Mempelajari Agama Islam Secara Populer, Membentuk Pribadi Muslim Berakhlak Mulia, Membangun Masyarakat Islam Madani, Membahas Berbagai Fenomena Kehidupan Sosial, Mencari Solusi Permasalahan yang Dihadapi Ummat Islam, Mengangkat Martabat Ummat Islam
Waktu terus berjalan, tak pernah jeda tak pernah berhenti sampai Kiamat tiba. Beberapa hari lagi insya Allah kita akan berjumpa kembali dengan Ramadhan pada kunjungannya di tahun 1432 H. Menurut perhitungan, hampir seluruh Mukminin Indonesia akan bertemu dengan Ramadhan pada saat maghrib hari Ahad tanggal 31 Juli 2011. Malam itu shalat sunnat tarawih dilaksanakan, dan paginya shaum wajib dimulai, kemudian terus ditunaikan selama sebulan penuh. Maka pada saat ini hati kita bergetar memanjatkan do’a penuh kesungguhan kepada Allah Swt, semoga berkenan menambah umur kita sedikit waktu lagi, untuk menikmati pertemuan dengan Ramadhan tahun ini.
Ramadhan adalah syahrur rahmah; di dalamnya Allah Swt mengucurkan kasih sayang deras kepada hamba-hambaNya. Karena itu sepantasnya setiap Mukmin menyambutnya dengan suka cita, dan melaksanakan semua ibadah yang umum maupun yang khusus pada bulan suci ini dengan gembira. Tarawih yang sebelas raka’at dilakukan dengan riang, puasa dikerjakan dengan senang, zakat dan shadaqah sunnat dikeluarkan dengan hati lapang. Semua itu dipicu oleh kesadaran bahwa dengan ibadah-ibadah itu dia menjemput ridha Allah Swt. Orang yang menghayati imannya pasti tahu benar bahwa tugas dan kewajiban yang disyari’atkan Allah kepada manusia tidak lain kecuali rentangan Kasih, yang dengan itu orang taqarrub ilallah - mendekatkan diri ke hadapan Allah. Kepada siapa saja yang mendekat, Allah mendekat kepadanya lebih cepat dan lebih baik. Dalam sebuah hadits qudsi Dia berfirman: “Apabila seorang hamba mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila dia datang kepadaKu dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari”.
Ridha Allah adalah harapan utama setiap Mukmin. Allah Swt menjanjikan surga yang indah, tenteram dan damai, serta menyediakan segala kebutuhan dan keinginan penghuninya dengan sempurna. Tetapi di atas semua itu ada karunia yang lebih besar dan memberikan keuntungan maksimal yaitu ridha Allah. (QS At-Taubah 9: 72).
Rabi’ah Al-Adawiyah, seorang perempuan shalihah yang hidup pada abad kedua Hijriyah mengartikulasikan suara hatinya dalam bait-bait syair berikut:
Ya Allah, sekiranya Engkau menyaksikan
bahwa aku beribadah karena takut kepada nerakaMu
silakan lemparkan aku ke bagian neraka yang paling panas
Sekiranya Engkau menyaksikan
bahwa aku beribadah karena mengharap surga-Mu
silakan mencampakkan aku sejauh-jauhnya dari surga itu
Namun tatkala Engkau menyaksikan
bahwa aku beribadah karena rindu untuk menatap Wajah-Mu
maka satu permohonanku
jangan Engkau berpaling dariku kelak di padang Mahsyar.
Kalimat-kalimat yang digubah Rabi’ah Al-Adawiyah adalah puisi, yang tidak bisa dimaknai secara harfiah. Puisi adalah ungkapan rasa, yang tidak selalu serasi dengan analisis rasio. Yang harus ditangkap dari syair ini adalah cinta kasih seorang hamba yang amat besar kepada Tuhannya. Dalam lautan cinta yang sangat dalam, Rabi’ah tidak peduli lagi kepada berbagai kesenangan dunia yang biasanya menjadi idaman orang-orang lain, seperti kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya Dia bahkan tidak terlalu memikirkan kenikmatan surga dengan segala pernak perniknya yang megah mewah, dan minuman serta makanan yang serba lezat, dan ketenteraman hidup dengan sesama penghuniya, dan sapaan malaikat yang ramah hormat. Yang dia dambakan di alam akhirat hanya satu, yakni ridha Allah Swt. Dalam syair ini ridha Allah dikiaskan sebagai “kesempatan memandang Wajah Allah”. Dalam banyak ayat, Al-Qur’an memaparkan berbagai kesenangan surga yang umumnya bersifat lahiriah, karena kesenangan demikian itu yang mudah dipahami oleh kebanyakan orang. Tetapi sang sufiyah lebih tertarik kepada kesenangan yang sejati yaitu ridha Allah Swt.
