Jumat, 25 Juli 2014

MUDIK LEBARAN DAN PULANG KAMPUNG

Sepintas lalu dua istilah ‘Mudik Lebaran’ dan ‘Pulang Kampung’ artinya hampir sama. Namun dalam tulisan ini apa sebenarnya yang dimaksud? Marilah kita simak dengan cermat uraian berikut ini, yang dikaitkan dengan momentum musahabah selama bulan Ramadhan:  

MUDIK LEBARAN

Tidak lama lagi kita akan mengakhiri ibadah puasa Ramadhan 1435 H ini dengan masing-masing amalan ibadah yang sudah kita lakukan. Mungkin kita benar-benar menjadi orang-orang Muttaqin - orang yang takwa, karena selama Ramadhan kita melaksanakan ibadah dengan penuh kekhlasan, kesungguhan dan kesabaran. Atau mungkin kita menghabiskan selama waktu Ramadhan hanya mendapatkan lapar dan dahaga, tanpa mendapatkan predikat Muttaqin karena kita tidak memahami esensi Ramadhan, sehingga Ramadhan menjadi sesuatu yang sia-sia dalam hidup kita. Namun bagi sebagian orang, ada yang tidak peduli akan predikat  itu. Pokoknya yang penting menyambut hari 1 Syawal yang lazim disebut hari Lebaran dengan merayakannya di kampung halaman bersama para kerabat mereka.

Dalam kaitan ini ada baiknya kita merenungkan betapa banyak orang berkemas untk mudik Lebaran ke kampung halaman tanpa mengingat banyaknya kecelakaan lalu-lintas yang dialami kaum para pemudik untuk bersilaturahmi Lebaran di kampung halaman. Kejadian ini berulang sepanjang tahun selama berpuluh tahun. Mereka rela bersusah-payah sepanjang tahun menabung sebagai bekal menghadapi kemacetan di perjalanan yang setiap tahun semakin parah dan rawan kecelakaan, berdesak-desakan di kendaraan umum - bahkan ada yang sampai meninggalkan puasanya karena kelelahan di perjalanan - semuanya itu hanya untuk kesenangan di hari Lebaran bersama keluarga dan kerabat di tempat mudik yang sesaat itu.

Kurang Disiplin

Fakta menunjukkan jumlah pemudik dari tahun ke tahun terus meningkat. Baik dari sisi jumlah pemudik maupun jumlah angkutan moda transportasi yang digunakan jelas ada pertambahan. Sehingga pelebaran dan perbaikan jalan misalnya, hanyalah sebagian upaya untuk mengurangi tingkat kepadatan dan kemacetan arus lalu lintas. Selain pembenahan infrastruktur, audit terhadap kelaikan seluruh jenis moda transportasi menjadi keharusan. Bukan rahasia lagi, salah satu penyebab kecelakaan terutama di darat, dan laut ialah moda transportasi yang tidak laik tetap dipaksakan beroperasi.

Di sisi lain, tingginya angka kecelakaan dan korban tewas selama arus mudik dan arus balik Lebaran juga disebabkan karena kurang disiplinnya pemudik berkendara dan kurang tegasnya aparat kepolisian menindak pelanggaran lalu lintas. Hal ini terjadi karena puluhan ribu dan bahkan ratusan ribu warga yang tinggal di kota besar mudik ke kampung halamannya masing-masing dalam waktu yang relatif bersamaan. Hal inilah yang menyebabkan arus lalu lintas di jalur mudik dan balik menjadi sangat padat dan terjadi kemacetan panjang sehingga sangat berpotensi terjadi kecelakaan lalu lintas. Apalagi banyak pemudik menggunakan sepeda motor dan membawa banyak barang. Mereka berjalan beriringan dengan jarak yang rapat sehingga sangat mungkin terjadi saling senggol dan terjatuh.

Dalam kondisi arus lalu lintas yang padat dan macet, banyak pengendara yang ingin cepat sampai kemudian main serobot sehingga tidak mengindahkan keselamatan berkendaraan. Di sisi lain, aparat kepolisian yang mengatur arus lalu lintas sering tidak tegas menindak pemudik yang tidak disiplin dan melanggar aturan berlalu lintas, misalnya berpenumpang lebih dari dua orang, tidak menggunakan helm, dan sebagainya.

Perlu kita sadari bahwa sejak adzan Subuh berkumandang, rakyat menghadapi kemacetan lalu-lintas menuju ke dan pulang dari tempat kerjanya, Menghadapi kemacetan itu aparat kepolisian seharus-nya bertindak tegas terhadap pelanggaran lalu-lintas dalam rangka penegakkan disiplin lalu-lintas. Tetapi faktanya petugas lalu-lintas tak kunjung melakukan perbaikan kinerja.

Pentingya Moda Transportasi Massal

Bagaimanapun, jumlah korban tewas selama arus mudik dan balik Lebaran jelas sebuah petaka kemanusiaan yang harus diatasi dengan cermat. Memang tidak mudah bagi pemerintah untuk mengurangi kecelakaan terutama di saat mudik Lebaran. Kita perlu belajar dari kesalahan kebijakan yang diambil oleh pemerintah di bidang transportasi pada awal Indonesia membangun ekonomi yang kurang berdampak positif bagi masyarkat umum. Prioritas pembangunan jalan layang lebih banyak dinikmati oleh para penguasa, pengusaha besar dan mereka yang yang mampu membayar tarif tol, Meskipun sebagian rakyat kecil juga naik bus yang melewati jalan tol.

Padahal yang dperlukan masyarakat adalah pembangunan jaringan lalu-lintas yang dapat mengangkut banyak orang, nyaman dan cepat dengan sedikit hambatan, yakni jaringan kereta api, baik di atas maupun di bawah tanah. Untuk itu pada awalnya memang diperlukan biaya sangat besar, namun dalam jangka panjang hasilnya terbukti bisa mengatasi kemacetan dan kecelakaan di kota-kota metropolitan dunia yang berpenduduk padat.

Misalnya saja di stasiun kereta api Tokyo, Jepang terdapat lebih dari 20 peron untuk melayani lalu-lintas kereta, begitu pula di kota-kota lainnya di Jepang jaringan kereta menjadi moda transportasi utama, menyusul bus dan kendaraan lainnya. Baik di Tokyo, San Francisco, maupun Amsterdam, masyarakat masih bisa menggunakan kereta listrik yang meluncur di tengah jalan karena keberadaannya masih dibutuhkan.

Peran Ulama

Kembali pada pembahasan mudik Lebaran yang sudah menjadi tradisi, tidak mungkin pemerintah melarang rakyat bersilaturahim di kampung halaman. Hanya himbauan para ulama yang bisa menyadarkan ummatnya untuk berpikir dan bertindak lebih realistis dalam menyikapi tradisi yang sudah berlangsung lama. Ulama jangan hanya bicara, tetapi juga harus memberikan jalan keluar bagaimana mengatasi berbagai masalah ummat. Kita hendaknya tetap mengutamakan ibadah puasa Ramadhan secara hakiki dan ikhlas, sedangkan kebiasaan mudik ke kampung halaman hendaknya hanya menjadi pelengkap saja tanpa membatalkan puasanya.

PULANG KAMPUNG

Kalau kita masyarakat mau bekerja keras sepanjang tahun, dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk kesenangan sesaat yaitu mudik Lebaran, mengapa kita tidak mulai berpikir bekerja keras sepanjang tahun dan mengerahkan seluruh sumber daya untuk mudik kita ke kampung akhirat yang abadi kelak? Kita tentu merindukan bersilaturahim dengan ibu-bapak kita di tempat mudik, anak-anak kitapun merindukan nenek-nenek dan kakek-kakek, yang bahkan sering kasih sayangnya terhadap cucu-cucunya melebihi apa yang bisa kita berikan. Bila mereka menyiapkan masakan dan kue-kue Lebaran, targetnya bukan untuk kita - anak-anaknya, tetapi untuk anak-anak kita - yang adalah cucu-cucu mereka. 

Kitapun seyogyanya merenungkan sabda Rasulullah Saw: “Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kun-jungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu adalah menyambungkan apa yang terputus.” (HR Al-Bukhari). Kekuatan silaturahim - yang berarti menyambungkan kasih sayang, bukanlah sekedar saling bersalaman, dan saling memaafkan, tetapi yang lebih hakiki tentang silaturahim ini adalah kekuatan mental dan kemampuan yang tinggi dari hati manusia untuk memperbaiki akhlak, dengan merubah karakter dasar manusia untuk menjadi lebih baik, karena hati yang kotor tidak akan terpadu dengan hati yang bersih.

Jika ibu-ayah kita telah tiadapun, kita bisa berkumpul kembali dengan mereka bila kita mau berusaha, karena Allah Swt menjanjikan pertemuan itu sebagaimana diatur di dalam Al-Qur’an: “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS Ath-Thuur 52: 21).

Muhasabah

Maka ketika Lebaran yang sesaat ini berakhir, marilah mulai bekerja keras kembali, bukan untuk kesenangan yang sesaat, melainkan mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk pulang kampung akhirat kita yang abadi. Allah Swt berfirman: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS Al-An’aam 6: 32). Karenanya kita perlu muhasabah dengan menanyakan kepada diri kita sendiri apakah kita beribadah karena 1) ingin mendapatkan pahala, 2) meningkatkan ketakwaan, atau 3) beryukur kepada Allah Swt.

Namun sesungguhnya ketiga tipologi ibadah tersebut di atas yang penting adalah ibadah karea ikhlas, lilahi ta ‘ala, meskipun makna dan muatannya berbeda bagi setiap orang. Dan beribadah karena cinta mestinya menjadi puncak dari perjalanan spiritual kita menuju Allah Swt. Dan bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keikhlasan, bersungguh-sungguh dan sabar, maka akan segera mendapatkan maghfirah - ampunan, dan dijauhkan dari api neraka (iqun minannar), dan sampai digambarkan menjadi manusia
dalam keadaan fitri - yang benar bersih, seperti bayi yang baru lahir.

Kemudian, kita melaksanakan shalat Idul Fitri, seraya menga- gungkan dan memuliakan Allah Swt, sebagai hari kemenangan, yaitu kemenangan terhadap syeitan dan hawa nafsu. Dan sekarang, di bulan Syawal kita memulai lagi kehidupan dan menghadapi rutinitas seperti biasanya dan berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari. Di kantor, di perusahaan, di pasar, di pabrik, dan di pusat-pusat kegiatan lainnya, itu semuanya akan mempengaruhi kehidupan kita. Kita akan menghadapi dan berinteraksi dengan seluruh jenis pekerjaan, kegiatan dan dengan segala jenis karakter manusia.

Pada hari ini kita marilah bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan Al-Qur’an yang sarat taddabur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam berbagai hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar kita, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga kita, serta perbuatan baik kita terhadap sesama.

Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya. Hari ini adalah hari kita, kita ucapkan selamat tinggal masa lalu, tenggelamlah bersama mataharimu. Dan bukan esok hari, karena hari itu belum tentu datang. Masa depan masih dalam keghaiban. Kita tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan.

Umur kita mungkin tinggal hari ini. Hari ini seharusnya kita dengan niat ikhlas mempersiapkan kesenangan yang bersifat kekal abadi di kampung akhirat nanti. Hari ini milik kita, manfaatkanlah hari ini dengan sebaik-baiknya untuk menjalani hidup yang benar, sehingga apabila pulang ke rahmatullah kita sudah siap.

Hermanto Harsolumakso
No. 224



Kamis, 10 Juli 2014

BULAN RAMADHAN – BULAN AL-QUR'AN


 Ø§Ù‚ْرَØ£ْ بِاسْÙ…ِ رَبِّÙƒَ الَّذِÙŠ Ø®َÙ„َÙ‚َ ﴿Ù¡﴾ Ø®َÙ„َÙ‚َ الْØ¥ِنسَانَ Ù…ِÙ†ْ عَÙ„َÙ‚ٍ ﴿Ù¢﴾ اقْرَØ£ْ ÙˆَرَبُّÙƒَ الْØ£َÙƒْرَÙ…ُ ﴿Ù£﴾ الَّذِÙŠ عَÙ„َّÙ…َ بِالْÙ‚َÙ„َÙ…ِ ﴿Ù¤﴾ عَÙ„َّÙ…َ الْØ¥ِنسَانَ Ù…َا Ù„َÙ…ْ ÙŠَعْÙ„َÙ…ْ ﴿Ù¥﴾
“Bacalah atas nama Tuhanmu yang Mahamencipta. Dia telah mencipta manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahapemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS Al-Alaq 96: 1-5).

Rasanya tidak ada rongga sekecil apapun di dalam hati kita saat ini, yang tidak diisi oleh kegembiraan hakiki, tatkala menyambut kehadiran bulan Ramadhan di masa kunjungannya yang sekarang, tahun 1435 H. Ketika berpisah dengannya setahun yang lalu, kita bersungguh-sungguh memohon kepada Allah Swt, agar berkenan memperpanjang usia kita setahun lagi, supaya dapat menikmati keindahan Ramadhan, sejak subuh sampai subuh lagi setiap hari. Ternyata Allah Swt dengan kasih-Nya yang agung berkenan mengabulkan harapan kita. Maka kita bersyukur kepada Allah dengan seluruh jiwa kita. Tasyakur bin ni'mah itu kita awali dengan ucapan lisan: Alhamdulillahi Rabbil 'alamin - Segala puji bagi Allah, Pembina semesta alam. Kemudian ekpresi lisan itu kita tindak lanjuti dengan memanfaatkan waktu sebulan penuh, untuk taqarrub ilallah – mendekatkan diri kepada Allah Swt, dengan beribadah yang terbaik kepada-Nya dan beramal saleh kepada sesama insan atas dasar kasih sayang murni sepenuh hati.

Ramadhan merupakan bulan yang diistimewakan Allah. Banyak sebutan kehormatan bagi bulan mulia ini, antara lain Syahrul Qur'an – bulan Al-Qur'an. Ayat 185 surah Al-Baqarah menyatakan: "Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan atas petunjuk itu, serta pembeda (antara yang haq dengan yang batil)". Kita tentu telah mengetahui bahwa ayat-ayat permulaan Al-Quran yang diturunkan di bulan Ramadhan adalah ayat satu sampai dengan lima surah Al-'Alaq, yang kalimat maupun maknanya telah kita pampangkan di atas.

Surah yang berada dalam mushaf Al-Quran pada urutan 96 ini disebut Al-'Alaq yang berarti segumpal darah. Perkataan ini terdapat pada ayat kedua. Sebutan lain adalah surah Iqra' yang artinya Bacalah! Perkataan ini ada pada ayat pertama. Ada lagi yang menyebut Al-Qalam, bermakna pena. Kata al-qalam terdapat pada ayat empat. Para ulama sepakat bahwa 19 ayat yang terhimpun pada surah 96 ini turun di Makkah sebelum Rasulullah Saw hijrah dari kota suci ini; bahkan lima ayatnya yang pertama, sebagaimana dikemukakan tadi, merupakan rangkaian ayat yang mula-mula sekali disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. Kita dapat menyatakan bahwa lima ayat tersebut menandai pelantikan beliau selaku Rasul Allah.

Sebagai himpunan ayat Makkiyah, apa lagi ayat-ayat awal, Al-'Alaq mengajarkan tauhidullah secara lugas. Pada surah ini dikemukakan kedudukan manusia di hadapan Allah Swt, sifat-sifat manusia yang sering bertentangan dengan kehendak dan aturan Allah, dan perlakuan banyak orang terhadap hamba-hamba Allah. Marilah kita mengawali kajian untuk membahas lima ayat pertama surah Al-'Alaq. Dalam suatu hadits shahih riwayat Bukhari diceriterakan, Muhammad Saw biasa tahnnuts – menyendiri untuk merenungkan kelakuan penduduk Makkah yang sangat buruk dan berusaha menemukan jalan untuk memperbaikinya. Kebiasaan itu beliau lakukan pada saat beliau berusia 40 tahun menurut kalender qomariah, kalender yang menggunakan hitungan perputaran bulan. Tahannuts beliau lakukan di gua Khira', sebuah gua yang berada di sebuah bukit di pinggir kota Makkah. Berhari-hari beliau tinggal di gua tersebut, kemudian pulang untuk mengambil bekal, lalu kembali untuk menyediri lagi.

Maka pada suatu hari, yang menurut mayoritas ulama adalah tanggal 17 bulan Ramadhan, datanglah Jibril yang segera berkata: "Bacalah!". Muhammad Saw menjawab jujur: "Aku tidak dapat membaca". Jibril merangkul beliau sampai merasa sesak nafas. Kemudian dia melepaskan rangkulannya sambil berkata lagi: "Bacalah!". Muhammad Saw menjawab dengan perkataan yang sama:  "Aku tidak dapat membaca". Maka Jibril membacakan lima ayat yang kita baca tadi.  Setelah Jibril pergi, Muhammad segera pulang dalam keadaan menggigil gemetaran, tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada beliau. Kepada Khadijah, isteri beliau, Muhammad Saw berkata: "Selimuti aku! Selimuti aku!". Sesudah hati agak tenang, beliau menceriterakan peristiwa yang telah beliau alami. Maka untuk memahami apa yang terjadi, Khadijah mengantar suaminya menemui saudara sepupunya, Waraqh bin Naufal. Dia adalah seorang cendekiawan Nasrani, yang telah menulis beberapa buku tentang agamanya. Kepada orang berilmu tinggi yang dikenal jujur itu, Muhammad Saw menceriterakan apa yang telah terjadi pada beliau. Maka Waraqah bin Naufal berkata: "Yang datang kepadamu adalah Jibril. Dia juga telah datang kepada 'Isa untuk menyampaikan wahyu. Engkau telah diangkat Allah menjadi Rasul, seperti 'Isa. Andaikata masih muda dan tangkas, aku ingin sekali membantumu".

Demikianlah riwayat yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat awal surah Al-'Alaq. Perkataan pertama yang terdapat pada ayat pertama surah ini adalah perintah membaca. Apa yang dibaca? Berbagai riwayat menceriterakan bahwa sebagaimana yang beliau katakana kepada Jibril, Muhammad Saw memang tidak dapat membaca. Ayat 48 surah 29, surah Al-'Ankabuut memperkuat kenyataan itu: "Engkau tidak pernah membaca Kitab sebelum ini dan tidak pernah pula menulisnya dengan tanganmu". Karena Muhammad Saw seorang yang ummiy – tuna aksara, mustahil beliau membawa bahan bacaan ke dalam gua itu. Maka kita mengambil kesimpulan bahwa beliau tidak diperintahkan untuk membaca naskah atau tulisan. Perkataan Iqra’ menurut bahasa berarti membaca, mendalami, meneliti, dan sebagainya. Maka perintah Iqra’ pada ayat ini dapat kita maknai: "Renungkan dengan cermat!". Apa yang harus direnungkan? Segala sesuatu yang dapat diketahui dengan pancaindera seperti matahari, bulan, planet-planet, bintang-bintang, awan, gunung, sungai dan air yang berada di dalamnya, tanaman, hewan, manusia, diri sendiri, dan juga tulisan-tulisan hasil tangan manusia. Pikirkan semua itu "atas nama Tuhanmu yang Mahamenjadikan”. Maksudnya, pikirkan dengan saksama sampai kamu menghayati bahwa semua yang kamu ketahui itu adalah ciptaan Tuhanmu yang Mahamenjadikan segala sesuatu.

Ayat yang pertama kali diturunkan kepada Muhammad Saw ini memperkenalkan kepada manusia eksistensi Mahapencipta, yang mengadakan segala sesuatu dari keadaan tidak ada sama sekali. Kita diperintahkan untuk memikirkan siapa yang mencipta awan, matahari, air, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan, manusia. Dengan melakukan penelitian kita tahu bahwa awan adalah himpunan bintik-bintik air ketika air itu menguap. Mengapa air menguap? Karena ada panas matahari yang menerpanya. Mengapa matahari memancarkan panas dan mengapa pula matahari itu ada? Kalau perenungan ini kita teruskan, akan sadarlah kita bahwa semua itu adalah proses belaka. Siapa yang berada di balik proses itu? Kita tidak akan pernah tahu; kita hanya yakin akan adanya, namun tidak tahu "siapa". Demikian pula tatkala kita merenungkan proses penciptaan gunung, sungai, tanaman, dan lain-lain. Kita menyaksikan adanya proses yang runtut, logis, berlasan, tetapi toh tidak tahu siapa yang menetapkan dan menjalankannya.

Maka ayat pertama surah Al-'Alaq menerangkan bahwa yang menjadikan proses dan prosedur penciptaan alam itu adalah Rabb, Tuhan yang Mahamenjadikan. Siapakah Rabb itu, berapa jumlahnya, apa wujudnya, dan bagaimana kita menyebutnya? Ayat-ayat pada surah ini dan pada surah-surah lain yang diturunkan kepada Rasulullah Saw pada awal kenabian, belum menyatakannya. Rupanya Al-Qur'an hendak memantapkan terlebih dahulu keyakinan dasar di dalam hati manusia tentang ciptaan dan Pencipta, sebelum meenerangkan bagaimana manusia menyebut Pencipta Agung itu. 

Ayat dua kemudian menyatakan: "Dia telah mencipta manusia dari segumpal darah". Manusia adalah makhluk Allah yang pertama-tama disebut di dalam wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Kita memahami hal itu karena manusialah yang dituju oleh Al-Quran. Manusialah yang diberi keterangan, petunjuk dan ketetapan-ketetapan hukum melalui Kitab ini. Maka manusia harus tahu kedudukan dirinya terhadap Allah Swt. Pada ayat ini manusia disebut sebagai insan. Ada perkataan lain dengan arti yang serupa yaitu basyar dan al-nas. Ulama tafsir menyatakan bahwa basyar adalah manusia sebagai makhluk biologis, yang mempunyai bentuk, naluri dan sifat-sifat yang lebih kurang sama. Al-nas adalah manusia sebagai suatu species di antara makhluk-makhluk yang bernyawa. Sedangkan insan adalah manusia sebagai makhluk rohani, yang mempunyai fitrah, keinginan, nafsu, akal, dan kemampuan-kemampuan yang lahir dari instrument hidupnya itu. Ayat ini mengemukakan dua hal. Pertama, manusia dicipta oleh Rabb, maka kalau seseorang mempunyai wajah cantik atau sebaliknya lahir dalam kondisi cacat, itu datang dari Dia. Karena itu orang jangan melecehkan sesama, tetapi jangan pula merasa rendah diri kepada sesama manusia. Yang kedua, manusia dicipta dari ‘alaq, segumpal darah. Yang dimaksud adalah zygote, zat yang terjadi setelah sperma berpadu dengan ovum. Rabb-lah yang membentuk zat itu menjadi manusia, melalui proses yang sangat pelik. Maka manusia harus mengagumi keagungan Dia dan bersyukur kepada-Nya. 

Ayat ketiga mengulang perintah yang terdapat pada ayat pertama, yaitu Iqra’ – bacalah! Mengapa perintah ini diulang? Ada beberapa pendapat. Di antaranya menyatakan bahwa pengulangan dimaksudkan untuk memberi tekanan bahwa membaca memang harus diulang-ulang, supaya orang semakin mengerti dan semakin mantap ilmunya. Perlu kita ingatkan kembali apa yang telah kita bicarakan terdahulu bahwa "membaca" di sini berarti melihat dengan penuh perhatian, meneliti dengan cermat, dan mengambil kesimpulan atas fakta dan fenomena yang dilihat dan dibaca itu dengan tepat. Perintah membaca pada ayat tiga ini dilanjutkan dengan pernyataan bahwa Tuhan yang mencipta manusia adalah Akram, Mahapemurah. Sebagai yang Mahapemurah, Dia memberi kepada hamba-hamba-Nya dengan amat cepat, dalam jumlah sangat banyak, dan pemberian-pemberian itu sungguh besar sekali manfaatnya bagi yang diberi. Salah satu bentuk pemberian Allah adalah ilmu pengetahuan, wawasan, kebijaksanaan, yang akan diperoleh seseorang apabila dia banyak membaca. Karena itulah ayat tadi menyuruh manusia agar banyak membaca, baik membaca tulisan maupun membaca lingkungan; melaksanakan perintah tersebut pasti baik  bagi dirinya sendiri.

Ayat empat surah Al-‘Alaq kemudian memberi keterangan tentang Rabb yang menyuruh ciptaan-Nya untuk membaca dan memberi pengetahuan maupun wawasan luas kepada mereka setelah membaca. Dikatakan bahwa Rabb itu  mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Kata qalam berarti pena, tetapi di dalam pemakaiannya sehari-hari berarti pula sesuatu yang dihasilkan oleh pena, yaitu tulisan. Ayat ini mengisyaratkan bahwa Rabb-nya manusia, yang pada ayat-ayat yang turun kemudian disebut Allah, memberi kemampuan yang sangat penting kepada manusia, yakni berbahasa. Dengan menggunakan bahasa seseorang menyampaikan perasaan dan pengertiannya kepada orang lain secara efektif. Bahasa yang mula-mula dikeluarkan melalui ucapan itu lalu dituliskan. Adanya tulisan menyebabkan apa yang dituturkan tersimpan, lalu dapat dibaca kembali, dipikirkan lagi, dan disimpulkan dengan lebih cermat. Maka keterangan itu menyambung dengan ayat 5: Allah mengajarkan kepada manusia, apa yang tidak diketahuinya. Manusia menjadi pintar, dan mampu memanfaatkan pengetahuannya untuk menjadikan hidupnya lebih nyaman. Para ulama menerangkan, rangkaian lima ayat pertama surah Al-'Alaq, yang merupakan ayat-ayat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Rasul-Nya yang terakhir, menekankan pentingnya berpikir, membaca, dan mencari ilmu yang sebanyak-banyaknya, dengan cara yang sebaik-baiknya.
 Sakib Mahmud
No.223