Senin, 25 Oktober 2010

91. MENGANGKAT MARTABAT UMMAT ISLAM (2)

3. KEBUTUHAN HIDUP MANUSIA

Kebutuhan fisik atau materiil

Kebutuhan hidup manusia sering diungkapkan dalam istilah ‘sandang, pangan dan papan’, yang meliputi kebutuhan untuk menunjang kelangsungan hidup secara fisik yaitu, makan, pakaian, tempat tinggal, dan sebagainya termasuk semua yang terkait dengannya.

Kelebihan seorang Muslim dalam pemenuhan kebutuhan hidup adalah adanya tuntunan Islam yang mengatur perolehan, pengelolaan dan pemanfaatan rezeki dari Allah melalui konsep halal dan haram, yang hakekatnya merupakan batasan atau rambu-rambu dalam setiap aktivitas berhubungan dengan sesama (muamalah), namun menjadi bagian dari ibadah kepada Allah (ubudiah).

Meskipun demikian – dalam beberapa masalah duniawi – tidak memberikan rincian petunjuk, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Kamu lebih mengetahui tentang urusan duniamu (daripada aku)”. [HR Muslim].

Makan. Disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa kecukupan pangan serta terciptanya kestabilan keamanan sebagai dua sebab utama kewajaran beribadah kepada Allah. Sebagaimana kandungan firman-Nya dalam Al-Qur’an: “Hendaklah mereka menyembah Allah, yang memberi mereka makan sehingga terhindar dari lapar dan memberi keamanan dari segala macam ketakutan.” [QS Quraisy (106): 3-4]

Kata ‘makan’ yang didalam Al-Qur’an menggunakan kata akala, tidak digunakan semata-mata dalam arti memasukkan sesuatu ke dalam tenggorokan, tapi ia berarti juga segala aktivitas dan usaha. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah makan yang tidak disebut nama Allah atasnya (ketika menyembelihnya).” [QS Al-An’aam (6): 121]. Penggalan ayat ini dipahami sebagai larangan untuk melakukan aktivitas apapun yang tidak disertai atas nama Allah. Ini disebabkan karena kata ‘makan’ di sini dipahami dalam arti luas yakni segala bentuk aktivitas. Seakan-akan menyatakan bahwa aktivitas membutuhkan kalori, kalori diperoleh melalui makanan. Termasuk dalam konteks ini adalah kesehatan yang harus dijaga dengan makanan yang sehat dan bergizi.

Pakaian. Manusia memerlukan pakaian, mempunyai empat fungsi yaitu, penutup aurat, perhiasan, perlindungan, dan penunjuk identitas. Fungsi pakaian menurut Islam dijelaskan dalam Al Qur’an: “Wahai putra-putri Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian yang menutup auratmu dan juga (pakaian) bulu (untuk menjadi perhiasan), dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” [QS Al-A’raaf (7): 26]

Ayat ini setidaknya menjelaskan dua fungsi pakaian, yaitu penutup aurat, dan perhiasan. Sebagian ulama bahkan menyatakan bahwa ayat di atas juga menyatakan fungsi ketiga pakaian yaitu, fungsi takwa, dalam arti pakaian dapat menghindarkan seseorang terjerumus dalam ke dalam bencana dan kesulitan, baik bencana duniawi maupun ukhrawi.

a. Penutup aurat. Dalam fungsinya sebagai penutup aurat, pakaian adalah sesuatu yang dapat menutupi segala yang enggan diperlihatkan oleh pemakai, sekalipun seluruh badannya. Namun dalam konteks tuntunan dan hukum agama, pakaian berfungsi menutup aurat, yang dipahami sebagai anggota badan tertentu yang tidak boleh dilihat kecuali oleh orang-orang tertentu.

Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa lelaki wajib menutup badannya dari pusar sampai lutut, meskipun ada juga yang berpendapat bahwa yang wajib ditutup dari anggota tubuh lelaki hanya yang terdapat antara pusat dan lutut yaitu alat kelamin dan pantat.

Wanita, menurut sebagian besar ulama, berkewajiban menutup seluruh anggota tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan, sedangkan Imam Abu Hanifah lebih longgar karena menambahkan bahwa kaki wanita juga boleh terbuka.

b. Perhiasan. Perhiasan adalah sesuatu yang indah dipakai untuk memperelok diri. Tentunya pemakainya sendiri harus lebih dahulu menganggap bahwa perhiasan tersebut adalah indah. Namun harus disepakati bahwa keindahan sangat relatif, tergantung dari sudut pandang masing-masing orang.

Al-Qur’an tidak menjelaskan atau merinci apa yang disebut perhiasan, atau sesuatu yang elok, namun sebagian pakar mengatakan bahwa sesuatu yang elok adalah yang menghasilkan kebebasan dan keserasian. Pakaian yang indah adalah yang dapat memberikan kebebasan dan keserasian bagi pemakainya, sesuai bentuk tubuhnya.

Salah satu unsur mutlak keindahan adalah kebersihan. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW senang memakai pakaian putih, bukan saja karena warna ini lebih sesuai dengan iklim Jazirah Arab yang panas, melainkan juga karena putih segera menampakkan noda atau kotoran, sehingga mendorong pemakainya untuk segera mengganti yang kotor atau mencuci untuk tetap menjaga kebersihan.

Mengenai uraian tentang fungsi pakaian sebagai perhiasan, perlu digaris bawahi bahwa salah satu yang harus dihindari dalam berhias adalah timbulnya rangsangan birahi dari yang melihatnya (kecuali suami atau isteri) dan atau sikap tak sopan dari siapapun.

c. Perlindungan (takwa). Pakaian tebal dapat melindungi seseorang dari sengatan dingin, dan pakaian tipis melindungi dari sengatan panas, adalah hal sudah jelas dipahami dan merupakan perlindungan secara fisik.

Di sisi lain pakaian memberikan pengaruh psikologis bagi pemakainya. Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat merasakan pengaruh psikologis dari pakaian jika kita ke pesta. Apabila mengenakan pakaian yang buruk, atau tidak sesuai dengan situasi, maka pemakainya akan merasa rikuh, atau bahkan kehilangan kepercayaan diri, sebaliknyapun demikian.

Pakaian dapat mendorong pemakainya untuk berperilaku seperti santri atau sebaliknya menjadi syeitan, tergantung dari cara dan model pakaiannya. Pakaian terhormat, mengundang seseorang berperilaku dan mendatangi tempat-tempat terhormat, sekaligus mencegahnya ke tempat-tempat yang tidak senonoh. Inilah salah satu yang dimaksud Al-Qur’an dengan memerintahkan wanita-wanita Muslim memakai jilbab. “Hai Nabi, katakan kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin agar mengulurkan atas diri mereka jilbab-jilbab mereka. Yang demikian itu menjadikan mereka mudah untuk dikenal (sebagai wanita Muslimah / wanita merdeka / orang baik-baik) sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS Al-Ahzaab (33): 59].

Fungsi perlindungan bagi pakaian dapat juga diangkat untuk pakaian rohani, libas at-taqwa. Setiap orang dituntut untuk merajut sendiri pakaian ini. Benang atau serat-seratnya adalah tobat, sabar, syukur, qana’ah, ridha, dan sebagainya.

d. Penunjuk identitas. Identitas / kepribadian sesuatu adalah yang menggambarkan eksistensinya sekaligus membedakannya dari yang lain. Seorang Muslim diharapkan mengenakan pakaian ruhani dan jasmani yang menggambarkan identitasnya. Meskipun demikian Islam tidak datang menentukan mode pakaian tertentu, sehingga setiap masyarakat dan periode, bisa saja menetukan mode yang sesuai dengan seleranya.

Bagi seorang Muslimah jilbab adalah gambaran identitasnya yang membedakan dengan pakaian yang dipakai wanita pada umumnya, sebagaimana yang disebutkan dalam QS Al-Ahzaab (33): 59 di atas pada kalimat kedua: “.....Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal (sebagai Muslimah / wanita terhormat) sehingga mereka tidak diganggu....”

Kebutuhan spiritual.

Kehadiran Tuhan merupakan fitrah manusia yang merupakan kebutuhan hidupnya. Kalaupun ada yang mengingkarinya wujud tersebut, maka pengingkaran tersebut hanya bersifat sementara, dalam arti bahwa pada akhirnya sebelum jiwanya berpisah dengan jasadnya, ia akan mengakui-Nya.

Kebutuhan manusia bertingkat-tingkat, ada yang harus dipenuhi segera seperti kebutuhan akan udara untuk bernapas, ada yang dapat ditangguhkan sementara seperti minum, kebutuhan untuk makan dapat ditangguhkan lebih lama dari minum. Kebutuhan seksual dapat ditangguhkan lebih lama daripada makan dan minum, demikian seterusnya. Kebutuhan yang lama dapat ditangguhkan adalah kebutuhan tentang keyakinan akan adanya Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa.

Salah satu bukti pernyataan ini adalah ditunjukkan sikap keras kepala dan pengakuan Fir’aun sendiri ketika ruhnya akan meninggalkan jasadnya. Dalam kaitan ini Al-Qur’an menjelaskan sikap Fir’aun yang ketika itu kembali kepada fitrah, namun sayang dia telah terlambat.

“...hingga saat Fir’aun telah hampir tenggelam, berkatalah dia, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercaya oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?. [QS Yunus (10): 90-91].

(Bersambung, Muhammad Kamal)

Selasa, 05 Oktober 2010

90. MENGHADAPI KIAMAT

Muqaddimah.

Salah satu informasi yang wajib dipercayai oleh setiap orang yang mengaku Muslim adalah keterangan tentang Hari Kiamat, hari yang mengakhiri kehidupan dunia sekaligus mengawali kehidupan akhirat. Kepercayaan mengenai hari kiamat adalah salah satu dari enam Rukun Iman.

Kiamat pasti terjadi, tetapi kapan datangnya, hanya Allah yang mengetahuinya. Allah SWT berfirman: “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia". [QS Al A’raaf (7): 187]. Allah merahasiakan informasi mengenai hal itu kepada siapapun, termasuk Rasul, Malaikat Jibril, bahkan Malaikat ‘Israfil yang bertugas memberi tanda dimulainya hari kiamat tersebut.

Para ilmuwan menyebutkan kiamat akan terjadi pada tahun 2012 atau 2013 karena saat itu akan terjadi ledakan besar di atmosfer matahari. Ledakan itu diperkirakan dahsyatnya menyamai 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima yang merenggut sekitar 80.000 jiwa manusia. Berarti ledakan matahari akan merenggut nyawa dikalikan 66 juta lagi. Wow.

Kita lupakan saja hal itu, biarkan para ilmuwan melanjutkan penelitian yang menjadi tugas mereka, lebih baik kita cermati dua jenis fenomena dalam kehidupan bermasyarakat berkaitan dengan akan datangnya kiamat, yaitu fenomena dalam masyarakat itu sendiri dan fenomena alam. Kita akan membahas lebih lanjut kedua fenomena tersebut.

Kemudian kita perhatikan Sunatullah tentang berbagai fenomena dalam kehidupan kita di dunia ini. Sunatullah tidak terjadi seketika, melainkan didahului berbagai sinyal, agar kita bisa melakukan muhasabah sebelum terjadinya bencana yang lebih besar, bahkan sebelum akhirnya ajal atau kiamat tiba.

Fenomena Dalam Masyarakat

Ada beberapa hadits tentang fenomena dalam masyarakat yang mengantisipasi akan datangnya Kiamat ini, antara lain:

1. “Sesungguhnya tanda-tanda kiamat ialah, dicarinya ilmu itu dari ahli bid’ah.” [HR Abdullah bin Mubarak dan Ath Thabrabi, dishahihkan oleh Imam Albani]. Tentu menempuh jalan demikian adalah salah, seharusnya mereka menempuh jalan yang lurus, bukan jalan yang dimurkai Allah dan jalan mereka yang sesat. [QS Al-Faatihah: (1): 6-7]. Atau lebih jelasnya dapat dibaca pada lajur kanan halaman utama ini berjudul ‘Jalan yang Lurus’.

2. “Tidak akan tegak hari kiamat sampai manusia bermegah-megah dengan (membangun) masjid-masjid(nya). Aku tidak diperintah untuk memegahkan masjid-masjid. Sungguh kalian akan memperindahnya (masjid-masjid, sebagaimana Yahudi dan Nasrani memperindah tempat ibadah mereka.” [HR Abu Dawud]. Apakah rencana pembangunan Masjid dan Islamic Center di Ground Zero, New York, suatu kebutuhan atau ingin bermegah-megah? Jangan-jangan bisa memicu terjadinya konflik agama secara global.

3. “Sesungguhnya di hadapan hari kiamat akan ada al harju, yaitu pembunuhan oleh sebagian kamu membunuh sebagian yang lain, sehingga seseorang sampai membunuh tetangganya, anak pamannya dan membunuh keluarganya.” [HR Ahmad]. Membunuh yang dimaksud di sini bukanlah membunuh dalam peperangan, tetapi pembunuhan sebagian dari kita membunuh yang lain sehingga terjadi bentrok antar warga, membunuh tetangga, kerabat dan keluarga sendiri, dan pembunuhan kejam lainnya seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Fenomena Alam

Dalam satu dekade belakangan ini, kita menyaksikan dan mengalami bencana (alam) yang cukup dahsyat di berbagai belahan bumi termasuk di Indonesia. Dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menyinggung tentang bencana, antara lain dalam QS Al-Baqarah (2): 155, QS Al-Maaidah (5): 40, dan QS At-Taubah (9): 50. Sehingga kita juga perlu merenungkan berbagai bencana yang menimpa bumi ini.

Allah SWT menjelaskan di dalam Al-Qur’an tentang hukum alam yang pasti yang disebut Sunatullah yang tidak berubah. Perhatikan isyarat Al-Qur’an ketika menyatakan bahwa air hujan yang diserap bumi menumbuhkan tanaman, dan bahwa perjalanan angin menyebabkan hujan, dan sebagainya [QS An Nahl (16): 11-12]. Alam mempunyai disain sempurna yang memiliki hubungan sebab dan akibat. Allah SWT telah menggariskan keseimbangan alam. Hujan dan hutan sudah memiliki ukuran (takdirnya) masing-masing.

Dengan adanya ulah manusia atas bumi dan udara di atasnya, maka terjadilah perubahan iklim, yang menimbulkan bencana alam. Karena hutan dirusak, maka sudah jelas bahwa sesuai dengan Sunatullah akan terjadi bencana banjir, karena fungsi hidrologis hutan tidak lagi berjalan. Hal ini ditegaskan oleh Allah bahwa kerusakan yang terjadi di alam semesta ini adalah karena ulah tangan manusia. Akan tetapi sering kali manusia mengabaikan sinyal-sinyal itu, sehingga keseimbangan alam menjadi rusak dan kemudian menjadi tidak terkendali dan menjadi bencana bagi kita.

Sunatullah tidak terjadi seketika, melainkan didahului berbagai sinyal kepada manusia. Makin meluasnya bencana banjir, menjadi bukti bahwa kita telah mengabaikan sinyal-sinyal yang terjadi sebelumnya. Terlihat jelas pula, bagi manusia yang selalu menentang hukum Allah, akan ditimpa malapetaka, adzab dan bencana, kehancuran dan kesengsaraan yang berkepanjangan hingga datangnya harti kiamat.

Setiap bencana selalu dapat dikaitkan dengan takdir, tetapi takdir juga hampir selalu menjadi cermin yang baik, yaitu; manusia macam apa kita ini. Satu dua bencana mungkin memang merupakan ujian dari Allah. Namun rangkaian bencana bisa jadi merupakan petunjuk nyata, bahwa kita bukanlah bangsa yang baik.

Gempa Bumi

Pada dasarnya bumi, memang punya potensi (kerentanan) yang besar seperti gempa bumi, meletusnya gunung api dan bencana alam lainnya; tsunami, tanah longsor, tanah amblas, semburan lumpur, gas dan lainnya dari perut bumi, semuanya itu sebenarnya sedang berlangsung dalam proses alam yang bekerja.

Gempa bumi merupakan salah satu bencana alam terbesar seperti halnya bencana akibat hujan dan angin. Kebanyakan gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan di mana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa bumi akan terjadi. Beberapa gempa bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam gunung berapi. Gempa bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya letusan gunung berapi.

Beberapa gempa bumi, meskipun jarang, juga terjadi karena menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam. Sebagian kecil lagi juga dapat terjadi karena injeksi cairan dari / ke dalam bumi (contohnya pada beberapa pembangkit listrik tenaga panas bumi). Terakhir, gempa bumi juga dapat terjadi dari peledakan bahan peledak. Hal ini dapat membuat para ilmuwan memonitor tes rahasia senjata nuklir.

Sabda Rasulullah Tentang Bencana

Tentang bencana, Rasulullah SAW bersabda: “Wahai kaum Muhajirin ada lima hal yang akan mendatangkan bencana bagimu, aku berlindung kepada Allah agar engkau tidak menemuinya. Tidak tampak perbuatan keji di suatu kaum hingga diumumkannya, kecuali akan ditimpakan pada mereka penyakit menular dan penyakit lainnya yang belum ada sebelumnya. Mereka tidak mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan ditimpakan kekeringan, kelaparan, dan kekejaman dari penguasa mereka. Mereka tidak membayar zakat atas harta mereka kecuali akan dicegah hujan dari langit. Kalau bukan karena binatang ternak maka tidak akan turun hujan bagi mereka. Mereka tidak melanggar ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan menciptakan musuh dari golongan selain mereka yang akan menguasai dan merampas semua yang mereka miliki, jika para pemimpin mereka tidak menghukumi (perkara) dengan kitab Allah dan tidak mengambil yang terbaik dari apa yang diturunkan Allah, maka Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka. [HR Ibnu Majah dari Umar bin Khattab].

Hadits ini sangat menarik, karena menjelaskan 5 (lima) fenomena dalam kehidupan bermasyarakat yang merupakan tanda-tanda akan datangnya bencana yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW, yaitu:

1. Jika perbuatan keji sudah tampak dan dipublikasikan di berbagai media, ketika pornografi marak di mana-mana. Maka akan ada berbagai penyakit baru, antara lain HIV/AIDS, ISPA, anthrax, flu burung dan flu babi yang belum ada sebelumnya,

2. Jika takaran dan timbangan dikurangi, ketika praktik korupsi menjadi tradisi, ketika dana pembangunan dibocorkan, ketika mark up menjadi kebiasaan, maka kekeringan, kelaparan dan kekejaman penguasa akan terjadi. Hal ini semua sudah terbukti.

3. Ketika zakat tidak dibayar, ketika orang-orang sudah menimbun harta mereka, maka Allah akan mencegah turunnya hujan, kalau bukan karena kasih sayang Allah kepada makhluk selain manusia, maka tidak ada hujan sama sekali. Hal ini sering kita alami, sebaliknya kita sekarang sedang dalam kehujanan dan kebanjiran yang menimbulkan musibah.

4. Ketika ketentuan-ketentuan Allah dilanggar, ketika ajaran-ajaran Rasulullah SAW disepelekan, maka akan datang musuh kejam yang akan merampas segala yang dimiliki, baik nyawa maupun harta. Lihat saja perampokan dan terorisme.

5. Ketika para pemimpin jauh dari Kitabullah dan Sunnah Nabi, ketika mereka memuja dan memuji hedonisme, liberalisme, dan isme-isme lain yang bertentangan dengan agama, maka akan terjadi permusuhan di antara anak bangsa sendiri sehingga hilanglah rasa cinta kasih di antara mereka. Inilah malapetaka egoisme.

Belajar dari sabda Rasulullah SAW tersebut, kita seyogyanya menyadari bahwa bencana juga merupakan ulah mereka yang serakah, mengutamakan hidup dan nafsu untuk mengangkangi harta, dan tak peduli terhadap mereka yang miskin dan menderita, terutama mereka yang menjadi korban akibat bencana. Kita harus bisa mengakui bahwa musibah apapun halnya, adalah akibat kesalahan dan keteledoran kita bersama. Bangsa yang demikian adalah bangsa yang menghargai sesamanya yang telah ‘terkorbankan’ akibat bencana. Jika tidak, bukan mustahil akan datang bencana akan datang lebih dahsyat dan besar bagi bangsa ini.

