Menurut fitrahnya, manusia adalah makhluk beragama.
Hanya saja tidak semua orang menyadarinya. Kita katakan ini bukan karena kita
sudah menganut suatu agama, melainkan karena pangkal kefitrahan manusia, yaitu naluri
alamiahnya untuk menyembah atau mengabdi kepada suatu objek atau wujud yang
dipandangnya lebih tinggi, atau yang menguasai dirinya. Pandangan kefitrahan
mengenai agama ini, bukan hanya definisi kaum agamawan, tetapi juga sudah
dielaborasi oleh psikologi yang menyimpulkan bahwa manusia secara naluriah
adalah mahkluk
beragama, karena beragama adalah kebutuhannya.
Dan
sesungguhnya tidak ada manusia yang hidup tanpa agama yang orientasi dan
objeknya adalah pengabdian kepada sesuatu yang dipandang lebih tinggi, yang
dijadikan Tuhannya. Kesimpulan tersebut menegaskan, dari definisi psikologis
ini, persoalannya bukan pada apa-kah seseorang itu beragama atau tidak,
melainkan agama apakah yang dianutnya, yaitu apakah agama itu akan mendukung
perkembangan potensi kemanusiaannya atau sebaliknya malahan melumpuhkannya.
Dan
sesunggguhnya pula banyak sekali persoalan hidup manusia tidak dapat diatasi oleh manusia
sendiri. Misalnya ketika manusia menghadapi goncangan jiwa yang amat dahsyat,
banyak orang yang tidak mampu memecahkannya, tidak sedikit yang mengalami stres
dan bunuh diri, atau mengambil jalan pintas dengan melakukan tindak kejahatan,
demi mengatasi masalah yang dihadapinya. Ketika
manusia membutuhkan aturan hidup yang sempurna, mereka membuat aturan-aturan
hidup yang dibuatnya sendiri. Satu kelompok menerima aturan itu, kelompok yang
lain menolak. Di satu pihak merasa diuntungkan, tetapi yang lain merasa
dirugikan, sehingga sering kali aturan itu bertentangan dengan fitrahnya.
Bagi
mereka yang mengaku beragama Islam, tidak sedikit yang kurang mendalami ilmu
yang mengajarkan tentang Tuhan, dan tidak sedikit di antara mereka yang kurang
mengenal Tuhan, sehing-ga ajaran agama Tuhan dirasakan sebagai tekanan, paksaan,
beban yang menyiksa dan menyempitkan gerak langkah manusia. Karena itu kita
perlu mengenal siapa sebenarnya Tuhan itu.
Kita ummat Islam
harus meyakini bahwa Islam adalah tuntunan hidup yang datang dari Allah Yang
Menciptakan Alam Semesta. Islam adalah agama yang diperlukan agar hidup
terarah, teratur, terpelihara, dan terpuji di dunia, dan selamat di akhirat.
Kehidupan seperti itu dapat dirasakan, jika didasari pengakuan kepada Allah
sebagai Tuhan Yang Maha Esa, sehingga, karena itulah Islam dinamakan agama Tauhid,
yakni ber-Tuhan Satu, tidak mengakui dan tidak membenarkan adanya Tuhan selain Allah.
Itulah
dasar agama Islam sebagaimana disebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an: “Ketahuilah bahwa
tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan mohon ampunlah atas dosamu dan dosa
orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, dan Allah mengetahui tempat
perpindahanmu dan menetapmu.” (QS Muhammad 47: 19).
Sejak Nabi Adam As tampil di dunia sampai sekarang, semua nabi dan rasul,
dan para ulama selalu meng-ajarkan agama Tauhid ini, sebagaimana firman-Nya: “Dan Kami tidak
mengutus rasul sebelummu kecuali Kami berikan wahyu kepadanya, bahwa tak ada
Tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu menyembah Aku.” (QS Al-Anbiyaa’ 21: 25).
Maka
jelas bagi kita, bahwa semua rasul, nabi dan kita ummat manusia seluruhnya
harus dan wajib mengetahui, mengimani dan meyakini ke-Esaan Allah sebagai
satu-satunya Tuhan yang harus dan wajib disembah. Untuk mengetahui dan mengenal Tuhan, diperlukan kesungguhan, kesabaran,
keuletan, dan kemauan yang kuat. Memang tidaklah mudah untuk meyakini adanya
Allah, Tuhan Yang Masa Esa itu, karena: 1) Allah tidak memperlihatkan
wajah-Nya, 2) Allah itu ghaib; artinya tidak kelihatan, tidak nampak dengan
indera. Kita biasa melihat, meraba, merasa, mencium, dan sebagainya dengan
pancaindera, tetapi kita jarang melatih diri dengan akal kita untuk mengkaji ke
arah yang ghaib. Iman kepada Allah itu adalah suatu syarat mutlak untuk
mencapai dan mendapatkan keindahan dan kenikmatan kehidupan di dunia ini sampai
di akhirat nanti. Allah Swt menginginkan supaya orang yang beriman merasakan
karunia-Nya. Allah Swt ingin menyempurnakan nikmat-Nya kepada orang yang
beriman, sebagaimana firman-Nya: “Allah tidak hendak
menyulitkan kamu, tapi hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya
bagimu, agar kamu bersyukur. (QS Al-Maaidah 5: 6).
Demikian pentingnya
kita menyadari bahwa Allah sangat mencintai manusia. Namun sebaliknya kita manusia
justru tidak atau kurang menyadari tentang Alllah, atau dengan kata lain Tauhidnya
kurang, sehingga kurang merasakan indahnya iman, kurang merasakan adanya
keuntungan dari hukum dan ketentuan Allah Swt. Untuk itulah, kita perlu belajar
Ilmu Tauhid, dan menyadari bahwa kita datang ke dunia ini tidak membawa apa-apa
sampai diberi segala kebutuhan kita di dunia. Maka, kita harus tahu siapa yang
memberi itu, yaitu Allah Swt. Kita harus mengerti kedudukan Allah, kemauan,
kebesaran, kekuasaan, kekayaan, ilmu, dan kerajaan Allah, hubungan Allah dengan
manusia, apa untung dan ruginya jika tidak berhubungan dengan Allah. Dan kita
harus tahu sedihnya siksaan Allah, dan mengerti kemurahan dan kasih sayang-Nya.
Karena
itu, alangkah bijaksananya jika dalam kesibukan apapun, kita bisa meluangkan
waktu untuk merenungkan kembali pemahaman kita terhadap agama yang kita anut
selama ini, karena mungkin ada sesuatu yang terlewat. Kita perlu belajar
kembali ibarat seorang bayi yang baru dilahirkan dari keluarga Muslim
sekalipun, dalam menjalani hidupnya. Sesungguhnya
dia hanya berbekal naluri untuk melanjutkan hidupnya sampai menjadi seorang
dewasa yang mandiri. Untuk itu dibutuhkan tahapan-tahapan yang memakan waktu
relatif panjang untuk memahami hakikat hidup di dunia, dan mempersiapkan diri
untuk hidup
di hari kemudian.
Betapapun
mulianya seorang bayi, apakah dia anak seorang bangsawan, jenderal atau
penguasa negeri, ketika lahir tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya,
misalnya saja dalam urusan makan. Seorang ibu,
secara arif naluriah akan memberi makan buah hatinya itu secara bertahap
disesuaikan dengan tingkat usia dan kemampuan fisik si bayi. Hari-hari pertama
sesudah kelahirannya hanya air susu yang boleh dikonsumsikan. Kemudian di usia
empat bulan ditambah dengan bubur susu dan biskuit. Di atas enam bulan diberi
tambahan bubur nasi. Setelah berusia satu tahun baru diberikan nasi tim dan
kemudian nasi biasa, dan seterusnya.
Demikian pula
berdakwah kepada mereka yang hidup dalam lingkungan materialistis,
individualistis dan hedonis, harus berbeda kiat dan caranya dengan berdakwah
kepada ahli masjid dan penuntut dan pengamal ilmu (ahlul ilmi).
Apabila kepada seseorang yang hidupnya terjauh dari agama, penuh amalan bid’ah dan
maksiat, kepadanya langsung diberikan dakwah yang salafy - sesuai
yang diamalkan para pendahulu yang shaleh - tanpa melalui tahapan-tahapan, maka
ibarat memberikan makanan masakan Padang kepada bayi yang baru dilahirkan.
Tentu saja dia tidak akan bisa menerimanya. Dia akan memuntahkan, kapok,
trauma, tidak mau makan lagi, karena terlalu pedas baginya, gigi belum siap
mengunyah, dan ususpun belum siap mencernanya.
Kita
harus menyadari bahwa menjadikan bangsa ini menjadi bangsa ‘beragama’ dan
‘mengenal Tuhan’, yang perlu diperbaiki adalah kemampuan para ulama untuk
menyampaikan dakwah Islam secara tepat, dan memberikan suri teladan yang benar
sesuai apa yang telah diajarkannya di samping kemauan dan kemampuan kita
sendiri. Para ulama harus bisa menjawab tantangan bahwa tugas mereka bukan hanya menyampaikan dakwah, melainkan juga memberikan
keteladanan dan merumuskan langkah yang tepat dalam penerapannya.
Apakah manfaat ajaran Islam jika
tidak bisa diterapkan secara hakiki di kalangan ummat Islam sendiri, sementara
ini umara dan ummat Islam menerapkan sistem di bidang sosial, politik dan
ekonomi, hukum, dan lainnya, yang bukan dari ajaran Islam? Di sinilah peran
para ulama yang harus selalu mengingatkan dan menasihati para umara dan ummat
apabila terdapat kekeliruan dalam beragama.
Bagaimana kita memandang bangsa
lain yang non Muslim tetapi bisa membangun masyarakat dengan tertib dan hidup
sejahtera? Alangkah malunya kita memiliki agama Islam yang sempurna, tetapi
masyarakatnya bobrok. Meskipun Indonesia bukan
negara Islam atau negara sekuler yang memberlakukan syariat Islam bagi pemeluknya, apakah kita tidak merasa perlu menjadikan
syariat Islam diterapkan oleh ummat Islam secara optimal dalam kehidupan
bermasyarakat? Dengan patuhnya ummat Islam melaksanakan syariatnya, maka ummat
beragama lain akan terlindungi hak-haknya, karena Islam mengajarkan demikian.
Untuk bisa melaksanakan syariat
Islam dengan baik, tentu kita harus mengetahui apakah agama Islam itu. Pada tulisan berikutnya kita akan mempelajari hal-hal yang pokok dan penting tentang
agama Islam dan
implementasinya dalam kehidupan bermasyarakat.
Hermanto
Harsolumakso
No. 2-001
Bagus ustadz, saya memang belum lama membaca Al-Mustaqiim, jadi tepat sekali jika ada tulisan seperti ini. Terima kasjh. Wassalam..
BalasHapusSelamat membaca, semoga mencerahkan
HapusSemoga Bapak tetap sehat, untuk kami semua dalam pencerahan Kaimanan. Amin
BalasHapusAamiin Yaa Rabbal 'Alamiin
HapusAlaikumsalam,
BalasHapusMas Her, terima kasih atas kirimannya selama ini. Semoga Mas Her selalu sehat sehingga dapat mengirim artikel ini .
Salam buat mpo Ida
Silakan membaca terus, semoga mencerahkan. Salam kembali dari mpok Ida. Wassalam.
HapusSemoga Padhe sehat terus untuk tetap berkarya dan berdakwah..
BalasHapusTerima kasih doanya Fie, Aamiin YRA.
HapusMulai lagi bapak, bagus supaya pembaca baru bisa menyimak Al-Mustaqiim dalam wajah yang baru yang saya juga suka. Maju terus Al Mustaqiim.
BalasHapus