Tidak ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan. baik
bagi Anda yang belum masuk Islam, maupun yang sudah masuk Islam, tetapi belum
melaksanakan shalat dengan tertib, atau belum dapat membaca Al-Qur’an, atau merasa
belum sempurnanya mengerjakan rukun
Islam yang lain, merasa ilmu keIslaman kurang, dan pernah mengerjakan maksiat,
atau kejahatan yang menyebabkan merasa berdosa besar, dan lain sebagainya.
Jangan terlalu
menyesal atau sedih, karena tidak ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan,
segeralah melakukan kebaikan, dan segera pula meninggalkan perbuatan yang buruk
atau tercela. Mulai saat ini pada tanggal 1 Muharam yaitu hari pertama tahun
1434 Hijriyah, Anda berkesempatan besar melakukan perbaikan dalam kehidupan
pribadi dan sosial yang diilhami ‘semangat hijrah’.
Peristiwa hijrah, secara lahiriyah adalah berpindahnya
Nabi Muhammad Saw beserta para sahabat dan seluruh pengikutnya dari Makkah ke
Madinah. Peristiwa itu menjadi sangat penting, karena merupakan episode baru
dalam pengembangan Islam, demikian juga bagi para pengikutnya yakni kaum ‘muhajirin’.
Allah Swt
berfirman: “Dan barang siapa berhijrah di
jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang
luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan
maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya
(sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh pahalanya telah ditetapkan
di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisaa’ 4:
100).
Pesan moral yang tersirat dalam peristiwa hijrah, adalah semangat melakukan
perubahan, yaitu perubahan dari kegelapan menuju peradaban yang disinari oleh
aqidah. Peristiwa hijrah dapat juga memberikan inspirasi semangat perubahan
dari perilaku atau keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik, hijrah dari
kemaksiatan kepada takwa, hijrah dari masyarakat yang kurang sejahtera menuju
peningkatan kesejahteraan seluruh elemen masyarakat, atau apapun keinginan kita
untuk merubah ke arah keadaan yang lebih baik dan memberikan manfaat yang lebih
besar.
Untuk melakukan
hijrah memang tidak mudah. Dalam diri seorang muhajir harus
tertanam niat yang tulus, jihad, dan perjuangan, karena dalam perjalanan hijrah
itu pasti akan menghadapi tantangan dan cobaan. Tanpa niat yang tulus untuk berjihad
dengan kesungguhan yang terus bergelora tidak mungkin tantangan-tantangan itu
bisa ditaklukkan.
Bagi yang belum
Islam, baik yang usianya masih muda maupun yang usia lanjut, bersegeralah
membaca Dua Kalimah Syahadat, karena agama di sisi Allah hanyalah Islam
sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS
Ali ‘Imraan 3: 19), dan agama yang sempurna sebagaimana ditegaskan-Nya: “Pada
hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku cukupkan nikmatku
bagimu dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS Al-Maaidah 5: 3). Allah
pun mengingatkan: “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka
sekali-sekali dia tidak akan terima (agama itu), dan di akhirat dia termasuk
orang-orang yang rugi. (QS Ali-‘Imraan 3: 85).
Allah Swt Maha Pengampun
dan Maha Penyayang: ”Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan
memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah Maha pengampun lagi Penyayang.“ (QS
Al-Maidah 5: 74). Layanan ampunan dari Allah selalu terbuka 24 jam, tidak
peduli siang ataupun malam, tidak memerlukan perantara, Allah Swt sangat senang
dengan adanya keluhan dan permintaan dari hamba-Nya secara langsung.
Sebuah Hadits
Qudsi, menjelaskan: Dari Abu Musa Abdullah bin Al-Asyari Ra, Nabi Saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala Itu membentangkan tangan-Nya (memberikan
kesempatan) pada waktu malam, untuk taubat orang yang berbuat dosa pada siang
hari dan Allah mebentangkan tangan-Nya pada waktu siang untuk taubat orang yang
berbuat dosa di malam hari, hingga matahari terbit dari Barat.”
Panjangnya
kesempatan untuk bertaubat bagi orang yang berbuat dosa sampai matahari terbit
dari Barat, artinya sampai hari Kiamat dan sebelum ajal sampai di tenggorokan atau
meninggalkan dunia, berarti pula tidak mengenal waktu kapanpun dan di manapun. Maka kalau kita mengetahui
dan percaya betapa Maha Pengampun Allah, maka tidak ada kata putus asa dalam
kehidupan ini. Maka berubahlah mulai sekarang juga jangan menunda waktu lagi.
Ampunan Allah sangat luas, janganlah
terpedaya oleh syeitan
dan hawa nafsu sehingga rmudah berbuat dosa, sebagaimana firman-Nya: “Wahai
manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap
Tuhanmu Yang Maha Pemurah?” (QS Al-Infithaar
82: 6).
