Ketika membicarakan akhlak, kita kemukakan adanya akhlak baik (al akhlaqul mahmudah atau al akhlaqul karimah) dan akhlak buruk (al akhlaqul qabihah atau al akhlaqul madzmumah). Maka pada tulisan ini kita membahas kedudukan takwa di dalam akhlak manusia. Perkataan takwa banyak sekali kita jumpai di dalam Al Qur’an, sehingga Fazlul Rahman, intelektual muslim modern terkemuka dan Guru Besar bidang Pemikiran Islam di University Of Chicago menyimpulkan bahwa takwa barangkali merupakan istilah tunggal terpenting di dalam Kitab Suci ini. Kita menjumpai berbagai definisi takwa yang dikemukakan para ulama. Ada yang mendasarkan kepada arti harfiahnya yaitu takut – dalam hal ini takut kepada Allah, dan ada pemaknaan yang diambil dari ayat-ayat Al Qur’an, seperti menjaga diri dari azab Allah SWT, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dan sebagainya.
Muhammad Asad (ketika lahir bernama Leopold Weiss, menulis buku antara lain Road to Mecca dan The Message of Qur’an) merumuskan pengertian takwa sebagai The God consciousness – kesadaran akan eksistensi Tuhan, Allah SWT. Dengan menggunakan pengertian Muhammad Asad ini maka orang-orang yang takwa (Muttaqin) adalah yang senantiasa menghayati kehadiran Allah. Mereka merasakan keagungan Allah SWT ketika menyaksikan ombak beralun, angin berhembus, awan berarak, hujan turun dari celah-celah mega, sinar matahari yang sangat terang, pepohonan tumbuh, bunga memancarkan keindahan dan keharumannya, dan segala fenomena alam raya ini. Mereka menjadi saksi atas kebenaran firman Allah: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di seluruh penjuru langit dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa yang diterangkan Al Qur’an ini benar”. [QS Fushshilat (41): 53].
Muttaqin menyadari bahwa segala yang dimilikinya berupa kehidupan di dunia, kekayaan, kesehatan, ilmu pengetahuan, keluarga, kerabat, dan lain-lain, sebagai karunia Allah SWT. Karena itu Muttaqin mensyukuri anugerah-anugerah tersebut dengan menjadi Islam. Menurut Dr. Muhammad Hobohm, Konsul Republik Federal Jerman di Bandung pada awal dekade 60-an: Islam is submission to the Will of God with love and joy. Karena kepatuhan kepada Allah, dan karena yakin bahwa Allah SWT selalu mengawasi dan menilai setiap perilakunya, muttaqin berlaku adil di dalam masyarakat, menyayangi orang-orang lain, tidak berbuat curang kepada sesama manusia.
Penuturan di atas membawa kita kepada kesimpulan bahwa takwa merupakan pangkal dari segala akhlak baik. Kesimpulan tersebut diperkuat lagi dengan adanya keterangan Allah bahwa orang-orang yang takwa itu beriman dengan sungguh-sungguh, menunaikan shalat (berinteraksi yang terbaik dengan Allah) dan menafkahkan hartanya bagi orang-orang yang membutuhkan (interaksi positif dengan sesama manusia). [QS Al Baqarah (2): 3].
Allah SWT menurunkan perintah kepada orang-orang yang berangkat menunaikan ibadah haji agar berbekal takwa [QS Al Baqarah (2): 197]. Tetapi Al Quran juga menyatakan bahwa takwa itu merupakan buah dari akhlak baik. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagiamana yang diwajibkan atas orang-orang terdahulu, agar kamu bertakwa”. [QS Al Baqarah (2): 183]. Allah menyatakan pula: “Dan berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa; dan bertakwalah kepada Allah [QS Al Maaidah (5): 8]. Jelas bahwa takwa dan akhlak baik saling mendukung, seperti dua posisi dalam sebuah spiral. Takwa menghasilkan akhlak baik dan akhlak baik membuahkan takwa. Dalam jalinan itu keduanya semakin meninggi sampai pada posisi optimal yang dapat dicapai manusia.
Takwa juga berhubungan sangat erat dengan iman. Ensiklopedi Islam menulis: “Takwa merupakan buah iman yang sesungguhnya. Iman dan takwa merupakan dwitunggal, satu kesatuan yang utuh. Seseorang yang benar-benar beriman, seharusnya benar-benar bertakwa.” Pada bagian lain Ensiklopedi tersebut menyatakan: “Sikap takwa lahir dari adanya kesadaran moral transendental. Manusia yang bertakwa adalah manusia yang memiliki kepekaan moral yang teramat tajam untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu perbuatan. Dia memiliki mata batin yang menembus jauh untuk melihat yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk.
Dengan demikian tingkah lakunya sehari-hari selalu mencerminkan perilaku mulia dan selalu berusaha menghindari hal-hal yang menjadikan Allah SWT marah dan murka”. Kita mengetahui bahwa moral transendental yang dikemukakan tadi adalah iman. Maka sebagaimana yang dikemukakan tadi, takwa berhubungan dengan iman, dan pada saat yang sama berhubungan erat pula dengan akhlak baik yang melahirkan amal saleh. Maka ketiganya berjalin berkelindan di dalam hati orang yang diridhai Allah SWT.
