Kamis, 10 Juli 2014

BULAN RAMADHAN – BULAN AL-QUR'AN


 اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾
“Bacalah atas nama Tuhanmu yang Mahamencipta. Dia telah mencipta manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahapemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS Al-Alaq 96: 1-5).

Rasanya tidak ada rongga sekecil apapun di dalam hati kita saat ini, yang tidak diisi oleh kegembiraan hakiki, tatkala menyambut kehadiran bulan Ramadhan di masa kunjungannya yang sekarang, tahun 1435 H. Ketika berpisah dengannya setahun yang lalu, kita bersungguh-sungguh memohon kepada Allah Swt, agar berkenan memperpanjang usia kita setahun lagi, supaya dapat menikmati keindahan Ramadhan, sejak subuh sampai subuh lagi setiap hari. Ternyata Allah Swt dengan kasih-Nya yang agung berkenan mengabulkan harapan kita. Maka kita bersyukur kepada Allah dengan seluruh jiwa kita. Tasyakur bin ni'mah itu kita awali dengan ucapan lisan: Alhamdulillahi Rabbil 'alamin - Segala puji bagi Allah, Pembina semesta alam. Kemudian ekpresi lisan itu kita tindak lanjuti dengan memanfaatkan waktu sebulan penuh, untuk taqarrub ilallah – mendekatkan diri kepada Allah Swt, dengan beribadah yang terbaik kepada-Nya dan beramal saleh kepada sesama insan atas dasar kasih sayang murni sepenuh hati.

Ramadhan merupakan bulan yang diistimewakan Allah. Banyak sebutan kehormatan bagi bulan mulia ini, antara lain Syahrul Qur'an – bulan Al-Qur'an. Ayat 185 surah Al-Baqarah menyatakan: "Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan atas petunjuk itu, serta pembeda (antara yang haq dengan yang batil)". Kita tentu telah mengetahui bahwa ayat-ayat permulaan Al-Quran yang diturunkan di bulan Ramadhan adalah ayat satu sampai dengan lima surah Al-'Alaq, yang kalimat maupun maknanya telah kita pampangkan di atas.

Surah yang berada dalam mushaf Al-Quran pada urutan 96 ini disebut Al-'Alaq yang berarti segumpal darah. Perkataan ini terdapat pada ayat kedua. Sebutan lain adalah surah Iqra' yang artinya Bacalah! Perkataan ini ada pada ayat pertama. Ada lagi yang menyebut Al-Qalam, bermakna pena. Kata al-qalam terdapat pada ayat empat. Para ulama sepakat bahwa 19 ayat yang terhimpun pada surah 96 ini turun di Makkah sebelum Rasulullah Saw hijrah dari kota suci ini; bahkan lima ayatnya yang pertama, sebagaimana dikemukakan tadi, merupakan rangkaian ayat yang mula-mula sekali disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. Kita dapat menyatakan bahwa lima ayat tersebut menandai pelantikan beliau selaku Rasul Allah.

Sebagai himpunan ayat Makkiyah, apa lagi ayat-ayat awal, Al-'Alaq mengajarkan tauhidullah secara lugas. Pada surah ini dikemukakan kedudukan manusia di hadapan Allah Swt, sifat-sifat manusia yang sering bertentangan dengan kehendak dan aturan Allah, dan perlakuan banyak orang terhadap hamba-hamba Allah. Marilah kita mengawali kajian untuk membahas lima ayat pertama surah Al-'Alaq. Dalam suatu hadits shahih riwayat Bukhari diceriterakan, Muhammad Saw biasa tahnnuts – menyendiri untuk merenungkan kelakuan penduduk Makkah yang sangat buruk dan berusaha menemukan jalan untuk memperbaikinya. Kebiasaan itu beliau lakukan pada saat beliau berusia 40 tahun menurut kalender qomariah, kalender yang menggunakan hitungan perputaran bulan. Tahannuts beliau lakukan di gua Khira', sebuah gua yang berada di sebuah bukit di pinggir kota Makkah. Berhari-hari beliau tinggal di gua tersebut, kemudian pulang untuk mengambil bekal, lalu kembali untuk menyediri lagi.

Maka pada suatu hari, yang menurut mayoritas ulama adalah tanggal 17 bulan Ramadhan, datanglah Jibril yang segera berkata: "Bacalah!". Muhammad Saw menjawab jujur: "Aku tidak dapat membaca". Jibril merangkul beliau sampai merasa sesak nafas. Kemudian dia melepaskan rangkulannya sambil berkata lagi: "Bacalah!". Muhammad Saw menjawab dengan perkataan yang sama:  "Aku tidak dapat membaca". Maka Jibril membacakan lima ayat yang kita baca tadi.  Setelah Jibril pergi, Muhammad segera pulang dalam keadaan menggigil gemetaran, tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada beliau. Kepada Khadijah, isteri beliau, Muhammad Saw berkata: "Selimuti aku! Selimuti aku!". Sesudah hati agak tenang, beliau menceriterakan peristiwa yang telah beliau alami. Maka untuk memahami apa yang terjadi, Khadijah mengantar suaminya menemui saudara sepupunya, Waraqh bin Naufal. Dia adalah seorang cendekiawan Nasrani, yang telah menulis beberapa buku tentang agamanya. Kepada orang berilmu tinggi yang dikenal jujur itu, Muhammad Saw menceriterakan apa yang telah terjadi pada beliau. Maka Waraqah bin Naufal berkata: "Yang datang kepadamu adalah Jibril. Dia juga telah datang kepada 'Isa untuk menyampaikan wahyu. Engkau telah diangkat Allah menjadi Rasul, seperti 'Isa. Andaikata masih muda dan tangkas, aku ingin sekali membantumu".

Demikianlah riwayat yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat awal surah Al-'Alaq. Perkataan pertama yang terdapat pada ayat pertama surah ini adalah perintah membaca. Apa yang dibaca? Berbagai riwayat menceriterakan bahwa sebagaimana yang beliau katakana kepada Jibril, Muhammad Saw memang tidak dapat membaca. Ayat 48 surah 29, surah Al-'Ankabuut memperkuat kenyataan itu: "Engkau tidak pernah membaca Kitab sebelum ini dan tidak pernah pula menulisnya dengan tanganmu". Karena Muhammad Saw seorang yang ummiy – tuna aksara, mustahil beliau membawa bahan bacaan ke dalam gua itu. Maka kita mengambil kesimpulan bahwa beliau tidak diperintahkan untuk membaca naskah atau tulisan. Perkataan Iqra’ menurut bahasa berarti membaca, mendalami, meneliti, dan sebagainya. Maka perintah Iqra’ pada ayat ini dapat kita maknai: "Renungkan dengan cermat!". Apa yang harus direnungkan? Segala sesuatu yang dapat diketahui dengan pancaindera seperti matahari, bulan, planet-planet, bintang-bintang, awan, gunung, sungai dan air yang berada di dalamnya, tanaman, hewan, manusia, diri sendiri, dan juga tulisan-tulisan hasil tangan manusia. Pikirkan semua itu "atas nama Tuhanmu yang Mahamenjadikan”. Maksudnya, pikirkan dengan saksama sampai kamu menghayati bahwa semua yang kamu ketahui itu adalah ciptaan Tuhanmu yang Mahamenjadikan segala sesuatu.

Ayat yang pertama kali diturunkan kepada Muhammad Saw ini memperkenalkan kepada manusia eksistensi Mahapencipta, yang mengadakan segala sesuatu dari keadaan tidak ada sama sekali. Kita diperintahkan untuk memikirkan siapa yang mencipta awan, matahari, air, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan, manusia. Dengan melakukan penelitian kita tahu bahwa awan adalah himpunan bintik-bintik air ketika air itu menguap. Mengapa air menguap? Karena ada panas matahari yang menerpanya. Mengapa matahari memancarkan panas dan mengapa pula matahari itu ada? Kalau perenungan ini kita teruskan, akan sadarlah kita bahwa semua itu adalah proses belaka. Siapa yang berada di balik proses itu? Kita tidak akan pernah tahu; kita hanya yakin akan adanya, namun tidak tahu "siapa". Demikian pula tatkala kita merenungkan proses penciptaan gunung, sungai, tanaman, dan lain-lain. Kita menyaksikan adanya proses yang runtut, logis, berlasan, tetapi toh tidak tahu siapa yang menetapkan dan menjalankannya.

Maka ayat pertama surah Al-'Alaq menerangkan bahwa yang menjadikan proses dan prosedur penciptaan alam itu adalah Rabb, Tuhan yang Mahamenjadikan. Siapakah Rabb itu, berapa jumlahnya, apa wujudnya, dan bagaimana kita menyebutnya? Ayat-ayat pada surah ini dan pada surah-surah lain yang diturunkan kepada Rasulullah Saw pada awal kenabian, belum menyatakannya. Rupanya Al-Qur'an hendak memantapkan terlebih dahulu keyakinan dasar di dalam hati manusia tentang ciptaan dan Pencipta, sebelum meenerangkan bagaimana manusia menyebut Pencipta Agung itu. 

Ayat dua kemudian menyatakan: "Dia telah mencipta manusia dari segumpal darah". Manusia adalah makhluk Allah yang pertama-tama disebut di dalam wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Kita memahami hal itu karena manusialah yang dituju oleh Al-Quran. Manusialah yang diberi keterangan, petunjuk dan ketetapan-ketetapan hukum melalui Kitab ini. Maka manusia harus tahu kedudukan dirinya terhadap Allah Swt. Pada ayat ini manusia disebut sebagai insan. Ada perkataan lain dengan arti yang serupa yaitu basyar dan al-nas. Ulama tafsir menyatakan bahwa basyar adalah manusia sebagai makhluk biologis, yang mempunyai bentuk, naluri dan sifat-sifat yang lebih kurang sama. Al-nas adalah manusia sebagai suatu species di antara makhluk-makhluk yang bernyawa. Sedangkan insan adalah manusia sebagai makhluk rohani, yang mempunyai fitrah, keinginan, nafsu, akal, dan kemampuan-kemampuan yang lahir dari instrument hidupnya itu. Ayat ini mengemukakan dua hal. Pertama, manusia dicipta oleh Rabb, maka kalau seseorang mempunyai wajah cantik atau sebaliknya lahir dalam kondisi cacat, itu datang dari Dia. Karena itu orang jangan melecehkan sesama, tetapi jangan pula merasa rendah diri kepada sesama manusia. Yang kedua, manusia dicipta dari ‘alaq, segumpal darah. Yang dimaksud adalah zygote, zat yang terjadi setelah sperma berpadu dengan ovum. Rabb-lah yang membentuk zat itu menjadi manusia, melalui proses yang sangat pelik. Maka manusia harus mengagumi keagungan Dia dan bersyukur kepada-Nya. 

Ayat ketiga mengulang perintah yang terdapat pada ayat pertama, yaitu Iqra’ bacalah! Mengapa perintah ini diulang? Ada beberapa pendapat. Di antaranya menyatakan bahwa pengulangan dimaksudkan untuk memberi tekanan bahwa membaca memang harus diulang-ulang, supaya orang semakin mengerti dan semakin mantap ilmunya. Perlu kita ingatkan kembali apa yang telah kita bicarakan terdahulu bahwa "membaca" di sini berarti melihat dengan penuh perhatian, meneliti dengan cermat, dan mengambil kesimpulan atas fakta dan fenomena yang dilihat dan dibaca itu dengan tepat. Perintah membaca pada ayat tiga ini dilanjutkan dengan pernyataan bahwa Tuhan yang mencipta manusia adalah Akram, Mahapemurah. Sebagai yang Mahapemurah, Dia memberi kepada hamba-hamba-Nya dengan amat cepat, dalam jumlah sangat banyak, dan pemberian-pemberian itu sungguh besar sekali manfaatnya bagi yang diberi. Salah satu bentuk pemberian Allah adalah ilmu pengetahuan, wawasan, kebijaksanaan, yang akan diperoleh seseorang apabila dia banyak membaca. Karena itulah ayat tadi menyuruh manusia agar banyak membaca, baik membaca tulisan maupun membaca lingkungan; melaksanakan perintah tersebut pasti baik  bagi dirinya sendiri.

Ayat empat surah Al-‘Alaq kemudian memberi keterangan tentang Rabb yang menyuruh ciptaan-Nya untuk membaca dan memberi pengetahuan maupun wawasan luas kepada mereka setelah membaca. Dikatakan bahwa Rabb itu  mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Kata qalam berarti pena, tetapi di dalam pemakaiannya sehari-hari berarti pula sesuatu yang dihasilkan oleh pena, yaitu tulisan. Ayat ini mengisyaratkan bahwa Rabb-nya manusia, yang pada ayat-ayat yang turun kemudian disebut Allah, memberi kemampuan yang sangat penting kepada manusia, yakni berbahasa. Dengan menggunakan bahasa seseorang menyampaikan perasaan dan pengertiannya kepada orang lain secara efektif. Bahasa yang mula-mula dikeluarkan melalui ucapan itu lalu dituliskan. Adanya tulisan menyebabkan apa yang dituturkan tersimpan, lalu dapat dibaca kembali, dipikirkan lagi, dan disimpulkan dengan lebih cermat. Maka keterangan itu menyambung dengan ayat 5: Allah mengajarkan kepada manusia, apa yang tidak diketahuinya. Manusia menjadi pintar, dan mampu memanfaatkan pengetahuannya untuk menjadikan hidupnya lebih nyaman. Para ulama menerangkan, rangkaian lima ayat pertama surah Al-'Alaq, yang merupakan ayat-ayat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Rasul-Nya yang terakhir, menekankan pentingnya berpikir, membaca, dan mencari ilmu yang sebanyak-banyaknya, dengan cara yang sebaik-baiknya.
 Sakib Mahmud
No.223

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar