Senin, 05 Januari 2015

AGAMA DAN BERAGAMA

Menurut fitrahnya, manusia adalah makhluk beragama. Hanya saja tidak semua orang menyadarinya. Kita katakan ini bukan karena kita sudah menganut suatu agama, melainkan karena pangkal kefitrahan manusia, yaitu naluri alamiahnya untuk menyembah atau mengabdi kepada suatu objek atau wujud yang dipandangnya lebih tinggi, atau yang menguasai dirinya. Pandangan kefitrahan mengenai agama ini, bukan hanya definisi kaum agamawan, tetapi juga sudah dielaborasi oleh psikologi yang menyimpulkan bahwa manusia secara naluriah adalah mahkluk beragama, karena beragama adalah kebutuhannya.
 
Dan sesungguhnya tidak ada manusia yang hidup tanpa agama yang orientasi dan objeknya adalah pengabdian kepada sesuatu yang dipandang lebih tinggi, yang dijadikan Tuhannya. Kesimpulan tersebut menegaskan, dari definisi psikologis ini, persoalannya bukan pada apa-kah seseorang itu beragama atau tidak, melainkan agama apakah yang dianutnya, yaitu apakah agama itu akan mendukung perkembangan potensi kemanusiaannya atau sebaliknya malahan melumpuhkannya.
Dan sesunggguhnya pula banyak sekali persoalan hidup manusia tidak dapat diatasi oleh manusia sendiri. Misalnya ketika manusia menghadapi goncangan jiwa yang amat dahsyat, banyak orang yang tidak mampu memecahkannya, tidak sedikit yang mengalami stres dan bunuh diri, atau mengambil jalan pintas dengan melakukan tindak kejahatan, demi mengatasi masalah yang dihadapinya. Ketika manusia membutuhkan aturan hidup yang sempurna, mereka membuat aturan-aturan hidup yang dibuatnya sendiri. Satu kelompok menerima aturan itu, kelompok yang lain menolak. Di satu pihak merasa diuntungkan, tetapi yang lain merasa dirugikan, sehingga sering kali aturan itu bertentangan dengan fitrahnya. Bagi mereka yang mengaku beragama Islam, tidak sedikit yang kurang mendalami ilmu yang mengajarkan tentang Tuhan, dan tidak sedikit di antara mereka yang kurang mengenal Tuhan, sehing-ga ajaran agama Tuhan dirasakan sebagai tekanan, paksaan, beban yang menyiksa dan menyempitkan gerak langkah manusia. Karena itu kita perlu mengenal siapa sebenarnya Tuhan itu.

Kita ummat Islam harus meyakini bahwa Islam adalah tuntunan hidup yang datang dari Allah Yang Menciptakan Alam Semesta. Islam adalah agama yang diperlukan agar hidup terarah, teratur, terpelihara, dan terpuji di dunia, dan selamat di akhirat. Kehidupan seperti itu dapat dirasakan, jika didasari pengakuan kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, sehingga, karena itulah Islam dinamakan agama Tauhid, yakni ber-Tuhan Satu, tidak mengakui dan tidak membenarkan adanya Tuhan selain Allah.

Itulah dasar agama Islam sebagaimana disebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an: “Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan mohon ampunlah atas dosamu dan dosa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, dan Allah mengetahui tempat perpindahanmu dan menetapmu.” (QS Muhammad 47: 19). Sejak Nabi Adam As tampil di dunia sampai sekarang, semua nabi dan rasul, dan para ulama selalu meng-ajarkan agama Tauhid ini, sebagaimana firman-Nya: “Dan Kami tidak mengutus rasul sebelummu kecuali Kami berikan wahyu kepadanya, bahwa tak ada Tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu menyembah Aku.” (QS Al-Anbiyaa’ 21: 25).

Maka jelas bagi kita, bahwa semua rasul, nabi dan kita ummat manusia seluruhnya harus dan wajib mengetahui, mengimani dan meyakini ke-Esaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang harus dan wajib disembah. Untuk mengetahui dan mengenal Tuhan, diperlukan kesungguhan, kesabaran, keuletan, dan kemauan yang kuat. Memang tidaklah mudah untuk meyakini adanya Allah, Tuhan Yang Masa Esa itu, karena: 1) Allah tidak memperlihatkan wajah-Nya, 2) Allah itu ghaib; artinya tidak kelihatan, tidak nampak dengan indera. Kita biasa melihat, meraba, merasa, mencium, dan sebagainya dengan pancaindera, tetapi kita jarang melatih diri dengan akal kita untuk mengkaji ke arah yang ghaib. Iman kepada Allah itu adalah suatu syarat mutlak untuk mencapai dan mendapatkan keindahan dan kenikmatan kehidupan di dunia ini sampai di akhirat nanti. Allah Swt menginginkan supaya orang yang beriman merasakan karunia-Nya. Allah Swt ingin menyempurnakan nikmat-Nya kepada orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya: “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tapi hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur. (QS Al-Maaidah 5: 6).

Demikian pentingnya kita menyadari bahwa Allah sangat mencintai manusia. Namun sebaliknya kita manusia justru tidak atau kurang menyadari tentang Alllah, atau dengan kata lain Tauhidnya kurang, sehingga kurang merasakan indahnya iman, kurang merasakan adanya keuntungan dari hukum dan ketentuan Allah Swt. Untuk itulah, kita perlu belajar Ilmu Tauhid, dan menyadari bahwa kita datang ke dunia ini tidak membawa apa-apa sampai diberi segala kebutuhan kita di dunia. Maka, kita harus tahu siapa yang memberi itu, yaitu Allah Swt. Kita harus mengerti kedudukan Allah, kemauan, kebesaran, kekuasaan, kekayaan, ilmu, dan kerajaan Allah, hubungan Allah dengan manusia, apa untung dan ruginya jika tidak berhubungan dengan Allah. Dan kita harus tahu sedihnya siksaan Allah, dan mengerti kemurahan dan kasih sayang-Nya.

Karena itu, alangkah bijaksananya jika dalam kesibukan apapun, kita bisa meluangkan waktu untuk merenungkan kembali pemahaman kita terhadap agama yang kita anut selama ini, karena mungkin ada sesuatu yang terlewat. Kita perlu belajar kembali ibarat seorang bayi yang baru dilahirkan dari keluarga Muslim sekalipun, dalam menjalani hidupnya. Sesungguhnya dia hanya berbekal naluri untuk melanjutkan hidupnya sampai menjadi seorang dewasa yang mandiri. Untuk itu dibutuhkan tahapan-tahapan yang memakan waktu relatif panjang untuk memahami hakikat hidup di dunia, dan mempersiapkan diri untuk hidup di hari kemudian.

Betapapun mulianya seorang bayi, apakah dia anak seorang bangsawan, jenderal atau penguasa negeri, ketika lahir tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, misalnya saja dalam urusan makan. Seorang ibu, secara arif naluriah akan memberi makan buah hatinya itu secara bertahap disesuaikan dengan tingkat usia dan kemampuan fisik si bayi. Hari-hari pertama sesudah kelahirannya hanya air susu yang boleh dikonsumsikan. Kemudian di usia empat bulan ditambah dengan bubur susu dan biskuit. Di atas enam bulan diberi tambahan bubur nasi. Setelah berusia satu tahun baru diberikan nasi tim dan kemudian nasi biasa, dan seterusnya.

Demikian pula berdakwah kepada mereka yang hidup dalam lingkungan materialistis, individualistis dan hedonis, harus berbeda kiat dan caranya dengan berdakwah kepada ahli masjid dan penuntut dan pengamal ilmu (ahlul ilmi). Apabila kepada seseorang yang hidupnya terjauh dari agama, penuh amalan bid’ah dan maksiat, kepadanya langsung diberikan dakwah yang salafy - sesuai yang diamalkan para pendahulu yang shaleh - tanpa melalui tahapan-tahapan, maka ibarat memberikan makanan masakan Padang kepada bayi yang baru dilahirkan. Tentu saja dia tidak akan bisa menerimanya. Dia akan memuntahkan, kapok, trauma, tidak mau makan lagi, karena terlalu pedas baginya, gigi belum siap mengunyah, dan ususpun belum siap mencernanya.

Kita harus menyadari bahwa menjadikan bangsa ini menjadi bangsa ‘beragama’ dan ‘mengenal Tuhan’, yang perlu diperbaiki adalah kemampuan para ulama untuk menyampaikan dakwah Islam secara tepat, dan memberikan suri teladan yang benar sesuai apa yang telah diajarkannya di samping kemauan dan kemampuan kita sendiri. Para ulama harus bisa menjawab tantangan bahwa tugas mereka bukan hanya menyampaikan dakwah, melainkan juga memberikan keteladanan dan merumuskan langkah yang tepat dalam penerapannya.

Apakah manfaat ajaran Islam jika tidak bisa diterapkan secara hakiki di kalangan ummat Islam sendiri, sementara ini umara dan ummat Islam menerapkan sistem di bidang sosial, politik dan ekonomi, hukum, dan lainnya, yang bukan dari ajaran Islam? Di sinilah peran para ulama yang harus selalu mengingatkan dan menasihati para umara dan ummat apabila terdapat kekeliruan dalam beragama.

Bagaimana kita memandang bangsa lain yang non Muslim tetapi bisa membangun masyarakat dengan tertib dan hidup sejahtera? Alangkah malunya kita memiliki agama Islam yang sempurna, tetapi masyarakatnya bobrok. Meskipun Indonesia bukan negara Islam atau negara sekuler yang memberlakukan syariat Islam bagi pemeluknya, apakah kita tidak merasa perlu menjadikan syariat Islam diterapkan oleh ummat Islam secara optimal dalam kehidupan bermasyarakat? Dengan patuhnya ummat Islam melaksanakan syariatnya, maka ummat beragama lain akan terlindungi hak-haknya, karena Islam mengajarkan demikian.

Untuk bisa melaksanakan syariat Islam dengan baik, tentu kita harus mengetahui apakah agama Islam itu. Pada tulisan berikutnya kita akan mempelajari hal-hal yang pokok dan penting tentang agama Islam dan implementasinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Hermanto Harsolumakso
No. 2-001

9 komentar:

  1. Bagus ustadz, saya memang belum lama membaca Al-Mustaqiim, jadi tepat sekali jika ada tulisan seperti ini. Terima kasjh. Wassalam..

    BalasHapus
  2. Semoga Bapak tetap sehat, untuk kami semua dalam pencerahan Kaimanan. Amin

    BalasHapus
  3. Alaikumsalam,
    Mas Her, terima kasih atas kirimannya selama ini. Semoga Mas Her selalu sehat sehingga dapat mengirim artikel ini .
    Salam buat mpo Ida

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan membaca terus, semoga mencerahkan. Salam kembali dari mpok Ida. Wassalam.

      Hapus
  4. Semoga Padhe sehat terus untuk tetap berkarya dan berdakwah..

    BalasHapus
  5. Mulai lagi bapak, bagus supaya pembaca baru bisa menyimak Al-Mustaqiim dalam wajah yang baru yang saya juga suka. Maju terus Al Mustaqiim.

    BalasHapus