Memasuki
bulan Dzulhijjah ummat Islam di seluruh dunia bersiap untuk merayakan Idul
Adlha 1433 H, atau hari raya Qurban,
hari besar ummat Islam yang mengingatkan kita pada peristiwa bersejarah yaitu
kisah Nabi Ibrahim beserta keluarganya. Kisah tersebut diabadikan oleh Allah
Swt menjadi syari’at menunaikan ibadah Haji dan Qurban yang diperintahkan kepada
Nabi Muhammad Saw, dan selanjutnya diikuti oleh seluruh ummat Islam.
Ibadah Haji, dilaksanakan
ummat Islam dari seluruh dunia, di mana jutaan manusia berkumpul melaksanakan
kegiatan secara ber-sama-sama di suatu tempat, tidak terkecuali dari Indonesia
yang pada tahun ini tercatat lebih dari 210
ribu jemaah sampai saat ini sudah berada di tanah suci. Haji merupakan ritual
keagamaan yang sangat besar dan spektakuler, yang hanya dilakukan oleh ummat
Islam. Maka benarlah doa Nabi Ibrahim As kepada Allah Swt untuk menjadikan rumah Allah
(Ka’abah) tempat yang dirindukan oleh keturunannya: “Hai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di
lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan di sisi rumah Engkau yang suci. Hai Tuhan
kami (tujuanku) agar mereka mau mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati manusia
(seluruh dunia) rindu kepada mereka, dan berilah rezeki kepada mereka berupa
buah-buahan, semoga mereka mau bersyukur (kepada-Mu).” (QS Ibrahim 14: 37).
Semoga kita semua termasuk
menjadi orang-orang sebagai-mana doa Nabi Ibrahim, yang
merindukan rumah Allah, dan bagi yang belum sempat melakukan ibadah haji
diberikan kemudahan Allah untuk suatu ketika dapat menunaikan ibadah haji.
Demikian juga Qurban, salah satu kewajiban ummat Islam (yang mampu), dengan
melakukan pemo-tongan hewan qurban, di
mana jutaan hewan qurban dipotong dalam waktu yang bersamaan di seluruh
dunia.
Ibadah Qurban mengingatkan
kisah ujian keimanan yang sangat dahsyat dialami oleh Nabi Ibrahim,
disyariatkan Allah dan diabadikan secara khusus sebagaimana tertulis di dalam
Al-Qur’an: “Maka tatkala anak itu sampai
(pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai
anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu!” Ia
(Ismail) menjawab: “Hai bapakku, ker-jakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya
atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami panggillah dia: “Hai
Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian
yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
(QS Ash-Shaffaat 37: 102-107).
Melalui kisah di atas
dapat ditarik suatu tauladan, begitu kuatnya keimanan Nabi Ibrahim beserta
isterinya dan Ismail puteranya, dengan keyakinan yang begitu kuat kepada Allah,
apapun yang diperintahkan-Nya ditaati dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan
sekalipun nyawa dipertaruhkan. Kisah tersebut diabadikan melalui praktek ritual
ibadah haji dan qurban.
Pada ibadah Haji kita
mengenal dan melakukan sa’i, jumrah, thawaf dan lainnya merupakan napak tilas
terhadap apa yang dilakukan Ibrahim. Sa’i,
mengingatkan bagaimana ketegaran Hajar isteri Ibrahim harus berlari dari bukit
Safa ke bukit Marwah demi mencari setetes air untuk keperluan bayi Ismail. Melempar jumrah juga mengulangi dan meniru upaya Hajar yang melempar syeitan-syeitan
yang mencoba meng-godanya agar pergi
meninggalkan mereka yang sedang mengalami penderitaan dan ujian. Thawaf, mengingatkan bagaimana Ibrahim
dan Ismail pada saat itu sering mengelilingi bangunan Ka’abah yang mereka
dirikan.
Ibadah Qurban juga
merupakan syari’at ummat yang terdahulu (sya’run
man qablana), karena kegiatan tersebut juga dilakukan oleh putra keturunan
Adam, yaitu Qabil dan Habil. Begitu pula yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As.
Qurban tidak mempunyai nilai apapun di sisi Allah bila tidak disertai
dengan keikhlasan, karena keikhlasan merupakan cermin dari ketauhidan.
Daging yang dibagikan dan darah yang
dialirkan, tidak berarti apa-apa bila tidak disertai keikhlasan dalam
pelaksanaannya. Allah berfirman: “Daging-daging
dan darahnya (hewan qurban) itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan)
Allah Swt, tetapi ketaqwaan dari kamulah (yang dapat mencapainya).” (QS Al-Hajj
22: 37). Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa qurban seseorang
tidak akan berarti dan diterima (mencapai keridhaan) Allah tanpa disertai
dengan takwa.
Adalah hubungan yang
sangat erat antara ibadah shiyam ramadhan
dengan ibadah haji dan ibadah qurban. Ibadah shiyam membentuk kepribadian taqwa
kepada Allah Swt sebagaimana firman-Nya: “Hai
orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana
telah diwajibkan atas orang-orang dahulu sebelum kamu, supaya kamu bertakwa.”
(QS Al-Baqarah 2: 183).
Sedangkan untuk
melaksanakan ibadah haji, bekal terbaik adalah
ketakwaan, dari ayat: “Ibadah haji itu di
dalam bulan-bulan yang telah ditentukan, maka barang siapa yang melaksanakan
kewajiban haji dalam bulan-bulan itu, maka tidak boleh sekali-kali rafats
(jima’) dan tidak boleh sekali-kali fusuq, tidak boleh sekali-kali
berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji. Dan jika kamu mengerjakan
sesuatu kebajikan, Allah maha mengetahuinya. Dan berbekallah, dan sesung-guhnya
sebaik-baik bekal, ialah takwa kepada Allah, dan bertakwalah kamu kepada-Ku hai
orang-orang yang berakal.” (QS Al-Baqarah 2: 197).
Barangkali baik kita
cermati kisah nyata yang pernah dialami salah seorang yang pernah melaksanakan
ibadah haji, semenjak tiba di tanah suci dia tidak pernah dapat melihat
Ka’abah, biarpun dia telah masuk ke Masjidil Haram. Dalam melaksanakan thawaf
pun dia tidak dapat melihat Ka’abah, entah karena apa selalu tertutup
pandangannya oleh padatnya manusia dan benda-benda lain sehingga tidak dapat
melihat Ka’abah. Oleh beberapa sahabat jemaah itu disarankan untuk istighfar
dan selalu istighfar sambil mengoreksi diri atas perilaku yang telah
dialaminya. Diakuinya bahwa dia masih mempercayai ada yang kuasa selain Allah,
masih ada bibit syirik dalam hatinya.
Dan setelah benar-benar memohon ampun kepada Allah, akhirnya Allah membuka
matanya untuk melihat Ka’abah. Allah maha besar, berkuasa atas apa yang
dikehendakinya. Sementara hamba Allah menyadari tidak berarti apa-apa di bawah kekuasaan-Nya. Demikian juga ibadah Qurban, yang
akan sampai kepada Allah bukan daging dan darah hewan qurban, melainkan
ketakwaanlah yang akan sampai kepada-Nya (QS Al-Hajj 22: 37).
Dengan demikian dapat
diketahui bahwa inti dari perjalanan haji dan syari’at qurban, adalah
tertanamnya ‘tauhid’ di dalam jiwa
setiap hujaj dan orang yang berqurban
sebagaimana tertanam dalam jiwa Ibrahim dan keluarganya. Ketauhidan, adalah
ajaran yang penting dipesankan dalam dalam ibadah haji dan qurban. Haji adalah
puncak ritual tauhid yang maha dahsyat bagi siapa saja yang mau memahami dan
menemukannya. Tauhid ini pula yang essensial bagi tempat kembali (ke fitrah)
manusia, yang menjadi tujuan ibadah shiyam
yang disyariatkan pada bulan
Ramadhan.
Karena itu tidaklah suatu
kebetulan kalau bulan Ramadhan berada di depan bulan Dzulhijjah, seakan-akan
pelajaran untuk mencapai takwa dipersiapkan dahulu sebelum melakukan ujian yang
lebih berat yaitu melakukan ibadah haji dan qurban. Muara dari semua syariat
yang diperintahkan Allah adalah menjadikan manusia yang bertauhid, dengan
berbekal takwa melaksanakan amal ibadah dan kewajiban-kewajiban di dunia ini
dengan ikhlas, karena hanya mengharapkan keridhaan Allah Swt.
Mohammad Kamal
No.
165
Assalamu'alaikum Al-Mustaqiim.
BalasHapusSebagai pembaca baru, pada kesempatan hari Idul Adha ini, saya sampaikan Taqoballalahi minna wa minkum, taqoballahu ya karim kepada para ustadz Al-Mustaqiim. Semoga perjuangan amar ma'ruf nahi munkar melalui penerapan 10 Prinsip Membangun Masyarakat Islami akan senantiasa mandapatkan bimbingan dari Allah Swt. Amien. Wassalamu'alaikum wr.wb.