Allah
yang Maha Kuasa telah menciptakan segala sesuatu dan manusia mengenali banyak
dari ciptaan Allah itu. Pada awalnya orang berusaha memahami makhluk dengan
inderanya; maka dia mengetahui adanya matahari, bulan, bintang-bintang, gunung,
sungai, laut, batu, pohon dan lainnya. Manusia dengan kemampuan akalnya dapat
menelaah dan memahami kedudukan matahari sebagai sumber energi, yang
me-mancarkan cahaya dan ‘mengendalikan’ planet-planet termasuk bumi, sehingga
berputar mengelilinginya dengan kecepatan tetap yang sangat tinggi. Manusia
mengerti tahapan proses pertumbuhan pohon, caranya membesar, prosedur
berkembangnya bunga dan buah. Dan Manusia mengetahui pergerakan air dari laut
ke darat pulang balik. Air yang berkumpul di laut karena ditimpa panas matahari
menguap, menjadi awan; angin membawanya ke darat. Maka ketika angin melintasi
kawas-an tinggi, awan yang dibawanya naik ke tempat dingin, lalu mencair
kembali dan turun sebagai hujan. Air itu masuk ke tanah melewati pori-porinya,
disaring sehingga hilang sifat sadahnya, dilaruti mineral-mineral, kemudian ke
luar lagi ke permukaan tanah, yang dimanfaatkan oleh tanaman, hewan dan
manusia. Kemudian sesudah itu air mengalir me-lalui parit, sungai kecil sampai
besar, sampai akhirnya kembali ke laut.
Pengetahuan manusia mengenai berbagai hal tersebut telah
mengantarnya kepada kesadaran akan keteraturan dan harmoni alam, karena diatur
dengan sempurna cermat oleh Allah Swt, dan kesadaran tersebut telah
menggetarkan hati manusia untuk menyatakan: “Wahai Tuhan kami, sungguh tidak
Engkau jadikan segala sesuatu ini dengan sia-sia. Maha Hebat Engkau, suci dari
kesalahan dan kelemahan. Maka peliharalah kami dari pikiran yang sesat, yang
akan memasukkan kami ke dalam neraka. (QS Ali ‘Imran 3:
191). Kemudian Allah
menerangkan bahwa Dia telah ‘menundukkan’ unsur-unsur alam itu untuk manusia,
se-hingga memberi banyak manfaat kepadanya.
Dalam
QS Ibrahim 4: 32 disebutkan Allah menundukkan sungai-sungai untuk dilalui
perahu yang mengantarkan orang ke berbagai tempat. Ayat 33 berikutnya
menyatakan Allah menundukkan matahari dan bulan sehingga keduanya memancarkan
sinar yang menerangi bumi pada waktu siang dan malam secara bergiliran; dengan
penerangan itu orang dapat menempuh perjalanan di muka bumi dengan mudah. Allah
Swt juga menundukkan bagi manusia, malam dan siang; malam sesuai untuk
istirahat sedangkan siang cocok untuk bekerja keras. Allah Swt berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah
telah menun-dukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di
bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara
manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau
petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS Luqman 31: 20).
Pengetahuan
manusia tentang berbagai jenis makhluk telah menjadikannya mengagumi Sang
Pencipta yang Maha Sempurna. Se-makin banyak orang menguasai ilmu tentang alam
semesta, mestinya semakin kukuh pula keyakinannya kepada Allah Swt. Semakin
luas hal-hal yang tersingkap oleh ilmunya, semakin sadar pula dia betapa banyak
yang belum diketahuinya. Allah menerangkan kepada manusia, bahwa selain dari
makhluk-makhluk yang telah dan akan dia temukan pada suatu ketika, ada lagi
ciptaan-Nya yang ghaib (mughayyabat) baginya.
Orang
tidak akan pernah dapat mengenali makhluk tersebut dengan inderanya dan tidak
pula dapat menganalisis dengan akal pikir-annya. Bakteri, bagian belakang
bulan, arus listrik, bukanlah sesuatu yang ghaib, karena orang dapat mengetahui
makhluk-makhluk tersebut dengan menggunakan alat dan teknologi tertentu.
Sedangkan makhluk ghaib adalah makhluk yang orang hanya dapat
mengetahuinya dari informasi yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya. Makhluk
tersebut ada dan manusia wajib mempercayai adanya. QS Al-Baqarah 2: 3
menandaskan bahwa ciri pertama dari orang yang takwa adalah: beriman kepada
yang ghaib. Mengimani hal-hal yang ghaib berarti meyakini keterangan Allah, dan
dengan mempercayai seluruh informasi Allah maka orang akan mencapai tingkatan
iman yang utuh atau kaffah. Melalui Al-Qur’an, Allah Swt menerangkan dua
makhluk-Nya yang ghaib bagi manusia, yaitu malaikat dan jin. Keduanya adalah
makhluk ruhiyah yang tidak mempunyai raga sebagaimana dipahami manusia
dan keduanya sama-sama berakal. Rasulullah Saw menerangkan bahwa malaikat
di-cipta Allah dari cahaya sedangkan jin dijadikan dari api (HR Muslim).
Penciptaan
kedua makhluk itu berlangsung sebelum Allah Swt menciptakan manusia. Malaikat
mempunyai naluri yang tunggal yaitu senantiasa patuh melaksanakan perintah
Allah dan tidak pernah membantah-Nya. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang
malaikat: “Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS At-Tahrim 66: 6). Penegasan serupa dinyatakan pula di dalam QS An-Nahl
16: 50. Malaikat adalah para petugas Allah Swt yang bekerja dalam sistem
organisasi yang baik. Mereka berkelompok berdasarkan tugasnya ma-sing-masing.
Sebagian dari kelompok malaikat itu diberitakan kepada manusia, seperti Mikail,
‘Izrail, Raqib dan ‘Atid, karena tugas mereka berkenaan dengan manusia.
Dalam
organisasi malaikat ada pangkat dan kedudukan tertentu. Dalam QS Fathir 35: 1
Allah Swt menggambarkan organisasi malaikat itu secara metaforik: “Mereka
mempunyai sayap-sayap, dua, tiga atau empat pasang”. Jumlah sayap
menggambarkan kedudukan masing-masing penyandangnya. Jibril adalah panglima
seluruh malaikat; karena itu Rasulullah Saw menggambarkan bahwa beliau memiliki
600 pasang sayap (HR Muslim). Sebagai pemimpin tertinggi, maka Jibril mendapat
kehormatan untuk menyampaikan wahyu Allah kepada Rasul-rasul-Nya. Makhluk ghaib
yang lain adalah jin. Tidak seperti malaikat, mereka mem-punyai nafsu, sehingga
ada yang baik dan ada yang buruk. Al-Qur’an menceritakan pengakuan jin
tersebut: “Dan sesungguhnya di antara kami ada yang shaleh dan di antara
kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Kami menempuh jalan yang
berbeda-beda.” (QS Al-Jin 72:
11).
Karena bukan makhluk ragawi, jin tidak menyantap makanan
yang lezat, tidak mengenakan pakaian yang mewah, tidak pula tinggal di rumah
megah. Tetapi
jin ingin dihormati, senang diikuti, baik oleh jin lain maupun oleh manusia.
Sebagaimana manusia, jin diberi kebebasan oleh Allah Swt untuk berkehendak dan
melaksanakan kehendaknya itu. Maka seperti manusia pula, jin harus
mempertanggungjawabkan sikap dan perbuatannya dalam kehidupan dunia, langsung
kepada Allah. Akhirnya di antara golongan jin itu ada yang menghuni surga dan
ada pula yang menjadi penghuni neraka. Mengenai kelompok penghuni neraka ini
Al-Qur’an menyatakan: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi
neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia.” (QS Al-A’raaf 7: 179).
Sebagaimana yang telah kita bahas di atas, Malaikat adalah petugas Allah.
Kedudukan itu akan tetap mereka sandang, kelak di alam akhirat. Mereka bukanlah
penghuni surga bukan pula neraka. Sebagian mereka akan berada di tempat-tempat
tersebut sebagai operatornya.
Jin
yang sangat buruk perangainya adalah Iblis. Golongan ini sedemikian sombongnya
sehingga berani menolak perintah Allah untuk memberikan penghormatan kepada
cikal bakal manusia yang telah dite-tapkan sebagai khalifah fil ardhi
yaitu Adam As. Bahkan ketika Allah bertanya mengapa dia bersikap demikian,
iblis menjawab terus terang dan tanpa ragu: “Aku lebih baik dari Adam.
Engkau cipta aku dari api sedangkan dia Engkau jadikan dari tanah. QS
Al-A’raaf 7: 12. Maka Allah menetapkan iblis sebagai penghuni neraka dan
akan kekal di kancah siksaan tersebut.
Adapun
syeitan (syaithon) adalah jin dan manusia yang bersikap buruk dan
membujuk makhluk-makhluk lain mengikutinya. Al-Qur’an menerangkan bahwa syeitan
itu: “Yang membisik-bisikkan keburukan ke dalam hati manusia. Mereka berasal
dari golongan jin dan manusia.” (QS An-Naas 114: 5-6). Kemampuan
syeitan hanya membujuk, merayu, menipu, untuk mempengaruhi makhluk lain berbuat
keburukan. Syeitan tidak selalu dapat memaksa siapapun untuk memenuhi
kehendaknya. Hal ini disebabkan karena Al-Qur’an telah menegaskan: “Sesungguhnya
syeitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan berserah
diri kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang
mengangkatnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukan dia
dengan Allah.” (QS An-Nahl 16: 99-100). Demikian ditegaskan
bahwa syeitan akan lemah menghadapi orang-orang yang beriman. Dengan kata lain
orang beriman tidak akan ‘kemasukan syeitan’.
Sakib Machmud
No. 2-003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar