اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ
الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
﴿٤﴾ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾
“Bacalah atas nama Tuhanmu yang
Mahamencipta. Dia telah mencipta manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah yang Mahapemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS Al-Alaq 96: 1-5).
Rasanya tidak ada rongga sekecil apapun di dalam hati kita saat ini, yang
tidak diisi oleh kegembiraan hakiki, tatkala menyambut kehadiran bulan Ramadhan
di masa kunjungannya yang sekarang, tahun 1435 H. Ketika berpisah dengannya
setahun yang lalu, kita bersungguh-sungguh memohon kepada Allah Swt, agar
berkenan memperpanjang usia kita setahun lagi, supaya dapat menikmati keindahan
Ramadhan, sejak subuh sampai subuh lagi setiap hari. Ternyata Allah Swt dengan
kasih-Nya yang agung berkenan mengabulkan harapan kita. Maka kita bersyukur
kepada Allah dengan seluruh jiwa kita. Tasyakur bin ni'mah itu kita
awali dengan ucapan lisan:
Alhamdulillahi Rabbil 'alamin - Segala puji
bagi Allah, Pembina semesta alam. Kemudian ekpresi lisan itu kita tindak
lanjuti dengan memanfaatkan waktu sebulan penuh, untuk taqarrub ilallah
– mendekatkan diri kepada Allah Swt, dengan beribadah yang terbaik kepada-Nya
dan beramal saleh kepada sesama insan atas dasar kasih sayang murni sepenuh
hati.
Ramadhan merupakan bulan yang diistimewakan Allah. Banyak sebutan
kehormatan bagi bulan mulia ini, antara lain Syahrul Qur'an – bulan
Al-Qur'an. Ayat 185 surah Al-Baqarah menyatakan: "Ramadhan adalah bulan
yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran, sebagai petunjuk bagi
manusia, dan penjelasan-penjelasan atas petunjuk itu, serta pembeda (antara
yang haq dengan yang batil)". Kita tentu telah mengetahui bahwa ayat-ayat
permulaan Al-Quran yang diturunkan di bulan Ramadhan adalah ayat satu sampai
dengan lima surah Al-'Alaq, yang kalimat maupun maknanya telah kita pampangkan
di atas.
Surah yang berada dalam mushaf Al-Quran pada urutan 96 ini disebut Al-'Alaq
yang berarti segumpal darah. Perkataan ini terdapat pada ayat kedua. Sebutan
lain adalah surah Iqra' yang artinya Bacalah! Perkataan ini ada pada ayat
pertama. Ada lagi yang menyebut Al-Qalam, bermakna pena. Kata al-qalam terdapat
pada ayat empat. Para ulama sepakat bahwa 19 ayat yang terhimpun pada surah 96
ini turun di Makkah sebelum Rasulullah Saw hijrah dari kota suci ini; bahkan
lima ayatnya yang pertama, sebagaimana dikemukakan tadi, merupakan rangkaian
ayat yang mula-mula sekali disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad Saw.
Kita dapat menyatakan bahwa lima ayat tersebut menandai pelantikan beliau
selaku Rasul Allah.
Sebagai himpunan ayat Makkiyah, apa
lagi ayat-ayat awal, Al-'Alaq mengajarkan tauhidullah secara lugas. Pada
surah ini dikemukakan kedudukan manusia di hadapan Allah Swt, sifat-sifat
manusia yang sering bertentangan dengan kehendak dan aturan Allah, dan
perlakuan banyak orang terhadap hamba-hamba Allah. Marilah kita mengawali
kajian untuk membahas lima ayat pertama surah Al-'Alaq. Dalam suatu hadits
shahih riwayat Bukhari diceriterakan, Muhammad Saw biasa tahnnuts –
menyendiri untuk merenungkan kelakuan penduduk Makkah yang sangat buruk dan
berusaha menemukan jalan untuk memperbaikinya. Kebiasaan itu beliau lakukan
pada saat beliau berusia 40 tahun menurut kalender qomariah, kalender
yang menggunakan hitungan perputaran bulan. Tahannuts beliau lakukan di
gua Khira', sebuah gua yang berada di sebuah bukit di pinggir kota
Makkah. Berhari-hari beliau tinggal di gua tersebut, kemudian pulang untuk
mengambil bekal, lalu kembali untuk menyediri lagi.
