Masa bakti pemerintahanan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tinggal beberapa bulan lagi berakhir.
Penulis tidak bermaksud memberikan penilaian terhadap kinerja pemerintahan SBY,
melainkan melihat realitas yang ada, di mana negeri kita tercinta ini masih
saja terpuruk. Membangun suatu negara memang bukan hal yang mudah dilakukan
oleh suatu pemerintahan - siapapun presidennya. Keberhasilan membangun negara,
selain ditentukan oleh kestabilan politik dan kemajuan ekonomi, juga tergantung
dari moral bangsanya.
Kemajuan ekonomi Indonesia
nampaknya baru dinikmati oleh masyarakat kelas atas dan sebagian kelas
menengah, sedangkan pada sebagian kelas menengah ke bawah, belum mendapatkan
perbaikan yang signifikan. Di bidang politik, sejak reformasi bergulir,
demokrasi dikembangkan secara berlebihan, sehingga terjadi penyimpangan yang menimbulkan
gejolak sosial.
Selama lebih dari 9 tahun
terakhir pemeritahan SBY, selalu saja timbul persaingan yang melelahkan dalam
Pemilukada, bukan saja antar kandidat dan partai politik berkompetisi, tetapi
juga melibatkan rakyat warga yang mendukungnya. Pada umumnya para elite politik
tidak mau sadar bahwa kekuasaan yang mereka perebutkan itu adalah amanat yang
paling berat, di mana selain mereka harus bertanggungjawab kepada rakyat, juga
kepada Tuhan.
Para peserta Pemilukada pada umumnya hanya siap untuk menang, tetapi tidak
siap untuk kalah. Mental seperti ini bisa menimbulkan perasaan kecewa dan sakit
hati, dan apabila tidak terkendali bisa berakibat buruk bagi bangsa
dan negara yang masih terpuruk ini. Hal ini dapat kita saksikan,
di mana banyak Pemilukada akhirnya harus diselesaikan di MK. Namun sangat
menyedihkan pula MK sebagai benteng terakhir penegak hukum akhirnya juga telah
roboh akibat badai korupsi. Begitulah manusia Indonesia sekarang, yang
mempertuhankan perutnya untuk hidup bermewah-mewah tanpa kendali, tidak
mensyukuri nikmat Allah Swt. Semua
yang kita saksikan itu menunjukkan begitu rusaknya moral bangsa ini. Kalau kita
tidak mau menyadari dan berupaya untuk memperbaikinya, maka kehancuran bangsa
ini tinggal menunggu saatnya saja.
Realitas menunjukkan bahwa
bangsa Indonesia yang mayoritas rakyatnya beragama Islam, kini sedang mengalami
kerusakan moral yang sangat dahsyat. yang sangat perlu kita waspada, jika kita
tidak ingin dihancurkan Allah yang Maha Penciptanya sendiri. Kesimpulan
ini bukan mengada-ada, melainkan dapat kita
saksikan dari berbagai fenomena di antaranya mencakup, tetapi
tidak terbatas pada hal-hal berikut ini.
Banyaknya Kejahatan
Betapa mengerikan kejahatan yang
dilakukan bangsa kita yang mayoritas Muslim, kiranya sudah banyak kita ketahui,
sehingga kejahatan itu sendiri sudah menunjukkan merosotnya moral bangsa dan
merosotnya nilai-nilai keIslaman. Tawuran antar mahasiswa / warga, bentrok
dengan aparat penegak hukum (polisi, kejaksaan, dan satpol pamong praja)
terjadi di mana-mana adalah akibat dari peningkatan kuantitas dan kualitas
kejahatan itu. Setiap hari kita mendengar
berita kejahatan seperti korupsi, terorisme, perdagangan narkoba, pembunuhan,
perampokan, penculikan, pembuangan bayi, pemerkosaan, mutilasi, dan lain
sebagainya.
Sesungguhnya kejahatan yang
terjadi di Indonesia ini bukanlah kejahatan biasa, tetapi sudah tergolong
kekejaman keji dan sadis atau sebutan lain yang paling buruk dalam ‘peringkat’
kekejaman. Rasulullah Saw pernah bersabda: “Sesungguhnya kejahatan dan perbuatan
jahat, keduanya sama sekali bukan ajaran Islam, dan bahwasanya orang yang
paling baik Islamnya ialah yang paling baik akhlaknya.” (HR
At-Tirmidzi).
