Minggu, 25 Januari 2015

MAKHLUK GHAIB

Allah yang Maha Kuasa telah menciptakan segala sesuatu dan manusia mengenali banyak dari ciptaan Allah itu. Pada awalnya orang berusaha memahami makhluk dengan inderanya; maka dia mengetahui adanya matahari, bulan, bintang-bintang, gunung, sungai, laut, batu, pohon dan lainnya. Manusia dengan kemampuan akalnya dapat menelaah dan memahami kedudukan matahari sebagai sumber energi, yang me-mancarkan cahaya dan ‘mengendalikan’ planet-planet termasuk bumi, sehingga berputar mengelilinginya dengan kecepatan tetap yang sangat tinggi. Manusia mengerti tahapan proses pertumbuhan pohon, caranya membesar, prosedur berkembangnya bunga dan buah. Dan Manusia mengetahui pergerakan air dari laut ke darat pulang balik. Air yang berkumpul di laut karena ditimpa panas matahari menguap, menjadi awan; angin membawanya ke darat. Maka ketika angin melintasi kawas-an tinggi, awan yang dibawanya naik ke tempat dingin, lalu mencair kembali dan turun sebagai hujan. Air itu masuk ke tanah melewati pori-porinya, disaring sehingga hilang sifat sadahnya, dilaruti mineral-mineral, kemudian ke luar lagi ke permukaan tanah, yang dimanfaatkan oleh tanaman, hewan dan manusia. Kemudian sesudah itu air mengalir me-lalui parit, sungai kecil sampai besar, sampai akhirnya kembali ke laut.

Pengetahuan manusia mengenai berbagai hal tersebut telah mengantarnya kepada kesadaran akan keteraturan dan harmoni alam, karena diatur dengan sempurna cermat oleh Allah Swt, dan kesadaran tersebut telah menggetarkan hati manusia untuk menyatakan: “Wahai Tuhan kami, sungguh tidak Engkau jadikan segala sesuatu ini dengan sia-sia. Maha Hebat Engkau, suci dari kesalahan dan kelemahan. Maka peliharalah kami dari pikiran yang sesat, yang akan memasukkan kami ke dalam neraka. (QS  Ali ‘Imran 3:  191).  Kemudian Allah menerangkan bahwa Dia telah ‘menundukkan’ unsur-unsur alam itu untuk manusia, se-hingga memberi banyak manfaat kepadanya.

Dalam QS Ibrahim 4: 32 disebutkan Allah menundukkan sungai-sungai untuk dilalui perahu yang mengantarkan orang ke berbagai tempat. Ayat 33 berikutnya menyatakan Allah menundukkan matahari dan bulan sehingga keduanya memancarkan sinar yang menerangi bumi pada waktu siang dan malam secara bergiliran; dengan penerangan itu orang dapat menempuh perjalanan di muka bumi dengan mudah. Allah Swt juga menundukkan bagi manusia, malam dan siang; malam sesuai untuk istirahat sedangkan siang cocok untuk bekerja keras. Allah Swt berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menun-dukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS Luqman 31: 20).

Pengetahuan manusia tentang berbagai jenis makhluk telah menjadikannya mengagumi Sang Pencipta yang Maha Sempurna. Se-makin banyak orang menguasai ilmu tentang alam semesta, mestinya semakin kukuh pula keyakinannya kepada Allah Swt. Semakin luas hal-hal yang tersingkap oleh ilmunya, semakin sadar pula dia betapa banyak yang belum diketahuinya. Allah menerangkan kepada manusia, bahwa selain dari makhluk-makhluk yang telah dan akan dia temukan pada suatu ketika, ada lagi ciptaan-Nya yang ghaib (mughayyabat) baginya.

Orang tidak akan pernah dapat mengenali makhluk tersebut dengan inderanya dan tidak pula dapat menganalisis dengan akal pikir-annya. Bakteri, bagian belakang bulan, arus listrik, bukanlah sesuatu yang ghaib, karena orang dapat mengetahui makhluk-makhluk tersebut dengan menggunakan alat dan teknologi tertentu. Sedangkan makhluk ghaib adalah makhluk yang orang hanya dapat mengetahuinya dari informasi yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya. Makhluk tersebut ada dan manusia wajib mempercayai adanya. QS Al-Baqarah 2: 3 menandaskan bahwa ciri pertama dari orang yang takwa adalah: beriman kepada yang ghaib. Mengimani hal-hal yang ghaib berarti meyakini keterangan Allah, dan dengan mempercayai seluruh informasi Allah maka orang akan mencapai tingkatan iman yang utuh atau kaffah. Melalui Al-Qur’an, Allah Swt menerangkan dua makhluk-Nya yang ghaib bagi manusia, yaitu malaikat dan jin. Keduanya adalah makhluk ruhiyah yang tidak mempunyai raga sebagaimana dipahami manusia dan keduanya sama-sama berakal. Rasulullah Saw menerangkan bahwa malaikat di-cipta Allah dari cahaya sedangkan jin dijadikan dari api (HR Muslim).

Penciptaan kedua makhluk itu berlangsung sebelum Allah Swt menciptakan manusia. Malaikat mempunyai naluri yang tunggal yaitu senantiasa patuh melaksanakan perintah Allah dan tidak pernah membantah-Nya. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang malaikat: “Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim 66: 6). Penegasan serupa dinyatakan pula di dalam QS An-Nahl 16: 50. Malaikat adalah para petugas Allah Swt yang bekerja dalam sistem organisasi yang baik. Mereka berkelompok berdasarkan tugasnya ma-sing-masing. Sebagian dari kelompok malaikat itu diberitakan kepada manusia, seperti Mikail, ‘Izrail, Raqib dan ‘Atid, karena tugas mereka berkenaan dengan manusia.

Dalam organisasi malaikat ada pangkat dan kedudukan tertentu. Dalam QS Fathir 35: 1 Allah Swt menggambarkan organisasi malaikat itu secara metaforik: “Mereka mempunyai sayap-sayap, dua, tiga atau empat pasang”. Jumlah sayap menggambarkan kedudukan masing-masing penyandangnya. Jibril adalah panglima seluruh malaikat; karena itu Rasulullah Saw menggambarkan bahwa beliau memiliki 600 pasang sayap (HR Muslim). Sebagai pemimpin tertinggi, maka Jibril mendapat kehormatan untuk menyampaikan wahyu Allah kepada Rasul-rasul-Nya. Makhluk ghaib yang lain adalah jin. Tidak seperti malaikat, mereka mem-punyai nafsu, sehingga ada yang baik dan ada yang buruk. Al-Qur’an menceritakan pengakuan jin tersebut: “Dan sesungguhnya di antara kami ada yang shaleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS Al-Jin 72: 11).

Karena bukan makhluk ragawi, jin tidak menyantap makanan yang lezat, tidak mengenakan pakaian yang mewah, tidak pula tinggal di rumah megah. Tetapi jin ingin dihormati, senang diikuti, baik oleh jin lain maupun oleh manusia. Sebagaimana manusia, jin diberi kebebasan oleh Allah Swt untuk berkehendak dan melaksanakan kehendaknya itu. Maka seperti manusia pula, jin harus mempertanggungjawabkan sikap dan perbuatannya dalam kehidupan dunia, langsung kepada Allah. Akhirnya di antara golongan jin itu ada yang menghuni surga dan ada pula yang menjadi penghuni neraka. Mengenai kelompok penghuni neraka ini Al-Qur’an menyatakan: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia.” (QS Al-A’raaf 7: 179). Sebagaimana yang telah kita bahas di atas, Malaikat adalah petugas Allah. Kedudukan itu akan tetap mereka sandang, kelak di alam akhirat. Mereka bukanlah penghuni surga bukan pula neraka. Sebagian mereka akan berada di tempat-tempat tersebut sebagai operatornya.

Jin yang sangat buruk perangainya adalah Iblis. Golongan ini sedemikian sombongnya sehingga berani menolak perintah Allah untuk memberikan penghormatan kepada cikal bakal manusia yang telah dite-tapkan sebagai khalifah fil ardhi yaitu Adam As. Bahkan ketika Allah bertanya mengapa dia bersikap demikian, iblis menjawab terus terang dan tanpa ragu: “Aku lebih baik dari Adam. Engkau cipta aku dari api sedangkan dia Engkau jadikan dari tanah. QS Al-A’raaf 7: 12. Maka Allah menetapkan iblis sebagai penghuni neraka dan akan kekal di kancah siksaan tersebut.

Adapun syeitan (syaithon) adalah jin dan manusia yang bersikap buruk dan membujuk makhluk-makhluk lain mengikutinya. Al-Qur’an menerangkan bahwa syeitan itu: “Yang membisik-bisikkan keburukan ke dalam hati manusia. Mereka berasal dari golongan jin dan manusia.” (QS An-Naas 114: 5-6). Kemampuan syeitan hanya membujuk, merayu, menipu, untuk mempengaruhi makhluk lain berbuat keburukan. Syeitan tidak selalu dapat memaksa siapapun untuk memenuhi kehendaknya. Hal ini disebabkan karena Al-Qur’an telah menegaskan: “Sesungguhnya syeitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan berserah diri kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang mengangkatnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukan dia dengan Allah.” (QS An-Nahl 16: 99-100). Demikian ditegaskan bahwa syeitan akan lemah menghadapi orang-orang yang beriman. Dengan kata lain orang beriman tidak akan ‘kemasukan syeitan’.

Sakib Machmud
No. 2-003

Kamis, 15 Januari 2015

AKIDAH, LANDASAN AGAMA ISLAM

Agama Islam berdiri di atas landasan Akidah, yang secara harfiah berarti simpul atau ikatan. Aqidah Islam adalah keyakinan pokok yang mengikat seluruh ajaran sehingga setiap informasi dan ketetapan Islam adalah  penjabaran dari keyakinan pokok tersebut. Aqidah Islam berpangkal pada dua kalimah syahadat, yaitu Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul.

Syahadat Tauhid menyatakan: “Aku menyatakan kebenaran yang aku yakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.” Para ulama me-nyatakan bahwa kalimat Syahadat Tauhid tersebut mencakup dua pengertian, yakni Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah.


Pertama yaitu Tauhid Rububiyah, yang menyatakan bahwa Allah adalah Rabb  - Tuhan Pencipta, Pengatur, Pembina, dan Pelindung alam semesta beserta segala isinya. Dia bukan seperti pembuat arloji, radio atau televisi, yang setelah ciptaannya wujud lalu tidak peduli lagi apakah barang buatannya itu dipakai orang, dirusak atau dibuang. Pada ayat panjang dalam yang dikenal sebagai ‘Ayat Kursi’, dinyatakan bahwa Allah itu hidup kekal dan senantiasa mengurus makhluk-Nya, tanpa pernah mengantuk apalagi tertidur. Segala yang berada di langit dan di bumi (alam semesta) adalah milik Allah Yang Maha Pencipta. Allah mengetahui segala sesuatu, dan kekuasaan-Nya mencakup pengaturan segala proses yang berlangsung di alam semesta. Allah tidak merasa berat memelihara seluruh alam karena Dia Maha Yang Tinggi dan Maha Agung. Itulah pengertian Tauhid Rububiyah. (QS Al-Baqarah 2: 255).

Kedua, yaitu Tauhid Uluhiyah, yang menyatakan bahwa karena kedudukannya sebagai Tuhan Semesta Alam (Rabbul ‘alamin), maka hanya Allah yang diakui sebagai Ilah (yang disembah, yang dimintai secara hakiki yang menjadi sandaran dan tempat manusia berserah diri). Dalam kedudukannya sebagai Rabb, Allah Swt mengatur seluruh unsur yang membentuk alam, sedemikian sehingga setiap unsur berinteraksi dengan unsur lainnya dengan cara tertentu dan dengan hasil tertentu, yang secara keseluruhan menyusun harmoni alam semesta.

Allah Swt mengatur bumi mengelilingi matahari dalam waktu yang tetap dan pasti. Allah Swt mengatur sinar matahari sedemikian sehingga sampai di bumi dengan kadar yang tetap dan sesuai dengan kebutuhan makhluk bumi. Allah Swt juga mengatur aliran udara sehingga bergerak dari tempat yang lebih rapat ke tempat yang kurang rapat. Gerakan udara, yang disebut angin itu mendorong awan untuk bergerak pula; maka ketika awan itu harus naik karena melintasi pegunungan atau mengalami suatu keadaan alamiah tertentu, dia berubah sifat lalu turun sebagai air hujan. Sebagian air hujan itu meresap ke dalam tanah, me-rembes dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, melarutkan bermacam-macam zat dan mineral yang dikandung oleh tanah, kemudian bergerak lagi melalui akar-akar tumbuhan, sebagian diserap dan mengalir ke seluruh bagian tumbuh-tumbuhan itu ‘mem-bagikan’ zat-zat yang telah larut di dalamnya, yang dibutuhkan oleh tumbuhan itu.

Seluruh sifat yang ada pada setiap unsur alam, dan segenap proses yang berlangsung sebagai akibat interaksi unsur-unsur di dalam alam, disusun dan diatur oleh Allah dan merupakan hukum-hukum Allah. Hukum Allah untuk alam itu disebut dalam QS Al-Fath 48: 23 sebagai Sunnatullah atau Taqdir dalam QS Al-Furqaan 25: 2. Manusia adalah salah satu jenis makhluk Allah, karena itu tunduk dan terikat sepenuhnya kepada Sunnatullah yang berlaku untuk komponen alam lainnya seperti hukum gravitasi, daya kapiler dan sebagainya. Tetapi, manusia mem-punyai perbedaan fundamental dibandingkan makhluk lainnya. Manusia memiliki kesadaran ruhaniah, dan dengan kesadarannya itu, dia dapat memahami segala sesuatu yang berada atau berlangsung di sekitarnya.

Kisah yang memperlihatkan kelebihan Nabi Adam As terhadap Malaikat disebutkan dalam QS Al-Baqarah 2: 30-33, adalah sebuah metaphora untuk menyatakan bahwa kemampuan yang dimiliki manusia dan sekaligus menjadi kelebihannya ialah nadhar (nalar). Nalar adalah kemampuan menganalisis segala fenomena yang tertangkap oleh panca inderanya. Karena kemampuan nalarnya itulah manusia ditetapkan Allah  Swt sebagai khalifah fil ardhi - petugas Allah yang bertanggungjawab memimpin perkembangan alam, di samping sebagai 'Abdullah (hamba Allah yang harus melaksanakan perintah dan ketetapan hukum-Nya). Sebagai makhluk yang memiliki nalar, manusia memerlukan hukum-hukum yang khusus baginya, yang tidak diturunkan kepada makhluk lainnya. Hukum itu bukan sekedar suatu ketetapan yang dilaksanakan secara pasif, melainkan yang dapat dimengerti, yang dapat ditangkap dengan akal pikirannya, untuk dilaksanakan sesuai kemampuan.

Karena itu, sesuai dengan kebutuhan manusia, maka Allah Swt menurunkan Ad-Din - agama, yang diwahyukan kepada orang-orang yang Dia pilih di antara manusia sendiri. Yang ditunjuk untuk membawa wahyu adalah Jibril, panglima seluruh malaikat, sedang yang menerima wahyu  (An-Nabaa’), yang berarti berita besar, disebut Nabi. Karena Nabi diperintahkan untuk menyampaikannya lagi kepada ummat, maka pe-nyampainya disebut Rasul yang berarti utusan.

Tentu saja Allah Kuasa menyampaikan keterangan dan hukum-Nya itu dengan cara-cara lain. Misalnya Allah dapat menuliskannya di langit dengan tulisan yang terbaca oleh setiap orang dengan bahasanya masing-masing, atau dalam bentuk suara guruh yang keras, yang ter-dengar oleh semua orang dengan pemahaman yang sama. Bahkan Allah Swt dapat menanamkan sifat umum pada diri manusia, untuk mengerti apa yang Allah kehendaki, dan patuh melaksanakannya. Namun cara demikian tidak akan sesuai dengan hakikat manusia sebagai makhluk yang berakal. Maka Allah mengutus para Rasul, yang bertugas menyampaikan petunjuk yang diwahyukan kepadanya, dan memberikan penjelasan yang diperlukan dan menjadikan dirinya sebagai suri teladan di dalam melaksanakan ketetapan yang terdapat dalam wahyu Allah tersebut.

Berbagai Rasul telah diutus Allah sejak dahulu, dimulai dari Adam As sebagai Rasul yang pertama. Sesudah Adan As, diutus Rasul-rasul sehingga setiap ummat mempunyai Rasul. Perhatikan QS Ar-Ra’d 13: 7, QS An-Nahl 16: 63, QS Fathir 35: 24, QS Yunus 47: 10. Dan ketika Allah Swt mengutus Muhammad Saw, Allah menetapkan beliau selaku Rasul yang terakhir. Maka sebagai satu kesatuan dengan Syahadat Tauhid, seorang Mukmin mengucapkan pula Syahadat Rasul yaitu: “Aku menyatakan kebenaran yang aku yakini bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Dalam pernyataan ini, Muhammad hanya disebut sebagai Rasul Allah, bukan satu-satunya Rasul Allah. Ini berarti bahwa seorang Mukmin mengakui pula adanya utusan-utusan lain. Keterangan bahwa setiap ummat pada masa sebelumnya juga mempunyai Rasul, yang menunjukkan bahwa banyak Rasul yang diutus Allah kepada manusia. Kita tidak tahu jumlah mereka sesungguhnya, karena Al-Qur’an tidak menyatakannya. Tetapi 25 (duapuluh lima) orang di antaranya disebut di dalam Al-Qur’an, maka yang harus diimani adalah 25 Rasul tersebut. Sebagian dari mereka bukan hanya disebut namanya, tetapi juga diceriterakan riwayat perjuangannya, bahkan ada di antara mereka yang diceriterakan sangat rinci.

Di dalam Al-Qur’an kita temui riwayat Nabi-nabi Adam As, Nuh As, Hud As, Shalih As, Ibrahim As, Ya’kub As. Yusuf As, Musa As, Dawud As, Sulaiman As, ‘Isa As, dan lainnya. Rasul-rasul tersebut mengemban tugas yang sama yakni menyampaikan informasi, nilai dan norma, serta petunjuk dari Allah untuk manusia. Informasi terpenting yang disampai-kan oleh semua Rasul adalah tauhid, ke-Maha Esaan Allah. Menarik untuk diperhatikan bahwa pernyatan Nabi Nuh As dalam QS Al-‘Araaf 7 pada ayat 59, Nabi Hud As pada ayat 65, Nabi Shaleh As pada ayat 73, dan Syu’aib As pada ayat 85, diberitakan Al-Qur’an dengan kalimat yang persis sama yaitu: “Wahai kaumku abdikan dirimu kepada llah. Tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.” Nama para Rasul yang disebut namanya dalam surah Al-A’raaf tersebut merupakan representasi semua Rasul Allah, di mana setiap mereka mengajarkan tauhid. Rincian norma dan hukum yang dibawa oleh masing-masing Rasul mungkin berbeda-beda karena tingkat persoalan dan tingkat kemajuan yang setiap kaum dan setiap generasi juga berbeda-beda, sehingga  petunjuk untuk mengha-dapinya juga berbeda satu sama lain.

Tetapi sebagaimana yang telah kita bahas, semua yang mereka terima dan mereka sampaikan kepada ummat berada di atas landasan yang sama yaitu tauhidullah. Sebagian Rasul menerima wahyu yang lengkap, yang menyampaikan aqidah sampai dengan ketetapan hukum, dalam sebuah sistem yang padu. Himpunan wahyu yang demikian disebut Al-Kitab. Al-Qur’an menyebut empat Kitab Allah yaitu Taurat, diturunkan kepada Nabi Musa As, Zabur, diwahyukan kepada Nabi Dawud As, Injil, diajarkan oleh Nabi ‘Isa As, dan Al-Qur’an, disampaikan Nabi Muhammad Saw. Wahyu-wahyu kepada Rasul yang lain adalah  yang diperlukan manusia untuk menghadapi persoalan pada waktu dan di tempat wahyu diturunkan.

Agama yang dibawa oleh Muhammad Saw, seperti halnya aga-ma Nabi Ibrahim adalah agama fitrah, yaitu agama yang sejalan dan serasi dengan kecenderungan manusia sendiri. Manusia memiliki kecen-derungan naluriah untuk ber-Tuhan, maka agama mengajar manusia untuk menemukan Tuhan yang haq, yang benar. Manusia cenderung untuk berpikir dan menganalisis segala sesuatu, maka agama justru mendorongnya agar berpikir dengan jernih dan runtut, sehingga akhirnya akal pikirannya mampu memahami dengan penghayatan penuh Tuhan yang sejati, sebagaimana diterangkan oleh wahyu.

Dengan berpikir jernih manusia akan dapat mengerti bahwa agama yang disampaikan oleh Rasulullah Saw adalah agama yang benar (QS Ar-Ruum 30: 30). Wahyu Allah Swt tidak membawa manusia untuk memisahkan diri dari kenyataan lingkungan, akan tetapi justru mengajaknya memperhatikan segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh inderanya. Akal pikiran dibawa memperhatikan betapa luas, indah dan manfaat, segala sesuatu yang berada di lingkungannya yaitu: langit, bumi, gunung, flora dan fauna (QS Al-Ghaasiyah 88: 17-22). Akal pikiran manusia dibawa merenungkan proses yang berlangsung sehari-hari di sekitar dirinya, namun tidak terperhatikan sehingga tidak memberikan makna apa-apa.

Proses tersebarnya bijih ke dalam tanah kemudian bijih itu berkutat ke luar dari lembaga yang menjadi tempat perlindungannya, untuk mencari makanan yang tersimpan di dalam tanah, tumbuh menjadi tanaman kecil, berakar yang menyerap air, berdaun yang mencari sinar, untuk kemudian berbunga dan berbuah (QS Al-Waaqi'ah 56: 63-65). Pikiran dibawa memperhatikan air yang turun dari awan dengan proses peredarannya di atas maupun di bawah permukaan bumi. Air yang ketika turun bersifat sadah itu setelah disaring oleh tanah dan dilaruti berbagai mineral muncul kembali sebagai air yang jernih yang dapat dimanfaatkan sebagai minuman segar bagi manusia dan hewan (QS Al-Waaqi'ah 56: 68-70).

Akal diajak agar memperhatikan api (QS Al-Waaqi'ah 56: 71-72), pergantian malam dan siang, yang kesemuanya beredar pada lin-tasannya masing-masing (Al-Anbiyaa’ 21: 33). Akal dan pikiran diajak merenungkan segala benda dan kejadian, baik yang terdapat di seluruh penjuru langit maupun di dalam diri sendiri, sehingga dapat menghayati ayat-ayat Allah, yaitu tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya, lalu dengan penghayatannya akan eksistensi Allah itu akan menjadikan dia mau menerima agama yang benar (QS Fushshilat 41: 53). Manusia me-nerima dua bentuk ayat atau tanda keagungan Allah, yakni ayat yang dapat ditemukan manusia sendiri di alam yang disebut oleh ulama sebagai ayat Kauniyah, dan ayat yang sudah dirumuskan Allah pribadi dan terhimpun dalam Al-Qur’an, disebut ayat Tanziliah  atau Qauliyah.

Dari uraian tersebut di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pada dasarnya manusia memerlukan petunjuk dari Allah Swt, dan Allah menurunkan petunjuk tersebut sehingga akal pikiran dan seluruh kemampuan manusia dapat bergerak maju ke arah yang benar, yaitu ibadah - mengabdi kepada Allah. Ibadah merupakan konsekuensi logis dari pengakuan kita terhadap ke-Maha Esaan Allah sebagai Pencipta, Penguasa, Pemilik dan Penentu alam semesta termasuk manusia.

Pengertian ibadah bukan hanya menyembah Allah, akan tetapi melakukan segala kegiatan atas dasar niat mencari perkenan (ridha) Allah, dan kegiatan itu dilakukan dengan mengacu kepada nilai dan norma yang ditetapkan oleh Allah. Ibadah meliputi semua bidang dan dilakukan di sepanjang waktu dari kehidupan manusia. Ibadah mencakup kegiatan pengabdian ritual (ibadah mahdhah atau ‘ubudiah), dan pengabdian kepada Allah Swt dengan cara melaksanakan tugas sebagai khalifah di bumi, yaitu berinteraksi positif dengan sesama makhluk (ibadah ghairu mahdhah atau mu’amalah).

Dengan demikian pengembangan peradaban itu, yang dilakukan secara individual maupun bersama-sama, bagi seorang Muslim harus merupakan bagian dari ibadah mu’amalah-nya. Ada dua syarat dalam beribadah. Pertama, niatnya tulus, hanya karena Allah semata-mata. Kedua, sebagai konsekuensi syarat pertama: dilaksanakan dengan me-menuhi ketentuan-ketentuan pokok yang terdapat dalam dua sumber ajaran Islam yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah atau Al-Hadits. Perlu kita perhatikan bahwa meskipun ummat Islam meletakkan peradabannya pada ketentuan baku, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan tetapi ketetapan baku itu sendiri memberi ruang yang seluas-luasnya bagi akal pikiran untuk mengembangkan interpretasi serta penjabaran ketentuan-ketentuan yang pasti dan tetap itu ke dalam norma-norma operasional yang dinamik. Kewenangan manusia untuk menafsir dan merinci itu disebut ijtihad, yang merupakan milik dinamik ummat Islam karena di sana terletak kebebasan yang didorong - tetapi sekaligus dipagari - oleh norma Ilahiah. Dengan ijtihad yang dilakukan secara jujur dan terbuka, kaum Muslimin mengembangkan peradaban yang telah terbukti dalam sejarah menjadi peradaban yang maju dalam arti bermanfaat bagi kemanusiaan dan bagi alam secara keseluruhan.
 
Sakib Machmud
No. 2-002

Senin, 05 Januari 2015

AGAMA DAN BERAGAMA

Menurut fitrahnya, manusia adalah makhluk beragama. Hanya saja tidak semua orang menyadarinya. Kita katakan ini bukan karena kita sudah menganut suatu agama, melainkan karena pangkal kefitrahan manusia, yaitu naluri alamiahnya untuk menyembah atau mengabdi kepada suatu objek atau wujud yang dipandangnya lebih tinggi, atau yang menguasai dirinya. Pandangan kefitrahan mengenai agama ini, bukan hanya definisi kaum agamawan, tetapi juga sudah dielaborasi oleh psikologi yang menyimpulkan bahwa manusia secara naluriah adalah mahkluk beragama, karena beragama adalah kebutuhannya.
 
