Minggu, 15 Januari 2012

PENTINGNYA PENGENDALIAN DIRI

Manusia perlu mengenal dirinya sendiri. Dalam diri manusia terdapat dua unsur, yaitu jasmani dan ruhani. Dengan mengenal diri sendiri maka kita bisa mensyukuri apa saja yang telah dianugerahkan Allah Swt kepada kita, agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan di akhirat tanpa melupakan mencari kebahagiaan dari kenikmatan duniawi di saat kita sekarang hidup. Dengan demikian kita bisa memadukan jasmani dan ruhani itu secara harmonis, agar sepanjang hidup kita, keduanya dapat berinteraksi dan berfungsi dengan baik dalam menjalani kehidupan di dunia menuju kehidupan akhirat sesuai tuntunan agama.
Dalam mengenal diri sendiri, kita juga perlu mengenal kekuatan dahsyat yang menguasai diri kita yaitu nafsu. Kekuatan itu harus kita kenali, agar kita bisa mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kepentingan pengabdian kita kepada Allah Swt. Pada umumnya nafsu diartikan sebagai emosi yang menyuruh manusia untuk melakukan keburukan. Tetapi, dengan memanfaatkan kecerdasan emosionalnya, manusia mampu mengendalikan nafsunya, untuk maksud kebaikan. Jika nafsu tidak dikendalikan maka akan meru-gikan bahkan merusak manusia itu sendiri dan orang lain. Berikut ini adalah beberapa kejadian dan akibat yang timbul ketika manusia tidak bisa mengendalikan dirinya.
Tragedi Mengantre BlackBerry
Pada tanggal 27 Nopember 2011, di kawasan bisnis SCBD, Jakarta Selatan, ribuan orang mengantre ingin membeli handset smartphone BlackBerry dengan potongan harga 50%. Mereka tidak sabar, khawatir tidak kebagian, sehingga terjadi saling dorong, yang mengakibatkan kurang lebih 90 orang menderita luka-luka, 3 orang di antaranya mengalami patah tulang dan dirawat di rumah sakit.

Kejadian serupa tidak hanya terjadi saat mengantri barang canggih seperti smartphone, tetapi juga dalam pembagian sedekah, zakat dan sebagainya. Bagi penerima sedekah atau zakat, perebutan seperti itu memang lebih wajar karena apa yang mereka cari terkait erat adalah bekal hidup hari-hari itu. Tetapi perebutan membeli smartphone dengan potongan harga adalah ciri hedonis masyarakat menengah - yang bukan tergolong miskin, di mana keinginan memiliki suatu benda bukan sekedar kebutuhan tetapi cenderung karena dorongan nafsu.
Tidak heran kalau dikatakan bahwa harta benda merupakan salah satu sarana untuk memperoleh ketenangan dan kebahagiaan. Oleh karena itu wajar saja jika dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya manusia memerlukan harta benda. Akan tetapi harta benda tidak bisa sepenuhnya memberikan ketenangan dan kebahagiaan, sehingga sering orang punya banyak harta tapi hidupnya diliputi kegelisahan. Bahkan karena banyak harta, orang bisa rusak jasmani karena berfoya-foya.

Setiap orang mendambakan hidup tenang dan bahagia. Ketenangan dan kebahagiaan dapat dipenuhi oleh faktor keadaan jiwa dan diri individu seseorang. Ketenangan dan kebahagiaan adalah sifat kejiwaan yang dapat diraih dengan melawan ajakan nafsu yang buruk. Harta benda hanyalah sarana untuk memperoleh ketenangan dan kebahagiaan. Ketenangan dan kebahagiaan juga dapat dirasakan oleh orang yang akhlak dan ibadahnya baik. Orang yang berhasil dalam berjihad melawan nafsu dengan kendali ajaran agama, akan hidup tenang dan membawa ketenangan pula kepada lingkungan sosialnya. Karena ia telah memiliki sikap mental yang baik, berakhlak mulia dan berhasil baik dalam melakukan dan menghayati tugas ibadah yang diwajibkan kepadanya. Sebaliknya, orang yang terus mengikuti dorongan nafsunya akan banyak merasa gelisah. Bahkan bisa menimbulkan bencana bagi dirinya dan orang lain.
Suasana tenang dan bahagia pada diri Mukmin dinyatakan Allah Swt di dalam Al-Qur’an: "Katakanlah: "Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya", (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram dan tenang. Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (QS Ar-Ra'd 13: 27-28-29).
Orang yang bertakwa kepada Allah akan tetap tenang dalam kebenarannya baik ketika senang maupun sedih. Sekalipun mengalami kegagalan dalam memenuhi kebutuhannya, ia tidak melakukan reaksi agresif dan membuta, tetapi tetap memberikan reaksi positif, sabar menanti dan rela menerima cobaan dari Allah Swt dan tawakal kepada-Nya.

Dengan modal iman dan takwa kepada Allah dan selalu mengingat-Nya, di mana dan dalam keadaan apapun ia berada, orang akan dapat merasakan ketenangan hakiki. Di akhirat ia akan mendapatkan kebahagiaan dan tempat yang baik sebagai balasan dari Allah atas iman dan amal shalehnya. Orang-orang Mukmin dan Muttaqin yang tetap beramal shaleh dan tidak menuruti kehendak nafsunya, hingga di pintu kematianya pun tetap tenang karena amal shaleh yang dikerjakan saat hidupnya telah membekali dan membuatnya siap menghadapi saat krisis itu.
Karena nafsu itu umumnya mengajak kepada yang jahat, maka harus ditundukkan. Menundukkan nafsu jahat dinilai sebagai jihad an-nafs yang berarti mencurahkan segala usaha dan kemampuan untuk memerangi musuh dalam diri karena dorongan nafsu yang akan menjerumuskan manusia. Menangkal godaan syeitan dan ajakan nafsu tercela sama-sama dipandang sebagai jihad besar. Tetapi jihad an-nafs bisa dipandang lebih besar dan lebih sulit.
Aksi Bakar Diri Di Depan Istana Negara

Dua minggu kemudian, pada tanggal 8 Desember 2011, kita dikagetkan oleh peristiwa yang mengerikan, ketika seorang pria yang kemudian diketahui bernama Sondang Hutagalung, mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK), telah membakar dirinya di depan Istana Negara. Setelah bertahan dua hari, pria itu akhirnya meninggal dunia di RSCM, Jakarta. Tidak jelas benar apa motivasi perbuatan korban, karena keluarga mupun teman-temannya tidak memiliki informasi sebelumnya berkaitan dengan tindakan nekad pria itu.
Pilihan tempat aksi bakar diri di depan Istana Negara telah menimbulkan kesan aksi itu ditujukan kepada pemerintah dengan maksud mengkritisinya. Beberapa hari kemudian 200-an pemuda berunjuk rasa di depan Istana Negara mendukung ‘perjuangan’ Sondang, namun tidak seorangpun di antara mereka yang mau membakar dirinya sebagai solidaritas terhadap aksi bakar dirinya Sondang. Ini berarti mereka hanya memanfaatkan aksi bakar dirinya Sondang untuk maksud dan kepentingan mereka sendiri.
Apapun alasannya, aksi bakar diri adalah cerminan sikap kekecewaan dalam hidup pembunuh diri itu. Terlepas dari agama yang dianut pembunuh diri itu, kita ummat Islam harus menilai perbuatan nekad itu dari sudut pandang agama Islam bahwa bunuh diri itu dilarang. “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (An-Nisaa' 4: 29) dan sedikitnya ada lima Hadits yang melarangnya. Di antaranya: “Siapa yang bunuh diri dengan suatu cara, Allah akan menyiksanya di neraka jahanam dengan cara itu pula.” (HR Muslim).
Ketika orang melakukan tindakan bunuh diri, itu adalah pilihan terakhir atas segala sesuatu yang ia yakini tidak ada lagi jalan keluar pemecahannya, sehingga ia melakukan perbuatan menuruti egoismenya, yang dalam bahasa agama disebut dorongan nafsu.
Kita harus berhati-hati dengan nafsu yang tak terkendali, karena itu adalah pengaruh syeitan, yaitu golongan jin yang sombong, fasik dan pendurhaka. Allah Swt memperingatkan: “Mereka yang menjadikan syeitan itu sebagai sahabatnya, maka syeitan adalah seburuk-buruk sahabat. (QS An-Nisaa’ 4: 38). Jika seseorang sudah menjadi sahabat syeitan, maka dia mudah berontak terhadap kondisi yang tidak sesuai dengan kehendaknya.
Harus kita akui bahwa manusia sering diliputi keresahan, karena keinginannya tidak terpenuhi. Bermacam keinginan muncul karena dorongan nafsu yang melingkupinya. Jika keinginannya tidak terpenuhi, timbul rasa gelisah alias tidak tenteram. Padahal ketenangan dan kebahagiaan adalah kebutuhan hidup manusiawi yang didambakan semua manusia. Ketenangan dan kebahagiaan Itu akan diperoleh seseorang jika ia mampu menaklukkan nafsu dalam dirinya.

Unjuk Rasa di Era Reformasi
Sejak reformasi bergulir di tahun 1998, banyak terjadi unjuk rasa yang kemudian menjadi tindakan kekerasan seperti bentrok antara warga dengan aparat keamanan, kekerasan terkait Pemilukada, protes terhadap perizinan berbagai usaha oleh pemerintah, konflik masalah lahan, konflik antar warga, dan sebagainya. Semuanya itu sekarang dianggap sebagai kewajaran dalam kehidupan demokrasi, padahal sebenarnya itu adalah ekses berlebihan dari kebebasan mengemukakan aspirasi - yang selama era Orde Baru terbelenggu oleh kebijakan represif penguasa.
Di pihak lain, tidak sedikit elite politik, termasuk mereka yang berkedok cendekia, budayawan, pengamat, tokoh media, bahkan ulama lintas agama, yang mengemukakan hal-hal negatif tentang kinerja pemerintah. Pernyataan-pernyataan itu terkesan bertujuan menggoyang pemerintah yang sedang bekerja demi memuaskan egoismenya. Di antara mereka ada yang menjadi penggerak unjuk rasa dengan kekerasan. Padahal sebagai tokoh intelektual, mereka seharusnya ikut membangkitkan semangat masyarakat untuk mendukung dan menaati kebijakan pemerintah sebagaimana diajarkan agama (QS An-Nisaa’ 4: 59), kecuali apabila pemerintah berlaku zhalim.
Dalam mengemukakan bahasan ini tidak ada kepentingan politik penulis untuk berpihak kepada pemerintah, melainkan menekankan pentingnya agar ummat Islam mematuhi ajaran agamanya. Karena itulah kami mengedepankan Sepuluh Prinsip Membangun Masyarakat Islami (SP MMI), di mana sepuluh prinsip itu akan lebih mudah dilaksanakan dengan baik apabila setiap orang mau mengendalikan dirinya, bukan memuaskan egoismenya.
Perjuangan Melawan Egoisme
Egoisme adalah kejahatan dan merupakan pelanggaran moral karena mengabaikan kepentingan orang lain. Egoisme membuat manusia jauh dari kebenaran dan menyimpang dari petunjuk Allah Swt. Karena itu, manusia disuruh mengendalikan egoismenya.
Usaha manusia dalam perjuangan melawan egoisme ini bertingkat-tingkat, tergantung kemampuan dan kekuatan imannya. Imam Al-Ghazali menyebutkan ada tiga tingkatan manusia yang berkaitan dengan nafsu dan egoisme.
Pertama, orang yang sepenuhnya dikuasai oleh nafsunya dan tidak dapat melawannya sama sekali. Ini merupakan keadaan manusia pada umumnya. Ia sungguh telah mempertuhankan hawa nafsunya seperti dimaksud firman Allah ini: ''Maka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.'' (QS Al-Jaatsiyah 45: 23).

Kedua, orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan nafsu. Pada suatu kali ia menang dan pada kali yang lain ia kalah. Kalau maut merenggutnya dalam pertarungan ini, maka ia tergolong mati syahid. Dikatakan demikian, karena ia sedang dalam perjuangan melawan hawa nafsu sesuai perintah Rasulullah Saw: ''Berjuanglah kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu.'' Ini adalah tingkatan manusia yang tinggi di bawah para nabi dan wali-wali Allah.
Ketiga, orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan nafsunya. Inilah orang yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan maksiat. Ini merupakan tingkatan para nabi dan wali-wali Allah. Dalam perjuangan melawan nafsu, manusia dituntut ekstra hati-hati dan waspada secara terus-menerus, supaya ia jangan tertipu (ghuruur).
Dalam kaitan ini, diperlukan sikap waspada karena sering timbul kerancuan antara perintah akal (kebaikan) dan nafsu (keburukan). Berbeda dengan nafsu, akal secara umum menyuruh manusia kepada kebaikan. Namun, suatu saat kita bisa ragu-ragu dan tidak mampu mengidentifikasi dan menetapkan pilihan.
Dalam situasi demikian, Imam Al-Ghazali menganjurkan agar kita berpihak dan memilih sesuatu yang menyusahkan daripada yang menyenangkan. Alasannya, kebaikan pada umumnya menuntut kerja keras dan pengorbanan, sehingga terkesan menyusahkan. Sabda Rasulullah Saw: ''Surga dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan.' Waspadalah!

Hermanto Hs
No. 136

2 komentar:

  1. Menulis dan bicara tentang mengendalikan diri itu gampang. Di jaman edan yang materialistis ini, hampir tidak ada orang yang tidak egois. Yang kaya dan yang miskin, yang berkuasa dan yang rakyat jelata tidak ada yang mau mengalah……

    BalasHapus
  2. Memang benar, hampir tidak ada yang tidak egois, tetapi perkataan ‘hampir’ berarti masih ada yang tidak egois. Kita berkewajiban mengajak kelompok ini untuk terus istiqomah dalam pendiriannya, tidak terpengaruh oleh arus besar yang sedang melanda. Kita juga mengingatkan orang-orang yang terlanjur egois, agar mengubah sikapnya demi kebaikannya sendiri, terutama ketika menghadap Allah kelak pada hari Kiamat. Kalau kita ikhtiar dengan seluruh kemampuan yang ada, Allah Swt pasti berkenan membantu kita, sebagaimana firman-Nya: “ Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Ankabuut 29: 69).Tetapi kalau kita bersikap pesimis lalu tidak berbuat apa-apa, Allah akan membiarkan keburukan terus terjadi. Kasihan masyarakat secara keseluruhan, dan kasihan pula saudara-saudara kita yang sedang tersesat jalan itu.

    BalasHapus