Kita mengenal akhlak dan moral,
yang kedua-duanya memiliki relevansi yang sama untuk memaknai hadits tersebut
di atas. Perbedaannya hanya pada standar baik buruknya akhlak, yang ditentukan berdasarkan Al-Qur’an
dan Al-Hadits, sedangkan moral, standar baik dan buruknya ditentukan oleh adat
istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh masyarakat. Apabila masyarakat
menganggap suatu perbuatan itu baik, maka baik pulalah nilai perbuatan itu. Meskipun demikian akhlak tidak
mesti bertentangan dengan moral, karena ketika mencipta manusia, Allah telah
melengkapinya dengan kecenderungan yang benar dan baik. (Ustadz Sakib Machmud /
Akhlak, Implementasi Iman Dalam Kehidupan / AM No. 64 / 15-02-10
64 / 15-02-10).
64 / 15-02-10).
Rasa Dengki
Berbagai perselisihan, unjuk
rasa, kejahatan, kekejaman dan sebagainya, yang terjadi di masyarakat, sebagian
besar disebabkan karena dengki, baik karena kesenjangan dan ketidakadilan
sosial, maupun karena faktor sosial-politik, lainnya. Rasulullah Saw bersabda: “Akan menjangkiti kepada kalian penyakit
ummat-ummat sebelum kalian. Yaitu kebencian dan kedengkian. Kebencian itu adalah pencukur. Bukan pencukur rambut,
tetapi pencukur agama. Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, kamu sekalian
tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Dan kalian tidak beriman
sehingga saling mencintai. Maukah kuberitahukan kepada kalian sesuatu yang bisa
memantapkan kalian pada yang demikian itu? Yaitu tebarkanlah salam di antara
kalian.” (HR Al-Bazzar). Demikian peringatan Rasulullah Saw tentang ‘penyakit ummat’ yang berjangkit
terus hingga sekarang. Pendengki adalah penentang pembagian yang
ditetapkan Allah dari karunia yang diberikan kepada makhluk-Nya.
Kebiasaan Berdebat
Kita bisa menyaksikan betapa banyak orang yang
mengobral pembicaraan, baik yang dilakukan para pakar dan politisi, pejabat
negara, maupun masyarakat pada umumnya. Para pakar dan politisi pandai
berkomentar mengenai suatu persoalan yang dihadapi masyarakat, namun hanya
sedikit yang dapat memberikan
solusi atas persoalan tersebut. Mereka sering bertukar pendapat dan berdebat
beradu argumentasi di televisi dan berbagai forum lainnya, namun
hanya sedikit di antara mereka yang dapat membuktikan pendapatnya
dengan perbuatan.
Begitu pula para pejabat negara, mereka
mengemukakan berbagai macam janji kepada masyarakat, namun janji-janji itu
hanya sedikit yang direalisasikan. Demikian pula masyarakat umum, banyak di
antara mereka sudah pandai berdebat dengan sesama temannya. Di restoran, café,
warung, pangkalan ojek, dan di mana saja tempat mereka berkumpul,
sering kita jumpai mereka sedang berbincang bagaikan para pakar dan politisi tentang berbagai macam tema, mulai dari masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lainnya.
Terhadap
orang-orang yang banyak berbicara Rasulullah Saw pernah bersabda: “Dan sesungguhnya manusia yang paling aku
benci dan yang paling jauh dariku di hari kiamat kelak adalah orang yang banyak
bicara, orang-orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun.
Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu mutafaihiqun?” Rasulullah menjawab: “Orang-orang yang
sombong.” (HR At-Tirmidzi). Berdebat itu erat kaitannya
dengan dorongan nafsu yang menguasai diri manusia, yang bisa mengarah kepada
kejahatan. Allah berfirman tentang pengakuan Nabi Yusuf As: ”Dan aku tidak
membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf 12: 53). Dan
Rasulullah Saw bersabda: ”Jauhilah perdebatan, sebab larangan yang pertama
kali disampaikan kepadaku oleh Tuhanku setelah menyembah berhala adalah
perdebatan.” (H Ath-Thabrani).