Maka pada suatu hari, yang menurut
mayoritas ulama adalah tanggal 17 bulan Ramadhan, datanglah Jibril yang segera
berkata: "Bacalah!". Muhammad Saw menjawab jujur: "Aku tidak
dapat membaca". Jibril merangkul beliau sampai merasa sesak nafas.
Kemudian dia melepaskan rangkulannya sambil berkata lagi: "Bacalah!".
Muhammad Saw menjawab dengan perkataan yang sama: "Aku tidak dapat
membaca". Maka Jibril membacakan lima ayat yang kita baca tadi.
Setelah Jibril pergi, Muhammad segera pulang dalam keadaan menggigil gemetaran,
tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada beliau. Kepada Khadijah,
isteri beliau, Muhammad Saw berkata: "Selimuti aku! Selimuti aku!".
Sesudah hati agak tenang, beliau menceriterakan peristiwa yang telah beliau
alami. Maka untuk memahami apa yang terjadi, Khadijah mengantar suaminya
menemui saudara sepupunya, Waraqh bin Naufal. Dia adalah seorang cendekiawan
Nasrani, yang telah menulis beberapa buku tentang agamanya. Kepada orang
berilmu tinggi yang dikenal jujur itu, Muhammad Saw menceriterakan apa yang
telah terjadi pada beliau. Maka Waraqah bin Naufal berkata: "Yang datang
kepadamu adalah Jibril. Dia juga telah datang kepada 'Isa untuk menyampaikan
wahyu. Engkau telah diangkat Allah menjadi Rasul, seperti 'Isa. Andaikata masih
muda dan tangkas, aku ingin sekali membantumu".
Demikianlah riwayat yang melatarbelakangi
turunnya ayat-ayat awal surah Al-'Alaq. Perkataan pertama yang terdapat pada
ayat pertama surah ini adalah perintah membaca. Apa yang dibaca? Berbagai
riwayat menceriterakan bahwa sebagaimana yang beliau katakana kepada Jibril,
Muhammad Saw memang tidak dapat membaca. Ayat 48 surah 29, surah Al-'Ankabuut
memperkuat kenyataan itu: "Engkau tidak pernah membaca Kitab sebelum ini
dan tidak pernah pula menulisnya dengan tanganmu". Karena Muhammad Saw
seorang yang ummiy – tuna aksara, mustahil beliau membawa bahan bacaan
ke dalam gua itu. Maka kita mengambil kesimpulan bahwa beliau tidak
diperintahkan untuk membaca naskah atau tulisan. Perkataan Iqra’ menurut
bahasa berarti membaca, mendalami, meneliti, dan sebagainya. Maka perintah Iqra’
pada ayat ini dapat kita maknai: "Renungkan dengan cermat!". Apa yang
harus direnungkan? Segala sesuatu yang dapat diketahui dengan pancaindera
seperti matahari, bulan, planet-planet, bintang-bintang, awan, gunung, sungai
dan air yang berada di dalamnya, tanaman, hewan, manusia, diri sendiri, dan
juga tulisan-tulisan hasil tangan manusia. Pikirkan semua itu "atas nama
Tuhanmu yang Mahamenjadikan”. Maksudnya, pikirkan dengan saksama sampai kamu
menghayati bahwa semua yang kamu ketahui itu adalah ciptaan Tuhanmu yang Mahamenjadikan
segala sesuatu.
Ayat yang pertama kali diturunkan kepada
Muhammad Saw ini memperkenalkan kepada manusia eksistensi Mahapencipta, yang
mengadakan segala sesuatu dari keadaan tidak ada sama sekali. Kita
diperintahkan untuk memikirkan siapa yang mencipta awan, matahari, air,
bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan, manusia. Dengan melakukan
penelitian kita tahu bahwa awan adalah himpunan bintik-bintik air ketika air
itu menguap. Mengapa air menguap? Karena ada panas matahari yang menerpanya.