Dan sesungguhnya tidak ada manusia yang hidup tanpa agama yang orientasi dan objeknya adalah pengabdian kepada sesuatu yang dipandang lebih tinggi, yang dijadikan Tuhannya. Kesimpulan tersebut menegaskan, dari definisi psikologis ini, persoalannya bukan pada apa-kah seseorang itu beragama atau tidak, melainkan agama apakah yang dianutnya, yaitu apakah agama itu akan mendukung perkembangan potensi kemanusiaannya atau sebaliknya malahan melumpuhkannya.
Dan sesunggguhnya pula banyak sekali persoalan hidup manusia tidak dapat diatasi oleh manusia sendiri. Misalnya ketika manusia menghadapi goncangan jiwa yang amat dahsyat, banyak orang yang tidak mampu memecahkannya, tidak sedikit yang mengalami stres dan bunuh diri, atau mengambil jalan pintas dengan melakukan tindak kejahatan, demi mengatasi masalah yang dihadapinya. Ketika manusia membutuhkan aturan hidup yang sempurna, mereka membuat aturan-aturan hidup yang dibuatnya sendiri. Satu kelompok menerima aturan itu, kelompok yang lain menolak. Di satu pihak merasa diuntungkan, tetapi yang lain merasa dirugikan, sehingga sering kali aturan itu bertentangan dengan fitrahnya. Bagi mereka yang mengaku beragama Islam, tidak sedikit yang kurang mendalami ilmu yang mengajarkan tentang Tuhan, dan tidak sedikit di antara mereka yang kurang mengenal Tuhan, sehing-ga ajaran agama Tuhan dirasakan sebagai tekanan, paksaan, beban yang menyiksa dan menyempitkan gerak langkah manusia. Karena itu kita perlu mengenal siapa sebenarnya Tuhan itu.

Kita ummat Islam harus meyakini bahwa Islam adalah tuntunan hidup yang datang dari Allah Yang Menciptakan Alam Semesta. Islam adalah agama yang diperlukan agar hidup terarah, teratur, terpelihara, dan terpuji di dunia, dan selamat di akhirat. Kehidupan seperti itu dapat dirasakan, jika didasari pengakuan kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, sehingga, karena itulah Islam dinamakan agama Tauhid, yakni ber-Tuhan Satu, tidak mengakui dan tidak membenarkan adanya Tuhan selain Allah.

Itulah dasar agama Islam sebagaimana disebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an: “Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan mohon ampunlah atas dosamu dan dosa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, dan Allah mengetahui tempat perpindahanmu dan menetapmu.” (QS Muhammad 47: 19). Sejak Nabi Adam As tampil di dunia sampai sekarang, semua nabi dan rasul, dan para ulama selalu meng-ajarkan agama Tauhid ini, sebagaimana firman-Nya: “Dan Kami tidak mengutus rasul sebelummu kecuali Kami berikan wahyu kepadanya, bahwa tak ada Tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu menyembah Aku.” (QS Al-Anbiyaa’ 21: 25).

Maka jelas bagi kita, bahwa semua rasul, nabi dan kita ummat manusia seluruhnya harus dan wajib mengetahui, mengimani dan meyakini ke-Esaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang harus dan wajib disembah. Untuk mengetahui dan mengenal Tuhan, diperlukan kesungguhan, kesabaran, keuletan, dan kemauan yang kuat. Memang tidaklah mudah untuk meyakini adanya Allah, Tuhan Yang Masa Esa itu, karena: 1) Allah tidak memperlihatkan wajah-Nya, 2) Allah itu ghaib; artinya tidak kelihatan, tidak nampak dengan indera. Kita biasa melihat, meraba, merasa, mencium, dan sebagainya dengan pancaindera, tetapi kita jarang melatih diri dengan akal kita untuk mengkaji ke arah yang ghaib. Iman kepada Allah itu adalah suatu syarat mutlak untuk mencapai dan mendapatkan keindahan dan kenikmatan kehidupan di dunia ini sampai di akhirat nanti. Allah Swt menginginkan supaya orang yang beriman merasakan karunia-Nya. Allah Swt ingin menyempurnakan nikmat-Nya kepada orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya: “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tapi hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur. (QS Al-Maaidah 5: 6).

Demikian pentingnya kita menyadari bahwa Allah sangat mencintai manusia. Namun sebaliknya kita manusia justru tidak atau kurang menyadari tentang Alllah, atau dengan kata lain Tauhidnya kurang, sehingga kurang merasakan indahnya iman, kurang merasakan adanya keuntungan dari hukum dan ketentuan Allah Swt. Untuk itulah, kita perlu belajar Ilmu Tauhid, dan menyadari bahwa kita datang ke dunia ini tidak membawa apa-apa sampai diberi segala kebutuhan kita di dunia. Maka, kita harus tahu siapa yang memberi itu, yaitu Allah Swt. Kita harus mengerti kedudukan Allah, kemauan, kebesaran, kekuasaan, kekayaan, ilmu, dan kerajaan Allah, hubungan Allah dengan manusia, apa untung dan ruginya jika tidak berhubungan dengan Allah. Dan kita harus tahu sedihnya siksaan Allah, dan mengerti kemurahan dan kasih sayang-Nya.