Allah Swt menandaskan: “Orang-orang yang kafir
kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin
dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil
manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu
adalah kesesatan yang jauh.” (QS Ibrahim 14:
18)
Dalam kehidupan
di dunia ini setiap manusia tidak dapat terlepas dari berbagai masalah, kesulitan,
ujian dan cobaan. Dalam
menghadapi permasalahan, ada sebagian ummat
Islam memilih sikap apatis dan putus harapan. Padahal sikap seperti itu sangat
dilarang dalam ajaran Islam. Karena putus asa itu adalah sikap orang-orang
kafir. Sebagaimana firman Allah: “(Dan berkata
Ya’kub): “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang
Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang
kafir."
(QS Yusuf
12: 87).
Setiap ada masalah apalagi
yang dianggap serius dan besar manusia umumnya berkeluh kepada sesama manusia. Beberapa di antaranya bahkan mencaci
dirinya sendiri, ada juga yang menuduh orang lain atas masalah yang dihadapi. Sikap seperti ini jelas
tidak patut bagi seorang Muslim.
Adalah sangat tepat jika kita berkeluh kesah kepada Allah Swt sebagaimana para
Nabi dan Rasul melakukannya. Allah Swt menggambarkannya secara gamblang di dalam kitab Akl-Qur’an agar kita benar-benar
berkeluh kesah hanya kepada-Nya.
Hal ini bisa kita cermati di dalam Al-Qur’an: QS Yusuf 12: 86 (Nabi Ya’kub), QS Al-Anbyaa’ 21: 83-84, (Nabi Ayub), QS Maryam 19: 7-8 (Nabi Zakaria). Jadi berkeluh
kesah kepada Allah Swt akan melahirkan sikap sabar, qana’ah - merasa
cukup dan puas - dan terus menerus mengharap kekuatan dari Allah Swt.
Kalau kita sudah
masuk Islam dan mengaku Islam, sudah bertaubat kepada Allah Swt dari perbuatan
dosa, maka selain kita wajib melaksanakan 5 (lima) rukun Islam - sesuai
kemampuan maksimal, kita harus pula mengembangkan diri menjadi dan membentuk
pribadi Muslim yang mulia (al-akhlaqul-karimah), yakni sikap atau
perilaku pemeluk agama Islam yang patut diteladani, beriman kuat, takwa kepada
Allah Swt, shaleh, menguasai ilmu keIslamannya dan berwawasan luas serta mampu
menyebarkan ilmunya kepada orang lain sehingga bermanfaat. Untuk itu, ada 7 (tujuh)
landasan kokoh dan kuat untuk membentuk pribadi Muslim berakhlak mulia.
1. Shalat Berjamaah
Setelah Anda
mengucapkan mengucapkan Dua Kalimah Syahadat - bagi yang baru masuk Islam, segeralah
mulai melaksanakan shalat wajib lima waktu dan melakukan shalat berjamaah,
karena shalat berjamaah pahalanya berlipat daripada shalat sendirian seperti disebutkan
dalam Hadits Tarjamah Bulughul Maraam, A. Hasan, 421. Dari Abdullah bin Umar diriwayatkan
bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh
derajat pada shalat sendiri-sendiri.” Hal ini berarti dapat dipakai atau
merupakan percepatan kita untuk membekali diri untuk di akhirat nanti daripada melakukan shalat sendirian. Dan akan lebih baik dilaksanakan di
masjid karena shalat di masjid
berarti pula ikut
memakmurkan masjid, di mana
suasananya dapat membangkitkan
semangat untuk lebih
meningkatkan mengerjakan shalat sunnah serta kesempurnaan shalat yang lain, yang
rapat lurus shafnya serta tepat waktunya, sebab itulah sumber kekuatan, tenaga,
iman dan pemersatu ummat
Islam sehingga menumbuhkan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan.
2. Puasa
Melaksanakan
ibadah puasa bukan hanya puasa wajib pada bulan Ramadhan tiap tahun saja,
lakukanlah juga puasa sunnat sesuai dengan petunjuk atau Hadits Nabi Muhammad
Saw. Puasa akan menghimpun kekuatan tenaga iman, membentengi Al-Islam
dari pengaruh-pengaruh buruk yang menyesatkan, menenangkan jiwa, dan menajamkan
doa munajat agar segera terkabul.
3. Zakat dan Infaq
Perintah menunaikan zakat berkali-kali diulang dan digandengkan dengan
perintah shalat di antaranya: “Dan
dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku’.
(QS Al-Baqarah 2: 43). Zakat adalah suatu metode pembelajaran agar
seseorang memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah salah satu bagian dari
lingkungan sosial yang memiliki tugas menjalankan misi-Nya sebagai rahmatan
lil ‘alamin. antara lain membuka pintu perbendaharaan duniawi yang bisa
dijadikan sumber rejeki kaum Muslimin, dan infaq dapat untuk mencegah bencana
atau menolak bala, melebur dosa, mengangkat derajat dan menyampaikan segala
hajat serta cita-cita. Perintah infaq juga sering disebut di dalam Al-Qur’an
seperti: “Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah sebagian rejeki yang
telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual
beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah
orang yang zhalim.” (QS Al-Baqarah
2: 254).
Untuk dapat
melaksanakan zakat dan infaq seorang Muslim harus mempunyai dana. Untuk itu
seorang Muslim sebaiknya bekerja mencari nafkah, baik untuk keluarganya maupun
untuk zakat dan infaq, maka dari itu disunnahkan untuk melakukan shalat Dhuha
karena waktu Dhuha biasanya dgunakan untuk mencari nafkah, Insya Allah
memberikan rejekinya bagi yang rutin mengerjakan shalat Dhuha.
4. Membaca Al-Qur’an
Tak bisa
disangkal bahwa Al-Qur’an adalah ‘obat’ yang mujarab untuk mengobati
penyakit-penyakit hati yang terkadang mendekam di sanubari seseorang, penyakit
syirik, nifaq, kebodohan, bid’ah, penyakit syubhat, syahwat, dan lain-lain.
Oleh karena itu hendaklahlah seorang Muslim senantiasa membaca Al-Qur’an secara
rutin setiap hari. Membaca Al-Qur’an bukan sekedar melagukan, melainkan juga berupaya
untuk memahami seluruh isi kandungan Al-Qur’an yang merupakan pedoman hidup ummat
Islam.
Al-Qur’an adalah
pembimbing menuju suatu kebahagiaan di tengah kondisi yang terus berubah cepat,
memberikan prinsip dasar yang dapat dipakai suatu pegangan untuk mencapai suatu
keberhasilan dan kesejahteraan, baik lahir maupun batin. Ini adalah proses
pembelajaran menimba ilmu keIslaman sampai menguasai sumber hukum yang
menerangi perjalanan hidup manusia kejalan yang benar dan lurus yang bisa
menolong dan mengeluarkan manusia dari kegelapan, dan dari segala macam kesulitan
hidup.
5. Silaturahim
Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa menghubungkan silaturahim merupakan
perintah kedua setelah perintah takwa sebagaimana firman Allah Swt: “Bertakwalah kamu kepada Allah, yang dengan nama-Nya kamu
saling memohon dan peliharalah kekerabatan (silaturahim).” (QS An-Nisaa’ 4: 1).
Tentang silaturahim ini
Rasulullah Saw bersabda: “Yang disebut
bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian,
melainkan bersilaturahim itu adalah menyambungkan apa yang terputus.” (HR
Al-Bukhari).
Makna silaturahim adalah
menyambung tali persaudaran. Dengan kata lain yang lebih luas mencegah perasaan
buruk sangka, menjalin tali persaudaraan (ukhuwah Islamiyah), menumbuhkan rasa kasih
sayang dan melapangkan rejeki yang murah penuh berkah.
6. Doa dan Dzikir
Dasar doa dan
dzikir disebutkan di dalam Al-Qur’an, antara lain: 1. Hanya milik
Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna
itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
(menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang
telah mereka kerjakan. (QS Al-A’raaf 7: 180), 2. “Dan Tuhanmu berfiman: Berdoalah
kepadaku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.“ (QS Ghafir 40: 60)
Doa dan dzikir merupakan
senjata pamungkas andalan kaum Muslimin untuk menarik dan mendatangkan rahmat
kasih sayang pertolongan Allah, membentuk pribadi Muslim yang berakhlak mulia. Doa dan dzikir adalah benteng bagi
seorang Muslim, dan juga penentram hati yang hakiki. Orang Islam yang tidak
pernah berdoa dan berdzikir ibarat seekor ikan yang hidup di daratan. Akan mati hatinya
dan berjuta-juta kesengsaraan selalu siap mengkeceramkan. Dan jangan lupa
berdoa agar dapat melaksanakan ibadah Haji ke tanah suci memenuhi panggilah
Allah Swt bagi yang belum berkesempatan, karena ibadah Haji adalah Rukun Islam yang kelima yang
wajib dikerjakan oleh
setiap Muslim yang memliki kemampuan - dana, kesehatan dan lainnya - untuk
menunaikannya.
7. Shalat Tahajud
Allah Swt berfirman:
”Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat Tahajud (sebagai suatu ibadah)
tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS
Al-Israa’ 17: 79). Shalat Tahajud memberikan motivasi menuju pintu sukses
keberhasilan dalam segala perjuangan untuk meraih kemenangan membuka rahasia
ilmu yakin dan ilmu rabbaniyah - berwawasan luas - untuk mendapatkan
karunia dan keridhaan Allah Swt.
Semoga tulisan
ini dapat menjadi dasar kehidupan dalam rumah tangga yang bahagia, mengatur masyarakat,
bahkan dalam upaya mewujudkan cita-cita kita seluruh rakyat Indonesia yaitu suatu
negara yang kaya raya, adil makmur, aman dan sentosa, yang diridhai Allah Swt sebagaimana
janji-Nya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di
antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh
akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang
yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama
yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar
(keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku
dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang
(tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS An-Nuur 24:
55).
Indrasto Harsolumakso
No. 167
Selamat Tahun Baru kepada para ustadz Al Mustaqiim dan para pembaca. Mari kita terus melakukan perbaikan untuk kebaikan ummat manusia di dunia dan akhirat. Amiin YRA.
BalasHapusTidak ada kata terlambat untuk menegakkan amar ma'ruf mahyi munkar .... maju terus ......
BalasHapus