Kamis, 25 Maret 2010

71. TAUBAT, TAHAPAN MENUJU TAKWA

Manusia, sebagaimana halnya dengan jin, dikaruniai Allah akal dan nafsu. Akal menjadikan manusia sadar diri dan sadar lingkungan, mengerti apa yang sedang dan akan dia lakukan, apa tujuannya dan apa untung ruginya. Nafsu menjadikan manusia mampu menikmati perbuatan dan hasil perbuatannya, karena itu nafsu menggerakkan manusia untuk mengembangkan budayanya. Orang yang nafsu dan akalnya berpadu secara harmonis, akan mantap berada dalam keadaan fitrah - suci dan cenderung kepada kesucian dan kebenaran - seperti pada saat dia dilahirkan.

Tetapi nafsu sering kali berkembang melampaui batas; dalam kondisi itu dia berbalik arah, dari memberi manfaat kepada mendatangkan mudharat, dari baik menjadi buruk. [QS Yusuf (12): 53]. Apabila nafsu bersimaharaja-lela, maka akal tidak lagi berfungsi mengarahkan perbuatan, tetapi justru menjustifikasi perilaku yang salah menjadi benar. Perbuatan zina dijustifikasi sebagai naluri dasar yang manusiawi, korupsi dibenarkan dalam kondisi struktur pendapatan masyarakat tidak adil, dan sebagainya.

Pencipta dan Pemilik alam semesta, Allah SWT, mempersilakan manusia untuk melakukan apa saja yang dia kehendaki dan memgambil apapun yang dia sukai di bumi ini, tetapi ada batas-batas tertentu yang tidak boleh dilanggar. Ketetapan demikian itu sudah digariskan Allah sejak adanya manusia pertama, Adam AS. [QS Al A’raaf (7): 19]. Supaya tidak melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, hendaknya orang mengendalikan nafsunya.

Mengenai hal ini Allah SWT berfirman dengan rumusan yang sangat umum tetapi inspiratif bagi orang yang mau mengerti: “Makanlah dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan, sesungghnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. [QS Al A’raaf (7): 31]. Fitrah manusia dan akal budi (dzamir) yang menopangnya cenderung mengikuti arahan Allah tersebut. Tetapi syeitan menyeru setiap orang agar bersikap sebaliknya yaitu menerjang segala batas yang ditetapkan Allah SWT. Syeitan menggunakan nafsu sebagai kendaraan untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya; maka ketika nafsu telah dikendalikan setan, dia membawa manusia ke jurusan yang sesat dan semakin jauh dari kebenaran.

Kekuatan yang dimiliki manusia untuk melawan syeitan adalah iman yang kukuh. Maka apabila iman seseorang melemah, setan menguasai dirinya sehingga dia melakukan kesalahan demi kesalahan dan menumpuk dosa demi dosa. Orang itu berdosa dengan matanya karena memandang sesuatu yang tidak pantas. Dia berdosa dengan telinganya karena mendengarkan gosip, gunjingan, dan kata-kata dusta. Dia menumpuk dosa dengan tangannya karena mengambil sesuatu yang bukan haknya. Orang berdosa dengan seluruh anggota tubuhnya karena mengabaikan hukum-hukum Allah. Manusia yang lemah iman, sangat rentan terhadap bujukan syeitan. Mereka melupakan Allah lalu menjadi hizbus syaithon – golongan setan. [QS Al Mujaadilah (58): 19]. Orang yang masuk kelompok ini bukan hanya berbuat buruk tetapi juga mengajak orang-orang lain untuk berbuat buruk seperti dirinya. Dalam keadaan itu mereka sama sekali meninggalkan hukum-hukum Allah. Maka Al Qur’an menyebut mereka kafir (QS Al Maaidah (5): 44], zhalim [QS Al Maaidah (5): 45], fasiq [QS Al Maaidah (5): 47].

Al Qur’an menggambarkan adanya dosa besar (kaba-ir) dan dosa kecil (sayyi-at). Mengenai hal itu Allah berfirman: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar yang kamu dilarang melakukannya, Kami hapuskan darimu dosa-dosa kecilmu [QS An Nisaa’ (4): 31]. Ulama berbeda pendapat mengenai kesalahan yang masuk dalam kedua kategori tersebut, tetapi semua sepakat bahwa dosa yang paling besar adalah syirik – menyekutukan Allah. [QS Luqman (31): 13].

