Senin, 10 Maret 2014

INDONESIA DALAM KONDISI KRITIS

Masa bakti pemerintahanan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tinggal beberapa bulan lagi berakhir. Penulis tidak bermaksud memberikan penilaian terhadap kinerja pemerintahan SBY, melainkan melihat realitas yang ada, di mana negeri kita tercinta ini masih saja terpuruk. Membangun suatu negara memang bukan hal yang mudah dilakukan oleh suatu pemerintahan - siapapun presidennya. Keberhasilan membangun negara, selain ditentukan oleh kestabilan politik dan kemajuan ekonomi, juga tergantung dari moral bangsanya.

Kemajuan ekonomi Indonesia nampaknya baru dinikmati oleh masyarakat kelas atas dan sebagian kelas menengah, sedangkan pada sebagian kelas menengah ke bawah, belum mendapatkan perbaikan yang signifikan. Di bidang politik, sejak reformasi bergulir, demokrasi dikembangkan secara berlebihan, sehingga terjadi penyimpangan yang menimbulkan gejolak sosial.

Selama lebih dari 9 tahun terakhir pemeritahan SBY, selalu saja timbul persaingan yang melelahkan dalam Pemilukada, bukan saja antar kandidat dan partai politik berkompetisi, tetapi juga melibatkan rakyat warga yang mendukungnya. Pada umumnya para elite politik tidak mau sadar bahwa kekuasaan yang mereka perebutkan itu adalah amanat yang paling berat, di mana selain mereka harus bertanggungjawab kepada rakyat, juga kepada Tuhan.

Para peserta Pemilukada pada umumnya hanya siap untuk menang, tetapi tidak siap untuk kalah. Mental seperti ini bisa menimbulkan perasaan kecewa dan sakit hati, dan apabila tidak terkendali bisa berakibat buruk bagi bangsa dan negara yang masih terpuruk ini. Hal ini dapat kita saksikan, di mana banyak Pemilukada akhirnya harus diselesaikan di MK. Namun sangat menyedihkan pula MK sebagai benteng terakhir penegak hukum akhirnya juga telah roboh akibat badai korupsi. Begitulah manusia Indonesia sekarang, yang mempertuhankan perutnya untuk hidup bermewah-mewah tanpa kendali, tidak mensyukuri nikmat Allah Swt. Semua yang kita saksikan itu menunjukkan begitu rusaknya moral bangsa ini. Kalau kita tidak mau menyadari dan berupaya untuk memperbaikinya, maka kehancuran bangsa ini tinggal menunggu saatnya saja.

Realitas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia yang mayoritas rakyatnya beragama Islam, kini sedang mengalami kerusakan moral yang sangat dahsyat. yang sangat perlu kita waspada, jika kita tidak ingin dihancurkan Allah yang Maha Penciptanya sendiri. Kesimpulan ini bukan mengada-ada, melainkan dapat kita saksikan dari berbagai fenomena di antaranya mencakup, tetapi tidak terbatas pada hal-hal berikut ini.

Banyaknya Kejahatan

Betapa mengerikan kejahatan yang dilakukan bangsa kita yang mayoritas Muslim, kiranya sudah banyak kita ketahui, sehingga kejahatan itu sendiri sudah menunjukkan merosotnya moral bangsa dan merosotnya nilai-nilai keIslaman. Tawuran antar mahasiswa / warga, bentrok dengan aparat penegak hukum (polisi, kejaksaan, dan satpol pamong praja) terjadi di mana-mana adalah akibat dari peningkatan kuantitas dan kualitas kejahatan itu. Setiap hari kita mendengar berita kejahatan seperti korupsi, terorisme, perdagangan narkoba, pembunuhan, perampokan, penculikan, pembuangan bayi, pemerkosaan, mutilasi, dan lain sebagainya.

Sesungguhnya kejahatan yang terjadi di Indonesia ini bukanlah kejahatan biasa, tetapi sudah tergolong kekejaman keji dan sadis atau sebutan lain yang paling buruk dalam ‘peringkat’ kekejaman. Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sesungguhnya kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama sekali bukan ajaran Islam, dan bahwasanya orang yang paling baik Islamnya ialah yang paling baik akhlaknya.” (HR At-Tirmidzi).

Kita mengenal akhlak dan moral, yang kedua-duanya memiliki relevansi yang sama untuk memaknai hadits tersebut di atas. Perbedaannya hanya pada standar baik buruknya akhlak, yang ditentukan berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits, sedangkan moral, standar baik dan buruknya ditentukan oleh adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh masyarakat. Apabila masyarakat menganggap suatu perbuatan itu baik, maka baik pulalah nilai perbuatan itu. Meskipun demikian akhlak tidak mesti bertentangan dengan moral, karena ketika mencipta manusia, Allah telah melengkapinya dengan kecenderungan yang benar dan baik. (Ustadz Sakib Machmud / Akhlak, Implementasi Iman Dalam Kehidupan / AM No. 64 / 15-02-1064 / 15-02-10).

Rasa Dengki

Berbagai perselisihan, unjuk rasa, kejahatan, kekejaman dan sebagainya, yang terjadi di masyarakat, sebagian besar disebabkan karena dengki, baik karena kesenjangan dan ketidakadilan sosial, maupun karena faktor sosial-politik, lainnya. Rasulullah Saw bersabda: “Akan menjangkiti kepada kalian penyakit ummat-ummat sebelum kalian. Yaitu kebencian dan kedengkian. Kebencian itu adalah pencukur. Bukan pencukur rambut, tetapi pencukur agama. Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Dan kalian tidak beriman sehingga saling mencintai. Maukah kuberitahukan kepada kalian sesuatu yang bisa memantapkan kalian pada yang demikian itu? Yaitu tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Al-Bazzar). Demikian peringatan Rasulullah Saw tentang ‘penyakit ummat’ yang berjangkit terus hingga sekarang. Pendengki adalah penentang pembagian yang ditetapkan Allah dari karunia yang diberikan kepada makhluk-Nya.

Kebiasaan Berdebat

Kita bisa menyaksikan betapa banyak orang yang mengobral pembicaraan, baik yang dilakukan para pakar dan politisi, pejabat negara, maupun masyarakat pada umumnya. Para pakar dan politisi pandai berkomentar mengenai suatu persoalan yang dihadapi masyarakat, namun hanya sedikit yang dapat memberikan solusi atas persoalan tersebut. Mereka sering bertukar pendapat dan berdebat beradu argumentasi di televisi dan berbagai forum lainnya, namun hanya sedikit di antara mereka yang dapat membuktikan pendapatnya dengan perbuatan.

Begitu pula para pejabat negara, mereka mengemukakan berbagai macam janji kepada masyarakat, namun janji-janji itu hanya sedikit yang direalisasikan. Demikian pula masyarakat umum, banyak di antara mereka sudah pandai berdebat dengan sesama temannya. Di restoran, café, warung, pangkalan ojek, dan di mana saja tempat mereka berkumpul, sering kita jumpai mereka sedang berbincang bagaikan para pakar dan politisi tentang berbagai macam tema, mulai dari masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lainnya.

Terhadap orang-orang yang banyak berbicara Rasulullah Saw pernah bersabda: “Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang-orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu mutafaihiqun?” Rasulullah menjawab: “Orang-orang yang sombong.” (HR At-Tirmidzi). Berdebat itu erat kaitannya dengan dorongan nafsu yang menguasai diri manusia, yang bisa mengarah kepada kejahatan. Allah berfirman tentang pengakuan Nabi Yusuf As: ”Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf 12: 53). Dan Rasulullah Saw bersabda: ”Jauhilah perdebatan, sebab larangan yang pertama kali disampaikan kepadaku oleh Tuhanku setelah menyembah berhala adalah perdebatan.” (H Ath-Thabrani).

Bangsa Indonesia pada umumnya sekarang, dalam membicarakan suatu masalah, lebih suka berdebat daripada bermusyawarah untuk mencari solusi masalah yang dibicarakan. Dalam perdebatan itu, mereka cenderung menjatuhkan dan menyakiti orang lain (fusuq), dan masing-masing merasa pendapatnya paling benar (jidal). Misalnya perdebatan yang sering ditayangkan di televisi sebagian besar tidak memberikan manfaat bagi masyarakat luas, melainkan lebih memberikan keuntungan bagi para peserta dan penyelenggara acara debat itu. Justru sebaliknya perdebatan hanya menimbulkan mudharat yang mengacaukan pikiran dalam mencari kebenaran. Padahal sesungguhnya kebenaran itu hanya pada Allah dan orang-orang yang iman dan takwanya benar, bukan pada mereka yang dikuasai kekuatan untuk mengalahkan orang lain (ghadab) karena kekuatan itu mengandung kesombongan, kedengkian, kebencian, rasa iri, dendam, yang didorong oleh syeitan yang membenarkan ucapan buruk (wahmiyah). Acara debat tersebut sudah menjadi semacam ‘infotainment’ yang di dalamnya sering diselingi gosip (ghibah) dan fitnah, dapat menimbulkan dosa besar yang sulit diampuni. Nampaknya syeitan-syeitan itu suka ‘berkonggres’ di bumi Indonesia,

Di sisi lain perdebatan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), para wakil rakyat yang seharusnya bertukar pikiran untuk membahas berbagai permasalahan bangsa dan negara, mereka lebih sering mempertontonkan kebekuan nurani terhadap kepentingan rakyat. Sehingga wajarlah jika kita katakan para wakil rakyat itu bukan mengemban amanat rakyat, melainkan lebih mengutamakan mencari kekayaan pribadi melalui kekuasaan yang dimilikinya. Jalan buntupun ditembus jika menyangkut hal-hal yang menguntungkan pribadi atau partainya, sebaliknya kepatutan dilawan jika merugikannya.

Korupsi dan Peredaran Narkoba

Korupsi adalah salah satu dari tindak kejahatan yang sudah sangat berkembang luas, seakan-akan tidak bisa dihentikan. Rasulullah Saw pernah memprediksi akan datang-nya suatu zaman bahwa pada zaman itu, manusia mempertuhankan perutnya. Kalau yang disebut Tuhan adalah sesuatu yang diikuti dan ditaati tanpa memikirkan alasan-alasan apapun, maka orang akan mentaati keinginan perut mereka dengan melakukan apa saja. Perut erat kaitannya dengan nafsu, yaitu nafsu untuk melakukan keburukan (al-amaratun bissuu'), yang dalam hal ini adalah keserakahan, yang mendorong orang berlomba-lomba menumpuk kekayaan dengan menghalalkan segala cara.

Tidak sedikit politisi, birokrat, ang terlibat korupsi bersama pengusaha dan kasus suap telah dipenjarakan. Ironisnya ada tidak sedikit penegak hukum yang terlibat dalam kasus suap telah dijebloskan pula ke penjara. Bahkan ada Ketua MK yang menjadi tersangka kasus suap.

Padahal badan-badan penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan seharusnya bersinergi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memberantas korupsi. Dan ironisnya pula kemelut hukum tersebut sebagian telah merambah ke ranah sosial politik, dan menimbulkan konflik baru di kalangan elite politik dan wakil rakyat. Sehingga, kalau kita perhatikan realitas tersebut di atas, maka sangat jelas bahwa penyakit moral bangsa ini sudah rusak sangat parah.

Seperti halnya korupsi, perdagangan narkoba termasuk kejahatan yang sulit diberantas. Perdagangan narkoba ini sudah keterlaluan di mana para pelaku sudah dihinggapi syeitan yang tidak pernah takut pada aturan Allah, apalagi aturan yang dibuat manusia. Di manapun mereka berada termasuk di penjara tetap melakukan operasional perdagangan narkoba dikendalikan dari dalam penjara, yang tentunya melibatkan aparat lembaga terkait termasuk Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Terakhir diberitakan adanya keterlibatan petinggi Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam kasus korupsi. Wah rusak sekali bangsa ini.

Bencana Alam Sebagai Adzab

Kita harus menyadari betapa banyak kerusakan moral yang bertebaran di sekitar kita. Rentetan bencana yang kita alami beberapa tahun belakangan ini, bukan sekedar proses alam biasa, melainkan sangat mungkin disebabkan perilaku kita yang semakin jauh dari Allah. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa mayoritas bangsa ini, baik para pemimpin, pengusaha, cendekiawan, dan ulama sendiri, maupun rakyat pada umumnya sudah sangat materialistis. Maka wajarlah apabila kerusakan moral bangsa ini layak untuk mendapatkan adzab dari Allah Swt.

Erupsi gunung dan gempa bumi di berbagai daerah, banjir besar dan tanah longsor di berbagai tempat lain di Indonesia termasuk ibukota Jakarta yang berlangsung dua bulan terakhir ini telah  menimbulkan puluhan orang korban tewas dan puluhan ribu orang mengungsi. Bencana bisa menimpa orang-orang sesat sebagai adzab, namun bisa juga merupakan cobaan yang ditimpakan kepada kaum shaleh.

Apabila bencana adalah cobaan, maka cara tepat untuk menyikapinya adalah istirja - berserah diri kepada Allah Swt. Apabila bencana adalah adzab, kita harus mengucap istighfar dan memperbaiki perilaku. Seruan moral ini memang penting, yang mendorong kita untuk lebih taat beribadah dan menjauhi maksiat.

Mengangkangi Harta

Dalam kaitan ini, kita seyogyanya menyadari bahwa bencana juga merupakan ulah mereka yang serakah, mengutamakan nafsu untuk mengangkangi harta, dan tak peduli terhadap mereka yang miskin dan menderita. Kita harus bisa mengakui bahwa bencana apapun halnya, adalah akibat kesalahan dan keteledoran mereka yang sesat. Bangsa yang demikian adalah bangsa yang menghargai sesamanya yang telah ‘terkorbankan’ menjadi pembawa peringatan tersebut. Itulah pesan ghaib dalam kehidupan yang perlu dan harus kita renungkan. Jika tidak, bukan mustahil akan datang bencana lebih dahsyat dan besar bagi bangsa ini.

Semua orang tahu kegunaan harta, sehingga mereka berlomba mencari harta sampai lalai memperhatikan perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Bermewah-mewah itu adalah istilah lain dari nafsu mengangkangi kekayaan. Mereka yang bermewah-mewan itu termasuk penguasa korup yang serakah dan yang berkolusi dengan pengusaha penyuap, demi menuruti hawa nafsunya. Karena itulah Allah memerintahkan orang beriman agar menunaikan shadaqah, di antaranya yang bernilai hukum wajib, yaitu zakat. Al-Qur’an menyatakan dengan tegas: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka; dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka (QS At-Taubah 9: 103).

Namun Allah juga memperingatkan: ▪ “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS Al-‘Aadiyaat 100: 6-8). ▪ “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.“ (QS Al-Israa’ 17: 16).

Oleh karena itu marilah kita bangun moral bangsa ini sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya agar bangsa ini selamat dari kehancuran yang tidak kita inginkan. Semoga Allah Swt menyelamatkan bangsa ini dari persengkongkolan syeitan-syeitan itu, dengan petunjuk-Nya. Aamiin Yaa Rabbal ‘aalamiin.
Hermanto Harsolumakso
No. 215