Rabu, 25 Januari 2012

BERSIKAP ZUHUD SECARA TEPAT

Pembicaraan yang sedang ramai di berbagai media akhir-akhir ini adalah mengenai kehidupan hedonistik dan berfoya ria yang dilakukan para petinggi negara. Acara pernikahan yang amat megah, mobil-mobil super mewah yang diparkir anggun di kantor orang-orang yang secara hukum dan protokoler harus dihormati, renovasi dan pembangunan gedung baru yang sangat nyaman melewati kepantasan, dan sebagainya. Kondisi tersebut paradoks dengan keadaan sebagian besar masyarakat yang terperangah tak berdaya ketika rumahnya dihanyutkan banjir atau diruntuhkan tanah longsor, dan lapak-lapak kecil tempat kerjanya dihancurkan petugas karena mengganggu kelancaran lalu lintas. Sebagai reaksi terhadap keadaan timpang itu, sebagian orang melakukan demo-demo menyatakan ketidak-puasan terhadap para penyelenggara negara. Kebanyakan dari unjuk rasa itu berakhir ricuh, yang kadang-kadang menimbulkan kematian orang tak bersalah, baik di pihak rakyat jelata maupun petugas.

Para politisi yang mestinya bekerja sama mendinginkan suasana, malah memanfaatkan situasi panas itu untuk berbicara keras seakan-akan pembela rakyat jelata. Dengan itu mereka berharap memperoleh suara para pemilih di masa depan. Sebagian media tak arif juga menangguk keuntungan dengan menampilkan kontroversi tanpa penyelesaian masalah. Mereka berhitung, dengan menayangkan kontroversi yang menggelegakkan emosi itu, jumlah pembaca atau penontonnya naik secara eksponensial, lalu ratingnya tinggi, lalu iklannya banyak dan mahal.

Di tengah karut marut itu muncul segolongan orang yang bereaksi secara damai meski belum tentu benar. Sekarang ini beberapa golongan orang tengah melakukan gerakan ‘zuhud’, menjauhi segala hal yang berbau duniawi dan berkonsentrasi mengerjakan ibadah ritual yang dianggap jalan satu-satunya untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Mereka berkumpul di masjid-masjid, berdzikir panjang dan lama, sambil melupakan tugas-tugasnya sebagai kepala rumah tangga dan anggota komunitas sosial. Gerakan demikian cukup marak sehingga kain-kain putih laku keras dan penjahit menerima banyak pesanan untuk membuat baju koko.

Rupanya sejarah kaum Muslimin terulang kembali. Pada masa dahulu, sesudah Rasulullah Saw wafat dan setelah pemerintahan empat Khulafa-ur Rasyidin yaitu Abu Bakar ash-Shidiq, Umar bin Khattab, 'Utsman bin 'Affan, dan 'Ali bin Abu Thalib berakhir, elit pemerintahan Islam bermegah pongah. Berbeda dengan para pemimpin sebelumnya, khalifah tinggal di rumah-rumah indah, menghalangi diri dari rakyat yang menjadi tanggungjawabnya. Mereka beserta kerabat dan orang-orang dekatnya sering berpesta mewah, dengan uang yang seharusnya digunakan menyejahterakan masyarakat. Perilaku demikian jelas bertentangan dengan kehendak dan aturan Allah Swt. Maka beberapa ulama berpengaruh seperti Hasan al-Basri, Sufyan as-Sauri dan Abu Hasyim menganjurkan ummat agar lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt, dengan memperbanyak shalat sunat, membaca Al-Qur’an, mengucapkan dzikir, dan sebagainya. Pada saat yang sama hendaknya ummat menjauhkan diri dari segala kesenangan dunia dan tidak mengikuti perbuatan para pemimpin yang mendzalimi diri sendiri.

Selanjutnya ketika gerakan Tasauf berkembang, zuhud menjadi amat penting dan dianggap sebagai salah satu tingkatan yang harus dilalui seorang sufi untuk menuju ke tingkat yang lebih tinggi dalam kedekatannya kepada Allah Swt. Pengertian zuhud pun meluas sampai pada tingkatan tidak menyukai segala kesenangan duniawi karena dianggap menghalangi keberhasilan usaha untuk memperoleh ridha Allah Swt. Al-Ghazali, sufi yang termasuk moderat, membagi zuhud ke dalam tiga tingkatan.

Pertama: meninggalkan sesuatu karena mengharapkan sesuatu yang lebih baik. Kedua: meninggalkan keduniaan karena mengharapkan akhirat. Ketiga: melupakan semua hal dan hanya mengingat Allah Swt. Sikap zuhud ini kemudian direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentang pakaian misalnya, Al-Ghazali berpendapat, seorang sufi cukup memiliki dua lembar; satu dikenakan ketika yang lain dicuci.

Ketika kemewahan merajalela, gerakan zuhud sebagai reaksi damainya pun menjadi ekstrem. Orang tidak merasa perlu mencari nafkah karena Allah telah menyediakannya untuk manusia. Mereka berpegang kepada firman Allah: "Dan tidak ada satu binatang yang melata di muka bumi kecuali Allah yang memberikan rizkinya.” (QS Huud 11: 6) Mereka juga tidak menganggap perlu mengurus keluarga karena masing-masing anggota keluarga berada dalam tanggungan Allah Swt. Apalagi pemerintahan, mereka memandangnya sebagai istana para syeitan. Salah satu ayat Allah yang dianggap oleh kaum Sufi sebagai pijakan sikap zuhud adalah QS Al-Hadiid 57: 20. Ayat ini menyatakan: "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."

Memang Allah melarang kehidupan bermewah-mewah. Tetapi tidak berarti bahwa meninggalkan sama sekali kesenangan duniawi itu sikap yang benar dan menyelesaikan masalah. Firman Allah dalam QS Al-Qashash 28: 77 menerangkan: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."

Jelas sekali ayat ini menandaskan bahwa berbagai karunia Allah itu harus digunakan untuk menjadi bekal mengusahakan ridha Allah dan kebahagiaan akhirat. Tetapi Allah juga mempersilakan orang menikmati kesenangan di dunia, asal tidak melampaui batas kewajaran. Memanfaatkan karunia Allah untuk meraih sukses akhirat ialah dengan berbuat baik kepada orang-orang lain. Karunia yang berupa harta digunakan sebagai modal usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Sebagian lagi dipakai membantu secara langsung orang-orang yang lemah ekonominya. Demikian pula karunia ilmu, status sosial, kekuasaan, dan sebagainya.

Kenyataan menunjukkan bahwa beberapa sahabat dekat Rasul seperti Abu Bakar ash-Shidiq, 'Utsman bin 'Affan, dan Abdurrahman bin Auf adalah orang-orang kaya. Toh Rasulullah tidak pernah menegur mereka. Bahkan ketika Abu Bakar berkeinginan menyerahkan seluruh hartanya untuk biaya jihad fi sabilillah Rasul menolak. Plafon yang diperkenankan hanya sepertiga saja. Apa lagi Nabi Sulaiman As. Beliau seorang Raja dari Negara Bani Israil yang besar, sangat berkuasa sehingga jin pun tunduk kepada beliau, amat pandai sehingga mampu memahami pembicaraan semut. Semua itu tidak menjadi masalah bagi kedudukan beliau sebagai Nabi dan Rasul Allah. Jadi jelaslah bahwa zuhud bukan menjauhi dunia tetapi sebuah sikap mental yang tidak menjadikan kesenangan duniawi sebagai penghalang dalam beribadah kepada Allah Swt, bahkan menjadi bekal penting untuk menyempurnakan pengabdian diri kepada-Nya. Nabi Sulaiman yang menyadari berbagai karunia Allah yang telah beliau terima bersabda: "Ini adalah karunia Tuhanku, untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau justru menjadi kufur." (QS An Naml 27: 40).

Dewasa ini kondisi mental masyarakat Indonesia sedang berada di tingkat sangat rendah. Itu terjadi pada semua kelompok. Orang kaya mengeksploitasi orang miskin, sedangkan orang miskin mudah disulut nafsu marah dan menjadi eksplosif. Karena sama-sama resah, orang berkecukupan berusaha melupakan kegelisahannya dengan mengkonsumsi minuman keras yang mahal, sedangkan yang sempit ekonominya menenggak minuman oplosan. Orang-orang dewasa bertengkar satu sama lain dengan mamanfaatkan jasa preman dan pembunuh bayaran, sedangkan banyak remaja ke mana-mana membawa senjata tajam. Dalam situasi seperti itu sungguh egoistik apabila orang meninggalkan gelanggang juang untuk memuaskan batin hanya dengan dzikir dan wirid di masjid. Padahal Rasulullah menyatakan: "Bila seseorang di antara kamu menyaksikan kemungkaran hendaknya dia mencegah dengan kekuasaan yang ada di tangannya. Bila tidak memiliki kekuasaan hendaknya dia mencegah dengan nasehat yang baik. Bila itu tidak mampu dilakukan pula hendaklah dia mencegah dengan hatinya, yaitu tidak mengikuti arus. Tetapi ketahuilah bahwa mencegah hanya dengan hati adalah selemah-lemah iman.”

Sesuai dengan arahan Rasulullah tersebut, orang yang zuhud justru harus terjun ke semua medan juang: menjadi pemimpin yang adil dan bekerja keras untuk rakyat, atau menjadi pedagang yang jujur, atau guru yang bertanggung jawab dengan penuh kasih, dan segala profesi lainnya. Boleh jadi hasilnya mula-mula sangat kecil, tetapi yang kecil itu merupakan modal untuk menjadi yang besar. Bagi yang berkenan terjun ke medan perjuangan, pertama-tama hendaknya menguatkan iman, agar tidak justru terbawa arus yang kencang. Kemudian iringi aktivitas jihad tersebut dengan do'a kepada Allah Swt, karena yakin bahwa Allah pasti berkenan menolong hamba-hamba-Nya. Semoga berhasil dan Allah meridhai usaha kita. Amin ya Rabbal 'alamin.

Sakib Machmud
No.137

Minggu, 15 Januari 2012

PENTINGNYA PENGENDALIAN DIRI

Manusia perlu mengenal dirinya sendiri. Dalam diri manusia terdapat dua unsur, yaitu jasmani dan ruhani. Dengan mengenal diri sendiri maka kita bisa mensyukuri apa saja yang telah dianugerahkan Allah Swt kepada kita, agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan di akhirat tanpa melupakan mencari kebahagiaan dari kenikmatan duniawi di saat kita sekarang hidup. Dengan demikian kita bisa memadukan jasmani dan ruhani itu secara harmonis, agar sepanjang hidup kita, keduanya dapat berinteraksi dan berfungsi dengan baik dalam menjalani kehidupan di dunia menuju kehidupan akhirat sesuai tuntunan agama.
Dalam mengenal diri sendiri, kita juga perlu mengenal kekuatan dahsyat yang menguasai diri kita yaitu nafsu. Kekuatan itu harus kita kenali, agar kita bisa mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kepentingan pengabdian kita kepada Allah Swt. Pada umumnya nafsu diartikan sebagai emosi yang menyuruh manusia untuk melakukan keburukan. Tetapi, dengan memanfaatkan kecerdasan emosionalnya, manusia mampu mengendalikan nafsunya, untuk maksud kebaikan. Jika nafsu tidak dikendalikan maka akan meru-gikan bahkan merusak manusia itu sendiri dan orang lain. Berikut ini adalah beberapa kejadian dan akibat yang timbul ketika manusia tidak bisa mengendalikan dirinya.
Tragedi Mengantre BlackBerry
Pada tanggal 27 Nopember 2011, di kawasan bisnis SCBD, Jakarta Selatan, ribuan orang mengantre ingin membeli handset smartphone BlackBerry dengan potongan harga 50%. Mereka tidak sabar, khawatir tidak kebagian, sehingga terjadi saling dorong, yang mengakibatkan kurang lebih 90 orang menderita luka-luka, 3 orang di antaranya mengalami patah tulang dan dirawat di rumah sakit.

Kejadian serupa tidak hanya terjadi saat mengantri barang canggih seperti smartphone, tetapi juga dalam pembagian sedekah, zakat dan sebagainya. Bagi penerima sedekah atau zakat, perebutan seperti itu memang lebih wajar karena apa yang mereka cari terkait erat adalah bekal hidup hari-hari itu. Tetapi perebutan membeli smartphone dengan potongan harga adalah ciri hedonis masyarakat menengah - yang bukan tergolong miskin, di mana keinginan memiliki suatu benda bukan sekedar kebutuhan tetapi cenderung karena dorongan nafsu.
Tidak heran kalau dikatakan bahwa harta benda merupakan salah satu sarana untuk memperoleh ketenangan dan kebahagiaan. Oleh karena itu wajar saja jika dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya manusia memerlukan harta benda. Akan tetapi harta benda tidak bisa sepenuhnya memberikan ketenangan dan kebahagiaan, sehingga sering orang punya banyak harta tapi hidupnya diliputi kegelisahan. Bahkan karena banyak harta, orang bisa rusak jasmani karena berfoya-foya.

Setiap orang mendambakan hidup tenang dan bahagia. Ketenangan dan kebahagiaan dapat dipenuhi oleh faktor keadaan jiwa dan diri individu seseorang. Ketenangan dan kebahagiaan adalah sifat kejiwaan yang dapat diraih dengan melawan ajakan nafsu yang buruk. Harta benda hanyalah sarana untuk memperoleh ketenangan dan kebahagiaan. Ketenangan dan kebahagiaan juga dapat dirasakan oleh orang yang akhlak dan ibadahnya baik. Orang yang berhasil dalam berjihad melawan nafsu dengan kendali ajaran agama, akan hidup tenang dan membawa ketenangan pula kepada lingkungan sosialnya. Karena ia telah memiliki sikap mental yang baik, berakhlak mulia dan berhasil baik dalam melakukan dan menghayati tugas ibadah yang diwajibkan kepadanya. Sebaliknya, orang yang terus mengikuti dorongan nafsunya akan banyak merasa gelisah. Bahkan bisa menimbulkan bencana bagi dirinya dan orang lain.
Suasana tenang dan bahagia pada diri Mukmin dinyatakan Allah Swt di dalam Al-Qur’an: "Katakanlah: "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya", (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram dan tenang. Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (QS Ar-Ra'd 13: 27-28-29).
Orang yang bertakwa kepada Allah akan tetap tenang dalam kebenarannya baik ketika senang maupun sedih. Sekalipun mengalami kegagalan dalam memenuhi kebutuhannya, ia tidak melakukan reaksi agresif dan membuta, tetapi tetap memberikan reaksi positif, sabar menanti dan rela menerima cobaan dari Allah Swt dan tawakal kepada-Nya.

Dengan modal iman dan takwa kepada Allah dan selalu mengingat-Nya, di mana dan dalam keadaan apapun ia berada, orang akan dapat merasakan ketenangan hakiki. Di akhirat ia akan mendapatkan kebahagiaan dan tempat yang baik sebagai balasan dari Allah atas iman dan amal shalehnya. Orang-orang Mukmin dan Muttaqin yang tetap beramal shaleh dan tidak menuruti kehendak nafsunya, hingga di pintu kematianya pun tetap tenang karena amal shaleh yang dikerjakan saat hidupnya telah membekali dan membuatnya siap menghadapi saat krisis itu.
Karena nafsu itu umumnya mengajak kepada yang jahat, maka harus ditundukkan. Menundukkan nafsu jahat dinilai sebagai jihad an-nafs yang berarti mencurahkan segala usaha dan kemampuan untuk memerangi musuh dalam diri karena dorongan nafsu yang akan menjerumuskan manusia. Menangkal godaan syeitan dan ajakan nafsu tercela sama-sama dipandang sebagai jihad besar. Tetapi jihad an-nafs bisa dipandang lebih besar dan lebih sulit.
Aksi Bakar Diri Di Depan Istana Negara

Dua minggu kemudian, pada tanggal 8 Desember 2011, kita dikagetkan oleh peristiwa yang mengerikan, ketika seorang pria yang kemudian diketahui bernama Sondang Hutagalung, mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK), telah membakar dirinya di depan Istana Negara. Setelah bertahan dua hari, pria itu akhirnya meninggal dunia di RSCM, Jakarta. Tidak jelas benar apa motivasi perbuatan korban, karena keluarga mupun teman-temannya tidak memiliki informasi sebelumnya berkaitan dengan tindakan nekad pria itu.
Pilihan tempat aksi bakar diri di depan Istana Negara telah menimbulkan kesan aksi itu ditujukan kepada pemerintah dengan maksud mengkritisinya. Beberapa hari kemudian 200-an pemuda berunjuk rasa di depan Istana Negara mendukung ‘perjuangan’ Sondang, namun tidak seorangpun di antara mereka yang mau membakar dirinya sebagai solidaritas terhadap aksi bakar dirinya Sondang. Ini berarti mereka hanya memanfaatkan aksi bakar dirinya Sondang untuk maksud dan kepentingan mereka sendiri.
Apapun alasannya, aksi bakar diri adalah cerminan sikap kekecewaan dalam hidup pembunuh diri itu. Terlepas dari agama yang dianut pembunuh diri itu, kita ummat Islam harus menilai perbuatan nekad itu dari sudut pandang agama Islam bahwa bunuh diri itu dilarang. “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (An-Nisaa' 4: 29) dan sedikitnya ada lima Hadits yang melarangnya. Di antaranya: “Siapa yang bunuh diri dengan suatu cara, Allah akan menyiksanya di neraka jahanam dengan cara itu pula.” (HR Muslim).
Ketika orang melakukan tindakan bunuh diri, itu adalah pilihan terakhir atas segala sesuatu yang ia yakini tidak ada lagi jalan keluar pemecahannya, sehingga ia melakukan perbuatan menuruti egoismenya, yang dalam bahasa agama disebut dorongan nafsu.
Kita harus berhati-hati dengan nafsu yang tak terkendali, karena itu adalah pengaruh syeitan, yaitu golongan jin yang sombong, fasik dan pendurhaka. Allah Swt memperingatkan: “Mereka yang menjadikan syeitan itu sebagai sahabatnya, maka syeitan adalah seburuk-buruk sahabat. (QS An-Nisaa’ 4: 38). Jika seseorang sudah menjadi sahabat syeitan, maka dia mudah berontak terhadap kondisi yang tidak sesuai dengan kehendaknya.
Harus kita akui bahwa manusia sering diliputi keresahan, karena keinginannya tidak terpenuhi. Bermacam keinginan muncul karena dorongan nafsu yang melingkupinya. Jika keinginannya tidak terpenuhi, timbul rasa gelisah alias tidak tenteram. Padahal ketenangan dan kebahagiaan adalah kebutuhan hidup manusiawi yang didambakan semua manusia. Ketenangan dan kebahagiaan Itu akan diperoleh seseorang jika ia mampu menaklukkan nafsu dalam dirinya.

Unjuk Rasa di Era Reformasi
Sejak reformasi bergulir di tahun 1998, banyak terjadi unjuk rasa yang kemudian menjadi tindakan kekerasan seperti bentrok antara warga dengan aparat keamanan, kekerasan terkait Pemilukada, protes terhadap perizinan berbagai usaha oleh pemerintah, konflik masalah lahan, konflik antar warga, dan sebagainya. Semuanya itu sekarang dianggap sebagai kewajaran dalam kehidupan demokrasi, padahal sebenarnya itu adalah ekses berlebihan dari kebebasan mengemukakan aspirasi - yang selama era Orde Baru terbelenggu oleh kebijakan represif penguasa.
Di pihak lain, tidak sedikit elite politik, termasuk mereka yang berkedok cendekia, budayawan, pengamat, tokoh media, bahkan ulama lintas agama, yang mengemukakan hal-hal negatif tentang kinerja pemerintah. Pernyataan-pernyataan itu terkesan bertujuan menggoyang pemerintah yang sedang bekerja demi memuaskan egoismenya. Di antara mereka ada yang menjadi penggerak unjuk rasa dengan kekerasan. Padahal sebagai tokoh intelektual, mereka seharusnya ikut membangkitkan semangat masyarakat untuk mendukung dan menaati kebijakan pemerintah sebagaimana diajarkan agama (QS An-Nisaa’ 4: 59), kecuali apabila pemerintah berlaku zhalim.
Dalam mengemukakan bahasan ini tidak ada kepentingan politik penulis untuk berpihak kepada pemerintah, melainkan menekankan pentingnya agar ummat Islam mematuhi ajaran agamanya. Karena itulah kami mengedepankan Sepuluh Prinsip Membangun Masyarakat Islami (SP MMI), di mana sepuluh prinsip itu akan lebih mudah dilaksanakan dengan baik apabila setiap orang mau mengendalikan dirinya, bukan memuaskan egoismenya.
Perjuangan Melawan Egoisme
Egoisme adalah kejahatan dan merupakan pelanggaran moral karena mengabaikan kepentingan orang lain. Egoisme membuat manusia jauh dari kebenaran dan menyimpang dari petunjuk Allah Swt. Karena itu, manusia disuruh mengendalikan egoismenya.
Usaha manusia dalam perjuangan melawan egoisme ini bertingkat-tingkat, tergantung kemampuan dan kekuatan imannya. Imam Al-Ghazali menyebutkan ada tiga tingkatan manusia yang berkaitan dengan nafsu dan egoisme.
Pertama, orang yang sepenuhnya dikuasai oleh nafsunya dan tidak dapat melawannya sama sekali. Ini merupakan keadaan manusia pada umumnya. Ia sungguh telah mempertuhankan hawa nafsunya seperti dimaksud firman Allah ini: ''Maka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.'' (QS Al-Jaatsiyah 45: 23).

Kedua, orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan nafsu. Pada suatu kali ia menang dan pada kali yang lain ia kalah. Kalau maut merenggutnya dalam pertarungan ini, maka ia tergolong mati syahid. Dikatakan demikian, karena ia sedang dalam perjuangan melawan hawa nafsu sesuai perintah Rasulullah Saw: ''Berjuanglah kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu.'' Ini adalah tingkatan manusia yang tinggi di bawah para nabi dan wali-wali Allah.
Ketiga, orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan nafsunya. Inilah orang yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan maksiat. Ini merupakan tingkatan para nabi dan wali-wali Allah. Dalam perjuangan melawan nafsu, manusia dituntut ekstra hati-hati dan waspada secara terus-menerus, supaya ia jangan tertipu (ghuruur).
Dalam kaitan ini, diperlukan sikap waspada karena sering timbul kerancuan antara perintah akal (kebaikan) dan nafsu (keburukan). Berbeda dengan nafsu, akal secara umum menyuruh manusia kepada kebaikan. Namun, suatu saat kita bisa ragu-ragu dan tidak mampu mengidentifikasi dan menetapkan pilihan.
Dalam situasi demikian, Imam Al-Ghazali menganjurkan agar kita berpihak dan memilih sesuatu yang menyusahkan daripada yang menyenangkan. Alasannya, kebaikan pada umumnya menuntut kerja keras dan pengorbanan, sehingga terkesan menyusahkan. Sabda Rasulullah Saw: ''Surga dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan.' Waspadalah!

Hermanto Hs
No. 136

Selasa, 10 Januari 2012

HIDUP SEHAT SECARA ISLAMI (2)

Makanan Sehat Menurut Al-Qur’an



Al-Qur’an dan Hadits menggariskan rumusan umum ’halal’ dan ‘thayyib’ sebagai syarat utama dalam memilih makanan: “Hai manusia, makanlah (makanan) yang halal lagi baik (thayyib) yang ada di bumi,” (QS Al-Baqarah 2: 168). “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu,” (QS Al-Baqarah 2: 172).



Secara etimologi kata halalan berarti hal-hal yang boleh dan dapat dilakukan karena bebas atau tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan yang melarangnya, atau diartikan sebagai segala sesuatu yang bebas dari bahaya duniawi dan ukhrawi. Sedang kata thayyib berarti lezat, baik, sehat, menenteramkan dan ‘paling utama. Dalam konteks makanan, kata thayyib berarti makanan yang tidak kotor dari segi zatnya atau rusak (kedaluwarsa), atau bercampur benda najis. Ada yang mengartikan makanan yang mengundang selera, namun sehat, proporsional dan aman. Sehingga secara bebas barangkali dapat dikatakan, pengertian ‘halal’ adalah sah secara hukum (fiqih Islam), dan ‘thayyib’ sesuai dengan persyaratan kebutuhan gizi dan hygienis.

Tubuh manusia membutuhkan makanan yang proporsional sesuai jumlah kalori yang masuk dengan energi yang dikeluarkan, karena pola konsumsi yang berlebihan akan dideposit tubuh dalam bentuk lemak yang pada tingkat tertentu menyebabkan kegemukan (obesitas). Firman Allah: “Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhya Allah tidak senang terhadap orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raaf 7: 31)



Dalam Hadits Rasulullah Saw mengingatkan: “Tidak ada yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari perut, cukuplah bagi putra Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus (memenuhkan perut), maka hendaklah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernapasan.” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dan At-Tirmidzi melalui sahabat Nabi Miqdam bin Ma’di Karib).



Puasa Itu Menyehatkan



Puasa di bulan Ramadhan selama 29 atau 30 hari, di samping berfungsi ibadah untuk mencapai takwa, adalah sebuah momen untuk mengatur diri (self regulation) maupun melatih diri (self training) dan relevansi utama terhadap kesehatan adalah sebagai suatu momen untuk mengistirahatkan saluran pencernaan. Proses regenerasi sel-sel epitel lambung sebetulnya terjadi setiap hari, namun karena beban yang disangga oleh lambung membuat proses ini bisa tidak berjalan maksimal. Puasa memberi kesempatan untuk melakukan regenerasi sel-sel saluran pencernaan secara optimal, dengan catatan puasa dilakukan secara baik sesuai Sunnah Rasul dengan penekanan, saat berbuka puasa tidak terjadi “budaya balas dendam” yaitu dengan melampiaskan makan secara melampaui batas.



Disamping puasa Ramadhan, masih ada puasa sunnah yang juga dianjurkan untuk diamalkan, seperti puasa Senin dan Kamis, puasa Daud, serta puasa-puasa sunnah lainnya.



Hikmah Medis Gerakan-Gerakan Shalat



Seorang muslim melakukan gerakan-gerakan di dalam shalat wajib dalam sehari terdiri dari 17 rakaat. Gerakan shalat sebanayk 17 rakaat ini memberikan format 119 postur fisik setiap harinya, atau 3570 postur setiap bulan atau 43.435 postur setiap tahunnya. Belum lagi apabila ditambah dengan shalat sunnah seperti tahajjud, dhuha, rawatib, tahiyyatul masjid dan shalat sunnah lainnya, yang bisa mencapai 280 postur fisik setiap harinya. Interval dan gerakan shalat yang dilakukan secara rutin akan memelihara tubuh kita tetap aktif dengan gerakan-gerakan yang teratur, ringan, dan proporsional. Gerakan-gerakan tersebut menjadi ‘olah raga rutin berintensitas rendah’, yang kini sangat direkomendasikan oleh pakar aerobik, karena sangat bermanfaat, khususnya untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah (cardiovaskuler).



Gerakan shalat mempengaruhi sistem-sistem organ tubuh kita, terutama sistem muskuloskeletal (otot, tulang rangka, dan persendian), manuver perubahan-perubahan posisi yang dilakukan memanipulasi secara fisiologis keadaan banyak organ internal; sistem peredaran darah, jantung, sistem pernapasan, gerak saluran cerna, dan kandung kemis dsb. Performa shalat mengaktifkan otot-otot tubuh yang berbeda, dan juga mengaktifkan sendi-sendi dan tulang rangka. Terdapat kurang lebih 656 otot di dalam tubuh kita, yang beberapa bagian otot dalam gerakan shalat mengalami peregangan (stretching), pergerakan (kontraksi isometrik maupun isotonik) dan relaksasi. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang merawat kelenturan dan kekuatan otot dan tulang secara intensif.



Efek Kesehatan Membaca Al-Qur’an



Menurut Syaikh Mahmoud Christy, lafaz-lafaz dalam shalat berpengaruh terhadap kesehatan. Bacaan-bacaan shalat yang sebagian besar merupakan lafaz-lafaz pujian atau bacaan-bacaan Al-Qur’an menjadikan seseorang memiliki gelombang resonansi yang sama dengan alam di sekelilingnya. Kitab suci Al-Qur’an bukanlah suatu buku pengobatan, tetapi lebih tepatnya merupakan buku panduan menuju keselamatan hidup; yang di dalam kandungannya juga terdapat beberapa petunjuk yang mengarahkan upaya promosi kesehatan untuk menjalani hidup yang sehat. Oleh karena itu Al-Qur’an juga disebut Asy-syifa (Penyembuh). Allah menegaskan: “Wahai manusia, telah datang kepada kalian pelajaran berharga dari Tuhan kalian, penyembuh bagi penyakit-penyakit yang ada dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yunus 10: 57). “Dan kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman.”(QS Al-Israa’ 17: 82).



Efek psikologis Al-Qur’an; berupa keyakinan yang menenteramkan yang diperoleh dari membaca dan menyelami maknanya. Kemampuan internal Al-Quran terhadap penyembuhan salah satunya diyakini para ulama dalam bentuk ketika kita membacanya (meski tidak mengerti artinya). Rasulullah mengatakan setiap huruf yang diucapkan dalam membaca Al-Qur’an akan diganjar pahala kebaikan.



Lembaga Ilmu Kedokteran Islam di Negara bagian Florida, Amerika Serikat, telah mengadakan penelitian tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an pada para pasien, dengan obyek penelitian pasien dari kaum muslimin Arab maupun non Arab, yang berbahasa Arab maupun bukan, atau yang non muslim sekalipun. Hasilnya sangat cemerlang, sekitar 97 % pasien menjadi mengendor jaringan dan organ sarafnya yang sebelumnya sangat tegang. Para pasien menjadi lebih tenang akibat pengaruh bacaan Al-Qur’an.



Penyembuhan Dengan Tuntunan Al-Qur’an



Ilmu kedokteran yang semakin maju menjadi harapan setiap orang untuk melawan berbagai penyakit dan upaya-upaya penyembuhannya. Bagi orang-orang yang mampu tidak segan mengeluarkan biaya berapapun untuk sehat terutama pada saat menderita suatu penyakit, setelah orang menyadari bahwa kesehatan itu mahal harganya. Namun segala upaya penyembuhan belumlah cukup kecuali diikuti dengan doa dan tawakal mohon keridhoan Allah.



Sesungguhnya Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu, Dialah Yang Mahakuasa dan Maha Pengasih atas segala sesuatu, tidak ada yang mampu memberi kasih sayang bila Dia tidak berkenan mengasihi. Dialah yang dengan kasih sayang-Nya, dan keagungan kekuasaan-Nya, Ia singkirkan segala bahaya. Allah berfirman: “(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku. Dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (QS Asy-Syu’araa’) 26: 78 – 82).



Karena itu, tidak ada obat melainkan dengan obat-Nya. Tidak ada kesehatan, melainkan dengan kesehatan-Nya. Demikian juga tidak ada kekuatan, melainkan dengan kekuatan-Nya. Allah berfirman: “Jika Allah menimpakan sesuatu bahaya padamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara para hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yunus 10: 107).



Rasulullah Teladan Yang Sempurna



Banyak petunjuk dan teladan yang dapat digali dari biografi kehidupan Rasululah Saw, khususnya yang mempunyai kaitan dengan manfaat kesehatan. Dr Ade Hashman, penulis buku ‘Rasulullah Saw Tidak Pernah Sakit’, menyatakan bahwa banyak rumusan-rumusan baik dari Al-Qur’an maupun Hadits, yang telah dicoba digali dari biografi kehidupan Rasulullah Saw, khususnya yang mempunyai kaitan dengan manfaat kesehatan. Rasulullah memang tidak mengajarkan ilmu kedokteran kepada ummatnya, namun dalam perilaku kehidupan beliau, kita dapat menemukan aspek-aspek gaya hidup sehat. Dengan kata lain, dari sunnah-sunnahnya kita bisa belajar bagaimana seni mengelola hidup untuk memelihara kesehatan, bahkan meningkatkan status kesehatan (kebugaran), bukan untuk mempelajari penyembuhan penyakit atau pengobatan (kuratif).



Sebagai contoh, biasanya Nabi tidur di awal malam dan bangun pada 2/3 malam. Rasulullah bersabda: “Hendaklah kalian melaksanakan ‘qiyaamullail’ (shalat malam), karena qiyaamullail adalah tradisi orang-orang shalih sebelum kalian, mengusir penyakit dan mencegah dari dosa”. Dari interpretasi-interpretasi para pengamat, Rasulullah Saw tidak pernah tidur lebih dari 8 jam, yang pasti Nabi tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun tidak pula menahan diri untuk tidak tidur.



Rasulullah biasa berjalan kaki ke masjid, pasar, medan jihad, mengunjungi rumah para sahabat dan sebagainya. Cara berjalan Nabi Saw diriwayatkan melangkah dengan cepat, di mana gaya berjalan demikian merupakan bentuk olah raga aerobik. Olah raga jalan cepat meningkatkan kemampuan detak jantung dan melatih pernapasan serta melatih sejumlah indra visual, peraba, propioseptik dan reseptor syaraf pada organ-organ.



Dari literatur-literatur kehidupan beliau, disebutkan bahwa sepanjang hidupnya Nabi Saw hanya sakit 2 kali saja. Menurut Haekal dalam ‘Sejarah Hidup Muhammad’, penyakit yang pernah dideritanya tidak lebih dari kehilangan nafsu makan pada tahun keenam Hijriyah, hingga tersiar rumor beliau disihir orang Yahudi. Satu penyakit lagi karena Nabi terrmakan daging beracun pada tahun ketujuh Hijrah.



Mengutip janji Allah dalam firman-Nya: “Sungguh! Telah ada dalam diri Rasulullah itu, contoh teladan yang baik bagimu ....” (QS Al-Ahzaab 33: 21). Setiap muslim yang menginginkan kebaikan pasti memiliki kemauan yang kuat untuk berproses lebih baik dengan meneladani sunnah-sunnah Rasul-Nya.



Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menyimpulkan dan sekaligus ikut mengkampanyekan motto: “Beribadahlah yang baik dan benar, karena di antara manfaat yang akan kita petik adalah kondisi kesehatan jasmani dan ruhani kita yang terpeliharanya bugar”.



Moh. Kamal Hs

No 135

Kamis, 05 Januari 2012

HIDUP SEHAT SECARA ISLAMI (1)

Sehat adalah dambaan setiap orang, karena hanya dengan badan yang sehat seseorang dapat bekerja dan melakukan semua aktifitas dalam hidupnya, mengembangkan kreatifitas dan kemampuannya, menghasilkan karya-karyanya dan menikmati hidup. Semua kelezatan duniawi akan terasa hampa begitu kesehatan terganggu atau sirna, kelezatan makanan menjadi hambar, kesejukan minuman hilang, tidur tidak akan nyenyak, perasaanpun ikut gelisah ketika kita menderita sakit. Herophilus, seorang dokter yang hidup di masa 323 SM mengatakan, “Ketika tidak ada kesehatan, kearifan dengan sendirinya tidak tercapai, seni tidak akan muncul, kekuatan akan sirna, kekayaan menjadi tidak berguna dan kecerdasan tidak akan bisa dipraktekkan”.

Nikmat Allah Yang Tidak Ternilai

Mungkin karena sudah menjadi keadaan sehari-hari, kesehatan tidak terlihat nilainya, bagaikan matahari yang senantiasa memancarkan sinar setiap hari, seolah-olah sudah menjadi lumrah sehingga kehadirannya menjadi tidak bermakna. Pepatah mengatakan ‘Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang yang sehat, tidak ada yang mampu melihatnya kecuali orang yang sakit’. Pepatah ini mengingatkan . bahwa orang baru akan menyadari betapa berharganya kesehatan justru ketika ia jatuh sakit. Oleh karena itu tepat sabda Rasulullah Saw: “Dua kenikmatan yang sering dilalaikan manusia yaitu ‘kesehatan’ dan ‘waktu luang’.” (HR Bukhari).

Sungguh nikmat Allah itu sangat berlimpah tidak terkira sebagaimana firman-Nya: “Maka jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya.” (QS An-Nahl 16: 18). Di antara nikmat yang sangat berharga dan tidak ternilai itu adalah ‘kesehatan’. Berapa harga bagian dari tubuh manusia, seperti mata, pendengaran, ginjal, jantung, atau hati? Maukah kita menukar salah satu organ panca indera kita dengan kekayaan dunia dan seisinya?. Sementara orang-orang berduit yang menderita sakit tidak berfungsinya salah satu organ tubuhnya mau membayar berapapun untuk dapat bekerjanya fungsi organ tubuhnya, bahkan kalau perlu menggantinya dengan milik orang lain.

Untuk operasi pemasangan alat pacu dan pengganti fungsi jantung diperlukan biaya ratusan juta rupiah. Bayangkan harga fisik tubuh manusia sehat yang semua terdiri dari mulai organ-organ penting seperti otak, jantung, paru-paru, hati, alat panca indera, sampai dengan anggota tubuh, tangan, kaki, dan jutaan jaringan saraf maupun peredaran darah di seluruh tubuh, serta ribuan tulang-tulang yang menopang bangunan tubuh. Dr. Harold J. Morovitz, pernah menaksir harga ‘fisik’ tubuh manusia dewasa beserta kelengkapan organnya, bernilai sekitar USD 6 juta atau setara 60 miliar rupiah.

Demikian besarnya nikmat kesehatan ini, sehingga dalam Hadits Rasulullah Saw menyandingkan dua nikmat yang sangat besar bagi manusia, yaitu nikmat ‘iman’ dan ‘kesehatan’: “Sesungguhnya manusia itu diberi yang lebih baik di dunia dari pada keyakinan dan kesehatan, maka mohonlah keduanya kepada Allah Swt.” (HR Ahmad).

Nilai Islam Dalam Keseimbangan Natural

Dr Ade Hashman, seorang dokter ahli spesialis anestesiologi yang juga penulis buku-buku tentang kesehatan dan pedoman hidup sehat, menegaskan bahwa, ‘berIslam’ berarti berdamai dengan kondisi natural (alami). Islam berasal dari kata aslama (kepasrahan), karena itu Allah memberikan predikat keIslaman itu terhadap semua ciptaan-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah berserah diri (aslama) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS Ali Imran 3: 83).

Atribut ‘keIslaman’ pada seluruh alam raya ini dinyatakan sebagai kepatuhan seluruh obyek ciptaan kepada Sang Pencipta, bahwa tidak satu partikel (atom) pun hingga seluas galaksi andromeda raya yang membangkang terhadap titah Allah. Karenanya makna bebas dari Islam yaitu; tunduk, patuh, dan ikhlas pada ketentuan yang digariskan Tuhan semesta alam. Allah telah mengatur keberadaan alam raya yang tunduk, patuh, dan ikhlas ini berada pada suatu tatanan dalam kondisi mapan dan seimbang.

Allah menegaskan keseimbangan ini dalam beberapa ayat-Nya, antara lain: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah suatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Lalu pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu pun dalam keadaan payah.” (QS Al-Mulk 67: 3 - 4).

‘Kesehatan’ adalah kondisi seimbang yang dinamis dari tubuh manusia, yang dipengaruhi faktor genetik , lingkungan, dan pola hidup sehari-hari seperti makan, minum, seks, bekerja, istirahat, hingga pengelolaan kehidupan emosional. Status kesehatan tersebut akan menjadi rusak bila keadaan keseimbangan terganggu. Meskipun demikian kerusakan pada periode-periode awal bukanlah suatu kerusakan yang serius, jika orang mau menyadarinya.

Desain dasar tubuh manusia adalah kondisi yang seimbang, dan tubuh senantiasa menjaga status itu dengan suatu mekanisme canggih kurnia Ilahi. Mekanisme itu antara lain, pernapasan yang terpelihara, peredaran darah yang baik, pasokan energi yang proporsional, kemampuan imunitas yang optimal, keseimbangan pikiran, dan pemenuhan kebutuhan psikologis dan spiritual.

Pandangan Islam Tentang Hidup Sehat

Islam telah memberikan pedoman bagaimana hidup sehat, yang semuanya didasarkan atas tuntunan dan kewajiban beribadah kepada Allah. Ajaran Islam sangat mengatur tuntunan untuk hidup sehat, karena tujuan atas kehadiran Islam itu sendiri adalah untuk memelihara agama, akal, jiwa, jasmani, harta, dan keturunan umat manusia.

Prof. Dr. Quraisy Shihab menyatakan, bahwa ada dua istilah yang berkaitan dengan kesehatan yang sering digunakan, yaitu ‘sehat’ dan ‘afiat’.

‘Sehat’ diartikan sebagai keadaan yang baik bagi segenap anggota badan. Sebagai contoh, mata yang sehat adalah mata yang dapat melihat maupun membaca tanpa alat bantu (kacamata). Kata ‘afiat’ dalam kamus bahasa Arab diartikan sebagai perlindungan Allah untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipu daya. Perlindungan ini tentunya tidak akan diperoleh secara sempurna kecuali bagi mereka yang mengindahkan petunjuk-petunjuk-Nya. Karenanya afiat dapat diartikan pula sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan maksud dan tujuan penciptaanya. Mata yang afiat adalah yang dapat melihat dan membaca obyek-obyek yang bermanfaat serta mengalihkan pandangan dari obyek-obyek yang terlarang, karena itulah fungsi yang diharapkan penciptaan mata.

Begitu pentingnya kesehatan dalam Islam, sehingga tema tentang kesehatan ini juga menjadi bagian dari doa rutin sehari-hari setiap muslim dalam shalatnya: “Ya Tuhanku, ampunilah aku, kasihi aku, cukupkan aku, berikan aku rizki, beri aku petunjuk dan kesehatan.” (bacaan ketika duduk iftirasy)

Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa konsep hidup sehat dalam Islam menjadi bagian integral dalam aturan syariat Islam itu sendiri. Islam yang merupakan sistem nilai yang terpadu memuat aturan yang lengkap, menyeluruh, meliputi spektrum garis besar hidup keseharian. Bagaimana seorang muslim makan, minum, berpakaian, menjaga kebersihan, melakukan aktifitas fisik, mengelola kehidupan emosi, dan mengelola dirinya yang dalam pokoknya diatur oleh syariat. Tidak ada ajaran lain yang secara rinci dan tekstual mengatur detail-detail tersebut.

Memelihara Kesehatan

Sumber ajaran Islam, baik dalam Al-Qur’an mupun Hadits yang berbicara menyangkut tema kesehatan, lebih berfokus pada konsep preventive (pencegahan) dan promotive (promosi) kesehatan dibandingkan dengan aspek curative (pengobatan) dan rehabilitative (pengembalian fungsi). Sementara ini sebagian besar pengertian umum tentang kesehatan lebih banyak berfokus pada ‘pengobatan’.

Salah satu motto dalam dunia kesehatan, “Mencegah lebih baik dari pada mengobati”, merupakan filosofi yang paralel dengan pemeliharaan kesehatan dalam Islam. Dalam Hadits yang cukup populer, “Ingatlah mudamu sebelum datang tuamu, dan ingatlah sehatmu sebelum datang sakitmu.” (HR Ahmad).

Semua syariat yang diajarkan dalam Islam mempunyai makna memelihara kesehatan melalui aktifitas-aktifitas menjaga kebersihan (bersuci), memilih makanan, puasa, gerakan-gerakan dalam shalat, serta ibadah lainnya. Semua ini juga telah dicontohkan dalam seluruh aktifitas ibadah dan aktifitas kehidupan pribadi Rasulullah.

Menjaga Kebersihan

Motto yang sangat populer dalam memasyarakatkan kebersihan untuk menjaga kesehatan: “Kebersihan adalah pangkal kesehatan”, sangatlah relevan dan sejalan dengan tuntunan dalam Islam di mana “Kebersihan adalah sebagian daripada Iman”. Dalam fiqih Islam ‘kebersihan’ dipandang sentral, di mana kajian tentang kebersihan merupakan tema utama yang ada di dalam kitab Fiqih dengan pembahasan yang sangat lengkap. Tema fiqih tentang bersuci (thaharah) membahas seputar: najis (dengan klasifikasi ringan, sedang, berat), jenis-jenis air (suci, mensucikan), mandi (junub, jumat), wudhu, tayamum, istinja’, haid, nifas, bersugi, memotong kuku, memotong rambut, khitan, memandikan jenazah, sampai larangan merajah tubuh (tato) dan kajian lain terkait lingkungan. Kajian ini merupakan pedoman hidup lengkap yang terdapat dalam ajaran Islam mengenai hidup bersih. Sekali lagi, hal ini tidak akan ditemui dalam ajaran-ajaran selain Islam.

Kebersihan jasmani merupakan syarat mutlak bagi setiap muslim bila hendak melakukan ibadah shalat menghadap Allah Swt. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, apabia kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua matakaki, dan jika kamu junub mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan, atau kembali dari tempat buang air, atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak menemukan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih), sapulah tanganmu dan mukamu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Maaidah 5: 6).

Salah satu sifat yang dicintai Allah adalah orang yang senantiasa menjaga kebersihan. Kebersihan disandingkan dengan sikap moral yang penting yaitu ‘tobat’: “Sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat dan senang kepada orang yang membersihkan diri.” (QS Al-Baqarah 2: 222).

Moh. Kamal Hs
No 135
(Bersambung pada tanggal 10 Januari 2012)