Ulama terkemuka Imam Al Ghazali (1058-1111 M) dalam bukunya Ihya ‘Ulumuddin menerangkan enam penyebab dosa kecil berubah menjadi dosa besar. Pertama, karena dilakukan terus menerus, sehingga noktah kecil yang banyak menjadi noda yang besar. Kedua, orang memandang remeh dosa-dosa kecil itu, bila orang memandang kecil suatu dosa, Allah memandangnya besar, sebaliknya bila orang memandang besar dosa yang dilakukannya, dosa itu menjadi kecil di hadapan Allah. Ketiga adalah: pelakunya merasa senang dan bangga telah melakukan perbuatan yang buruk. Keempat: pelaku perbuatan buruk itu merasa tenang karena setelah beberapa waktu Allah tidak menjatuhkan hukuman apapun kepadanya. Kelima, sengaja melakukan perbuatan dosa itu di depan orang lain atau menceriterakan perbuatan buruknya kepada orang-orang lain. Keenam, pelakunya adalah orang berilmu yang menjadi panutan masyarakat.

Uraian tadi mengantar kita kepada pemahaman bahwa banyak sekali dosa yang ditimbun setiap orang di dalam dirinya. Maka seandainya tidak ada prosedur untuk menghapuskan dosa-dosa itu, hampir tidak ada kemungkinan orang dapat memasuki surga dan terhindar dari siksa nereka. Beruntunglah manusia karena Allah SWT menyatakan diri-Nya sebagai Ghafurur Rahim (Maha Pengampun lagi Maha Penyayang), dan At Tawwabur Rahim (Maha Penerima taubat Lagi Maha Penyayang). Perkataan Ghafurur Rahim saja yang terdapat dalam Al Qur’an dan dicatat di dalam Kitab Mu’jam Al Fahrasy lil fadhil Qu ‘anul Karim (Kamus Al Qur’an berdasarkan perkataannya) lebih dari enam puluh ayat. Belum lagi perkataan Ghafurun Halim, Ghafurar Rahima, At Tawwabur Rahim, dan perkataan lain yang semakna.

Allah mengampuni dosa-dosa manusia karena Dia Maha menyayangi hamba-Nya ini. Dia yang memiliki langit dan bumi, menyatakan Diri sebagai Pemberi Kasih sayang [QS Al An’aam (6): 12]. Dalam hadits qudsi dinukilkan pula firman-Nya: “Apabila seorang hamba datang kepada-Ku dengan menengadahkan tangannya untuk memohon ampunan, di atas tangan orang itu bertumpuk dosa-dosanya sehingga ujungnya menyentuh langit, asalkan dia datang dengan penuh penyesalan, niscaya Aku berikan kepadanya ampunan sebanyak yang dia perlukan”.

Allah bukan saja menerangkan ampunan-Nya yang agung, tetapi juga menyuruh manusia agar memohon ampunan itu kepada-Nya. Dia berfiman: “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung”. [QS An Nur (24): 31]. Dia menyatakan pula: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya; mudah-mudahan Tuhanmu menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya ..”. [QS At Tahrim (66):8]. Dia menggembirakan hamba-hamba-Nya yang bertaubat itu dengan pernyataan-Nya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang membersihkan dirinya”. [QS Al Baqarah (2): 222]. Rasulullah SAW menambah kegembiraan ummat beliau dengan sabdanya: “Orang yang bertaubat itu kekasih Allah, dan orang yang bertaubat itu seperti tidak pernah mempunyai dosa”.

Banyak sekali keterangan Allah mengenai hikmah bertaubat, dan banyak pula perintah Allah dan anjuran Rasul-Nya untuk bertobat. Maka terserah kepada masing-masing orang yang telah mendengar keterangan ini, apakah menyambut baik tawaran Allah, atau mengabaikannya. Kepada orang-orang Mukmin yang hatinya beresonansi dengan seruan taubat ini, para ulama menyatakan adanya beberapa persyaratan agar taubatnya diterima Allah. Pertama: hendaknya taubat itu benar-benar taubatan nasuha – taubat semurni-murniya, yang timbul karena sadar akan berbagai kesalahan yang telah dilakukannya dan dia amat menyesali perbuatannya itu. Rasulullah SAW bersabda: “Penyesalan adalah taubat (HR Ibnu Majjah). Kedua: pernyataan taubat tersebut hendaknya disampaikan kepada Allah SWT dengan cara yang sebaik-baiknya. Perkataan istighfar – permohonan ampun, yang hanya sekedar ke luar dari bibir, tidak akan berarti apa-apa. Ketiga: taubat itu harus disertai dengan ikhtiar keras untuk tidak mengulang kembali kesalahan-kesalahan yang telah disesalinya itu. Itulah taubatnya orang-orang yang takwa, sebagaimana dikemukakan di dalam Al Quran. [QS Ali ‘Imran (3): 135].