Bangsa Indonesia pada umumnya
sekarang, dalam membicarakan suatu masalah, lebih suka berdebat daripada
bermusyawarah untuk mencari solusi masalah yang dibicarakan. Dalam perdebatan
itu, mereka cenderung menjatuhkan dan menyakiti orang lain (fusuq), dan
masing-masing merasa pendapatnya paling benar (jidal). Misalnya
perdebatan yang sering ditayangkan di televisi sebagian besar tidak memberikan
manfaat bagi masyarakat luas, melainkan lebih memberikan keuntungan bagi para
peserta dan penyelenggara acara debat itu. Justru sebaliknya perdebatan hanya menimbulkan mudharat yang mengacaukan pikiran dalam mencari kebenaran. Padahal sesungguhnya kebenaran itu hanya pada Allah dan
orang-orang yang iman dan takwanya benar, bukan pada mereka yang dikuasai
kekuatan untuk mengalahkan orang lain (ghadab) karena kekuatan itu
mengandung kesombongan, kedengkian, kebencian, rasa iri, dendam, yang
didorong oleh syeitan yang membenarkan ucapan buruk (wahmiyah). Acara
debat tersebut sudah menjadi semacam ‘infotainment’ yang di dalamnya sering
diselingi gosip (ghibah) dan fitnah, dapat menimbulkan dosa besar yang
sulit diampuni. Nampaknya syeitan-syeitan itu suka ‘berkonggres’ di bumi
Indonesia,
Di sisi lain perdebatan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), para wakil
rakyat yang seharusnya bertukar pikiran untuk membahas berbagai permasalahan
bangsa dan negara, mereka lebih sering mempertontonkan kebekuan nurani terhadap
kepentingan rakyat. Sehingga wajarlah jika kita katakan para wakil rakyat itu
bukan mengemban amanat rakyat, melainkan lebih mengutamakan mencari kekayaan
pribadi melalui kekuasaan yang dimilikinya. Jalan buntupun ditembus jika menyangkut
hal-hal yang menguntungkan pribadi atau partainya, sebaliknya kepatutan dilawan
jika merugikannya.
Korupsi dan Peredaran Narkoba
Korupsi adalah
salah satu dari tindak kejahatan yang sudah sangat berkembang luas, seakan-akan
tidak bisa dihentikan. Rasulullah Saw pernah memprediksi akan datang-nya suatu
zaman bahwa pada zaman itu, manusia mempertuhankan perutnya. Kalau yang disebut
Tuhan adalah sesuatu yang diikuti dan ditaati tanpa memikirkan alasan-alasan
apapun, maka orang akan mentaati keinginan perut mereka dengan melakukan apa
saja. Perut erat kaitannya dengan nafsu, yaitu nafsu untuk
melakukan keburukan (al-amaratun bissuu'), yang dalam hal ini adalah keserakahan, yang mendorong orang berlomba-lomba menumpuk kekayaan dengan
menghalalkan segala cara.
Tidak sedikit politisi,
birokrat, ang terlibat korupsi bersama pengusaha dan kasus suap telah
dipenjarakan. Ironisnya ada tidak sedikit penegak hukum yang terlibat dalam
kasus suap telah dijebloskan pula ke penjara. Bahkan ada Ketua MK yang menjadi
tersangka kasus suap.
Padahal badan-badan penegak
hukum seperti kepolisian, kejaksaan seharusnya bersinergi dengan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memberantas korupsi. Dan ironisnya pula kemelut hukum tersebut sebagian telah
merambah ke ranah sosial politik, dan menimbulkan
konflik baru di kalangan elite politik dan wakil rakyat. Sehingga, kalau kita perhatikan realitas tersebut di atas, maka sangat jelas bahwa
penyakit moral bangsa ini sudah rusak sangat parah.
Seperti halnya korupsi,
perdagangan narkoba termasuk kejahatan yang sulit diberantas. Perdagangan
narkoba ini sudah keterlaluan di mana para pelaku sudah dihinggapi syeitan yang
tidak pernah takut pada aturan Allah, apalagi aturan yang dibuat manusia. Di
manapun mereka berada termasuk di penjara tetap melakukan operasional
perdagangan narkoba dikendalikan dari dalam penjara, yang tentunya melibatkan
aparat lembaga terkait termasuk Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Terakhir
diberitakan adanya keterlibatan petinggi Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam
kasus korupsi. Wah rusak sekali bangsa ini.
Bencana Alam Sebagai Adzab
Kita harus
menyadari betapa banyak kerusakan moral yang bertebaran di sekitar kita.
Rentetan bencana yang kita alami beberapa tahun belakangan ini, bukan sekedar proses alam biasa,
melainkan sangat mungkin disebabkan perilaku kita
yang semakin jauh dari Allah. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa mayoritas
bangsa ini, baik para pemimpin, pengusaha,
cendekiawan, dan ulama sendiri, maupun rakyat pada umumnya sudah sangat materialistis. Maka wajarlah apabila kerusakan moral bangsa ini layak untuk mendapatkan adzab dari Allah Swt.
Erupsi gunung dan gempa
bumi di berbagai daerah, banjir besar dan tanah longsor di berbagai tempat lain
di Indonesia termasuk ibukota Jakarta yang berlangsung dua bulan terakhir ini
telah menimbulkan puluhan orang korban
tewas dan puluhan ribu orang mengungsi. Bencana bisa menimpa orang-orang sesat sebagai
adzab, namun bisa juga merupakan cobaan yang ditimpakan kepada kaum shaleh.
Apabila bencana
adalah cobaan, maka cara tepat untuk menyikapinya adalah istirja - berserah diri kepada Allah Swt. Apabila bencana adalah adzab,
kita harus mengucap istighfar dan memperbaiki perilaku. Seruan moral ini memang penting, yang mendorong kita untuk lebih taat beribadah dan menjauhi maksiat.
Mengangkangi Harta
Dalam kaitan ini,
kita seyogyanya menyadari bahwa bencana juga merupakan ulah mereka yang
serakah, mengutamakan nafsu untuk mengangkangi harta, dan tak peduli terhadap
mereka yang miskin dan menderita. Kita harus bisa mengakui bahwa bencana apapun
halnya, adalah akibat kesalahan dan keteledoran mereka yang sesat. Bangsa yang
demikian adalah bangsa yang menghargai sesamanya yang telah ‘terkorbankan’
menjadi pembawa peringatan tersebut. Itulah pesan ghaib dalam kehidupan yang
perlu dan harus kita renungkan. Jika
tidak, bukan mustahil akan datang bencana lebih dahsyat dan besar bagi bangsa
ini.
Semua orang tahu kegunaan
harta, sehingga mereka berlomba mencari harta sampai lalai memperhatikan
perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, sehingga akhirnya mereka tidak lagi
memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram. Bermewah-mewah itu adalah istilah lain dari nafsu mengangkangi kekayaan.
Mereka yang bermewah-mewan itu termasuk penguasa korup yang serakah dan yang
berkolusi dengan pengusaha penyuap, demi menuruti hawa nafsunya. Karena itulah Allah memerintahkan orang
beriman agar menunaikan shadaqah, di antaranya yang bernilai hukum wajib, yaitu
zakat. Al-Qur’an menyatakan dengan tegas: “Ambillah zakat dari sebagian
harta mereka; dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka (QS
At-Taubah 9: 103).
Namun Allah juga memperingatkan:
▪ “Sesungguhnya manusia itu
sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia
itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil
karena cintanya kepada harta.” (QS Al-‘Aadiyaat 100: 6-8). ▪ “Dan
jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada
orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka
melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku
terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu
sehancur-hancurnya.“ (QS Al-Israa’ 17: 16).
Oleh karena itu marilah kita bangun moral bangsa ini sesuai dengan petunjuk
Allah dan Rasul-Nya agar bangsa ini selamat dari kehancuran yang tidak kita
inginkan. Semoga Allah Swt menyelamatkan bangsa ini dari persengkongkolan
syeitan-syeitan itu, dengan petunjuk-Nya. Aamiin Yaa Rabbal ‘aalamiin.
Hermanto Harsolumakso
No. 215