Pada bagian awal tulisan ini telah dikemukakan bahwa takwa mengandung pengertian yang sangat luas. Banyak definisi dikemukakan ulama, yang saling mendukung dan saling melengkapi, tetapi dalam beberapa hal pendapat yang satu juga melemahkan pendapat lainnya Karena itu sebagian ulama lebih suka membicarakan ciri-ciri Muttaqin. Al Qur’an menggambarkan sosok orang bertakwa itu antara lain: beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat dan menafkahkan harta di jalan Allah, beriman kepada Al Qur’an dan kitab-kitab Allah sebelumnya, dan yakin akan datangnya hari Kiamat [QS Al Baqarah (2): 3-4]. Orang yang takwa itu adil [QS Al Maaidah (5): 8], menepati janji [QS Ali ‘Imran (3): 76], teguh dalam pendirian yang benar [QS At Taubah (9): 7], menafkahkan hartanya di jalan Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, dan mudah memaafkan kesalahan sesama manusia [QS Ali ‘Imran (3): 134].
Al Ghazali setelah membaca dengan saksama keterangan yang terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul mengemukakan tujuh ciri orang yang takwa yaitu: Lidahnya terpelihara dari ucapan-ucapan buruk, hatinya bersih dari kedengkian, matanya jauh dari memandang hal-hal yang tidak pantas, perutnya tidak diisi makanan yang haram, tangannya tidak melakukan perbuatan dosa, kakinya tidak berjalan ke arah yang salah, dan amalnya tidak didasarkan kepada riya dan kemusyrikan.
Karena kebaikan takwa yang sangat tinggi nilainya itu maka Allah SWT yang sangat mencintai manusia, memerintahkan – demi kebaikannya sendiri – untuk menjadi orang-orang yang takwa. QS Ali ‘Imran (3): 102 menyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam”. Ungkapan “jangan sekali-kali kamu mati” pada ayat tadi tentu tidak dimaksudkan sebagai perintah untuk mengatur saat kematian, karena hal itu tidak mungkin dilakukan siapapun. Kalimat tersebut merupakan penegasan agar orang yang beriman senantiasa membentuk, memelihara dan mengembangkan ketakwaan di dalam dirinya sehingga kapanpun kematian tiba, dia dalam keadaan Islam – tunduk dan patuh dengan sepenuh hati kepada Allah SWT.
Kepada orang yang memenuhi perintah tersebut Allah mengemukakan janji-janji yang sungguh amat sangat menggembirakan. Di antara janji-janji tersebut ialah: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu.” [QS Al Hujuraat (49): 13]. “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar (dari segala permalahannya”. [QS At Thalaaq (65): 2]. “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” [QS At Thalaaq (65): 4]. “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan.” [QS An Nabaa’ (78): 31]. Dalam hal ketakwaan itu telah menjadi sikap mayoritas orang yang hidup di suatu negeri, Allah menyatakan: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”. [QS Al A’raaf (7):96].
Dari uraian tadi kita dapat menyimpulkan, orang yang takwa adalah yang akhlak baiknya optimal. Tetapi tidak berarti bahwa Muttaqin tidak pernah berbuat salah. Pepatah Arab menyatakan: Al insanu mahallul khotho-u wan nisyan - manusia adalah tempatnya salah dan alpa. Maka tidak ada seorangpun yang tidak pernah melakukan perbuatan keliru, termasuk Nabi dan Rasul sekalipun. Nabi Adam AS bersama isteri beliau Hawa terjerat bujukan iblis sehingga memakan buah yang Allah telah melarangnya dengan sangat jelas. [QS Al A’raaf (7): 19-22]. Nabi Yunus AS tanpa diperintah Allah meninggalkan tempat tugasnya di Niniveh; ini berarti bahwa beliau – karena desakan nafsu marah – telah melakukan desersi. [QS Al Anbiya (21): 87].
Nabi Muhammad SAW ketika sedang asik berdiskusi dengan para pemimpin Qureisy tidak memedulikan pertanyaan seorang yang buta. [QS ‘Abasa (80): 1-11]. Kalau Nabi dan Rasul pun melakukan kesalahan, apalagi Muttaqin yang bagaimanapun, manusia biasa. Tetapi mereka tidak terlalu lama berkutat dalam perkeliruan dan dosa. Mereka segera ingat kepada Allah lalu dengan hati penuh penyesalan memohon ampun terhadap dosa-dosanya itu. Kemudian mereka berusaha lebih keras lagi untuk tidak mengulang kesalahan yang telah disadari dan disesalinya itu. [QS Ali ‘Imran (3): 135].
Orang-orang bertakwa mengikuti jejak para Rasul yang telah kita bicarakan tadi. Adam AS bersama isterinya dengan sangat khusyu’ berdo’a: “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Sekiranya Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” [QS Al A’raaf (7): 23].