Karena itu, alangkah bijaksananya jika dalam kesibukan apapun, kita bisa meluangkan waktu untuk merenungkan kembali pemahaman kita terhadap agama yang kita anut selama ini, karena mungkin ada sesuatu yang terlewat. Kita perlu belajar kembali ibarat seorang bayi yang baru dilahirkan dari keluarga Muslim sekalipun, dalam menjalani hidupnya. Sesungguhnya dia hanya berbekal naluri untuk melanjutkan hidupnya sampai menjadi seorang dewasa yang mandiri. Untuk itu dibutuhkan tahapan-tahapan yang memakan waktu relatif panjang untuk memahami hakikat hidup di dunia, dan mempersiapkan diri untuk hidup di hari kemudian.

Betapapun mulianya seorang bayi, apakah dia anak seorang bangsawan, jenderal atau penguasa negeri, ketika lahir tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, misalnya saja dalam urusan makan. Seorang ibu, secara arif naluriah akan memberi makan buah hatinya itu secara bertahap disesuaikan dengan tingkat usia dan kemampuan fisik si bayi. Hari-hari pertama sesudah kelahirannya hanya air susu yang boleh dikonsumsikan. Kemudian di usia empat bulan ditambah dengan bubur susu dan biskuit. Di atas enam bulan diberi tambahan bubur nasi. Setelah berusia satu tahun baru diberikan nasi tim dan kemudian nasi biasa, dan seterusnya.

Demikian pula berdakwah kepada mereka yang hidup dalam lingkungan materialistis, individualistis dan hedonis, harus berbeda kiat dan caranya dengan berdakwah kepada ahli masjid dan penuntut dan pengamal ilmu (ahlul ilmi). Apabila kepada seseorang yang hidupnya terjauh dari agama, penuh amalan bid’ah dan maksiat, kepadanya langsung diberikan dakwah yang salafy - sesuai yang diamalkan para pendahulu yang shaleh - tanpa melalui tahapan-tahapan, maka ibarat memberikan makanan masakan Padang kepada bayi yang baru dilahirkan. Tentu saja dia tidak akan bisa menerimanya. Dia akan memuntahkan, kapok, trauma, tidak mau makan lagi, karena terlalu pedas baginya, gigi belum siap mengunyah, dan ususpun belum siap mencernanya.

Kita harus menyadari bahwa menjadikan bangsa ini menjadi bangsa ‘beragama’ dan ‘mengenal Tuhan’, yang perlu diperbaiki adalah kemampuan para ulama untuk menyampaikan dakwah Islam secara tepat, dan memberikan suri teladan yang benar sesuai apa yang telah diajarkannya di samping kemauan dan kemampuan kita sendiri. Para ulama harus bisa menjawab tantangan bahwa tugas mereka bukan hanya menyampaikan dakwah, melainkan juga memberikan keteladanan dan merumuskan langkah yang tepat dalam penerapannya.

Apakah manfaat ajaran Islam jika tidak bisa diterapkan secara hakiki di kalangan ummat Islam sendiri, sementara ini umara dan ummat Islam menerapkan sistem di bidang sosial, politik dan ekonomi, hukum, dan lainnya, yang bukan dari ajaran Islam? Di sinilah peran para ulama yang harus selalu mengingatkan dan menasihati para umara dan ummat apabila terdapat kekeliruan dalam beragama.

Bagaimana kita memandang bangsa lain yang non Muslim tetapi bisa membangun masyarakat dengan tertib dan hidup sejahtera? Alangkah malunya kita memiliki agama Islam yang sempurna, tetapi masyarakatnya bobrok. Meskipun Indonesia bukan negara Islam atau negara sekuler yang memberlakukan syariat Islam bagi pemeluknya, apakah kita tidak merasa perlu menjadikan syariat Islam diterapkan oleh ummat Islam secara optimal dalam kehidupan bermasyarakat? Dengan patuhnya ummat Islam melaksanakan syariatnya, maka ummat beragama lain akan terlindungi hak-haknya, karena Islam mengajarkan demikian.

Untuk bisa melaksanakan syariat Islam dengan baik, tentu kita harus mengetahui apakah agama Islam itu. Pada tulisan berikutnya kita akan mempelajari hal-hal yang pokok dan penting tentang agama Islam dan implementasinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Hermanto Harsolumakso
No. 2-001