Sesungguhnya ridha Allah bukan hanya dikucurkan di akhirat. Ridha Allah juga diturunkan kepada yang pantas menerimanya tatkala hidup di dunia. Orang yang memperolehnya akan merasakan suasana yang tenang dandamai; maka integrasi dari suasana demikian itu dalam masa yang lama, disebut bahagia. Tetapi Mukmin yang telah memahami Al-Qur’an tidak akan membiarkan dirinya bahagia dalam diam dan dalam kesendirian. Dia menyadari posisi manusia sebagai ‘Abdullah - hamba Allah, sekaligus Khalifatullah fil ardhi - petugas Allah dalam memimpin pengelolaan bumi. Dia aktif menuntut ilmu, baik yang kauniyah - yang diusahakan dengan analisis rasio dan pengalaman empirik, maupun ilmu tanziliyah - pengetahuan yang diturunkan Allah melalui RasulNya. Dia senantasa berusaha memanfaatkan ilmu-ilmu yang dikuasainya untuk mengaktualisasikan potensi-potensi alam secara optimal, dan mengatur interaksi unsur-unsur alam itu dalam harmoni yang saling menguntungkan. Untuk semua itu Mukminin mengikuti arahan Allah yaitu ta’awanu ‘alal birri wat taqwa wala ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udhwan - bekerja sama dalam kebaikan dan takwa, tidak bekerja sama dalam dosa dan pelanggaran syari’at (QS Al-Maaidah 5: 2).
Mukmin merasa bahagia bukan saja ketika memperoleh hasil tetapi juga tatkala menjalani proses menuju keberhasilan. Rasulullah Saw dan para pengikut beliau menghadapi banyak masalah, orang-orang yang bermasalah, dan puak-puak yang mendatangkan masalah. Mereka berpikir keras dan bekerja keras, mengajak semua orang untuk berada dalam kebaikan, memberi keterangan beserta argumennya, membantu yang lemah dan mencegah yang kuat dari mengekploitasi kelemahan orang-orang lain. Dalam melindungi masyarakat mereka juga melawan dan memerangi banyak kelompok yang dzalim; dalam jihad itu ada yang luka dan ada yang gugur sebagai syuhada. Namun setiap kali Rasulullah Saw melakukan mobilisasi pasukan, mereka berkata: Sami’na wa atho’na - Kami dengar perintahmu wahai Rasul, dan kami taat. Mereka yakin bahwa mengikuti perintah Rasul adalah meniti jalan menuju kebahagiaan, di dunia maupun di akhirat. Karena itu di wajah mereka tidak ada guratan keengganan dan penyesalan. Di hati mereka bermukim mantap, kebahagiaan yang hakiki.
Bulan suci Ramadhan yang akan segera kita jumpai, merupakan masa yang menyediakan banyak kemudahan untuk memperoleh kondisi-kondisi sangat baik sebagaimana kita bicarakan di atas. Allah Swt tidak hanya menjadikan bulan ke 9 dari kalender Hijriyah ini sebagai masa untuk berpuasa wajib, akan tetapi juga masa yang penuh keutamaan. Rasulullah menyebutnyaSayyidus Syuhur - pemimpin segala bulan (HR At-Thabrani). Ada lagi sebutan-sebutan lain untuk Ramadhan. Di antaranya Syahrullahi - bulan Allah, karena balasan bagi orang yang beribadah di bulan ini ditetapkan secara pribadi oleh Allah Swt. Kemudian Syahrul Ala-i - bulan penuh kenikmatan, yang dirasakan oleh orang-orang yang berbakti. Lalu Syahrur Rahmah - bulan yang di dalamnya dilimpahkan rahmah Allah yang jauh lebih banyak dibanding pada bulan-bulan lain. Ada lagi sebutan Syahrun Najah - bulan pelepasan dari azab neraka, bagi orang-orang yang memperoleh ampunan, Syahrul Muwasah - bulan yang Allah mengaruniakan pertolongan kepada Mukminin yang menghadapi kesulitan. Banyak sekali keutamaan Ramadhan, sehingga Rasulullah menyatakan: “Sekiranya orang tahu semua kebaikan yang terdapat di bulan Ramadhan, niscaya dia berharap agar bulan ini berlangsung sepanjang tahun”. (HR Ibnu ‘Abid Dunya).
Tetapi keutamaan itu tidak akan beguna bagi orang-orang yang membiarkan bulan itu berlalu tanpa kesan. Keutamaan Ramadhan hanya diperoleh bagi orang-orang yang mendambakan dan mengusahakannya. Ada beberapa hal yang seyogyanya dilakukan orang yang benar-benar beriman, di samping ibadah-ibadah ritual. Yang pertama adalah Muhasabah - introspeksi, meneliti segala amal yang dia perbuat di masa yang lalu, untuk memperoleh gambaran konkret mengenai posisinya di hadapan Allah Swt. Yang kedua, meningkatkan jumlah maupun mutu amal saleh sehingga grafik kebaikannya cenderung naik secara eksponensial. Yang ketiga: Taubatan nasuha - mengusahakan penghapusan dosa-dosa yang terlanjut dilakukan pada masa yang lalu, dengan melakukan tiga tahapan: menyadari kesalahan, memohon ampun kepada Allah, dan berusaha keras untuk tidak mengulanginya.
Allah Swt melalui RasulNya Muhammad Saw menjanjikan balasan khusun di bulan khusus ini berupa Lailatuh Qadar. Orang tertentu dilimpahi kebaikan yang lebih utama dari kebaikan selama seribu bulan. Tetapi tidak seperti yang disangka sebagian orang, saat turunya Lailatul Qadar bukan tebak-tebakan. Keutamaan istimewa itu diberikan Allah yang Mahaadil kepada hamba-hamba yang shaleh, yang terus menerus beramal kebaikan di sepanjang Ramadhan. Mudah-mudahan kita memperolehnya pada tahun ini. Amin ya Rbbal ‘alamin.
Nisfu Sya'ban adalah hari peringatan Islam yang jatuh pada pertengahan bulan Sya'ban. Dalam kalangan Islam, Nisfu Sya'ban diperingati menjelang bulan Ramadhan. Pada malam ini biasanya diisi dengan pembacaan Surat Yaasiin tiga kali berjamaah dengan niat semoga diberi umur panjang, diberi rizki yang banyak dan barokah, serta ditetapkan imannya.
Peringatan Nisfu Sya'ban tidak hanya dilakukan di Indonesia saja. Al-Azhar sebagai yayasan pendidikan tertua di Mesir bahkan di seluruh dunia selalu memperingati malam yang sangat mulia ini. Hal ini karena diyakini pada malam tersebut Allah akan memberikan keputusan tentang nasib seseorang selama setahun ke depan. Keutamaan malam nisfu Sya'ban diterangkan secara jelas dalam kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut Al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah Swt memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, ummat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karena pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah Swt.
Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang shaleh.
HADIST KEUTAMAAN NISFU SYA’BAN
Tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban ini, di mana kita dianjurkan untuk melakukan ibadah terutama untuk memohon ampun, memohon rezeki dan umur yang bermanfaat, terdapat beberapa hadis yang menurut sebagian ulama sahih. Di antaranya:
Hadits pertama. Diriwayatkan dari Siti A’isyah Ra berkata: ”Suatu malam Rasulullah shalat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Dia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) .
Hadits Kedua. Diriwayatkan dari Siti Aisyah Ra bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah Saw. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi’ sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadits Ketiga. Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)
Hadis Keempat.Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka shalatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah).
Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban yang Insya Allah akan jatuh pada hari Jumat tgl 15 Juli 2011 sejak maghrib hingga subuh. Marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon ampunan dan berdzikir sebanyak-banyaknya kepada Allah. SwtT
Ibnu Taimiyyah menghidupkan Nishfu Sya’ban dengan amalan khusus.
Ibnu Taimiyah, (syeikh rujukannya wahabi / salafy) mengkhususkan amalan shalat pada nishfu Sya’ban dan memujinya: Berkata Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu’ Fatawa pada jilid 24 halaman 131 mengenai amalan Nishfu Sya'ban sebagai berikut:
"Apabila seorang itu menunaikan shalat pada malam Nisfu Sya'ban secara individu atau berjamaah secara khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebilangan masyarakat Islam maka hal itu adalah Baik".
Lihat bagaimana Ibnu Taimiyah sendiri memuji siapa yang menghidupkan amalan khusus pada malam Nisfu Sya'ban yaitu dengan menunaikan shalat sunnah pada waktu itu baik secara perseorangan maupun secara berjama’ah, Ibnu Taimiyah menyifatkan amalan khusus itu sebagai Hasan /Baik.
Pada halaman 132 di kitab yang sama itu, Ibnu Taimiyyah mengakui adanya hadits yang mengkhususkan untuk ibadah shalat malam Nishfu Sya’ban: "(Berkenaan malam Nishfu Sya'ban) maka telah diriwayatkan mengenai kemuliaan dan kelebihan Nishfu Sya'ban dengan hadits-hadits dan atsar, di nukilkan dari golongan Salaf (orang-orang dahulu) bahwa mereka menunaikan sholat khusus pada malam Nishfu Sya'ban, sholatnya seseorang pada malam itu secara perseorangan sebenarnya telah dilakukan oleh ulama Salaf dan dalam perkara tersebut terdapat hujjah / dalil maka jangan diingkari, manakala sholat secara jama’ah (pada malam nisfu sya'ban) adalah dibina atas hujah / dalil kaedah pada berkumpulnya manusia dalam melakukan amalan ketaatan dan ibadat."
