Kamis, 25 Oktober 2012

IBADAH HAJI DAN QURBAN



Memasuki bulan Dzulhijjah ummat Islam di seluruh dunia bersiap untuk merayakan Idul Adlha 1433 H, atau hari raya Qurban, hari besar ummat Islam yang mengingatkan kita pada peristiwa bersejarah yaitu kisah Nabi Ibrahim beserta keluarganya. Kisah tersebut diabadikan oleh Allah Swt menjadi syari’at menunaikan ibadah Haji dan Qurban yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Saw, dan selanjutnya diikuti oleh seluruh ummat Islam.
Ibadah Haji, dilaksanakan ummat Islam dari seluruh dunia, di mana jutaan manusia berkumpul melaksanakan kegiatan secara ber-sama-sama di suatu tempat, tidak terkecuali dari Indonesia yang pada tahun ini tercatat lebih dari 210 ribu jemaah sampai saat ini sudah berada di tanah suci. Haji merupakan ritual keagamaan yang sangat besar dan spektakuler, yang hanya dilakukan oleh ummat Islam. Maka benarlah doa Nabi Ibrahim As kepada Allah Swt untuk menjadikan rumah Allah (Ka’abah) tempat yang dirindukan oleh keturunannya: “Hai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan di sisi rumah Engkau yang suci. Hai Tuhan kami (tujuanku) agar mereka mau mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati manusia (seluruh dunia) rindu kepada mereka, dan berilah rezeki kepada mereka berupa buah-buahan, semoga mereka mau bersyukur (kepada-Mu).” (QS Ibrahim 14: 37).
Semoga kita semua termasuk menjadi orang-orang sebagai-mana doa Nabi Ibrahim, yang merindukan rumah Allah, dan bagi yang belum sempat melakukan ibadah haji diberikan kemudahan Allah untuk suatu ketika dapat menunaikan ibadah haji. Demikian juga Qurban, salah satu kewajiban ummat Islam (yang mampu), dengan melakukan pemo-tongan hewan qurban, di mana jutaan hewan qurban dipotong dalam waktu yang bersamaan di seluruh dunia. 
Ibadah Qurban mengingatkan kisah ujian keimanan yang sangat dahsyat dialami oleh Nabi Ibrahim, disyariatkan Allah dan diabadikan secara khusus sebagaimana tertulis di dalam Al-Qur’an: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu!” Ia (Ismail) menjawab: “Hai bapakku, ker-jakanlah apa yang diperintahkan  kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.”  Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shaffaat 37: 102-107).
Melalui kisah di atas dapat ditarik suatu tauladan, begitu kuatnya keimanan Nabi Ibrahim beserta isterinya dan Ismail puteranya, dengan keyakinan yang begitu kuat kepada Allah, apapun yang diperintahkan-Nya ditaati dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan sekalipun nyawa dipertaruhkan. Kisah tersebut diabadikan melalui praktek ritual ibadah haji dan qurban.
Pada ibadah Haji kita mengenal dan melakukan sa’i, jumrah, thawaf dan lainnya merupakan napak tilas terhadap apa yang dilakukan Ibrahim. Sa’i, mengingatkan bagaimana ketegaran Hajar isteri Ibrahim harus berlari dari bukit Safa ke bukit Marwah demi mencari setetes air untuk keperluan  bayi Ismail. Melempar jumrah juga mengulangi dan meniru upaya Hajar yang melempar syeitan-syeitan yang mencoba meng-godanya agar pergi meninggalkan mereka yang sedang mengalami penderitaan dan ujian. Thawaf, mengingatkan bagaimana Ibrahim dan Ismail pada saat itu sering mengelilingi bangunan Ka’abah yang mereka dirikan.
Ibadah Qurban juga merupakan syari’at ummat yang terdahulu (sya’run man qablana), karena kegiatan tersebut juga dilakukan oleh putra keturunan Adam, yaitu Qabil dan Habil. Begitu pula yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As. Qurban tidak mempunyai nilai apapun di sisi Allah bila tidak disertai dengan keikhlasan, karena keikhlasan merupakan cermin dari ketauhidan. Daging  yang dibagikan dan darah yang dialirkan, tidak berarti apa-apa bila tidak disertai keikhlasan dalam pelaksanaannya. Allah berfirman: “Daging-daging dan darahnya (hewan qurban) itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah Swt, tetapi ketaqwaan dari kamulah (yang dapat mencapainya).” (QS Al-Hajj 22: 37). Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa qurban seseorang tidak akan berarti dan diterima (mencapai keridhaan) Allah tanpa disertai dengan takwa.
Adalah hubungan yang sangat erat antara ibadah shiyam ramadhan dengan ibadah haji dan ibadah qurban. Ibadah shiyam membentuk kepribadian taqwa kepada Allah Swt sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang dahulu sebelum kamu, supaya kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah 2: 183).
Sedangkan untuk melaksanakan ibadah haji, bekal terbaik adalah ketakwaan, dari ayat: “Ibadah haji itu di dalam bulan-bulan yang telah ditentukan, maka barang siapa yang melaksanakan kewajiban haji dalam bulan-bulan itu, maka tidak boleh sekali-kali rafats (jima’) dan tidak boleh sekali-kali fusuq, tidak boleh sekali-kali berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji. Dan jika kamu mengerjakan sesuatu kebajikan, Allah maha mengetahuinya. Dan berbekallah, dan sesung-guhnya sebaik-baik bekal, ialah takwa kepada Allah, dan bertakwalah kamu kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS Al-Baqarah 2: 197).
Barangkali baik kita cermati kisah nyata yang pernah dialami salah seorang yang pernah melaksanakan ibadah haji, semenjak tiba di tanah suci dia tidak pernah dapat melihat Ka’abah, biarpun dia telah masuk ke Masjidil Haram. Dalam melaksanakan thawaf pun dia tidak dapat melihat Ka’abah, entah karena apa selalu tertutup pandangannya oleh padatnya manusia dan benda-benda lain sehingga tidak dapat melihat Ka’abah. Oleh beberapa sahabat jemaah itu disarankan untuk istighfar dan selalu istighfar sambil mengoreksi diri atas perilaku yang telah dialaminya. Diakuinya bahwa dia masih mempercayai ada yang kuasa selain Allah, masih ada bibit syirik dalam hatinya. Dan setelah benar-benar memohon ampun kepada Allah, akhirnya Allah membuka matanya untuk melihat Ka’abah. Allah maha besar, berkuasa atas apa yang dikehendakinya. Sementara hamba Allah menyadari tidak berarti apa-apa di bawah kekuasaan-Nya. Demikian juga ibadah Qurban, yang akan sampai kepada Allah bukan daging dan darah hewan qurban, melainkan ketakwaanlah yang akan sampai kepada-Nya (QS Al-Hajj 22: 37).
Dengan demikian dapat diketahui bahwa inti dari perjalanan haji dan syari’at qurban, adalah tertanamnya ‘tauhid’ di dalam jiwa setiap hujaj dan orang yang berqurban sebagaimana tertanam dalam jiwa Ibrahim dan keluarganya. Ketauhidan, adalah ajaran yang penting dipesankan dalam dalam ibadah haji dan qurban. Haji adalah puncak ritual tauhid yang maha dahsyat bagi siapa saja yang mau memahami dan menemukannya. Tauhid ini pula yang essensial bagi tempat kembali (ke fitrah) manusia, yang menjadi tujuan ibadah shiyam yang disyariatkan  pada bulan Ramadhan.
Karena itu tidaklah suatu kebetulan kalau bulan Ramadhan berada di depan bulan Dzulhijjah, seakan-akan pelajaran untuk mencapai takwa dipersiapkan dahulu sebelum melakukan ujian yang lebih berat yaitu melakukan ibadah haji dan qurban. Muara dari semua syariat yang diperintahkan Allah adalah menjadikan manusia yang bertauhid, dengan berbekal takwa melaksanakan amal ibadah dan kewajiban-kewajiban di dunia ini dengan ikhlas, karena hanya mengharapkan keridhaan Allah Swt.
Mohammad Kamal
No. 165

Senin, 15 Oktober 2012

KEBANGKITAN ISLAM GLOBAL DARI TURKI


Pada suatu pagi, saat menikmati udara pegunungan yang yang sejuk di lapangan golf, sahabat saya Mas Komar (Prof Dr Komarudin Hidayat), tiba-tiba bertanya kepada saya, ”Pak Ganis tahukah Anda siapa Penyumbang terbesar saat bangsa kita mendapat musibah besar karena Tsunami di Aceh beberapa tahun yang lalu?” Saya tertegun dan menjawab sambil bergumam; ”Yah banyak dari luar negeri, Singapura, Malaysia, Amerika dan lainnya”. Mas Komar menjawab; “Anda salah besar, yang menjadi penyumbang terbesar adalah masyarakat Turki lewat berbagai LSM-nya, dia sebut; PASIAD (Asosiasi Solidaritas Sosial untuk Negara-negara Asia Pasifik), Bulan Sabit Merah, Hizmet, dan gerakan-gerakan spiritual dan sosial lainnya dengan inspirator Fetullah Gulen, yang dikenal dengan nama Hujjah Effendi.
Saya jadi teringat telah berkali-kali diundang berkunjung ke Turki melalui teman saya Dr Ali Unsal, aktivis dakwah dan pengajar yang tinggal di kawasan Pondok Cabe, Komplek Sekolah Kharisma Bangsa, yang belum sempat saya penuhi.
Setelah merenung-renung beberapa hari saya kontak Dr Ali Unsal dan berdialog tentang Islam. Saya menjelaskan keyakinan saya tentang Islam yang damai, membawa kedamaian di alam semesta, Islam yang modern moderat, pembelaan pada kaum tertindas di dunia - ini quotation saja dari tulisan-tulisan almarhum Nurcholish Madjid yang saya baca.
Saya terkejut sekali, ketika Dr. Ali Unsal mengeluarkan buku dari tasnya sambil berucap, “Masya Allah saya membawa buku ini sebagai hadiah untuk Anda, coincidentally kok sama dengan yang Anda cerita”. Dan dia mengeluarkan buku berjudul 'Islam Rahmatan Lil Alamiin' terjemahan tulisan Hujjah Effendi Fetullah Gulen.
Pada awal April 2011, saya penuhi undangan Fetullah Gullen untuk berkunjung ke Turki bersama beberapa teman saya - Prof Dr Soleh Solahuddin, Prof Dr Radi A Gani, Prof Dr Komaruddin Hidayat, Prof Dr La Ode Kamaluddin, Dr Zainal Sujais dan Drs Tubagus Farich beserta isteri-isteri kami.
Sebelum itu kami semua bersama keluarga pernah berkunjung ke Turki khususnya Istambul, tetapi sebatas sebagai turis saja melihat keindahan alam dan budaya Turki tanpa mendalami sejarah dan perkembangan Islam yang begitu pesat saat ini, latar belakang dan ruh dari kemajuan itu. Selama 8 (delapan) hari keliling Turki, kami berkunjung dan berdialog dengan berbagai kalangan, perguruan tinggi, pengusaha, masjid, ulama dan dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi di Turki saat ini yang sungguh menakjubkan dan memberi harapan akan kembalinya kejayaan Islam di dunia.
Saya katakan; “I see the light at the end of the tunnel - saya melihat secercah cahaya harapan di kegelapan dunia Islam yang kelam, penuh bergelimang dengan kemiskinan, kebodohan, pertentangan malah perang antar sesama Muslim hanya karena soal-soal khilafiyah, tumbuhnya ekstremisme, radikalisme, dan lainnya.“
Sejujurnya saya termasuk orang yang pesimis malah frustrasi tentang dunia yang penuh ketidak-adilan, ketimpangan sosial, ekonomi, politik di seluruh dunia, saya ingin sampaikan saja beberapa contoh dari segudang masalah dunia kita ini yang menyebabkan saya prihatin dan frustrasi karena:
Pertama. Dari penduduk dunia yang mendekati 7,5 milyar manusia, sekitar 1,2 milyar milyar hidup dengan penghasilan kurang dari US$ 1 per hari, dan separuh penduduk dunia berpengasilan kurang dari US$ 2 per hari yang kebanyakan beragama Islam.
Kedua. Sementara 1% kelompok terkaya di dunia setara dengan 57 % penduduk dunia (Seabrook, 2003, Joseph E Stiglitz, Making Globalization Works).
Ketiga. Beberapa negara kaya - Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan Cina - menguasai 67% kekayaan dunia, dan beratus ratus negara hanya mendapatkan sisanya - juga kebanyakan negara Muslim.
Keempat. Tidak kalah timpangnya ekonomi negeri kita Indonesia, kalau kita sisihkan kekayaan negara maka 200 keluarga konglomerat swasta menguasai lebih dari seluruh kekayaan 200 juta penduduk yang katanya 90% adalah Muslim.
Dan banyak lagi contoh ketimpangan sosial politik ekonomi budaya yang merupakan wake up call bagi kita kaum Muslimin. Dengan sikap dan  perasaan was-was seperti itu saya dan kawan-kawan pergi ke Turki. Tanpa mengurangi rasa hormat dan perasaan sebagai sesama ikhwan kita  dari negara-negara di sekitar Baitullah, di Turki saya mendapat pencerahan (enlightenment) bahwa kejayaan Islam insya Allah bisa kembali.
Hari pertama kami di Istambul jam 04.00 Subuh pergi Mesjid Ayub Al-Anshory - sahabat Rasulullah Saw yang kemudian bermukim di Turki, di mana beribu ribu orang kebanyakan anak-anak muda - laki-laki dan perempuan di tempat terpisah - dengan khusyu’ mengaji dan berdo’a sambil menunggu waktu subuh.
Suasana betul-betul mengharukan, dan saya melihat  keliling generasi muda Muslim yang khusyu’ itu sebagai harapan masa depan Turki yang tadinya sekuler - westernized, campur aduk haram dan halal, bahasa Arab / Al-Qur’an dalam shalatpun diganti dengan bahasa Turki), dapat berubah kembali menjadi negara Muslim dalam waktu singkat.
Bagaimana Mereka Bisa Melakukan itu?
Secara  ekonomi dan politik Turki telah berubah dari negara totaliter, korup, the sick man of Europe, menjadi Negara Muslim, demokratis, bersih, pemimpin yang menjadi teladan dengan kemajuan ekonomi tertinggi di seluruh Eropa sekitar 7% / tahun, sementara tetangga-tetangganya seperti Yunani dan lainnya terpuruk. Ternyata semangat nilai-nilai Islam sejati jika diterapkan dengan konsekwen dapat menyelamatkan bangsa, masya Allah.
Kunjungan kami ke suatu rumah sakit yang modern dengan standar international di tepi pantai yang indah sungguh sangat menggugah, karena rumah sakit itu adalah bekas Casino, dengan perjudian dan segala maksiyat di dalamnya. Masyarakat Muslim mengumpulkan dana dari segenap peloksok dan membeli Casino itu dengan uang zakat, shadaqah dan infaq, mereka menjadikannya rumah sakit, bukan dengan merusak, melempari batu dan membakar, inilah contoh Islam a peaceful religion, rahmatan lil alamien.
Setiap malam kami dijamu bergantian di rumah-rumah mereka yang berebut jadi tuan rumah dan berkumpul tiap malam 30 sd 40 orang kelas menengah profesional Muslim. Kami bertanya, ”apa rahasianya sukses itu?” Ternyata tidak ada yang baru, intinya kembali ke ajaran Islam yang hakiki sebagaimana dilakukan Rasulullah Saw, yang secara sederhana kira-kira begini:
Pertama. Rasulullah Saw, dari usia sangat muda telah menerapkan keteladanan hidup yang baik dan menjaga kehormatan dengan tetap rendah hati sehingga dihormati sebagai Al-Amiin - seorang yang jujur dan amanah, tanpa mendeklarasikan Islam sampai usia 40 tahun, ketika diangkat menjadi Nabi. Beliau mendahulukan keteladanan sebagai Muslim sebelum memakai label Islam / Muslim.
Kedua. Islam sebagai Rahmatan lil aalaamiin, menerapkan dalam sikap, tindakan bahwa Islam membawa pesan damai dan sejahtera untuk seluruh alam semesta, manusia, binatang, lingkungan hidup seluruhnya. Islam adalah agama yang damai dan membawa kedamaian, kesejahteraan kepada semua  makhluk (universe).
Ketiga. Islam mengajarkan tangan di atas lebih baik dari daripada tangan di bawah, memberi lebih baik dari meminta. Saya sangat terharu ketika dalam diskusi itu saya menanyakan dari mana mengumpulkan dana-dana itu. Mereka menjawab setiap keluarga menghitung anggaran satu tahun penghasilan berapa, kebutuhan hidup berapa. Dan sisanya mereka tabung, dan tabungan yang paling aman bukan di Citibank, Standard Chartered atau bank international lainnya, tetapi Bank Allah Swt dalam bentuk shadaqah, amal shaleh, zakat infaq yang dasarnya adalah iman. Masya Allah, luar biasa uang yang terkumpul dari seluruh dunia bermilyar dollar dan disebarkan ke seluruh dunia, dan pelaksananya (aamil), tetap hidup sederhana, profesional dan jujur.
Keempat. Islam adalah produsen ilmu pengetahuan, bukan konsumen ilmu dari Barat dan lainnya, karena itu di Turki berkembang universitas-universitas bertaraf internasional (berbahasa Inggris) tidak kalah dengan universitas-universitas di Eropa dan Amerika Serikat. Kami berkunjung ke Fatih University, Antalia University, Ankara University dan lainnya, sungguh mengagumkan.
Kelima. Gerakan ini menyebar, dan di Amerika Serikat telah lebih dari 200 chartered School, sekolah-sekolah bermutu tinggi dengan dana dari LSM Muslim Turki ini merupakan ‘dakwah terselubung’ di Amerika Serikat. Dan demikian pula hal yang sama di Eropa dan Asia Timur. 

Kalau kita melihat kejayaan Khilafah - pemerintahan Islam -  Turki Usmani (1299–1923) yang pernah menguasai dunia selama 600 tahun, di mana salah satu sumber utama penyebab keyayaan khilafah itu adalah karena wakaf tunai yang kira-kira mirip dengan bank Allah Swt, maka saya optimis dunia Islam akan setapak demi setapak melangkah menjadi masyarakat adi daya dunia. Wakaf tunai pernah menjadi inspirasi kejayaan peradaban Turki. Meskipun kemudian selama 200 tahun tergoda oleh paham sekularisme  yang dipelopori Kemal At-Turk, negeri ini tetap tidak dapat menghilangkan akar budaya Islam. Turki dengan masyarakat dan budayanya itu, serta latar belakang sejarahnya, sadar untuk membangun kembali bangsa dan negaranya dengan landasan Islam yang hakiki.
Semua gerakan da’wah ini tidak ada Imamah, tetapi tidak bisa dipungkiri, inspiratornya adalah Fetullah Gulen. Saya anjurkan pembaca membuka ‘Youtube’ dan ketik Fetullah Gulen, yang oleh musuh-muslih Islam disebut “The most dangerous Moslem spiritual leader in the world’.
Semoga secercah cahaya harapan di kegelapan dunia Islam bisa menjadi kebangkitan Islam Global dari Turki ini. Dan mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat, kepada pembaca yang berminat komunikasi silakan menghubungi ke e-mail saya ahmadganis01@gmail.com
Wassalam.
Ahmad Ganis
No. 164

Jumat, 05 Oktober 2012

MEMBALAS KEBENCIAN DENGAN KASIH SAYANG


Allah Swt berfirman: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS Al-Anbiyaa’ 21: 107). Dia adalah Dzat yang Paling Pengasih dan Penyayang (Ar-Rahman dan Ar-Rahim), yang menghendaki kasih sayang-Nya ditebarkan di muka bumi. Dia mengutus Rasul-Nya Nabi Muhammad Saw untuk menebarkan kasih sayang bagi semesta alam. Maka dalam segala hal Rasulullah Saw selalu mengutamakan kasih sayang meskipun orang lain berbuat jahat kepadanya.
Bila ada orang yang berbuat jahat kepada beliau. Rasulullah Saw selalu membalasnya dengan kebaikan. Salah satu contoh perilaku Rasulullah Saw dapat dilihat saat beliau dilempari orang sampai kakinya berlumuran darah di Thaif ketika mengajak mereka kepada Islam. Ketika itu Malaikat datang kepadanya menawarkan untuk menimpakan gunung di atas orang-orang yang menyerangnya, Rasulullah Saw hanya berkata: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.”
Allah Swt berfirman: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali ‘Imraan 3: 159).
Di antara perbuatan baik yang sangat tinggi nilainya adalah membalas keburukan orang kepada kita dengan kebaikan. Ini bukanlah suatu hal yang mustahil, melainkan ini adalah ajaran kesucian yang akan membawa kita lebih dekat kepada Allah Swt.
Salah seorang di antara tokoh besar dalam dunia kesucian adalah sufi Mesir yang bernama Abul Faiz Tsauban bin Ibrahim yang dikenal dengan nama Dzunnun. Karena ia berasal dari Mesir, maka ia dikenal dengan sebutan Dzunnun Al-Mishri - Dzunnun Orang Mesir (796 - 856 M). Ketika ia masih hidup, orang-orang tidak mengenalnya sebagai orang yang dekat dengan Allah. Ia lebih banyak dicela dan dicemooh orang karena dianggap kafir, ahli bid’ah, dan orang murtad. Ia tidak pernah membalas semua tuduhan itu dengan kemarahan atau serangan balik. Ia bahkan menunjukkan dirinya seakan-akan ia mengakui seluruh celaan itu. Orang mengetahui kedekatannya dengan Tuhan setelah Dzunnun meninggal dunia.
Menurut Sufi Al-Hujwiri dari Pakistan (1009-1072 M), pada malam kematian Dzunnun, ada tujuh puluh orang bermimpi melihat Rasulullah Saw. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda: "Aku datang menemui Dzunnun, sang wali Allah." Sesudah kematiannya, konon di atas keningnya tertulis: “Inilah kekasih Tuhan, yang mati karena mencintai Tuhan, dan dibunuh oleh Tuhan.” Al-Hujwiri juga menuturkan, pada saat penguburan Dzunnun, burung-burung di angkasa berkumpul di atas kerandanya sambil mengembangkan sayap-sayap mereka, seolah-olah ingin melindungi jenazahnya. Ketika itulah orang-orang Mesir baru menyadari bahwa mereka telah keliru memperlakukan Dzunnun selama ini.
Dzunnun Al-Misri mengutamakan Allah atas segala-galanya. Semua ketentuan adalah kehendak Allah Swt. Sebagai pengembara yang memiliki kemampuan dan kebenaran untuk menyatakan pendapat. Dhunnun mempunyai banyak pengalaman dalam hidupnya. Terlebih dalam bidang ma’rifat - pengetahuan mengenal Allah. Pandangannya tentang ma’rifat sungguh luar biasa. Sehingga tidak salah lagi jika dia disebut sebagai pelopor ajaran ahwal - keadaan mental yang dialami oleh para sufi dalam perjalanan spiritualnya - dan maqamat - tahapan taubat. Menurut Dzunnun A-Mishri, ma’rifat adalah karunia Allah yang dilimpahkan pada orang arif, seperti yang dikemukakannya ketika ditanya: “Dengan apakah kau mengenal mengenal Tuhanmu?” Jawabnya: “Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku!  Tanpa Tuhanlu, aku tidak mungkin mengenal Tuhanku.” 

Di samping itu ada lagi ajaran yang sangat penting dari pandangan Dzunnun Al-Mishri yaitu bahwa," Orang yang sudah mencapai tingkat mahabbah kepada Allah, adalah orang-orang yang mengutamakan Allah atas segalanya". Pandangan Dhunnun Al-Misri tentang ahwal dan maqamat yang begitu mendalam juga merupakan kecintaannya yang begitu besar kepada Allah yang membuatnya semakin pantas menyandang gelar sufi.
Alkisah, pada suatu hari, Dzunnun Al-Mishri dan murid-muridnya berlayar di sungai Nil. Ada dua kelopok orang yang sedang berekreasi di sungai itu, yaitu orang-orang shaleh seperti Dzunnun dan para santrinya, dan orang-orang yang menggunakan rekreasi sebagai alat untuk melakukan kemaksiatan. Di tengah jalan, bertemulah dua kelompok perahu yang itu. Pada perahu yang satu, terdapat Dzunnun, sang kiai, bersama para santrinya. Mereka melantunkan dzikir kepada Allah Swt. Pada perahu yang lain, ada sekelompok anak muda yang memetik gitar, berhura-hura, berteriak-teriak, dan berperilaku yang menjengkelkan para santri Dzunnun. Karena para santri percaya bahwa doa-doa Dzunnun pasti di-ijabah - dikabulkan, mereka meminta Dzunnun untuk berdoa kepada Allah supaya perahu anak-anak muda itu ditenggelamkan Tuhan jauh ke dasar sungai Nil.
Dzunnun lalu mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan orang-orang itu kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, beri juga mereka satu kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti.” Santri-santrinya tercengang. Semula mereka berharap Dzunnun akan mendoakan anak-anak muda yang ugal-ugalan itu agar ditenggelamkan Tuhan karena anak-anak muda itu memandang kehidupan hanya semata-mata kesenangan saja.
Tetapi aneh bin ajaib, Dzunnun hanya berdoa seperti itu. Para santri terkejut mendengar doa Dzunnun. Ketika perahu anak-anak muda itu mendekat, mereka melihat Dzunnun ada di perahu itu, mereka menyesal dan meminta maaf. Entah bagaimana, memandang wajah Dzunnun membawa mereka kepada kesucian. Mereka menghancurkan alat-alat musik mereka dan bertaubat kepada Tuhan. Waktu itulah Dzunnun memberi pelajaran kepada para santrinya, “Kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti adalah bertaubat di dunia ini. Dengan cara begini, kalian dan mereka puas tanpa merugikan siapa pun.”
Lalu bagaimana dengan kita? Kita terbiasa untuk menaruh dendam kepada orang-orang di sekitar kita. Seringkali kita jengkel kepada orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada orang yang memperlakukan kita dengan jelek, kita berharap bahwa kita bisa membalas kejelekan itu dengan kejelekan kita lagi. Untuk itu kita sering menutup-nutupinya dengan berkata, “Supaya ini memjadi pelajaran bagi mereka.” Tradisi para Rasul dan orang-orang shaleh mengajarkan kepada kita untuk membalas kejelekan yang dilakukan orang lain dengan kebaikan.
Bayangkanlah ketika kita berdoa supaya saingan kita hancur, agar musuh kita binasa, kita akan memperoleh satu manfaat saja, yaitu kepuasan hati karena hancurnya saingan kita. Tetapi ketika kita berdoa: “Ya Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang”, maka kita akan mendatangkan manfaat kepada semua orang. Sama seperti doa Dzunnun Al-Mishri.
Dzunnun mengajari kita tradisi para Nabi dan orang-orang shaleh; membalas kejelekan dengan kebaikan. Jadilah kita seperti pohon mangga di tepi jalan, yang dilempari orang dengan batu tetapi ia mengirimkan kepada si pelempar itu, buah yang telah ranum. “Ahsin kamaa ahsanallaahu ilaik, - berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS Al-Qashash 28: 77).
Cerita tentang Dzunnun ini menarik karena kita terbiasa untuk menaruh dendam kepada orang-orang di sekitar kita. Seringkali setelah kita menjalani kehidupan yang baik, kita jengkel kepada orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada orang yang memperlakukan kita dengan jelek, kita berharap bahwa kita bisa membalas kejelekan itu dengan kejelekan kita lagi.
Dzunnun melanjutkan tradisi para rasul Allah yang mengajarkan kepada kita untuk membalas kejelekan yang dilakukan orang lain dengan kebaikan. Bayangkanlah ketika seseorang berdoa supaya saingannya hancur, agar musuhnya binasa, dia akan memperoleh satu manfaat saja, yakni kepuasan hati karena hancurnya saingan orang itu. Tetapi ketika seseorang berdoa: “Ya Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang.” Do’a itu akan mendatangkan manfaat kepada semua orang.
Sama seperti do’a Dzunnun Al-Mishri. Dahulu, Nabi Isa As beserta murid-muridnya lewat di depan rombongan pemuda yang ugal-ugalan juga. Mereka bukan saja melakukan tindakan-tindakan maksiat ketika kelompok Nabi Isa datang, mereka juga malah melemparkan batu ke arah Nabi Isa.   Nabi berhenti dan memandang mereka untuk kemudian mendoakan kebaikan bagi mereka. Murid-muridnya bertanya, "Mereka melempari batu ke arahmu tapi mengapa engkau malah membalas dengan doa yang baik?" Nabi Isa As menjawab, "Itulah bedanya kita dengan mereka. Mereka kirimkan kepada kita keburukan dan kita kirimkan kepada mereka kebaikan."
Dalam kaitan ini Rasulullah Saw bersabda: “Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau." (HR At-Thabrani). Demikian nasihat Rasulullah Saw yang mengajarkan ummatnya untuk membalas kebencian dengan kasih sayang, yaitu salah satu cabang dari al-akhlaqul karimah.
Psikolog Syeikh Dr. ‘Aidh Al-Qarni (lahir 1960 M) mengatakan: "Hati tanpa kasih sayang, tak lebih sebongkah batu karang. Ruh tanpa kasih sayang, adalah sahara yang gersang. Lisan tanpa kasih sayang, bagaikan cemeti siksaan. Nasihat tanpa kasih sayang, sama artinya dengan pengumuman perang. Pedoman tanpa kasih sayang, tak ubahnya terowongan gelap memanjang. Pada zaman sekarang, kita lebih membutuhkan ungkapan kasih sayang, termasuk terhadap non Muslim. Karena kini merupakan zaman terasingnya agama, zaman di mana ulama yang kredibel hanya sedikit, sementara tawaran dan godaan begitu banyak. Maka, bagi siapa saja yang memiliki seberkas cahaya ilmu, atau sedikit kebaikan, hendaknya dia lebih mendahulukan bahasa toleransi dan prinsip kasih sayang, agar menjadi sebab kembalinya manusia kepada Tuhannya, dan menjadi penyambung antara makhluk dengan Khaliqnya serta penggiring keselamatan orang-orang yang celaka. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: "Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, kecuali dia akan menghiasinya. Dan tidaklah dia tercabut dari sesuatu, kecuali menjadikannya ternoda." (HR Muslim). Sudah saatnya, 'gaya' mencela, mencaci dan melukai ditutup selama-lamanya. Justru yang harus dibuka selama-lamanya adalah 'model' kasih sayang, toleransi dan lemah lembut. Demikian nasihat Syeikh Aidh Al-Qarni.
Begitu baik dan sempurnanya agama Islam, tetapi mengapa peringkat keIslaman ummat Islam Indonesia di bidang muamalah sebatas tawuran antar pelajar, antar mahasiswa, dan konflik antar warga? Inilah komentar pengasuh Al-Mustaqiim Ustadz Sakib Machmud tentang peristiwa tawuran pelajar yang menyedihkan belakangan ini:
 “Di Jakarta dalam waktu yang sangat berdekatan terjadi dua peristiwa tawuran pelajar, keduanya menelan korban jiwa. Banyak orang berkomentar, baik para ahli, politisi, maupun anggota masyarakat ‘biasa’. Umumnya menyatakan bahwa ada kegalauan besar di kalangan remaja; pemicunya macam-macam. Maka dalam rangka upaya preventif, ada pihak-pihak yang diminta perhatian lebih banyak lagi: orang-tua, guru, pimpinan sekolah, ulama, polisi, dan sebagainya. Semua mereka dinilai kurang aktif dalam memberikan pendidikan moral kepada remaja. Orang-tua jarang bertemu anaknya dan kalau bertemu pun tidak berkomunikasi secara harmonis. Guru-guru merasa hanya bertanggungjawab untuk meningkatkan kapasitas intelektual, bukan moral. Kepala sekolah dan wali kelas hanya mengurusi masalah administratif. Ustadz dan pemimpin agama yang lain tidak fokus membina insan-insan muda yang tengah gelisah itu. Polisi hanya bertindak setelah tawuran terjadi dan sedikit sekali melakukan upaya preventif.
Demikian komentar banyak orang, yang disampaikan melalui media elektronik dan media cetak. Tetapi menurut saya, ada lagi pihak yang juga banyak sahamnya untuk memunculkan kegalauan pada semua orang termasuk remaja. Dia adalah media itu sendiri. Berita tentang tawuran ditampilkan berkali-kali dan kadang-kadang secara vulgar sehingga malahan menarik para remaja untuk mengikutinya. Berita politik sangat banyak menampilkan pertentangan antar kelompok. Berita demo acap kali fokus pada ricuhnya, bukan bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang dituntut pendemo. Sudah tentu ada juga media yang bijak, tetapi sayang hanya sedikit saja. Meskipun demikian, tentu saja kritik terhadap media itu sulit sekali. Siapa yang mau memuat? Atau kalaupun dimuat atau ditayangkan, sudah sangat dihaluskan.” Begitu kata ustadz kita.
Maka hendaknya kita lebih mendahulukan toleransi dan kasih sayang dalam hidup bermasyarakat, agar kita menjadi manusia yang kembali ke jalan Allah Swt, dan penggiring keselamatan orang-orang yang celaka.
Hermanto Harsolumakso
No. 163