Nikmat Allah Yang Tidak Ternilai
Mungkin karena sudah menjadi keadaan sehari-hari, kesehatan tidak terlihat nilainya, bagaikan matahari yang senantiasa memancarkan sinar setiap hari, seolah-olah sudah menjadi lumrah sehingga kehadirannya menjadi tidak bermakna. Pepatah mengatakan ‘Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang yang sehat, tidak ada yang mampu melihatnya kecuali orang yang sakit’. Pepatah ini mengingatkan . bahwa orang baru akan menyadari betapa berharganya kesehatan justru ketika ia jatuh sakit. Oleh karena itu tepat sabda Rasulullah Saw: “Dua kenikmatan yang sering dilalaikan manusia yaitu ‘kesehatan’ dan ‘waktu luang’.” (HR Bukhari).
Sungguh nikmat Allah itu sangat berlimpah tidak terkira sebagaimana firman-Nya: “Maka jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya.” (QS An-Nahl 16: 18). Di antara nikmat yang sangat berharga dan tidak ternilai itu adalah ‘kesehatan’. Berapa harga bagian dari tubuh manusia, seperti mata, pendengaran, ginjal, jantung, atau hati? Maukah kita menukar salah satu organ panca indera kita dengan kekayaan dunia dan seisinya?. Sementara orang-orang berduit yang menderita sakit tidak berfungsinya salah satu organ tubuhnya mau membayar berapapun untuk dapat bekerjanya fungsi organ tubuhnya, bahkan kalau perlu menggantinya dengan milik orang lain.
Untuk operasi pemasangan alat pacu dan pengganti fungsi jantung diperlukan biaya ratusan juta rupiah. Bayangkan harga fisik tubuh manusia sehat yang semua terdiri dari mulai organ-organ penting seperti otak, jantung, paru-paru, hati, alat panca indera, sampai dengan anggota tubuh, tangan, kaki, dan jutaan jaringan saraf maupun peredaran darah di seluruh tubuh, serta ribuan tulang-tulang yang menopang bangunan tubuh. Dr. Harold J. Morovitz, pernah menaksir harga ‘fisik’ tubuh manusia dewasa beserta kelengkapan organnya, bernilai sekitar USD 6 juta atau setara 60 miliar rupiah.
Demikian besarnya nikmat kesehatan ini, sehingga dalam Hadits Rasulullah Saw menyandingkan dua nikmat yang sangat besar bagi manusia, yaitu nikmat ‘iman’ dan ‘kesehatan’: “Sesungguhnya manusia itu diberi yang lebih baik di dunia dari pada keyakinan dan kesehatan, maka mohonlah keduanya kepada Allah Swt.” (HR Ahmad).
Nilai Islam Dalam Keseimbangan Natural
Dr Ade Hashman, seorang dokter ahli spesialis anestesiologi yang juga penulis buku-buku tentang kesehatan dan pedoman hidup sehat, menegaskan bahwa, ‘berIslam’ berarti berdamai dengan kondisi natural (alami). Islam berasal dari kata aslama (kepasrahan), karena itu Allah memberikan predikat keIslaman itu terhadap semua ciptaan-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah berserah diri (aslama) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS Ali Imran 3: 83).
Atribut ‘keIslaman’ pada seluruh alam raya ini dinyatakan sebagai kepatuhan seluruh obyek ciptaan kepada Sang Pencipta, bahwa tidak satu partikel (atom) pun hingga seluas galaksi andromeda raya yang membangkang terhadap titah Allah. Karenanya makna bebas dari Islam yaitu; tunduk, patuh, dan ikhlas pada ketentuan yang digariskan Tuhan semesta alam. Allah telah mengatur keberadaan alam raya yang tunduk, patuh, dan ikhlas ini berada pada suatu tatanan dalam kondisi mapan dan seimbang.
Allah menegaskan keseimbangan ini dalam beberapa ayat-Nya, antara lain: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah suatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Lalu pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu pun dalam keadaan payah.” (QS Al-Mulk 67: 3 - 4).
‘Kesehatan’ adalah kondisi seimbang yang dinamis dari tubuh manusia, yang dipengaruhi faktor genetik , lingkungan, dan pola hidup sehari-hari seperti makan, minum, seks, bekerja, istirahat, hingga pengelolaan kehidupan emosional. Status kesehatan tersebut akan menjadi rusak bila keadaan keseimbangan terganggu. Meskipun demikian kerusakan pada periode-periode awal bukanlah suatu kerusakan yang serius, jika orang mau menyadarinya.
Desain dasar tubuh manusia adalah kondisi yang seimbang, dan tubuh senantiasa menjaga status itu dengan suatu mekanisme canggih kurnia Ilahi. Mekanisme itu antara lain, pernapasan yang terpelihara, peredaran darah yang baik, pasokan energi yang proporsional, kemampuan imunitas yang optimal, keseimbangan pikiran, dan pemenuhan kebutuhan psikologis dan spiritual.
Pandangan Islam Tentang Hidup Sehat
Islam telah memberikan pedoman bagaimana hidup sehat, yang semuanya didasarkan atas tuntunan dan kewajiban beribadah kepada Allah. Ajaran Islam sangat mengatur tuntunan untuk hidup sehat, karena tujuan atas kehadiran Islam itu sendiri adalah untuk memelihara agama, akal, jiwa, jasmani, harta, dan keturunan umat manusia.
Prof. Dr. Quraisy Shihab menyatakan, bahwa ada dua istilah yang berkaitan dengan kesehatan yang sering digunakan, yaitu ‘sehat’ dan ‘afiat’.
‘Sehat’ diartikan sebagai keadaan yang baik bagi segenap anggota badan. Sebagai contoh, mata yang sehat adalah mata yang dapat melihat maupun membaca tanpa alat bantu (kacamata). Kata ‘afiat’ dalam kamus bahasa Arab diartikan sebagai perlindungan Allah untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipu daya. Perlindungan ini tentunya tidak akan diperoleh secara sempurna kecuali bagi mereka yang mengindahkan petunjuk-petunjuk-Nya. Karenanya afiat dapat diartikan pula sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan maksud dan tujuan penciptaanya. Mata yang afiat adalah yang dapat melihat dan membaca obyek-obyek yang bermanfaat serta mengalihkan pandangan dari obyek-obyek yang terlarang, karena itulah fungsi yang diharapkan penciptaan mata.
Begitu pentingnya kesehatan dalam Islam, sehingga tema tentang kesehatan ini juga menjadi bagian dari doa rutin sehari-hari setiap muslim dalam shalatnya: “Ya Tuhanku, ampunilah aku, kasihi aku, cukupkan aku, berikan aku rizki, beri aku petunjuk dan kesehatan.” (bacaan ketika duduk iftirasy)
Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa konsep hidup sehat dalam Islam menjadi bagian integral dalam aturan syariat Islam itu sendiri. Islam yang merupakan sistem nilai yang terpadu memuat aturan yang lengkap, menyeluruh, meliputi spektrum garis besar hidup keseharian. Bagaimana seorang muslim makan, minum, berpakaian, menjaga kebersihan, melakukan aktifitas fisik, mengelola kehidupan emosi, dan mengelola dirinya yang dalam pokoknya diatur oleh syariat. Tidak ada ajaran lain yang secara rinci dan tekstual mengatur detail-detail tersebut.
Memelihara Kesehatan
Sumber ajaran Islam, baik dalam Al-Qur’an mupun Hadits yang berbicara menyangkut tema kesehatan, lebih berfokus pada konsep preventive (pencegahan) dan promotive (promosi) kesehatan dibandingkan dengan aspek curative (pengobatan) dan rehabilitative (pengembalian fungsi). Sementara ini sebagian besar pengertian umum tentang kesehatan lebih banyak berfokus pada ‘pengobatan’.
Salah satu motto dalam dunia kesehatan, “Mencegah lebih baik dari pada mengobati”, merupakan filosofi yang paralel dengan pemeliharaan kesehatan dalam Islam. Dalam Hadits yang cukup populer, “Ingatlah mudamu sebelum datang tuamu, dan ingatlah sehatmu sebelum datang sakitmu.” (HR Ahmad).
Semua syariat yang diajarkan dalam Islam mempunyai makna memelihara kesehatan melalui aktifitas-aktifitas menjaga kebersihan (bersuci), memilih makanan, puasa, gerakan-gerakan dalam shalat, serta ibadah lainnya. Semua ini juga telah dicontohkan dalam seluruh aktifitas ibadah dan aktifitas kehidupan pribadi Rasulullah.
Menjaga Kebersihan
Motto yang sangat populer dalam memasyarakatkan kebersihan untuk menjaga kesehatan: “Kebersihan adalah pangkal kesehatan”, sangatlah relevan dan sejalan dengan tuntunan dalam Islam di mana “Kebersihan adalah sebagian daripada Iman”. Dalam fiqih Islam ‘kebersihan’ dipandang sentral, di mana kajian tentang kebersihan merupakan tema utama yang ada di dalam kitab Fiqih dengan pembahasan yang sangat lengkap. Tema fiqih tentang bersuci (thaharah) membahas seputar: najis (dengan klasifikasi ringan, sedang, berat), jenis-jenis air (suci, mensucikan), mandi (junub, jumat), wudhu, tayamum, istinja’, haid, nifas, bersugi, memotong kuku, memotong rambut, khitan, memandikan jenazah, sampai larangan merajah tubuh (tato) dan kajian lain terkait lingkungan. Kajian ini merupakan pedoman hidup lengkap yang terdapat dalam ajaran Islam mengenai hidup bersih. Sekali lagi, hal ini tidak akan ditemui dalam ajaran-ajaran selain Islam.
Kebersihan jasmani merupakan syarat mutlak bagi setiap muslim bila hendak melakukan ibadah shalat menghadap Allah Swt. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, apabia kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua matakaki, dan jika kamu junub mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan, atau kembali dari tempat buang air, atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak menemukan air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih), sapulah tanganmu dan mukamu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Maaidah 5: 6).
Salah satu sifat yang dicintai Allah adalah orang yang senantiasa menjaga kebersihan. Kebersihan disandingkan dengan sikap moral yang penting yaitu ‘tobat’: “Sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat dan senang kepada orang yang membersihkan diri.” (QS Al-Baqarah 2: 222).
Moh. Kamal Hs
No 135
(Bersambung pada tanggal 10 Januari 2012)
No 135
(Bersambung pada tanggal 10 Januari 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar