkan tentang pentingnya kejujuran. Kalau Islam adalah yang terbaik, mengapa ummat Islam yang baik hanya sedikit? Mengapa ada korupsi di MK yang melibatkan Ketua MK dan di Kementerian Agama yang melibatkan Menteri Agama.
Marilah kita menjaga hati kita dengan menjauhi sifat munafik dan dusta yang dapat menjauhkan kita dari sifat jujur, untuk kemudian secara bertahap kita tumbuhkan sifat jujur, agar kita dapat bersama-sama dengan para nabi, syuhada dan shalihin di akhirat makna kejujuran, agar kaun Muslimin tidak mudah terjebak ke dalan kecurangan dan persaingan yang tidak diajarkan Islam.
Hermanto
Harsolumakso
No.220