Muhasabah

Kita telah mencermati beberapa fenomena dalam masyarakat dan fenomena alam seperti terjadinya bencana dan kepercayaan kita akan datangnya kiamat. Maka setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan dan merayakan Lebaran, hendaknya kita melakukan muhasabah, dengan mengevaluasi kegiatan kita sehari-hari dalam hidup menghadapi Lebaran yang kita rayakan selama ini.

Ustadz M. Ikhsan Tanjung dalam khotbah shalat Idulfitri 1431 H di komplek Laguna Radar AURI, Depok, mengemukakan fenomena menarik berkaitan dengan Lebaran. Dikatakan bahwa kesenangan Lebaran yang ditunggu-tunggu sepanjang tahun selama ini semuanya berakhir pasca Lebaran. Dan ini berulang sepanjang tahun selama berpuluh tahun. Kita rela bersusah-payah sepanjang tahun mengumpulkan tabungan, bermacet-macet di perjalanan yang rawan kecelakaan, berdesak-desakan di kendaraan umum – semuanya untuk kesenangan sesaat bersama keluarga dan kerabat di tempat mudik.

Kita semua tahu kesenangan itu akan segera berakhir. Kalau kita mau bekerja keras sepanjang tahun, mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk kesenangan sesaat yang namanya mudik Lebaran dan Lebaran, mengapa kita tidak mulai berpikir juga bekerja keras sepanjang tahun dan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk mudik kita yang abadi kelak?

Kita tentu merindukan ibu-bapak kita yang sudah tiada, anak-anak kitapun merindukan nenek-nenek dan kakek-kakek yang bahkan sering kasih sayangnya terhadap cucu-cucunya melebihi apa yang bisa kita berikan. Bila mereka menyiapkan masakan dan kue-kue Lebaran, targetnya bukan untuk kita anak-anaknya, tetapi untuk anak-anak kita yang adalah cucu-cucu mereka.

Kita bisa berkumpul kembali dengan mereka bila kita berusaha sekerasnya, karena Allah SWT menjanjikan pertemuan ini sebagaimana firman-Nya: “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” [QS Ath-Thuur (52): 21].

Maka ketika Lebaran yang sesaat ini berakhir, marilah mulai bekerja keras kembali, bukan untuk kesenangan yang sesaat tetapi mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk pulang kampung kita yang abadi. Demikian dikemukakan oleh Ustadz M. Ikhsan Tanjung.

Khatimah

Dengan memperhatikan kedua fenomena berkaitan dengan datangnya kiamat, yaitu fenomena dalam masyarakat dan fenomena alam yang kita bahas pada bagian depan tulisan ini, mungkin kiamat sudah dekat. Meskipun bukan kiamat global, setidaknya ‘kiamat regional’ telah terjadi di negeri Muslim terbesar di bumi ini, negeri yang penuh bencana, negeri yang tidak aman lagi karena penuh dengan kekerasan, kejahatan dan segala macam akhaqul qabihah.

Namun, setidaknya bagi kita yang Mukmin dan Muttaqiin, masih ada pilihan terbaik menghadapi kiamat yaitu mengerahkan segala sumber daya untuk mempersiapkan diri menjemput kesenangan abadi di kampung akhirat nanti.

Pada hari ini kita marilah bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyuk, bacaan Al-Qur’an yang sarat taddabur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar kita, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga kita, serta perbuatan baik kita terhadap sesama.

Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya. Hari ini adalah hari kita, kita ucapkan selamat tinggal masa lalu, tenggelamlah bersama mataharimu. Dan bukan esok hari, karena hari itu belum tentu datang. Masa depan masih dalam keghaiban. Kita tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan.

Umur kita mungkin tinggal hari ini. Hari yang saat ini mataharinya menyinari kita. Hari ini kita hendaknya dengan niat ikhlas mempersiapkan kesenangan yang bersifat kekal abadi di kampung akhirat nanti. Hari ini milik kita, manfaatkanlah hari ini sebaik-baiknya menjalani hidup yang benar, sehingga apabila ajal atau kiamat tiba kita sudah siap. Ini pulalah yang disebut khusnul khatimah.

(Hermanto Hs)