Dalam kitabnya Iqtido' Ash-Shirothal-Mustaqim pada halaman 266 beliau mengatakan: "(Malam Nisfu Sya'ban) telah diriwayatkan mengenai kemuliaannya dari hadits-hadits Nabi dan pada kenyataan para sahabat telah menjelaskan bahwa itu adalah malam yang mulia dan dikalangan ulama As-Salaf yang mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan melakukan sholat khusus padanya dan berpuasa bulan Sya'ban, ada pula hadits yang shahih. Ada di kalangan Salaf (orang yang terdahulu), sebagian dari ahli Madinah dan selain mereka sebagian dikalangan Khalaf (orang belakangan) yang mengingkari kemuliannya dan menyanggah hadits-hadits yang diriwayatkan padanya seperti hadits: 'Sesungguhnya Allah Swt. mengampuni padanya lebih banyak dari bilangan bulu kambing bani kalb'. Akan tetapi disisi kebanyakan ulama ahli Ilmu atau kebanyakan ulama Madzhab kami dan ulama lain adalah memuliakan malam Nisfu Sya’ban, dan yang demikian adalah kenyataan Imam Ahmad bin Hanbal dari ulama Salaf, karena cukup banyak hadits yang menyatakan mengenai kemuliaan Nishfu Sya'ban, begitu juga hal ini benar dari kenyataan dan kesan-kesan ulama As-Salaf, dan telah dinyatakan kemuliaan Nishfu Sya'ban dalam banyak kitab hadits Musnad dan Sunan".
Demikianlah pendapat Ibnu Taimiyyah mengenai bulan dan malam Nishfu Sya'ban.Jelas sebagai bukti bahwa Ibnu Taimiyah sendiri mengakui dan tidak mengingkari kebaikan amalan khusus pada nishfu Sya’ban termasuk didalamnya sholat sunnah. Belliau juga mengatakan bahwa amalan ibadah pada malam nishfu Sya’ban dikerjakan oleh para Salaf. Tetapi sayangnya golongan pengingkar yang mengaku sebagai penerus akidah Ibnu Taimiyyah ini telah meng haramkan dan membid’ahkan mungkar amalan dalam bulan dan nishfu Sya’ban ini? Mereka hanya menyebutkan kata-kata Ibnu Taimiyyah yang sepaham dengan mereka tetapi kata-kata Ibnu Taimiyyah yang tidak sepaham, mereka kesampingkan! Apakah mereka ini juga berani membid’ahkan mungkar Ibnu Taimiyyah? Apakah mereka ini akan merubah atau mengarti kan kata-kata Ibnu Taimiyah yang sudah jelas tersebut - sebagaimana kebiasaan mereka - sampai sesuai dengan paham mereka?
Al-Qasthalani dalam kitabnya, Al-Mawahib Alladunniyah jilid 2 halaman 59, menuliskan bahwa para tabi’in di negeri Syam seperti Khalid bin Mi’dan dan Makhul telah berjuhud (mengkhususkan beribadah) pada malam nishfu sya’ban. Maka dari mereka berdua orang-orang mengambil panutan. Selanjutnya Al-Qasthalany berkata perbedaan pendapat para ulama Syam hanya dalam bentuk cara ibadah pada malam nishfu Sya’ban. Ada yang mengamalkan dimasjid secara berjama’ah yaitu pendapat Khalid bin Mi’dan, Luqman bin ‘Amir dan disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih. Ada lagi yang mengamalkan sendiri-sendiri dirumah atau ditempat lainnya, pendapat ini disetujui oleh Al-Auza’i dan para ulama Syam umumnya.
Masih banyak lagi pendapat para ulama yang membolehkan amalan ibadah khusus pada malam nishfu Sya’ban karena merupakan amalan kebaikan yang taqarrub / mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dengan demikian para ulama salaf dari zaman dahulu sampai zaman sekarang telah mengakui adanya amalan-amalan ibadah pada malam nishfu Sya’ban. Wallahu A’lam.
Dari paparan di atas, kita sebagai ummat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan Sya’ban adalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.
Meski menurut para ahli hadist masih berbeda tentang malam nisfu sya'ban ini, namun demikian menurut saya sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, shalat sunnah, memperbanyak bacaan dzikir, memperbanyak baca'an shalawat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, berdo’a dan mengerjakan amal-amal shaleh lainnya.
Allah Swt berfirman :"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Israa’ 17: 1)
Perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari Makkah ke Bayt Al-Maqdis, kemudian naik ke Sidrat Al-Muntaha, bahkan melampauinya, serta kembalinya ke Makkah dalam waktu sangat singkat, merupakan tantangan terbesar sesudah Al-Qur’an disodorkan oleh Tuhan kepada ummat manusia. Peristiwa ini membuktikan bahwa 'ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas), tanpa terbatas waktu atau ruang.
Kaum empirisis dan rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, dapat saja menggugat: Bagaimana mungkin kecepatan, yang bahkan melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini, dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh Muhammad Saw. tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Ini tidak mungkin terjadi, karena ia tidak sesuai dengan hukum-hukum alam, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Demikian kira-kira kilah mereka yang menolak peristiwa ini.
Memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar Shiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: "Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya." Oleh sebab itu, uraian ini berusaha untuk memahami peristiwa tersebut melalui apa yang kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran.
Salah satu hal yang menjadi pusat pembahasan Al-Qur’an adalah masa depan ruhani manusia demi mewujudkan keutuhannya. Uraian Al-Qur’an tentang Isra' dan Mi'raj merupakan salah satu cara pembuatan skema ruhani tersebut. Hal ini terbukti jelas melalui pengamatan terhadap sistematika dan kandungan Al-Qur’an, baik dalam bagian-bagiannya yang terbesar maupun dalam ayat-ayatnya yang terinci.
Tujuh bagian pertama Al-Qur’an membahas pertumbuhan jiwa manusia sebagai pribadi-pribadi yang secara kolektif membentuk ummat.Dalam bagian ke-8 sampai ke-14, Al-Qur’an menekankan pembangunan manusia seutuhnya serta pembangunan masyarakat dan konsolidasinya. Tema bagian ke-15 mencapai klimaksnya dan tergambar pada pribadi yang telah mencapai tingkat tertinggi dari manusia seutuhnya, yakni al-insan al-kamil. Dan karena itu, peristiwa Isra' dan Mi'raj merupakan awal bagian ini, dan berkelanjutan hingga bagian ke-21, di mana kisah para rasul diuraikan dari sisi pandangan tersebut. Kemudian, masalah perkembangan ruhani manusia secara orang per orang diuraikan lebih lanjut sampai bagian ke-30, dengan penjelasan tentang hubungan perkembangan tersebut dengan kehidupan masyarakat secara timbal-balik.
Kemudian, kalau kita melihat cakupan lebih kecil, maka ilmuwan-ilmuwan Al-Qur’an, sebagaimana ilmuwan-ilmuwan pelbagai disiplin ilmu, menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki pendahuluan yang mengantar atau menyebabkannya. Imam Al-Suyuthi berpendapat bahwa pengantar satu uraian dalam Al-Qur’an adalah uraian yang terdapat dalam surat sebelumnya. Sedangkan inti uraian satu surat dipahami dari nama surat tersebut, seperti dikatakan oleh Al-Biqai'i. Dengan demikian, maka pengantar uraian peristiwa Isra' adalah surat yang dinamai Tuhan dengan sebutan Al-Nahl, yang berarti lebah.
Mengapa lebah? Karena makhluk ini memiliki banyak keajaiban. Keajaibannya itu bukan hanya terlihat pada jenisnya, yang jantan dan betina, tetapi juga jenis yang bukan jantan dan bukan betina. Keajaibannya juga tidak hanya terlihat pada sarang-sarangnya yang tersusun dalam bentuk lubang-lubang yang sama bersegi enam dan diselubungi oleh selaput yang sangat halus menghalangi udara atau bakteri menyusup ke dalamnya, juga tidak hanya terletak pada khasiat madu yang dihasilkannya, yang menjadi makanan dan obat bagi sekian banyak penyakit. Keajaiban lebah mencakup itu semua, dan mencakup pula sistem kehidupannya yang penuh disiplin dan dedikasi di bawah pimpinan seekor ‘ratu’. Lebah yang berstatus ratu ini pun memiliki keajaiban dan keistimewaan. Misalnya, bahwa sang ratu ini, karena rasa ‘malu’ yang dimiliki dan dipeliharanya, telah menjadikannya enggan untuk mengadakan hubungan seksual dengan salah satu anggota masyarakatnya yang jumlahnya dapat mencapai sekitar tiga puluh ribu ekor. Di samping itu, keajaiban lebah juga tampak pada bentuk bahasa dan cara mereka berkomunikasi, yang dalam hal ini telah dipelajari secara mendalam oleh seorang ilmuwan Austria, Karl Van Fritch.
Lebah dipilih Tuhan untuk menggambarkan keajaiban ciptaan-Nya agar menjadi pengantar keajaiban perbuatan-Nya dalam peristiwa Isra' dan Mi'raj. Lebah juga dipilih sebagai pengantar bagi bagian yang menjelaskan manusia seutuhnya. Karena manusia seutuhnya, manusia Mukmin, menurut Rasul, adalah "bagaikan lebah, tidak makan kecuali yang baik dan indah, seperti kembang yang semerbak; tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang baik dan berguna, seperti madu yang dihasilkan lebah itu."
Dalam cakupan yang lebih kecil lagi, kita melontarkan pandangan kepada ayat pertama surat pengantar tersebut. Di sini Allah berfirman: Telah datang ketetapan Allah (Hari Kiamat). Oleh sebab itu janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya.
Dunia belum kiamat, mengapa Allah mengatakan kiamat telah datang? Al-Qur’an menyatakan "telah datang ketetapan Allah," mengapa dinyatakan-Nya juga "jangan meminta agar disegerakan datangnya"? Ini untuk memberi isyarat sekaligus pengantar bahwa Tuhan tidak mengenal waktu untuk mewujudkan sesuatu. Hari ini, esok, juga kemarin, adalah perhitungan manusia, perhitungan makhluk. Tuhan sama sekali tidak terikat kepadanya, sebab adalah Dia yang menguasai masa. Karenanya Dia tidak membutuhkan batasan untuk mewujudkan sesuatu. Dan hal ini ditegaskan-Nya dalam surat pengantar ini dengan kalimat: "Maka perkataan Kami kepada sesuatu, apabila Kami menghendakinya, Kami hanya menyatakan kepadanya "kun" (jadilah), maka jadilah ia. "(QS An-Nahl 16: 40).
Di sini terdapat dua hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain. Benda padat membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan suara. Suara pun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para ilmuwan, filosof, dan agamawan untuk berkesimpulan bahwa, pada akhirnya, ada sesuatu yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai sasaran apa pun yang dikehendaki-Nya. Sesuatu itulah yang kita namakan Allah Swt, Tuhan Yang Mahaesa.
Kedua, segala sesuatu, menurut ilmuwan, juga menurut Al-Qur’an, mempunyai sebab-sebab. Tetapi, apakah sebab-sebab tersebut yang mewujudkan sesuatu itu? Menurut ilmuwan, tidak. Demikian juga menurut Al-Qur’an. Apa yang diketahui oleh ilmuwan secara pasti hanyalah sebab yang mendahului atau berbarengan dengan terjadinya sesuatu. Bila dinyatakan bahwa sebab itulah yang mewujudkan dan menciptakan sesuatu, muncul sederet keberatan ilmiah dan filosofis.
Bahwa sebab mendahului sesuatu, itu benar. Namun kedahuluan ini tidaklah dapat dijadikan dasar bahwa ialah yang mewujudkannya. "Cahaya yang terlihat sebelum terdengar suatu dentuman meriam bukanlah penyebab suara tersebut dan bukan pula penyebab terlontarnya peluru," kata David Hume. "Ayam yang selalu berkokok sebelum terbit fajar bukanlah penyebab terbitnya fajar," kata Al-Ghazali jauh sebelum David Hume lahir.
"Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari B ke C, dan dari C ke D, tidaklah dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa pergerakannya dari B ke C adalah akibat pergerakannya dari A ke B," demikian kata Isaac Newton, sang penemu gaya gravitasi.
Kalau demikian, apa yang dinamakan hukum-hukum alam tiada lain kecuali "a summary of statistical averages" (ikhtisar dari rerata statistik). Sehingga, sebagaimana dinyatakan oleh Pierce, ahli ilmu alam, apa yang kita namakan ‘kebetulan’ dewasa ini, adalah mungkin merupakan suatu proses terjadinya suatu kebiasaan atau hukum alam. Bahkan Einstein, lebih tegas lagi, menyatakan bahwa semua apa yang terjadi diwujudkan oleh ‘superior reasoning power’ (kekuatan nalar yang superior). Atau, menurut bahasa Al-Quran, "Al-'Aziz Al-'Alim", Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Inilah yang ditegaskan oleh Tuhan dalam surat pengantar peristiwa Isra' dan Mi'raj itu dengan firman-Nya: “Kepada Allah saja tunduk segala apa yang di langit dan di bumi, termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (QS An Nahl 16: 49-50).
Pengantar berikutnya yang Tuhan berikan adalah: Janganlah meminta untuk tergesa-gesa. Sayangnya, manusia bertabiat tergesa-gesa, seperti ditegaskan Tuhan ketika menceritakan peristiwa Isra' ini, Adalah manusia bertabiat tergesa-gesa (QS Al-Israa’ 17: 11). Ketergesa-gesaan inilah yang antara lain menjadikannya tidak dapat membedakan antara: (a) yang mustahil menurut akal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, (b) yang bertentangan dengan akal dengan yang tidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional.
Dari segi lain, dalam kumpulan ayat-ayat yang mengantarkan uraian Al-Qur’an tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, dalam surat Israa' sendiri, berulang kali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya menyangkut keterbatasan tersebut. Simaklah ayat-ayat berikut: - “Dia (Allah) menciptakan apa-apa (makhluk) yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS An-Nahl 16: 8);- “Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS An-Nahk 16: 74); dan - “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit.” (QS Al-Israa’ 17: 85); dan banyak lagi lainnya. Itulah sebabnya, ditegaskan oleh Allah dengan firman-Nya: - “Dan janganlah kamu mengambil satu sikap (baik berupa ucapan maupun tindakan) yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut; karena sesungguhnya pendengaran, mata, dan hati, kesemuanya itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban. “ (QS Al-Israa’ 17: 36).
Apa yang ditegaskan oleh Al-Qur’an tentang keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui oleh para ilmuwan pada abad ke-20. Schwart, seorang pakar matematika kenamaan Prancis, menyatakan: "Fisika abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai kepada sajak pun. Sedangkan fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupun yang disebut materi sekalipun." Sementara itu, teori Black Holes menyatakan bahwa "pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3% saja, sedang 97% selebihnya di luar kemampuan manusia."
Kalau demikian, seandainya, sekali lagi seandainya, pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas peristiwa Isra' dan Mi'raj ini; kalau betul demikian adanya dan sampai saat ini masih juga demikian, maka tentunya usaha atau tuntutan untuk membuktikannya secara ‘ilmiah’ menjadi tidak ilmiah lagi. Ini tampak semakin jelas jika diingat bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah trial and error, yakni observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. Padahal, peristiwa Isra' dan Mi'raj hanya terjadi sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksperimentasi.
Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: "Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu." Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel Kant berkata: "Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya." Dan itu pulalah sebabnya mengapa ‘oleh-oleh’ yang dibawa Rasul dari perjalanan Isra' dan Mi'raj ini adalah kewajiban shalat; sebab shalat merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani.
Kita percaya kepada Isra' dan Mi'raj, karena tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Maha Esa.
Sebelum Al-Qur’an mengakhiri pengantarnya tentang peristiwa ini, dan sebelum diungkapnya peristiwa ini, digambarkannya bagaimana kelak orang-orang yang tidak mempercayainya dan bagaimana pula sikap yang harus diambilnya. Allah Swr berfirman: “Bersabarlah wahai Muhammad; tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap (keingkaran) mereka. Jangan pula kamu bersempit dada terhadap apa-apa yang mereka tipudayakan. Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebajikan.” (QS An-Nahl 16: 127-128). Inilah pengantar Al-Qur’an yang disampaikan sebelum diceritakannya peristiwa Isra' dan Mi'raj.
Agaknya, yang lebih wajar untuk dipertanyakan bukannya bagaimana Isra' dan Mi 'raj terjadi, tetapi mengapa Isra' dan Mi 'raj. Seperti yang telah dikemukakan pada awal uraian, Al-Qur’an, pada bagian ke-8 sampai bagian ke-15, menguraikan dan menekankan pentingnya pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat beserta konsolidasinya. Ini mencapai klimaksnya pada bagian ke-15 atau surat ke-17, yang tergambar pada pribadi hamba Allah yang di-Isra'-kan ini, yaitu Muhammad Saw., serta nilai-nilai yang diterapkannya dalam masyarakat beliau. Karena itu, dalam kelompok ayat yang menceritakan peristiwa ini (dalam surat Al-Isra'), ditemukan sekian banyak petunjuk untuk membina diri dan membangun masyarakat.
Pertama, ditemukan petunjuk untuk melaksanakan shalat lima waktu (pada ayat 78). Dan shalat ini pulalah yang merupakan inti dari peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, karena shalat pada hakikatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yang diharapkan oleh manusia seutuhnya. Shalat dibutuhkan oleh pikiran dan akal manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungannya dengan Tuhan, hubungan yang menggambarkan pengetahuannya tentang tata kerja alam raya ini, yang berjalan di bawah satu kesatuan sistem. Shalat juga menggambarkan tata inteligensia semesta yang total, yang sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan Yang Mahadahsyat dan Maha Mengetahui, Tuhan Yang Mahaesa. Dan bila demikian, maka tidaklah keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula ia melaksanakan shalatnya.
Shalat juga merupakan kebutuhan jiwa. Karena, tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak pernah mengharap atau merasa cemas. Hingga, pada akhirnya, sadar atau tidak, ia menyampaikan harapan dan keluhannya kepada Dia Yang Mahakuasa. Dan tentunya merupakan tanda kebejatan akhlak dan kerendahan moral, apabila seseorang datang menghadapkan dirinya kepada Tuhan hanya pada saat dirinya didesak oleh kebutuhannya.
Shalat juga dibutuhkan oleh masyarakat manusia, karena shalat, dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan. Orang Romawi Kuno mencapai puncak keahlian dalam bidang arsitektur, yang hingga kini tetap mengagumkan para ahli, juga karena adanya dorongan tersebut. Karena itu, Alexis Carrel menyatakan: "Apabila pengabdian, shalat, dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, maka hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut." Dan, untuk diingat, Alexis Carrel bukanlah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Ia adalah seorang dokter yang telah dua kali menerima hadiah Nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja serta pencangkokannya. Dan, menurut Larouse Dictionary, Alexis Carrel dinyatakan sebagai satu pribadi yang pemikiran-pemikirannya secara mendasar akan berpengaruh pada penghujung abad XX ini.
Apa yang dinyatakan ilmuwan ini sejalan dengan penegasan Al-Qur’an yang ditemukan dalam pengantar uraiannya tentang peristiwa Isra' dalam surat Al-Nahl ayat 26. Di situ digambarkan pembangkangan satu kelompok masyarakat terhadap petunjuk Tuhan dan nasib mereka menurut ayat tersebut: Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari fondasinya, lalu atap bangunan itu menimpa mereka dari atas; dan datanglah siksaan kepada mereka dari arah yang mereka tidak duga (QS An-Nahl 16: 26).
Kedua, petunjuk-petunjuk lain yang ditemukan dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan peristiwa Isra' dan Mi'raj, dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat adil dan makmur, antara lain adalah:
“Jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mereka menaati Allah untuk hidup dalam kesederhanaan), tetapi mereka durhaka; maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadap mereka ketetapan Kami dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-Israa 17: 16).
Ditekankan dalam surat ini bahwa "Sesungguhnya orang yang hidup berlebihan adalah saudara-saudara syeitan" (QS 17: 27).Dan karenanya, hendaklah setiap orang hidup dalam kesederhanaan dan keseimbangan: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu (pada lehermu dan sebaliknya), jangan pula kamu terlalu mengulurkannya, agar kamu tidak menjadi tercela dan menyesal.” (QS Al-Israa’ 17: 29).
Bahkan, kesederhanaan yang dituntut bukan hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam bidang ibadah. Kesederhanaan dalam ibadah shalat misalnya, tidak hanya tergambar dari adanya pengurangan jumlah shalat dari lima puluh menjadi lima kali sehari, tetapi juga tergambar dalam petunjuk yang ditemukan di surat Al-Isra' ini juga, yakni yang berkenaan dengan suara ketika dilaksanakan shalat: “Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya.” (QS Al-Israa’ 17: 110).
Jalan tengah di antara keduanya ini berguna untuk dapat mencapai konsentrasi, pemahaman bacaan dan kekhusyukan. Di saat yang sama, shalat yang dilaksanakan dengan ‘jalan tengah’ itu tidak mengakibatkan gangguan atau mengundang gangguan, baik gangguan tersebut kepada saudara sesama Muslim atau non-Muslim, yang mungkin sedang belajar, berzikir, atau mungkin sedang sakit, ataupun bayi-bayi yang sedang tidur nyenyak. Mengapa demikian? Karena, dalam kandungan ayat yang menceritakan peristiwa ini, Tuhan menekankan pentingnya persatuan masyarakat seluruhnya. Dengan demikian, masing-masing orang dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan dan bidangnya, tanpa mempersoalkan agama, keyakinan, dan keimanan orang lain. Ini sesuai dengan firman Allah: “Katakanlah wahai Muhammad, "Hendaklah tiap-tiap orang berkarya menurut bidang dan kemampuannya masing-masing." Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QSAl-Israa’ 17: 84).
Akhirnya, sebelum uraian ini disudahi, ada baiknya dibacakan ayat terakhir dalam surat yang menceritakan peristiwa Isra' dan Mi'raj ini: Katakanlah wahai Muhammad: "Percayalah kamu atau tidak usah percaya (keduanya sama bagi Tuhan)." Tetapi sesungguhnya mereka yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila disampaikan kepada mereka, maka mereka menyungkur atas muka mereka, sambil bersujud.” (QS Al-Israa’ 17: 107).
Itulah sebagian kecil dari petunjuk dan kesan yang dapat kami pahami, masing-masing dari surat pengantar uraian peristiwa Isra; yakni surat Al-Nahl, dan surat Al-Isra' sendiri. Khusus dalam pemahaman tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, semoga kita mampu menangkap gejala dan menyuarakan keyakinan tentang adanya ruh intelektualitas Yang Maha Agung, Tuhan Yang Maha Esa di alam semesta ini, serta mampu merumuskan kebutuhan umat manusia untuk memuja-Nya sekaligus mengabdi kepada-Nya. Wallâhualam bissawwâb.