Mengapa matahari memancarkan panas dan mengapa pula matahari itu ada? Kalau
perenungan ini kita teruskan, akan sadarlah kita bahwa semua itu adalah proses
belaka. Siapa yang berada di balik proses itu? Kita tidak akan pernah tahu;
kita hanya yakin akan adanya, namun tidak tahu "siapa". Demikian pula
tatkala kita merenungkan proses penciptaan gunung, sungai, tanaman, dan
lain-lain. Kita menyaksikan adanya proses yang runtut, logis, berlasan, tetapi
toh tidak tahu siapa yang menetapkan dan menjalankannya.
Maka ayat pertama surah Al-'Alaq
menerangkan bahwa yang menjadikan proses dan prosedur penciptaan alam itu
adalah Rabb, Tuhan yang Mahamenjadikan. Siapakah Rabb itu, berapa
jumlahnya, apa wujudnya, dan bagaimana kita menyebutnya? Ayat-ayat pada surah
ini dan pada surah-surah lain yang diturunkan kepada Rasulullah Saw pada awal
kenabian, belum menyatakannya. Rupanya Al-Qur'an hendak memantapkan terlebih
dahulu keyakinan dasar di dalam hati manusia tentang ciptaan dan Pencipta,
sebelum meenerangkan bagaimana manusia menyebut Pencipta Agung itu.
Ayat dua kemudian menyatakan: "Dia telah mencipta manusia dari segumpal darah".
Manusia adalah makhluk Allah yang pertama-tama disebut di dalam wahyu yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Kita memahami hal itu karena manusialah
yang dituju oleh Al-Quran. Manusialah yang diberi keterangan, petunjuk dan
ketetapan-ketetapan hukum melalui Kitab ini. Maka manusia harus tahu kedudukan
dirinya terhadap Allah Swt. Pada ayat ini manusia disebut sebagai insan.
Ada perkataan lain dengan arti yang serupa yaitu basyar dan al-nas.
Ulama tafsir menyatakan bahwa basyar adalah manusia sebagai makhluk
biologis, yang mempunyai bentuk, naluri dan sifat-sifat yang lebih kurang sama.
Al-nas adalah manusia sebagai suatu species di antara makhluk-makhluk yang
bernyawa. Sedangkan insan adalah manusia sebagai makhluk rohani, yang mempunyai
fitrah, keinginan, nafsu, akal, dan kemampuan-kemampuan yang lahir dari
instrument hidupnya itu. Ayat ini mengemukakan dua hal. Pertama, manusia dicipta
oleh Rabb, maka kalau seseorang mempunyai wajah cantik atau sebaliknya
lahir dalam kondisi cacat, itu datang dari Dia. Karena itu orang jangan
melecehkan sesama, tetapi jangan pula merasa rendah diri kepada sesama manusia.
Yang kedua, manusia dicipta dari ‘alaq, segumpal darah. Yang dimaksud
adalah zygote, zat yang terjadi setelah sperma berpadu dengan ovum.
Rabb-lah yang membentuk zat itu menjadi manusia, melalui proses yang
sangat pelik. Maka manusia harus mengagumi keagungan Dia dan bersyukur kepada-Nya.
Ayat ketiga mengulang perintah yang terdapat pada ayat pertama, yaitu Iqra’ – bacalah! Mengapa perintah ini diulang? Ada beberapa pendapat. Di antaranya menyatakan bahwa pengulangan dimaksudkan untuk memberi tekanan bahwa membaca memang harus diulang-ulang, supaya orang semakin mengerti dan semakin mantap ilmunya. Perlu kita ingatkan kembali apa yang telah kita bicarakan terdahulu bahwa "membaca" di sini berarti melihat dengan penuh perhatian, meneliti dengan cermat, dan mengambil kesimpulan atas fakta dan fenomena yang dilihat dan dibaca itu dengan tepat. Perintah membaca pada ayat tiga ini dilanjutkan dengan pernyataan bahwa Tuhan yang mencipta manusia adalah Akram, Mahapemurah. Sebagai yang Mahapemurah, Dia memberi kepada hamba-hamba-Nya dengan amat cepat, dalam jumlah sangat banyak, dan pemberian-pemberian itu sungguh besar sekali manfaatnya bagi yang diberi. Salah satu bentuk pemberian Allah adalah ilmu pengetahuan, wawasan, kebijaksanaan, yang akan diperoleh seseorang apabila dia banyak membaca. Karena itulah ayat tadi menyuruh manusia agar banyak membaca, baik membaca tulisan maupun membaca lingkungan; melaksanakan perintah tersebut pasti baik bagi dirinya sendiri.
Ayat ketiga mengulang perintah yang terdapat pada ayat pertama, yaitu Iqra’ – bacalah! Mengapa perintah ini diulang? Ada beberapa pendapat. Di antaranya menyatakan bahwa pengulangan dimaksudkan untuk memberi tekanan bahwa membaca memang harus diulang-ulang, supaya orang semakin mengerti dan semakin mantap ilmunya. Perlu kita ingatkan kembali apa yang telah kita bicarakan terdahulu bahwa "membaca" di sini berarti melihat dengan penuh perhatian, meneliti dengan cermat, dan mengambil kesimpulan atas fakta dan fenomena yang dilihat dan dibaca itu dengan tepat. Perintah membaca pada ayat tiga ini dilanjutkan dengan pernyataan bahwa Tuhan yang mencipta manusia adalah Akram, Mahapemurah. Sebagai yang Mahapemurah, Dia memberi kepada hamba-hamba-Nya dengan amat cepat, dalam jumlah sangat banyak, dan pemberian-pemberian itu sungguh besar sekali manfaatnya bagi yang diberi. Salah satu bentuk pemberian Allah adalah ilmu pengetahuan, wawasan, kebijaksanaan, yang akan diperoleh seseorang apabila dia banyak membaca. Karena itulah ayat tadi menyuruh manusia agar banyak membaca, baik membaca tulisan maupun membaca lingkungan; melaksanakan perintah tersebut pasti baik bagi dirinya sendiri.
Ayat empat surah Al-‘Alaq kemudian memberi keterangan tentang Rabb yang menyuruh ciptaan-Nya untuk membaca dan memberi pengetahuan maupun wawasan luas kepada mereka setelah membaca. Dikatakan bahwa Rabb itu mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Kata qalam berarti pena, tetapi di dalam pemakaiannya sehari-hari berarti pula sesuatu yang dihasilkan oleh pena, yaitu tulisan. Ayat ini mengisyaratkan bahwa Rabb-nya manusia, yang pada ayat-ayat yang turun kemudian disebut Allah, memberi kemampuan yang sangat penting kepada manusia, yakni berbahasa. Dengan menggunakan bahasa seseorang menyampaikan perasaan dan pengertiannya kepada orang lain secara efektif. Bahasa yang mula-mula dikeluarkan melalui ucapan itu lalu dituliskan. Adanya tulisan menyebabkan apa yang dituturkan tersimpan, lalu dapat dibaca kembali, dipikirkan lagi, dan disimpulkan dengan lebih cermat. Maka keterangan itu menyambung dengan ayat 5: Allah mengajarkan kepada manusia, apa yang tidak diketahuinya. Manusia menjadi pintar, dan mampu memanfaatkan pengetahuannya untuk menjadikan hidupnya lebih nyaman. Para ulama menerangkan, rangkaian lima ayat pertama surah Al-'Alaq, yang merupakan ayat-ayat yang pertama kali diturunkan Allah kepada Rasul-Nya yang terakhir, menekankan pentingnya berpikir, membaca, dan mencari ilmu yang sebanyak-banyaknya, dengan cara yang sebaik-baiknya.
Sakib Mahmud
No.223
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar