KAJIAN TERHADAP QS AL-'ANKABUUT 29: 1-3
Tiga
ayat permulaan surah Al-'Ankabut menyatakan:
الم ﴿١﴾ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا
آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ
اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ﴿٣﴾
Alif
laam miim.
Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah
beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi
(atas perkataannya itu?). Dan sesungguhnya Kami
telah menguji orang-orang yang sebelum mereka; maka sesungguhnya Allah
mengetahui orang-orang yang benar pengakuan imannya dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.”
Surah yang diletakkan Rasulullah Saw di dalam Mushaf Al-Qur’an pada urutan ke 29 ini diawali dengan fawatihus suwari – rangkaian huruf hijaiyah (Alfabet Arab) yaitu alif, laam dan mim. Untaian huruf itu tidak digunakan orang dalam komunikasi sehari-hari. Para ulama tafsir menerangkan bahwa fungsi fawatihus suwari adalah menangkap perhatian orang-orang yang membaca atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an, karena sesudah itu akan disampaikan pesan atau keterangan yang sangat penting. Keterangan penting yang diungkapkan pada surah ke ini dikemas dengan sebuah pertanyaan retorika, pertanyaan yang jawabannya sudah jelas; pertanyaan demikian itu dimaksudkan untuk menegaskan sebuah kebenaran, sekaligus menarik perhatian. Pertanyaan retorika tersebut adalah: Pantaskah seseorang atau segolongan orang mengira bahwa mereka mudah saja mengaku sebagai orang yang beriman, dan pengakuan mereka itu langsung diterima oleh Allah tanpa diuji kebenarannya? Tentu saja tidak. Setiap pengakuan iman akan dicocokkan dengan sikap dan perilaku orang tersebut.
Di antara manusia ada yang menjalani hidup sesuai dengan imannya dan di antara mereka ada pula yang perbuatan-perbuatannya justru bertolak belakang dengan pengakuan imannya. Kaum munafikin mengaku beriman kepada Allah tetapi mereka tidak menunaikan shalat, kecuali ketika sedang berada di depan orang banyak. Mereka mengaku menjadi pengikut setia Rasul Allah, tetapi tidak menaati perintah-perintah beliau dan tidak menjadikan Rasul sebagai idola untuk diteladani dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka mengaku beriman kepada hari Kiamat tetapi tidak berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang besar itu. Apakah Allah dan Rasul-Nya mudah tertipu oleh pengakuan mereka? Tentu saja tidak! Selama beberapa waktu Allah memberi kesempatan kepada mereka untuk intropeksi dan mengubah pendiriannya. Tetapi bila mereka mengabaikan kesempatan emas itu, kelak mereka akan tahu bahwa Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka lakukan; mereka pasti memperoleh balasan yang pedih atas sikap dan pekertinya tersebut.
Manusia dicipta Allah Swt sebagai makhluk yang sadar diri. Dia mengetahui secara mendalam sebagian besar dari perbuatan-perbuatannya, memahami tujuan dari aktivitasnya itu, mampu memperhitungkan hasil yang akan dia peroleh dan resiko yang mungkin menimpanya. Manusia dikaruniai Allah potensi aql - rasio dan hati - yang dapat memahami benar dan salah, baik dan buruk, banyak sedikitnya manfaat serta besar kecilnya mudharat. Selain itu manusia juga memiliki nafsu, yang menjadikan dia merasakan kegembiraan terhadap proses dan hasil kegiatannya. Nafsu mendorong orang mengembangkan kemampuannya untuk mewujudkan budaya yang semakin maju. Tetapi bila nafsu berkembang melewati batas, dia akan merugikan. Nafsu yang menguntungkan adalah yang dirahmati Allah (QS Yusuf 12: 53), sedangkan nafsu yang memperoleh rahmat Allah ialah yang dikendalikan sesuai norma-norma agama. Allah mempersilakan para wanita mengenakan perhiasannya, bahkan ketika pergi ke masjid, dan membolehkan setiap orang makan dan minum apa yang disukainya asal tidak berlebihan, karena Allah tidak suka kepada orang yang berlebihan. (QS Al-A’raaf 7: 31).
Karena potensi kemanusiaannya yang tinggi, maka kelakuan orang dapat memberi hasil yang optimal, tetapi juga bisa mendatangkan kerugian yang sangat besar. Sekelompok lebah ketika bekerja sama menghasilkan madu yang banyak, mencukupi kebutuhan konsumtif anggotanya untuk beberapa waktu. Tetapi sekelompok orang mampu membangun dan mengoperasionalkan pabrik-pabrik yang hasilnya dinikmati jutaan orang lain. Sekawanan gajah yang marah dapat menghancurkan sebuah kampung, tetapi sekawanan orang telah terbukti meluluh-lantakkan dua kota besar: Hiroshima dan Nagasaki, dengan bom atom yang dijatuhkan ke dua kota tersebut. Sungguh dahsyat akibat ulah manusia.
Surah yang diletakkan Rasulullah Saw di dalam Mushaf Al-Qur’an pada urutan ke 29 ini diawali dengan fawatihus suwari – rangkaian huruf hijaiyah (Alfabet Arab) yaitu alif, laam dan mim. Untaian huruf itu tidak digunakan orang dalam komunikasi sehari-hari. Para ulama tafsir menerangkan bahwa fungsi fawatihus suwari adalah menangkap perhatian orang-orang yang membaca atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an, karena sesudah itu akan disampaikan pesan atau keterangan yang sangat penting. Keterangan penting yang diungkapkan pada surah ke ini dikemas dengan sebuah pertanyaan retorika, pertanyaan yang jawabannya sudah jelas; pertanyaan demikian itu dimaksudkan untuk menegaskan sebuah kebenaran, sekaligus menarik perhatian. Pertanyaan retorika tersebut adalah: Pantaskah seseorang atau segolongan orang mengira bahwa mereka mudah saja mengaku sebagai orang yang beriman, dan pengakuan mereka itu langsung diterima oleh Allah tanpa diuji kebenarannya? Tentu saja tidak. Setiap pengakuan iman akan dicocokkan dengan sikap dan perilaku orang tersebut.
Di antara manusia ada yang menjalani hidup sesuai dengan imannya dan di antara mereka ada pula yang perbuatan-perbuatannya justru bertolak belakang dengan pengakuan imannya. Kaum munafikin mengaku beriman kepada Allah tetapi mereka tidak menunaikan shalat, kecuali ketika sedang berada di depan orang banyak. Mereka mengaku menjadi pengikut setia Rasul Allah, tetapi tidak menaati perintah-perintah beliau dan tidak menjadikan Rasul sebagai idola untuk diteladani dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka mengaku beriman kepada hari Kiamat tetapi tidak berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang besar itu. Apakah Allah dan Rasul-Nya mudah tertipu oleh pengakuan mereka? Tentu saja tidak! Selama beberapa waktu Allah memberi kesempatan kepada mereka untuk intropeksi dan mengubah pendiriannya. Tetapi bila mereka mengabaikan kesempatan emas itu, kelak mereka akan tahu bahwa Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka lakukan; mereka pasti memperoleh balasan yang pedih atas sikap dan pekertinya tersebut.
Manusia dicipta Allah Swt sebagai makhluk yang sadar diri. Dia mengetahui secara mendalam sebagian besar dari perbuatan-perbuatannya, memahami tujuan dari aktivitasnya itu, mampu memperhitungkan hasil yang akan dia peroleh dan resiko yang mungkin menimpanya. Manusia dikaruniai Allah potensi aql - rasio dan hati - yang dapat memahami benar dan salah, baik dan buruk, banyak sedikitnya manfaat serta besar kecilnya mudharat. Selain itu manusia juga memiliki nafsu, yang menjadikan dia merasakan kegembiraan terhadap proses dan hasil kegiatannya. Nafsu mendorong orang mengembangkan kemampuannya untuk mewujudkan budaya yang semakin maju. Tetapi bila nafsu berkembang melewati batas, dia akan merugikan. Nafsu yang menguntungkan adalah yang dirahmati Allah (QS Yusuf 12: 53), sedangkan nafsu yang memperoleh rahmat Allah ialah yang dikendalikan sesuai norma-norma agama. Allah mempersilakan para wanita mengenakan perhiasannya, bahkan ketika pergi ke masjid, dan membolehkan setiap orang makan dan minum apa yang disukainya asal tidak berlebihan, karena Allah tidak suka kepada orang yang berlebihan. (QS Al-A’raaf 7: 31).
Karena potensi kemanusiaannya yang tinggi, maka kelakuan orang dapat memberi hasil yang optimal, tetapi juga bisa mendatangkan kerugian yang sangat besar. Sekelompok lebah ketika bekerja sama menghasilkan madu yang banyak, mencukupi kebutuhan konsumtif anggotanya untuk beberapa waktu. Tetapi sekelompok orang mampu membangun dan mengoperasionalkan pabrik-pabrik yang hasilnya dinikmati jutaan orang lain. Sekawanan gajah yang marah dapat menghancurkan sebuah kampung, tetapi sekawanan orang telah terbukti meluluh-lantakkan dua kota besar: Hiroshima dan Nagasaki, dengan bom atom yang dijatuhkan ke dua kota tersebut. Sungguh dahsyat akibat ulah manusia.
Oleh karena itu Allah yang Maha Mengtahui
dan Maha Bijaksana menganugerahi manusia informasi serta petunjuk kehidupan,
yang bila dipatuhi akan mengantarkannya kepada ketenteraman, kedamaian, kesejahteraan
serta kebahagiaan yang panjang. Sebagian orang mengikuti arahan Allah tersebut
dengan suka rela namun sebagian banyak lainnya menolak karena lebih suka mengikuti
kehendak nafsunya dan bujuk rayu syaitan yang datang kepadanya dengan wajah
manis dan tipuan-tipuan menarik.
Mengerjakan yang benar dan baik serta
menjauhi yang salah dan buruk, memerlukan tekad yang kuat dan semangat yang
tinggi; itulah yang disebut jihad - perjuangan, dan jihad itu memang
sangat berat. Ketika pulang dari pertempuran Badar melawan agresor Qureisy,
Rasulullah bersabda: "Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar,
yaitu mengendalikan nafsu". Perjuangan tersebut dapat kita pahami pula
sebagai menempuh ujian hidup, seperti yang dikemukakan pada ayat 2 surah
Al-'Ankabuut. Sedangkan ujian-ujian demikian itu akan
selalu dihadapi di segala tempat, pada semua waktu, dan dalam setiap keadaan.
Karena itu ada pepatah bahasa Arab yang menyatakan: Alhayatu silsilatun
minal imtihan - kehidupan itu merupakan untaian dari ujian demi ujian.
Bila orang memandang ujian hidup itu sebagai
aral, halangan dan hambatan, nilai dirinya di hadapan Allah tidak beranjak
naik. Tetapi bila orang menganggap ujian sebagai wahana untuk memperoleh
penghargaan dari Allah Swt, dia pasti mendapatkan apa yang dijanjikan Allah
kepadanya, yaitu ketenteraman dan kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan hakiki
dan abadi di akhirat.
Ayat 3 surah Al-'Ankabuut
kemudian menerangkan bahwa pada masa dahulu Allah telah menguji orang-orang
yang hidup sebelum generasi Muhammad Saw. Di antara mereka yang diuji itu ada
yang lulus dan ada yang gagal, ada yang memperoleh ridha Allah karena ketulusan
dan kesabarannya menerima ujian, dan ada yang ketahuan kadar imannya yang
sangat tipis, ketika tidak tahan menghadapi beberapa cobaan yang mereka terima.
Sebagaimana yang dikemukakan pada ayat
sebelum ini, Allah pasti akan menguji setiap orang untuk membuktikan kadar
imannya. Hal ini dikemukakan pula pada ayat lain: "Apakah
kamu mengira, kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah,
orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang
sabar?”
(QS 142 Ali ‘Imraan 3: 142). Setiap orang pasti mengalami cobaan-cobaan
hidup, bahkan orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah sekalipun. Mereka
diuji justru sebagai kesempatan untuk meningkatkan derajatnya.
Rasulullah Saw
pernah menyatakan: "Manusia yang paling berat cobaannya ialah para
nabi, kemudian orang-orang yang shaleh, lalu
orang-orang yang terkemuka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya;
jika agamanya kuat maka ujiannya diperberat pula." Demikian
sabda Rasul. Dari keterangan tersebut jelas bahwa orang yang lulus dalam ujian
yang sangat berat adalah orang yang benar-benar beriman.
Bagaimanakah sosok orang-orang yang
benar-benar beriman itu? QS Al-Hujuraat 49:
15 menjelaskan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu
hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka
tidak ragu-ragu terhadap imannya itu, dan mereka berjuang di jalan Allah dengan
harta dan dirinya. Mereka itulah orang-orang yang benar pengakuan imannya.”
Ayat yang kita
baca
tadi menyatakan bahwa siapa saja yang mengaku beriman akan diuji dengan
bermacam-macam ujian. Ada
ujian yang berupa keadaan yang sulit, misalnya masalah-masalah besar, musuh
kuat yang mengancam, kemiskinan yang menghimpit dan sebagainya. Bani Israil
umat Nabi Musa As. diperlakukan Fir’aun di Mesir sebagai budak-budak yang dibebani
kerja keras tetapi tidak memiliki hak apapun. Para pengikut Nabi ‘Isa As.
terpaksa hidup berpindah-pindah karena dikejar hendak dibinasakan oleh tentara
Romawi.
Al-Qur’an
menceriterakan tiga orang Rasul yang menghadapi ujian berbeda. Nabi Ayyub As
adalah gambaran seorang hamba Allah yang sangat sabar ketika dihadapkan kepada
beberapa kesulitan berturut-turut: kekayaannya ludas, putera-puteranya wafat
dan beliau sendiri sakit berat. Tetapi Ayyub As tetap
sabar menerima segala cobaan itu sambil terus berdo’a tanpa mengeluh sama
sekali. Yang beliau katakan hanyalah: "Wahai Tuhanku sesungguhnya aku
ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara para
penyayang". (QS 21:83). Ada pula ujian yang sebaliknya yaitu keadaan
yang serba menyenangkan seperti kekayaan yang berlimpah ruah, kedudukan yang
tinggi, anak keturunan yang banyak, dan sebagainya. Nabi Sulaiman As
adalah sosok hamba yang memperoleh segala-galanya: kekuasaan, kekayaan, ilmu
pengetahuan, dan kenabian. Tetapi semua itu tidak menjadikan beliau ke luar
dari sikap tawaddhu' -rendah
hati. Menanggapi berbagai kenikmatan yang beliau terima Sulaiman As.
menyatakan: "Semua ini adalah karunia Tuhanku, untuk menguji aku apakah
aku bersyukur atau bahkan menjadi kufur”. (QS An Naml 27: 40). Nabi
Isma'il As ketika masih remaja sudah diuji Allah yang
luar biasa, yaitu akan disembelih ayahandanya sendiri. Tatkala Ibrahim
menanyakan pendapatnya tentang hal itu beliau menjawab mantap: "Wahai
ayahku, laksanakan perintah Allah itu dengan semestinya. Engkau akan
menyaksikan daku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar". (QS Ash-Shaffaat 37: 102).
Nabi Ayyub As dihadapkan
kepada keadaan yang sangat tidak nyaman, tetapi beliau amat bersabar. Nabi
Sulaiman As. memperoleh situasi yang benar-benar
menjadi idaman setiap orang, dan beliau sangat bersyukur. Nabi Isma'il As hendak
dihabisi hidupnya dengan seketika, dan beliau ikhlas sepenuhnya. Ketiga beliau
lulus dengan predikat cumlaude sehingga kelak pasti menerima karunia
terbaik dari Allah Swt. Setiap kita juga diuji Allah dengan ujian yang
bermacam-macam. Allah Maha
Mengetahui tingkatan iman kita,
maka Dia tidak akan menguji kita sebagaimana yang Dia hadapkan kepada Ayyub,
Sulaiman dan Isma'il. Toh banyak orang yang tidak tahan dengan ujian-ujian ‘ringan’
itu. Mudah-mudahan kita tidak termasuk ke dalam golongan tersebut.
Sakib Machmud
No. 166
Banyak alternatif ujian iman yang kelihatannya mudah dihadapi seperti ujian bagi Nabi Sulaiman As...... tapi setan memang tidak pernah berhenti menyesatkan manusia. Sudah mendapatkan jabatan wakil rakyat yang terhormat dengan gaji besar dan fasilitas mewah...... masih juga memeras ....
BalasHapusMari kita sama-sama berusaha membangun insan-insan Indonesia masa depan yang berakhlak karimah. Saya merasa sangat beruntung, Allah Swt memberi kesempatan sekaligus amanah kepada saya, di usia yang sudah senja ini membina sekolah-sekolah untuk anak-anak yang kurang beruntung ekonominya, dan saya masih dapat menemui anak-anak muda potensial di berbagai kota untuk sharing pengetahuan dan pengalaman. Terima kasih atas komentarnya. SM
BalasHapusKeren artikelnya dan juga semangat ustadz yang menulisnya.Maju terus Al Mustaqiim.
BalasHapus