Ada seorang penyair Arab termasyhur bernama Abu Nuwas al Hasan bin Hani al Hakami (762-816 M). Pada nasa mudanya dia amat menyenangi perbuatan-perbuatan buruk seperti minum khamr dan zina. Pada masa itu dia bahkan menggubah syair-syair yang berisi ejekan terhadap hadits-hadits yang melarang khamr. Dia menuliskan kata-kata pemujaan terhadap anggur, baik mengenai rasanya, kenikmatan ketika mabuk, dan sebagainya. Tetapi kemudian pada masa tuanya Abu Nuwas menyadari kesalahannya, dan menyesali semua perbuatan buruk itu dengan penyesalan yang sedalam-dalamnya.

Dia bertaubat kepada Allah SWT dengan taubat yang sangat bersungguh-sungguh. Salah satu syair yang dia susun sebagai ekspresi taubatnya itu menyatakan sebagai berikut: “Wahai Tuhanku, aku sungguh sadar, bahwa dengan dosa-dosa yang memenuhi jiwaku ini tidak pantas aku memasuki surgamu. Tetapi aku juga tidak akan tahan bila harus memasuki neraka-Mu. Karena itu aku mohon kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku, karena hanya Engkau yang dapat mengampuni dosa-dosa yang sedemikian besar. Aku tahu ya Allah, bahwa dosa-dosaku begitu banyak, bagaikan butir-butir pasir di tepi pantai. Maka ampunilah dosa-dosaku itu, wahai Tuhanku yang Maha Tinggi. Aku mengerti bahwa dengan bertambahnya hari jatah umurku menjadi semakin pendek, sedangkan dosa-dosaku justru semakin bertambah. Bagaimana aku akan menanggungnya kelak di hadapan-Mu pada hari Kiamat apabila Engkau tidak berkenan mengampuninya?”

Ada dua pelajaran penting yang dikemukakan Abu Niuwas dalam syairnya di atas. Pertama: kesadaran akan dosa-dosa yang sudah dilakukan selama hidup di dunia. Kesadaran ini menghalangi orang melakukan perbuatan buruk yang menimbun dosa-dosa baru. Kedua: kesadaran akan ampunan Allah SWT yang sangat besar. Kesadaran akan dosa-dosa saja dapat membuat orang putus asa dan pepat hati. Kesadaran mengenai ampunan Allah saja menjadikan orang mudah menumpuk dosa-dosa baru. Tetapi bila kedua kesadaran tersebut menyatu, menjadikan orang menjadi insan kamil – manusia yang seimbang dalam ketenteraman dan kehati-hatian hidup.

Selanjutnya ada dua hal lagi yang perlu diperhatikan dalam masalah taubat ini. Pertama: hendaklah orang bertaubat dengan segera, karena tidak ada seorangpun yang mengetahui batas umurnya. Taubat seseorang hanya akan diterima Allah ketika orang yang bertaubat itu masih dapat berproses untuk membuktikan i’tikad taubatnya itu. Al Qur’an menerangkan dengan jelas: “Dan tidaklah diterima Allah, taubat orang-orang yang terus menerus mengerjakan kejahatan, sampai ketika datang ajal kepada salah seorang di antara mereka, dia berkata: “Saya bertobat sekarang”. [QS An Nisaa’ (4): 18]. Kedua: hendaknya taubat itu diulang-ulang, karena seseorang yang sudah bertaubat, pasti melakukan kesalahan-kesalahan lagi, baik kesalahan yang sama dengan yang sudah disesalinya, maupun kesalahan yang baru. Telah dikemukakan bahwa manusia rentan terhadap bujukan syeitan, karena itu mudah berbuat dosa. Tetapi dengan sikap hati-hati dan dengan bertaubat yang segera dan berulang-ulang, dia dapat mengharapkan ampunan Allah dan ridha-Nya yang agung. Rasulullah SAW menyatakan, beliau bertaubat tidak kurang dari tujuhpuluh kali sehari. Bagaimana kita? [Sakib Machmud].

Senin, 15 Maret 2010

70. ULUL ALBAB, SOSOK MANUSIA UNGGULAN

Kita telah membicarakan golongan orang yang disebut Muttaqin - orang-orang yang takwa, sebagai manusia yang menyadari eksistensi Allah SWT selaku Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta beserta segala isinya termasuk manusia. Karena kesadarannya itu mereka tunduk dan patuh kepada Allah dengan suka rela dan gembira. Maka Allah memberikan balasan terbaik kepada orang-orang tersebut, dalam kehidupannya di dunia maupun di akhirat.

Sebutan bagi orang-orang bermartabat tinggi itu ternyata bukan hanya Muttaqin. Di dalam Al Qur’an kita jumpai beberapa penamaan bagi orang-orang yang berhormat di hadapan Allah SWT. Salu satu di antaranya adalah Al Abrar – orang yang selalu berbakti kepada Allah. Mereka ditempatkan dalam derajat yang sama dengan Muttaqin. [QS Ali Imran (3): 198]. Catatan mengenai kebaktian Al Abrar itu disimpan rapih dalam Kitab yang dijaga oleh para malaikat [QS Al Muthaffifin (83): 18-21]. Karena kebaktian itu, kelak di alam akhirat mereka ditempatkan di surga yang sangat nyaman dan memenuhi segala keinginan yang pernah diangan-angankan manusia [QS Al Muthaffifin (83): 22-28]. Al Qur’an mendorong manusia untuk memohon hidayah kepada Allah, sehingga wafat dalam kondisi yang sama dengan Al Abrar. [QS Ali ‘Imran (3): 193].

Sebutan lain bagi orang yang sangat baik adalah Al Muqarrabun – orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Mereka didekatkan karena mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan berbagai amal kebaikan. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi: “Apabila seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Apabila dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepada-Nya sedepa. Apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari [HR Bukhari dan At Thabrani].

Gelaran lain untuk orang-orang yang dimuliakan Allah adalah Ulul Albab; istilah ini diterjemahkan oleh Tim Tafsir Departemen Agama sebagai ‘orang-orang yang berakal’. Terjemahan yang sama dinyatakan dalam Tafsir Al Azhar karangan HAMKA, Tafsir Al Misbah tulisan M. Quraish Shibab, dan Terrjemah Al Qur’an secara Lafdhiyah terbitan YPMI Al Hikmah. A. Hassan dalam tafsirnya Al Furqon mengartikannya: ‘orang yang mempunyai fikiran’. The Meaning of The Holy Qur’an karangan Abdullah Yusuf Ali dan Interpretation of The Meaning of The Noble Qur’an terbitan Maktaba Dar us Salam, Riyadh, sama-sama memberi makna: men of understanding.

Perlu kita pahami bahwa istilah bahasa Arab ‘Aql yang diambil oleh para penerjemah Al Qur’an ke dalam bahasa Indonesia, tidak hanya berkenaan dengan pikiran atau rasio, tetapi juga rasa atau hati. Keduanya secara bersama-sama membentuk pengertian yang mendalam. karena itu kita dapat memahami mengapa buku-buku terjemah bahasa Inggris yang sebut tadi memaknai Ulul Albab sebagai men of understanding. Sebenarnya ada istilah dalam bahasa Indonesia yang lebih tepat untuk menunjuk orang yang memiliki kemampuan demikian yakni cendekiawan. Maka rasanya kita akan lebih nyaman bila mengartikan Ulul Albab sebagai cendekiawan.

Ulul Albab atau cendekiawan itu tidak usah seorang profesor, bahkan tidak harus mengenyam pendidikan formal yang tinggi. Al Qur’an menggambarkan golongan ini sebagai berikut: “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: “Ya Allah, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [QS Ali ‘Imran (3): 191]. Ayat ini menerangkan bahwa seseorang disebut Ulul Albab bila memenuhi dua syarat. Pertama: senantiasa dzikrullah, dan yang kedua: tafakkur terhadap ciptaan-ciptaan Allah.

Dzikrullah artinya mengingat Allah. Perkataan “sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring” dalam QS Ali ‘Imraan (3): 191 menunjukkan bahwa cendekiawan itu mengingat-ingat Allah dalam setiap waktu dan segala keadaan. Ketika mengamati matahari terbit, menyembul di arah Timur, memancarkan cahaya kuning kemerahan yang luar biasa indah, dia menyadari bahwa benda langit adalah ciptaan Allah. Tatkala sedang berbaring sakit, dia ingat bahwa Allah yang menetapkannya sakit; maka dia bersikap sabar, sikap yang mengangkat derajajatnya ke tingkat tinggi. Ketika tengah bekerja keras dia sadar bahwa hasil kerjanya tidak bergantung kepada dirinya tetapi Allah yang menentukan. Karena itu dalam ikhtiarnya yang keras dia berserah diri (tawakkal) sepenuhnya kepada Allah SWT. Ingatan yang terus menerus kepada Allah menjadikan Ulul Albab tenang hatinya. Jiwa yang tenteram mengendurkan gejolak keresahan, maka dia mampu berpikir jernih sehingga mencapai sukses dalam banyak usahanya.

Tafakkur bermakna mengamati dengan saksama, menganalisis dengan cermat, dan menyimpulkan analisisnya itu secara matang. Yang diamati, dianalisis dan disimpulkan, sebagaimana dikemukakan dalam QS Ali ‘Imraan (3): 191, adalah proses penciptaan langit dan bumi beserta segala isinya. Tafakkur yang berjalin erat dengan dzikrullah tidak akan menimbulkan stres di dalam jiwa. Tafakkur yang demikian itu akan menghasilkan dua hal penting. Pertama, pengertian baru mengenai berbagai proses dan kejadian yang berlangsung di alam; pemahaman itu bermanfaat bagi orang itu dan bagi masyarakatnya. Kedua, kesadaran yang mendalam mengenai “Tangan-tangan Allah” yang mengatur dengan sempurna segala sesuatu di alam raya ini sehingga setiap unsur alam beriteraksi dengan unsur-unsur lain, membentuk harmoni yang bermanfaat bagi sistem alam.

Ulul Albab mengamati seekor cicak menangkap nyamuk. Dia heran, betapa cicak yang hanya dapat melata di dinding mampu menangkap nyamuk yang dapat terbang. Dia berpikir dan berpikir, sehingga sampai kepada kesimpulan bahwa Allah SWT menjadikan nyamuk yang memang ditakdirkan sebagai makanan cicak, pada saat tertentu dan karena keadaan tertentu mendekat ke dinding. Ulul Albab menyaksikan buah-buahan yang beraneka rupa. Dia berpikir dan meneliti asal muasal buah-buahan itu, ternyata terbentuk setelah terjadi perkawinan di dalam bunga, antara serbuk sari dengan putik. Keduanya tidak dapat beranjak dari tempat bertenggernya. Maka Allah menugasi lebah dan kupu-kupu selaku perantaranya. Dengan Kuasa Allah bunga memeiliki kelopak yang indah, dan memancarkan bau harum, dan menyimpan madu di dalamnya. Kumbang atau kupu-kupu tertarik, hinggap di kelopak bunga, menghirup madu; maka kakinya menyentuh serbuk sari yang berada di benang sari, menggugurkan serbuk halus itu dari tangkainya, jatuh ke bawah untuk bertemu dengan putik.

Ulul Albab mengetahui bahwa dirinya bernafas karena harus bernafas, harus memasukkan oksigen ke dalam tubuh untuk melakukan pembakaran dan menghasilkan energi. Hidup manusia dan hewan bergantung kepada oksigen, sehingga udara bersih itu harus selalu ada. Maka Allah memerintahkan chlorophyl dalam bagian-bagian pohon yang berwarna hijau, untuk menjadi ‘pabrik’ oksigen; dia bekerja sama dengan matahari mengubah carbon dioksida menjadi zat yang sangat vital bagi makhluk-makhluk hidup itu. Ulul Albab menyaksikan jari-jari tangannya sendiri memegang sesuatu, jantungnya selalu berdetak, darahnya mengalir, dan rambutnya memanjang. Dia bertanya karena keinginan tahunya: mengapa, bagaimana, untuk apa? Jawaban atas setiap pertanyaannya itu menambah kekaguman kepada yang Maha Pengatur segala sesuatu, Allah SWT.

Ulul Albab menyadari, menghayati, dan mengagumi kekuasaan Allah yang tidak berbatas, kemampuan Allah yang tidak terhalang, dan kebaikan Allah yang tanpa pamrih sedikitpun. Dia menyaksikan karya-karya agung Allah SWT yang luar biasa. Maka diapun mengartikulasikan suara hatinya: “Wahai Tuhan kami, (benar-benar) tidak Engkau jadikan (segala kejadian dan proses di alam raya) ini dengan sia-sia. (Semua serba harmonis, serba indah dan serba berguna); maka pelihara kami dari (pikiran-pikiran sesat yang menjauhkan kami dari-Mu dan yang menjadikan kami merasakan) siksa neraka”. Dua pengakuan dikemukakan dalam kalimat ini. Pertama, bahwa Allah SWT telah mencipta dan mengatur segala sesuatu dengan sempurna. Kedua, bahwa manusia rentan terhadap bujukan syeitan, yang membujuknya agar tidak mengakui Karya Agung Allah. Penolakan demikian akan membawa orang kepada siksa neraka.

Dari uraian di atas kita patut memperkirakan, sebutan-sebutan yang terdapat di dalam Al Qur’an mengenai orang yang sangat baik akhlaknya, seperti Muttaqin, Al Abrar, Muqarrabun, berkenaan dengan golongan manusia yang sama. Masing-masing sebutan menekankan sifat tertentu yang ditandai oleh sebutan tersebut. Pada dasarnya Allah SWT menghendaki setiap hamba-Nya untuk mengusahakan tingkatan tertinggi yang dapat dicapainya. Ikhtiar tersebut dilakukan dengan membina sikap yang benar dan perbuatan baik yang optimal. Keduanya didasarkan kepada kesadaran yang mendalam yang membentuk kecintaan penuh kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam.

Untuk mengantar manusia kepada kesadaran ke-Tuhanan yang sangat tinggi, Al Qur’an berulang kali mengemukakan berbagai kenyataan yang menjadi bukti keagungan Allah. QS Al Baqarah (2): 164, memaparkan terjadinya langit dan bumi, pergantian yang tetap antara siang dan malam, bahtera yang dapat mengapung di laut walaupun membawa beban yang berat, air yang turun dari langit dan air itu menyuburkan tanah, penyebaran aneka ragam satwa di muka bumi, dan pergerakan angin yang membawa awan ke berbagai tempat. QS Ar Rahmaan (55) mengemukakan banyak sekali realitas, antara lain bahwa manusia dapat berkomunikasi satu sama lain dengan menggunakan bahasa, bahwa tempat tinggal manusia adalah bumi yang padanya tumbuh aneka tanaman, yang di dahan-dahannya menggelantung buah-buahan yang lezat, di bumi mengalir sungai-sungai yang berkelok liku, kemudian bertemu laut yang sangat luas, dan di antara keduanya ada hidrodinamika yang membatasi kedua jenis air tersebut sehingga tidak segera menyatu. Tiga puluh satu (31) dari delapan puluh tujuh (87) ayat dalam QS Ar Rahmaan menyatakan: “Maka keterangan mengenai nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu anggap sebagai keterangan dusta?”.

QS Al Waaqi’ah (56) dengan pertanyaan-pertanyaan retorika mengajak manusia untuk berpikir, mereka sendirikah yang menumbuhkan pepohonan – salah satu sumber makanannya? Ataukah Allah? Mereka sendirikah yang menurunkan air hujan? Ataukah Allah? Mereka sendirikah yang mengadakan api? Ataukah Allah? Keterangan, pengingatan, dan penegasan tentang eksistensi Allah SWT tersebut membekas di hati sebagian orang, tetapi berlalu tanpa meninggalkan kesan apapun bagi sebagian yang lain. Maka dalam QS At Takwir (81): 26 Allah bertanya kepada manusia seluruhnya: “Kamu hendak ke mana?”. [Sakib Machmud].

Jumat, 05 Maret 2010

69. TANGGUNGJAWAB ULAMA

Sungguh ironis di negeri yang ummat Islamnya terbesar di dunia ini sering terjadi kejahatan seperti mutilasi dan perbuatan keji lainnya, di samping berbagai kejahatan akibat kesenjangan sosial, serta konflik dan bentrok antar ummat, bahkan konflik antar elite bangsa, sebagaimana telah dibahas dalam tulisan 60 berjudul ’Bangsa Konflik’ (12-12-09). Terhadap tulisan itu, seorang pembaca Al Mustaqiim memberikan komentar antara lain sbb: ”Maafkan kami, jika kami berpendapat bahwa rasanya kok amat sedikit norma-norma agama yang disampaikan para ulama yang membekas di kepala / otak / jiwa anak bangsa ini. Siraman rohani yang disampaikan dari waktu ke waktu seakan siraman air ke lautan pasir.”

Sebelum kita menanggapi komentar pembaca tersebut, ada baiknya kita bertanya dalam hati, mengapa bangsa / ummat lain yang berbudaya / beragama lain bisa membangun kehidupan bermasyarakat dengan baik? Ternyata bangsa itu memiliki pedoman budi pekerti yang diajarkan oleh para guru / ulama mereka yang benar-benar piawai dalam mengajarkannya. Dan para guru / ulama itu menerapkan dengan konsekwen apa yang telah diajarkannya, sehingga menjadi teladan bagi bangsa / ummatnya.

Dalam tulisan 62 tentang ’Ilmu dan Teknologi’ (26-12-09), ada dua hal yang perlu kita perhatikan. Kedua hal ini akan merupakan bahan pertimbangan tentang apa dan siapa yang salah dalam keberagamaan kita.

Pertama, setiap orang mempunyai karakteristik yang berbeda dalam ras, warna kulit, bentuk tubuh, kepribadian, bangsa, kultur dan sebagainya. Perbedaan tersebut disengaja Allah Yang Maha Pencipta, agar orang saling kenal mengenal. Namun tidak ada karakteristik yang menyebabkan seseorang dengan sendirinya lebih baik atau lebih mulia daripada yang lain.

Jadi perbedaan karakteristik tersebut, bukanlah merupakan faktor penting yang membedakan baik-buruknya kualitas manusia. Sebagai contoh, imigran yang dikatakan malas di negeri asalnya, ternyata bisa menjadi kekuatan yang produktif di negara-negara maju. Hal ini disebabkan karena negara-negara maju memiliki SDM yang mampu melakukan manajemen perusahaan dan penerapan etika kerja yang baik. SDM ini bukan datang dengan sendirinya, sehingga suatu bangsa lebih baik daripada bangsa lainnya, tetapi dapat dikembangkan oleh siapa saja yang mengusahakannya.

Demikian pula untuk menjadikan bangsa Indonesia / ummat Islam berakhlak mulia, yang perlu diperbaiki adalah kemampuan para ulama (SDM ulama) Muslim untuk menyampaikan dakwah Islam secara tepat, dan memberikan teladan yang benar sesuai apa yang diajarkannya. Para ulama harus bisa menjawab tantangan bahwa tugas mereka bukan hanya menyampaikan dakwah, melainkan juga memberikan keteladanan. Hal ini selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam dakwahnya, baik dengan ucapan maupun contoh perbuatan, agar melakukan dan membiasakan diri kepada akhlak yang baik.

Para ulama serta para da'inya atau melalui organisasinya, hendaknya senantiasa proaktif menegakkan apa yang Allah SWT telah mewajibkan atas mereka dan menerangkan secara hakiki, mengingatkan, mendo’akan kebaikan, dan mengarahkan para umara dan ummat kepada yang ma'ruf serta mencegah mereka dari yang munkar dan menjelaskan bahaya dari kemungkaran itu. Para ulama hendaknya paling dominan dibanding siapapun dalam kebijakan menyangkut akhlak bangsa / ummat.

Namun sangat disesalkan bahwa para ulama pada umumnya lebih banyak menekankan masalah akidah dan fiqih kepada para jama’ahnya. Memang akidah, fiqih dan ilmu-ilmu lainnya sangat penting, dan hal ini juga merupakan tema-tema yang ditampilkan di Al Mustaqiim, supaya kita mengetahui hakikat dan perkembangannya. Namun hidup di dunia tidak cukup dengan memiliki ilmu saja, melainkan perlu menerapkan ilmu yang kita miliki untuk mengelola kehidupan bermasyarakat agar harmonis.

Menanggapi komentar pembaca tersebut di atas, maka penulis berpendapat, bahwa para ulama telah gagal menyampaikan dakwahnya secara tepat, sehingga ajaran agama yang disampaikannya tidak membekas di hati ummat. Di sinilah peran para ulama yang seharusnya berada di garis depan untuk mengajarkan ilmu yang mereka miliki, dan memberi teladan dalam mengamalkan apa yang mereka ajarkan. Seharusnya kita malu sebagai ummat Islam yang memiliki agama yang sempurna, tetapi martabat bangsanya terpuruk.

Kedua, dalam kaitan ilmu dan teknologi, cara memanfaatkan ilmu untuk kepentingan praktis disebut teknologi. Jika materi dakwah diibaratkan ilmu, maka ijtihad adalah teknologinya. Ijtihad itu perlu untuk menangani masalah manusia yang berubah dan berkembang dari waktu ke waktu secara dinamik. Di sinilah tantangan bagi ummat Islam terutama para ulama, yakni harus berdiri paling depan bagaimana berijtihad merumuskan metoda (sistem penerapan dakwah) yang praktis dan tepat, sehingga ummat dapat dengan mudah melakukan muhasabah untuk meningkatkan kualitas iman dan takwanya.

Apakah manfaat ajaran Islam jika tidak bisa diterapkan secara hakiki di kalangan ummat Islam sendiri, sementara ini para umara dan ummat Islam menerapkan sistem di bidang sosial, politik, ekonomi, hukum, dan lainnya, yang bukan dari ajaran Islam? Ummat Islam masih membutuhkan nasihat dari orang-orang yang ikhlas dan bimbingan orang-orang yang bertaqwa. Tugas yang mulia ini dipikul di atas pundak para ulama. Merekalah yang melaksanakannya. Di sinilah peran para ulama yang harus selalu mengingatkan dan menasihati para umara dan ummat apabila terdapat kekeliruan dalam beragama.

Orang-orang berilmu seperti para ulama, hendaknya menyadari bahwa mempelajari ilmu itu seharusnya dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, meraih ridha-Nya, dan mendapatkan pahala dari-Nya, bukannya untuk meraih materi keduniaan yang fana. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang semestinya diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah, namun dia tidaklah mempelajarinya, kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka dia kelak tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari kiamat.” [HR Abu Hurairah].

Rasulullah SAW juga bersabda: “Dunia ini ibarat kebun yang dihiasi dengan empat ornamen: ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kepemurahan orang-orang kaya, dan do’anya orang-orang fakir”. [HR Abu Daud.Dalam hadits di atas, ilmunya para ulama disebut paling awal – yang berarti pemeran paling utama, yaitu para ulama.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama”. [QS Faathir (35): 28]. Takut para ulama kepada Allah adalah takut dalam arti bertanggungjawab dan bisa menjadi contoh kebaikan bagi ummat atau masyarakatnya, yaitu tanggungjawab akan terwujudnya masyarakat yang benar-benar Islami. Bukan ulama yang hanya pandai memperjualbelikan ayat-ayat Allah demi kepentingan dunia yang sesaat, seperti yang sekarang banyak terjadi. Selesai berdakwah terima duit, tidak peduli masyarakat kelak akan menjadi apa dan bagaimana.

Kaum ulama tidak boleh menganggap dirinya sama seperti orang-orang pada umumnya dalam berperan di masyarakat. Semakin seseorang dekat kepada Islam, semakin besar pula tanggungjawabnya. Oleh sebab itulah para Nabi mempunyai tanggungjawab yang lebih besar dari siapa pun. Tapi mereka tidak pernah meninggalkan kewajiban mereka. Ulama pun harus demikian. Tanggungjawab mereka lebih besar dari pihak manapun, selain para Nabi. Boleh jadi banyak pihak yang mendapatkan keringanan karena ketidak-tahuan dan ketidak-mampuan mereka. Tapi tidak demikian dengan para ulama, sebab mereka mampu dan tersedia jalan untuk mengajarkan dan memberikan suri teladan.

Selain itu, para ulama secara moral mempunyai tanggungjawab bersama. Jika seorang ulama X melakukan perbuatan tercela, maka orang-orang akan menganggap semua ulama tercela. Orang tidak akan mengatakan ulama X saja yang tercela. Tapi tidak demikian jika seorang pedagang Y yang menjual barang dengan harga mahal. Orang tidak akan menganggap semua pedagang menjual mahal. Tapi hanya pedagang Y saja. Karena itu tanggungjawab ulama amat besar. Sedemikian besamya, jika seorang saja ulama berbuat salah maka semua ulama kena getahnya. Kesalahan yang dilakukan seorang ulama tidak ditimpakan kepada ulama X yang melakukannya, tapi ke seluruh ulama. Kesalahan seorang ulama dapat merusak citra semua ulama.

Selanjutnya yang perlu diwaspadai para ulama adalah egoisme. Semua malapetaka yang terjadi di dunia ini berasal dari sikap egoisme ini. Yaitu rasa cinta kedudukan, cinta kekuasaan, cinta harta, dan sebagainya. Semua itu bermuara pada rasa cinta diri. Inilah ‘berhala’ paling besar dan paling sulit dihancurkan, namun tetap harus dihancurkan. Jangan dibiarkan ‘berhala’ itu bebas bergerak. Sebab ia akan mencelakakan kita. Para ulama akan terus diburunya sampai sedikit demi sedikit agama ini lepas dari diri mereka. Ini bukan barang aneh, inilah pekerjaan syeitan.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan para ulama, hendaknya hidup sederhana. Sederhana bukan berarti miskin. Cara hidup sederhana seperti inilah yang sesungguhnya mengangkat martabat kaum ulama dan memelihara eksistensi mereka selama ini. Mereka yang hidup sederhana inilah yang selalu menjadi sumber aspirasi, dihormati, dan didengar ummat. Nilai manusia bukan dilihat dari rumah yang dihuninya. Bukan dari kebun yang dimilikinya, juga bukan dari kendaraan mewah yang ditumpanginya.

Jika ini adalah nilai manusia maka para Nabi pasti sudah mengejarnya. Tapi para Nabi tidak demikian. Sebab nilai manusia memang tidak dilihat dari sisi ini. Tidak dari berapa kendaraan yang dimilikinya. Nilai kerohanian juga demikian. Tidak dilihat dari tempat tinggal, kantor kerja, atau fasilitas yang dimilikinya. Maka dalam menuntut ilmu, para ulama tidak boleh mengejar nilai-nilai formal. Semakin mereka mengejar nilai-nilai formal, semakin wibawa mereka berkurang. Para ulama harus memberi teladan yang benar dalam hidup sederhana, bukan sebaliknya mengikuti cara hidup sekelompok orang yang hidup bermewah-mewah dan hedonistik. Dan para ulama hendaknya tidak menjadi bagian dari kaum selebriti dengan cara membuat banyak orang tersenyum dan tertawa senang mendengar ceramahnya, semata-mata untuk mencari popularitas.

Di kalangan ulama, para khotib shalat Jum’at mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Mereka lebih banyak berhubungan dengan masyarakat dibanding ulama lain. Tidak sedikit ummat Islam yang datang melakukan sholat Jum’at untuk sekedar memenuhi kewajiban ritual belaka. Setiba di masjid sebagian dari jamaah mengantuk, bahkan tertidur sambil duduk selama khotbah berlangsung, karena materi dan penyajian khotbah yang kurang bermutu. Khotib yang amanah dan piawai, harus bisa membuat para jamaah menyimak khotbahnya dengan khusyuk tanpa seorangpun mengantuk. [Hermanto]